Posts Tagged ‘BAHAN AJAR MAHASISWA’

h1

MASAIL AL-FIQHIYAH; Sebuah Pengantar

10 April 2013

Naskahnya dapat di download di sini

A.  Konsep Dasar Masail Al-Fiqhi>yah

 1.    Pengertian

Secara etimologi, masa>il al-fiqhi>yah merupakan susunan kata dalam bentuk kata majmuk (idhafah) yang berasal dari kata masail dan fiqh. Kata masail merupakan bentuk plural (jama’) dari kata mas-alah yang merupakan bentuk kata abstarak (mashdar) dari akar kata bahasa Arab sa-ala, yas-alu, sualan wa mas-alatan yang berarti meminta atau mempertanyakan tentang suatu perkara.[1]

Dalam al-Ta’rifat disebutkan, bahwa makna terminologis dari kata al-masail adalah perkara-perkara yang dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang komprehensif atas perkara-perkara tersebut[2] atau dengan kata lain data-data faktual yang dapat dijadika sebagai dasar penelitian dan pengkajian.

Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan mas-alah (bentuk singular dari kata masa>il ) adalah segala perkara yang membutuhkan dalil dan penjelasan dengan jalan mepertanyakan apa dan bagaimana perkara tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selanjutnya membentuk sebuah bangunan keilmuan secara integral dan komperehensif. Oleh karena itu, dalam berbagai karya-karya fiqh dapat ditemukan berbagai istilah seperti: mas-alah, fi>hi masa>il (di dalamnya terdapat berbagai permasalahan), dan sebagainya. Selanjutnya, mereka menjelaskan berbagai dalil, petunjuk, dan menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perkara tersebut. Dengan dasar itu, kemudian menyuguhkan hasil dan kesimpulan-kesimpulan hukum.

Kata fiqh secara umum bermakna menemukan sesuatu dan mengetahuinya. Jadi, segala bentuk pengetahuan atas suatu perkara disebut sebagai fiqh.[3]

Para ulama berbeda pendapat tentang fiqh secara terminologis, dimana para ulama ushul mendefenisikannya sebagai ilmu yang tentang cabang-cabang hukum syari’at yang didasarkan pada dalil-dali yang terperinci. Sementara menurut para ulama fiqh mendefenisikannya sebagai bentuk penjagaan atas cabang-cabang hukum Islam, sedang menurut ulama tasawwuf, fiqh merupakan bentuk integrasi antara ilmu dan amal.[4]

Menurut Ibn Khaldun, fiqh merupakan ilmu yang membahas tentang hukum-hukum Allah yang ditetapkan atas mukallaf dalam bentuk wajib, haram, mandub (sunnah), makruh, dan mubah yang didasarkan pada al-Qur’an, al-Sunnah, dan dalil-dalil lain yang sejalan dengan keduanya. Jika dari dalil-dalil tersebut dapat dismpulkan berbagai produk hukum, maka itulah yang disebut dengan fiqh.[5]

Berdasarkan pengertian etimologis dan terminologis dari kata masa>il dan fiqh di atas, maka yang dimaksud dengan masa>il al-fiqhi>yah adalah perkara-perkara yang berhubungan dengan hukum-hukum syari’at yang bersifat amaliyah dalam seluruh dimensinya berdasarkan petunjuk-petunjuk dalil-dalil yang terperinci. Dapat juga difahami sebagai persoalan – persoalan fiqh yang muncul dan terjadi dalam konteks manusia moderen sebagai refleksi kompleksitas problematika pada suatu tempat, kondisi dan waktu. Dan persoalan tersebut belum pernah terjadi pada waktu yang lalu, karena adanya perbedaan situasi yang melingkupinya.

 2.    Obyek Kajian

Dengan lahirnya masail al-fiqihiyah atau persoalan-persoalan kontemporer, baik yang sudah terjawab maupun sedang diselesaikan, bahkan prediksi munculnya persoalan baru mendorong kaum muslimin belajar dengan giat meneliti dan memahami berbagai metodologi penyelesaian masalah yang dilalui oleh para ulama baik klasik (mutaqddimin) maupun kontemporer (muta-akhkhirin).

Dari sudut fiqh penyelesaian suatu masalah dikembalikan kepada sumber pokok  yaitu; al-Qur’an dan al-Sunnah, kemudian ijma’, qiyas dan seterusnya. Sehingga produk hukum (istinba>th al-hukm) yang dihasilkan senantiasa berada dalam koridor yang benar.

 

  1. 3.    Tujuan dan Keutamaan Mempelajarinya

Tujuan mempelajari masail al-fiqhi>yah secara garis besar bertjuan mengetahui jawaban syari’at Islam tentang berbagai persoalan-persoalan kontemporer dan menyelesaikannya melalui metodologi ilmiah secara sistematis dan analitis.

Adapun keutamaan mepelajari masa>il al-fiqhi>yah di antaranya:

  1. Memperbaiki kulitas hidup dan penghidupan manusia secara individu dan kolektif agar dapat menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat;
  2. Menegakkan keadilan dalam masyarakat Islam; dan
  3. Mewujudkan kemaslahatan dengan keyakinan bahwa tidak ada hal yang sia-sia dalam syari’at melalui al-Qur’an dan al-Sunnah kecuali di dalamnya terdapat kemaslahatan hakiki untuk seluruh umat manusia.

 4.    Dasar Kajian

Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu, bahwa obyek kajian masail al-fiqhi>yah adalah persoalan-persoalan-persoalan kontemporer (al-nawa>zil atau al-mustajadda>t) yang tidak dijelaskan secara eksplisit akan kedudukan hukumnya baik dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah.

Dengan demikian, maka kajian  masa>il al-fiqhi>yah didasarkan pada persoalan-persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan yang dihadapi oleh kaum muslimin, dimana persoalan-persoalan tersebut tidak ditemukan keterangannya secara eksplisit dalam al-Qur’an, al-Sunnah, maupun Ijma’, dan juga tidak ditemukan kejadiannya dalam masyarakat muslim masa lalu disebabkan oleh adanya perbedaan situasi, kondisi dan waktu.

 

 

  1. 5.    Sumber Kajian

Yang dimaksud dengan sumber kajian masa>il al-fiqhi>yah adalah dalil-dalil dan atau petunjuk-petunjuk yang dijadikan sebagai landasan penetapan hukum akan suatu pesoalan kontemporer. Sumber-sumber tersebut antara lain:

  1. Seluk-beluk persoalan kontemporer. Maksudnya, bahwa persoalan-persoalan kontemporer berfungsi sebagai petunjuk Allah saw bagi seorang peneliti dan pengkaji hukum Islam. Petunjuk Allah swt tersebut selanjutnya disebut dengan a>ya>t al-kawni>yah, yaitu petunjuk-petunjuk Allah swt yang Dia tampakkan dalam kehidupan manusia, baik petunjuk tersebut berbentuk perkataan maupun perbuatan. Tetapi dalam masa>il al-fiqhi>yah yang dijadikan sebagai dasar kajian adalah perbuatan manusia mukallaf dengan memperhatikan segala hal yang mengitarinya, mulai dari istilah, tujuan, maanfaat, mudarat, metode dan teknik pelaksanaan dari perbuatan tersebut.
  2. Dalil-dalil syari’at. Dalil-dalil syari’at ini berfungsi sebagai penguji atas persoalan-persoalan kontemporer. Maksudnya, bahwa dalil-dalil syari’at khususnya al-Qur’an dan al-Sunnah sebagaimana yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin bahwa keduanya merupakan sumber hukum dalam Islam. Jadi, meskipun persoalan-persoalan kontemporer yang dikaji tersebut tidak terakomodasi dalam keduanya (al-Qur’an dan al-Sunnah) secara tekstual, bukan berarti bahwa persoalan tersebut tidak terakomodasi dalam keduanya secara kontekstual. Oleh karena itu, seorang pengkaji masa>il al-fiqhi>yah al-mu’a>shirah (persoalan fiqh kontemporer) harus merujuk kepada keduanya dengan melibatkan dalil-dalil syari’at lainnya seperti; ijma’, dan qiyas dan selainnya,[6] serta penjelasan-penjelasan ulama yang kompeten dalam bidang tafsir dan fiqh al-hadits.
  3. Qiya>s (analogi). Dalil syari’at ini merupakan dalil yang paling dapat menjembatani penjelasan hukum tentang persoalan-persoalan kontemporer, sebab dalam penggunaannya mempersyaratkan terpenuhinya empat unsur:

1)      Dasar hukum yang dijelaskan secara eksplisit dalam al-Qur’an dan al-Sunnah;

2)      Adanya persoalan hukum yang tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kedua teks syariat tersebut (termasuk di dalamnya pesolan kontemporer);

3)      Adanya persoalan hukum yang telah dijelaskan secara eksplisit dalam keduanya yang diistilahkan dengan hukum asal; dan

4)      Adanya kesamaan sifat dan karakteristik (‘illat) antara persoalan hukum kontemporer dengan persoalan hukum yang telah dijelaskan dasar hukumnya secara eksplisit dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.[7]

  1. Maqa>shid al-syari>’ah al-‘a>mmah (tujuan umum syari’at). Yaitu, untuk memberikan maslahat/kebaikan bagi seluruh manusia dalam kehidupan dunia dalam bentuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan dari berbagai bahaya. Maqa>shid al-syari>’ah sebagaimana yang disepakati oleh para ulama ada lima, yaitu:

1)      Menjaga agama (hifzh al-di>n);

2)      Menjaga jiwa (hifzh al-nafs);

3)      Menjaga akal (hifzh al-‘aql);

4)      Menjaga keturunan dan kehormatan (hifzh al-nasab wa al-‘aradh ); dan

5)      Menjaga harta (hifzh al-ma>l). Kelima tujuan umum syari’at ini merupakan tujuan syari’at yang menjadi skala prioritas syari’at.[8]

  1. Kaidah-kaidah fiqh. Yaitu rumusan kaidah fiqh yang telah dirumuskan oleh para fuqaha>’ berdasarkan hasil penalaran melalui dalil-dalil syari’at. Kaidah-kaidah fiqh tersebut bersifat kulli>y (universal), sebab pengambilan dan perumusannya berdasarkan petunjuk-petunjuk tekas-teks al-Qur’an dan Al-Sunnah. Para ulama fiqh bersepakat bahwa rumusan kaidah fiqh mayor (al-qawa>’id al-fiqhi>yah al-kubra>) ada lima:

1)      al-Umu>ru bi Maqa>shidiha> (segala perkara tergantung niatnya);

2)      al-Yaqi>nu la> Yuza>lu bi al-Syakk (keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan);

3)      al-Masyaqqatu Tajlib al-Taysi>r (kesulitan mendatangkan kemudahan);

4)      al-Dhararu Yuza>l (kemudaratan/bahaya harus dihilangkan); dan

5)      al-‘A<dat Muhakkamah (adat/kebiasaan dapat dijadikan sebagai pertimbangan hukum).

Masing-masing dari kelima kaidah mayor tersebut memiliki kaidah minor (kaidah turunan) di antaranya ada yang bersifat kulli>y (universal) dan adapula yang bersifat juz’i>y (parsial).

Kelima dalil dan petunjuk dalam kajian masa>il al-fiqhi>yah ini, harus diterapkan secara analitis dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan lainnya, seperti antropologi, sosiologi dan psikologi. Sehingga akurasi ketetapan hukum akan persoalan-persoalan kontemporer dalam hasil kajian (istinba>th) dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan amaliyah.

 B.   Prinsip Dasar Masa>il al-Fiqhi>yah

Dalam pembahasan terdahulu, telah dijelaskan bahwa kajiian masa>il al-fiqhi>yah bertujuan untuk menemukan jawaban syari’at Islam tentang persoalan-persoalan kontemporer yang tidak ditemukan penjelasannya secara eksplisit dalam teks-teks syari’at. Jawaban-jawaban atas berbagai persoalan tersebut harus selaras dan sejalan dengan tujuan-tujuan umum syari’at Islam (al-maqa>shid al-syari>’ah al-‘a>mmah). Oleh karena itu seorang pengkaji dan peniliti harus memeperhatikan lima prinsip dasar:

1.    Menghindari Sifat Taqlid dan Fanatisme

Seorang pengkaji masa>il al-fiqhi>yah harus berusaha menghindari segala bentuk sifat taqlid terhadap perndapat para ulama dan menjauhi sikap fanatisme atas mazhab-mazhab fiqh tertentu. Sebab sikap taqlid dan fanatisme terhadap pendapat fiqh dan atau mazhab fiqh tetentu dapat menggiring seorang pengkaji dalam kejumudan ijtihadi>y dan terkesan memaksakannya agar para pembacanya dan atau pendengarnya mengingkuti dan perpaham sebagaimana yang difahaminya.

Untuk itu, seorang pengkaji dalam melakukan kajian dan penelitian terhadap persoalan-persoalan fiqh kontemporer hendaknya memiliki criteria berikut:

  1. Menetapkan suatu pendapat yang didasarkan pada kekuatan dalil yang telah diakui tingkat akurasinya serta tidak mengandung kontroversi.
  2. Mampu men-tarji>h salah satu pendapat dari berbagai pendapat yang tampak bertentangan dengan membandingkan dalil-dalil yang digunakan oleh masing-masing pendapat dari sisi manthuq (tekstual) maupun mafhu>mnya (kontekstual).
  3. Mampu memberikan jawaban-jawaban fiqh secara akurat atas persoalan-persoalan yang tidak dijelaskan secara eksplisit oleh ulama-ulama terdahulu, jawaban-jawaban tersebut harus didasarkan pada kekuatan dan kekuratan dalil.
  4. Mampu menyeleksi dan membedakan antara dalil yang mengandung kontroversi dan multi-tafsir dengan dalil-dalil yang tegas.
  5. Setiap persoalan fiqh yang bersifat kontemporer pasti memiliki ‘illat, sehingg seorang pengkaji harus berusaha menguraikan dan mengungkap ‘illat tersebut, lalu membenturkannya dengan dalil-dalil syari’at, kaidah-kaidah fiqhiyah, kaidah-kaidah ushuliyah, dan hukum-hukum Islam normative yang telah mapan.
  6. Mampu melakukan gelar persoalan dengan melibatkan seluruh dalil-dali syari’at serta pendapat para ulama baik pro dan kontra untuk selanjutnya melakukan simpulan-simpulan hukum atas persoalan-persoalan kontemporer tersebut.

 2.    Mempermudah dan Tidak Mempersulit

Prinsip ini patut untuk digunakan selama tidak bertentangan dengan dali-dalil qath’iy dan kaidah-kaidah dasar syari’at (al-qawa>’id al-ushu>li>yah) dengan mempertimbangan dua hal:

  1. Bahwa keberadaan syari’at didasarkan kepada prinsip mempermudah dan menghindarkan kesulitan manusia seperti sakit, dalam perjalanan, lupa,  tidak tahu dan tidak sempurna akal. Taklif Allah atas hambanya disesuaikan dengan kadar kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing hamba.
  2. Memahami situasi dan kondisi suatu zaman yang dialami pada saat munculnya persoalan. Adapun kriteria maslahat sebagaimana yang biasa dikenal adalah menrealisasikan lima kepentingan pokok dan disebut dengan darurat khomsa, yaitu memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara harta, memelihara keturunan.
  1. 3.    Prinsip Dialogis

Ketentuan hukum yang akan diputuskan harus disesuaikan masyarakat yang diinginkannya dan menggunakan bahasa layak sebagaimana bahasa masyarakat dimana persoalan itu muncul. Bahasa masyarakat yang ideal :

  1. Bahasa yang dapat dengan mudah dipahami sebagai bahasa sehari-hari dan mampu menjangkau pemahaman umum.
  2. Menghindarkan istilah-istilah rumit yang mengundang pengertian dan interpretasi kontroversi.

Ketetapan hukum bersifat ilmiah karena didasarkan pertimbangan hikmah, ‘illat, filisofis dan dalil-dalil syari’at yang akurat.

 4.    Prinsip Moderat

Dalam merespon persoalan baru yang muncul, ulama bersandar kepada al-nash sesuai bunyi literal ayat dan hadis tanpa menginterpretasikan lebih lanjut diluar teks itu (tektual). Dipihak lain, kelompok kontekstualis lebih berani menginterprestasikan produk hukum al-nash dengan melihat kondisi zaman dan lingkungan. Sementara kelompok ini dinilai terlalu berani bahkan dianggap melampaui kewenangan ulama mujtahid yang tidak diragukan kehandalannya dalam masalah ini. Menurut mereka perbedaan masa, masyarakat, geografis, pemerintahan dan perkembangan teknologi moderen patut dipertimbangkan serta layak mendapat perhatian.

Dengan demikian, untuk menghindari kesan ambigu dan bias dalam setiap bentuk ketetapan hukum atas persoalan-persoalan kontemporer, maka seorang pengkaji hendaknya bersikapa moderat dengan memperhatika dan menganalisa dalil-dalil syari’at secara komprehensif baik dari sisi manthu>q dan mafhu>mnya, umum dan khususnya, muthlaq dan muqayyadnya, haqi>qah dan maja>znya, shari>h (eksplisit) dan kina>yah (abstrak)nya, serta mujmal (global) dan mufashshal (terperinci)nya, dan sebagainya.

 5.    Bersifat Tegas

Bahasa hukum harus bersifat tegas dan membutuhkan beberapa butir alternatif keterangan dan diperlukan pengecualian-pengecualian pada bagian tersebut. Pengecualian ini merupakan langkah elastis guna menjangkau kemungkinan lain di luar jangkauan ketentuan yang ada. Misalnya ketentuan hukum potong tangan terhadap pencuri sebuah barang yang telah mencapai nisab. Umar bin Khatthab pernah tidak memberlakukan hukum ”hadd” atau potong tangan terhadap pencuri barang tuannya, karena sang tuan pelit, dan tidak membayar upah si pelayan, maka ia mencuri barang sang tuan demi kebutuhan mendesak yaitu kelaparan.


[1] Abu ‘Abdullah Muhammad al-Ba’ly, al-Mathla’ ‘ala Alfazh al-Muqni’ (Cet. I; Maktabah al-Sawady, 1423 H), h. 368.

[2] ‘Ali al-Jurjani, al-Ta’rifat (Cet. II; Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1413 H), 371.

[3] Lihat. Mu’jam Maqayis al-Lughah, juz. 4, h. 442.

[4] Sa’di Abu Jaib, al-Qamus al-Fiqhiy Lughatan wa Ishthilahan, (Cet. II; Dar al-Fikr, 1408 H), h. 289.

[5] Ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1991 M), h. 283.

[6] Dalil-dalil syari’at lainnya adalah: Istihsan, Istishlah, Istishhab, al-‘Urf, Sadd al-Dzari’ah, Mazhab/pendapat sahabat, dan Syari’at umat terdahulu, ketujuh dalil ini merupakan dalil yang masih dalam perselisihan para fuqaha’. Penjelasan lebih lanjut lihat. Wahbah al-Zuhailiy, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh (Cet. I; Beirut dan Damaskus: Dar al-Fikr, 1994 M), h. 86-118.

[7] Ibid., h. 58.

[8] Ibid., h. 219-221.

h1

KONSEP DASAR QAWA’ID FIQHIYYAH

10 April 2013

Naskahnya dapat di download di sini

A.     Pengertian al-Qawa>‘id al-Fiqhiyah

Secara bahasa al-Qawa>‘id  merupakan bentuk pulral (jama’) dari kata qa>‘idah yang bermakna asas, dasar, pondasi.[i] Unsur penting dari kaidah adalah bersifat kulli (menyeluruh).[ii]

Sedangkan fiqih secara istilah bermakna ilmu tentang hukum dan perundang-undangan dalam Isla>m yang bersifat amaliah yang didasarkan pada dalil-dalil yang terperinci.[iii]

Dengan demikian maka al-Qawa>’id al-Fiqhiyah adalah dasar-dasar umum yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum dan perundang-undangan dalam Isla>m yang berdasarkan pada al-Qur’a>n, al-Sunnah S}ah}i>h}ah, Ijma>’ dan Qiya>s s}ah}i>h.

Adapun pengertian kaidah fiqh selain dari yang sudah penulis jelaskan di atas, ada lagi defini tentang kaidah fikih yang lebih kongkrit dan tidak membingungkan yaitu:

“Kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fikih yang digunakan untuk menentukan hukum dari kasus-kasus baru yang timbul dan tidak dijelaskan hukumnya secara jelas dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah”.

Kaidah fikih sering digunakan sebagai تَطْبِيْقُ الأَحْكَامِ , yaitu penerapan hukum atas kasus-kasus yang timbul dalam bidang kehidupan manusia.

Adapun persamaan antara kaidah usul fikih dengan kaidah fikih adalah keduanya sama-sama sebagai metodologi hukum Isla>m.

B.    Obyek al-Qawa>‘id al-Fiqhi>yah

Obyek kaidah-kaidah fikih adalah perbuatan mukallaf sendiri,[iv] sedangkan materi fikih dikeluarkan dari kaidah-kaidah fikih yang sudah mapan yang tidak ditemukan dalilnya secara khusus baik di dalam al-Qur’a>n dan al-Sunnah al-S}ah}i>h}ah.

C.    Manfaat dan Keutamaan Mempelajari al-Qawa>‘id al-Fiqhi>yah

Manfaat mempelajari al-Qawa>’id al-Fiqhiyah antara lain:

  1. Mengetahui asas-asas umum fiqh. Yakni dasar-dasar umum fikih yang ada dalam kaidah fikih tersebut seperti al-Qawa>’id al-Khamsah.
  2. Lebih arif di dalam menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi. Yaitu dengan memasukkan dan menggolongkan masalah pada salah satu kaidah fiqh yang ada.
  3. Memberi kemudahan di dalam menemukan hukum-hukum untuk kasus-kasus hukum yang baru dan tidak jelas nas}s}nya dan memungkinkan menghubungkannya dengan materi-materi fikih yang lain yang tersebar di berbagai kitab fikih serta memudahkan di dalam memberi kepastian hukum.[v]

Sedangkan keutamaan mempelajari  al-Qawa>’id al-Fiqhiyah adalah agar dapat tafaqquh (mengetahui, mendalami, menguasai) ilmu fiqh.[vi]

D.    Dasar-Dasar Pengambilan al-Qawa>’id al-Fiqhi>yah

Yang dimaksud dengan dasar pengembalian dalam uraian ini ialah dasar-dasar perumusan kaidah fiqhiyah, meliputi dasar formil dan materiilnya. Dasar formil maksudnya apakah yang dijadikan dasar ulama dalam merumuskan kaidah fiqhiyah itu, jelasnya nash-nash manakah yang menjadi pegangan ulama sebagai sumber motivasi penyusunan kaidah fiqhiyah. Adapun dasar materiil maksudnya darimana materi kaidah fiqhiyah itu dirumuskan. Untuk lebih lanjutnya mari kita lihat dalam dua uraian tersebut.[vii]

1.       Dasar formil

Hukum-hukum fiqh yang ada dalam untaian satu kaidah yang memuat satu masalah tertentu, ditetapkan atas dasar dalil tekstual, baik dari Al-Quran maupun al-Sunnah. Seperti dari Firman Allah dalam Q.s al-Bayyinah (98): 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)

Terjemahannya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Dan dalam hadis Nabi Muhammad saw.:

 إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya”.

Di-ist}inba>t}-kan, hukum melakukan niat untuk setiap perbuatan ibadah. Karena persoalan niat juga mempunyai arti penting dalam soal-soal lain, maka dirumuskanlah kaidah fiqhiyah:[viii]

 الأُمُوْرُ بِمَقَا صَدَ هَا

“Setiap perkara tergantung kepada maksud mengerjakannya”

Jadi perumusan kaidah fiqhiyah itu berdasarkan pada Alquran dan Sunnah dalam rangka untuk mempermudah pelaksanaan istinbath dan ijtihad.

2.      Dasar Materil

Adapun dasar materil atau tegasnya bahan-bahan yang dijadikan rumusan kata-kata kaidah itu, adakalanya teks hadis, seperti kaidah yang berbunyi:

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Kemadlaratan itu harus dihilangkan”

Kaidah ini berasal dari hadis Nabi  saw.:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ   (رواه ابن ما جه(

Terjemahannya:

Tidak boleh membuat mudlarat diri sendiri dan tidak boleh memudlaratkankan orang lain. (H.R. Ibn Ma>jah)

Kaidah yang berasal dari hadis tersebut berlaku untuk semua lapangan hukum, baik mu’amalah, ibadah, munakahat maupun jinayat. Disamping kaidah fiqhiyah yang dirumuskan dari lafadh hadis, seperti tersebut di atas, maka dapat dipastikan bahwa kaidah fiqhiyah itu hasil perumusan ulama yang kebanyakan sukar ditetapkan siapa perumusnya.

Dengan demikian, maka kaidah fiqh merupakan hasil penalaran terhadap hukum-hukum fiqh yang parsial.


[i] Ali Ah}mad al-Nadwi, al-Qawa>‘id al-Fiqhiyah, cet V (Beirut: Da>r al-Qala>m, 2000), 107. Lihat pula Muh}ammad al-Ru>ki, Qawa>‘id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I (Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998), 107

[ii] قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها  Ketetapan yang kulli (menyeluruh) yang mencakup seluruh bagian-bagiannya. Al Jurja>ni>, Kita>b al-Ta’rifat, (t.tp.: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah,1983), 171. Atau lihat di al-Suyu>t}i, Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rah}ma>n, al-Asybah wa al-Naz}a>‘ir fi> Qawa>‘id wa Furu>‘ al-Sha>fi’i>, cet. 1 (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1979) 5.  حكم كلي ينطبق على جزئيته (hukum kulli (menyeluruh) yang meliputi bagian-bagiannya).

[iii] Ali Ah}mad al-Nadwi, al-Qawa>‘id…, 107. Lihat juga di Asymuni A. Rah}ma>n, Qaidah-Qaidah Fiqh, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 28. Lihat juga di M. Dahlan, Kamus Induk Istilah Ilmiah  (Surabaya: Target Press, 2003), 211.

[iv] Jala>l al-Di>n ‘Abd. Al-Rah}ma>n al-Suyu>t}, al-Ashba>h wa al-Naz}a>‘ir fi> Qawa>‘id wa Furu>‘ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet.I (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1979). Lihat juga di A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2002), 5

[v] Jala<l al-Di>n ‘Abd al-Raha>man al-Suyu>t}i,, al-Asyba>h wa al-Nadz}a>ir fi> al-Qawa>‘id wa al-Furu>‘ fi Fiqh al-Sha>fi’i>, cet I (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1979), 6. Lihat juga. Muh}ammad al-Ru>ki, Qawa>‘id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I (Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998), 1011

[vi] H}asbi al-S}iddi>qi>, Pengantar Hukum Isla>m, cet III (Jakarta: Bulan Bintang, 1963), 235.

[vii] Miftahul Arifin, Ushul Fiqh : Kaidah-Kaidah.  h. 285.

[viii] Ibid.

h1

AL-SUNNAH AL-NABAWĪYAH; Sebuah Pengantar

10 April 2013

Download Naskahnya di sini

A.  Sunnah Secara Etimologi

Dari segi etimologi, kata “sunnah” mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

1.      Perjalanan, Prilaku, dan Tata Cara (السيرة والطريقة)

Makna perjalanan di sini masih bersifat umum, sebab perjalanan dapat berupa perjalanan baik atau buruk, sebagaimana perkataan Khalid bi ‘Utbah dalam sya’irnya:

فلا تجزعن عن سيرة أنت سرتها # فأول راض سنة من يسيرها[1]

Jangan engkau merasa risau dengan perjalanan hidup (Sunnah) yang telah engkau jalani # dan orang yang pertama kali merasa puas dengan perjalanan hidupnya (sunnah) adalah yang menjalaninya.

Kata “sunnah” yang berarti tata cara dapat ditemukan dalam Qs. Al-Nisa/4: 26, Allah swt berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (26)

Terjemahannya:

Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kata “sunan” dalam ayat ini, merupakan bentuk plural dari kata “sunnah”. Ibn Katsir menjelaskan, bahwa kata tersebut berarti: “tata cara orang-orang terdahulu yang terpuji dan mengikuti syari’at Allah yang mendapat ridha dari-Nya”.[2]

Jadi, makna sunnah secara etimologis dapat diartikan sebagai jalan yang baik atau terpuji sebagaimana perjalanan Nabi r atau diartikan sebagai jalan yang baik atau buruk sebagaimana yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.

2.      Karakter dan Tabiat (الخُلُقُ والطبيعة)

Kata “Sunnah” yang berarti karakter atau tabiat dapat dilihat dalam penuturan al-A’sya sebagai berikut:

كريم شَمَائِلُهُ من بني معاوية الأكرمين السُّنَنَ.[3]

Dia seorang yang memiliki sifat-sifat mulia, dari kalangan bani Mu’awiyah yeng berkarakter dan bertabiat mulia”

Kata “sunnah” di sini bukan sekedar jalan atau tata cara saja, tetapi tealah menjadi karakter dan tabiat, seolah kata “sunnah” sudah menjadi akhlak. Jika arti ini dihubungkan dengan sunnah Nabi r, maka dapat dikatakan bahwa Nabi saw adalah sebagai teladan dalam karakter dan akhlak yang baik lagi mulia.

3.      Wajah, Gambar, dan Rupa (الوجه والصورة)

Kata “sunnah” dalam pengertian Wajah, Gambar, dan Rupa dapat terlihat dalam contoh kalimat:

هو أشبه شيئ به سنة[4]

“Dia kelihatan lebih merip dengannya dalam wajah dan gambarnya”

Keterkaitan kata “sunnah” dalam arti ini dengan sunnah Nabi saw adalah bahwa sunnah Nabi saw merupakan gambaran yang beresensi yang menjadi suatu tujuan yang sangat penting atau sunnah memiliki gambaran dan corak tersendiri yaitu terbimbing dengan wahyu.

4.      Tradisi (العادة)

Menurut al-Kisaiy (w. 189 H), Sunnah berarti kekal atau langsung secara terus menerus (الدوام). Kata “sunnah” dengan arti tersebut menunjukkan pembiasaan terhadap sesuatu secara terus menerus, sebagaimana dalam kalimat:

سَنَنْتَ المَاءَ إِذَا وَالَيْتَ فِيْ صَبِّهِ

Engkau men-sunnah-kan air, ketika engkau menuangkannya secara terus menerus.[5]

Penuangan air secara terus menerus dengan cara tertentu ini disebut dengan “sunnah” secara etimologi. Pemaknaan sunnah di sini mengisyaratkan adanya pengulangan atau sosialisasi atas suatu pekerjaan sehingga menjadi tradisi. Jika suatu pekerjaan hanya dilakukan satu atau dua kali, maka belum dapat dikatakan sebagai “sunnah” menurut pengertian ini. Makna “sunnah” di sini merupakan proses untuk mencapai makna “sunnah” yang kedua yaitu karakter dan tabiat.

Jika makna ini dihubungkan dengan sunnah Nabi saw., maka dapat dikatakan bahwa seluruh bentuk pekerjaan Nabi saw baik sebagai Rasul Allah swt. maupun sebagai manusia biasa dapat dikatakan sebagai “sunnah” sebab pekerjaan beliau saw senantiasa dilakukan secara terus menerus dan terjaga.

Keempat makna lughawiy tentang “sunnah” ini menjadi sangat penting untuk membedakannya dengan makna terminology dan sekaligus untuk menolak suatu istilah yang telah menjadi konsesi termonilogis ulama atau cendekiawan tertentu. Sebab di antara mereka ada yang memaknai “sunnah” sebagai tradisi orang-orang terdahulu. Para orientalis seperti Yosep Schact misalnya memaknai “sunnah Nabi r” dengan istilah live tradition (tradisi yang hidup), pemkanaan ini merupakan pemaknaan terminologis menurut mereka.

Read the rest of this entry ?

h1

SILABUS DIFA’ ‘AN AL-SUNNAH

17 Maret 2013

SILABUS PERKULIAHAN DIFA’ ‘AN AL-SUNNAH

Mata Kuliah ini adalah mata kuliah komponen keilmuan dan keterampilan (MKK) yang termaasuk dalam komponen utama yang wajib diikuti dan diharapkan dapat dikuasai oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik, Jurusan Tafsir Hadis, Program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir semester VI (enam).

Dengan Mata Kuliah ini Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang al-Sunnah sebagai landasan dan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an sehingga dengan pengetahuan tersebut, mahasiswa mampu mempertahankan eksistensi dan kedudukan sunnah Nabi saw. sebagai respon atas usaha sekelompok dari berbagai kalangan baik dari kalangan non muslim maupun dari intelektual muslim untuk meragukan dan menolak sunnah Nabi saw. sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an.

Pada akhir perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk:

  1. Menjelaskan kedudukan, fungsi dan urgensi al-Sunnah dalam Islam.
  2. Menjelaskan dan mengklarifikasi dasar-dasar pemikiran para tokoh inkar al-sunnah terhadap al-Sunnah.
  3. Menjelaskan dan mengklarifikasi pandangan dan sikap Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij dan Sunni terhadap al-Sunnah.
  4. Menjelaskan dan mengklarifikasi pandangan orientalis terhadap al-Sunnah.
  5. Menjelasakan dan mengklarifikasi pandangan New Modernisme Sunnah terhadap al-Sunnah.

DOWNLOAD SILABUSNYA DI SINI

%d blogger menyukai ini: