h1

MENGAPA MENJADI PENGEMIS?

27 Juli 2010

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinanti kedatangannya oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, bulan di dalamnya keberkahan berlimpah ruah, jiwa-jiwa kaum muslimin bersiap untuk menerima dan menjalankan segala titah Tuhannya dan sunnah Rasulnya serta meninggalkan segala larangan-laranganNya.

Bulan yang penuh berkah ini tidak lepas dari pelbagai kebaikan yang sarat makna dan pahala seperti Shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an, bersedekah, berinfaq, berzakat, berbagi ilmu dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Keberkahan bulan Ramadhan ini tidak pernah lepas dari panatauan kaum papah yang mengais rezeki dari tangan-tangan para derma ikhlash, sehingga mereka berusaha mengambil posisi-posisi strategis di sudut-sudut pasar, emperan toko, dan halaman masjid menengadahkan tangan memohon belas kasih (menegemis).

Ramadhan menjadi momen yang sangat baik bagi para pengemis untuk dapat menambah penghasilan yang lebih banyak, ironisnya jumlah para pengemis di bulan ramadhan lebih besar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Banjirnya para pengemis pada bulan ramadhan disetiap tahunnya mengundang berbagai reaksi dari kalangan masyarakat mulai dari elitnya hingga masyarakat bawah, contohnya adalah Gubernur DKI Jakarta menyatakan: “Tindakan tegas akan diterapkan untuk membersihkan Jakarta dari keberadaan pengemis,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, (www.Kompas.com, Senin 12/7/2010). Sementara itu Kepala Kantor Satpol PP Kota Bengkulu menyatakan : “Kita segera melakukan penertiban para pengemis di daerah ini agar jumlahnya tidak meningkat menjelang bulan suci Ramadhan nanti,” kata Chairul Saleh. (www.nusantara.tvone.co.id, Kamis, 22/7/2010).

Pada tahun 2009 yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan fatwa haram mengemis. Para ulama, khususnya di daerah Sumenep mulai khawatir dengan aktivitas yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga itu. (www.news.okezone.com, Senin, 24/8/2009).

Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. “Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta,” kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, (www.berita.liputan6.com, Selasa 25/8/2009).

Bukanlah merupakan sebuah kenyataan yang mengherankan akan membeludaknya pengemis -baik yang profesional maupun yang otodidak- pada bulan ramadhan sebab mereka meyakini bahwa pada bulan ini semua kaum muslimin yang taat berusaha mencari jalan kebaikan menuju keridhaan Tuhannya dan diantara jalan kebaikan itu adalah berinfaq dan bersedekah.

Sebelum lebih jauh menetapkan hukum mengemis, Problematika yang terlebih dahulu harus diketahui dan diselesaikan adalah apa penyebab orang itu menjadikan jalan mengemis sebagai alternatif dalam mengais rezeki?, berikut ini akan diuraikan secara detail Insya Allah.

SEBAB-SEBAB ORANG MENGEMIS

Terdapat lima penyebab utama orang mengais rezeki dengan jalan mengemis Pertama: Menganggur, dimana para pengangguran tidak memiliki sense of work (etos kerja), tidak memikirkan jalan lain untuk mengisi kekosongan waktu mereka dengan hal-hal positif yang dapat memenuhi kebutuhan harian mereka, yang kemudian mereka menganggap bahwa mengemis merupakan jalan satu-satunya yang dapat mereka tempuh, padahal Nabi Saw telah mewasiatkan kepada kita untuk bekrja sebagaimana dalam sabda belaiu Saw: “Seseorang diantara kalian mengambil seutas tali kemudian mencari kayu bakar lalu menjualnya, kemudian makan dan bersedekah dari hasil penjualan (kayu tersebut) itu lebih baik dari pada mengemis” (H.R Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan tercelanya penghasilan para pengemis yang merupakan akibat dari menganggur dan mulianya penghasilan orang yang bekerja (tidak menganggur).

Kedua; Serakah, terkadang dianatara manusia ada yang telah mendapatkan pekerjaan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup harian mereka, namun karena keserakahan mereka menjadikan jalan mengemis sebagai pekerjaan sampingan (secondary work) padahal Allah Swt menjadikan harta dunia ini bertujuan untuk dinikmati saja bukan untuk di kumpulkan dan timbun, karena para penimbun harat adalah orang-orang yang celaka baik di dunia maupun diakhirat (Q.S al-Humazah 1-8).

Ketiga; Bobroknya Pendidikan Lingkungan Rumah, terkadang seseorang hidup dalam lingkungan rumah yang di dalamnya hidup para pengangguran dan pengemis, sehingga ia tumbuh dan besar sebagai pengagguran dan pengemis. Kenyataan ini dapat kita dapati di kota-kota besar, jika kita memperhatikan para pengemis hari  ini, maka kita akan menemukan bahwa mayoritas dinatara mereka adalah ayah, ibu, kakak dan adik (satu keluarga) yang berpencar dan duduk di emperan-emperan toko, disudut-sudut jalan, pasar, halaman masjid sambil menengadahkan tangan mereka kapada orang-orang yang melintasi mereka dengan satu kesatuan kalimat “Sedekah”.

Keempat; Bobroknya Pendidikan Sekolah, kebobrokan pendidikan sekolah bisa juga menjadi penyebab utama munculnya para pengemis, dimana sekolah memberikan beban SPP yang terlalu mahal kepada siswa yang berkekurangan, atau tidak adanya wejangan dan nasehat guru kepada mereka untuk menjadi manusia mulia dengan mengais rezeki dari hasil kerja dan keringat mereka tanpa mengharapkan uluran belas kasihan orang lain, dan lain sebagainya.

Kelima; Rusaknya moral masyarakat, kerusakan moral masyarakat menjadi salah satu penyebab utama munculnya pengemis, dimana penyebab kerusakan moral sangatlah banyak, sementara lapangan kerja positif sangat kurang, disisi lain terdapat sekolompok masyarakat yang berusaha memenuhi kebutuhan syahwat dan kesenangannya dengan menggunakan berbagai cara, termasuk salah satunya adalah dengan cara mengemis.

KESIMPULAN

Dari kelima penyebab utama munculnya pengemis ini dapat disimpulkan bahwa faktor terbesar orang mengemis dapat dilihat dari tiga faktor utama yaitu; 1). Pendidikan; dimana para pengemis ini memilih jalan mengemis disebabkan karena tidak adanya penguat bagi jiwa-jiwa mereka untuk menjadi mulia, 2). Masyarakat; dimana masyrakat hari memarjinalkan kaum papah dari selainnya, sehingga mereka tidak bias mendapatkan kekuatan dan kemerdakaan jasad dan ruh dalam menjari penghasilan positif,  3), Ekonomi; dimana orang-orang Fakir menjamur dibarengi dengan terabaikannya program-program penaanggulangan akan kebutuhan mereka serta kurangnya perhatian kaum elit atas nasib mereka. Wallahu A’lam Bishowab

%d blogger menyukai ini: