h1

MUHADDITSIN DAN RIWAYAT MUNKAR

12 Desember 2011

Pandangan Ulama Hadits Tentang Riwayat Munkar

(Diterjemahkan dari Kitab Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama’ al-Hadits al -Nabawy, Karya Shalahuddin bin Ahmad al-Adlaby, h. 235-238)

Terdapat banyak pendapat penting dari para ulama yang diriwayatkan seputar penolakan terhadap riwayat-riwayat munkar, dan di sini tidak bertujuan untuk menelitinya satu persatu, tetapi sekedar menyebutkan beberapa diantaranya untuk dijadikan sebagai tolok ukur kritik matan.

Al-Rabi’ bin Khatsim berkata: “Diantara hadis-hadis yang terdapat hadis yang memiliki sinar terangnya seterang sinar pada siang hari, kita dapat mengenalinya dengan baik, adapula yang gelap dan kegelapannya bagaikan gelapanya malam hari, dan kita dapat mengenalinya pula dengan baik”.[1]

Sesungguhnya kalimat ini merupkan intisari dari hadis-hadis Nabi terdahulu[2], yang mengnspirasi para ulama dalam menolak riwayat-riwayat munkar.

Al-Khathib al-Baghdady berkata: “Hadis Ahad (khabar wahid) tidak dapat diterima jika bertentangan dengan hukum akal, hokum al-Qur’an yang telah tetap, Sunnah Nabi yang telah dikenal, amalan yang dilandaskan pada Sunnah, dan seluruh dalil-dali pasti”.[3] Lalu berkata: “dan seluruh hadis ahad yang sejalan dengan akal, atau teks al-Qur’an, atau hadis-hadis yang telah diketahui secara pasti (ke-shahih-annya), atau konsensus ulama (ijma’), atau dalil-dalil tetap dan telah diketahui kebenarannya, jika terdapat riwayat lain yang bertentangan dengannya, maka riwayat yang bertentangan tersebut wajib disingkirkan, dan mengamalkan riwayat yang telah diketahui tingkat validitas dan autentitasnya, karena mengamalkan riwayat yang valid dan telah diketahui adalah wajib”.[4]

Al-Khathib al-Baghdady menetapkan kriteria tertolaknya hadis ahad sebagai berikut:

  1. Jika bertolak belakang dengan hukum akal.
  2. Jika bertolak belakang dengan hukum al-Qur’an yang telah tatap dan muhkam. Maksudnya adalah intisari hukum dari teks-teks al-Qur’an yang telah tetap dan muhkam. Adapun jika bertolak belakang dengan hukum yang mengandung zhanny al-dilalah (dalil yang mengandung kebenaran relatif –pent), maka hadis ahad tidak wajib ditolak.
  3. Jika bertolak belakang dengan Sunnah yang telah dikenal. Maksudnya adalah Sunnah yang telah ditetapkan ke-shahih-annya berdasarkan ilmu dan bukan dugaan.
  4. Jika bertolak belakang dengan amalan yang sejalan dengan Sunnah. Maksudnya jika sebuah berita bertolak belakang dengan amalan para salaf yang telah disepakati kebenarannya, dan ditetapkan melalui standar pengetahuan/ilmu bukan dengan dugaan.
  5. Jika bertolak belakang dengan dalil-dalil lain yang mengandung kebenaran absolute.
  6. Jika bertolak belakang dengan khabar ahad lainnya, dan khabar ahad tersebut telah jelas kebenarannya dimana sejalan dengan petunjuk akal, petunjuk teks al-Qur’an, petunjuk dari khabar-khabar lain yang telah dipastikan kebenarannya, petunjuk consensus ulama, atau petunjuk-petunjuk lainnya yang telah dipastikan kebenarannya dan telah diketahui dengan baik.

Ibn al-Jawzy berkata: “Ketahuilah bahwa hadis munkar adalah hadis yang secara umum dapat menggigilkan kulit dan hati seorang penuntut ilmu”[5]. Kemudian berkata: “Kerana merupakan hal yang mustahil dapat ditolak jika dating dari periwayat yang thiqah, kemudian keslahan itu disandarkan kepada mereka kesalahan dalam penelitian, bukankah sekumpulan priwayat thiqah bersepakat untuk meng-khabar-kan bahwa seekor unta telah masuk kedalam lubang jarum (yang sangat kecil). Dengan demikin ke-thiqah-an mereka tidak memberikan manfaat bagi kita, dan khabar-nya tersebut tidak member pengaruh sama sekali. Jadi, setiap hadis yang kalian dapati bertolak belakang dengan akal, atau berseberangan dasar-dasar utama, maka hadis tersebut adalah palsu dan tidak perlu untuk dipertimbangkan kembali”[6]

Ibn al-Jawzy telah meringkas sejumlah pembahasan melalui kalimatnya yang singkat dan padat ini, yakni setiap hadis yang kalian dapati bertolak belakang dengan akal, atau berseberangan dengan landasan utama, maka ketahuilah hadis tersebut adalah palsu (maudhu’).

Ibn al-Qayyim berkata: “aku pernah mendapatkan pertanyaan, apakah hadis maudu’ dapat diketahui secara jelas dengan menggunakan tolok ukur tertentu tanpa harus meninjau kembali sanadnya ?, ini merupakan pertanyaan yang sangat serius. Sesungguhnya perkara tersebut hanya dapat diketahui oleh mereka yang mendalami pengetahuan tetantang sunnah-sunnah yang shahih, bahkan telah mendarah daging dalam dirinya, dan menjadi seorang yang sangat spesialis dalam mengetahui seluruh sunnah dan atsar, mengetahui sejarah hidup Rasulullah Saw, petunjuknya tentang apa yang diperintahkannya, apa yang dilarangannya, apa yang disampaikannya, apa yang diserukannya, apa dicintainya dan dibenci olehnya, serta apa yang disyari’atkannya kepada ummatnya, orang semacam ini seolah-olah bergaul secara langsung dengan Rasulullah Saw bagaikan salah seorang diantara sahabat beliau Saw. Orang-orang seperti ini mengetahui keadaan Rasulullah Saw, petunjuknya dan sabdanya, apa yang boleh disampaikannya dan apa yang tidak, serta apa yang tidak diketahui oleh orang lain, beginilah kondisi para pengikut terhadap panutannya, karena mereka yang spesialis dalam bidang tersebut akan senantiasa mengikuti dengan baik setiap perkataan dan perbuatannya dengan pengetahuan yang baik, dapat membedakan anatara yang layak (baca: shahih) disandarkan kepada beliau saw dan yang tidak layak. Demikianlah kondisi para pengikut (baca: muqallid ) terhadap pemimpinnya, mereka mengetahui dengan baik perkataan mereka, teks-teks mereka, dan landasan-landasan mereka. Wa Allahu A’lam.[7]

Kemudian Ibn al-Qayyim menguraikan rincian tolok ukur yang menyebabkan tertolaknya suatu riwayat dengan berkata: “Kami merumuskan beberapa tolok ukur umum untuk mengetahui bahwa suatu hadis itu maudu’ :

  1. Hadis tersebut mengandung berbagai keanehan atau keganjilan yang tidak layak disabdakan oleh Rasulullah Saw.
  2. Hadis tersebut didustakan oleh indra.
  3. Hadis tersebut sangat buruk hingga dapat dipandang remeh.
  4. Hadis tersebut bertentangan secara nyata dengan sunnah-sunnah yang telah tetap ke-shahih-annya.
  5. Adanya klaim dari perawi bahwa Nabi Saw mengerjakan suatu pekerjaan secara nyata dihadapan para sahabatnya, hanya saja mereka bersepakat untuk menyembunyikannya dan tidak menukilnya.
  6. Hadis tersebut bathil secara internal, yang menjadikannya petunjuk bahwa hadis tersebut bathil dan bukan merupakan sabda Rasulullah Saw.
  7. Lafazh dari hadis tersebut tidak menunjukkan perkataan para Nabi, apalagi perkataan Rasulullah Saw yang merupakan wahyu yang diwahyukan kepada beliau Saw.
  8. Apabila hadis tersebut menyebutkan tanggal atau sejarah ini dan itu.
  9. Hadis tersebut lebih layak dikatakan oleh seorang dokter dan ahli tarekat.
  10. Hadis tersebut dijelaskan ke-bathil-annya oleh berbagai shawahid (pendukung) yang shahih.
  11. Hadis tersebut secara nyata bertentangan dengan al-Qur-an.
  12. Hadis tersebut memiliki berbagai indikator yang dari indikator-indikator tersebut diketahui bahwa hadis tersebut adalah bathil.

[1] Ma’rifat ‘Ulum al-Hadith karya al-Hakim: h. 62.

[2] Lihat hadis-hadisnya dalam pembahasan tentang metode mengetahui hadis palsu dan munkar

[3] Al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah: h. 432.

[4] Ibid., h. 434.

[5] Al-Maudhu’at, karya Ibn al-Jawzy : 1/130.

[6] Ibid: 1/106.

[7] Al-Manar al-Munif fi al-Shahih wa al-Dha’if, karya Ibn al-Qayyim: h. 43-44.

%d blogger menyukai ini: