Posts Tagged ‘Hadis’

h1

KONSERVASI LAUT DAN PANTAI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI SAW

23 Februari 2015
  • PENDAHULUAN

Berbicara tentang masalah lingkungan hidup seperti yang ribut dibahas sekarang ini, dalam Islam bukanlah hal yang baru dan aneh. Allah telah menciptakan manusia  sebagai mahluk hidup yang diberi kewenangan untuk tinggal di bumi, beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungannnya. Namun, bumi yang menjadi tempat tinggal manusia bukanlah sesuatu yang siap pakai, tetapi memerlukan tindakan-tindakan moral untuk menjaga, melestarikan, memanfaatkan dan mengambil pelajaran berharga.

Menurut Fahruddin ar-Razi seperti yang dikutip oleh Muhammad Tolchah Hasan bahwa Allah memberikan konsesi kepada manusia terhadap bumi pada dasarnya ada tiga macam. Pertama, konsesi intifa’ yaitu menagambil kemanfaatan atau mendayagunakan kekayaan maupun potensi-potensi yang tersimpan di dalam bumi dengan semaksimal mungkin. Kedua, konsesi I’tibar yaitu mengambil pelajaran dari apa yang ditemukan di bumi, baik melalui temuan-temuan empiric maupun non empiric. Misalnya, setelah mengadakan penelitian menemukan teori baru mengenai gejala-gejala yang ada di bumi dan selanjutnya  melahirkan keahlian-keahlian atau disiplin ilmu tertentu. Ketiga, konsesi ihtifadz, yaitu menjaga dan melestarikan atau konservasi bumi.[1]  Dalam  Islam menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah bagian dari ibadah karena merupakan konsepsi Tuhan. Read the rest of this entry ?

Iklan
h1

AL-SUNNAH AL-NABAWĪYAH; Sebuah Pengantar

10 April 2013

Download Naskahnya di sini

A.  Sunnah Secara Etimologi

Dari segi etimologi, kata “sunnah” mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

1.      Perjalanan, Prilaku, dan Tata Cara (السيرة والطريقة)

Makna perjalanan di sini masih bersifat umum, sebab perjalanan dapat berupa perjalanan baik atau buruk, sebagaimana perkataan Khalid bi ‘Utbah dalam sya’irnya:

فلا تجزعن عن سيرة أنت سرتها # فأول راض سنة من يسيرها[1]

Jangan engkau merasa risau dengan perjalanan hidup (Sunnah) yang telah engkau jalani # dan orang yang pertama kali merasa puas dengan perjalanan hidupnya (sunnah) adalah yang menjalaninya.

Kata “sunnah” yang berarti tata cara dapat ditemukan dalam Qs. Al-Nisa/4: 26, Allah swt berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (26)

Terjemahannya:

Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kata “sunan” dalam ayat ini, merupakan bentuk plural dari kata “sunnah”. Ibn Katsir menjelaskan, bahwa kata tersebut berarti: “tata cara orang-orang terdahulu yang terpuji dan mengikuti syari’at Allah yang mendapat ridha dari-Nya”.[2]

Jadi, makna sunnah secara etimologis dapat diartikan sebagai jalan yang baik atau terpuji sebagaimana perjalanan Nabi r atau diartikan sebagai jalan yang baik atau buruk sebagaimana yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.

2.      Karakter dan Tabiat (الخُلُقُ والطبيعة)

Kata “Sunnah” yang berarti karakter atau tabiat dapat dilihat dalam penuturan al-A’sya sebagai berikut:

كريم شَمَائِلُهُ من بني معاوية الأكرمين السُّنَنَ.[3]

Dia seorang yang memiliki sifat-sifat mulia, dari kalangan bani Mu’awiyah yeng berkarakter dan bertabiat mulia”

Kata “sunnah” di sini bukan sekedar jalan atau tata cara saja, tetapi tealah menjadi karakter dan tabiat, seolah kata “sunnah” sudah menjadi akhlak. Jika arti ini dihubungkan dengan sunnah Nabi r, maka dapat dikatakan bahwa Nabi saw adalah sebagai teladan dalam karakter dan akhlak yang baik lagi mulia.

3.      Wajah, Gambar, dan Rupa (الوجه والصورة)

Kata “sunnah” dalam pengertian Wajah, Gambar, dan Rupa dapat terlihat dalam contoh kalimat:

هو أشبه شيئ به سنة[4]

“Dia kelihatan lebih merip dengannya dalam wajah dan gambarnya”

Keterkaitan kata “sunnah” dalam arti ini dengan sunnah Nabi saw adalah bahwa sunnah Nabi saw merupakan gambaran yang beresensi yang menjadi suatu tujuan yang sangat penting atau sunnah memiliki gambaran dan corak tersendiri yaitu terbimbing dengan wahyu.

4.      Tradisi (العادة)

Menurut al-Kisaiy (w. 189 H), Sunnah berarti kekal atau langsung secara terus menerus (الدوام). Kata “sunnah” dengan arti tersebut menunjukkan pembiasaan terhadap sesuatu secara terus menerus, sebagaimana dalam kalimat:

سَنَنْتَ المَاءَ إِذَا وَالَيْتَ فِيْ صَبِّهِ

Engkau men-sunnah-kan air, ketika engkau menuangkannya secara terus menerus.[5]

Penuangan air secara terus menerus dengan cara tertentu ini disebut dengan “sunnah” secara etimologi. Pemaknaan sunnah di sini mengisyaratkan adanya pengulangan atau sosialisasi atas suatu pekerjaan sehingga menjadi tradisi. Jika suatu pekerjaan hanya dilakukan satu atau dua kali, maka belum dapat dikatakan sebagai “sunnah” menurut pengertian ini. Makna “sunnah” di sini merupakan proses untuk mencapai makna “sunnah” yang kedua yaitu karakter dan tabiat.

Jika makna ini dihubungkan dengan sunnah Nabi saw., maka dapat dikatakan bahwa seluruh bentuk pekerjaan Nabi saw baik sebagai Rasul Allah swt. maupun sebagai manusia biasa dapat dikatakan sebagai “sunnah” sebab pekerjaan beliau saw senantiasa dilakukan secara terus menerus dan terjaga.

Keempat makna lughawiy tentang “sunnah” ini menjadi sangat penting untuk membedakannya dengan makna terminology dan sekaligus untuk menolak suatu istilah yang telah menjadi konsesi termonilogis ulama atau cendekiawan tertentu. Sebab di antara mereka ada yang memaknai “sunnah” sebagai tradisi orang-orang terdahulu. Para orientalis seperti Yosep Schact misalnya memaknai “sunnah Nabi r” dengan istilah live tradition (tradisi yang hidup), pemkanaan ini merupakan pemaknaan terminologis menurut mereka.

Read the rest of this entry ?

h1

KECUKUPAN MENURUT HADIS NABI Saw; Sebuah Catatan tentang Asbab Wurud al-Hadits

10 Januari 2013

1.    Matan Hadis

الغِنىَ هُوَ الإِياَسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Kecukupan itu adalah tidak mengharap terhadap apa yang ada pada tangan manusia.

2.    Takhrij al-Hadith

Setelah melakukan penelusuran hadis dengan menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras melalui berbagai varian lafaz dari hadis yang bersangkutan, penulis tidak menemukan satupun petunjuk atas keberadaan hadis tersebut. Selanjutnya, penelusuran terhadap hadis yang bersangutan dilakukan dengan menggunakan kitab Masu’ah Atraf al-Hadith, dari hasil penulusuran yang kedua ini ditemukan petunjuk bahwa hadis tersebut disebutkan oleh al-Hindy dalam Kanz al-‘Ummal  No. 6121, 6122, dan 6123[1], setelah dilakukan penelusuran kepada kitab sebagaimana yang ditunjukkan oleh mausu’ah atraf  tersebut – yakni kitab Kanz al-‘Ummal – ditemukan petunjuk lanjutan bahwa hadis tersebut didokumentasika dalam musnad al-shihab yang disusun oleh al-Qada’y dari Ibn Mas’ud dengan rumus (حل القضاعيي عن ابن مسعود), dan didokumentasikan pula oleh al-‘Askary dalam al-Mawa’iz dari Ibn Mas’ud dengan rumus (العسكري في المواعظ عن ابن مسعود), dan Ibn ‘Abbas dengan rumus (العسكري عن ابن عباس). dari kedua kitab sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Hindy dalam Kanz al-‘Ummal,[2] hanya kitab Musnad al-Shihab  yang dapat penulis akses dengan baik sementara kitab al-Mawa>iz karya al-‘Askary penulis tidak dapat mengaksesnya disebabkan karena ketidak tersediaan literature baik dalam bentuk soft copy maupun software.

Untuk lebih memperjelas keberadaan hadis teresebut selanjutnya penulis melakukan penelusuran melalui program al-maktabah al-shamilah v.2,8 dengan menggunkan lafal الغني اليأس, ditemukan petunjuk, bahwa hadis tersebut didokumentasikan oleh al-Qada’y dalam Musnad al-Shihab No. Hadis. 199, dan 422, dan didokumentasikan pula oleh Abu> Nu’aim al-Ashfahany dalam Hilyat al-Auliya’ dalam biografi Zarr bin Hubaish.[3] Read the rest of this entry ?

h1

MUHADDITSIN DAN RIWAYAT MUNKAR

12 Desember 2011

Pandangan Ulama Hadits Tentang Riwayat Munkar

(Diterjemahkan dari Kitab Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama’ al-Hadits al -Nabawy, Karya Shalahuddin bin Ahmad al-Adlaby, h. 235-238)

Terdapat banyak pendapat penting dari para ulama yang diriwayatkan seputar penolakan terhadap riwayat-riwayat munkar, dan di sini tidak bertujuan untuk menelitinya satu persatu, tetapi sekedar menyebutkan beberapa diantaranya untuk dijadikan sebagai tolok ukur kritik matan.

Al-Rabi’ bin Khatsim berkata: “Diantara hadis-hadis yang terdapat hadis yang memiliki sinar terangnya seterang sinar pada siang hari, kita dapat mengenalinya dengan baik, adapula yang gelap dan kegelapannya bagaikan gelapanya malam hari, dan kita dapat mengenalinya pula dengan baik”.[1]

Sesungguhnya kalimat ini merupkan intisari dari hadis-hadis Nabi terdahulu[2], yang mengnspirasi para ulama dalam menolak riwayat-riwayat munkar. Read the rest of this entry ?

h1

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU

26 November 2011

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU*

Pertama: Metode yang Valid dan Diterima

Allah Swt telah mewajibkan ketaatan kepada Rasul-Nya dan mengikuti perintahnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw dalam banyak hadis dan dalam berbagai kesempatan. Rasulullah Saw tidak hanya menegaskan kewajiban untuk mengikuti perintahnya, tetapi juga memberikan peringatan kepada mereka yang berkeyakinan bahwa al-Qur’an yang ada dihadapan mereka sudah cukup untuk diamalkan. Rasulullah Saw mencela pandangan seperti ini. Karena secara umum al-Qur’an diturunkan berfungsi untuk menjelaskan dan menegaskan hukum-hukum yang bersifat global. Adapun hukum-hukum yang bersifat praktis dan terperinci, maka harus merujuk kepada al-Sunnah. Ini adalah ketetapan yang telah diketahui dalam ‘ulum al-hadits. Dalam bagian ini saya akan mengetengahkan dua hadis Nabi yang berhubungan dengan topik permasalahan.

  Read the rest of this entry ?

h1

RAHMAT ALLAH Swt (Kajian Hadis)

30 Oktober 2011

Matan Hadis:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْأَسْ مِنْ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعَذَابِ لَمْ يَيأَسْ مِنْ النَّارِ.

Sesungguhnya Allah Swt mencipatakan rahmat, pada hari penciptaannya Allah Swt menciptakan 100 rahmat, kemudian Dia menahan disisi-Nya 99 rahmat, dan melepeskan untuk seluruh ciptaannya satu rahmat. Jadi, jika orang kafir mengetahui seluruh rahmat yang ada pada sisi Allah Swt, maka dia tidak akan putus asa dari (mendapatkan) surga, dan Jika seorang yang beriman mengetahui seluruh bentuk azab yang ada pada sisi Allah Swt, maka dia tidak akan merasa aman dari neraka. Read the rest of this entry ?

h1

TIPOLOGI MAJAMI’ DALAM KODIFIKASI HADITS; Kajian Terhadap Manhaj Ibn al-Atsir al-Jazary (544-606 H) dalam Karyanya“Jami’ al-Usul Fi Ahadith al-Rasul”

21 September 2011

Pendahuluan; Sebuah Refleksi Histories

Keberadaan al-H{adi>th dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Qur-a>n yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah Saw., maupun para sahabat beliau Saw. berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur-a>n telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu> Bakar al-S}iddi>q yang disempurnakan kemudian oleh khalifah Uthma>n bin ‘Affa>n yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah Saw.

Sementara itu, perhatian terhadap al-H{adi>th tidaklah demikian. Upaya kodifikasi al-H{adi>th secara resmi[1] baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd al-‘Azi>z khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara tahun 99-101 Hijriyah,[2] karena beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara sunnah-sunnah Rasulullah Saw baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun taqri>r beliau Saw., termasuk didalamnya sunnah para sahabat. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal H{adi>th menuliskan dan membukukannya supaya H{adi>th tidak hilang pada masa sesudahnya.[3] waktu pengkodifikasian secara resmi ini relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas al-H}adi>th. Read the rest of this entry ?

%d blogger menyukai ini: