h1

SEJARAH PERTUMBUHAN HADIS

19 Januari 2010

A. Periwayatan Hadis pada periode Rasulullah saw

Pembahasan tentang hadis dan periwatannya pada periode Rasulullah saw akan berkaitan langsung dengan pembahasan tentang pribadi Rasulullah saw sebagai sumber hadis. Rasulullah saw telah menghabiskan 23 tahun masa hidupnya dalam menyeru kepada Islam, menyampaikaan hukum-hukumnya dan mengajrkannya, periode ini merupakan periode wahyu, pengajarannya dan pengamalannya yang merupakan tonggak awal bagi terciptanya peradab Islam.[1]

Dalam kurun waktu 23 tahun Rasulullah hidup bersama para sahabatnya tanpa ada dinding pemisah dengan mereka, Rasulullah saw bercampur dengan mereka baik dimasjid, pasar, rumah, dalam perjalanan dan pemberhentian. Sebab Rasulullah merupakan sumber kehidupan keagamaan dan keduniawian sejak beliau ditus sebagai Rasul Allah swt hingga wafatnya yang senantiasa membawa manusia menuju kepada kesejahteraan hidup baik didunia maupun di akhirat.

Para sahabat senantiasa berusaha untuk tidak melapaskan diri dari kebersamaannya dengan Rasulullah saw bahkan mereka senantiasa bergantian menemani Rasulullah saw dalam segala bentuk keadaan demi untuk mengikuti Raslulullah baik dalam sabda maupun perbuatan dan persetujuannya.[2]

Rasulullah saw dalam mengajarkan hadis kepada para Sahabat beliau menempuh beberapa metode, memurut M.M. Azami setidaknya terdapat tiga kategori metode Rasulullah saw mengajarkan hadis,[3] yaitu:

1. Metode Lisan

Rasulullah saw adalah guru bagi sunnahnya, sehingga untuk memudahkan hafalan dan pengertian beliau saw senantiasa mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali setelah beliau selesai mengajrkannya kepada para Sahabat, biasanya beliau mendengarkan kembali dari Sahabat tentang apa yang telah mereka pelajari.

Banyak kaum muslimin dari daerah-daerah terpencil yang datang ke Madinah untuk mengambil hadis dan mengikuti Sunnah Rasulullah saw, sehingga para Sahabat yang ada di Madinah bertanggungjawab terhadap akomomodasi dan pendidikan mereka dalam ilmu al-Qur’a>n dan Sunnah. Metode yang Rasulullah saw pergunakan untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap ilmu Al-Qur’a>n dan Sunnah dengan melemparkan beberapa pertanyaan.[4]

2. Metode Tulisan

Rasulullah saw adalah seorang Ummi> (tidak dapat membaca dan menulis), namun metode ini ditempuh dengan menggunakan perantaraan para Kutta>b al-Wahyi (para penulis wahyu) seperti, Zaid Bin S{abit, Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi T{alib dan Ubay bin Ka’ab.

Pengajaran Rasulullah saw terhadap para Sahabat dengan metode ini dapat dibuktikan melalui surat-surat Rasulullah saw kepada para raja, penguasa, kepala suku, dan gubernur kaum Muslimin. Beberapa surat itu sangat panjang mengandung berbagai masalah dalam Islam seprti; s{alat, zakat, puasa, bentuk-bentuk ibadah dan lainnya. Dalam kategori ini dapat dimasukkan pula beberapa hal yang didiktekan Rasulullah saw kepada para Sahabat seperti yang didiktekan kepada Ali bin Abi T{a>lib, beberapa tulisan Abdullah bin ‘Amr bin ‘A<s} dan perintah beliau untuk mengirimkan salinan khutbah kepada Abu> Syat al-Yama>ni>.[5] dan banyak lagi yang lainnya.

3. Metode Praktek

Rasulullah saw sebagai pembawa risalah Allah swt secara lahir dan batin sehingga setiap perkataan dan perbuatannya merupakan dasar hukum yang wajib untuk diikuti oleh setiap komunitas dan individu muslim. Para Sahabat tidak membatasi diri dalam Iqtida’ dan Ittiba’ (mengikuti) mereka kepada Rasulullah saw sehingga hamper seluruh peraktek baik ibadah maupun muamalh yang dilaakukan oleh para Sahabat berasal dari praktek-praktek Rasulullah saw yang mereka lihat dan amati dan menjadi pengajaran bagi mereka.

Rasulullah saw dalam memberikan penjelasan-penjelasan praktis terhadap perkara-perkara ibadah dan uamalah senantiasa disertai dengan perintah untuk mengikutinya contohnya adalah ketika beliau mengajrakan tata cara s}alat kemudiaan beliau bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Terjemahannya: S{alatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku s{alat.[6]

Penerimaan para Sahabat terhadap hadis-hadis yang diajarkan oleh Rasulullah saw melalui tiga metode di atas bertingkat-tingkat sebab perbedaan mereka dari beberapa sisi seperti, perbedaan kesempatan mereka bersama Rasulullah saw, perbedaan dalam kesanggupan mereka untuk senantiasa menemani Rasulullah saw, perbedaan jarak antara mereka dengan majlis-majlis Rasulullah saw apalagi saangat jarang sekali para Sahabat berkumpul kecuali dalam waktu-waktu tertentu seperti; waktu Jum’at, iedul fit}ri, iedul ad}h{a>, dan beberapa kesempatan-kesempatan tertentu, perbedaan antara mereka dalam kemampuan menghafal dan kesungguhan bertanya, serta perbedaan mereka dalam masuk Islam.[7]

Selain perbedaan-perbedaan tersebut diatas faktor lain yang menyebabkan para Sahabat bertingkat-tingkat dalam menerima dan memahami hadis Nabi saw adalah karena Rasulullah saw dalam memberikan wejangan tidak setiap hari beliau senantiasa menyelang-nyelingi dihari-hari yang berbeda[8] sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dari Ibnu Mas’u>d bahwasanya beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Terjemahannya: “Nabi saw menyelang-nyeling kami nasehat demi nasehat, karena beliau tidak ingin kebosanan menimpa kami”[9]

Berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya perbedaan tingkat pengetahuan Sahabat terhadap hadis-hadis Nabi saw  sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, maka Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi saw dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan sebagai berikut:

a. Sahabat yang tergolong dalam al-Sa>biqu>na al-Awwalu>n (yang mula-mula masuk Islam) dari kalangan Muhajiri>n dan Ans}a>r seperti Abu Bakar, Umar bin al-Khat}t}a>b, Us}ma>n bin ‘Affa>n, ‘Ali bin Abi> T{a>lib, dan Ibnu Mas’u>d.

b. Ummaha>t al-Mu’minin (istri-istri Rasulullah saw) seperti ‘A<isyah dan Ummu Salamah, dimana kesempatan mereka bersama Rasulullah saw sangat banyak dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

c. Sahabat yang kebersamaannya bersama Rasulullah saw sangat banyak bahkan menulis banyak hal tentang Rasulullah saw mulai dari perkataan bahkan perbuatan beliau saw seperti sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s}.

d. Sahabat yang kebersamaannya dengan Rasulullah saw sangat singkat tatapi karena kesungguhannya dalam mengumpulkan dan menghafal hadis-hadis Rasulullah saw baik yang dia dengarkan langsung dari Rasulullah saw maupun dari sahabat lain, menyebabkan sahabat tersebut dapat meriwayatkaan banyak hadis dari sahabat yang lain, seperti sahabat Abdurrahman bin S{akhr Abu Hurairah ra.

e. Sahabat yang senantiasa secara tekun dan bersungguh-sungguh mengikuti majlis-majlis Rasulullah saw dan banyak bertanya kepada sahabat lain yang jauh lebih tua dari mereka dan masa hidup mereka relative lebih lama setelah wafatnya Rasulullah saw seperti; Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Abbas, dan Anas bin Ma>lik.[10]

Secara umum peranan sahabat dalam menyertai tugas Rasulullah saw sebagai penyampai risalah Allah di muka dijelaskan oleh Ima>m Abu> H{atim al-Ra>zi> sebagi berikut:

Maka adapun para sahabat-sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang menykasikan turunnya wahyu dan paling mengetahui tafsi dan ta’wilnya, dan mereka itulah orang-orang yang dipilih oleh Allah swt untuk menyertai Nabi-Nya dan membelanya, serta mereka teguh dalam beragama, berani menyatakan yang benar sehingga Rasul saw sangat menykai mereka.[11]

Sikap-sikap inilah yang dimaksud dalam al-Qur’a>n yang menyatakan sebagai berikut:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…

Terjemahannya: Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah : 143)

Dan yang dimaksud dengan umat pertengahan (ummatan wasat}an) adalah umat yang bersifat adil dan pilihan, dan keadaan sahabat-sahabat Nabi saw adalah paling adil diantara umat disampin mereka sebagai imam-imam yang menunjukkan ke jalan hidayah Allah dan penyalin al-Qur’an dan al-Sunnah.[12]

A. Periwayatan Hadis pada periode sahabat dan tabi’in

1. Perwayatan hadis pada periode S{ah}a>bat

Sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Rasulullah saw dalam keadaan muslim dan wafat dalam keadaan Islam.[13]

Setelah wafatnya Rasulullah saw para Sahabat diperhadapkan dengan masalah penyebaran Sunnah, penjagaannya dan penukilannya sebagaimana yang mereka dengarkan dari Rasulullah saw yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan, dimotivasikan, diperintahkan dan dibebankan kepada mereka dalam banyak hadis yang mutawatir diantaranya adalah sabda Rasulullah saw:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ

Terjemahannya: Allah akan memberikan cahaya pada wajah mereka yang mendengar satu hadis dari kami kemudian ia menghafalkannya hingga menyampaikan…[14]

Riwayat lain yang menjelaskan bahwa para sahabat diperintahkan untuk menyebarkan hadis adalah sabda Rasulullah saw:

لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْه

Terjemahannya: hendaklah yang hadir (diantara kalian) menyampaikan kepada yang tidak hadis, karena sesungguhnya yang hadir dapat menyampaikan (suatu berita yang ia dengarkan dan saksikan) akan apa yang dia pahami kepada yang tidak memahami (perkara tersebut).[15]

Hadis diatas dan beberapa hadis-hadis yang lain tentang perintah menyebarkan ilmu memperrtegas akan kewajiban para sahabat menyampaikan amanah Rasulullah saw kepada seluruh kaum muslimin, apalagi mereka telah berpencar diseluruh penjuru negeri, dan mereka menjadi tumpuan para tabi’i>n dan juga menjadi tujuan perjalanan mereka. Sebab para tabi’i>n senantiasa mengikuti berita tentang keberadaan mereka dan mendatangi mereka betapapun jauhnya jarak dan beratnya perjalanan,[16] oleh karenanya para Sahabat Nabi saw kemudian menjalankan amanah tersebut dan menyampaikan risalah, serta menyebarkan riwayat-riwayat dari Nabi saw sebagaimana yang mereka terima kepada seluruh dunia.[17]

Pada periode Sahabat bentuk periwayatan dilakukan secara lisan dan ini hanya diberlakukan ketika kaum muslimin sangat membutuhkan penjelasan hukum, sebab Khulafa>u al-Ra>syidi>n dapat menerima riwayat seseorang apabila disertai dengan saksi penguat bahkan Ali bin Abi T{a>lib dapat menerima suatu riwayat jika disertai dengan saksi dan sumpah. Oleh karena itu masa Khulafa>u al-Ra>syidi>n dalam hal periwayatan disebut sebagai masa taqli>l al-riwa>yah (pembatasan riwayat).[18]

Dari keterangan di atas tampak bahwa para Khulafa>u al-Ra>syidi>n mulai melakukan penelitian akan kebenaran suatu riwayat utamanya dari segi sanad.

Pembatasan periwayatan hadis pada masa Khulafa>u al-Ra>syidi>n tidak berarti pembatasan penyiaran Sunnah Nabi saw, akan tetapi merupakan bentuk tindakan kehati-hatian dalam agama agar tidak terjatuh dalam kesalahan yang tidak disengaja, sebab ingatan mereka tidak dapat menolong mereka untuk dapat menuturkan hadis-hadis Nabi saw menurut lafaz} atau bentuknya sebagaimana yang mereka terima dari Nabi saw. Tujuan lain dari pembatasan periwayatan pada masa itu adalah agar kaum muslimin tidak terlalu disibukkan dengan hadis dan mengenyampingkan al-Qur’an sebab al-Qur’an pada masa itu masih tergolong baru dan membutuhkan perhatian yang cukup besar dalam penyebarannya, penjagaannya, pengajarannya dan pengamalannya.[19]

Akibat dari pembatasan periwayatan pada masa itu kemudian para sahabat berbeda-beda dalam meriwayatkan hadis dari segi kwantitasnya, diantara mereka ada yang sedikit dalam meriwayatkan hadis seperti; al-Zubair bin al-‘Awwa>m, Zaid bin Arqam dan ‘Imra>n bin H{us}ain,[20] dan adapula diantara mereka yang banyak dalam meriwayatkan hadis dan terdapat enam orang sahabat yang tergolong dalam kategori ini, mereka adalah:

a. Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr, beliau meriwayatkan sebanyak 5.374 hadis. Jumlah ini sebenarnya adalah jumlah jalur (sanad) hadis yang dimiliki oleh Abu Hurairah adapun jumlah hadis yang dikumpulkan oleh Abu Hurairah berdasarkan hasil penelitian Z}iyaurrahma>n al-A’z{ami> adalah sebanyak 1.326 hadis.[21]

b. Abdullah bin Umar, beliau meriwayatkan sebanyak 2.630 hadis.

c. Anas bin Ma>lik, beliau meriwayatkan sebanyak 2.284 hadis.

d. ‘A<isyah binti Abu> Bakar Ummu al-Mu’mini>n, beliau meriwayatkan sebanyak 2.210 hadis.

e. Abdullah bin ‘Abbas, beliau meriwaytkan sebanyak 1.660 hadis

f. Ja>bir bin Abdullah, beliau meriwaytkan sebanyak 1.540 hadis.[22]

g. Abu Sa’i>d al-Khudri>, beliau meriwayatkan sebanyak 1.170 hadis

h. Abdullah bin Mas’u>d, beliau meriwayatkan sebanyak 748 hadis

i. Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s{, beliau meriwayatkan sebanyak 700 hadis

j. Khalifa Umar bin al-Khat{t{a>b, beliau meriwayatkan sebanyak 537 hadis

k. Khalifah Ali bin Abi T{a>lib, beliau meriwayatkan sebanyak 536 hadis

l. Abu Mu>sa> al-Asy’ari>, beliau meriwayatkan sebanyak 360 hadis

m. Al-Barra>’ bin ‘A<z}ib, beliau meriwayatkan sebanyak 305 hadis.[23]

Sahabat yang banyak meriwayatkan hadis pada masa pembatasan riwayat disebabkan karena beberapa alasan, dianataranya; karena menyaksikan perilaku Rasulullah saw dalam internal rumah tangga seperti ‘Aisyah ra, atau karena lebih dahulu bersabat dengan Rasulullah saw seperti Abddullah bin Mas’ud, atau karena sangat lama menjadi kha>dim (pembantu) Rasulullah saw sehingga setiap perintah dan larangan yang ia dengarkan langsung dari lisan Rasulullah saw terekam dengan baik seperti Anas bin Ma>lik, atau karena ketekunannya dalam mengumpulkan, menghafalkan dan bertanya semasa Rasulullah saw hidup seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s{, Abu Hurairah.[24] Adapun periwayatan secara tulisan pada periode ini belum begitu terkodifikasi dengan baik, sebab pada masa Rasulullah saw pernah terjadi pelarangan penulisan hadis, sebagaimana sabda Nabi saw :

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Terjemahannya: Jangan kalian menulis (sesuatu) dariku, dan barangsiapa yang menulis (sesuatu) dariku selain al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya.[25]

Muhammad bin Khalfah dalm Ikma>l Ikma>l al-Mu’allim ketika menjelaskan hadis ini beliau berkata:

Diantara para ulama memakruhkan penulisan ilmu berdasarkan hadis ini, dan yang lain membolehkannya berdasarkan izin Raslullah saw terhadap Umar untuk menulis, sabda beliau: “Tulislah seuatu untuk Abu Syah”, sabda belaiu saw kepada seorang sahabat yang susah mengahafal dengan berkata: “Bantulah dengan tangan kananmu (tulislah)”, dan Rasulullah saw pernah menulis (melalui perantraan juru tulisnya) tentang masalah zakat dan diyat kemudian memerintahkan untuk disiarkan, sebab jika tidak ditulis, maka ilmu tersebut akan hilang. Hadis ini ditujukan pada pelarangan penulisan Hadis dengan al-Qur’an dalam satu catatan karrena dikhawatirkan terjadi pencampuran antara perkataan Allah swt dan perktaan Rasulullah saw sehingga pembacanya ragu (antara al-Qur’an dengan Hadis).[26]

Meskipun demikian terdapat banyak bukti yang ditemukan oleh para ulama, bahwa para sahabat telah mulai mengumpulkan hadis-hadis pada masa hidupnya Nabi saw dengan cara menulis diantaranya adalah surat-surat dakwah Rasulullah saw kepada para penguasa dan tokoh bangsa, surat perjanjian seperti perjanjian H{udaibiyyah, al-S{ah}i>fah al-S{a>diqah karya Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s}, tulisan ‘Ali dalam S{ah}ifah-nya, tulisan yang diperintahkan Nabi saw kepada Abu Syah pada masa Fath} Makkah (penaklukan Mekkah),[27] hadis-hadis yang dikumpulkan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, dan Abu Hurairah dan lain-lain, hanya saja tulisan-tulisan ini bersifat individual.

Sementara itu bentuk periwayatan pada periode ini tidak terbatas pada periwayatan Sahabat kepada Tabi’i>n semata, tetapi juga terjadi periwatan antar Sahabat sebagaimana yang pernah berlaku pada masa Rasulullah saw, seperti yang dilakukan oleh Abu Hurairah ra dimana hadis-hadis yang terkumpul dalam S{ah}i>fah al-S{ah}ih}ah}-nya tidak semuanya berasal dari riwayat Rasulullah saw yang dia dengarkan langsung melainkan juga terdapat riwayat-riwayat dari sahabat lainnya utamanya dari kalangan sahabat senior (kiba>r al-S{aha>bah).

2. Periwayatan hadis periode Ta>bi’i>n

Ta>bi’i>n adalah mereka yang bertemu dengan para Sahabat NAbi saw dalam keadaan muslim dan wafat dalam keadaan muslim pula, dan dikatakan bahwa Tabi’i>n adalah mereka yang menemani para Sahabat NAbi saw.[28]dalam segala bentuk dan keadaan.

Periwayatan hadis pada masa Tabi’i>n sama dengan apa yang terjadi pada masa sahabat yaitu kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis , meskipun keadaan mereka tidak seberat dengan keadaan pada masa Sahabat, dimana al-Qur’an sudah terkodifikasi dalam satu mus{haf sehingga tidak lagi terjadi keraguan akan percampuran antara al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi saw. Selain itu pada masa akhir pemerintahan Khulafa>u al-Ra>syidi>n para Sahabat yang mengahafal hadis-hadis Nabi saw telah menyebar ke pelbagai penjuru negeri Islam yang memberikan kemudaham bagi para Tabi’i>n untuk mengambil hadis dari mereka.[29]kondisi pada masa ini menunjukkan terjadinya penyebaran periwatan hadis sehingga masa ini kemudian disebut dengan masa Intisya>r al-Riwa>yah (penyebaran periwayatan).

Tokoh-tokoh periwayat hadis dari kalangan Tabi’in dipelopori oleh al-Fuqaha>u al-Sab’ah (7 pendekar fiqhi) ereka adalah : Sa’i>d bin al-Musayyab, al-Qa>sim bin Muhammad, ‘Urwah bin al-Zubair, Kha>rajah bin Zaid, Abu Salamah bin Abdurrahaman, ‘Ubaidillah bin Abdullah bun ‘Utbah, dan Sulaima>n bin Yasa>r. kesemuanya merupakan tokoh-tokoh hadis dari kalangan Tabi’i>n yang hidup di Madinah.[30]

Adapun tokoh-tokoh hadis dari kalangan Tabi’i>n yang hidup di Makkah adalah : Muja>hid, ‘Ikrimah (pembantu Ibnu Abbas), ‘At}a>’ bin Abi Raba>h, T{a>wu>s bin Ki>sa>n, dan Abu Zubair Muhammad bin Muslim.

Di Iraq, Bashrah, dan Kufah : ‘Alqamah bin Qais, Masru>q, al-Aswad bin Yazi>d, Murrah al-Hamada>ni>, ‘Amir al-Sya’bi>, al-Hasan al-Bas{ri>, dan Qata>dah bin Du’a>mah.[31]

Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan periwayatan hadis mulai berkembang sejalan dengan bertambahnya jumlah ulama yang tertarik menulis dan mengumpulkan fatwa-fatwa para Sahabat dan Kiba>r al-Tabi’i>n (pembesar para Tabi’in) dalam memecahkan setiap permasalahan yang timbul dan untuk mengantisipasi hilangnya hadis-hadis Nabi saw disebabkan karena timbulnya gerakan pemalsuan hadis, ditambah dengan banyaknya para ulama dari kalangan sahabt yang telah wafat. Kondisi ini kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz (99-101 H) dimulailah pergerakan pen-Tadwin-an hadis yang di dahului oleh penghimpunanannya oleh Ibnu Syihab al-Zuhri> di Madinah, kemudian dilajutkan oleh ulama seperti: Ibnu Juraij (w. 150 H di Mekkah), al-‘Awza’i> (w. 156 di Siria), Malik bin Anas (w. 174 H di Madinah).[32]


[1]‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 51

[2]Mus{t{afa> al-Siba>’i>, al-Sunnah wa Maka>natuhu> fi> al-Tasyri’ al-Isla<mi>. Diterj. Nurcholish Majid, Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni (Cet. II; Jakarat: Pustaka Firdaus, 1993 M), h. 13

[3]Muhammad Mus{t{afa> Azami>, Studies in Hadisth Methodology and Literature. Diterj. Meth Kieraha, Mehami Ilmu Hadis; Telaah mMetodologi dan Literatur (Cet. III; Jakarta: PT Lentera Basritama, 1424 H / 2003 M), h. 33

[4]Ibid., 14

[5]Ibid.,

[6]Al-Bukhari>, Loc. Cit.

[7]Mus{t{fa> al-Sib>ai>, Op.Cit., h. 15

[8]Ibid.,

[9]Al-Bukhari>, Op. Cit., kitab al-‘Ilm, Jld. I, h. 42

[10]Hasbi Ash-Shiddiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Cet. I; Bandung: Bulan Bintang, 1965), h. 28

[11]Abdurrahma>\n Abu> H{a>tim al-Ra>zi>, dalam Abdul Mu’i>n S{alih al-‘Ali al-‘Azi>, Difa>’ ‘an Abi> Hurairah (Cet. I; Beirut: Da>r al-Qalam, tth), h. 30

[12]Badri Khaeruman, Otentitas Hadis; Studi Kritis Atas Kajian Hadis Kontemporer (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 94

[13]Mah}mu>d al-T{ah}h}a>n, Taysi>r Mus}t}alah} al-H{adis} (Cet. II; Riyad{: Maktabah al-Ma’a>rif, 1407 H / 1987 M), h. 198

[14]Abu> Da>u>d, Op.Cit., Kitab al-‘Ilm bab Keutamaan Menyebarkan Ilmu, Jld. IV, h. 46

[15]Al-Bukha>ri>, Op. Cit., kitab al-‘Ilm, Jld. I, h. 41

[16]Mus{t{fa> al-Sib>ai>, Op.Cit., h. 20

[17]Nuruddin ‘Itr, Al-Sunnah al-Mut}ahharah wa al-Tah}addiyya>t (Cet. II; Damaskus: Maktabah al-Ittih{a>d, 1406 H / 1986 M), h. 11

[18]Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Cet. I; Jakartaa: Amzah, 2008), h. 48

[19]Mus{t}afa> al-Sib>ai>, Op.Cit., h. 21

[20]Mus{t}afa> al-Sib>ai , Loc.Cit.

[21]Z{iya>urrah}ma>n al-A’z}ami>, Abu> Hurairah fi> D{aui Marwiyya>tihi. (Tesis S2 Fakultas Syari’ah, Mekkah), h. 30

[22]Mah}mu>d al-T{ah}h}a>n, Op. Cit., h. 199

[23]M.M Azami, Memahami, Op.Cit., h. 61-62

[24]Abdul Majid Khon, Op.Cit., h. 49

[25]Muslim bin Hajja>j bin Muslim al-Qusyairi>, S{ah{ih Muslim Ma’a Syarh{ihi Ikma>l Ikma>l al-Mu’allim, Kitab al-Z|uhdi (Cet. I; Beirut: Dar> al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth) h. 305

[26]Ibid.

[27]Abdul ‘Az}i>m Ibra>hi>m Muhammad al-Mat}’a>ni>, Ha>z|a> Baya>n li al-Na>s; al-Syubha>t al-S{ala>s}un al-Mu’a>s}irah li Inka>r al-Sunnah al-Nabawiyyah (Cet. I; Kairo: Maktabah Wahbah, 1419 H/1999 M), h. 39

[28]Mahmu>d al-T{ah{h{a>n, Op.Cit., h. 202

[29]Noor Sulaiman, Antologi Ilmu Hadis (Cet. II; Jakarta: Gaung Persada, 2009), h. 67

[30]Mahmu>d al-T{ah{h{a>n, Op.Cit., h. 203

[31]Manna’ al-Qat}t}a>n, Maba>his} fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Cet. XIX; Beirut: Muassasah al-Risa>lah, 1406 H / 1983M) h. 338-339

[32]M.M. A’zami>, Studies in Early Hadi>th Literature (Cet. I; Malaysia: Islamic Book Trust, 2000), h. 20

Periwayatan Hadis pada periode Rasulullah saw

Pembahasan tentang hadis dan periwatannya pada periode Rasulullah saw akan berkaitan langsung dengan pembahasan tentang pribadi Rasulullah saw sebagai sumber hadis. Rasulullah saw telah menghabiskan 23 tahun masa hidupnya dalam menyeru kepada Islam, menyampaikaan hukum-hukumnya dan mengajrkannya, periode ini merupakan periode wahyu, pengajarannya dan pengamalannya yang merupakan tonggak awal bagi terciptanya peradab Islam.[1]

Dalam kurun waktu 23 tahun Rasulullah hidup bersama para sahabatnya tanpa ada dinding pemisah dengan mereka, Rasulullah saw bercampur dengan mereka baik dimasjid, pasar, rumah, dalam perjalanan dan pemberhentian. Sebab Rasulullah merupakan sumber kehidupan keagamaan dan keduniawian sejak beliau ditus sebagai Rasul Allah swt hingga wafatnya yang senantiasa membawa manusia menuju kepada kesejahteraan hidup baik didunia maupun di akhirat.

Para sahabat senantiasa berusaha untuk tidak melapaskan diri dari kebersamaannya dengan Rasulullah saw bahkan mereka senantiasa bergantian menemani Rasulullah saw dalam segala bentuk keadaan demi untuk mengikuti Raslulullah baik dalam sabda maupun perbuatan dan persetujuannya.[2]

Rasulullah saw dalam mengajarkan hadis kepada para Sahabat beliau menempuh beberapa metode, memurut M.M. Azami setidaknya terdapat tiga kategori metode Rasulullah saw mengajarkan hadis,[3] yaitu:

1. Metode Lisan

Rasulullah saw adalah guru bagi sunnahnya, sehingga untuk memudahkan hafalan dan pengertian beliau saw senantiasa mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali setelah beliau selesai mengajrkannya kepada para Sahabat, biasanya beliau mendengarkan kembali dari Sahabat tentang apa yang telah mereka pelajari.

Banyak kaum muslimin dari daerah-daerah terpencil yang datang ke Madinah untuk mengambil hadis dan mengikuti Sunnah Rasulullah saw, sehingga para Sahabat yang ada di Madinah bertanggungjawab terhadap akomomodasi dan pendidikan mereka dalam ilmu al-Qur’a>n dan Sunnah. Metode yang Rasulullah saw pergunakan untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap ilmu Al-Qur’a>n dan Sunnah dengan melemparkan beberapa pertanyaan.[4]

2. Metode Tulisan

Rasulullah saw adalah seorang Ummi> (tidak dapat membaca dan menulis), namun metode ini ditempuh dengan menggunakan perantaraan para Kutta>b al-Wahyi (para penulis wahyu) seperti, Zaid Bin S{abit, Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi T{alib dan Ubay bin Ka’ab.

Pengajaran Rasulullah saw terhadap para Sahabat dengan metode ini dapat dibuktikan melalui surat-surat Rasulullah saw kepada para raja, penguasa, kepala suku, dan gubernur kaum Muslimin. Beberapa surat itu sangat panjang mengandung berbagai masalah dalam Islam seprti; s{alat, zakat, puasa, bentuk-bentuk ibadah dan lainnya. Dalam kategori ini dapat dimasukkan pula beberapa hal yang didiktekan Rasulullah saw kepada para Sahabat seperti yang didiktekan kepada Ali bin Abi T{a>lib, beberapa tulisan Abdullah bin ‘Amr bin ‘A<s} dan perintah beliau untuk mengirimkan salinan khutbah kepada Abu> Syat al-Yama>ni>.[5] dan banyak lagi yang lainnya.

3. Metode Praktek

Rasulullah saw sebagai pembawa risalah Allah swt secara lahir dan batin sehingga setiap perkataan dan perbuatannya merupakan dasar hukum yang wajib untuk diikuti oleh setiap komunitas dan individu muslim. Para Sahabat tidak membatasi diri dalam Iqtida’ dan Ittiba’ (mengikuti) mereka kepada Rasulullah saw sehingga hamper seluruh peraktek baik ibadah maupun muamalh yang dilaakukan oleh para Sahabat berasal dari praktek-praktek Rasulullah saw yang mereka lihat dan amati dan menjadi pengajaran bagi mereka.

Rasulullah saw dalam memberikan penjelasan-penjelasan praktis terhadap perkara-perkara ibadah dan uamalah senantiasa disertai dengan perintah untuk mengikutinya contohnya adalah ketika beliau mengajrakan tata cara s}alat kemudiaan beliau bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Terjemahannya: S{alatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku s{alat.[6]

Penerimaan para Sahabat terhadap hadis-hadis yang diajarkan oleh Rasulullah saw melalui tiga metode di atas bertingkat-tingkat sebab perbedaan mereka dari beberapa sisi seperti, perbedaan kesempatan mereka bersama Rasulullah saw, perbedaan dalam kesanggupan mereka untuk senantiasa menemani Rasulullah saw, perbedaan jarak antara mereka dengan majlis-majlis Rasulullah saw apalagi saangat jarang sekali para Sahabat berkumpul kecuali dalam waktu-waktu tertentu seperti; waktu Jum’at, iedul fit}ri, iedul ad}h{a>, dan beberapa kesempatan-kesempatan tertentu, perbedaan antara mereka dalam kemampuan menghafal dan kesungguhan bertanya, serta perbedaan mereka dalam masuk Islam.[7]

Selain perbedaan-perbedaan tersebut diatas faktor lain yang menyebabkan para Sahabat bertingkat-tingkat dalam menerima dan memahami hadis Nabi saw adalah karena Rasulullah saw dalam memberikan wejangan tidak setiap hari beliau senantiasa menyelang-nyelingi dihari-hari yang berbeda[8] sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dari Ibnu Mas’u>d bahwasanya beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Terjemahannya: “Nabi saw menyelang-nyeling kami nasehat demi nasehat, karena beliau tidak ingin kebosanan menimpa kami”[9]

Berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya perbedaan tingkat pengetahuan Sahabat terhadap hadis-hadis Nabi saw  sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, maka Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Nabi saw dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan sebagai berikut:

a. Sahabat yang tergolong dalam al-Sa>biqu>na al-Awwalu>n (yang mula-mula masuk Islam) dari kalangan Muhajiri>n dan Ans}a>r seperti Abu Bakar, Umar bin al-Khat}t}a>b, Us}ma>n bin ‘Affa>n, ‘Ali bin Abi> T{a>lib, dan Ibnu Mas’u>d.

b. Ummaha>t al-Mu’minin (istri-istri Rasulullah saw) seperti ‘A<isyah dan Ummu Salamah, dimana kesempatan mereka bersama Rasulullah saw sangat banyak dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

c. Sahabat yang kebersamaannya bersama Rasulullah saw sangat banyak bahkan menulis banyak hal tentang Rasulullah saw mulai dari perkataan bahkan perbuatan beliau saw seperti sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s}.

d. Sahabat yang kebersamaannya dengan Rasulullah saw sangat singkat tatapi karena kesungguhannya dalam mengumpulkan dan menghafal hadis-hadis Rasulullah saw baik yang dia dengarkan langsung dari Rasulullah saw maupun dari sahabat lain, menyebabkan sahabat tersebut dapat meriwayatkaan banyak hadis dari sahabat yang lain, seperti sahabat Abdurrahman bin S{akhr Abu Hurairah ra.

e. Sahabat yang senantiasa secara tekun dan bersungguh-sungguh mengikuti majlis-majlis Rasulullah saw dan banyak bertanya kepada sahabat lain yang jauh lebih tua dari mereka dan masa hidup mereka relative lebih lama setelah wafatnya Rasulullah saw seperti; Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Abbas, dan Anas bin Ma>lik.[10]

Secara umum peranan sahabat dalam menyertai tugas Rasulullah saw sebagai penyampai risalah Allah di muka dijelaskan oleh Ima>m Abu> H{atim al-Ra>zi> sebagi berikut:

Maka adapun para sahabat-sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang menykasikan turunnya wahyu dan paling mengetahui tafsi dan ta’wilnya, dan mereka itulah orang-orang yang dipilih oleh Allah swt untuk menyertai Nabi-Nya dan membelanya, serta mereka teguh dalam beragama, berani menyatakan yang benar sehingga Rasul saw sangat menykai mereka.[11]

Sikap-sikap inilah yang dimaksud dalam al-Qur’a>n yang menyatakan sebagai berikut:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…

Terjemahannya: Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah : 143)

Dan yang dimaksud dengan umat pertengahan (ummatan wasat}an) adalah umat yang bersifat adil dan pilihan, dan keadaan sahabat-sahabat Nabi saw adalah paling adil diantara umat disampin mereka sebagai imam-imam yang menunjukkan ke jalan hidayah Allah dan penyalin al-Qur’an dan al-Sunnah.[12]


[1]‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 51

[2]Mus{t{afa> al-Siba>’i>, al-Sunnah wa Maka>natuhu> fi> al-Tasyri’ al-Isla<mi>. Diterj. Nurcholish Majid, Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni (Cet. II; Jakarat: Pustaka Firdaus, 1993 M), h. 13

[3]Muhammad Mus{t{afa> Azami>, Studies in Hadisth Methodology and Literature. Diterj. Meth Kieraha, Mehami Ilmu Hadis; Telaah mMetodologi dan Literatur (Cet. III; Jakarta: PT Lentera Basritama, 1424 H / 2003 M), h. 33

[4]Ibid., 14

[5]Ibid.,

[6]Al-Bukhari>, Loc. Cit.

[7]Mus{t{fa> al-Sib>ai>, Op.Cit., h. 15

[8]Ibid.,

[9]Al-Bukhari>, Op. Cit., kitab al-‘Ilm, Jld. I, h. 42

[10]Hasbi Ash-Shiddiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis (Cet. I; Bandung: Bulan Bintang, 1965), h. 28

[11]Abdurrahma>\n Abu> H{a>tim al-Ra>zi>, dalam Abdul Mu’i>n S{alih al-‘Ali al-‘Azi>, Difa>’ ‘an Abi> Hurairah (Cet. I; Beirut: Da>r al-Qalam, tth), h. 30

[12]Badri Khaeruman, Otentitas Hadis; Studi Kritis Atas Kajian Hadis Kontemporer (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 94

%d blogger menyukai ini: