h1

IKHLAS DAN URGENSINYA

24 Oktober 2011

Wahai Hamba Allah, pembahasan kita pada hari ini merupakan perkara yang sangat agung, perkara yang tanpanya Allah Swt tidak akan menerima suatu amalan, perkara yang dengannya derajat sesorang akan diangkat dan diturunkan, perkara tersebut adalah Ikhlas.

Wahai hamba Allah, Ikhlas merupakan tujuan utama, dia merupakan salah satu rukun diterimanya suatu amal, dan Allah Swt tidak akan menerima sutu amalan keaculai amalan tersebut adalah amal shaleh yang mengandung nilai keikhlasan yang murni karena menghrap wajah Allah Swt yang mulia. Maka barang siap yang mengerjakan suatu amal yang mengandung kesyirikan kepada Allah Swt, maka Allah tidak akan menerima amal tersebut sebanyak dan sebaik apapun amalan tersebut.

Allah Swt berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Sesunguhnya kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (QS. Az-Zumar [39] : 1-2)

Pada Ayat yang lain Allah berfirman:

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”. (QS. Al-A’raf [7] : 29)

Allah Swt juga berfirman :

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Al-Mu’min/Ghafir [40] : 65).

Allah Swt juga berfirman :

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Maka sembahlah dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. Al-Mu’min/Ghafir [40] : 14)

Dan Allah juga berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah [98] : 5).

Wahai hamba Allah, Ikhlas adalah ketika engkau mengerjakan suatu amal dengan menjadikan Allah Swt sebagai tujuan satu-satunya yang tiada sekutu beginya, dimana amal tersebut tidak engkau kerjakan secara riya’ dan hendak dipuji. Jika suatu amal dikerjakan tanpa ikhlas, maka amal tersebut tetap menjadi amal yang sia-sia pada diri seseorang, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Uqbah bin Muslim –Rahimahullah- beliau berkata:

أَنَّهُ دَخَلَ الْمَدِينَةَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَدْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ النَّاسُ فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقَالُوا أَبُو هُرَيْرَةَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ يُحَدِّثُ النَّاسَ فَلَمَّا سَكَتَ وَخَلَا قُلْتُ لَهُ أَنْشُدُكَ بِحَقٍّ وَبِحَقٍّ لَمَا حَدَّثْتَنِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَلْتَهُ وَعَلِمْتَهُ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَفْعَلُ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَلْتُهُ وَعَلِمْتُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً فَمَكَثَ قَلِيلًا ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْبَيْتِ مَا مَعَنَا أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً أُخْرَى ثُمَّ أَفَاقَ فَمَسَحَ وَجْهَهُ فَقَالَ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَهُوَ فِي هَذَا الْبَيْتِ مَا مَعَنَا أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً أُخْرَى ثُمَّ أَفَاقَ وَمَسَحَ وَجْهَهُ فَقَالَ أَفْعَلُ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَعَهُ فِي هَذَا الْبَيْتِ مَا مَعَهُ أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً شَدِيدَةً ثُمَّ مَالَ خَارًّا عَلَى وَجْهِهِ فَأَسْنَدْتُهُ عَلَيَّ طَوِيلًا ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ حَدَّثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ. فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: “أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟” قَالَ:‘بَلَى يَا رَبِّ‘، قَالَ: “فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟” قَالَ: ‘كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ‘ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: “كَذَبْتَ” وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: “كَذَبْتَ”، وَيَقُولُ اللَّهُ: “بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ”.
وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: “أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ، حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟” قَالَ: ‘بَلَى يَا رَبِّ‘، قَالَ: “فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟” قَالَ: ‘كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ، وَأَتَصَدَّقُ‘، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: “كَذَبْتَ” وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: “كَذَبْتَ” وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: “بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلَانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ”.
وَيُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: “فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟” فَيَقُولُ: ‘أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ‘، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: “كَذَبْتَ” وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: “كَذَبْتَ” وَيَقُولُ اللَّهُ: “بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلَانٌ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ”. ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي فَقَالَ: “يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”)) (رواه الترمذي)

“Suatu ketika dia (Syufayyan al-Ashbahi) masuk ke kota Madinah, beliau menemukan seseorang yang dikerumuni oleh manusia, kemudian dia bertanya: ‘Siapakah orang ini ?’, mereka menjawab : ‘Abu Hurairah’, kemudian aku pun ikut bersama mereka hingga aku duduk tepat dihadapan beliau (Abu Hurairah) sementara beliau sedang menyampaikan hadis, setelah beliau selesai menyampaikan (satu) hadis aku bertanya: ‘sudikah kiranya engkau menyampaikan kepadaku satu hadis yang engkau dengarkan (langsung) dari Rasulullah Saw engkau pahami dengan baik dan engkau amalkan?’ Abu Hurairah Ra. berkata : ‘Aku akan menyampaikan kepadamu satu hadis yang aku dengar langsung dari Rasulullah Saw, aku pahami dan aku amalkan’. Kemudian Abu Hurairah pingsan sejenak lalu siuman kemudian berkata: ‘Aku akan menyampaikan kepadamu satu hadis yang disampaikan langsung oleh Rasulullah Saw kepadaku dirumah ini dimana tak seorang pun selain kami berdua’. Kemudian beliau pingsan lagi sejenak lalu siuman kemudian berkata: ‘Aku akan menyampaikan kepadamu satu hadis yang disampaikan langsung oleh Rasulullah Saw kepadaku dirumah ini dimana tak seorang pun selain kami berdua’ Kemudian beliau pingsan lagi untuk kesekian kalinya lebih lama dari sebelumnya hingga aku melihat perubahan diwajah beliau, lalu aku menyandarkannya didadaku hingga beliau siuman, kemudian berkata: Rasulullah Saw menyampaikan kepadaku: ((Pada hari qiyamat Allah Swt akan memutuskan perkara seluruh hambanya, pada hari dimana seluruh manusia dalam keadaan berlutut. Pada hari itu golongan pertama yang mendapat panggilan adalah mereka yang ahli dalam al-Qur’an, lalu para pejuang di jalan Allah, lalu para pemilik harta kekayaan. Kemudian Allah Swt berkata kepada si Qari’ : “Tidakkah telah Kuajarkan kepadamu tentang apa yang telah Aku turunkan kepada rasulKu?” si Qari’ menjawab: ‘Benar wahai Tuhanku’, kemudian Allah Swt berkata: “Lalu apa yang telah kamu kerjakan dari yang telah Aku ajarkan kepadamu?” si Qari’ menjawab: ‘Aku senantiasa membacanya disetiap shalat-shalatku siang dan malam’. Kemudian Allah berkata: “Kamu telah berdusta”dan seluruh maikat pun berkata kepadanya (si Qari’) : ‘Kamu telah berdusta’. Kemudian Allah Swt berfirman: “Tetapi kamu ingin dikenal bahwa si fulan adalah Qari’ dan hal itulah yang berlaku”.
Kemudian Allah Swt mendatangi si pejuang, lalu berkata kepada mereka: “Tidakkah telah Aku luaskan atasmu segala karuniaKu, hingga Aku tak memberimu jalan untuk membutuhkan pertolongan orang lain?” si Kaya menjawab: ‘Benar, Wahai Tuhanku’. Allah Swt berkata: “Lalu apa yang telah kau perbuat dari pemberianKu tersebut?” si Kaya menjawab: ‘Dengannya aku menyambung tali silaturrahim, dan bersedekah’. Allah Swt berkata: “Kau telah berdusta”dan malaikat pun berkata demikian, kemudian Allah Swt berfirman: “Akan tetapi kamu (melakukan hal tersebut) agar kamu dikenal sebagai sang dermawan dan hal itulah yang berlaku”.
Kemudian Allah Swt mendatangi si Pejuang, lalu berkata kepada mereka: “Apa yang membuatmu terbunuh?” si Pejuang menjawab: ‘aku diperintahkan untuk berjihad dijalanMu, lalu aku berjuang hingga aku terbunuh’. Allah Swt berkata: “Kau telah berdusta”dan malaikat pun berkata demikian, kemudian Allah Swt berfirman: “Akan tetapi kamu (melakukan hal tersebut) agar kamu dikenal sebagai sang Pejuang dan hal itulah yang berlaku”. (HR. Al-Tirmidziy, dan berkata: Ini adalah hadis yang hasan lagi garib).

Wahai hamaba Allah, perhatikan dan renungkanlah hadis di atas, bagaimana seorang ahli al-Qur’an tidak mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an itu sendiri padahal al-Qur’an memiliki hak untuk dapat member syafa’at bagi mereka yang senantiasa membacanya dan mengajarkannya, tidak adanya syafa’at dari al-Qur’an disebabkan hilangnya keikhlasan pembacanya. Demikian pula dengan pemilik harta dimana kebaikannya kepada orang lain dan silaturrahimnya tidak dapat menjadi penolong baginya disebabkan hilangnya keikhlasan di dalamnya. Demikian pula keadaannya dengan sang Pejuang yang terbunuh di medan perang dimana terbunuhnya dia disana tidak dapat memberikan pertolongan baginya di hari qiyamat, disebabkan karena pengorbanannya hampa dari keikhlasan. Lalu ini posisi kita saat ini…?, celakalah yang akan kita tunai ketika kita meremehan rukun yang agung ini.

Dianatara perkara yang dapat merusakn keikhlasan adalah; 1) Syirik besar yaitu menetapkan dan meyakini bahwa terdapat sekutu bagi Allah Swt yang dapat dijadikan sebaai tujuan dalam mengamalkan suatu amal. Keyakinan semacam ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Orang yang memiliki keyakinan semacam ini dapat diganjar dengan neraka dan dia kekal didalamnya sebab melakukan perlawanan atas keikhlasan. Perkara ini dapat membatalkan seluruh bentuk amal. 2) Syirik kecil yaitu setiap bentu perkataan dan perbuatan yang didalanya mengandung kesyirikan yang tidak mengeluarkan sesorang dari Islam sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syari’at seperti; Riya’, dan Sum’ah (Popularitas). Perkara ini merupakan noda yang dapat mengurangi nilai kesempurnaan tauhid, meniadakan ikhlas, dan dapat membatalkan amal yang perkara ini terkandung didalmnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari sahabat Mahmud bin Labid:

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ” قَالُوا: ‘وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟‘، قَالَ: “الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً” (أخرجه أحمد)

Dari Mahmud bin Labid: Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: ((“Hal yang palik aku takutkan terjadi pada diri kalian adalah syirik kecil” para sahabat bertanya: ‘apa syirik yang kecil itu wahai Rasul Allah?’, Rasulullah menjawab: “Riya’, diamana pada hari Qiyamat nanti pada hari pembalasan atas setiap perbuatan Allah Swt akan berkata kepada mereka (yang berlaku riya’): “pergilah kalian kepada mereka (diaman amalan kalian persembahkan) dan carilah balasan dari perbuatan kalian itu dari sisi mereka”)) (Dikeluarkan oleh Ahmad).

Dalam hadis yang lain disebutkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ” (متفق عليه)

Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riyanya”(Muttafaqun ‘Alaihi)

Wa Allahu A’lam.

%d blogger menyukai ini: