h1

AL-SUNNAH AL-NABAWĪYAH; Sebuah Pengantar

10 April 2013

Download Naskahnya di sini

A.  Sunnah Secara Etimologi

Dari segi etimologi, kata “sunnah” mempunyai beberapa arti sebagai berikut:

1.      Perjalanan, Prilaku, dan Tata Cara (السيرة والطريقة)

Makna perjalanan di sini masih bersifat umum, sebab perjalanan dapat berupa perjalanan baik atau buruk, sebagaimana perkataan Khalid bi ‘Utbah dalam sya’irnya:

فلا تجزعن عن سيرة أنت سرتها # فأول راض سنة من يسيرها[1]

Jangan engkau merasa risau dengan perjalanan hidup (Sunnah) yang telah engkau jalani # dan orang yang pertama kali merasa puas dengan perjalanan hidupnya (sunnah) adalah yang menjalaninya.

Kata “sunnah” yang berarti tata cara dapat ditemukan dalam Qs. Al-Nisa/4: 26, Allah swt berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (26)

Terjemahannya:

Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kata “sunan” dalam ayat ini, merupakan bentuk plural dari kata “sunnah”. Ibn Katsir menjelaskan, bahwa kata tersebut berarti: “tata cara orang-orang terdahulu yang terpuji dan mengikuti syari’at Allah yang mendapat ridha dari-Nya”.[2]

Jadi, makna sunnah secara etimologis dapat diartikan sebagai jalan yang baik atau terpuji sebagaimana perjalanan Nabi r atau diartikan sebagai jalan yang baik atau buruk sebagaimana yang dilakukan oleh manusia pada umumnya.

2.      Karakter dan Tabiat (الخُلُقُ والطبيعة)

Kata “Sunnah” yang berarti karakter atau tabiat dapat dilihat dalam penuturan al-A’sya sebagai berikut:

كريم شَمَائِلُهُ من بني معاوية الأكرمين السُّنَنَ.[3]

Dia seorang yang memiliki sifat-sifat mulia, dari kalangan bani Mu’awiyah yeng berkarakter dan bertabiat mulia”

Kata “sunnah” di sini bukan sekedar jalan atau tata cara saja, tetapi tealah menjadi karakter dan tabiat, seolah kata “sunnah” sudah menjadi akhlak. Jika arti ini dihubungkan dengan sunnah Nabi r, maka dapat dikatakan bahwa Nabi saw adalah sebagai teladan dalam karakter dan akhlak yang baik lagi mulia.

3.      Wajah, Gambar, dan Rupa (الوجه والصورة)

Kata “sunnah” dalam pengertian Wajah, Gambar, dan Rupa dapat terlihat dalam contoh kalimat:

هو أشبه شيئ به سنة[4]

“Dia kelihatan lebih merip dengannya dalam wajah dan gambarnya”

Keterkaitan kata “sunnah” dalam arti ini dengan sunnah Nabi saw adalah bahwa sunnah Nabi saw merupakan gambaran yang beresensi yang menjadi suatu tujuan yang sangat penting atau sunnah memiliki gambaran dan corak tersendiri yaitu terbimbing dengan wahyu.

4.      Tradisi (العادة)

Menurut al-Kisaiy (w. 189 H), Sunnah berarti kekal atau langsung secara terus menerus (الدوام). Kata “sunnah” dengan arti tersebut menunjukkan pembiasaan terhadap sesuatu secara terus menerus, sebagaimana dalam kalimat:

سَنَنْتَ المَاءَ إِذَا وَالَيْتَ فِيْ صَبِّهِ

Engkau men-sunnah-kan air, ketika engkau menuangkannya secara terus menerus.[5]

Penuangan air secara terus menerus dengan cara tertentu ini disebut dengan “sunnah” secara etimologi. Pemaknaan sunnah di sini mengisyaratkan adanya pengulangan atau sosialisasi atas suatu pekerjaan sehingga menjadi tradisi. Jika suatu pekerjaan hanya dilakukan satu atau dua kali, maka belum dapat dikatakan sebagai “sunnah” menurut pengertian ini. Makna “sunnah” di sini merupakan proses untuk mencapai makna “sunnah” yang kedua yaitu karakter dan tabiat.

Jika makna ini dihubungkan dengan sunnah Nabi saw., maka dapat dikatakan bahwa seluruh bentuk pekerjaan Nabi saw baik sebagai Rasul Allah swt. maupun sebagai manusia biasa dapat dikatakan sebagai “sunnah” sebab pekerjaan beliau saw senantiasa dilakukan secara terus menerus dan terjaga.

Keempat makna lughawiy tentang “sunnah” ini menjadi sangat penting untuk membedakannya dengan makna terminology dan sekaligus untuk menolak suatu istilah yang telah menjadi konsesi termonilogis ulama atau cendekiawan tertentu. Sebab di antara mereka ada yang memaknai “sunnah” sebagai tradisi orang-orang terdahulu. Para orientalis seperti Yosep Schact misalnya memaknai “sunnah Nabi r” dengan istilah live tradition (tradisi yang hidup), pemkanaan ini merupakan pemaknaan terminologis menurut mereka.

B.  Sunnah Secara Termonoligi

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefenisikan sunnah secara terminologis dalam tiga kelompok. Perbedaan tersebut sesuai dengan disiplin keilmuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing kelompok ulama.

1.      Sunnah menurut Muh}adds\i>n

Menurut Muh}adds\i>n “Sunnah” adalah :

مَا أُثِرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ صِفَةٍ أَوْ سِيْرَةٍ[6]

Segala sesuatu yang dating dari Nabi r baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan/pengakuan, sifat (fisik dan akhlak), dan/atau sejarah.

Makna ini oleh mayoritas Muh}adds\i>n difahami sama dengan makna hadis, dimana istilah tersebut “sunnah” untuk makna hadis lebih popular dikalangan mereka, sebagaimana pernyataan mereka: ‘hukum tentang masalah ini disebutkan dalam sunnah’ maksudnya adalah hadis atau dengan mengatakan: ‘masalah ini disebutkan dalam kutub al-sunnah’ maksudnya kitab-kitab hadis.

Dengan demikian, maka sunnah menurut ulama hadis adalah segala hal yang berhubungan dengan Nabi r dan berasal dari beliau baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan/pengakuan bahkan sifat dan sejarah hidup beliau r merupakan.

2.      Sunnah Menurut Us}u>li>yi>n

Para ulama ushul fiqh (Us}u>li>yi>n) mendefenisikan sunnah dengan:

كُلُّ مَا صَدَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم  غَيْرَ القُرْآنِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ مِمَّا صَلُحَ أَنْ يَكُوْنَ دَلِيْلاً لِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ.[7]

Segala perkara yang disandarkan/berasal dari Nabi r selain al-Qur’an baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan/pengakuan yang dapat dijadikan sebagai dalil atas hukum syari‘at.

Defenisi terminologis ulama ushul fiqh tentang sunnah ini, mengisyaratkan bahwa sunnah hanya terbatas pada perkataan, perbuatan, persetujuan/pengakuan yang datang dari Nabi r dan tidak dari selainnya. Batasan selain al-Qur’an mengisyaratkan masuknya hadis qudsiy di dalamnya dengan batasan bahwa hadis-hadis yang dapat disebut sebagai sunnah hanyalah hadis-hadis yang layak dan dapat dijadikan sebagai dalil hukum saja apakah wa>jib, mandu>b/sunnah, makru>h, muba>h}, dan h}ara>m.

3.      Sunnah menurut Fuqaha>

Terdapat beberapa pengertian terminologis “sunnah” menurut Fuqaha>’, yaitu:

  1. Sunnah adalah : segala sesuatu yang datang dari Nabi r selain wajib. Maksudnya adalah perbuatan yang diperintahkan untuk dilakukan tetapi perintah tersebut tidak menunjukkan kewajiban untuk dilakukan atau dengan istilah lain sunnah adalah pekerjaan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa.[8]
  2. Sunnah adalah lawan dari bid’ah baik secara mutlak maupun fiqh. Sunnah mutlak adalah ketika seseorang mengamalkan amalan sesuai dengan amalan Nabi r, maka dia disebut sebagai orang yang berada di atas jalan sunnah. Sebaliknya, jika seseorang mengamalkan amalan yang berseberangan dengan amalan dan tuntutan Nabi r, maka dia dikatakan sebagai seorang yang berada di atas jalan bid’ah, karena dating dengan amalan-amalan baru dalam Islam yang tidak ada ajaran dan tuntunannya dari Nabi r. Jadi, setiap bentuk perkataan dan perbuatan manusia yang tidak ada tuntutannya dari Nabi r, disebut sebagai bid’ah secara mutlak.[9]
  3. Sunnah adalah segala sesuatu yang menjadi petunjuk/dalil bagi syari’at/hukum Islam, baik itu berasal dari Nabi r, maupun dari ijtihad para sahabat Nabi r.[10]

Di antara defenisi sunnah menurut Fuqaha>’ di atas, maka defnisi terminologis “sunnah” yang paling banyak dan paling masyhur dikalangan mereka adalah sunnah dalam artian pekerjaan yang apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Kata “sunnah” di sini merupakan bentuk sinonim dari kata mandu>b, mustah}ab, tat}awwu’, dan na>filah/nawa>fil.

C.  Sebab Terjadinya Perbedaan Defenisi Termonologis

Perbadaan defenisi terminologis dikalangan ulama di atas, disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam memposisikan Nabi r. Para ulama hadis (Muh}adds\i>n) memposisikan Nabi r sebagai ima>m al-mu’mini>n (pemimpin kaum beriman), al-ha>di> ila> sabi>l al-hida>yah (pemberi petunjuk kepada petunjuk Allah swt) dan sebagai uswah al-h{asanah (teladan yang baik), dengan posisi ini, maka para menukil segala perkara yang berhubungan dengan perjalanan hidup (si>rah) beliau r, akhlaknya, sifat-sifat fisik dan psikisnya, berita tentang beliau r, perkataan serta perbuatan beliau r, apakah perkara-perkara tersebut berhubungan dengan masalah hukum atau pun tidak.

Para ulama ushul fiqh  (Us}u>li>yi>n) memposisikan Nabi r sebagai pembuat syari‘at (musyarri‘) yang meletakkan dasar-dasar ijtihad bagi para mujtahid dan sebagai penjelas kepada manusia tentang berbagai bentuk perundang-undangan dalam hidup dan kehidupa. Oleh karena itu, mereka medefenisikan “sunnah” dengan segala sesuatu yang dating dari Nabi r yang dapat dijadikan sebagaai landasan hukum syari‘at.

Para ulama fiqh (Fuqaha>) memposisikan Nabi r sebagai mukallaf yang pekerjaan dan prilakunya menjadi tolok ukur dan dalil atas hukum-hukum syari’at. Oleh karena itu, mereka mengkaji sunnah untuk mendapatkan dukungan dalil terhadap hukum syari’at yang berhubungan dengan prilaku manusia baik dari  sisi wajib, mandub, haram, makruh, dan atau mubah.

D.  Dalil-dalil Kehujjahan Al-Sunnah

Al-Sunnah merupakan salah satu sumber ajaran agama Islam sekaligus merupakan wahyu dari Allah seperti Al-Qur’an, hanya saja perbedaan antara keduanya terletak pada sisi lafaz dan makna dimana lafaz dan makna al-Qur’an berasal dari Allah Swt semetara Hadis maknanya dari Allah Swt dan lafaznya dari Rasulullah r, kedudukannya dalam ajaran agama sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an, keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dan mentaatinya wajib bagi kaum muslimin sebagaimana wajibnya mentaati Al-Qur’an.[11] Adapun dalil-dalil yang menunjukkan kehujjahan sunnah antara lain:

1.      Al-Qur’an

Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan akan kehujjahan Sunnah diantaranya adalah ayat-ayat yang memerinthakan kepada kaum muslim untuk taat kepada Rasulullah r. Firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Terjemahannya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS al-Nisa/4 : 59)

Kembali kepada Allah maksudnya kembali kepada Al-Qur’an, dan kembali kepada Rasul maksudnya kembali kepada Sunnah beliau r.

Perintah untuk mengikuti segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah r dan menjauhi segala apa yang dilaranagnnya, Allah Swt berfirman:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Terjemahannya:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr/59 :7)

Allah Swt telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak menyelisihi segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah r, Allah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

Terjemahannya:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS al-Nu>r/24 : 63)

Pada Banyak ayat, Allah Swt menyandingkan kata kita>b yang berarti al-Qur’a>n dengan kata h{ikmah berarti sunnah, di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Swt:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

Terjemahannya:

Dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan H{ikmah kepadamu (Muhammad), dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. (QS. al-Nisa>/4 : 113)\

Ima>m al-Syafi’i> berkomentar perihal ayat yang terakhir ini dengan mengatakan:

“Allah swt menyebutkan al-Kita>b yaitu al-Qur’a>n dan juga Sunnah (Hadis). Aku teelah mendengar ahli ilmu al-Qur’a>n mengatakan; H{ikmah adalah Sunnah Rasulullah r. Karena al-Qur’a>n disebutkan dan dibarengi dengan kata H{ikmah. Allah swt. Menyebutkan anudrah-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan mengajari mereka al-Kita>b dan H{ikmah, maka tidak boleh –Wallahu a’lam- ditafsiri maksud H{ikmah disini kecuali Sunnah Rasulullah saw”.[12]

2.      Hadis Nabi r

Terdapat banyak hadis Rasulullah r. yang  menunjukkan kewajiban untuk mengikuti Sunnah Nabawi>yah dan menegaskan bahwa Sunnah itu memliki kedudukan yang sama seperti al-Qur’a>n dari segi keadaannya sebagai sumber dan landasan syari’at Islam. Di antara hadis-hadis tersebut:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dengan sanadnya dari sahabat Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Terjemahannya: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali mereka yang enggan dan tidak mau”. Para Sahabat kemudian bertanya (keheranan); ‘Siapakah yang tidak mau memasukinya itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “orang yang mentaatiku akan masuk surga dan orang yang mendurhakaiku (melangkar ketentuanku) berarti dia enggan dan tidak mau”.[13]

  1. Hadis yang menjelaskan bahwa dengan berpegangteguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka tidak akan tersesat untuk selamnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ma>lik bin Anas t bahwasanya Rasulullah r bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Terjemahannya: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat untuk (selamanya) selama kalian berpegangteguh kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”.[14]

  1. Hadis yang memerintahkan untuk senantiasa ber-tamassuk (berpegangteguh) Sunnah Rasulullah r dan para sahabat beliau r dan larangan melakukan kebid’ahan. Sebagaimana sabda Rasulullah r:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Terjemahannya: “Hendaklah kalian (mengikuti) Sunnahku dan Sunnah para khalifah ra>syidah yang telah mendapatkan hidayah, berpegangteguhlah kepadanya, dan gigitlah (Sunnah tersebut) dengan gigi grahammu, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, krena segala bentuk yang bersifat baru adalah bid’ah dan semua bentuk bid’ah adalah sesat”.[15]

  1. Hadis yang menjelaskan bahwa telah diturunkan kepada Rasulullah r al-Quran dan yang semisal dengannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu> Da>u>d dari sahabat al-Miqda>m bin Ma’di> Karib t, Rasulullah r bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَه

Terjemahannya: “Sesungguhnya telah diberikan (diturunkan) kepadaku al-Kitab (al-Qura>n) dan bersamanya sesuatu yang semisal dengannya (al-Sunnah)”.[16]

 

3.      Ijma’ (Konsensus Ulama)

Para sahabat y seluruhnya telah menyepakati kewajiban mengikuti Sunnah Nabi r, karena sunnah tersebut merupakan wahyu dari Allah swt dan telah memerintahkan kepada kita untuk mengikutinya demikian pula dengan Rasul-Nya sebagiaman dalam riwayat-riwayat yang telah disebutkan terdahulu. Fakta-fakta yang menunjukkan kesepakatan mereka akan ke-hujjah-an sunnah dalam agama cukup banyak dan tidak terbilang jummlahnya dan tidak diketahui ada seorang pun di antara mereka yang menyalahi dan menentang hal tersebut.

Kemudian para tabi’i>n menempuh jalan para sahabat y dengan mengambil dan mengikuti apa yang terdapat (wa>rid ) dalam Sunnah berupa hukum, adab, dan tidak seorang dari mereka (ta>bi’i>n) yang berani memenentang sunnah yang s}ah}i>h} (valid).

Kemudian keum muslimin sesudah mereka hingga hari ini telah menyepakati akan kewjiban menerima dan mengambil hukum-hukum yang di-nuqil dari Sunnah dan barang siapa yang menentang hal tersebut di antara mereka, maka mereka telah menentang Al-Qur’a>n dan Sunnah Nabi r serta mengikuti jalan selain jalan orang mu’min.

Oleh karena itu, kaum muslimin sangat setia menuqi sunnah Nabi r, memeliharanya, dan berpegang teguh dengannya karena taat kepada Allah swt dan mengikuti Rasulullah r.[17]

4.      Logika

Jika telah terbukti dengan dalil yang terang dan jelas bahwa Muhammad r adalah Rasul Allah, maka beriman kepada Risalah-nya menuntut konsekwensi ketaatan kepadanya, jika tidak, maka keimanan kepadanya tidak memiliki arti sama sekali, sebab beliaulah yang menyampaikan ajaran-ajaran agama dari Tuhannya, dan kita meyakini bahwa belaiu s}a>diq (jujur) dengan seluruh yang beliau sampaikan kepada umatnya, dan bahwa beliau ma’s}u>m (terjaga/terpelihara) dari segala bentuk kekeliruan.[18] Di dalam al-Qur’a>n, Allah swt telah menyandingkan keimanan kepada rasul-Nya dengan keimanan kepada-Nya. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ

Terjemahannya:

Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. (QS. al-Nu>r/24: 62)

Sekiranya Sunnah tidak menjadi Hujjah bagi kaum muslimin, niscaya mereka tidak akan sanggup memahami dan melaksanakan hukum-hukum al-Qur’a>n, karena hanya dengan sunnah-lah al-Qur’a>n dapat di jelaskan dan dipahami.

Jadi setipa orang yang memiliki akal sehat tentu akan berpendapat bahwa mengikuti Sunnah Nabi r adalah suatu kewajiban, karena jika tidak, maka bimbingan, petunjuk dan rahan beliau saw  tidak memiliki arti dan keberadaan beliau saw ditengah-tengah umatnya untuk mengajarkan kepada mereka perkara-perkara agama menjadi sia-sia, tentu saja hal ini tidak akan diterima oleh orang yang kritis dan perpikir.


 

DAFTAR PUSTAKA

 ‘Abd al-Rah}ma>n, Jala>l al-Di>n.  al-Sunnah Gha>yah al-Wus}u>l ila> Daqa>iq ‘Ilm al-Us}u>l. Cet. I: t.tp: Da>r al-Z|ahabi>y, 1999.

Abu> Da>u>d, Sulaima>n bin al-Asy’as\ al-Sijista>ni>. Sunan Abu> Da>>ud, Kita>b al-Sunnah, Ba>b Berpegang Teguh kepada Sunnah. Jld. V. Cet. I; Beirut: Da>r Ibnu H{azm, 1419 H / 1997 M.

Anis, Ibrahim, et al. al-Mu’jam al-Wasi>t}, juz. 1. Cet. II; Mesir: Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, 1972.

al-Bukha>ri>, Muh}ammad bin Isma’il (194-256 H). al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}, Kita>b al-I’tis{a>m, Bab Mengikuti Sunnah Rasulullah saw. Jld. IV. Cet. I; Kairo: Mat}ba’ah al-Salafiyyah, 1400 H.

al-H{afna>wi>y, Muh}ammad Ibra>hi>m. Dira>sah Us}u>li>yah fi> al-Sunnah al-Nabawi>yah. Cet. I; Mesir: Dar al-Wafa>’, 1991.

Hasyim, Ahmad ‘Umar. al-Sunnah al-Nabawi>yah wa ‘Ulu>muha>. Kairo: Maktabah Ghari>b, t.th.

Ibn Anas, Ma>lik (59-197 H), Kita>b al-Muwat}t}a’, Kita>b Al-Ja>mi’, Bab Larangan Berbicara tentang Qadar. Jld. II. Cet. I; Kairo: Dar al-Rayya>n, 1408 H / 1988 M.

Ibn Kas\i>r, Abu al-Fida>’ Muhammad bin Isma’il al-Qurasyi>y, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m. Juz. 4. Jeddah: al-Haramain, t.th.

Ibn Manz}u>r, Muhammad bin Mukram. Lisa>n al-‘Arab, juz. 13. Cet. I; Beirut: Dar al-Shadir, 1990.

al-Khat{i>b, Muh}ammad ‘Aja>j. Us}u>l al-H{adis\; ‘Ulu>muhu wa Mus{t}alah{uhu. Cet. I; Beirut: Da>r al-Fikr, 1409 H / 1989 M.

al-Masyhada>ni>, Dhiya>’ Muhammad Ja>sim. ‘Uqu>d al-Durar fi> ‘Ilmi al-As\ar. Diterj. Faisal Saleh dan Khairul Amru Harahap, Mutiara Ilmu Atsar. Cet. I; Jakarta: Akbar Media, 1429 H / 2008 M.

al-Qat}t}a>n, Manna>‘ bin Khli>l. Maba>h}is\ fi> ‘Ulu>m al-H{adi>s\ (Cet. IV; Kairo: Maktabah Wahbah, 2004), h. 15.

________, Pengantar Studi Ilmu Hadits. Terj. Mifdhol Abdurrahman. Cet. III; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008.

al-Syawka>ni>y,  Muhammad Ali (w. 1250 H). Irsya>d al-Fuh}u>l ila> Tah}qi>q al-H{aq min ‘Ilm al-Us}u>l. juz. 1. Cet. I; Beirut: Da>r al-Syaa’b al-‘Ilmi>yah, 1999.


[1] Muhammad bin Mukram bin Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, juz. 13 (Cet. I; Beirut: Dar al-Shadir, 1990), h. 225.; Ibrahim Anis, et al., al-Mu’jam al-Wasi>t}, juz. 1 (Cet. II; Mesir: Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, 1972), 456.

[2] Ibn Kas\i>r al-Qurasyi>y, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m. Juz. 4 (Jeddah: al-Haramain, t.th.), h. 192.

[3] Ibn Manz}u>r, op.cit., 226.

[4] Ibid.

[5] Muhammad Ali al-Syawka>ni>y (w. 1250 H), Irsya>d al-Fuh}u>l ila> Tah}qi>q al-H{aq min ‘Ilm al-Us}u>l. juz. 1 (Cet. I; Beirut: Da>r al-Syaa’b al-‘Ilmi>yah, 1999), h. 159.; Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rah}ma>n, al-Sunnah Gha>yah al-Wus}u>l ila> Daqa>iq ‘Ilm al-Us}u>l (Cet. I: t.tp: Da>r al-Z|ahabi>y, 1999), h. 11.

[6] Manna>‘ bin Khli>l al-Qat}t}a>n. Maba>h}is\ fi> ‘Ulu>m al-H{adi>s\ (Cet. IV; Kairo: Maktabah Wahbah, 2004), h. 15.

[7] Ahmad ‘Umar Hasyim, al-Sunnah al-Nabawi>yah wa ‘Ulu>muha> (Kairo: Maktabah Ghari>b, t.th.), h. 17.

[8] Manna’ al-Qat}t}a>n, op.cit., h. 14.; Muhammad Ibrahim al-Hafna>wi>y, Dira>sah Us}u>li>yah fi> al-Sunnah al-Nabawi>yah (Ce. I; Mesir: Dar al-Wafa>’, 1991), h. 12.

[9] Manna’ al-Qat}t}a>n, op.cit., h. 14

[10] Ibid.

[11]Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his} fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s. Terj. Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadits  (Cet. III; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008), h. 30

[12]Muh}ammad bin Idris al-Sya>fi’i> dalam Dhiya’ Muhammad Ja>sim al-Masyhada>ni>, ‘Uqu>d al-Durar fi> ‘Ilmi al-As{ar. Diterj. Faisal Saleh dan Khairul Amru Harahap, Mutiara Ilmu Atsar (Cet. I; Jakarta: Akbar Media, 1429 H / 2008 M), h. 109

[13]Muh}ammad bin Isma’il al-Bukha>ri> (194-256 H), al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}, Kita>b al-I’tis{a>m, Bab Mengikuti Sunnah Rasulullah saw.  (Cet. I; Kairo: Mat}ba’ah al-Salafiyyah, 1400 H), Jld. IV, h. 359

[14]Ma>lik bin Anas (59-197 H), Kita>b al-Muwat}t}a’, Kita>b Al-Ja>mi’, Bab Larangan Berbicara tentang Qadar (Cet. I; Kairo: Dar al-Rayya>n, 1408 H / 1988 M), Jld. II, h. 240

[15]Sulaima>n bin al-Asy’as\ al-Sijista>ni> Abu> Da>u>d, Sunan Abu> Da>>ud, Kita>b al-Sunnah, Ba>b Berpegang Teguh kepada Sunnah (Cet. I; Beirut: Da>r Ibnu H{azm, 1419 H / 1997 M), Jld. V, h. 12-13

[16]Ibid., h. 11

[17]Muh}ammad ‘Aja>j al-Khat{i>b, Us}u>l al-H{adis{; ‘Ulu>muhu wa Mus{t}alah{uhu  (Cet. I; Beirut: Da>r al-Fikr, 1409 H / 1989 M), h. 41-42

[18]Ibid., h. 36-37

%d blogger menyukai ini: