h1

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU

26 November 2011

METODE MENGETAHUI HADITS MUNKAR DAN PALSU*

Pertama: Metode yang Valid dan Diterima

Allah Swt telah mewajibkan ketaatan kepada Rasul-Nya dan mengikuti perintahnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Saw dalam banyak hadis dan dalam berbagai kesempatan. Rasulullah Saw tidak hanya menegaskan kewajiban untuk mengikuti perintahnya, tetapi juga memberikan peringatan kepada mereka yang berkeyakinan bahwa al-Qur’an yang ada dihadapan mereka sudah cukup untuk diamalkan. Rasulullah Saw mencela pandangan seperti ini. Karena secara umum al-Qur’an diturunkan berfungsi untuk menjelaskan dan menegaskan hukum-hukum yang bersifat global. Adapun hukum-hukum yang bersifat praktis dan terperinci, maka harus merujuk kepada al-Sunnah. Ini adalah ketetapan yang telah diketahui dalam ‘ulum al-hadits. Dalam bagian ini saya akan mengetengahkan dua hadis Nabi yang berhubungan dengan topik permasalahan.

 

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوه.ُ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ وَلَا لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا صَاحِبُهَا وَمَنْ نَزَلَ بِقَوْمٍ فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَقْرُوهُ فَإِنْ لَمْ يَقْرُوهُ فَلَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ

Dari al-Miqdam bin Ma’dikrib dari Rasulullah S}alla> Allah ‘Alihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi al-Qur’an dan yang sejenis dengannya (sunnah / hadis). Ketahuilah bahwa ada seseorang yang duduk di atas singgasananya dalam keadaan kenyang sambil berkata: ‘wajib bagi kalian berpegang terhadap al-Qur’an ini, maka apa yang kamu temukan didalmnya tentan kehalalan, maka halalkanlah, dan apa yang kalian temukan didalmnya tentang keharaman, maka haramkanlah’. Ketahuilah, tidak dihalalkan bagi kalian daging keledai jinak, tidak halal pula memakan daging binatang yang bertaring dari binatang-binatang buas, dan tidak pula dari makanan orang kafir yang mu’ahid (telah mengikat perjanjian dengan umat Islam), kecuali jika pemilikinya tidaklah membutuhkannya. Barang siapa yang mendatangi suatu kaum, maka wajib bagi mereka (kaum tersebut) untuk memberikan bagian untuknya, jika tidak, maka dia berhak untuk mengambil (ya’qibahum)[1] apa yang menjadi haknya sebagimana yang telah ditetapkan untuknya.[2]

عَنْ أَبِي رَافِع عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا نَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاه

Dari Abu> Ra>fi, dari Nabi Saw beliau bersabda: “Aku tidak rela jika salah seorang diantara kalian sedang duduk manis di atas singgasananya, dating kepadanya perintah dariku atau aku telah melarangnya dari sesuatu lalu berkata ‘kami tidak tahu (itu), apa yang kami temukan dalam kitab Allah (al-Qur’an) kami mengikutinya’.[3]

Rasulullah Saw telah memperingatkan agar tidak berdusta atas namanya.

مَنْ كَذَبَ عَليَّ مُتعمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang Siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka hendak-nya dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka”[4]

Lalu, bagaimana cara menyingkap kedustaan atas nama Rasulullah Saw? Apakah Rasulullah saw mengisyaratkan hal tersebut dalam hadis-hadisnya ?.

Rasulullah Saw telah memberikan perbedaan antara yang mungkin beliau sabdakan dengan yang tidak. Yakni bahwa asabdanya itu cukup “baik dan dikenal” (ma’ruf) dan tidak mungkin beliau mengatakan sesuatu yang munkar. Lalu, bagaimana yang dimaksud dengan yang ma’ru>f dan yang munkar?

Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw menyampaikan kepada para sahabatnya yang hidup bersama beliau sejumlah hukum Islam dan syari’at-syari’atnya. Para sahabat menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an dan sebab-sebab munculnya hadis. Mereka sangat akrab dengan roh perjalanan hidup Nabi Saw dan seluk-beluknya. Mereka mungkin mengetahui apa itu yang ma’ruf sehingga dapat membenarkannya, dan apa itu yang munkar sehingga mereka dapat mendustakannya.

Rasulullah Saw telah menjelaskan hal ini dan menguraikan bahwa pertimbangan paling utama (‘ibrah) untuk mengetahui -hadis beliau yang benar- adalah dengan pengetahuan –dan pembenarannya- melalui hati atau pengingkarannya, dan bahwa hadis-hadis beliau Saw itu sejalan dengan kitab Allah dan Sunnahnya, maksudnya jalan yang dilalui Rasulullah Saw sendiri. Apabila hadis itu bertentangan dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, maka ia tertolak, berikut ini diantara –dalil- hadis dalam perkara ini:

Pertama : Diriwayatkan oleh al-Bukhary dan al-Nasa’y dari Ali radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً فَاسْتَعْمَلَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ فَغَضِبَ فَقَالَ أَلَيْسَ أَمَرَكُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُطِيعُونِي قَالُوا بَلَى قَالَ فَاجْمَعُوا لِي حَطَبًا فَجَمَعُوا فَقَالَ أَوْقِدُوا نَارًا فَأَوْقَدُوهَا فَقَالَ ادْخُلُوهَا فَهَمُّوا وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يُمْسِكُ بَعْضًا وَيَقُولُونَ فَرَرْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ النَّارِ فَمَا زَالُوا حَتَّى خَمَدَتْ النَّارُ فَسَكَنَ غَضَبُهُ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Nabi Saw mengutus sekelompok pasukan yang dipimpin oleh seorang Ans}a>r dan memerintahkan mereka untuk senantiasa mentataatinya. Suatu ketika panlima tersebut marah lalu berkata: ‘bukankah Nabi Saw telah memerintahkan atas kalian agar kalian mentaatiku ?’ mereka berkata: ‘ya’ panglima tersebut berkata: ‘kumpulkanlah untukku kayu bakar !’ mereka pun mengumpulkannya, panglima tersebut lalu berkata: ‘nyalakan api ?’. mereka pun menyalakan api, panglima tersebut lalu berkata: ‘Masuklah kalian kedalam –api-nya tersebut ?’. mereka pun menolak perintah tersebut sambil berpegangan antara satu dengan lainnya lalu mereka pun berkata: ‘kami menjauhi api tersebut mnuju Rasulullah Saw’. Mereka tetap dalam kondisi mereka hingga api itu padam bersamaan dengan padamnya amarah sang panglima. Perkara ini sampai kepada Nabi Saw lalu beliau bersabda: “Jika mereka kedalamnya (api), maka mereka tidak akan kembali selamanya hingga hari qiyamat, dan ketataan hanya pada kebikan”.[5]

Kedua: Diriwaytakan oleh al-Khatib dari Muslim bin Yasar dari Abu Hurayrah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

« يَكُوْنُ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ ، يَأْتَوْنَكُمْ مِنَ الأَحَادِيْثِ بَمَا لَمْ تَعْرِفُوْا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ أَنْ يَضِلُّوْكُمْ وَيُفْتِنُوْكُمْ »

Akan ada sekolompok dajjal dan pendusta, mereka menyampaikan kepada kalian hadis-hadis yang tidak kalian kenali dan tidak pula oleh nenekmoyang kalian, maka hindarila oleh kalian penyesatan dan fitnah mereka atas kalian.[6]

Ketiga: Diriwaytkan oleh al-Khat}ib dari Jubair bin Mut’im, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

« مَا حَدَّثْتُمْ عَنِّي مِمَّا تَعْرِفُوْنَهُ فَخُذُوْهُ ، وَمَا حَدَّثْتُمْ عَنِّي مِمَّا تُنْكِرُوْنَهُ فَلَا تَأْخُذُوْا بِهِ، فَإِنِّي لَا أَقُوْلُ الْمُنْكَرَ »

Apa yang kalian riwatkan dariku dan kalian mengetahui (kebenaran)nya ambillah (amalakanlah), dan apa yang kalian riwayatkan dariku sedang kalian mengingkari (kebenaran)nya maka janganlah kalian mengambilnya, karena sesungguhnya aku tidak mengatakan hal yang munkar.[7]

Dan diriwayatkan pula oleh Ibn al-Jawzy darinya (Jubair bin Mut’im) sabda Nabi:

” مَا حَدَّثْتُمْ عَنِّى بِمَا تُنْكِرُوْنَهُ فَلَا تَأْخُذُوْهُ  فَإِنِّى لَا أَقُوْلُ الْمُنْكَرْ “

Apa yang yang kalian riwayatkan dariku sedang kalian mengingkarinya, maka janganlah kalian mengambilnya karena sesungguhny akau tidak berkata sesuatu yang munkar.

Dan dia (ibn al-Jauzy) juga meriwaytakan dari al-‘Auza’y bahwa dia berkata: “Kami pernah mendengarkan suatu hadis, lalu kami sampaikan hadis tersebut kapada ahlinya bagaikan kami menyodorkan uang palsu, maka apa yang mereka kenali darinya kami mengambilnya, dan apa yang mereka inkari darinya kami meninggalkannya”.[8]

Al-Dhahaby telah menghukumi hadis ini sebagai hadis munkar, dia berkata dalam biografi Ibn Sahl al-A’raj yang merupakan sanad al-Bukhary, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidhy, dan al-Nasa’y sebagai periwayat (tsiqah, Abu Hatim menilainya Saduq, al-Nasa’y menilainya tsiqah) kemudian dia (al-Dhahaby) berkata: “dan diantara bentuk kemunkarannya adalah bahwa dia meriwayatkan dari sanad Abu Hurayrah secara marfu’: ‘Jika kalian meriwayatkan dariku sedang kalian menginkarinya, maka dustakanlah (riwayat) itu”.[9] Mungkin dia (al-Dhahaby) menyifatinya sebagai hadis munkar karena hadis tersebut dikenal sebagai riwayat (musnad) Jubair bin Mut’im, dan perawi ini (Ibn Sahl al-A’raj) menjadikannya sebagai bagian dari riwayat Abu Hurayrah, jika (perawi) tesebut menyendiri dalam riwayat ini, maka hukumnya adalah munkar dari sisi sanad dan bukan pada matan, dan penyematan munkar disebabkan oleh tafarrud (riwayat mandiri) dapat ditemukan dalam berbagai pendapat ulama hadis seperti imam Ahmad, al-Nasa’y dan selain keduanya.

 

Keempat: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abd al-Malik bin Sa’id bin Suwayd, dari Abu Usayd, dari Abu Humayd al al-Sa’idy bahwasanya Nabi Saw bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْحَدِيثَ عَنِّي تَعْرِفُهُ قُلُوبُكُمْ وَتَلِينُ لَهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ قَرِيبٌ فَأَنَا أَوْلَاكُمْ بِهِ وَإِذَا سَمِعْتُمْ الْحَدِيثَ عَنِّي تُنْكِرُهُ قُلُوبُكُمْ وَتَنْفِرُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ بَعِيدٌ فَأَنَا أَبْعَدُكُمْ مِنْهُ

Jika kalian mendengarkan satu hadis yang dariku dimana hatimu mengenalinya (dengan baik), perasaan kalian menjadi lembut karenanya, dan kalian mendapatinya sangat dekat (akrab) dengan kalian, maka aku lebih pantas bagi kalian, dan jika kalian mendengar satu hadis dariku dimana hatimu mengingkarinya dan jiwa kalian membencinya, dan kalian mendapatinya sangat jauh dari perkara) kalian, maka aku lebih jauh lagi dari (mengatakan) perkara itu.[10] Ibn al-Jawzy meriwayatkannya dari jalur yang sama,[11] demikian pula dengan al-Khatib.[12]

Berkata Ibn Katsir: “Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan (hadis) tersebut dengan sanad yang baik, dan tidak dikelurakan oleh para penyusun kitab hadis lainnya”, dia juga berkata: “Sanadnya sahih, dan Muslim telah meriwayatkan pula dengan sanad yang sama yaitu hadis :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah dia berucap: ‘Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatmu’, dan jika keluar hendakalah berucap: ‘Ya Allah sesungguhnya aku memohon karuniamu”.[13]

Ibn ‘Iraq berkata: “Sanadnya sahih sebagaimana pendapat al-Qurtuby dan selainnya”.[14]

Al-Fatany berkata: “dan Ahmad telah meriwayatkan dengan sanad sesuai dengan syarat shahih (hadis) jika kalian mendengarkan sautu hadis dariku…”.[15]

Kelima: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Aly radiyallahu ‘Anhu dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيثًا يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَكْذَبُ الْكَاذِبِينَ

Barang siapa yang menyampaikan dariku, dan diketahui bahwa dia berdusta, maka daia adalah seorang yang sangat pendusta diantara para pendusta

Dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan al-Tirmidhy dari al-Mughirah bin Shu’bah dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِينَ

Barang siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadis dan diketahui bahwa dia berdusta, maka dia adalah salah seorang dianatara para pendusta.[16]

Keenam: Terdapat hadis lain dengan sanad yang dha’if (lemah), tetapi tetap sejalan dengan metode yang diterima, dan tidak seorang pun yang menggolongkannya sebagai hadis munkar, yaitu apa yang diriwayatkan oleh al-Khatib dari Abu Shalih dari Abu Hurayrah, dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:

سَيَأْتِيْكُمْ عَنِّي أَحَادِيْثُ مُخْتَلِفَة ، فَمَا جَاءَكُمْ مُوَافِقًا لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَلِسُنَّتِي فَهُوَ مِنِّي، وَمَا جَاءَكُمْ مُخَالِفًا لِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى وَلَسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Akan datang kepada kalian hadis-hadis yang berbeda (periwayatannya) dariku, jika kalian mendapatinya sejalan dengan kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnahku, maka hadis itu dariku. Dan apa yang dating kepada kalian bertentangan dengan kitab Allah dan Sunnahku, maka itu bukan berasala dariku.[17]

Hadis-hadis tersebut merupakan peringatan atas apa yang diinkari oleh hati para mu’min, dan menjelaskan bahwa hati bersinar karena mulianya pengetahuan terhadap sabda-sabada kenabian yang benar, karenanya Nabi Saw menyifati dosa sebagai sesuatu yang mengganggu jiwa dan benturan dalam dada, sifat ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang munkar, Muslim telah meriwayatakan dari al-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Saw belaiau bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.

Diriwayatkan pula oleh Ahmad dan al-Darimy dalam kedua musnadnya dengan sanad yang baik dari Wabisah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.[18]

Berkata Ibn Rajab: “Ini menunjukkan bahwa kebenaran dan kebatilan tidak akan tercampur dalam diri seorang mu’min yang berpengetahuan, tetapi dia dapat mengetahui kebenaran dengan cahaya yang ada padanya sehingga hatinya dapat menerimanya, dan membenci kebatilan lalu mengingkarinya dan tidak mengetahuinya”.[19]

Setelah Ibn Rajab menyetir sebahagian hadis-hadis tentang penolakan terhadap hadis-hadis munkar, selanjutnya dia berkata: “hadis-hadis yang semisal dengan ini penilaiannya didasarkan pada tingkat kesahihannya dengan merujuk kepada pengetahuan para ulama ahli hadis yang cerdas dalam mengkritik dan menilai suatu hadis, dimana mereka telah banyak melakukan studi terhadap sabda Nabi Saw dan perkataan selainnya, meneliti bografi para perawi hadis dan penukil akhbar (bentuk plural dari kata khabar yang berarti beritapent), mengetahui tingkat kejujuran dan kedustaan mereka, serta tingkat ke-dhabith-an dan kualitas hafalan mereka. Sesungguhnya para ulama hadis tersebut memiliki metode tersendiri dalam mengkritik dan menilai suatu hadis dan mereka spesialis dibidang tersebut sebagaimana spesialisasinya para ahli mata uang yang dapat membedakan antara uang yang baik dengan yang buruk, antara yang asli dengan yang palsu, demikian pula dengan spesialisasi para ahli pertama yang dapat membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Setiap mereka tidak dapat menjelaskan sebab-sebab akan pengetahuan mereka tersebut, dan tidak pula terdapat petunjuk penolakan terhadap keahlian mereka tersebut”.[20]

 

Metode yang Bathil dan Didustakan

Disamping dari pada hadis-hadis yang berbicara tentang peringatan terhadap hadis-hadis munkar, dan dijadikannya penerimaan terhadap yang ma’ruf dan penolakan terhadap yang munkar, diriwayatkan pula beberapa hadis yang mencerminkan metode yang lain. Ketika metode pertama dapat dikatakan sebagai metode yang valid dan diterima karena mendapat dukungan dari berbagai ayat al-Qur’an dan tidak bertentangan dengan hukum akal sehat. Jika memperhatikan metode kedua, maka metode tersebut adalah metode yang ba>t}il dan didustakan, karena tidak sejalan ayat-ayat al-Qur’an dan tidak pula dengan hokum akal, bahkan memperkuat argumentasi kaum zindiq dan para pemelsu hadis yang tidak berilmu dan tidak pula memiliki kalimat yang baik keculai hanya membuat mata rantai sanad dan menyandarkannya atas nama Rasulullah Saw.

Berikut beberapa hadis yang mereka sandarkan atas nama Nabi Saw, untuk memperkuat argument mereka, serta membersihkan metode mereka:

Pertama: Diriwayatkan oleh Ibn al-Jawzy dalam al-Maudu’at, dari jalur Ash’ats bin Nazar, dari Qatadah, dari ‘Ubaydillah bin Syaqiq, dari Abu Hurayrah, bahwasanya Nabi Saw bersabda:

إِذَا حَدَّثْتُمْ عَنِّى بِحَدِيْثٍ يُوَافِقُ الْحَقَّ فَخُذُوْا بِهِ حَدَّثْتُ بِهِ أَوْ لَمْ أُحَدِّثُ

Jika Kalian meriwayatkan suatu hadis yang sejalan dengan kebenaran, maka ambillah baik aku telah mengatakannya atau pun tidak.[21]

Ibn al-Jawzy kemudian menukil dari al-‘Uqayly bahwa tidak terdapat sanad yang shahih dari Nabi Saw terhadap lafadh ini, dan al-Ash’ats adalah telah mereduksi hadis munkar. Dia juga menukil dari Yahya bin Ma’in bahwa hadis ini telah dipalsukan oleh kaum zindiq, dan dinukil pula dari al-Khattaby bahwa hadis itu bathil yang tidak ada dasarnya.

Al-Dhahaby juga menyebutkan hadis ini dan berkata “sangat munkar”, dalam biografi Ash’ats bin Nazar al-Hajimy dia berkata: “Ibn Ma’in dan selainnya telah men-dha’if-kannya, al-Nasa’y menilainya sebagai seorang yang hadisnya ditinggalkan, al-Bukhary menilainya sebagai perawi yang hadisny-hadisnya munkar.[22]

Kedua: Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari al-Maqbary, dari kakeknya, dari Abu Hurayrah, dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:

لَا أَعْرِفَنَّ مَا يُحَدَّثُ أَحَدُكُمْ عَنِّي الْحَدِيثَ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى أَرِيكَتِهِ فَيَقُولُ اقْرَأْ قُرْآنًا مَا قِيلَ مِنْ قَوْلٍ حَسَنٍ فَأَنَا قُلْتُهُ

Aku tidak akan mengenali seseorang yang disampaikan kepadanya hadis dariku sedang dia terduduk diatas dipannya lalu berkata “bacakanlah al-Qur’an”, apa yang dikatakan sesorang tentang kebaikan, maka akulah yang mengatakannya.[23]

Kedua: Diriwayatkan oleh Ahmad dari Sa’id dari Abu Hurayrah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

لَا أَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ أَتَاهُ عَنِّي حَدِيثٌ وَهُوَ مُتَّكِئٌ فِي أَرِيكَتِهِ فَيَقُولُ اتْلُوا عَلَيَّ بِهِ قُرْآنًا مَا جَاءَكُمْ عَنِّي مِنْ خَيْرٍ قُلْتُهُ أَوْ لَمْ أَقُلْهُ فَأَنَا أَقُولُهُ وَمَا أَتَاكُمْ عَنِّي مِنْ شَرٍّ فَأَنَا لَا أَقُولُ الشَّرَّ

Aku tidak akan mengenali seseorang diantara kalian yang telah sampai kepadanya hadis dariku lalu dia berkata bacakan kepadaku tentang masalah tersebut dari al-Qur’an sedang dia duduk diatas dipannya, apa yang sampai kepada kalian dariku suatu kebaikan baik yang telah aku katakana maupun tidak, maka ketahuilah bahwa aku yang mengatakannya, dan jika dating kepada kalian suatu bentuk keburukan, maka aku tidak mengatakan keburukan apa pun.[24]

Kedua hadis di atas diambil dari hadis al-Miqdam bin Ma’dikarib dan Abu Rafi’ yang telah disebutkan keduanya pada permasalahan pertama, kemudian bagian akhirnya direduksi, lalu dibuatkan sanad yang sampai kepada Abu Hurayrah.

Ketiga: Diriwayatkan oleh Ibn al-Jawzy dari jalur al-Bakhtary bin ;Ubayd, dari ayahnya, dari Abu Hurayrah dia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى حَدِيْثًا هُوَ لِلّهِ رِضًا فَأَنَا قُلُتُهُ وَبِهِ أُرْسِلُتُ

Barang siapa yang menyampaikan suatu hadis dariku yang diridhai oleh Allah, maka akulah yang mengatakannya yang dengannya aku diutus.

Kemudian Ibn al-Jawzy berkata: “Hadis ini batil, Ibn Hibban berkata: Tidak boleh berhujjah dengan riwayat al-Bakhtary jika dia meriwayatkannya secara mandiri.[25]

Keempat: Al-Dhahaby dalam biografi Bassam bin Khalid berkata: Ibn Abi Hatim meriwayatkan dalam al-‘Ilal dengan jalurnya dari Abu Hurayrah secara marfu’:

إِذَا بَلَغَكُمْ عَنِّى حَدِيْثٌ يَحْسُنُ بِيْ أَنْ أَقُوْلُهُ فَأَنَا قُلْتُهُ، وَإِذَا بَلَغَكُمْ عَنِّى حَدِيْثٌ لَا يَحْسُنُ بِيْ أَنْ أَقُوْلُهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَمْ أَقُلْهُ

Jika sampai kepada kalian suatu hadis dariku, yang layak untuk aku ucapakan, maka aku yang mengucapkannya. Jika sampai kepada kalian suatu hadis dariku yang tidak layak aku ucapakan, maka itu bukan dariku dan aku tidak mengucapkannya.

Abu Hatim berkata: “Hadis ini munkar, dan para periwayat yang tsiqah tidak menjadikannya sebagai hadis marfu’.[26]

 

Kelima: Ibn ‘Abd al-Barr menukil dari ‘Abd al-Rahman bin Mahdy bahwasanya para zindiq dan khawarij telah memalsukan hadis ini yaitu yang diriwayatkan dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda:

مَا أَتَاكُمْ عَنِّي فَاعْرِضُوْهُ عَلَى كِتَابِ اللهِ فَإِنْ وَافَقَ كِتَابَ اللهِ فَأَنَا قُلْتُهُ وَإِنْ خَالَفَ كِتَابَ اللهِ فَلَمْ أَقُلْهُ، فَإِنَّمَا أَنَا مُوَافَقَ كِتَابَ اللهِ ، وَبِهِ هَدَانِيَ الله.

Apa yang samapai kepada kalian dariku, maka pertemukanlah dengan kitab Allah. Jika sejalan dengan kitab Allah, maka aku yang mengatakannya, dan jika bersebarangan dengan kitab Allah, maka aku tidak mengatakannya, karena sesugguhnya aku sejalan dengan kitab Allah, dan dengannya Allah memberikan hidayah kepadaku.

Ibn ‘Abd al-Barr selanjutnya berkata: Menurut para ulama yang ahli dalam mengetahui ke-shahih-an hadis, bahwa lafazh-lafazh dari hadis ini tidak benar berasal dari Nabi Saw. Hadis ini telah disodorkan kepada para ulama, lalu mereka berkata: kami telah membenturkan hadis ini dengan kitab Allah sebelum yang lainnya, dan kamu bepedoman dengan itu. Mereka menuturkan bahwa ketika kami mengkonfirmasikan hadis ini dengan kitab Allah, kami menemukannya bahwa hadis tersebut berseberangan dengan kitab Allah. Karena kami menemukan (keterangan) dalam kitab Allah bahwa tidak diterimanya hadis Rasulullah Saw kecuali yang sejalan dengan kitab Allah, tetapi kami menemukan bahwa kitab Allah menyebutkan agar menjadikannya sebagai penawar, memerintahkan untuk mentaatinya (Rasulullah Saw), serta memperingatkan agar tidak bersebarangan dengan segala bentuk perintahnya secara mutlak.[27]

Cukuplah penjelasan tentang bantahan terhadap hadis-hadis tersebut yang didalmnya mengandung pembenaran terhadap segala yang disandarkan kepada Nabi Saw., seperti;  Jika sejalan dengan kebenaran baik itu dikatakan oleh Nabi Saw atau tidak !, demikian pula dengan segala bentuk kebaikan yang berasal darinya baik dia mengatakannya atau tidak !, atau segala bentuk perkataan yang baik !, seluruh bentuk perkataan yang darinya mengharapkan ridha Allah !, dan juga seluruh perkataan yang layak diucapkan oleh Nabi Saw !.

Dengan dasar tersebut al-Adhlaby menyatakan metode ini sebagai : metode yang bathil dan didustakan.

Hadis-hadis palsu semacam ini kemudian dibuatkan sanad oleh para pemalsu hadis, utamanya mereka yang memalsukan hadis dengan argument untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, maka bermusnculanlah berbagai perkataan yang dicaplok dari hukum-hukum Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), kaum Persia, Hindu, ahli zuhud, dokter, pendongeng, dan selainnya. Tetapi para ulama kritikus hadis dapat menyingkap tabir dari hadis-hadis semacam ini dan menjelaskannya bahwa hadis-hadis tersebut adalah palsu, sebagaimana pernyataan mereka yang telah disebutkan terdahulu seperti; Yah}ya bin Ma’in, ‘Abd al-Rahman bin Mahdy, al-‘Uqayly, al-Khattaby, Ibn al-Jawzy, al-Dhahaby, dan banyak lagi selain mereka.


* Diterjemahkan dari Manhaj Naqd al-Matan ‘Inda ‘Ulama’ al-Hadits al-Nabawy Karya Shalahuddin bin Ahmad al-Adhlaby.

[1] Dilafalkan pula dengan ‘aqqabahum dengan tasydid, atau ‘aqabahum tanpa tasydid,  kata a’qabahum bermakna: Jika mengambil dari mereka apa yng tersisa, atau ‘aqabatan bermakna: mengambil sesuatu sebagai penggati dari apa yang luput darinya. Dan yang dimaksud disini (dalam hadis ini) yaitu: mengambil dari mereka (sesuatu) sebagai pengganti dari apa yang diharamkan oleh suatu kominitas. (Lihat. Al-Nihayah karya Ibn al-Atsir: 3/127-128).

[2] Sunan Abu Dawud: No. Hadis 4604. Dan Musnad Imam Ahmad: 4/131.

[3] Sunan Abu Dawud: No. Hadis 4605. Dan keduanya (hadis tersebut) diriwayatkan pula al-Hakim dalam al-Musdrak.

[4] Hadis Mutawatir.

[5] Shahih al-Bukhary: 9/121. Dan Sunan al-Nasa’y: 7/159. Hadis ini sejalan dengan firman Allah Swt: “Dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik” dalam ayat Hai nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ayat ke-12 dari surah al-Mumtah}anah.

[6] Al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah, karya al-Khathib al-Baghdady: h. 429.

[7] Ibid: h. 430. Dan dalam cetakan Dar al-Kutub al-Haditsah untuk kitab al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah, naskahnya termuat dengan kalimat: فَإِنِّي لَا أَقُوْلُ الْمُنْكَرَ ، وَلَسْتُ مِنْ أَهْلِهِ (karena sesungguhnya aku tidak mengatakan hal yang munkar, dan aku bukanlah seorang pekerja kemunkaran)

[8] Al-Maudhu’at karya Ibn al-Jauzy: 1/103.

[9] Mizan al-I’tidal karya al-Dhahaby: 3/352.

[10] Musnad Imam Ahmad: 3/497 dan 5/425. Meskipun sanadnya tergolong shahih tetapi Ibn Rajab memandang adanya ‘illah didalmnya bahwa hadis tersebut adalah mauquf  atas Ubay bin Ka’ab (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam: h. 224).

[11] Al-Maudu’at karya Ibn al-Jauzy: 1/103.

[12] Al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah, karya al-Khatib al-Baghdady: h. 430.

[13] Tafsir al-Qur’an al-‘Azim karya Ibn Katsir: 3/233, 572.

[14] Tanzih al-Shari’ah al-Marfu’ah karya Ibn ‘Iraq: 1/7.

[15] Al-Maudhu’at karya al-Fatany: h. 28.

[16] Musnad Ah}mad: 1/113, dan 4/250, 252, 255. Sunan al-Tirmidzy: 10/129. Dan riwayatkan pula Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahihnya.

[17] Al-Kifayah fi ‘Ilm al-Riwayah, karya al-Khatib al-Baghdady: h. 430. Ibn Taymiyyah menilainya sebagai hadis maudhu’ (lihat. Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah: 18/382).

[18] Kitab al-Arba’in al-Nawawiyyah, karya Imam al-Nawawy: Hadis No. 27.

[19] Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam Penjelasan atas 50 hadis Jawami’ al-Kalim, karya al-H{a>fiz} Ibn Rajab: h. 222.

[20] Ibid., h. 224.

[21] Al-Maudhu’at karya Ibn al-Jawzy: 1/257-258. Al-Sakhawy juga menyebutkan hadis ini dalam al-Maqasid al-Hasanah dengan lafadh : إِذَا حَدَّثْتُمْ عَنِّى بِحَدِيْثٍ يُوَافِقُ الْحَقَّ فَصدقوه وخُذُوْا بِهِ حَدَّثْتُ بِهِ أَوْ لَمْ أُحَدِّثُ (Jika Kalian meriwayatkan suatu hadis yang sejalan dengan kebenaran, maka benrkan dan ambillah baik aku telah mengatakannya atau pun tidak.) lalu berkata: ‘diriwayatkan oleh al-Darimy dalam al-Afrad, dan al-‘Uqayly dalam al-Dhu’afa’ (no. hadis: 59). Lihat juga: Tanzih al-Shari’ah al-Marfu’ah ‘An al-Akhbar al-Syani’ah al-Maudhu’ah karya Ibn al-‘Iraq: 1/264. Didalmnya tidak terdapat lafaz} (بِهِ) sebagaimana yg terdapat dalam al-Maudhu’at dari kalimat: حَدَّثْتُ بِهِ أَوْ لَمْ أُحَدِّثُ (aku mengatakannya atau tidak).

[22] Mizan al-I’tidal karya al-Dhahaby: 1/262-263.

[23] Sunan Ibn Ma>jah: no. hadis: 21. Redaksi hadis ini termasuk diantara redaksi mandiri Ibn Ma>jah dari enam kitab standar lainnya.

[24] Musnad al-Imam Ahmad: 2/367.

[25] Al-Maudhu’at karaya Ibn al-Jawy: 1/98.

[26] Mizan al-I’tidal: 1/308.

[27] Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlihi karya Ibn ‘Abd al-Barr: 2/191. Lihat juga: ‘Aridhat al-Ahwadzy karya Ibn al-‘Araby: 10/132-133. Dan Tadzkirat al-Maudhu’at karya al-Fatany: h. 28.

%d blogger menyukai ini: