h1

TIPOLOGI MAJAMI’ DALAM KODIFIKASI HADITS; Kajian Terhadap Manhaj Ibn al-Atsir al-Jazary (544-606 H) dalam Karyanya“Jami’ al-Usul Fi Ahadith al-Rasul”

21 September 2011

Pendahuluan; Sebuah Refleksi Histories

Keberadaan al-H{adi>th dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Qur-a>n yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah Saw., maupun para sahabat beliau Saw. berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur-a>n telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu> Bakar al-S}iddi>q yang disempurnakan kemudian oleh khalifah Uthma>n bin ‘Affa>n yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah Saw.

Sementara itu, perhatian terhadap al-H{adi>th tidaklah demikian. Upaya kodifikasi al-H{adi>th secara resmi[1] baru dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abd al-‘Azi>z khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara tahun 99-101 Hijriyah,[2] karena beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara sunnah-sunnah Rasulullah Saw baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, maupun taqri>r beliau Saw., termasuk didalamnya sunnah para sahabat. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal H{adi>th menuliskan dan membukukannya supaya H{adi>th tidak hilang pada masa sesudahnya.[3] waktu pengkodifikasian secara resmi ini relatif jauh dari masa Rasulullah saw. Kenyataan ini telah memicu berbagai spekulasi berkaitan dengan otentisitas al-H}adi>th.

Tadwi>n al-H{adi>th atau kodifikasi al-Hadits merupakan kegiatan pengumpulan al-Hadits dan penulisannya secara besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah (khalifah). Sedangkan kegiatan penulisan al-H{adi>th sendiri secara tidak resmi telah berlangsung sejak masa Rasulullah saw masih hidup dan berlanjut terus hingga masa kodifikasi.

Berdasarkan fakta dan ralitas histories, semangat ilmiah penulisan dan pekodifikasian hadis Nabi Shalla Allah ‘Alihi wa Sallam telah melahirkan berbagai karya yang menghimpun hadis dalam waktu yang berdekatan di wilayah yang berbeda-beda. Namun ada silang pendapat tentang siapa yang pertama kali menyusun kitab hadis dan mensistematisnya sedemikian rupa, di antara ulama hadis yang mengambil bagian dalam usaha ini adalah: Abd al-Malik bin Abd al-‘Azi>z (w. 150 H) di Makkah, Ma>lik bin Anas (93-179 H)[4] dan Muhammad bin Ish}a>q (w. 151 H) di Madinah, Muhammad bin Abd al-Rah}ma>n bin Dhi’ib (80-158 H) di Makkah, Rabi>’ bin Sabih (-160 H), Sa’i>d bin ‘Aru>bah (-156 H) dan Hamma>d ibn Salamah (-167 H) di Basrah, Sufya>n al-Thaury (97-161 H) di Kufah, Khalid ibn Jami>l al-’Abd dan Ma’mar ibn Ra>shid  (95-153 H)  di Yaman, Abd al-Rah}ma>n bin ‘Amr al-Auza’i (88-157 H) di Sha>m, ’Abd Alla>h ibn al-Muba>rak (118-181 H)  di Khurasan, Ha>shim ibnu Bus}air (104-183 H) di Wa>sit}, Jari>r ibn Abdul H{amid (110-188 H)  di Rayy, dan Abd Allah ibn Wahb (125-197 H)  di Mesir.[5]

Pada awal abad II H, spesifikasi catatan ataupun kitab-kitab hadis yang muncul dapat dikategorikan menjadi dua; (a) berisi catatan hadis dalam bentuk s}ah}i>fah (lembaran-lembaran), koleksi acak tanpa sistematisasi bahan (b) berisi hadis yang tercampur dengan keputusan resmi yang diarahkan oleh khalifah, sahabat, atau tabi’in tidak tersistematisasi dan merupakan koleksi acak. Baru pada pertengahan abad II H, mengalami perubahan trend, yang mengarah pada sistematisasi isi kitab berdasar tema-tema tertentu, meski  materi hadis masih berbaur dengan ucapan-ucapan sahabat maupun pendapat-pendapat tabi’in (hadith marfu’, mauquf dan maqtu’), dan masih berbaurnya berbagai hadis dalam kualitas  (sahih, hasan, da’if) dalam satu kitab.

Pada abad III H, kodifikasi hadis mengalami masa keemasan dengan munculnya beragam kitab -khususnya Kutub al-Sittah– dengan beragam metode penyusunan, ada Kitab Musnad, Sahih,  Sunan, Mukhtalaf, Mushkil,[6] ,dan sebagainya. Satu spesifikasi yang secara eksplisit dapat terlihat, yakni bahwa kitab pada abad ini disusun berdasar permasalahan tertentu yang dibagi menjadi bab-bab dan sub-sub bab;  dipisahkan antara hadis marfu’, mauquf dan maqtu; dipisahkan kualitas hadis sahih, hasan dan da’if. Masing-masing kitab memiliki kekhasan yang dimiliki penyusunnya. Oleh karenanya untuk merujuk sebanyak mungkin satu tema hadis tertentu secara komprehensif adalah dengan mempergunakan sebanyak mungkin informasi dari berbagai kitab hadis yang qualified (s}ah}i>h}).

Pada abad IV dan V proses kodifikasi hadis semakin mengarah kepada penyempurnaan. Karya-karya para ulama yang hidup pada abad ini dapat dikategorisasikan dalam berbagai tipe; (a) diantara para ulama ada yang menysun karyaanya dengan menggunakan metode yang ditempuh oleh al-Bukha>ry dan Muslim –yaitu menghimpun hadis-hadis yang s}ah}i>h} menurut mereka- karya-karya yang mucul pada abad ini seperti: S}ah}i>h} Ibn Khuzaimah (w. 311 H), S}ah}i>h} Ibn H{ibba>n (w. 354 H), S{ah}i>h} Ibn al-Sakka>n (w. 353); (b) ada pula diantara mereka yang menyusun hadis s}ah{i>h} dalam bentuk Mustdraka>t seperti al-Mustadrak ‘Ala> al-S}ah}i>h}ain karya Abu ‘Abd Alla>h al-H{a>kim (w. 405); (c) corak yang lain adalah penyusunan kitab hadis yang menghimpun hadis-hadis Rasulullah Saw yang bernuansa fiqhi (hukum) yang mencakup hadis s}ah}i>h} dan selainnya, diantara karya yang muncul untuk tipologi ini adalah al-Mutaqa> karya Ibn al-Ja>ru>d (w. 307 H) dan karya al-Sunan karya al-Da>ruqut}ny (w. 385 H)[7]; (d) diantara para ulama ada pula yang mengkonsentrasikan diri menelusuri dan menyusun karya dalam masalah ikhtila>f al-h}adi>th[8] dan Mushkil al-Ah}a>di>th, karya yang muncul dalam kajian hadis pada abad ini dengan tipologi semacam ini diantaranya adalah Sharah Ma’a>ny al-A<tha>r dan Mushkil al-A<tha>r yang keduanya disusun oleh al-T{ah}a>wy (w. 321 H); (e) tipologi yang lain adalah al-Mustakhraja>t yaitu penyusunan kitab hadis berdasarkan sanad yang dimiliki oleh mustakhrij dan sanadnya bertemu dengan sanad penyusun kitab, diantara karya dengan tipologi ini seperti: Mustakraj ‘Ala> S}ah}i>h} al-Bukha>ry diantara para penyusunnya adalah: Abu> Bakar Isma>’il (w. 371 H), Abu Ahmad al-Ghit}ri>fy (w. 377 H),  Ibn Abi> Dhuhl (w. 378), Ibn Maradwaih (w. 416)[9]: Mustakhraj ‘Ala> S{ah}i>h} Muslim diantara para ulama yang menyusun karya dengan judul tersebut adalah; Abu> ‘Awa>nah (w. 316 H), Abu al-Fad}l Ah}mad bin Salamah (w. 286)[10], Abu> Ja’far al-Hiya>ry (w. 311), Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Raja>’ (w. 286)[11], Abu> Nas}r al-T{u>sy (w. 344)[12]: Mustakhraj ‘Ala> al-S}ah}i>h}ain dianatar para ulama yang menyusun karya dengan tipe mustakhraj semacam ini adalah; Ibn al-Akhram (w. 344), Abu Bakar Ah}mad bin ‘Abda>n al-Shaira>zy (w. 388), Ibn Manjawaih[13] (w. 428 H), Abu Nu’aim al-As}faha>ny (w. 430), Abu> Dharr ‘Abd bin Ah}mad al-Harawy (w. 434 H), dan Abu Muh}ammad al-Hasan bin Muh}ammad al-Khalla>l (w. 439)[14];[15] (f) pada abad ini pula para ulama mulai menyusun karya-karya dalam bidang ‘Ulu>m al-H{adi>th secara sistematis seperti kita>b al-Muh}addith al-Fa>s}il karya Abu> Muh}ammad al-Ra>mahurmuzy (360); (g) tipologi kitab hadis lainnya yang muncul pada abad ini adalah tipe mu’jam seperti kitab al-Mu’jam al-Kabi>r, al-Awsat}, dan al-S{aghi>r karya al-T{abra>ny (w. 360 H).[16]

Pada Abad V dan VI diantara tipologi penyusunan kita hadis yang muncul adalah tipe maja>mi’ yaitu menghimpun hadis-hadis dari dua kitab hadis atau lebih dengan cara meringkas sanad (ikhtis}a>r al-sanad)[17], hadis-hadis tersebut dihimpun berdasarkan cakupan makna dalam satu bab dan sub-bab. Diantara karya-karya dengan tipe ini adalah; al-Jam’u Baina al-S}ah}i>h}ain karya Abu> Mas’u>d Ibra>hi>m bin Muhammad al-Dimashqy ( w. 401 H), Ibn Fura>t (w. 414), Abu> Bakar al-Barqa>ny (w. 425 H), Abu ‘Abd Alla>h Muh}ammad bin Nas}r al-H{umaidy (w. 488 H)[18], al-Baghawy (w. 516 H), al-Shibly (w. 518), al-Murri (w. 582 H), al-Mu>s}ily (w. 622 H), dan al-S}agha>ny (w. 650 H). al-Jam’u baina Kutub al-Khamsah dan al-Sittah diantara karya-karya tersebut adalah; al-Tajri>d al-S{ah}i>h} wa al-Sunan karya Abu Al-H{asan Razi>n (w. 535 H). al-Jam’u Baina al-Kutub al-Sittah karya al-Shibly (w. 581 H), Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>di>th al-Rasu>l karya Ibn Al-Athi>r al-Jazary (w. 606 H), dan Anwa>r al-Mis}ba>h} Fi> al-Ja>mi’ Baina al-Kutub al-Sittah karya Abu> ‘Abd Alla>h al-Tu>jiby (w. 646).[19]

Proses penyempurnaan pengkodifikasian hadis dan penelitiannya terus berlanjut hingga abad IX Hijriyah dan terus dilakukan oleh para ulama Islam hingga saat ini dalam berbagai tipologinya[20]. Fakta-fakta sejarah dari masa periwayatan (‘as}r al-riwa>yah) hingga masa pengkodfikasian hadis (‘as}r al-tadwi>n) sebagaimana yang terbentang dalam perjalanan sejarah keilmuan kaum muslimin merupakan bukti nyata bahwa Allah Swt. senantiasa menjaga al-Sunnah yang merupakan wahyu kedua setelah al-Qur-a>n –berdasarkan ijma’ jumhur ‘ulama dari kalangan Ahl al-Sunnah wa al-Jama>h -. Diantara bentuk penjagaan Allah Swt terhadap al-Sunnah adalah; (a) al-Sunnah dapat dihafalkan dengan baik dalam bentuk isna>d yang bertujuan untuk membedakan antara yang mauqu>f  dengan yang marfu>’ dan antara yang s}ah}i>h} dengan yang ka>dhib. Disamping itu, penelitian terhadap para periwayat hadis baik dari sisi ‘adalah maupun d}abt}-nya terus dilakukan guna membedakan mana riwayat yang qualified (s}ah}i>h}) dan mana yang telah mengalami pemalsuan; (b) terkuaknya berbagai catatan yang merupakan buah tangan dari sebahagian sahabat yang mencatat riwayat-riwayat dari Nabi Saw., semangat ilmiah dalam proses pencatatan hadis ini terus dilanjutkan oleh para ta>bi’i>n hingga pengkodifikasiaannya secara resmi pada masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Abd al-‘azi>z  (99-101 H) seorang khalifah yang memiliki perhatian yang sangat besar dalam melestarikan al-Sunnah. Semangat ilmiah yang telah diwariskan oleh para ulama abad I hingga abad III H (mutaqddimi>n) dalam menghimpun dan mengkodifikasikan hadis terus dilastarikan oleh ulama Islam hingga saat ini.

Dari uraian reflektif di atas, pada tulisan ini penulis berusaha menelaah semaksimal kemampuan dan keterbatasan rujukan untuk menguak manhaj atau metode penyusunan karya hadis yang disusun dengan menggunakan tipologi maja>mi’ dimana sejarah menyebutkan bahwa tipologi ini muncul antara abad V dan VI H. Terdapat beberapa karya ulama yang disusun dengan tipologi ini –sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu-, namun yang menjadi fokus pengkajian dalam tulisan ini adalah karya yang telah disusun oleh Ibn al-Athi>r al-Jazary (544 – 606 H) yang merupakan salah seorang ulama hadis yang hidup pada abad VI Hijriah.

Adapun ruang lingkup bahasan dalam tulisan ini; Siapakah Ibn al-Athi>r al-Jazary? bagaimana latarbelakang ke-ilmuannya? Dan bagaimana manhaj atau metode penyusunannya dalam kitab Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah{a>di>th al-Rasu>l serta gamabaran umum dari isi kitabnya?. Seluruh pertanyaan tersebut akan dinarasikan dalam tiga pokok bahasan yaitu: Biografi singkat Ibn al-Athi>r al-Jazary, Manhaj Ibn al-Athi>r dalam karyanya Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>di>th al-Rasu>l, dan Gambaran Umum Isi Kitab.

Biografi Singkat Ibn al-Athi>r al-Jazary

Ibn al-Athi>r al-Jazary adalah satu nama yang dinisbatkan kepada tiga orang ulama, dan mereka lebih dikenal dengan nama tersebut. Yakni: Majd al-Di>n Ibn al-Athi>r al-Jazary, Abu> al-Sa’a>da>t dia adalah seorang ulama yang ahli dibidang hadis dan seorang sastrawan yang terkenal pada masanya penyusu kitab al-Niha>yah fi> Ghari>b al-H{adi>th; ‘Izz al-Di>n Ibn al-Athi>r al-Jazary Abu al-Hasan dia adalah seorang ulama yang ahli dibidang sejarah (sejarawan), hadis, dan seorang h}a>fiz} (555-630 H)[21] penyusun al-Ka>mil fi al-Ta>ri>kh; dan D{iya>’ al-Di>n Nas}r Alla>h Ibn al-Athi>r al-Jazary (558-637 H) dia adalah seorang ulama yang dikenal sebagai seorang penulis (sekretaris) dan pernah menduduki jabatan wazi>r (mentri) pada masa pemerintahan S}ala>h al-Di>n al-Ayyu>by dan penyusun kitab al-Mathal al-Sa>ir. Ketiganya adalah saudara kandung dan dikenal dengan Ibn al-Athi>r, masing-masing memiliki keahliaan yang berbeda dari seorang ayah bernama Abu> al-Karam Muh}ammad Ibn ‘Abd al-Kari>m.[22]

Adapun Ibn al-Athi>r penyusun karya Ja>mi’ al-Us}u>l fi> Ah}a>di>th al-Rasu>l bernama lengkap al-Muba>rak bin Muh}ammad bin Muh}ammad bin ‘Abd al-Kari>m bin ‘Abd al-Wa>h}id al-Shayba>ny al-Jazary, kemudian al-Mu>s}ily al-Sha>fi’y, berkunyah dengan Abu> al-Sa’a>da>t, bergelar Majd al-Di>n, dan dikenal dengan Ibn al-Athi>r. Dia lahir pada salah satu bulan al-Rabi>’ayn (Rabi>’ al-Awwal dan al-Tha>ny) pada tahun 544 H di Jazirah Ibn ‘Umar –menurut Ya>qu>t dalam Mu’jam al-Bulda>n: Jazirah Ibn ‘Umar adalah sebuah kota yang terletak di bagian atas (sebelah utara) dari kota Mosul yang berjarak sekitar tiga hari perjalanan-.[23]

Abu> al-Sa’ada>t Ibn al-Athi>r tumbuh dewasa di al-Jazi>rah, dan disana pulalah tempat dia pertama kali menuntut ilmu. Setelah dia mulai dewasa dia pun pindah ke Mosul pada tahun 564 H. disanalah belaiu kepribadiaannya mengalami kematangan dan ilmunya semakin mendalam, dimana dia menerima berbagai corak keilmuan.[24]

Abu> al-Sa’a>da>t adalah seorang yang ‘a>lim, memiliki keutamaan, dia mengumpulkan berbagai corak keilmuan seperti Ilmu bahasa dan sastra Arab,Al-Qur-a>n, Hadi>th dengan seluruh cabang ilmunya, dan fiqhi dalam madhhab Syafi’iyyah, dia menyusun berbagai karya dalam seluruh bidang dan corak ilmu tersebut, karya-karyanya terkenal di Mosul dan berbagai negeri Islam lainnya.[25]

Beliau mempelajari seluruh bidang dan corak keilmuan tersebut dari berbagai guru seperti ilmu sastara beliau pelajari dari Na>s}ih} al-Di>n Abu> Muh}ammad Sa’i>d bin al-Dahha>n al-Baghda>dy, Abu> Bakr Yah}ya bin Sa’i>d al-Maghriby al-Qurt}uby, Abu> al-H{azm Makky bin al-Rayya>n bin Shabbah al-Ma>kisi>y al-Nah}wi>y al-Da}ri>r.[26] dan Abu> al-Fad}l ‘Abd Alla>h bin Ah}mad (khat}i>b al-Maus}il). Dia memiliki sanad dari riwayat S}ah}i>h} al-Bukhary melalui jalur Ibn Sara>ya> dari Abu> al-Waqt, meriwayatkan S}ah}i>h} Muslim melalui jalaur Abu> Ya>sir bin Abi> H{unnah dari Isma>’i>l Ibn al-Samarqandy dari al-Tunkuty, dari Abu> al-Husain ‘Abd al-Gha>fir, dan meriwayatkannya juga secara ija>zah dari al-Fura>wy, menerima sanad dari riwayat al-Muwat}t}a’ dari Ibn Sa’du>n, bahwasanya Ibn ‘Atta>b menyampaikan kepada kami dari Ibn Mughi>th, menerima riwayat sanad Sunan Abu> Da>wud dan Sunan al-Tirmidhy dengan metode al-Sama>’ dari Ibn Sukainah, dan menerima sanad Sunan al-Nasa>’i>  dengan mengatakan Ya’i>sh bin S}adaqah telah memberitakan kepada kami dari Ibn Mah}mu>yah.[27]

Abu> al-Sa’a>da>t Ibn al-Athi>r wafat pada akhir bulan Dhu>-al-H{ijjah tahun 606 H[28] dengan meninggalkan berbagai karya diantaranya: dalam bidang Tafsir beliau menyusun al-Ins}a>f Fi> al-Jam’i Bayna al-Kashfi wa al-Kashsha>f  (kitab yang menghimpun dan mebandingkan dua kitab tafsir yakni karya al-Tha’laby dan al-Zamakhshary); dalam bidang hadis Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>di>th al-Rasu>l (yang mengumpulkan enam kitab hadis standar dalam hal ini muwat}t}a’, al-s}ah}i>h}ayn, al-Sunan al-thala>thah), al-Niha>yah Fi> Ghari>b al-H{adi>th wa al-Athar, Sharh} Musnad al-Sha>fi’y, al-Mus}t}afa> al-Mukhta>r Fi> al-Ad’iyyat wa al-Adhka>r [29]; dalam bidang sastra dia menyusun Rasa>il Fi> al-H{isa>b, Kita>b Di>wa>n al-Rasa>il, Kita>b al-Bani>n wa al-A<ba>’ wa al-Ummaha>t wa al-Adhwa>’ wa al-Dhawa>t (satu Jilid), dan dalam bidang sejarah beliau menyusun Kita>b al-Mukhta>r Fi> Mana>qib al-Akhya>r  (dalam 4 Jilid) dan sebagainya.[30]

Tampak dari karya-karyanya, beliau adalah seorang ilmuan Islam (baca: ulama) yang sangat produktif dan banyak memberikan manfaat kepada manusia.

 

Manhaj Ibn al-Athi>r dalam Karyanya Ja>mi’ al-Us}u>l

Kitab Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>di>th al-Rasu>l adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis kutub us}u>l al-sittah (S}ah}i>h} al-Bukha>ry, S}ah}i>h} Muslim, al-Muwat}t}a’, Sunan Abu> Da>wud, Sunan al-Tirmidhy, dan Sunan al-Nasa>’i>), Ibn al-Athi>r menyusun hadis-hadis tersebut sesuai dengan makna dan kandungan dari hadis-hadis tersebut agar memudahkan para penuntut ilmu untuk mencari hadis-hadis yang diinginkannya, dan makna hadis yang menunjukkan atasnya, serta menjelaskan lafal-lafal yang ghari>b yang terdapat dalam setiap hadis dan menjelaskan kandungan maknanya secara ringkas.[31]

Kitab ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan kita>b al-Tajri>d al-S{ah}i>h} wa al-Sunan karya Abu Al-H{asan Razi>n (w. 535 H) dimana Ibn al-Athi>r menyatakan:

“Ketika sampai kepadaku beberapa karya (yang menghimpun kitab-kitab hadis) aku melihat bahwa karya-karya tersebut disusun dengan sangat baik dan rapi, dan aku melihat kepada kitab Razi>n yang dia adalah yang peling besar dan paling lengkap (dari kitab-kitab yang menghimpun kutub al-sittah), dimana kitab ini mencakup kutub al-sittah yang merupakan induk kitab-kitab hadis,…Saat itu, aku pun berkeinginan untuk menyibukkan diri (menelaah) kitab himpunan dari kitab s}ah}i>h ini, dan berusaha untuk bersandar kepadanya, meskipun hanya sekedar membacanya atau menyalinnya, ketika saya menelitinya aku menemukan –didalanya dari hasil jerih payahnya-dia meninggalkan banyak bab, dimana bab-bab tersebut lebih utama untuk dimasukkan, dan melakukan banyak pengulangan hadis dalam setiap bab, dan meninggalkan banyak hadis pula dalam setiap bab. Kemudian aku membandingkan antara susunannya (Razi>n) dengan kitab-kitab standar yang hadis-hadisnya dia sajikan didalam susunannya tersebut, aku menemukan bahwa hadis-hadis yang cukup banyak yang tidak dia sebutkan dalam kitabnya baik dalam bentuk mukhtas}ar atau sekedar memberikan betunjuk. Pada bagian lain aku menemukan dalam kitabnya hadis-hadis yang tidak terdapat dalam al-us}u>l yang aku baca, telah aku dengarkan dan telah aku nukil, hal itu lebih disebabkan pada perbedaan naskah dan jalur (sanad). Pada sisi yang lain aku melihat (Razin) menyusun kitab berdasarkan susunan bab yang terdapat S}ah}i>h} al-Bukha>ry, lalu dia menyebutkan sebahagian dan meninggalkan sebahagian lainnya. Kemudian aku membisikkan dalam hatiku untuk memperbaiki kitabnya, menertibkan susunan babnya, menyelaraskan tujuannya, mempermudah pencariannya, dan aku memasukkan didalanya hadis-hadis pokok yang dia tinggalkan, lalu aku ikutkan didalamnya beberapa penjelasan seputar ghari>b, i’ra>b, dan kandungan makna hadis, dan selainnya yang dapat memberikan tambahan penjelasan…”.[32]

Manhaj atau metode penulisan dari kitab ini telah diuraikan secara terperinci oleh Ima>m Ibn al-Athi>r dalam bab dua dari muqaddimah-nya.[33] Dalam pada itu, uraian beliau tersebut dapat dijelaskan secara ringkas sebagi berikut:

  1. Beliau membuang sanad hadis, dan tidak menetapkan sanadnya kecuali nama sahabat jika hadis tersebut berstatus marfu>’, atau menetapkan nama periwayat dari kalangan ta>bi’i>n yang meriwayatkan dari sahabat apabila hadis tersebut mauqu>f. Adapun biografi para periwayat hadis, beliau uraikan dalam bab khusus pada bagian akhir dari kitabnya dengan menyusunnya berdasarkan susunan huruf hijaiyyah.
  2. Untuk matan hadis beliau tidak memasukkan kecuali hadis dari Rasulullah Saw dan athar dari sahabat. Adapun perkataan para ta>bi’i>n dan generasi setelah mereka, maka beliau tidak mencantumkannya kecuali sesekali saja. Metode ini beliau kutip dari metode yang diterapkan oleh al-H{umaydy dalam al-Jam’u Baina al-S}ah}i>h}ain. Hadis-hadis yang tardapt dalam karya al-H{umaydy tersebut menjadi acuan dalam penukilan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ry dan Muslim. Adapun empat kitab yang lain, maka beliau nukil dari kitab-kitab aslinya yang telah beliau baca dan dengarkan, dan menyatukannya dengan al-s}ah}i>h}ayn jika memiliki kesamaan cakupan makna. Dalam memasukkan matan-matan dari hadis tersebut, beliau senantiasa mendahulukan matan hadis al-s}ah}i>h}ayn dari selainnya, jika terdapat penambahan dalam matan atau penjelasan terhadap matan yang tidak terdapat dalam kedua kitab tersebut, maka beliau menelusurinya dari ummaha>t al-kutub dan memasukkannya kedalam bagian yang sesuai dengannya. Adapun matan hadis yang tedapat dalam kitab susunan Razi>n dan tidak terdapat dalam kutub al-us}u>l, maka beliau menukilnya dari sebagaimana yang termaktub dalam kitab Razi>n dan membiarkannya tanpa petunjuk tentang siapa yang mengeluarkannya. Namun apabila beliau temukan mukharrij dari hadis yang bersangkutan, maka beliau hanya menyebutkannya pada bagian akhir dari hadis tersebut.
  3. Penyusunan bab yang dilakukan oleh Ima>m Ibn al-Athi>r didasarkan pada makna-makna yang dikandung oleh hadis. Dengan demikian, setiap hadis yang menunjukkan satu makna yang sama, maka beliau menyatukannya dalam satu bab tersendiri. Hadis-hadis yang memiliki cakupan makna lebih dari satu, maka beliau memasukkannya dalam bagian khusus dari kitab yang beliau berinama dengan kita>b al-lawa>h}iq yang dibagi ke dalam berbagai bab, dimana dalam setiap bab mencakup hadis-hadis yang memiliki makna lebih dari satu dan sejenis. Namun apabila terdapat hadis yang memiliki cakupan makna lebih dari  satu, tetapi memiliki satu makna yang lebih dominan dari yang lain, maka beliau memasukkan hadis-hadis yang seperti itu dalam bab berdasarkan cakupan makna yang dominan darinya seperti hadis-hadis tentang Iman dan Islam.
  4. Ima>m Ibn al-Athi>r menyusun karyanya ini dengan menggunakan system Kita>b (contoh Kita>b Fi> al-I<ma>n wa al-Isla>m), dalam setiap kitab terperinci ke dalam bab, dalam setiap bab terperinci ke dalam pasal, dalam setiap pasal terperinci ke dalam macam (anwa>’), dalam setiap macam terperinci ke dalam cabang, dan dalam setiap cabang terperinci ke dalam pembagian (aqsa>m). Beliau menyadari akan konsekuensi penyusunan dengan model ini, dimana dalam setiap judul Kitab terdapat berbagai hadis yang memiliki berbagai makna yang selaras dengan judul kitab tersebut seperti yang berhubungan dengan kewajiban, rukun dan hakikatnya, sunnah-sunnahnya, syarat-syaratnya, anjuran untuk melaksanakannya, dan keutamaannya.[34] Hadis-hadis dalam setiap bagian dalam satu judul kitab adalah hadis-hadis yang beredaksi sama, mirip atau yang mendekatinya, ini dilakukan dengan tujuan agar para pencari hadis jika menemukan hadis dalam bab, pasal, dan cabang pembahasan tertentu, maka dia tidak lagi akan menemukan hadis yang mirip atau yang mendekati maknanya pada pasal-pasal yang lain kecuali hal itu sangat jarang.
  5. Nama-nama judul kitab beliau susun berdasarkan urutan huruf hijaiyyah, penempatan judul-judul tersebut disesuaikan dengan huruf awal dari setiap kata baik huruf tersebut adalah huruf asli atau imbuhan, mislanya kata al-I<ma>n dan al-I<sla>m beliau letakkan pada huruf Hamzah sebab kata-kata tersebut diawali dengan huruf alif asli, adapun untuk imbuhan seperti kata al-I’tis}a>m beliau letakkan dalam rangkain huruf hamzah dimana seharusnya berada dalam huruf’ain demikan pula halnya dengan kata Ih}ya>’ al-Mawa>t yang seharusnya berda dalam huruf h}a>’ tetapi beliau memasukkannya dalam rangkaian huruf hamzah. Menurut beliau, ini bertujuan untuk memudahkan para pencari hadis dalam menemukan hadis-hadis yang mereka butuhkan dari Kutub al-Us}u>l al-Sittah. Pada sisi lain terdapat satu bab yang memiliki hubungan dengan berbagai permasalah yang terpisah secara harfiah seperti kata al-Jiha>d diletakkan pada huruf ji>m, dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya diantaranya adalah al-ghani>mah, al-ghulu>l keduanya diawali dengan huruf ghain, demikian pula dengan al-khumus diawali dengan huruf kha>’ kesemua kata tersebut seharusnya diletakkan pada hurfnya masing-masing, tetapi beliau menyebutkanya dalam rangkaian huruf jim dari kata al-Jihad dengan asumsi bahwa apabila seluruh permasalahan tersebut ditempatkan sesuai pada tempatnya, maka akan memberikan kesan bahwa pembahasan tentang jihad terbagi-bagi. Demikianlah beliau memperlakukan setiap huruf yang terdapat dalam susunan kitab ini.
  6. Dalam setiap awal hadis beliau terlebih dahulu menempatkan nama mukahrrij dalam bentuk rumuz dan periwayat dari kalangan sahabat (jika itu adalah hadis marfu>’) atau ta>bi’i>n (jika itu adalah hadis mauqu>f). rumuz dan nama tersebut beliau tempatkan dalam kurung atau dalam istilah beliau “al-ha>mish”. Adapun rumuz-rumuz yang beliau gunakan untuk setipa mukharrij dalam kitabnya ini adalah:

خ : البخاري          م: مسلم

ط : الموطأ             ت : الترمذي

د : أبو داود           س : النسائي

  1. Pada akhir setiap hadis yang terdapat dalam setiap kitab yang telah disusun berdasarkan huruf hijaiyyah, beliau memberikan penjelasan secara ringkas makna dari hadis tersebut serta menyebutkan makna dari kalimat-kalimat yang kurang difahami maknanya (ghari>b), beliau tidak hanya menyebutkan lafal-lafal yang dapat membantu para penuntut ilmu yang mengkhususkan diri dalam bidang hadis, tetapi juga memberikan tambahan penjelasan umum secara ringkas untuk memenuhi kebutuhan orang awam tentang kandungan makna dan hokum dari hadis tersebut. System ini beliau perlakukan pada setiap kitab, bab dan pasal. Jika seseorang tidak menemukan penjelasan dari suatu kalimat hadis dalam pasal tertentu, itu menunjukkan bahwa kalimat tersebut telah dijelaskan sebelumnya.[35]
  2. Beliau tidak membiarkan hadis-hadis yang telah beliau masukkan dalam karyanya ini tidak terlacak dengan baik oleh para penuntut ilmu. Sehingga untuk memberikan kemudahan dalam melacak keberadaan hadis-hadis yang dibutuhkan oleh para penuntut ilmu yang terentang diantara judul-judul kitab yang telah disusun berdasarkan huruf hijaiyyah, beliau kemudian membuat bab tersendiri yang didalamnya memuat kalimat dari potongan hadis atau makna dari hadis, lalu menunjukkan posisi atau tempat hadis tersebut, contohnya: apabila seorang penuntut ilmu mencari kalimat      “أين الله”  maka kalimat itu terdapat dalam الفصل الأول من كتاب الإيمان [1/229و231].[36] Bab ini disusun berdasarkan susunan huruf hijaiyyah sehingga dengan sendirinya ia berfungsi sebagai kamus hadis al-us}u>l al-sittah dalam dua fungsinya baik berfungsi sebagai mu’jam al-alfa>z} maupun mu’jam al-maud}u>’y.[37]

Untuk poin yang disebutkan terakhir, al-Zahra>ny memberikan catatan penting bahwa cara inilah yang digunakan oleh para orientalis dalam menyusun kitab al-Mu’jam al-Mufahrath li Alfa>z} al-H{adi>th al-Nabawiy –termasuk pula kitab Mifta>h} Kunu>z al-Sunnah– dan Ibn al-Athi>r telah terlebih dahulu menggunakan metode tersebut. Para ahli ensiklopedia bahasa dan ahli ghari>b al-h{adi>th dari kalangan ilmuwan islam (baca: ulama) yang menerima metode penyusunan karya tulis dengan metode ini, telah memakai metode tersebut dalam menyusun karya-karya mereka.[38]

Gambaran Umum Isi Kitab

Kitab ini tergolong kitab yang besar yang terdiri dari dua belas (12) jilid. Adapun gambaran umum isi kitab dan sistematika penyusunannya, Ibn al-Athi>r membaginya kedalam tiga bagian dengan menggunkan istilah “rukn” beliau menyatakan dalam muqaddimah kitabnya: “Sesungguhnya landasan kitab ini terdiri dari tiga rukun (thala>that arka>n): pertama: al-Maba>dy (pendahuluan), kedua: al-Maqa>s}id (tujuan atau pembahasan), dan ketiga: al-Khwa>tim (penutup)”.[39] Adapun ruang lingkup pembahasan dari ketiga bagian (rukn) tersebut dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:

  1. Bagian pertama (al-rukn al-awwal) –yakni al-Maba>dy– dia membaginya ke dalam lima bab: Pertama, latarbelakang penyusunan kitab, bab ini memuat  lima pasal yang meliputi 1) pendahuluan (muqaddimah), 2) pembahasan tentang ilmu yang berkisar anatara penyebaran dan pengkodifikasiannya, 3) pembahasan tentang perbedaan tujuan para penyusun kitab, 4) pembahasan tentang para ulama mutaakhkhiri>n meneladani metode mutaqaddimi>n dalam penyusunan karya serta penyebab munculnya kitab-kitab ikhtisar, dan 5) Ringkasan seputar maksud disusuunnya kitab ini; Kedua, Metode penyusunan kitab, bab ini memuat enam pasal yang meliputi 1) Pembahasan tentang sanad dan matan, 2) pembahasan tentang penyusunan bab dan pasal, 3) pembahasan tentang pemahaman dan penyusunan kitab dalam bentuk huruf, 4) pembahasan tentang penjelasan para periwayat dan rija>l, 5) pembahasan tentang penjalasan ghari>b dan sharh}, dan 6) bagaimana menemukan hadis-hadis yang tidak pada tempatnya; Ketiga, Penjelasan tentang Us}u>l al-H{adi>th, hukum-hukumnya, dan yang berhubungan dengannya, bab ini memuat empat pasal yang meliputi: 1) Metodologi periwayat hadis, pasal ini memuat tujuh sub pembahasan a) Sifat periwayat dan syarat-syaratnya, b) Penyandaran periwayatan dan metodologi pengambilannya, c) Lafal-lafal periwayatan, d) pembahasan tentang perbedaan antara al-musnad dan al-isna>d, e) pembahasan tentang mursal, f) pembahasan tentang mauqu>f, dan g) pembahasan tentang hadis A<h}a>d dan Mutawa>tir; 2) Pembahasan tentang Ilmu al-Jarh} wa al-Ta’di>l; 3) Pembahasan tentang ilmu al-Naskh; dan 4) pembahasan tentang pembagian hadis s}ah}i>h dan kadhib;  Keempat, pembahasan tentang Biografi al-Aimmat al-Sittah; dan Kelima, pembahasan tentang sanad-sanad hadis yang beliau miliki dimana sanad-sanad tersebut bersambung kepada sanad kutub al-us}u>l al-sittah yang hadis-hadisnya tertuang dalam kitab ini.[40]
  2. Bagian kedua (al-Rukn al-Tha>ny) –yakni al-Maqa>s}id-, bagian ini terdiri dari kitab (judul utama), bab, pasal, macam (anwa>’), cabang (furu>’), dan pembagian (aqsa>m) yang didalamnya termuat hadis-hadis baik marfu>’ maupun mauqu>f dengan rumuz serta nama periwayat (dari kalangan sahabat apabila marfu>’ dan ta>bi’i>n apabila mauqu>f) yang ditempatkan pada bagian awal hadis sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan terdahulu. Dalam akhir setiap hadis dan bab diberikan penjelasan singkat seputar kandungan makna dan hukum dari hadis dan makna-makna kalimat yang susuah dipahami (sharh} ghari>b al-h}adi>th). Bagian ini tersusun berdasarkan susunan huruf hijaiyyah dari alif  hingga ya>’ ditambah dengan kita>b al-lawa>h}iq. Muatan bagian ini terbentang mulai dari jilid pertama sampai jilid ke-11 masing-masing dengan daftar isi dalam setiap jilidnya sebagaimana yang telah di tah}qi>q (di edit kembali) oleh ‘Abd al-Qa>dir al-Arnau>t}.
  3. Bagian ketiga (al-Rukn al-Tha>lith) –yakni al-Khawa>tim-, bagian ini tertuang secara utuh pada jilid ke-12, ruang lingkup bahasannya terdiri dari tiga pembahasan yang dalam istilah Ibn al-Athi>r “Funu>n”. Adapun ruang lingkup dari masing-masig bagian adalah: pembahasan pertama (al-Fann al-Awwal), Ibn al-Athi>r menyebutkan lafal dan makna dari hadis-hadis yang terbentang dari jilid pertama hingga sebelas, lafal dan makna dari hadis-hadis tersebut tersusun berdasarkan susunan huruf hijaiyyah. Bagian ini berfungsi sebagai kamus hadis untuk hadis-hadis yang termuat dalam kitab ini. Pembahasan kedua (al-Fann al-Tha>ny) adalah pembahasan seputar tara>jum al-rija>l (biografi para periwayat hadis), bagian ini terbagi ke dalam empat bab: a. pembahasan tentang sejarah hidup Rasulullah Saw (si>rah nabawiyyah) yang terbagi ke dalam 10 pasal; b. pembahasan seputar sejarah ringkas para Nabi; c. pembahasan tentang biografi dan sejarah hidup 10 sahabat yang telah mendapatkan jaminan surga; dan keempat, pembahasan seputar biografi para periwayat hadis yang disusun berdasarkan huruf hijaiyyah. Pembahasan ketiga (al-Fann al-Tha>lith) merupakan daftar isi kitab dari awal hingga akhir bagian sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bagin ini melingkupi al-rukn al-awwal wa aqsa>muh, al-rukn al-tha>ny wa aqsa>muh, dan al-rukn al-tha>lith wa aqsa>muh.

Kitab ini telah meberikan pengaruh dan faidah yang sangat besar bagi para ulama yang hidup setelah Ibn al-Athi>r seperti Ibn al-Dabi>’ al-Shayba>ny (w. 944 H) yang meringkas kitab ini dari dua belas jilid menjadi empat jilid yang beliau namakan dengan Taysi>r al-Wus}u>l Ila> Ja>mi’ al-Us}u>l min H{adi>th al-Rasu>l dengan metode penysunan sebagaimana yang ditempuh oleh Ibn al-Athi>r dalam Ja>mi’ al-Us}u>l (yakni berdasarkan susunan huruf hijaiyyah) dan mencukupkan penjelasan akan makna dari kata yang bersifat ghari>b saja. Selian dia, ulama lain yang juga menaruh perhatian terhadap kitab ini adalah Muh}ammad bin Sulayma>n al-Maghriby (w. 1094 H) dengan menyusun kembali kitab ini dan menggambungkannya dengan kitab Majma’ al-Zawa>id karya al-Haithamy dalam satu kitab yang beliau beri nama Jam’u al-Fawa>id min Ja>mi’ al-Us}u>l wa Majma’ al-Zawa>id,  kitab ini disusun secara tematik dengan hanya menyebutkan hadis-hadis yang berhubungan dan atau semakna dengan tema tertentu, penyusunannya pun tidak berdasarkan susunan huruf hijaiyyah dan tidak pula menyebutkan makna kata yang ghari>b dari hadis-hadis tersebut.


 

Penutup

Setelah melakukan rih}alah dengan mendaki tiga gunung, melalui dua belas sungai yang terbentuk dari enam lautan besar, maka tibalah pada sebuah kesimpulan dari seluruh uraian tentang kitab Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah{a>di>th al-Rasu>l yang disusun oleh Abu> al-Sa’a>da>t al-Muba>rak bin Muh}ammad bin Muh}ammad bin ‘Abd al-Kari>m, yang lebih dikenal dengan nama Ibn al-Athi>r al-Jazary yang lahir di Jazi>rah Ibn ‘Umar antara bulan Rabi>’ al-Awwal dan al-Tha>ny pada tahun 544 H, dan wafat di Mosul pada akhir Dhu> al-H{ijjah tahun 606 H. dia dikenal sebagai seorang ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu seperti Bahasa dan Sastra Arab, al-Qur’an dan Tafsirnya, Hadis dan ‘Ulu>m-nya, serta Fiqhi dan Us}u>l-nya, beliau tergolong ulama yang sangat produktif itu terbukti dari banyaknya karya yang telah beliau susun dan dijadikan rujukan oleh para ulama yang hidup setelahnya.

Kitab ini tergolong kitab yang besar  yang terbagi ke dalam tiga rukn dimana didalamnya termuat seluruh cabang ilmu hadis serta kumpulan seluruh hadis yang terdapat dalam dokumentasi enam imam dibidang hadis (al-Bukha>ry, Muslim, Ma>lik, al-Tirmidhy, Abu> Da>wud dan al-Nasa>’y) yang disusun secara tematis dan tersistematis berdasarkan susunan huruf hijaiyyah dimana masing-masing hadis dalam setiap tema sentral (kitab) dilengkapi dengan penjelasan ringkas seputar makna hadis serta penjalasan lafal-lafal ghari>b dari hadis yang dapat dipahami secara mudah baik bagi orang awam maupun mereka yang takhas}s}us} dalam bidang hadis. Hadis-hadis tersebut disajikan dengan mencukupkan penyebutan mukharrij dalam bentuk rumus dan periwayat pertama pada awal setiap hadis. Hadis-hadis yang dikumpulkan disesuaikan berdasarkan makna dan kandungan hadis, jika berada pada satu makna yang sama, maka beliau kumpulkan dalam satu topik. Namun jika memiliki cakupan makna lebih dari satu tetapi terdapat makna yang dominan, maka dimasukkan kedalam topik yang sesuai dengan makna yang dominan tersebut, dan jika tidak memiliki makna dominan, maka dimasukkan dalam topik tersendiri dengan topik utama al-lawa>h}iq (lampiran) pada akhir pembahasan. Beliau juga membuat kamus khusus pencarian hadis-hadis yang termuat dalam kitab ini, serta kamus rija>l al-h}adi>th yang disebutkan namanya dalam kitab ini, kesemuanya disusun berdasarkan susunan huruf hijaiyyah yang bertujuan untuk memudahkan para penuntut ilmu dan pencari adab. Pada sisi yang lain kitab ini disusun secara ilmiah dan sesuai dengan metode penyusunan karya ilmiah saat ini sebab penyusunnya pembagi pembahasanya kedalam tiga bagian utama (thala>that arka>n) yakni, Pendahuluan (al-Maba>di’), Pembahasan (al-Maqa>s}id) dan Penutup (al-Khawatim), pada setiap bagian terdapat topik utama, bab, sub-bab, dan bagian-bagian sub-bab kesemuanya terperinci secara deduktif.

Akhirnya, dari seluruh uraian-uraian tersebut, penulis merekomendasikan kepada para penuntut ilmu-ilmu islam (al-‘ulu>m al-shar’iyyah) dan secara khusus kepada para penutut hadis dan ilmunya (al-h{adi>th wa ‘ulu>muh) untuk memiliki dan mempelajari kitab ini disebabkan karena muatan isinya dapat mengakomodasi kebutuhan ummat dalam berbagai masalah, utamanya pemahaman terhadap hukum-hukum syari’at melalui hadis-hadis  Nabi Saw. uatama yang termuat dalam enam kitab hadis standar (al-Us}u>l al-Sittah) dalam hal ini S}ah}i>h} al-Bukha>ry, S}ah}i>h} Muslim, Muwat}t}a’ Ma>lik, Sunan al-Tirmidhy, Sunan Abu> Da>wud, dan Sunan al-Nasa>’y, dimana kesemuanya terkumpul secara detail mulai dari perbedaan redaksi, penjelasan makna dan kandungan hukum hingga kepada penjelasan dari lafal-lafal yang susah untuk dipahami makna dan maksudnya. Wa Alla>h A’lam.


 

Daftar Pustaka

al-‘Asqala>ni>, Ahmad bin Ali bin Hajar. Fath} al-Ba>ry. Bairu>t : Dar al-Fikr wa Maktabat al-Salafiyyah, Tth.

al-Asnawy, ‘Abd al-Rah}ma>n (w. 772 H). T{abaqa>t al-Sha>fi’iyyah, tah}qi>q oleh Kama>l Yu>suf al-H{u>t. Beiru>t : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1407 H / 1987 M.

al-Bahanasawi, Salim Ali, Rekayasa As-Sunnah, terj. Abdul Basith Junaidi. Jakarta: Ittaqa Press, 2001 M.

al-Dhahaby, Muh}ammad bin Ah}mad bin ‘Uthma>n (w. 748 H). Siyar A’la>m al-Nubala>’, tah}qi>q oleh Bashsha>r ‘Awwa>d Ma’ru>f dan Muh}yiyy Hila>l al-Rah}h}a>n. Beiru>t: Muassat al-Risa>lah, 1410 H / 1990 M.

Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. London : Goerge Alen, Tth.

al-H{amawy, Abu> ‘Abd Alla>h Ya>qu>t bin ‘Abd Alla>h al-Ru>my (w. 626 H). Mu’jam al-Udaba>’ aw Irsha>d al-Adi>b Ila> Ma’rifat al-Adi>b. Beiru>t: Da>r al-utub al-‘Ilmiyyah, 1411 H / 1991 M.

Ibn al-Athi>r, Abu> al-H{asan ‘Aly bin Muh}ammad bin Muh}ammad bin ‘Abd al-Kari>m (w. 630 H). al-Ka>mil Fi> al-Ta>ri>kh, tah}qi>q oleh Muh}ammad Yu>suf al-Daqqa>q. Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H / 1998 M.

Ibn al-Athi>r, Abu> al-Sa’a>da>t al-Muba>rak bin Muh}ammad al-Jazary (544-606 H). Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>dith al-Rasu>l, tah}qi>q oleh ‘Abd al-Qa>dir al-Arnau>t}. Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1403 H / 1983 M.

_________, al-Niha>yah Fi> Ghari>b al-H{adi>th wa al-A<tha>r. Beiru>t: Muassat al-Risa>lah, Tth.

Ibn Kathi>r, Abu> al-Fida>’ Isma>’i>l al-Qurashy al-Dimashqy (w. 774 H). al-Bida>yah wa al-Niha>yah, tawthi>q oleh ‘Abd al-Rah}ma>n al-La>dqy dan Muh}ammad Gha>zy Bayd}u>n. Beiru>t: Da>r al-Ma’rifah, 1420 H / 1999 M>.

Kah}h}a>lah, ‘Umar Rid}a>. Mu’jam al-Muallifi>n; Tra>jim al-Mus}annifiy al-Kutub al-‘Arabiyyah. Libanon: Makatabah al-Muthanna> dan Da>r Ih}ya’ al-Tura>th al-‘Araby, Tth.

al-Siddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. Sejarah & Pengantar Ilmu Hadis, diedit kembali oleh H.Z Fuad Hasbi al-Siddieqy. Semarang: PT. Pustaka Rezki Putra, 2009.

al-Suyu>t}i>, Abd Rahma>n ibn Abi> Bakar. Tadri>b al-Ra>wi> fi> Sharh} Taqri>b al-Nawawy. al-Riya>d}: Maktabah al-Riya>d} al-H{adi>s|ah, TTh.

Zaqzu>q, Mah}mu>d H{amdy. Mausu>’ah ‘Ulum al-H{adi>th al-Shari>f. Mesir: Wiaza>rat al-Awqa>f Jumhu>riyyat Mis}r, 1428 H / 2007 M.

al-Zahra>ny, Muh}ammad. Ensiklopedi Kitab-kitab Rujukan Hadis, terj. Muhammad Rum et al. Jakarta: Darul Haq, 2011 M.


[1] Sebenarnya Khalifah ‘Umar bin al-Khat}t}a>b pada masa pemerintahannya pernah berkeinginan membukukan hadis secara resmi, setelah beliau melakukan diskusi dengan sahabat-sahabat yang lain, para sahabat yang hadir pada saat itu pun setuju dengan hal tersebut, tetapi ‘Umar ber-istikha>ra (meminta petunjuk kepada Allah) selama sebulan dan akhirnya memutuskan untuk tidak membukukan hadis dengan alasan bahwa umat terdahulu pernah melakukan pembukuan ucapan para nabi mereka lalu melupakan kitab Allah. Lihat: Abd Rahma>n ibn Abi> Bakar al-Suyu>t}i>, Tadri>b al-Ra>wi> fi> Sharh} Taqri>b al-Nawawy, vol. 2 (al-Riya>d}: Maktabah al-Riya>d} al-H{adi>s|ah, t.th.), 68.

[2] Keinginan beliau tersebut sesungguhnya telah muncul ketika beliau masih menjabat sebagai Gubernur di Madinah (86-93 H), pada masa pemerintahan al-Walid bin Abd al-Malik (86-96 H).

[3] Surat itu dikirim ke seluruh pejabat dan ulama di berbagai daerah pada sekitar akhir tahun 100 H. Lihat. Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Fath} al-Ba>ri>, vol. 1 (ttp : Dar al-Fikr wa Maktabat al-Salafiyyah, 600 H.), 194-195.

[4] Karya Ma>lik bin Anas yang dikenal dengan nama al-Muwaththa’ tersebut sampai sekarang masih ada. Di dalamnya terdapat 1726 hadis dari Nabi, sahabat dan tabi’in. Menurut hasil penelitian dari jumlah hadis itu terdapat 600 musnad, 228 mursal, 613 mauquf dan 285 maqthu’. Dari segi sanad, hadis yang terkandung di dalamnya ada yang shahih, hasan dan dha’if. Kemudian bila dikonfirmasikan dengan hadis yang ditulis Bukhari dan Muslim, maka diketahui bahwa matan al-Muwaththa’ itu shahih. Ignas Goldziher tidak menyetujui karya Malik itu sebagai kitab hadis, dengan alasan antara lain ; 1) belum mencakup seluruh hadis yang ada, 2) lebih menekankan pada hukum dan pelaksanaan ibadah, serta kurang mengarah kepada penyelidikan dan penghimpunan hadis, dan 3) tidak hanya berisi hadis semata, tetapi juga berisi fatwa sahabat (fata>wa> al-tabi’in) dan konsensus masyarakat Islam di Madinah (ijama’ ahl al-Madi>nah atau ‘amal ahl al-Madi>nah). Lihat Ignaz Goldziher, Muslim Studies, Vol. 1 (London : Goerge Alen, tth), 195-196.

[5] Salim Ali al-Bahanasawi, Rekayasa As-Sunnah, terj. Abdul Basith Junaidi (Jakarta: Ittaqa Press, 2001), 40-41.

[6] Muh}ammad al-Zahra>ny, Ensiklopedi Kitab-kitab Rujukan Hadis, terj. Muhammad Rum et al (Jakarta: Darul Haq, 2011), 109.

[7] Al-Zahra>ny dalam karyanya Tadwi>n al-Sunnah Nash-atuhu wa Tat}awwuruhu mencantumkan kitab al-Sunan karya al-Baihaqy (w. 458 H) termasuk diantara karya-karya yang muncul pada abad ke-4 padahal al-Baihaqy tergolong ulama yang hidup pada sekitar awal abad ke-5. Al-Zahra>ny menyatakan bahwa al-Baihaqy wafat agak terakhir tetapi dimunginkan untuk mengkategorikannya ke dalam abad ke-4 karena kedekatan tipologi karyanya dengan karya-karya yang muncul pada abad ke-4. Lihat. Ibid., 155.

[8] Kajian terhadap Mukhtalaf al-H{adi>th telah dimulai sejak abad ke-3 dimana al-Sha>fi’y, Ibn Qutaibah, dan Ibn H{azm al-Z{a>hiry kesemuanya telah menyusun karya yang berhubungan dengan hal tersebut.

[9] Seluruh penyusun yang disebutkan telah menyusun karya al-Mustakhraj ‘ala> S}ah}i>h} al-Bukaha>ry secara individual dengan sanad mereka masing-masing yang bersambung dan bertemu dengan sanad milik al-Bukha>ry.

[10] Dia merupakan salah satu diantara teman Ima>m Muslim bin H{ajja>j ketika mengadakan perjalanan mencari hadis ke kota Balkh dan Bas}rah.

[11] Dia banyak menyamai Muslim bin H{ajja>j dalam berguru kepada mayoritas gurunya (dalam isna>d).

[12] Al-Zahra>ny, Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits, 186.

[13] Atau Ibn Manju>yah.

[14] Dia telah men-takhri>j Musnad Ah}mad ‘Ala> S{ah}i>h} Muslim.

[15] Al-Zahra>ny, Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits, 187.

[16] Ibid., 156.

[17] Maksudnya adalah hanya menyebutkan periwayat tertinggi (al-ra>wy al-a’la>) dari kalangan sahabat saja dan tidak menyebutkan sanad secara utuh sebagaimana yang terdapat dalam kitab rujukan utamanya. Demikian pula halnya jika hal tersebut hanyalah merupakan perkataan (pendapat) sahabat atau ta>bi’i>n.

[18] Dalam karyanya tersebut beliau tidak hanya menyebutkan hadis-hadis sebagiaman yang terdapat dalam S{ah}i>h} Muslim tetapi beliau juga memiliki tambahan (ziya>da>t) dari apa yang terdapat dalam karya yang disusun oleh Muslim.

[19] Al-Zahra>ny, Ensiklopedi Rujukan Kitab-Kitab Hadits, 190-191.

[20] Diantara tipologi karya hadis yang disusun dari abad IX hingga hari ini ada yang berbentuk kumpulan hadis-hadis d}a’i>f dan maud}u>’, kumpulan hadis-hadis Qudsy (al-Ah}a>dith al-Qudsiyyah), kumpulan riwayat-riwayat dalam masalah asba>b al-Nuzu>l dan Asba>b al-Wuru>d, ada pula yang tipologinya merujuk kepada apa yang telah dikerjakan oleh ulama terdahulu seperti tipologi s}ah}i>h}, at}ra>f, dan maja>mi’. Adapula tipologi mukhtass}ra>t yaitu meringkas hadis-hadis yang terdapat dalam salah satu karya-karya ulama terdahulu seperti mukhtas}ar s}ah}i>h} al-Bukha>ry. Adapula dalam bentuk tematik (maud}u>’iyya>t) dan banyak lagi tipologi-tipologi karya hadis yang bermunculan hingga saat ini.

[21] ‘Abd al-Rah}ma>n al-Asnawy (w. 772 H), T{abaqa>t al-Sha>fi’iyyah, tah}qi>q oleh Kama>l Yu>suf al-H{u>t, Juz. 1 (Beiru>t : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1407 H / 1987 M), 71.

[22] Teungku Muhammad Hasbi al-Siddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadis, diedit kembali oleh H.Z Fuad Hasbi al-Siddieqy (Semarang: PT. Pustaka Rezki Putra, 2009), 309.

[23] Abu> ‘Abd Alla>h Ya>qu>t bin ‘Abd Alla>h al-Ru>my al-H{amawy (w. 626 H), Mu’jam al-Udaba>’ aw Irsha>d al-Adi>b Ila> Ma’rifat al-Adi>b, Juz. 5 (Beiru>t: Da>r al-utub al-‘Ilmiyyah, 1411 H / 1991 M), 49. Muh}ammad bin Ah}mad bin ‘Uthma>n al-Dhahaby (w. 748 H), Siyar A’la>m al-Nubala>’, tah}qi>q oleh Bashsha>r ‘Awwa>d Ma’ru>f dan Muh}yiyy Hila>l al-Rah}h}a>n, Juz. 21 (Beiru>t: Muassat al-Risa>lah, 1410 H / 1990 M), 489. al-Asnawy (w. 772 H), T{abaqa>t al-Sha>fi’iyyah, Juz. 1, 70. Abu> al-Fida>’ Isma>’i>l Ibn Kathi>r al-Qurashy al-Dimashqy (w. 774 H), al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Tawthi>q oleh ‘Abd al-Rah}ma>n al-La>dqy dan Muh}ammad Gha>zy Bayd}u>n, Juz. 13 (Beiru>t: Da>r al-Ma’rifah, 1420 H / 1999 M), 64. ‘Umar Rid}a> Kah}h}a>lah, Mu’jam al-Muallifi>n; Tra>jim al-Mus}annifiy al-Kutub al-‘Arabiyyah, Juz. 8 (Libanon: Makatabah al-Muthanna> dan Da>r Ih}ya’ al-Tura>th al-‘Araby, Tth), 174. ‘Abd al-Qa>dir al-Arna>u>t}, Muqaddimah al-Muh}aqqiq; Tarjamat al-Muallif, dalam Ibn al-Athi>r, Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>dith al-Rasu>l, Juz. 1 (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1403 H / 1983 M), ط. Mah}mu>d Muh}ammad al-T{anna>h}y dan T{a>hir Ah}mad al-Za>wy, Muqaddimah al-Tah}qi>q (2), dalam Ibn al-Athi>r, al-Niha>yah Fi> Ghari>b al-H{adi>th wa al-A<tha>r, Juz. 1 (Beiru>t: Muassat al-Risa>lah, Tth), 9.

[24] Mah}mu>d Muh}ammad al-T{anna>h}y dan T{a>hir Ah}mad al-Za>wy, Muqaddimah al-Tah}qi>q (2), dalam Ibn al-Athi>r, al-Niha>yah Fi> Ghari>b al-H{adi>th wa al-A<tha>r, Juz. 1, 9.

[25] al-H{amawy (w. 626 H), Mu’jam al-Udaba>’ aw Irsha>d al-Adi>b Ila> Ma’rifat al-Adi>b, Juz. 5, 49.

[26] Ibid., 49-50. Abu> al-H{asan ‘Aly bin Muh}ammad bin Muh}ammad bin ‘Abd al-Kari>m “Ibn al-Athi>r” (w. 630 H), al-Ka>mil Fi> al-Ta>ri>kh, tah}qi>q oleh Muh}ammad Yu>suf al-Daqqa>q, Juz. 10 (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1418 H / 1998 M), 350.

[27] Dhahaby (w. 748 H), Siyar A’la>m al-Nubala>’, 489.

[28] Ibn al-Athi>r (w. 630 H), al-Ka>mil Fi> al-Ta>ri>kh, Juz. 10, 350.

[29] Ibn Kathi>r (w. 774 H), al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz. 13, 64.

[30] al-H{amawy (w. 626 H), Mu’jam al-Udaba>’ aw Irsha>d al-Adi>b Ila> Ma’rifat al-Adi>b, Juz. 5, 53.

[31] Muh}ammad Mus}t}afa> Abu> ‘Amma>rah, Mana>hij al-Muh}addithi>n Fi> Muntas}af al-Qarn al-Ra>bi’ Ila> Muntas}af al-Qarn al-Sa>bi’ Min 350-650 H, dalam Mah}mu>d H{amdy Zaqzu>q, Mausu>’ah ‘Ulum al-H{adi>th al-Shari>f (Mesir: Wiaza>rat al-Awqa>f Jumhu>riyyat Mis}r, 1428 H / 2007 M), 938. Al-Zahra>ny, Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits, 200.

[32] Abu> al-Sa’a>da>t al-Muba>rak bin Muh}ammad Ibn al-Athi>r al-Jazary (544-606 H), Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>dith al-Rasu>l, Juz. 1 (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1403 H / 1983 M), 49-50.

[33] Ibid., Juz. 1, 53-59.

[34] Unutk hadis-hadis tentang keutamaan tokoh dan suatu permasalahan, Ima>m Ibn al-Athi>r menyatukannya dalam satu kitab khusu yang diberi nama Kita>b al-Fad}a>il wa al-Mana>qib. Lihat pernyataannya dalam Ibid., 58-59.

[35]Kitab-kitab yang dijadikan sebagai rujukan oleh Ibn al-Athi>r dalam memberikan penjelasan pada akhir setiap hadis adalah kitab-kitab bahasa, ghari>b al-h}adi>th, muhtalaf al-H{adi>th, kitab-kitab Fiqhi dan Tafsir. Diantara kitab-kitab bahasa yang dijadikan sebagai rujukan adalam menyusun karyanya ini adalah: al-Tahdhi>b dan Lughat al-Fiqh karya Abu> Mans}u>r Muh}ammad bin Ah}mad al-Azhury; S}ih}h}ah} al-Lughah karya Abu> Nas}r Isma>;’i>l bin H{amma>d al-Jawhary; dan al-Mujmal karya Abu> al-H{usain Ah}mad bin Fa>ris. Adapun tentang ghari>b al-h{adi>th beliau merujuk kepada anatara lain: kitab Ghari>b al-H{adi>th karya Abu> ‘Ubayd al-Qa>sin bin Salla>m; kitab Ghari>b al-H{adi>th karya Ghari>b al-H{adi>th dan Mukhtalaf al-H{adi>th karya Ibn Qutaybah; kitab Ghari>b al-H{adi>th, Ma’a>lim al-Sunan, dan Sha’n al-Du’a>’ karya al-Kht}t}a>by; kitab al-Jam’u Bayna al-Ghari>bayn karya Abu> ‘Ubayd al-Harawy; dan kitab al-Fa>iq karya al-Zamakhshary. Adapun penjelasan seputar hokum dan makna hadis beliau merujuk kepada kitab-kitab fiqhi dan tafsir. Seluruh bentuk penjalasan makna hadis mayoritasnya beliau nukil dari kitab-kitab tersebut secara hati-hati. Namun apabila terdapat penjelasan yang tidak beliau temukan dalam kitab-kitab tersebut, beliau merujuk kepada hasil diskusi-diskusi beliau dengan para ulama yang ahli dibidangnya masing-masing. Lihat. Ibid., 66-67

[36] Nomor yang terdapat dalam kurung menunjukkan Jilid/halaman kitab.

[37] Bab ini terdapat dalam jilid ke-12 bagian penutup (rukn al-khawa>tim). Lihat. Ibid., Juz. 12, 3-83.

[38] Al-Zahra>ny, Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits, 206.

[39] Ibn al-Athi>r (544-606 H), Ja>mi’ al-Us}u>l Fi> Ah}a>dith al-Rasu>l, Juz. 1, 34-35.

[40] Ibid., Juz. 1, 34-205.

%d blogger menyukai ini: