Posts Tagged ‘ULUMUL HADIS’

h1

AL-SUNNAH AL-NABAWĪYAH; Sebuah Pengantar

10 April 2013

Download Naskahnya di sini

A.  Sunnah Secara Etimologi

Dari segi etimologi, kata “sunnah” mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

1.      Perjalanan, Prilaku, dan Tata Cara (السيرة والطريقة)

Makna perjalanan di sini masih bersifat umum, sebab perjalanan dapat berupa perjalanan baik atau buruk, sebagaimana perkataan Khalid bi ‘Utbah dalam sya’irnya:

فلا تجزعن عن سيرة أنت سرتها # فأول راض سنة من يسيرها[1]

Jangan engkau merasa risau dengan perjalanan hidup (Sunnah) yang telah engkau jalani # dan orang yang pertama kali merasa puas dengan perjalanan hidupnya (sunnah) adalah yang menjalaninya.

Kata “sunnah” yang berarti tata cara dapat ditemukan dalam Qs. Al-Nisa/4: 26, Allah swt berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (26)

Terjemahannya:

Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kata “sunan” dalam ayat ini, merupakan bentuk plural dari kata “sunnah”. Ibn Katsir menjelaskan, bahwa kata tersebut berarti: “tata cara orang-orang terdahulu yang terpuji dan mengikuti syari’at Allah yang mendapat ridha dari-Nya”.[2]

Jadi, makna sunnah secara etimologis dapat diartikan sebagai jalan yang baik atau terpuji sebagaimana perjalanan Nabi r atau diartikan sebagai jalan yang baik atau buruk sebagaimana yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.

2.      Karakter dan Tabiat (الخُلُقُ والطبيعة)

Kata “Sunnah” yang berarti karakter atau tabiat dapat dilihat dalam penuturan al-A’sya sebagai berikut:

كريم شَمَائِلُهُ من بني معاوية الأكرمين السُّنَنَ.[3]

Dia seorang yang memiliki sifat-sifat mulia, dari kalangan bani Mu’awiyah yeng berkarakter dan bertabiat mulia”

Kata “sunnah” di sini bukan sekedar jalan atau tata cara saja, tetapi tealah menjadi karakter dan tabiat, seolah kata “sunnah” sudah menjadi akhlak. Jika arti ini dihubungkan dengan sunnah Nabi r, maka dapat dikatakan bahwa Nabi saw adalah sebagai teladan dalam karakter dan akhlak yang baik lagi mulia.

3.      Wajah, Gambar, dan Rupa (الوجه والصورة)

Kata “sunnah” dalam pengertian Wajah, Gambar, dan Rupa dapat terlihat dalam contoh kalimat:

هو أشبه شيئ به سنة[4]

“Dia kelihatan lebih merip dengannya dalam wajah dan gambarnya”

Keterkaitan kata “sunnah” dalam arti ini dengan sunnah Nabi saw adalah bahwa sunnah Nabi saw merupakan gambaran yang beresensi yang menjadi suatu tujuan yang sangat penting atau sunnah memiliki gambaran dan corak tersendiri yaitu terbimbing dengan wahyu.

4.      Tradisi (العادة)

Menurut al-Kisaiy (w. 189 H), Sunnah berarti kekal atau langsung secara terus menerus (الدوام). Kata “sunnah” dengan arti tersebut menunjukkan pembiasaan terhadap sesuatu secara terus menerus, sebagaimana dalam kalimat:

سَنَنْتَ المَاءَ إِذَا وَالَيْتَ فِيْ صَبِّهِ

Engkau men-sunnah-kan air, ketika engkau menuangkannya secara terus menerus.[5]

Penuangan air secara terus menerus dengan cara tertentu ini disebut dengan “sunnah” secara etimologi. Pemaknaan sunnah di sini mengisyaratkan adanya pengulangan atau sosialisasi atas suatu pekerjaan sehingga menjadi tradisi. Jika suatu pekerjaan hanya dilakukan satu atau dua kali, maka belum dapat dikatakan sebagai “sunnah” menurut pengertian ini. Makna “sunnah” di sini merupakan proses untuk mencapai makna “sunnah” yang kedua yaitu karakter dan tabiat.

Jika makna ini dihubungkan dengan sunnah Nabi saw., maka dapat dikatakan bahwa seluruh bentuk pekerjaan Nabi saw baik sebagai Rasul Allah swt. maupun sebagai manusia biasa dapat dikatakan sebagai “sunnah” sebab pekerjaan beliau saw senantiasa dilakukan secara terus menerus dan terjaga.

Keempat makna lughawiy tentang “sunnah” ini menjadi sangat penting untuk membedakannya dengan makna terminology dan sekaligus untuk menolak suatu istilah yang telah menjadi konsesi termonilogis ulama atau cendekiawan tertentu. Sebab di antara mereka ada yang memaknai “sunnah” sebagai tradisi orang-orang terdahulu. Para orientalis seperti Yosep Schact misalnya memaknai “sunnah Nabi r” dengan istilah live tradition (tradisi yang hidup), pemkanaan ini merupakan pemaknaan terminologis menurut mereka.

Read the rest of this entry ?

h1

MUHADDITSIN DAN RIWAYAT MUNKAR

12 Desember 2011

Pandangan Ulama Hadits Tentang Riwayat Munkar

(Diterjemahkan dari Kitab Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama’ al-Hadits al -Nabawy, Karya Shalahuddin bin Ahmad al-Adlaby, h. 235-238)

Terdapat banyak pendapat penting dari para ulama yang diriwayatkan seputar penolakan terhadap riwayat-riwayat munkar, dan di sini tidak bertujuan untuk menelitinya satu persatu, tetapi sekedar menyebutkan beberapa diantaranya untuk dijadikan sebagai tolok ukur kritik matan.

Al-Rabi’ bin Khatsim berkata: “Diantara hadis-hadis yang terdapat hadis yang memiliki sinar terangnya seterang sinar pada siang hari, kita dapat mengenalinya dengan baik, adapula yang gelap dan kegelapannya bagaikan gelapanya malam hari, dan kita dapat mengenalinya pula dengan baik”.[1]

Sesungguhnya kalimat ini merupkan intisari dari hadis-hadis Nabi terdahulu[2], yang mengnspirasi para ulama dalam menolak riwayat-riwayat munkar. Read the rest of this entry ?

h1

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU

26 November 2011

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU*

Pertama: Metode yang Valid dan Diterima

Allah Swt telah mewajibkan ketaatan kepada Rasul-Nya dan mengikuti perintahnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw dalam banyak hadis dan dalam berbagai kesempatan. Rasulullah Saw tidak hanya menegaskan kewajiban untuk mengikuti perintahnya, tetapi juga memberikan peringatan kepada mereka yang berkeyakinan bahwa al-Qur’an yang ada dihadapan mereka sudah cukup untuk diamalkan. Rasulullah Saw mencela pandangan seperti ini. Karena secara umum al-Qur’an diturunkan berfungsi untuk menjelaskan dan menegaskan hukum-hukum yang bersifat global. Adapun hukum-hukum yang bersifat praktis dan terperinci, maka harus merujuk kepada al-Sunnah. Ini adalah ketetapan yang telah diketahui dalam ‘ulum al-hadits. Dalam bagian ini saya akan mengetengahkan dua hadis Nabi yang berhubungan dengan topik permasalahan.

  Read the rest of this entry ?

h1

TIPOLOGI MAJAMI’ DALAM KODIFIKASI HADITS; Kajian Terhadap Manhaj Ibn al-Atsir al-Jazary (544-606 H) dalam Karyanya“Jami’ al-Usul Fi Ahadith al-Rasul”

21 September 2011

Pendahuluan; Sebuah Refleksi Histories

Keberadaan al-H{adi>th dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Qur-a>n yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah Saw., maupun para sahabat beliau Saw. berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur-a>n telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu> Bakar al-S}iddi>q yang disempurnakan kemudian oleh khalifah Uthma>n bin ‘Affa>n yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah Saw.

Sementara itu, perhatian terhadap al-H{adi>th tidaklah demikian. Upaya kodifikasi al-H{adi>th secara resmi[1] baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd al-‘Azi>z khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara tahun 99-101 Hijriyah,[2] karena beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara sunnah-sunnah Rasulullah Saw baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun taqri>r beliau Saw., termasuk didalamnya sunnah para sahabat. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal H{adi>th menuliskan dan membukukannya supaya H{adi>th tidak hilang pada masa sesudahnya.[3] waktu pengkodifikasian secara resmi ini relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas al-H}adi>th. Read the rest of this entry ?

h1

HADIS DHA’IF DAN PEMBAGIANNYA

19 Januari 2010

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hadis d}a’i>f adalah hadis yang tidak terpenuhi salah satu syarat hadis s}ah{i>h{ atau hadis hasan, yaitu:

–       Sanad yang bersambung dari awal hingga akhir

–       Perawi yang adil

–       Perawi yang d{a>bit{ (kapasitas intelektualnya kuat)

–       Tidak kemasukan illat

–       Tidak kemasukan syaz|

Jika salah satu dari kelima unsur tersebut tidak terpenuhi, maka hadis tersebut menjadi d{a’i>f, dan hal itu disebabkan karena salah satu dari dua faktor utama, yaitu: Read the rest of this entry ?

h1

KAIDAH KESHAHIHAN HADIS

19 Januari 2010

A. Kaidah Mayor sanad dan matan hadis

Kaidah mayor (al-Qawa>’id al-Kubra>) sanad dan matan dapat diketahui melalui syarat-syarat kesahihan suatu hadis. Adupun rumusan tentang syarat-sayarat kesahihan hadis sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu ‘Amr Usman bin ‘Abd al-Rahman bin al-S{ala>h{ al-Syahrzu>ri>, yang dikenal dengan Ibnu al-S{ala>h} (w.577 H / 1245 M) dan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi>, yang dikenal denga al-Nawawi> (w. 676 H/1277 M). Rumusan yang dikemukakan oleh Ibnu al-S{ala>h sebagai berikut:

أَمَّا الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ: فَهُوَ اَلْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ، الَّذِيْ يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ اْلعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَلاَ يَكُوْنُ شَاذًّا، وَلاَ مُعَلَّلاً.

Adapun hadis s}ahi>h adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi saw), diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan d{a>bit{ dari (periwayat) yang adil dan d{a>bit sampai akhir sanad, tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[1]

Sedangkan rumusan kesahihan hadis yaSng dirumuskan oleh al-Nawawi> adalah :

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِالْعُدُوْلِ الضَّابِطِيْنَ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

“(Hadis s}ah}i>h} ialah) hadis yang bersambung sanadnya, (diriwayatkan oleh orang-orang yang) adil dan d{a>bit}, serta tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[2]

Berdasarkan kedua defenisi di atas, maka unsur-unsur kaidah kesahihan hadis ada tiga yaitu:

  1. Sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung dari mukharrij sampai kepada Nabi saw.
  2. Seluruh periwayat dalam hadis tersebut harus bersifat ‘adil dan d{a>bit{.
  3. Sanad dan matan hadis tersbut harus terhindar dari kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[3]

Dari ketiga butir tersebut dapat diurai menjadi tujuh butir, yakni lima butir berhubungan dengan sanad dan dua butir berhubungan dengan matan, butir-butir yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Yang berhubungan dengan sanad adalah : a) sanad bersambun; b) periwayat bersifat ‘adil; c) periwayat bersifat d}a>bit}; d) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan e) Terhindar dari ‘illat (cacat).
  2. Yang berhubungan dengan matan adalah: a) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan b) terhindar dari ‘illat (cacat).[4] Read the rest of this entry ?
h1

PEMBAGIAN HADIS

19 Januari 2010

A. Hadis ditinjau dari kuantitas sanad

1. Hadis mutawatir

Hadis al-mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan sekelompok orang[1] dari awal sanad hingga sampai ke matan hadis yang mustahul sepakat melakukan kebohongan.[2] Menurut Ibn al-S}ala>h{, hadis mutawatir adalah ungkapan tentang hadis yang diriwayatkan oleh orang yang sudah dipastikan kejujurannya dari awal hingga akhir sanad.[3]

Jika melihat definisi tersebut, maka hampir dipastikan sangat sulit menemukan hadis yang berstatus hadis mutawatir. Oleh sebab itu, istilah al-mutawatir bukan muncul dari ahli hadis akan tetapi muncul dari ulama fiqhi dan us}u>l al-fiqh.[4]

Hadis mutawatir dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu:

1)      Al-Mutawatir al-lafz}i> (hadis yang mutawatir lafaznya) yakni hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi pada setiap t}abaqah dengan lafaz yang sama, seperti hadis:

….قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Terjemahannya: Rasulullah saw. bersabda “Barang siapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka”.[5]

Lafaz hadis di atas termasuk mutawatir karena diriwayatkan dalam beberapa sanad yang berbeda. Pada tingkat sahabat misalnyanya, hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Zubair ibn al’Awwa>m, al-Mugi>rah, Abi> Hurairah, Abdullah ibn Mas’u>d, Anas ibn Malik, Ali ibn Abi T{a>lib, Jabir dan sahabat yang lain. Bahkan Ibn al-S}ala>h{ berkata bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 62 sahabat.[6]

2)      Al-Mutawatir al-Ma’nawi> (Hadis mutawitir maknanya) yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi dengan menggunakan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama seperti hadis mengangkat tangan ketika berdoa.[7] Seperti hadis yang diriwayatkan Abu> Mu>sa> al-Asy’ari>:

دعا النبي صلى الله عليه و سلم بماء فتوضأ به ثم رفع يديه فقال ( اللهم اغفر لعبيد أبي عامر) رواه البخارى.

Begitu juga hadis yang diriwayatkan Abu> Humaid al-Sa>’idi> tentang seorang laki-laki yang diberi tugas memungut zakat, namun disalahgunakan kemudian Nabi saw. naik mimbar dengan mengangkat tangannya seraya berdoa: ألا هل بلغت sebanyak tiga kali.[8]

Begitu juga hadis yang diriwayatkan ‘A<isyah bint Abi> Bakr tentang qunut nazilah.[9]

Singkatnya terdapat beberapa hadis tentang mengangkat tangan pada saat berdoa dengan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama yaitu sama-sama mengangkat tangan pada saat berdoa. Read the rest of this entry ?

%d blogger menyukai ini: