h1

SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

15 Januari 2010

A. Dalil-dalil kehujjahan sunnah

Sunnah atau Hadis Nabi Saw merupakan salah satu sumber ajaran agama Islam sekaligus merupakan wahyu dari Allah seperti Al-Qur’a>n, hanya saja perbedaan antara keduanya terletak pada sisi lafaz dan makna dimana lafaz} dan makna al-Qur’a>n berasal dari Allah Swt semetara Hadis maknanya dari Allah Swt dan lafaz}nya dari Rasulullah Saw, kedudukannya dalam ajaran agama sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’a>n, keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dan mentaatinya wajib bagi kaum muslimin sebagaimana wajibnya mentaati Al-Qur’a>n.[1] Adapun dalil-dalil yang menunjukkan kehujjahan sunnah antara lain:

1. Al-Qura>n al-Kari>m

Banyak ayat al-Qur’a>n yang menunjukkan akan kehujjahan Sunnah diantaranya adalah ayat-ayat yang memerinthakan kepada kaum muslim untuk taat kepada Rasulullah saw. firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Terjemahannya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An-Nisa> : 59)

Kembali kepada Allah maksudnya kembali kepada Al-Qur’an, dan kembali kepada Rasul maksudnya kembali kepada Sunnah atau Hadis beliau Saw.

Perintah untuk mengikuti segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw dan menjauhi segala apa yang dilaranagnnya, Allah Swt berfirman:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Terjemahannya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr :7)

Allah Swt telah memperingatkan kita untuk tidak menyelisihi segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw, Allah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

Terjemahannya: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS An-Nu>r : 63)

Pada Banyak ayat, Allah Swt menyandingkan kata Kita>b yang berarti al-Qur’a>n dengan kata H{ikmah yang berarti hadis atau sunnah diantara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Swt:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

Terjemahannya: Dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan H{ikmah kepadamu (Muhammad), dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. (QS. An-Nisa> : 113)\

Ima>m al-Syafi’i> berkomentar perihal ayat yang terakhir ini dengan mengatakan:

“Allah swt menyebutkan al-Kita>b yaitu al-Qur’a>n dan juga Sunnah (Hadis). Aku teelah mendengar ahli ilmu al-Qur’a>n mengatakan; H{ikmah adalah Sunnah Rasulullah saw. Karena al-Qur’a>n disebutkan dan dibarengi dengan kata H{ikmah. Allah swt. Menyebutkan anudrah-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan mengajari mereka al-Kita>b dan H{ikmah, maka tidak boleh –Wallahu a’lam- ditafsiri maksud H{ikmah disini kecuali Sunnah Rasulullah saw”.[2]

2. Hadis Nabi Saw

Terdapat banyak hadis-hadis Rasulullah saw. yang  menunjukkan kewajiban untuk mengikuti Sunnah Nabawi>yah  dan menegaskan bahwa Sunnah itu memliki kedudukan yang sama seperti al-Qur’a>n dari segi keadaannya sebagai sumber untuk menetapkan hukum-hukum. Diantara hadis-hadis tersebut:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dengan sanadnya dari sahabat Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Terjemahannya: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali mereka yang enggan dan tidak mau”. Para Sahabat kemudian bertanya (keheranan); ‘Siapakah yang tidak mau memasukinya itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “orang yang mentaatiku akan masuk surga dan orang yang mendurhakaiku (melangkar ketentuanku) berarti dia enggan dan tidak mau”.[3]

  1. Hadis yang menjelaskan bahwa dengan berpegangteguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka tidak akan tersesat untuk selamnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ma>lik bin Anas bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Terjemahannya: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat untuk (selamanya) selama kalian berpegangteguh kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”.[4]

  1. Hadis yang memerintahkan untuk senantiasa ber-tamassuk (berpegangteguh) Sunnah Rasulullah saw dan para sahabat beliau saw dan larangan melakukan kebid’ahan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Terjemahannya: “Hendaklah kalian (mengikuti) Sunnahku dan Sunnah para khalifah ra>syidah yang telah mendapatkan hidayah, berpegangteguhlah kepadanya, dan gigitlah (Sunnah tersebut) dengan gigi grahammu, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, krena segala bentuk yang bersifat baru adalah bid’ah dan semua bentuk bid’ah adalah sesat”.[5]

  1. Hadis yang menjelaskan bahwa telah diturunkan kepada Rasulullah saw al-Qura>n dan yang semidal dengannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu> Da>u>d dari sahabat al-Miqda>m bin Ma’di> Karib ra, Rasulullah saw bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَه

Terjemahannya: “Sesungguhnya telah diberikan (diturunkan) kepadaku al-Kitab (al-Qura>n) dan bersamanya sesuatu yang semisal dengannya (al-Sunnah)”.[6]

3. Ijma’ (Kesepakatan)

Para Sahabat seluruhnya telah menyepakati kewajiban mengikuti Sunnah Nabi saw, karena sunnah tersebut merupakan wahyu dari Allah swt dan telah memerintahkan kepada kita untuk mengikutinya demikian pula dengan Rasul-Nya sebagiaman dalam riwayat-riwayat yang telah disebutkan terdahulu. Fakta-fakta yang menunjukkan kesepakatan mereka akan kehujjahan sunnah dalam agama cukup banyak dan tidak terbilang jummlahnya dan tidak diketahui ada seorang pun diantara mereka yang menyalahi dan menentang hal tersebut.

Kemudian para Tabi’i>n menempuh jalan para Sahabat dengan mengambil dan mengikuti apa yang terdapat (warid ) dalam Sunnaah berupa hukum, adab, dan tidak seorang dari mereka (Taabi’i>n) berani memenentang Sunnah yang shahih.

Kemudian keum muslimin sesudah mereka hingga hari ini telah menyepakati akan kewjiban menerima dan mengambil hukum-hukum yang di-nuqil dari Sunnah dan barang siapa yang menentang hal tersebut dianatara mereka, makka mereka telah menentang Al-Qur’a>n dan Sunnah Nabi saw serta mengikuti jalan selain jalan orang mu’min.

Oleh karena itu, kaum muslimin sangat setia menuqilnya, memeliharanya, dan berpegang teguh dengannya karena taat kepada Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw.[7]

4. Logika

Jika telah terbukti dengan dalil yang terang dan jelas bahwa Muhammad saw adalah Rasul Allah, maka beriman kepada Risalah-nya menuntut konsekwensi ketaatan kepadanya, jika tidak, maka keimanan kepadanya tidak memiliki arti sama sekali, sebab beliaulah yang menyampaikan ajaran-ajaran agama dari Tuhannya, dan kita meyakini bahwa belaiu S{a>diq (benar) dengan seluruh yang beliau sampaikan kepada kita, dan bahwa beliau Ma’s}u>m (terjaga) dari segala bentuk kekeliruan[8] dan di dalam al-Qur’a>n Allah swt telah menyandingkan keimanan kepada rasul-Nya dengan keimanan kepada-Nya. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ

Terjemahannya: “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. (QS. An-Nu>r: 62)

Sekiranya Sunnah tidak menjadi Hujjah bagi kaum muslimin, niscaya kita tidak sanggup melaksanakan hukum-hukum al-Qur’a>n, karena hanya dengan sunnah-lah al-Qur’a>n dapat di jelaskan dan dipahami.

Jadi setipa orang yang memiliki akal sehat tentu akan berpendapat bahwa mengikuti Sunnah Nabi saw adalah suatu kewajiban, karena jika tidak, maka bimbingan, petunjuk dan rahan beliau saw  tidak memiliki arti dan keberadaan beliau saw ditengah-tengah umatnya untuk mengajarkan kepada mereka perkara-perkara agama menjadi sia-sia, tentu saja hal ini tidak akan diterima oleh orang yang kritis dan perpikir.

B. Fungsi hadis terhadap Al-Qur’an.

Fungsi hadis terhadap al-Qur’an secara umum adalah untuk menjelaskan makna al-Qur’a>n yang bersifat global dimana mayoritas kandungan hukum di dalamnya bersifat umum dan bukan parsial, dan tujuan-tujuannya pun bersifat umum dan terkadang diungkapkan secara singkat agar menjadi mu’jizat, oleh karena itu Allah swt memeberikan kepada rasul-Nya otoritas untuk menjelaskannya. Allah swt berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44)

Terjemahannya: ”Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (QS. An-Nah{l: 44)

Penjelasan yang dimaksud di atas kemudian oleh para ulama di perinci ke pelbagai bentuk penjelasan. Secara garis besar terdapat empat bentuk fungsi penjelasan hadis terhadap al-Qur’a>n sebagai berikut;

  1. Baya>n Taqri>r atau Baya>n Ta’ki>d

Fungsi Hadis sebagai penguat (taqri>r) atau memperkuat (Ta’ki>d) keterangan-keterangan yang terdapat di dalam al-Qur’a>n. Diantara kriteria model seperti ini adalah ketika penjelasan Sunnah tidak bertentangan atau selaras dengan penjelasan al-Qur’a>n.

Contoh fungsi hadis sebagai Baya>n Taqri>r atau Ta’ki>d sabda Rasulullah saw.:

عَنْ عَمْرُو بِنْ يَثْرَبِيْ قَالَ : خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلاَ وَلاَ يَحِلُّ لِامْرِئٍ مِنْ مَالِ أَخِيْهِ شَيْءٌ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ.[9]

Terjemahannya: “Tidak halal bagi seseorang harta saudaranya kecuali dengan izin (kerelaan hati) dari pemiliknya”.

Hadis ini sesuai dan selaras dengan  firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Terjemahannya; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa> : 29)

Apabila hadis yang ditemukan selaras dengan al-Qur’an, maka hukum diambil dari kedua sumber (al-Qur’a>n dan Sunnah) sebab al-Qur’a>n sebagai dalil yang menetapkan hukum tersebut dan hadis sebagai dalil yang menguatkan akan hukum yang terkandung dalam ayat tersebut.

  1. Baya>n Tafsi>r

Hadis sebagai penjelas (tafsi>r) terhadap al-Qur’a>n yang bersifat Global, fungsi inilah yang terbanyak pada umumnya, penjelasan hadis terhadap al-Qur’a>n ada tiga macam yaitu;

  1. Tafs}i>r al- Mujmal wa al-Musytarak (merinci yang global dan dobious[10]) : Yang dimaksud dengan hal ini adalah bahwa hadis Nabi saw memberi penjelasan secara terperinci pada ayat-ayat yang bersifat global (mujmal) atau memiliki dua bentuk makna yang berbeda (musytarak) seperti ayat-ayat tentang ibadah atau hukum.

Contohnya sabda Rasulullah saw yang menjelaskan Mujmal ayat:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Terjemahannya: S{alatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku s{alat.[11]

Hadis ini merupakan penjelasan terhadap firman Allah swt. yang memerintahkan untuk mendirikan s}alat yang bersifat global (Mujmal).

Contoh sabda Nabi saw yang menjelaskan ayat musytarak (dobious) :

طَلَاقُ الْأَمَةِ اثْنَتَانِ وَعِدَّتُهَا حَيْضَتَانِ

Terjemahannya: Talak budak wanita itu dua kali, dan masa ‘iddahnya dua kali haid.[12]

Hadis ini merupakan penjelasan dari kata quru>’ yang terdapat pada firman Allah :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ…

Terjemahannya: Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru>’… (QS. Al-Baqarah: 228).

Kata Quru>’ pada ayat ini dapat berarti haid dan dapat pula berarti suci.

Apabila hadis yang ditemukan memberikan penjelasan terhadap ke-mujmal-an suatu ayat atau ke-musytarak-annya, maka hukum diambil dari hadis yang menjelaskannya atau menafsirkannya. Istilah lain dari fungsi ini Baya>n al-Tafs}i>l (Penjelasan terperinci)

  1. Takhs}is} al-A<mm (mengkhususkan yang umum) : maksudnya adalah hadis yang memberikan batasan hukum terhadap sebahagian orang, contohnya adalah sabda Nabi saw tentang hak waris:

لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

Terjemahnnya: Seorang muslim tidak mewariskan (hartanya) kepada seorang kafir, dan seorang kafir tidak mmewariskan (hartanya) kepada seorang muslim.[13]

Hadis ini mengkhususkan keumuman firman Allah:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ…الخ

Terjemahannya: Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan…(QS. An-Nisa> : 11)

Istilah lain dari fungsi ini adalah Baya>n al-Takhs{i>s}i> (penjelasan yang bersifat khusus)

  1. Taqyi>d al- Mut}laq (membatasi yang mutlak) : maksudnya adalah hadis-hadis yang membatasi kemutlakan lafadz{ al-Qur’a>n dengan batasan minimal. contoh hadis Nabi saw yang memberikan pembatasan minimal terhadap ayat yang bersifat mutlak adalah hadis-hadis yang menjelaskan bahwa tanagan pencuri dipotong tepat pada bagian pergelangan tangan kanannya. Hadis-hadis tersebut merupaka bentuk taqyi>d (pembatasan) terhadap kemutlakan firman Allah :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا…

Terjemahannya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya … (QS. Al-Ma>idah: 38).

Istilah lain dari fungsi ini adalah Baya>n Taqyi>di> (penjelasan yang bersifat memberi batasan)

  1. Baya>n Naskhi>

Hadis  berfungsi sebagai pengganti  (nasakh) terhadap suatu hukum yang termaktub dalam al-Qur’a>n, contohnya adalah sabda Nabi saw dari riwayat Abu> Uma>mah al- Ba>hili> dia berkata; aku telah menndengarkan Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Terjemahannya: Sesungguhnya Allah swt telah menentukan hak pada setiap ahli waris, dengan demikian tiada lagi hak wasiat bai ahli waris.[14]

Hadis ini menghapus hukum kewajiban berwasiat kepada ahli waris yang diterangkan di dalam al-Qur’a>n. firman Allah swt.:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (180)

Terjemahannya: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 180)

Istilah lain dari funsi ini adalah Baya>n al-Tabdi>l (penjelas yang bersifat pengganti)

  1. Baya>n Tasyri’

Yaitu bahwa Hadis Nabi saw. berfungsi sebagai penambah atas hukum-hukum yang tidak dijelaskan di dalam al-Qur’a>n. Istilah lain dari fungsi ini adalah Baya>n Za>id ’Ala> al-Kita>b al-Kari>m (penjelasan tambahan atas al-Qur’a>n).

Para ulama berbeda pendapat pada bagian yang keempat ini dimana sekolompok ulama memandang bahwa hadis tidak dapat memberikan tambahan hukum atas al-Qur’a>n secara mandiri melainkan hanya sebagai penjelas atas hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’a>n apakah dalam bentuk penjelasan kandungan implisit al-Qur’a>n atau penggabungan dalam bentuk Qiya>s. keelompok lain memandang bahwa hadis dapat menentukan hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’a>n baik dalam bentuk eksplisit maupun implisit secara mandiri, mereka memandang bahwa Rasulullah saw memiliki otoritas dalam penetapan hukum (H{aq al-Tasyri’) yang tidak terdapat penjelasannya atau keterangannya dalam al-Qur’a>n sesui dengan izin Allah swt.

Perbedaan pendapat para ulama tersebut hanyalah bersifat tekstual, sebab keduanya menerima bahwa hadis selain datang sebagai baya>n terhadap al-Qur’a>n juga datang sebagai penentu hukum yang tidak terdapat di dalam al-Qur’a>n. Adapun contoh hadis yang berfungsi sebagai baya>n Tasyri’ adalah pekerjaan Nabi saw yang berhubungan dengan s}alat sambil menggunakan khuff (terompah):

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ :وَضَّأْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ وَصَلَّى

Terjemahannya: Dari al-Mugi>rah bin Syu’bah ia berkata: aku pernah memberikan kepada Rasulullah saw air untuk berwud} kemudian beliau membasuh terompah (khuff) lalu shalat.[15]


[1]Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his} fi> ‘Ulu>m al-Hadi>s. Diterj. Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadits (Cet. III; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008), h. 30

[2]Muh}ammad bin Idris al-Sya>fi’i> dalam Dhiya’ Muhammad Ja>sim al-Masyhada>ni>, ‘Uqu>d al-Durar fi> ‘Ilmi al-As{ar. Diterj. Faisal Saleh dan Khairul Amru Harahap, Mutiara Ilmu Atsar (Cet. I; Jakarta: Akbar Media, 1429 H / 2008 M), h. 109

[3]Muh}ammad bin Isma’il al-Bukha>ri> (194-256 H), al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}, Kita>b al-I’tis{a>m, Bab Mengikuti Sunnah Rasulullah saw. (Cet. I; Kairo: Mat}ba’ah al-Salafiyyah, 1400 H), Jld. IV, h. 359

[4]Ma>lik bin Anas (59-197 H), Kita>b al-Muwat{t{a’, Kita>b Al-Ja>mi’, Bab Larangan Berbicara tentang Qadar (Cet. I; Kairo: Dar al-Rayya>n, 1408 H / 1988 M), Jld. II, h. 240

[5]Sulaima>n bin al-Asy’as}{ al-Sijista>ni> Abu> Da>u>d, Sunan Abu> Da>>ud, Kita>b al-Sunnah, Ba>b Berpegang Teguh kepada Sunnah (Cet. I; Beirut: Da>r Ibnu H{azm, 1419 H / 1997 M), Jld. V, h. 12-13

[6]Ibid., h. 11

[7]Muh}ammad ‘Aja>j al-Khat{i>b, Us}u>l al-H{adis{; ‘Ulu>muhu wa Mus{t}alah{uhu (Cet. I; Beirut: Da>r al-Fikr, 1409 H / 1989 M), h. 41-42

[8]Ibid., h. 36-37

[9]Ah}mad bin Muh}ammad bin H{anbal. al Musnad;  kita>b awwalu musnad al-basriyyi>n. (Cet. I; Riyadh: Maktabah al Turats al Islami. 1994), Jld. IV, hal. 100

[10]Dobious yaitu lafaz} yang menagndung beberapa makna

[11]Al-Bukhari>, Op.cit., Kitab Az|an, Bab Az|an bagi musafir dan mukim jika mereka berjama’ah., Jld. I, h. 212

[12]Muh{ammad bin ‘Isa al-Tirmiz|i>, Sunan al-Tirmiz|i>, Kita>b al-T{ala>q, Bab Talak budak wanita dua kali (Cet. I; Riyad{: Makatabah al-Ma’a>rif, T.Th), h. 281. Al-Tirmiz|i> berkata: Hadis ini Gari>b. dan di-d{a’if-kan oleh al-Alba>ni>.

[13]Muslim bin Hajja>j bin Muslim al-Qusyairi>, S{ah{ih Muslim Ma’a Syarh{i al-Nawawi>, Kitab al-Fara>id{ (Cet. I; Kairo: Mat}ba’ah al-Mis{riyyah, 1439 H / 1930 M) h. 51-52

[14]Abu> Da>u>d, Op.cit., Kita>b al-Was}a>ya>, Bab Tentang Wasiat Untuk Ahli Waris, Jld. III, h. 196. Lihat juga al-Tirmiz|i>, berkata: Hadis ini Hasan S{ah}ih, dan di-s}ah}ih-kan pula oleh al-Ba>ni>. Lihat Op.cit., Kita>b Was}a>ya>, h. 479

[15]Al-Bukhari>, Op.Cit., kitab S{alat, bab S{alat dengan khuff, Jld. I, h. 145

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: