h1

Mengenal Al-Ghazaliy

29 Agustus 2010

A. Mengenal Al-Gaza>li>y

  1. 1. Nama, Keturunan, Kelahiran dan Wafatnya

Imam al-Gaza>li>y bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Thu>siy> al-Gaza>li>y. beliau lahir dari keluarga penenun kain (Gazzah ) di salah satu kampung kecil bernama Gazalah, Kabupaten Thus, Propinsi Khursan, Wilayah Persi (sekarang Bernama Iran) pada tahun 450 H (1085 M)[1]

Setelah beliau berumah tangga beliau dikaruniai seorang putra yang ia beri nama dengan Hamid yang kemudian beliau dipanggil dengan Abu Hamid[2]. Adapun sebutan al-Gaza>li>y yang kemudian beliau lebih dikenal dengan sebutan tersebut dapat dilihat dari dua hal; Pertama; sebutan al-Gaza>li>y dinisbatkan (disandarkan) kepada kampung kecil tempat kelahiran beliau yang bernama Gazalah yang menunujukkan bahwa beliau adalah seorang keturunan persi dari Gazalah. Kedua; sebutan al-Gaza>li>y di nisbatkan kepada pekerjaan orang tuanya yaitu tukang tenun yang dalam bahasa persi disebut dengan Gazzah yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang keturunan tukang tenun kain.

Beliau wafat pada usia 55 tahun kota kelahirannya yaitu Kabupaten Thus pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H / 19 desember 1111 M dengan meninggalkan tiga orang putrid, sedang putranya yang bernama Hamid telah terlebih dahulu mendahului beliau, meskipun beliau tidak meninggalkan keturunan laki-laki yang dapt mengikuti jejaknya, tetapi karya-karaya yang beliau tinggalkan jauh lebih besar sehingga seorang Philip. K. Hitti (peniliti sejarah peradaban Timur Tengah) dalam karyanya saat menyinggung tentang al-Gaza>li>y berkata; “This Father of the church in Islam, has since become the final authority for Sunnite orthodoxy Moslems say that if there could have been a prophet after Muhammad, al-Gazzali would have been the man.”[3] (Ini adalah seorang bapak dalam dunia Islam, beliau merupakan ulama pemurnu sunnah terakhir dapat dikatakan jika seandainya terdapat nabi setelah Muhammad, maka al-Gazali-lah orangnya).

Jenazah beliau dimakamkan di sebalah timur benteng makam Thaberran bersebelahan dengan makam seorang penyair besar Firdausi>y.[4]

  1. 2. Latar Belakang Pendidikan al-Gaza>li>y

Al-Gaza>li>y memulai pengembaraan ilmu di kabupaten kelahirannya – Thus – dari umur yang relative muda hingga berumur 20 tahun dari kedua gurunya Razaka>ni>y Ahmad bin Muhammad dan Ysul al-Nassa>j.

Pada tahun 471 H beliau menjadi salah satu murid Imam al-Haramain Abu al-Ma’a>li>y D{iya>uddi>n al-Juwayni>y (w. 477 H) di Madrasah Naz}z}a>miyyah, di sekolah inilah al-Gazali>y menimba ilmu yang sangat banyak, mulai dari bahasa, Fiqhi dan Us}ulnya, teologi, filsafat dan lainnya, sehingga dengannya beliau mampu berbicara dengan berbagai aliran dan agama bahkan memulai menyusun karya dalam berbagai cabang ilmu.[5]

Pasa usia 25 tahun beliau kemudian diangkat oleh gurunya al-Juwaini>y sebagai guru di Madrasah Naz}z}a>miyyah, dan pada umur 28 tahun beliau diangkat oleh Niz}a>mu al-Mulk perdana mentri Sultan Bani Saljuk (Turki) sebagai kepala madrasah Naz}z}a>miyyah menggantikan Imam al-Juwaini>y pasca wafatnya pada tahun 478 H.  beberapa tahun kemudian beliau diangkat sebagai dewan Mufti dan Guru Besar Negara oleh pemerintah yang bertempat tinggal di Mu’askar bersama para petinggi Negara, ulama dan para sarja dari berbagai lataar belakang keilmuan.

Kemudian pada tahun 1080 M beliau kembali di angkat sebagai kepala Madrasah Naz}z}a>miyyah di Bagdad – pusat pemerintahan daulah Abbasiya – menggantikan al-Kaya al-Hira>si>y. Najib Ullah mennyatakan : “As an Ima>m or leading scholar, he was invited in 1085 to the court of the Saljukid emperor Malik Shah by hes great scholary prime minister Niz{a>m ul Mulk. This statesman, recognizing Ghazali’s qualities, appointed him professor in the Nazamiyah university of Bagdad, where he though for four years continuing publish hes work” [6](sebagai seorang Imam atau kepala sekolah, pada tahun 1085 belaiu diundang oleh Malik Shah Sultan Saljuk sebagai ulama terkemuka berdasarkan rekomendasi Nizam al-Mulk, satatus tersebut menunujukkan akan kualitas al-Gazaliy secara khusus tentang nilai profesionalitasnya selama memegang Universitas Naz{z{a>miyah Bagdad, dimana selama emat tahun beliau meneruskan pekerjaan (sebagai kepala / rektor Universita).

Pada saat beliau berumur 38 tahun, belaiu mengalami krisi spiritual disebabkan karena terjadinya pertikaian antarr mazhab dan pemikiran di lingkungannya dalam mencari kebenaran hakiki. Beliau meragukan dan mempertanyakan fungsi akal atau rasio dalam menggapai kebenaran final Tuhan sebagaimana yang digunakan dalam aliran kalam dan filsafat yang belaiu pelajari selama ini, akibatnya belaiu jatuh sakit selama enam bulan dan berhenti mengajar.[7]

Kegelisahan al-Gaza>li>y semakin memuncak yang akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan rihlah (pengembaraab) spiritual menuju Damaskus  kemudian beri’tikaf di masajid jami’ Damaskus selama dua tahun dalam kontemplasi, ibadah, kemudian melanjutkan rihlah ke Palestina, Makkah, dan Madinah dan pada akhirnya kegelisahan beliau berhasil melepaskan diri dari kegamangan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa yang merupakan hasil dari rihlah spiritual dengan jalan tasawuf.[8]

Pasca rihlah beliau dan terlepasnya dari kegamangan, kegelisahan, dan kegoncangan, beliau kembali ke Bagdad atas desakan dan perintah  perdana Mentri Fakhr al-Mulk putra Niz{a>m al-Mulk beliau kembali memimpin Universitas Naz{z{a>miyah Bagdad. Pasca wafatnya sang perdana mentri beliau kemudian kembali ke kampung asalnya di Thus dan mendirikan madrasah suluk yang diberi nama madrasah Khankah untuk mengajarkan tasawuf. Usaha ini beliau lakukan hingga beliau wafat pada tahun 505 H / 1111 M. [9]

  1. 3. Karya-Karya al-Gaza>li>y

Al-Gaza>li>y adalah seorang ulama produktif yang menghasilkan berbagai karya dalam berbagai bidang ilmu, sejarah mencatat bahwa beliau telah menyusun berbagai karya-karay ilmiyah sejak berumur 25 tahun hingga menjelang wafatnya.

Beliau hampir tidak memiliki waktu untuk tidak menulis bahkan ketika beliau sakit pun beliau tetap menulis, beliau memiliki lebih dari 300 judul karangan dari berbagai cabang ilmu, namun pada Abad ke-13 saat bangsa Mongol menjajah Bagdad dan memusnahkan perpustakaan Bagdad serta seluruh isinya termasuk didalamnya karya-karya al-Gaza>li>y seperti Tafsir al-Gaza>li>y sebanyak 40 Jilid dan Sirru al-‘A<lamain.[10] Berikut beberapa karya beliau yang disusun berdasarkan bidang ilmu:

  1. Bidang Filsafat

1)      al-Muntakhal fi> al-Jadal, (The elect in Dialectics)

2)      Maqas}id al-Falasifah (Aims of Philosophers)

3)      Taha>fut al-Fala>sifah (Incoherence of philosophers).

4)      Mi’ya>r al-‘Ilm fi> Fan al-Maniq (Criterion of Knowledge in the Art of Logic)

5)      Mih}a>k al-Naz}ar fi al-Maniq (Touchstone of Reasoning in Logic)

6)      al-Maz}nu>n Bihi> ‘ala ghyar ahlihi (On the Soul)

7)      al-Qisas al-Mustaqi>m (The Correct Balance)

8)      Ma’a>rij al-Qudus fi> Mada>rij Ma’rifat al-Nafs (Ascent to the Divine through the path of self-knowledge)

  1. Bidang Agama

1)      Ihya>’ ‘Ulu>mu al-Di>n (menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) karya ini beliau tulis pada usia 40-50 tahun yang berisi pokok-pokok agama seperti; aqidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlaq.

2)      Minha>j al-‘A<bidi>n (Jalan para penyembah) karya beliau ini berisi nasehat-nasehat terakhir beliau kepada seluruh manusia.

3)      Al-Mustas}fa> Fi> al-Us}u>l (Penjernih Landasan) merupakan karya yang mngulas tentang landasan fiqhi (Us}u>l al-Fiqh )

4)      Al-Munqidz min al-Dhala>l (Pembebas dari Kesesasatan) karya ini merupakan karya yang beliau susun sekemablinya beliau daru ‘uzlah yang panjang dan merupakan karya yang menyimpulkan seluruh karya yang be;iau pernah susun. Kraya ini berisi pembahasan tentang Ilmu Kalam, Filsafat, Metode sufistik, kenabian dan perjalanan Spiritual ak-Gaza>li>y.

  1. Bidang Tasawuf
    1. Mi>za>n al-‘Amal (timbangan / Neraca Amalan) kraya ini merupakan karaya yang mendampingi Ihya>’ ‘Ulu>mu al-Di>n dimana berisi akhlaq dan tasawuf dan bahkan merupakan kesimpulan dari Ihaya>’ .
    2. Ki>miya>u al-Sa’a>dah (Kimia kebahagiaan) karaya ini banyak mengurai tentang etika-etika praktis.
    3. Misyka>t al-Anwar ( Lampu yang Terang Benderang)  karya beliau ini mengupas dan menjelaskan hubungan antara akhlaq dan theology.
    4. Al-Risalah al-Laduniyah ( Risalah Kebatinan) karya ini berisikan penjelasan tentang hubungan anatara akhlak dengan kerohanian, dan pembahasan tentang wahyu, hati dan sebagaianya.
    5. Bidang Pemerintahan
      1. At-Tibr al-Masbuk Fi> Nas}ih}ati al-Mulk (Emas Tertata untuk Menasehati Penguasa) berisikan hal-hal yang berhubungan tentang akhlaq pemerintah.
      2. Sulu>k al-S{ult}a>n (Etika Pemerintahan) karya ini memberikan penjelasan tentang bagaiaman seorang pemimpin menjalankan roda pemerintahan yang dapat menunjang dan membantu kesejahteraan rakyat.

Karya-karya beliau di atas hanya sebahagian kecil dari sekian banyak karya yang beliau hasil sejak menjadi murid di madrasah al-Naz}z}amiyyah hingga beliau sakit menjelang sakarat al-Maut. Kebanyakan dari karay-karya beliau memberikan pengaruh baik di dunia islam maupun non Islam.[11]

  1. 4. Pujian Ulama Terhadap al-Gaza>li>y

Para ulama baik yang hidup sezaman dengan beliau maupun yang hidup setelah zaman beliau sangat banyak memuji beliau dari segi keilmuan dan kapasitas beliau sebagai manusia yang bergelar Hujjat al-Islam, diantara pujian-pujian tersebut adalah sebagai berikut;

  1. Imam al-Dzahabi>y berkata: “Dia adalah seorang pembesar, pemimpin yang berwawasan luas, hujjah al-Islam, seorang yang sangat dikagumi sepanjang zaman, perhiasan agama (Zain al-Di>n), dikenal dengan Abu Hamid, pemilik banyak karya dan kelebihan dalam kepandaian”
  2. Imam al-Ha>fiz} Ibnu Katsir berkata: “Dia adalah seorang yang mengetahui cabang-cabang keilmuan, memiliki karya-karya dalam berbagai bidang ilmu, dia seorang yang sangat cerdasa diantara para ulama ketika berbicara tentang suatu perkara”
  3. Imam al-Haramain (Guru al-Gaza>li>y) berkata: “Al-Gaza>li>y adalah lautan (ilmu) yang sangat luas”
  4. Al-Ha>fiz} Abdu al-Ga>fir al-Fa>risi>y (ulama yang hidup sezaman dengan al-Gaza>li>y) berkata: “Hujjat al-Islam wa al-Muslimin, Imam dari para imam-imam Agama, belum tampak seseorang yang seperti dengannya”
  5. Al-Ha>fiz} Ibn al-Najja>r berkata: “Dia adalah Imam para ahli fiqhi secara mutlak, disepakati sebagi manusia yang paling Rabba>ni>y dari kalang umat Islam, seorang mujtahid pada zamannya,… berdiri tegak dalam membela sunnah, dan menampakkan al-Di>n.[12]
  6. B. Pemikiran dan Bantahan al-Gaza>li>y Terhadap Filosof

Al-Gaza>li>y merupkan orang yang pertama belajar filsafat dan sanggup mengkritiknya, hasil penelaahannya terhadap filsafat beliau tuangkan dalam Maqa>s}id al-Fala>sifah dan hasil penelaahannya untuk melakukan kritik terhadap filsafat dan filosof beliau tuangkan dalam Tahafut al-Falasifah.

  1. 1. Pemikiran Filsafat al-Gaza>li>y

Al-Gaza>li>y dalam Maqa>s}id al-Falasifah memaparkan filsafatnya dalam tiga persoalan yaitu logika, ketuhanan dan Fisika, dari ketiga persoalan ini kemudian terbagi atas beberapa lapangan; Matetamatika. Logika, Fisika, Theologi (Metafiska), politik, dan etika berikut pernyataan al-Gaza>li>y tentang seluruh lapangan filsafat di atas yang hubungannya dengan Syara’ sebagaimana yang penulis kutip dari al-Minqidz min al-D{ala>l :

  1. Matematika: “Ilmu ini adalah ilmu hitung, ilmu Hindasah (Geometri) dan ilmu bumi alam. Tiada  satupun dari ilmu-ilmu ini yang berhubungan dengan ilmu agama baik ditetapkan ataupun tidak ditetapkan, bahkan ilmu ini hanya merupakan dalil-dalil belaka dimana tidak terdapat satu pun cara untuk mengingkarinya sesudah memahaminya secara jelas.[13]
  2. Logika; ilmu ini juga sama sekali tidak memiliki hubungan dengan agama baik ditetapkan ataupun tidak, sebab dia hanya merupakan analisa tentang cara mencari dalil-dalil, analog, syarat-sayarat dalil pendahuluan, kemudian cara merangkum, mencari syarat pendefenisian yang benar dan bagaimana membuatnya lebih tersusun dan teraarah. Ilmu ini terdiri dari dua yaitu; Tas}awwur (Gambaran); cara mengetahuinya adalah dengan mengetahui defenisi yang sesaui dan pas. Tas}diq (Pembenaran) ; cara mengetahuinya adalah dengan mengemukakan dalil.[14]
  3. Fisika; ilmu ini membahas tentang benda-benda langit dan apa saja yang ada biwahnya, menurut al-Gaza>li>y bahwa alam ini di kendalikan oleh Allah ta’ala dan tidak bekerja sendiri-sendiri bahkan ala mini dipekerjakan dari sisi penciptanya. Matahi, bulan dan bintang-bintang serata unsure-unsur alam semesta kesemuanya tunduk dibawah perintah-Nya, sehingga tidak terdapat satupun benda yang bekerja dengan sendirinya tanpa perintah Allah swt.
  4. Theologi (ke-Tuhan-an) ; menurut al-Gaz>li>y bahwa pernyataan para filosof tentang persoalan ini penuh dengan perselisihan faham disebabkan karena dali-dalil Mant}iqiyyah yang telah mereka persyaratkan dalam membahas persolan ini tidak mampu mereka realisasikan. Dari seluruh pendapat ke-filsafat-an tentang ke-Tuhan-an, maka filsafat aristoteles (Filsafat metafiska atau filsafat pertama) yang hampir menyeruapai pemahaman dalam Islam menurut pendapat al-Faraby dan dan Ibnu Sina. Menurut al-Gaza>li>y bahwa seluruh pendapat mereka (para Filosof) tentang ke-Tuhan-an kembali kepada dua puluh persoalan, tiga diantaranya dapat mengkafirkan mereka dan 17 lainnya dapat menjadikan mereka ahli bid’ah.[15]
  5. Politik : ilmu ini kembali kepada hukum kemaslahatan yang berhubungan dengan urusan kekuasaan dunia.[16]
  6. Etika ; ilmu ini mebahas tentang pembatasan sifat-sifat jiwa, jenis dan ragamnya, bagaimana cara mengobatinya dan melatihnya, menurut al-Gaza>li>y bahwa para filosof mengadopi ilmu ini dari golongan Sufi yaitu golongan ke-Tuhan-an yang senantianas ingat kepada Allah denagn cara berpaling dari kerlezatan duniawi.[17]

  1. 2. Bantahan al-Gaza>li>y Terhadap Filosof

Dalam pegolakan pemikiran al-Gaza>li>y dikenal sangat sering melontarkan sanggahan dan bantahan terhadap hasil pemikiran para filosof teradahulu seperti Aristoteles dan Plato, juga kritiknya terhadap hasil pemikiran al-Fara>bi>y dan Ibnu Sina, karena kedua filosof muslim ini dalam pandangan al-Gaza>li>y adalah manusia yang paling brtanggung jawab dalam menerima dan menyebarluaskan pemikiran para filosof Yunani (Socrates, Aristiteles, Palato) dan memasukkannya kedunia Islam, kritik-kritiknya ini beliau tuangkan dalam karyaanya yang diberi judul Tahafut al-Falasifah (Kesalahan-kesalahan Filsafat). Namun sebelum al-Gaza>li>y menuangkan krtik-kritiknya terhadap pemikiran filosof beliau terlebih dahulu mempelajari filsafat dan mendalaminya yang beliau tuangkan dalam karya beliau yang diberi judul Maqa>s}id al-Fala>sifah (tujuan-tujuan Filsafat) yang mengindikasikan bahwa beliau tidak menyanggah dan mengkritik sesutu yang tidak beliau ketahui sebelumnya.

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan pada bagian terdahulu bahwa al-Gaza>li>y memfokuskan kritiknya dalam Tahafut al-Falasifah pada tiga fokus permasalahan yaitu; 1) Filsafat ke-Tuhan-an atau Metafisika, 2) Filsafat Alam atau Fisika dan 3) Mant}iq, ketiga permasalahan pokok ini  dimana al-Gaza>li>y memandang bahwa kesalahan pendapat para filosof terhadap ketiga masalah ini kembali kepada dua puluh masalah 3 diantaranya dapat mengkafirkan mereka dan 17 lainnya menjadikan mereka ahli bid’ah.

Berikut ini percikan filsafat al-Ghazali dalam mengkritik pendapat para filosof :

Pertama; masalah qadim-nya alam, bahwa tercipta dengan tidak bermula, tidak pernah tidak ada di masa lampau. Bagi al-Ghazali yang qadim hanyalah Tuhan. Selain Tuhan haruslah hadits (baru). Karena bila ada yang qadim selain Tuhan, dapat menimbulkan paham:

  1. Banyaknya yang qadim atau banyaknya Tuhan; ini syirik dan dosa besar yang tidak diampuni Tuhan; atau
  2. Ateisme; alam yang qadim tidak perlu kepada pencipta.

Memang, antara kaum teolog dan filosof terdapat perbedaan tentang arti al-ihdats dan qadim. Bagi kaum teolog al-ihdats mengandung arti menciptakan dari “tiada” (creatio ex nihilo), sedang bagi kaum filosof berarti menciptakan dari “ada”. Kata Ibnu Rusyd, ‘adam (tiada) tidak akan bisa berubah menjadi wujud (ada). Yang terjadi adalah “wujud’ berubah menjadi “wujud” dalam bentuk lain. Oleh karena itu, materi asal, yang dari padanya alam disusun, mesti qadim. Dan materi pertama yang qadim ini berasal dari Tuhan melalui al-faidh (pancaran). Tetapi menurut al-Ghazali, penciptaan dari tiadalah yang memastikan adanya Pencipta. Oleh sebeb itu, alam pasti “baru” (hadits) dan diciptakan dari “tiada”.[18]

Dalam pemikiran al-Ghazali, sewaktu Tuhan menciptakan alam, yang ada hanyalah Tuhan. Disinilah Sulaiman Dunya mencacat al-Ghazali sebagai baina al-falasifah wa al-mutakallimin, karena secara substansial al-Ghazali berfikir sebagai teolog, tetapi secara instrumental berfikir sebagai filosof. Tetapi, karena itu juga, di lain pihak justru al-Ghazali dinilai “kacau” cara berfikirnya oleh Ibn Rusyd dalam Tahafut al-Tahafut. Apalagi tampak jelas kekacauan al-Ghazali itu, kata Ibnu Rusyd, ketika berbicara tentang kebangkitan jasmani yang terlihat paradoksal antara al-Ghazali sebagai teolog dan filosof dan sebagai sufi.

Kedua, mengenai Tuhan tidak mengetahui juz`iyyat. Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa pertentangan antara al-Ghazali dan para filosof tentang hal ini timbul dari penyamaan pengetahuan Tuhan dengan pengetahuan manusia. Jelas bahwa kekhususan (juz`iyyat) diketahui manusia melalui panca indera, sedangkan keumuman (kulliyah) melalui akal.[19] Penjelasan Ibnu Rusyd selanjutnya: Tuhan bersifat immateri yang karenanya tidak terdapat panca indera bagi Tuhan untuk pengetahuan juz`iyyat. Selanjutnya, pengetahuan Tuhan bersifat qadim, sedang pengetahuan manusia bersifat baru. Pengetahuan Tuhan adalah sebab, sedang pengetahuan manusia tentang kekhususan adalah akibat. Kaum filosof, kata Ibnu Rusyd, tidak mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan tentang alam bersifat juz`i atau pun kulli.[20]. Begitulah tanggapan Ibnu Rusyd untuk menanggapi pendapat al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah itu.

Ketiga, tentang kebangkitan jasmani. Kritik al-Ghazali bahwa para filosof tidak percaya adanya kebangkitan jasmani, menurut Ibnu Rusyd salah sasaran. Yang benar, kata Ibnu Rusyd, bahwa para filosof tidak menyebut-nyebut hal itu. Ada tulisan mereka yang menjelaskan tidak adanya kebangkitan jasmani dan ada pula yang sebaliknya.[21]

Tiga pemikiran itulah yang menjadi bahasan utama al-Ghazali dalam kitabnya Tahfut al-Falasifah, dan selanjutnya ia mengkafirkan para filosof lantaran pendapat mereka tentang tiga hal tersebut berbeda dengan pemikirannya. Tindakan pengkafiran inilah yang dianggap mempengaruhi dan membuat orang Islam enggan bahkan takut mempelajari filsafat, dan menjadi biang kemunduran pemikiran di kalangan umat Islam.

KESIMPULAN

Dari seluruh pemaparan tentang al-Gaza>li>y mulai dari riwat hidup beliau hingga bantahan beliau terhadap para filosof, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Imam al-Gaza>li>y bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Thu>siy> al-Gaza>li>y yang lahir di Kampung Gazal, Thus pada tahun 450 H (1085 M) dan wafat pada tahun 505 H (1111 M). beliau adalah seorang yang sangat terpandang dari segi intelektual pada masanya hingga beliau menjabat sebagai Rektor Universitas al-Naz{z{a>miyyah sebanyak dua kali dan pernah menjadi Mufti dan guru besar Negara. Beliau memiki karya yang sangat banyak yang meliputi bidang agama, ushul fiqh, filsafat, tasawuf, dan pemerintahan. Para ulama baik sezaman dengan beliau maupun yang datang kemudian memberikan gelar kepada beliau sebagai Hujjat al-Islam karena keberaniannya mengungkapkan bentuk-bentuk kesesatan berfikir para filosof terdahulu.
  2. Al-Gaza>li>y memiliki panadangan filosofis berdasakan pendapat-pendapat filosof terdahulu seperti; Socrates, Plato, Aristoteles dari kalangan filosof Yunani, kemudian mengambil dari al-Fara>bi>y dan Ibnu Si>na> dari kalangan filosof muslim dan menuangkannya dalam karya yang beliau beri judul Maqa>s}id al-Fala>sifah (Tujuan-tujuan Filsafat), sehingga kemudian beliau membagi filsafat kedalam enam bagian yaitu: Filsafat Matematika, Filsafat Logika, Filsafat Alam, Filsafat Theology (ke-Tuhan-an), dan Filsafat Etika. Setelah beliau mempelajari secara mandiri dan mendalam akan keenam bagian filsafat ini beliau menemukan pertentangan dan silang pendapat antar para filosof tentang hubugan antara Filsafat Theology dengan lima filsafat lainnya yang membuat beliau sakit dan tidak mampu meneruskan kegiatan belajar dan mengajar akibat dari kegamangan spiritual beliau tentang perkara tersebut, kemudian beliau memutuskan untuk melakukan rihalah spiritual untuk menemukan jawaban dari silang pendapat tersebut. Akhirnya sekembalinya dari rihlah spiritual kemudian beliau membaca kembali pendapat para filosof terdahulu kemudian mengkritiknya secara filosofis pula dengan fokus pada tiga perkara; 1) Filsafat ke-Tuhan-an atau Metafisika, 2) Filsafat Alam atau Fisika, dan 3) Mant}iq, sebagaimana yang belaiu uraikan secara detail dalam karya beliau Taha>fut al-Falasifah (Kesalah – kesalahan Filsafat), meskipun kemudian Ibnu Rusyd (Averos) membantah karya tersebut dalam sebuah karya yang diberi judul Tahafut al-Tahafut al-Fala>sifah (Kesalahan dalam Kitab Tahafut al-Fala>sifah) secara filosofis pula.

[1] Zaki Mubarak, al-Akhla>q ‘Inda al-Gaza>li>y dalam Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya (Cet. I; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 155

[2] Dalam peristilahan orang arab bahwa apabila seseorang dipanggil dengan kata Abu atau Ummu yang disandarkan kepada anak pertama di sebut dengan Kuniyah

[3] Philip. K. Hitti, History Of The Arabs dalam Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam (Cet. I; Semarang: CV. Toha Putra, 1993), h. 63

[4] Ibid,.

[5] Ibid., h. 55

[6] Najib Ullah, Islamic Literature dalam Thawil Akhyar Dasoeki, Ibid., h. 56

[7] Himawijaya, Mengenal Al-Ghazaly For Teens; Keraguan adalah Awal Ketakinan (Cet. I; Bandung: Darul Mizan, 2004), h. 19

[8] Abu al-Hasan al-Nadawiy, Rija>l al-Fikr wa al-Da’wah fi> al-Isla>m (Cet. I, Kuwait: Dar al-Qalam, 1969) h. 200

[9] Sudarsono, Filsafat Islam (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 94

[10] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 63

[11] Untuk mengetahui seluruh karya-karya al-Gazaliy, maka baca Abd al-Rahman Badawiy, Muallafat al-Gazaliy (Cet. II; Kiwait: Wakalah al-Matbu’ah, 1977).

[12] Shaleh Ahmad al-Syamiy, Al-Imam al-Gazaliy; Hujjat al-Islam wa Mujaddid al-Miati al-Khamisati (450-505 H) (Cet. I; Damaskus: Dar al-Qalam, 1413 H / 1993 M), h. 5

[13] Imam al-Ghazali, al-Munqid} min al-D}alal diterjemahkan oleh  Marzuqi Aqmal, Bahaya Aliran Sesat dan Upaya Keluar dari Kesesatan (Cet. I; Gresik: Putra Pelajar, 2005), h. 31

[14] Ibid., h. 35

[15] Ibid., h. 37

[16] Ibid., h. 38

[17] Ibid., h. 39

[18] Ibid., h. 22-104

[19] Muhammad bin Ahmad bin Rusyd (w. 526-595 H), Tahafut al-Tahafut (Cet. I; Cairo: Dar al-Maarif, 1964), h. 711

[20] Ibid., h. 702-703

[21] Ibid., h. 873-874

%d blogger menyukai ini: