h1

KEHUJJAHAN HADIS TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL-WAQI’AH

14 Februari 2014

GambarTentang keutamaan Surat al-Waqi’ah terdapat penjalasan hadis dengan status Shahih dan Dha’if.

1. Hadis yang Shahih adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzy dan al-Hakim dalam “al-Mustadrak” dari Ibn ‘Abbas r.a: Bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

شَيَّبَتْنِي هُوْدُ وَالوَاقِعَةِ وَالْمُرْسَلَاتِ وَعَمَّ يَتَسَاءَلُوْنَ وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Artinya:
“Aku merasa muda kembali (semakin bersemangat dalam beramal) ketika membaca/mendengarkan surat Hud, al-Waqi’ah, ‘Amma Yatasaalun (al-Naba’) dan Idza al-Syamsu Kuwwirat (al-Takwir)” [di-Shahih-kan oleh al-Albany dalam Silsilah Ahadis al-Shahihah].

Rasulullah saw. mensabdakan ini disebabkan oleh karena surah-surah tersebut mengandung pembahasan tentang sifat-sifat Neraka dan Surga serta kondisi para penghuninya.

2. Hadis yang Dha’if (lemah) adalah : sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqy dari Ibn Mas’ud r.a: bahwasanya Nabi saw bersabda:

مَنْ قَرَأ َسُوْرَةُ الوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَداً

Artinya:
“Barang siapa yang membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kemiskinan untuk selamanya (alias akan menjadi kaya)”.

Penjelasan:

Hadis ini dinilai Dha’if  (lemah) oleh para ulama hadis. Menurut al-Munawy dalam Faidh al-Qadir, “dalam sanadnya seorang perawi bernama Abu Syuja’, menurut al-Dzahaby dia adalah perawi munkar lagi majhul“. Semantara itu, Ibn al-Jawzy dalam “al-‘Ilal” berkata: Ahmad (Ibn Hanbal) berkata: “Ini merupakan riwayat Munkar”.

Al-Zaila’y menjelaskan, bahwa hadis ini mengandung beberapa unsur ‘illat (kecacatan):
1. Sanadnya terputus (Inqitha’), berdasarkan penelitian al-Daruquthny dan selainnya.

2. Matan (Redaksi Hadisnya) Munkar, berdasarkan penilaian Ahmad Ibn Hanbal.

3. Para perawinya berstatus Dha’if (lemah), berdasarkan penilaian Ibn al-Jawzy.

4. Lafazh riwayatnya tidak mencerminkan lafazh kenabian alias Mudhtharib (rancu/pincang).

Ke-dha’if-an hadis tentang Surat al-Waqi’ah dapat menajdikan orang yang sering membacanya menjadi kaya, telah disepakati oleh ulama hadis seperti: Ahmad Ibn Hanbal, Abu Hatim al-Razy dan putranya, al-Daruquthny, bahkan al-Baihaqy sendiri dan ahli hadis lainnya. “Wallahu A’lam”.

%d blogger menyukai ini: