h1

FILSAFAT ISALAM; Telaah Ulang Istilah

14 Oktober 2010

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”. (Wikipedia)

Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul “etika, republik, apologi, phaedo, dan krito”. (id.Wikipedia.org/wiki/filsafat)

Ketika Islam mengalami kejayaan peradaban pada abad ke-9 hingga abad ke-11, dunia Islam sendiri mengakui adanya andil besar gelombang helenisme yang lebih awal dalam mengais kemajuan peradaban. Dalam hal terakhir ini, pengaruh pemikiran Plato, Aristoteles, dan beberapa tokoh lain, coba diterjemahkan dan ditafsirkan serta dihubungkan dengan ajaran Isalm oleh para muslim awal seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.

adapun istilah filsafat yang berkembang dikalangan para cendikiawan muslim yang melakukan kajian terhadap filsafat-filsafat Yunani adalah sebagai berikut:

Al-Farabi berkata: Failusuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema’rifati Allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan. 

Ibnu Sina mengatakan, hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.

Jika kita memperhatikan pengertian filsafat utamanya menurut para pengkaji awal filsafat seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina kita tidak menemukan penegasan akan penyandaran istilah Filsafat kepada Islam bahkan tidak ditemukan sebuah kalimat dari karya-karaya mereka yang menyatakan bahwa filsafat yang mereka uraikan ini adalah “Filsafat Islam”.
Kemudian para pengkaji filsafat dari kalangan cendikiawan muslim belakangan membaca dan mengkaji karya-karya para filosof muslim awal tersebut dan menemukan bahwa lahan filsafat yang mereka garap adalah merupakan bentuk penguraian yang berlandasakan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, lalu serta merta mereka menyandarkan kata “Filsafat” yang berasal dari Yunani denagn landasan akal dengan “Islam” yang landasannya adalah al-Qur’an dan Al-Sunnah. berikut adalah beberapa diantara mereka yang menyatakan bahwa filsafat yang dikaji oleh para filosof  muslim tersebut adalah Filsafat Islam;
Dr. Ibrahim Madzkur mengatakan: Filsafat Arab bukanlah berarti bahwa ia adalah produk suatu ras atau umat. Meskipun demikian saya mengutamakan menamakannya filsafat Islam, karena Islam bukan akidah saja, tetapi juga sebagai peradaban. Setiap peradaban mempunyai kehidupannya sendiri dalam aspek moral, material, intelektual dan emosional. Dengan demikian, Filsafat Islam mencakup seluruh studi filosofis yang ditulis di bumi Islam, apakah ia hasil karya orang-orang Islam atau orang-orang Nasrani ataupun orang-orang Yahudi (Fuad Al-Ahwani, Hal. 15). 

Drs. Sidi Gazalba memberikan gambaran sebagai berikut: Bahwa Tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan nakal (wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan. Apabila pengetahuan manusia itu digerakkan oleh nakal, menjadilah ia filsafat Islam. Wahyu dan Sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenarannya dengan riset, filsafat Islamlah yang memberikan keterangan, ulasan dan tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal dan umum (Drs. Sidi Gazalba, hal. 31).

Prof. Mu’in, menyatakan apabila filsafat itu disebut dengan Filsafat Arab, berarti mengeluarkan orang Iran, orang Afghanistan, orang Pakistan, dan orang India. Oleh karena itu memilih dengan Filsafat Islam. Demikian pula orientalis Perancis Courbin, seorang Islamolog dan kebudayaan Iran, membela dengan Filsafat Islam. Sebagaimana dikatakannya. Jika kita mengambil nama Filsafat Arab, pengertiannya sempit sekali bahkan keliru.
Berbeda dengan seluruh pendapat di atas As-Sahrawardi Ar-Razi lebih suka menamakannya Filsafat di dunia Islam.
Berangkat dari peristilahan “Filsafat Islam” di atas dapat di analisis bahwa  istilah “Filsafat” lebih kepada usaha sesorang menemukan kebenaran berdasarkan kemampuan daya nalar masing-masing pencari, sementara kata “Islam” adalah suatu agama yang berangkat dari kebesaran pemiliknya  (Allah Swt) yang keberadaannya bersifat absolut dan kesucian jiwa pembawanya dengan al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai landasannya. sehingga jika usaha perpikir seseorang untuk menemukan titik pertemuan antara daya nalar dan absolutisme Islam kemudian hasilnya disebut sebagai “Filsafat Islam”, maka sangat naif sebab usaha seseorang itu untuk dirinya dan belum tentu dapat menghasilkan pragmatisme kepada orang lain.
Dari uraian di atas, maka perlu adanya tinjauan kembali terhadap istilah “Filsafat Islam” sebab Filsafat masuk kedunia Islam sebagai suatu kajian dan mengalami perkembangannya yang sanagat pesat pada masa dinsti Abbasiyah, sangatlah jelas dijembatani oleh kaum Nasrani dan Yahudi yang menjadi bagian dari masyarakat  Islam pada masa itu yang turut andil dalam memasukkan karya-karaya para filosof Yunani ke dalam negara Islam kemudian diterjemahkan dan dikaji. Fakti ini menunjukkan bahwa filsafat berasal dari luar Islam yang kemudian disebabkan karena asimilasi yang terjadi, maka kemudian Islam mengadopsinya sebagai bagian dari ilmu yang harus dipelajari (tidak wajib) sekedar untuk mengambil bentuk dan metode ilmiyah.
Dengan demikian menurut saya bahwa sebaiknya istilah ini tidak disandarkan secara langsung kepada “Islam” yang merupakan agama yang sempurna lagi paripurna tetapi lebih bijak jika istilah ini disandarkan kepada “muslim” sebab merekalah yang memanfaatkan daya nalar mereka untuk menemukan titik temu anatara nalar filsafat dengan kandungan-kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Jika memperhatikan seluruh fakta baik sejarah maupun letaratur, maka selayaknya kita mengatakan ini adalah “Filsafat Muslim” dan tidak dengan istilah “Filsafat Islam”. Walllahu a’lam.
Sumber:

 

 

%d blogger menyukai ini: