h1

HADIS DHA’IF DAN PEMBAGIANNYA

19 Januari 2010

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hadis d}a’i>f adalah hadis yang tidak terpenuhi salah satu syarat hadis s}ah{i>h{ atau hadis hasan, yaitu:

–       Sanad yang bersambung dari awal hingga akhir

–       Perawi yang adil

–       Perawi yang d{a>bit{ (kapasitas intelektualnya kuat)

–       Tidak kemasukan illat

–       Tidak kemasukan syaz|

Jika salah satu dari kelima unsur tersebut tidak terpenuhi, maka hadis tersebut menjadi d{a’i>f, dan hal itu disebabkan karena salah satu dari dua faktor utama, yaitu:

A. Dha’if karena sanad yang tidak bersambung

Di antara hadis d{a’i>f karena sanad yang tidak bersambung adalah:

  1. Hadis mursal yaitu hadis yang disandarkan tabi’in kepada Rasulullah saw. atau hadis yang akhir sanadnya tidak disebutkan.[1]

Hadis mursal dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:

1)      Mursal al-s{aha>bi> yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sahabat dari Rasulullah saw. akan tetapi dia tidak mendengar atau menyaksikan langsung hadis tersebut.[2] Contoh:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: انشق القمر في زمان النبي صلى الله عليه و سلم.[3]

Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn ‘Abba>s itu adalah m,ursal karena dia belum lahir pada saat peristiwa tersebut terjadi di Makkah.[4] Oleh karena itu, Ibn ‘Abba>s dipastikan meriwayatkan hadis dari sahabat lain akan tetapi tidak disebutkan dan langsung menyandarkan kepada Rasulullah saw.

2)      Mursal al-ta>bi’I yaitu hadis yang disandarkan tabi’in kepada Rasulullah saw.[5] Contoh:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ

Sa’i>d ibn al-Musayyib adalah seorang tabi’in akan tetapi menyandarkan hadis tersebut kepada Rasulullah saw.

  1. Hadis munqat}i’ adalah hadis yang ditengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi tetapi tidak berturut-turut.[6] Contoh:

عن عبد الرزاق عن الثوري عن أبي إسحاق عن زيد بن يثيع عن حذيفة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن وليتموها أبا بكر فزاهد في الدينا راغب في الآخرة…[7]

Antara al-S|auri> dan Abi> Isha>q terdapat perawi yang digugurkan yaitu Syuraik.[8]

  1. Hadis mu’d{al adalah hadis yang kedua sanadnya atau lebih tidak disebutkan secara berurutan.[9] Contoh:

حَدَّثَنِي مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يُكَلَّفُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا يُطِيقُ.[10]

Dalam hadis tersebut, terdapat dua perawi yang tidak disebutkan antara Ma>lik ibn A>nas dan Abu> Hurairah, yaitu: Muhammad ibn ‘Ajla>n dan ‘Ajla>n, bahkan Pada musnad Ahmad terdapat tiga perawi seperti Ibn ‘Ajla>n, Bukair ibn ‘Abdillah dan ‘Ajla>n.[11]

  1. Hadis mu’allaq adalah hadis yang pada sanadnya telah dibuang satu atau lebih secara berurutan, seperti membuang semua sanadnya atau membuang sanad selain sahabat atau membuang sanad selain sahabat dan tabi’in.[12]

وقالت عائشة كان النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الله على كل أحيانه. رواه البخارى

Imam al-Bukha>ri> langsung menyandarkan hadis kepada ‘A<isyah tanpa menyebutkan perawi-perawi di antara mereka.

  1. Hadis madallas adalah hadis yang menyamarkan salah satu perawinya, baik dengan mengganti perawinya dengan perawi yang lain atau mengganti namanya dengan nama yang kurang popular dan sejenisnya.[13]

Hadis mudallas terbagi dalam dua bagian, yaitu:

1)      Tadli>s al-isna>d, yaitu perawi yang meriwayatkan  hadis yang tidak pernah didengarnya dari gurunya atau orang yang semasa dengannya tapi tidak pernah bertemu dengan sigat (lafaz periwayatan) yang tidak jelas.[14]

حدثنا إسماعيل بن إبراهيم أبو معمر ثنا عبد الله بن المبارك عن يونس عن الزهري عن أبي سلمة عن عائشة: أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: “لا نذر في معصية وكفارته كفارة يمين”.[15]

Dalam sanad tersebut, al-Zuhri> meriwayatkan hadis dari Abu> Salamah dengan s}i>gat yang tidak jelas yaitu عن, padahal sebenarnya, dia tidak pernah meriwayatkan langsung darinya, akan tetapi dia mendapatkannya dari Sulaima>n ibn al-Arqa>m dari Yah{ya ibn Kas|i>r dari Abu> Salamah.[16]

2)      Tadli>s al-syuyu>kh, yaitu perawi yang meriwayatkan hadis yang didengarnya dari seorang guru, akan tetapi dia menamai gurunya dengan nama yang tidak dikenal.[17] Contoh:

Perkataan Abu> Bakr ibn Muja>hid “Diriwayatkan kepada kami Abdullah ibn Abi Abdillah tapi yang dimaksudkan adalah Abu> Bakr ibn Abi> Da>ud al-Sajasta>ni>.[18]

B. Dha’if karena cacat pada perawi

  1. Hadis matru>k yaitu hadis yang salah satu perawinya diduga berdusta.[19] Sedangkan menurut Ibn Hajar al-Asqala>ni>, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang diduga berdusta dan tidak diketehui ada riwayat terhadap hadis tersebut serta menyalahi kaidah lazim.[20] Contoh:

حدثنا عبد الله بن أحمد بن ثابت البزاز ثنا القاسم بن الحسن الزبيدي ثنا أسد بن زيد ثنا عمرو بن شمر عن جابر عن أبي الطفيل عن علي وعمار: أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يجهر في المكتوبات ببسم الله الرحمن الرحيم وكان يقنت في الفجر وكان يكبر يوم عرفة صلاة الغداة ويقطعها صلاة العصر آخر أيام التشريق.[21]

Perawi yang bernama ‘Amr ibn Syamir dianggap matru>k oleh imam al-Nasa>i, al-Da>ruqut}ni> dan yang lain.[22]

  1. Hadis majhul adalah hadis yang tidak diketahui perawinya atau atau keadaannya (sikap dan sifatnya).[23] Dan terbagi dua, yaitu:

1)      Majhul al-‘ain yaitu perawi yang disebutkan namanya akan tetapi hanya satu perawi yang meriwayatkan darinya. Contoh:

أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ أَبِى يَحْيَى مَوْلَى آلِ جَعْدَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَابَ طَعَامًا قَطُّ كَانَ إِذَا اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ لَمْ يَشْتَهِهِ سَكَتَ.[24]

Abu> Yah{ya> termasuk perawi yang majhul al-‘ain.[25]

2)      Majhul al-h{al adalah seorang perawi yang meriwayatkan darinya dua orang atau lebih akan tetapi tidak dianggap s|i>qah. Contoh:

حدثني عمرو بن يحيى المازي عن أبي زيد مولى الثعلبيين عن معقل بن أبي معقل الأسدي وقد صحب النبي صلى الله عليه و سلم قال: نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن نستقبل القبلتين بغائط أو ببول.[26]

Abu> Zaid termasuk perawi majhu>l al-ha>>l.

  1. Hadis mubham adalah hadis yang dalam sanadnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya, apakah laki-laki atau perempuan, baik dalam sanad atau matan.[27] Contoh mubham dalam matan:

عن عائشة: أن امرأة سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن غسلها من المحيض…[28]

Kata إمرأة disebutkan dalam matan dan tidak disebutkan namanya.

Contoh mubham dalam sanad:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، قَالَ حَدَّثَنِي شَيْخٌ، مِنْ قُرَيْشٍ، عَنْ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ، عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ بَعَثَنِي إِلَى الشَّامِ: يَا يَزِيدُ، إِنَّ لَكَ قَرَابَةً عَسَيْتَ أَنْ تُؤْثِرَهُمْ بِالإِِمَارَةِ…[29]

Kata شيخ dalam sanad tersebut termasuk mubham karena tidak diketahui namanya.

  1. Hadis munkar adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi lemah atau hadis yang diriwayatkan oleh perawi lemah yang berbeda dengan perawi yang lebih kuat.[30] Contoh:

أخبرنا محمد بن عبد الله بن المبارك قال حدثنا أبو هشام قال حدثنا القاسم بن الفضل قال حدثنا النضر بن شيبان قال قلت لأبي سلمة بن عبد الرحمن حدثني بشيء سمعته من أبيك سمعه أبوك من رسول الله صلى الله عليه و سلم…إن الله تبارك وتعالى فرض صيام رمضان عليكم وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامة إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه.[31]

Perawi yang bernama al-Nad}r ibn Syaiba>n d}a>’i>f karena Abu> salamah tidak pernah mendengar dari ayahnya. Di samping itu, terdapat sanad lain yang lebih kuat. Sehingga hadis di atas dianggap munkar.[32]

Kebalikan dari hadis munkar adalah hadis ma’ru>f, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi s|i>qah yang berbeda dengan perawi lemah.[33]

C. Dha’if karena cacat pada Sanad dan matan hadis

    1. Hadis sya>z| adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi s|i>qah yang berbeda dengan perawi yang lebih s|i>qah, baik dalam sanad maupun matan.[34] Lawan dari hadis sya>z| adalah hadis mahfu>z} yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih s|i>qah akan tetapi berbeda dengan perawi s|i>qah yang lebih rendah. Contoh hadis sya>z| dalam sanad:

حدثنا إسحاق بن منصور حدثنا أبو داود حدثنا شعبة عن عاصم عن أبي وائل عن المغيرة بن شعبة: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أتى سباطة قوم فبال قائما.[35]

Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu> Wa>il dari Abu> Mugi>rah, padahal hadis tersebut diriwayatkan oleh perawi yang lebih s|i>qah dari Abu> Wa>il dari Huz|aifah.[36]

Sedangkan sya>z| yang terjadi dalam matan:

حدثنا عبد الواحد بن زياد حدثنا الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا صلى أحدكم ركعتي الفجر فليضطجع علي يمينه.[37]

Hadis yang diriwayatkan Abd Wa>hid di atas, sebenarnya lebih banyak diriwayatkan dalam bentuk fi’li> (perbuatan) Nabi bukan dalam bentuk qauli> (perkataan) sehingga hadis Abd Wahid tergolong sya>z\.[38]

  1. Hadis mudraj adalah sebuah hadis yang asal sanadnya berubah atau matannya tercampur dengan seuatu yang bukan bagian darinya tanpa ada pemisah.[39] Hadis mudraj ada dua bagian, yaitu:

1)      Mudraj sanad, yaitu perawi yang meriwayatkan dalam dua sanad lalu digabung menjadi satu sanad atau ditukar sanadnya atau menambah sanad ke dalamnya.[40] Contoh:

حدثنا سليمان بن داود المهري أخبرنا ابن وهب أخبرني جرير بن حازم وسمى آخر عن أبي إسحاق عن عاصم بن ضمرة والحارث الأعور عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم ببعض أول هذا الحديث قال: فإذا كانت لك مائتا درهم وحال عليها الحول ففيها خمسة دراهم.[41]

Sanad hadis tersebut sebenarnya dua jalur, akan tetapi Jarir menjadikan keduanya marfu’.[42]

2)      Mudraj matan, yaitu ucapan sebagian perawi dari kalangan sahabat atau generasi setelahnya yang tercatat dalam matan hadis dan bersambung dengannya, baik tambahan itu ada di awal, pertengahan atau akhir matan.[43]

…كَانَ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ فِى النَّوْمِ فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِىَ أُولاَتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ…[44]

Kata وهو التعبد merupakan sisipan atau tambahan dari al-Zuhri>.[45]

  1. Hadis maqlu>b adalah hadis yang terbalik sebagian matan atau nama perawi dalam sanadnya atau sanad matan perawi lain.[46] Sedangkan menurut Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, hadis maqlu>b adalah mengganti lafaz dengan lafaz yang lain dalam sanad hadis atau matan dengan cara mendahulukan atau mengakhirkan dan sejenisnya.[47] Contoh hadis maqlu>b dalam sanad:

الوليد بن مسلم ومسلم بن الوليد…

Contoh hadis maqlu>b dalam matan:

…. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ…[48]

Padahal mayoritas ulama meriwayatkan dengan susunan:

….وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ…

  1. Hadis mud}t}arib adalah hadis yang diriwayatkan dengan cara yang berbeda akan tetapi sama kekuatannya.[49] Sedangkan menurut Manna>’ al-Qat}t}a>n, hadis mud{t}arib adalah hadis yang diriwayatkan dari jalur yang berbeda-beda serta sama dalam tingkat kekuatannya di mana satu jalur dengan yang lainnya tidak mungkin disatukan atau digabungkan dan tidak mungkin pula dipilih salah satu yang terkuat.[50] dan terbagi dalam dua bagian, yaitu:

1)      Mud{t}arib sanad. Contoh:

…يا رسول الله قد شبت قال: شيبتني هود وأخواتها….

Hadis tersebut diriwayatkan dari berbagai sanad yang berbeda satu sama lain yang sama-sama kekuatannya.[51]

2)      Mud{t}arib matan. Contoh:

…ليس في المال حق سوى الزكاة.[52]

Dan hadis lain:

….في المال حق سوى الزكاة.[53]

Kedau hadis tersebut tidak mungkin disatukan atau dipilih salah satunya karena sama kwalitasnya.

  1. Hadis Mus}ah{h{af adalah mengubah suatu kata dalam hadis dari bentuk yang telah dikenal kepada bentuk lain, baik dalam sanad maupun matan.[54] Semisal dalam sanad, nama yang asalnya Ibn Mara>jim dirubah menjadi Ibn Maza>him, sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya> ibn Ma’i>n.[55] Contoh tas}hi>f (merubah kata) dalam matan:

من صام رمضان واتبعه شيئا من شوال فكأنما صام الدهر

Abu Bakr al-S{u>li> kemudian merubah kata ستا menjadi شيئا

من صام رمضان واتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر.[56]

  1. Hadis mud}a’af adalah hadis yang tidak disepakati kelemahannya, melainkan sebagian ulama menilainya d{a’i>f dan sebagian lagi menilainya kuat, baik dalam dalam sanad maupun matan, akan tetapi tad{’i>f (pelemahan) hadis tersebut lebih kuat atau sama kaut.[57]
  2. Hadis mu’allal adalah hadis yang yang ditemukan catat yang merusak kesahihannya, padahal kelihatannya tidak cacat.[58] Menurut Ibn Hajar al-As|qala>ni>, hadis mu’allal adalah hadis yang terdapat sebab-sebab yang tidak nyata dalam hadis lalu menjadikannya cacat.[59] Baik cacat pada sanad, seperti:

حدثنا عمرو بن عون عن عبد السلام بن حرب عن الأعمش عن أنس: ان النبي صلى الله عليه و سلم كان لا يرفع ثوبه حتى يدنو من الأرض.[60]

Sekilas, hadis tersebut tidak cacat akan tetapi setelah dikaji, sanad tersebut cacat karena al-A’masy tidak pernah mendengar dari Anas ibn Ma>lik.

Sedangkan cacat dalam matan seperti:

حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: أَنَّهُ صَلَّى خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ: بِالْحَمْدِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ الْقِرَاءَةِ وَلا فِي آخِرِهَا.[61]

Sekilas matan tersebut tidak ada masalah, namun setelah diteliti secara mendalam, terlihat cacatnya yaitu tambahan kalimat:

لا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ….


[1]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 71.

[2]Ibid. h. 74.

[3]Al-Bukha>ri>, S{ah{i>h{ al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol. 4 h. 1843.

[4]Muhammad Abd Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>, Tuh{fah al-Ah{waz|I> (Bairut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.th.), vol. 6 h. 341.

[5]‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 337-338.

[6]Manna>’ Khali>l al-Qat}t}a>n, Maba>h{i>s| fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s|, diterj. Mifdol Abd Rahman, Pengantar Ilmu Hadis (Cet. II; Jakarta: Pustaka al-Kaus|ar, 2006 M), h. 138.

[7]Abu> Abdillah al-Ha>kim al-Naisabu>ri>, al-Mustadrak ‘ala al-S{ah{i>h{ain (Bairut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1411 H/1990 M), vol. 3 h. 153.

[8]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 78.

[9]‘Ajja>j al-Khat{i>b, Op.Cit., h. 340.

[10]Ma>lik ibn A<nas, al-Muwat}t}a’, (t.t. Muassasah Za>yid ibn Sult}a>n, 1425 H/2004 M), vol. 5 h. 1427.

[11]Ahmad ibn Hambal, Musnad Ahmas. Op.Cit., vol. 2 h. 247.

[12]‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 357.

[13]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 79.

[14]Ibid. h. 79-80. Bandingkan dengan ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 357.

[15]Abu> Da>ud al-Azdi>, Sunan Abi> Da>ud. Op.Cit., vol. 2 h. 251.

[16]Sira>juddin ‘Umar ibn ‘A>li> ibn Ah{mad al-Ans}a>ri>, al-Muqni’ fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s| (Cet. I; al-Sa’u>di>: Da>r Fawwa>z li al-Nasyr, 1413 H), h. 154.

[17]Ibra>hi>m ibn Mu>sa> ibn Ayyu>b, alSyaz| al-fiya>h{ min ‘Ulu>m ibn al-S}ala>h (Cet. I; al-Riya>d}: Maktabah al-Rusyd, 1418 H/1998 M), vol. 1 h. 173.

[18]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 82.

[19]Hasby as-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (Jakarta: PT Bulang Bintang, 1987 M), h. 262.

[20]Al-Suyu>t{i>, Tadri>b al-Ra>wi>. Op.Cit., vol. 1 h. 295.

[21]Abu> al-Husain ‘Ali ibn ‘Umar, Sunan al-Da>ruqut}ni> (Bairut: Da>r al-Ma’rifah, 1386 H/1966 M), vol. 2 h. 49.

[22]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 94.

[23]Ibid. h. 119.

[24]Abu> al-Husain Muslim ibn al-Hajja>j, Op.Cit., vol 6 h. 134.

[25]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 121.

[26]Abu> Abdillah al-Qazwi>ni>, Sunan Ibn Ma>jah (Bairut: Da>r al-Fikr, t.th.), vol 1 h. 115.

[27]Hasby as-Shiddieqy, Op.Cit., h. 300.

[28]Al-Bukha>ri>, S{ah{i>h{ al-Bukha<ri>, Op.Cit., vol. 1 h. 119.

[29]Ahmad ibn Hambal, Musnad Ahmad, Op.Cit., vol. 1 h. 6.

[30]‘Amr Abd Mun’im Sulaim, Op.Cit., h. 73.

[31]al-Nasa>i>, Sunan al-Nasa>i>, Op,Cit., vol. 4 h. 158.

[32]‘Amr Abd Mun’im Sulaim, Op.Cit., h. 74.

[33]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 98.

[34]Muhammad Nas}ruddin al-Alba>ni>, Irwa>’ al-Gali>l fi> Takhri>j Ah{a>di>s| Mana>r al-Sabi>l (Cet. II; Bairut: al-Maktab al-Isla>mi>, 1405 H/1985 M), vol. 4 h. 177.  Lihat juga: Ibra>hi>m Dasu>qi> al-Syaha>wi>, Op.it., h. 45.

[35]Al-Qazwi>ni>, Sunan Ibn Ma>jah, Op.Cit., vol. 1 h. 111.

[36]‘Amr Abd Mun’im Sulaim, Op.Cit., h. 81-82.

[37]Abu I<sa> al-Turmuz|i>, Sunan al-Turmuz|i>, Op.Cit., vol. 2 h.281.

[38]Ibra>hi>m Dasu>qi> al-Syaha>wi>, Op.it., h. 45.

[39]Manna>’ al-Qat}t}a>n, Op.Cit., h. 153.

[40]Totok Jumantoro, Op.Cit., h. 146-147.

[41]Abu> Da>ud al-Azdi>, Sunan Abi> Da>ud, Op.Cit., vol 1 h. 492.

[42]Nuruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s|, diterj. Mujiyo: ‘Ulu>m al-Hadi>s| 2 (Cet. I; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994), h. 245.

[43]Ibid. h. 243.

[44]Al-Bukha>ri>, S{ah{i>h{ al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol 1 h. 4.

[45]Al-Suyu>t}i>, Tadri<b al-Ra>wi>, Op.Cit., h.271.

[46]‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 345.

[47]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 107.

[48]Abu> al-Husain Muslim ibn al-Hajja>j, S}ah{i>h{ Muslim, Op.Cit., vol. 3 h. 93.

[49]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 112.

[50]Manna>’ al-Qat}t}a>n, Op.Cit., h. 161.

[51]Ibid. vol. 2 h. 184.

[52]Al-Qazwi>ni>, Sunan Ibnu Ma>jah. Op.Cit., vol. 1 h. 570.

[53]Malik ibn A<nas, al-Muwat}t}a’, Op.Cit., vol. 2 h. 138.

[54]Nuruddin ‘Itr, Op.cit., h. 249.

[55]Ibnu al-S}ala>h{, Op.Cit., h. 165.

[56]Abu> Bakr al-Khat}i>b al-Bagda>di>, al-Ja>mi’ li Akhla>q al-Ra>wi wa A<da>b al-Sa>mi’ (al-Riya>d{: Maktabah al-Ma’a>rif, 1403 H), vol. 1 h. 296.

[57]Syamsuddin al-Sakha>wi>, Fath{ al-Magi>s| (cet. I; Bairut: Da>r al-Kutub, 1403 H), vol. 1 h. 100.

[58]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Op.Cit., h. 99.

[59]Totok Jumantoro, Op.Cit., h. 146-147.

[60]Abu Muhammad al-Da>rimi>, Sunan al-Da>rimi> (Cet. I; Bairut: Da>r al-Kita>b al-‘Arabi>, 1407 H), vol. 1 h. 178.

[61]Abu> Bakr al-Baihaqi>, Sunan al-Baihaqi> al-Kubra> (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Da>r al-Ba>z, 1414 H/1994 M), vol.2 h. 50.

2 komentar

  1. Assalamualaikum……….


  2. wa ‘alikum salam….ada yang biasa ana bantu akhi?



Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: