h1

KECUKUPAN MENURUT HADIS NABI Saw; Sebuah Catatan tentang Asbab Wurud al-Hadits

10 Januari 2013

1.    Matan Hadis

الغِنىَ هُوَ الإِياَسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Kecukupan itu adalah tidak mengharap terhadap apa yang ada pada tangan manusia.

2.    Takhrij al-Hadith

Setelah melakukan penelusuran hadis dengan menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras melalui berbagai varian lafaz dari hadis yang bersangkutan, penulis tidak menemukan satupun petunjuk atas keberadaan hadis tersebut. Selanjutnya, penelusuran terhadap hadis yang bersangutan dilakukan dengan menggunakan kitab Masu’ah Atraf al-Hadith, dari hasil penulusuran yang kedua ini ditemukan petunjuk bahwa hadis tersebut disebutkan oleh al-Hindy dalam Kanz al-‘Ummal  No. 6121, 6122, dan 6123[1], setelah dilakukan penelusuran kepada kitab sebagaimana yang ditunjukkan oleh mausu’ah atraf  tersebut – yakni kitab Kanz al-‘Ummal – ditemukan petunjuk lanjutan bahwa hadis tersebut didokumentasika dalam musnad al-shihab yang disusun oleh al-Qada’y dari Ibn Mas’ud dengan rumus (حل القضاعيي عن ابن مسعود), dan didokumentasikan pula oleh al-‘Askary dalam al-Mawa’iz dari Ibn Mas’ud dengan rumus (العسكري في المواعظ عن ابن مسعود), dan Ibn ‘Abbas dengan rumus (العسكري عن ابن عباس). dari kedua kitab sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Hindy dalam Kanz al-‘Ummal,[2] hanya kitab Musnad al-Shihab  yang dapat penulis akses dengan baik sementara kitab al-Mawa>iz karya al-‘Askary penulis tidak dapat mengaksesnya disebabkan karena ketidak tersediaan literature baik dalam bentuk soft copy maupun software.

Untuk lebih memperjelas keberadaan hadis teresebut selanjutnya penulis melakukan penelusuran melalui program al-maktabah al-shamilah v.2,8 dengan menggunkan lafal الغني اليأس, ditemukan petunjuk, bahwa hadis tersebut didokumentasikan oleh al-Qada’y dalam Musnad al-Shihab No. Hadis. 199, dan 422, dan didokumentasikan pula oleh Abu> Nu’aim al-Ashfahany dalam Hilyat al-Auliya’ dalam biografi Zarr bin Hubaish.[3]

3.    Susunan Sanad dan Matan Hadis

Riwayat al-Qudha’iy dalam Musnad al-Shihab

أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ الْبَزَّازُ الصَّفَّارُ، قَالَ: أبنا أَبُو سَعِيدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادِ بْنِ بِشْرٍ، ثنا الْفَضْلُ بْنُ يُوسُفَ الْجُعْفِيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ زِيَادٍ الْعِجْلِيُّ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْغِنَى الْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ، وَمَنْ مَشَى مِنْكُمْ إِلَى طَمَعٍ فَلْيَمْشِ رُوَيْدًا»[4]

أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ التُّجِيبِيُّ، أبنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الْفَضْلُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ يَعْقُوبَ الْقَسْبَانِيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ زِيَادٍ الْعِجْلِيُّ، يَنْزِلُ بَنِي عَجِلٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْغِنَى الْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ، وَمَنْ مَشَى مِنْكُمْ إِلَى طَمَعٍ فَلْيَمْشِ رُوَيْدًا»[5]

Riwayat Abu Nu’aim al-Ashfahany dalm Hilyat al-Auliya’

حدثنا إبراهيم بن أحمد بن أبي حصين، حدثنا محمد بن عبد الله بن سليمان الحضرمي، حدثنا إبراهيم بن زياد العجلي، حدثنا أبو بكر بن عياش، عن عاصم، زر، عن عبد الله بن مسعود، قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما الغنى؟ قال: ” اليأس مما في أيدي الناس “.[6]

4.    Latar Belakang Peristiwa

Berdasarkan riwayat dari Abu Nu’aim menunjukkan bahwa munculnya sabda Rasulullah Saw: الْغِنَى هُوَ الإِيَاسُ ( الْيَأْسُ ) مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ (Kecukupan itu adalah tidak mengharap dari tangan-tangan manusia) disebabkan kerena munculnya pertanyaan dari seseorang tentang apa tolok ukur kekayaan atau kecukupan bagi seseorang.

5.    Fiqh al-Hadith

Hadis yang dikaji bila ditinjau dari sisi sanadnya ditemukan bahwa riwayat tersebut adalah riwayat yang gharib disebabkan terjadinya tafarrud al-rawy dimana tidak seorang pun yang meriwayatkan hadis tersebut dari Abu Bakar bin ‘Iyash selain Ibrahim bin Ziyad al-‘Ijly.[7] Adapun Ibrahim bin Ziyad al-‘Ijly merupakan periwayat yang majhul (tidak diketahui keadilan dan kapasitas intelektualnya) sebagaimana penilaian Abu Hatim kemudian menyatakan bahwa hadis yang diriwayatkannya adalah munkar,[8] pada bagian lain al-Azdy menilainya sebagai seorang periwayat yang matruk al-hadith (riwayatnya ditinggalkan).[9]

Bila ditinjau dari sisi kandungannya, hadis di atas menjelaskan tentang keutamaan sifat qana’ah, karena riwayat tersebut telah diriwayatkan dari seorang periwayat yang majhul, dan diketahui dari riwayat-riwayatnya, bahwa dia adalah seorang perawi yang senantiasa meriwayatkan hadis-hadis munkar yang menyebabkan para ulama al-jarh wa al-ta’dil menilainya sebagi periwayat yang matruk al-hadith, maka penjelasan lebih lanjut tentang kandungan hadis tersebut tidak dapat dilakukan.

Pada sisi yang lain – bila ditinjau dari kandungan riwayat tersebut – ditemukan pula bahwa riwayat tersebut menyelisihi riwayat yang lebih sahih dan diriwayatkan oleh periwayat yang lebih thiqah sebagaimana yang didokumentasikan oleh Muslim dalam sahih-nya kitab; al-zakah, bab; tentang kecukupan dan qana’ah No Hadis. 125 (1053) dari jalur Abu Bakar bin Abi Shaibah, dari al-Muqri-iy, dari Sa’id bin Ayyub dari Sharahbil, dari al-Hubuly, dari ‘Abd Allah bin Amr bin al-‘Ash, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ.[10]

Beruntunglah orang yang menyerahkan diri (masuk Islam), dan dikaruniakan kepadanya rezki yang cukup, serta merasa cukup dengan apa yang telah Allah Swt berikan kepadanya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis yang dikaji sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Qada’y dalam Musnad al-Shihab dan Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ merupakan riwayat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya disebabkan karena tiga hal;

Pertama, hadis tersebut adalah hadis yang gharib dimana telah terjadi tafarrud al-rawy;

Kedua, periwayat yang tafarrud adalah periwayat yang majhul dengan cacat yang sangat jelas (majhul wa majruh jarhan mufassaran) dimana kecacatannya menyebabkan hadis yang diriwayatkannya ditinggalkan (matruk al-hadith);

Ketiga, hadis yang diriwayatkan tersebut menyelisihi riwayat yang lebih shahih dan diriwayatkan oleh periwayat yang lebih thiqah (mukhalif li al-riwayat al-athbat).

Adapaun masalah qana’ah – sebagaimana yang telah disinggung terdahulu dengan berdasar kepada riwayat Muslim – secara umum dapat dinyatakan bahwa dia merupakan sifat terpuji, sebab dalam qana’ah terdapat ke-ridha-an terhadap segala apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt utamanya dalam masalah rezki. Dengan demikian, barang siapa yang dikaruniakan kepadanya rasa cukup dan rela dengan apa yang telah Allah Swt rezkikan kepadanya, itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya, sebab dengan sifat qana’ah seseorang dapat terhindar dari hinanya mengemis, dan dapat menjaganya dari hinaan, ejekan, dan cemoohan dari manusia yang berakhlaq buruk.


[1] Zaghlul, Mausu’ah Athraf al-Hadith al-Sharif…., vol. 5, 541. Adapun lafal hadis yang disebutkan dalam Mausu’ah Athraf  berbeda dengan lafal yag terdapat dalam al-Bayan wa al-Ta’rif, dimana dalam karya Ibn Hamzah tersebut –yang telah diterjemahkan- menyebutkan lafal الغني هو الإياس مما في أيدي الناس, sementara dalam mausu’ah athraf menyebutkan lafal الغني هو اليأس عما (مما) في أيدي الناس.

[2] ‘Aly al-Muttaqy bin Hisyam al-Din al-Hindy al-Burhan Fury (w. 975 H), Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, vol. 3 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1405 H / 1985 M), 193.

[3] www.al-mosmem.20m.com, Program al-Maktabah al-Shamilah v. 2,8.

[4] Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Salamah bin Ja’far bin ‘Aly Hakmun al-Qada’iy (w. 454 H), Musnad al-Shihab, tahqiq; Hamdy bin ‘Abd al-Majid al-Salafy, vol. 1 (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1407 H / 1986 M), 146.

[5] Ibid., 261.

[6] Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abd Allah al-Ashfahaniy (w. 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’, vol. 4 (Beiru>t: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1409 H / 1988 M), 188.

[7] Ibid., 188.

[8] al-‘Asqalany, Lisan al-Mizan, tahqiq; ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah, vol. 1 (Beirut: Maktabah al-Islamiyyah, 1423 H / 2002), 26.

[9] Muhammad bin Ahmad bin ‘Uthman Abu ‘Abd Allah al-DZahabiy, Mizan al-I’tidal, tahqiq; ‘Aly Muhammad al-Bajawy, vol. 1 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, T.Th), 32.

[10] Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qushairy al-Naisabury (206-261 H), Sahih Muslim, vol. 2 (Kairo: Dar al-Hadith, 1412 H / 1991 M), 730.

%d blogger menyukai ini: