Archive for Januari, 2010

h1

HADIS DHA’IF DAN PEMBAGIANNYA

19 Januari 2010

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hadis d}a’i>f adalah hadis yang tidak terpenuhi salah satu syarat hadis s}ah{i>h{ atau hadis hasan, yaitu:

–       Sanad yang bersambung dari awal hingga akhir

–       Perawi yang adil

–       Perawi yang d{a>bit{ (kapasitas intelektualnya kuat)

–       Tidak kemasukan illat

–       Tidak kemasukan syaz|

Jika salah satu dari kelima unsur tersebut tidak terpenuhi, maka hadis tersebut menjadi d{a’i>f, dan hal itu disebabkan karena salah satu dari dua faktor utama, yaitu: Read the rest of this entry ?

Iklan
h1

KAIDAH KESHAHIHAN HADIS

19 Januari 2010

A. Kaidah Mayor sanad dan matan hadis

Kaidah mayor (al-Qawa>’id al-Kubra>) sanad dan matan dapat diketahui melalui syarat-syarat kesahihan suatu hadis. Adupun rumusan tentang syarat-sayarat kesahihan hadis sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu ‘Amr Usman bin ‘Abd al-Rahman bin al-S{ala>h{ al-Syahrzu>ri>, yang dikenal dengan Ibnu al-S{ala>h} (w.577 H / 1245 M) dan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi>, yang dikenal denga al-Nawawi> (w. 676 H/1277 M). Rumusan yang dikemukakan oleh Ibnu al-S{ala>h sebagai berikut:

أَمَّا الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ: فَهُوَ اَلْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ، الَّذِيْ يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ اْلعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَلاَ يَكُوْنُ شَاذًّا، وَلاَ مُعَلَّلاً.

Adapun hadis s}ahi>h adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi saw), diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan d{a>bit{ dari (periwayat) yang adil dan d{a>bit sampai akhir sanad, tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[1]

Sedangkan rumusan kesahihan hadis yaSng dirumuskan oleh al-Nawawi> adalah :

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِالْعُدُوْلِ الضَّابِطِيْنَ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

“(Hadis s}ah}i>h} ialah) hadis yang bersambung sanadnya, (diriwayatkan oleh orang-orang yang) adil dan d{a>bit}, serta tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[2]

Berdasarkan kedua defenisi di atas, maka unsur-unsur kaidah kesahihan hadis ada tiga yaitu:

  1. Sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung dari mukharrij sampai kepada Nabi saw.
  2. Seluruh periwayat dalam hadis tersebut harus bersifat ‘adil dan d{a>bit{.
  3. Sanad dan matan hadis tersbut harus terhindar dari kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[3]

Dari ketiga butir tersebut dapat diurai menjadi tujuh butir, yakni lima butir berhubungan dengan sanad dan dua butir berhubungan dengan matan, butir-butir yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Yang berhubungan dengan sanad adalah : a) sanad bersambun; b) periwayat bersifat ‘adil; c) periwayat bersifat d}a>bit}; d) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan e) Terhindar dari ‘illat (cacat).
  2. Yang berhubungan dengan matan adalah: a) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan b) terhindar dari ‘illat (cacat).[4] Read the rest of this entry ?
h1

PEMBAGIAN HADIS

19 Januari 2010

A. Hadis ditinjau dari kuantitas sanad

1. Hadis mutawatir

Hadis al-mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan sekelompok orang[1] dari awal sanad hingga sampai ke matan hadis yang mustahul sepakat melakukan kebohongan.[2] Menurut Ibn al-S}ala>h{, hadis mutawatir adalah ungkapan tentang hadis yang diriwayatkan oleh orang yang sudah dipastikan kejujurannya dari awal hingga akhir sanad.[3]

Jika melihat definisi tersebut, maka hampir dipastikan sangat sulit menemukan hadis yang berstatus hadis mutawatir. Oleh sebab itu, istilah al-mutawatir bukan muncul dari ahli hadis akan tetapi muncul dari ulama fiqhi dan us}u>l al-fiqh.[4]

Hadis mutawatir dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu:

1)      Al-Mutawatir al-lafz}i> (hadis yang mutawatir lafaznya) yakni hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi pada setiap t}abaqah dengan lafaz yang sama, seperti hadis:

….قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Terjemahannya: Rasulullah saw. bersabda “Barang siapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka”.[5]

Lafaz hadis di atas termasuk mutawatir karena diriwayatkan dalam beberapa sanad yang berbeda. Pada tingkat sahabat misalnyanya, hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Zubair ibn al’Awwa>m, al-Mugi>rah, Abi> Hurairah, Abdullah ibn Mas’u>d, Anas ibn Malik, Ali ibn Abi T{a>lib, Jabir dan sahabat yang lain. Bahkan Ibn al-S}ala>h{ berkata bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 62 sahabat.[6]

2)      Al-Mutawatir al-Ma’nawi> (Hadis mutawitir maknanya) yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi dengan menggunakan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama seperti hadis mengangkat tangan ketika berdoa.[7] Seperti hadis yang diriwayatkan Abu> Mu>sa> al-Asy’ari>:

دعا النبي صلى الله عليه و سلم بماء فتوضأ به ثم رفع يديه فقال ( اللهم اغفر لعبيد أبي عامر) رواه البخارى.

Begitu juga hadis yang diriwayatkan Abu> Humaid al-Sa>’idi> tentang seorang laki-laki yang diberi tugas memungut zakat, namun disalahgunakan kemudian Nabi saw. naik mimbar dengan mengangkat tangannya seraya berdoa: ألا هل بلغت sebanyak tiga kali.[8]

Begitu juga hadis yang diriwayatkan ‘A<isyah bint Abi> Bakr tentang qunut nazilah.[9]

Singkatnya terdapat beberapa hadis tentang mengangkat tangan pada saat berdoa dengan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama yaitu sama-sama mengangkat tangan pada saat berdoa. Read the rest of this entry ?

h1

PERKEMBANGAN ILMU HADIS

19 Januari 2010

A. Pengertian dan Cabang Ilmu Hadis

  1. Pengertian Ilmu Hadis

Dari segi bahasa Ilmu Hadis terdiri dari dua kata yakni kata “ilmu” dan “hadis” secara sederhana kata “ilmu” artinya pengetahuan, dan “hadis” adalah segala yang disandarkan kepada Nabi Saw baik dari segi perkataan, perbuatan, dan persetujuan. Para ulama membagi ilmu hadis kepada dua bagian utama yaitu: Ilmu Hadis Riwa>yah dan Ilmu Hadis Dira>yah.

Ibnu al-Akfa>ni> berkata: Ilmu hadis Riwa>yah adalah: ilmu yang membahas tentang periwayatan hadis-hadis Nabi saw secara baik dan benar. Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Dira>yah > adalah : Ilmu yang yang bertujuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, jenis-jenisnya, hukum-hukumnya, keadaan pribadi perawi dann sayart-syarat mereka.[1] Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan ilmu hadis dira>yah adalah : kumpulan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan pera>wi dan yang diriwaytkannya ditinjau dari segi penerimaan dan penolakannya.[2]

Kedua bentuk ilmu hadis ini memiliki perbedaan dari segi obyek pembahasan, tujuan dan faedah. Adapun obyek pembahasan ilmu hadis riwa>yah adalah: “Segala bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat-sifat Nabi saw” sementara obyek pembahasan Ilmu hadis dira>yah adalah; “Hakikat, sifat-sifat, dan kaidah-kaidah dalam periwayatn”.

Jika dilihat dari segi tujuan masi-masing ilmu, maka ilmu hadis riwa>yah bertujuan untuk: “memelihara syari’at Islam dan otentitas Sunnah Nabi saw” sementara ilmu hadis dira>yah bertujuan untu: “meneliti hadis berdasarkan kaidah-kaidahatau persyaratan-persyaratan dalam periwayatan”.

Adapun jika kedua ilmu tersebut dilihat dari segi faedahnya, maka faedah mempelajari ilmu hadis riwa>yah adalah: “menjauhkan kasalahan dalam periwayatan”, sementara faedah mempelajari ilmu hadis dira>yah adalah untuk mengetahui mana  hadis yang maqbu>l (diterima) dan mana yang mardu>d (tertolak).

Meskipun tampak secara z{a>hir bahwa anatara Ilmu Hadis Riwa>yah dan Ilmu Hadis Dira>yah berbeda dari tiga sisi –yakni; obyek, tujuan, dan faedah- akan tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan karena hubungan keduanya merupakan satu ssistem yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain (syaiaini mutala>zimaini) atau dengan kata lain ilmu hadis dira>yah sebagai in put dan Ilmu Hadis Riwa>yah sebagai out put Read the rest of this entry ?

h1

SEJARAH KODIFIKASI DAN PENELITIAN HADIS

19 Januari 2010

A. Pembukuan hadis periode mutaqaddimin

Yang dimaksud dengan mutaqaddimi>n adalad periode yang berada anatar fase abad I hingga III hijriyah yang dimulai dari masa awal hijrahnya Rasulullah saw hingga masa tabi’in, masa ini kemudian diistilahkan oleh para ulama dengan al-Quru>n al-Mufad}d}alah (abad yang dimuliakan). Pembukuan hadis pada masa mutaqaddimi>n terjadi dimulai pada abad akhir ke II H.

Hadis pada masa Rasulullah saw. dan khulafa’ al-ra>syidi>n belum dibukukan secara resmi (tadwi>n).[1] Hal itu erat kaitannya dengan larangan penulisan selain al-Qur’an oleh Rasulullah saw. meskipun terdapat juga hadis yang membolehkan penulisannya.

Hadis yang melarang penulisan misalnya adalah:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَكْتُبُوا عَنِّى وَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّى وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ – قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ – مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Abi> Sa’i>d al-Khudri> bahwa Rasulullah saw. bersabda “Jangan menulis dariku, barang siapa yang menulis dariku selain al-Qur’an, hendaklah dia menghapusnya. Riwayatkanlah apa yang datang dariku tanpa ada dosa, dan barang siapa yang berdusta atas diriku secara sadar, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka.[2]

Sedangkan hadis yang membolehkan penulisan hadis adalah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أُرِيدُ حِفْظَهُ ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ عَنْ ذَلِكَ ، وَقَالُوا : تَكْتُبُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا ؟ فَأَمْسَكْتُ ، حَتَّى ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : اكْتُبْ ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ.

Terjemahannya: “Dari Abdullah ibn ‘Amr berkata: Saya menulis setiap sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. untuk dihafal, lalu orang-orang Quraisy melarangku seraya berkata: Apakah engkau menulis semua apa yang diucapkan Rasulullah pada waktu marah dan ridha? Lalu saya diam hingga aku laporkan ke Rasulullah saw. dan berkata “Tulislah! Demi zat yang aku dalam genggamannya, tak satupun yang keluar dariku kecuali kebenaran.[3] Read the rest of this entry ?

h1

SEJARAH PERTUMBUHAN HADIS

19 Januari 2010

A. Periwayatan Hadis pada periode Rasulullah saw

Pembahasan tentang hadis dan periwatannya pada periode Rasulullah saw akan berkaitan langsung dengan pembahasan tentang pribadi Rasulullah saw sebagai sumber hadis. Rasulullah saw telah menghabiskan 23 tahun masa hidupnya dalam menyeru kepada Islam, menyampaikaan hukum-hukumnya dan mengajrkannya, periode ini merupakan periode wahyu, pengajarannya dan pengamalannya yang merupakan tonggak awal bagi terciptanya peradab Islam.[1]

Dalam kurun waktu 23 tahun Rasulullah hidup bersama para sahabatnya tanpa ada dinding pemisah dengan mereka, Rasulullah saw bercampur dengan mereka baik dimasjid, pasar, rumah, dalam perjalanan dan pemberhentian. Sebab Rasulullah merupakan sumber kehidupan keagamaan dan keduniawian sejak beliau ditus sebagai Rasul Allah swt hingga wafatnya yang senantiasa membawa manusia menuju kepada kesejahteraan hidup baik didunia maupun di akhirat.

Para sahabat senantiasa berusaha untuk tidak melapaskan diri dari kebersamaannya dengan Rasulullah saw bahkan mereka senantiasa bergantian menemani Rasulullah saw dalam segala bentuk keadaan demi untuk mengikuti Raslulullah baik dalam sabda maupun perbuatan dan persetujuannya.[2]

Rasulullah saw dalam mengajarkan hadis kepada para Sahabat beliau menempuh beberapa metode, memurut M.M. Azami setidaknya terdapat tiga kategori metode Rasulullah saw mengajarkan hadis,[3] yaitu: Read the rest of this entry ?

h1

SUNNAH SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

15 Januari 2010

A. Dalil-dalil kehujjahan sunnah

Sunnah atau Hadis Nabi Saw merupakan salah satu sumber ajaran agama Islam sekaligus merupakan wahyu dari Allah seperti Al-Qur’a>n, hanya saja perbedaan antara keduanya terletak pada sisi lafaz dan makna dimana lafaz} dan makna al-Qur’a>n berasal dari Allah Swt semetara Hadis maknanya dari Allah Swt dan lafaz}nya dari Rasulullah Saw, kedudukannya dalam ajaran agama sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’a>n, keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dan mentaatinya wajib bagi kaum muslimin sebagaimana wajibnya mentaati Al-Qur’a>n.[1] Adapun dalil-dalil yang menunjukkan kehujjahan sunnah antara lain:

1. Al-Qura>n al-Kari>m

Banyak ayat al-Qur’a>n yang menunjukkan akan kehujjahan Sunnah diantaranya adalah ayat-ayat yang memerinthakan kepada kaum muslim untuk taat kepada Rasulullah saw. firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

Terjemahannya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An-Nisa> : 59)

Kembali kepada Allah maksudnya kembali kepada Al-Qur’an, dan kembali kepada Rasul maksudnya kembali kepada Sunnah atau Hadis beliau Saw.

Perintah untuk mengikuti segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw dan menjauhi segala apa yang dilaranagnnya, Allah Swt berfirman:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Terjemahannya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr :7)

Allah Swt telah memperingatkan kita untuk tidak menyelisihi segala apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw, Allah berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

Terjemahannya: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS An-Nu>r : 63)

Pada Banyak ayat, Allah Swt menyandingkan kata Kita>b yang berarti al-Qur’a>n dengan kata H{ikmah yang berarti hadis atau sunnah diantara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah Swt:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

Terjemahannya: Dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan H{ikmah kepadamu (Muhammad), dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. (QS. An-Nisa> : 113)\

Ima>m al-Syafi’i> berkomentar perihal ayat yang terakhir ini dengan mengatakan:

“Allah swt menyebutkan al-Kita>b yaitu al-Qur’a>n dan juga Sunnah (Hadis). Aku teelah mendengar ahli ilmu al-Qur’a>n mengatakan; H{ikmah adalah Sunnah Rasulullah saw. Karena al-Qur’a>n disebutkan dan dibarengi dengan kata H{ikmah. Allah swt. Menyebutkan anudrah-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan mengajari mereka al-Kita>b dan H{ikmah, maka tidak boleh –Wallahu a’lam- ditafsiri maksud H{ikmah disini kecuali Sunnah Rasulullah saw”.[2] Read the rest of this entry ?

%d blogger menyukai ini: