h1

Ulumul Hadis 1

29 Desember 2009

Pengertian Hadis

Hadis berasal dari bahasa Arab al-Hadi>s|, jamaknya adalah al-Ahādīs| memiliki beberapa arti, antara lain sesuatu yang sebelumnya tidak ada (baru).[1] Ibnu Manz}u>r mengatakan bahwa kata al-hadīs| merupakan lawan kata dari al-qadīm (tua, kuno, lama),[2] Sedangkan Mus\t}afa Azami mengatakan bahwa arti dari kata al-ha>di>s} adalah berita, kisah, perkataan dan tanda atau jalan.[3] Sementara Muhammad al-Maliki mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata al-hadis adalah sesuatu yang ada setelah tidak ada.[4] Dari makna tersebut dapat dipahami bahwa al-hadis adalah berita baru yang terkait dengan kisah perjalanan seseorang.

Secara terminologi, ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi terhadap hadis disebabkan karena perbedaan tujuan keilmuan dan objek yang menjadi pembahasan atau penelitiannya.[5] Untuk mengetahui perbedaan tersebut, berikut masing-masing definisi hadis (sunnah) menurut ulama hadis, ulama ushul al-fiqhi, ulama fiqhi dan ulama Aqidah.

  1. Ulama Muhaddisin mendefinisikan hadis/sunnah sebagai “segala apa yang berasal dari Nabi Saw baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan ( taqrir ), sifat, atau sejarah hidup[6].
  2. Ulama Ushul al-Fiqhi (ushuluyyin) memberikan definisi Sunnah  adalah segala yang disandarkan kepada Nabi saw selain al-Qur’an, baik dari segi perkataan, perbiatan, atau pun taqrir yang dapat dijadikan sebagai dalil atas sebuah hukum syari’at.[7]
  3. Ulama Fiqhi (Fuqaha’ ) menjelaskan bahwa sunnah adalah; Segala yang bersumber dari Nabi Saw yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat fardhu atau pun wajib.[8]
  4. Ulama Aqidah mendefinisikan sunnah/hadis dengan sesuatu yang berlawanan dengan bid’ah.[9]

Perbedaan pendefinisian ini disebabkan karena perbedaan metodologi dimana muhaddisin di dalam penelitiannya memposisikan Rasulullah saw sebagai imam tertinggi, pemberi jalan menuju kepada hidayah, pemberi nasehat sebagaimana berita yang disampaikan Allah swt bahwa Rasulullah saw merupakan uswah dan qudwah bagi kaum muslimin, sehingga para muhaddisin mengambil seluruh yang bersumber dari Nabi saw baik dari masalah sirah (perjalanan hidup), Akhlaq, kecenderungan, berita-berita, perkataan, dan perbuatannya tanpa melihat apakah yang nuqil tersebut memiliki kandungan hukum syari’at atau pun tidak.

Ushuliyyin memposisikan Nabi saw sebagai musyarri’ (pembuat hukum) yang menjelaskan kepada manusia tentang pranata sosial, dan sebagai peletak kaidah-kaidah dasar untuk para mujtahid. Oleh karena itu, mereka melihat hadis hanya sebatas apa yang datang dari Nabi saw yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum syari’at.

Sementara para fuqaha memposisikan Nabi saw sebagai manusia yang menjalankan hukum Allah swt, sehingga mereka melakukan penelitian terhadap hukum-hukum syri’at yang berhubungan dengan pekerjaan hamba baik yang bersifat wajib ,haram, sunnat, makruh dan mubah.[10]

Sedangkan ulama aqidah memposisikan nabi sebagai pemberi kewajiban dan pemberi larangan, sehingga penekanan ulama aqidah terletak pada hal-hal yang diperintahkan oleh syariat dan hal-hal yang dilarangnya.[11]

Sebab-sebab Penamaan Hadis

Menurut al-Zamakhsyary (w. 538 H = 114 M), hadis dinami sebagai hadis karena tatkala orang meriwayatkan sesuatu yang berasal dari Nabi saw. Menggunakan kata-kata atau pernyataan, misalnya:

… حَدَّثَنِيْ أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …

“… dia menyatakan kepada saya bahwa Nabi saw. telah bersabda …“

Menurut al-Kirmani dan Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H = 1449 M) bahwa sesuatu yang berasal dari Nabi saw. Dinamai hadis dengan maksud sebagai imbangan terhadap Al-Qur’an yang mereka nyatakan sebagai bersifat  qadim. Maksudnya, menurut paham ulama dan ummat Islam pada umumnya, Al-Qur’an itu bersifat qadim (tak berawal). Al-Qur’an dikatakan Qadim karena Al-Qur’an adalah firman Allah. Berbeda halnya dengan firman Allah, maka sabda Nabi saw. Dan segala yang berasal dari beliau disebut sebagai hadis karena bersifat baru.

Permulaan Terjadinya Hadis

Kalau dinyatakan bahwa hadis itu dimaksudkan untuk diteladani dan berkedudukan sebagai salah satu sumber ajaran Islam, maka kapankah sesuatu yang berasal dari Muhammad itu dinyatakan sebagai hadis? Pendapat Ulama dalam hal ini terbagi dua, yakni:

  1. Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis terjadi mulai sebelum dan dalam masa kerasulan Muhammad saw.
  2. Sebagian ulama lagi menyatakan bahwa hadis mulai terjadi ada masa kerasulan Muhammad saw. Sifat-sifat luhur pribadi Muhammad yang terlihat sebelum masa kerasulan menjadi anutan juga. Sedang kegiatan Muhammad sebelum masa kerasulan dan tidak dicontohkan lagi dalam masa kerasulan, mislanya kegiatan menyepi (al-tahannus) di Gua Hira, tidak menjadi anutan. Al-Tahannus tidak sama dengan bertapa yang tidak makan dan tidak minum. Dalam melakukan al-tahannus di Gua Hira, Nabi dikirimi makanan dan minuman oleh Khadijah.

Pendapat yang kedua tampaknya lebih kuat karena:

  1. Perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk meneladani dan mentaati  Muhammad adalah dalam kedudukan Muhammad sebagai utusan (rasul) Allah. Hal itu mulai terjadi tatkala Muhammad berada dalam masa kerasulan.
  2. Sifat-sifat luhur Muhammad saw yang tampak sebelum masa kerasulan tidak harus disimpulkan bahwa perintah mengikuti jejak beliau berlaku sejak sebelum kerasulan. Dinyatakan demikian karena keluhuran budi pribadi Muhammad sebelum masa kerasulan tetap berlanjut dan terpelihara pada masa kerasulan beliau.
  3. Kegiatan Muhammad sebelum masa kerasulan ada yang tidak diamalkan lagi pada masa kerasulan. Mislanya, kegitan bertahannus di Gua hira. Kegiatan tersebut tidak untuk diteladani oleh ummat Islam sebab sekiranya untuk diteladani, niscaya ada petunjuk yang dikemukakan oleh Muhammad dalam masa kerasulan beliau. Walaupun demikian, berita kegitan menyepi itu merupakan bagian dari hadis Nabi juga sebab hal itu berkaitan dengan proses pengangkatan Muhammad sebagai nabi (rasul).
  4. Berita tentang Muhammad telah banyak tertulis dalam berbagai kitab sejarah, tafsir, dan hadis. Menurut Ibnu Taimiyah (w. 728 H=1328 M), apa yang termuat dalam kitab-kitab hadis adalah berita tentang diri Muhammad, khususnya yang terjadi pada masa kenabian (kerasulan). Pernyataan Ibnu Timiyah itu memberi isyarat bahwa apa yang disebut dengan hadis adalah berita tentang Muhammad yang terjadi pada masa kerasulan.

Bentuk Hadis dan Contohnya

  1. Hadis dalam bentuk sabda

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه الجماعة)

“(Hadis Riwayat) dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau bersabda : Wanita itu dinikahi karena empat faktor : karena hartanya, karena keturunannya ; karena kecantukannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita (untuk diperisteri) karena faktor (ketaatan kepada ajaran) agamanya (Islam) niscaya kamu selamat. »

  1. Hadis dalam bentuk perbuatan

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

“Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, dia berkata Hisyam bin Abu Abdillah telah menceritakan kepada kami, dia berkata Yahya bin Abu Kasir telah menceritakan kepada kami (bahwa berita itu berasal) dari Muhammad bin Abdurrahman dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Adalah Rasulullah saw. Salat di atas kendaraan beliau ke mana saja arah kendaraan itu menghadap. Namun, apabila beliau hendak salat fardu, (maka) beliau turun (dari kendaraan), kemudian (salat dengan) menghadap ke arah kiblat.”

  1. Hadis dalam bentuk taqrir (persetujuan)

Ketika Amr bin al-Ash (w. 43 H=664 M) menjadi panglima perang dalam peperangan Dzat al-Salasil, dia pernah bermimpi bersenggama yang mewajibkannya mandi janabah. Karena udara terlalu dingin, ‘Amr hanya bertayammum saja, tidak mandi janabah. Di menjadi imam salat subuh.

Syahdan, para sahabat lalu melaporkan peristiwa itu kepada Nabi saw. ‘Amr dipanggil oleh Nabi dan dimintai penjelasan tentang mengapa dia menjadi imam salat padahal dia tidak mandi janabah yang ketika itu dia dikenai kewajiban mandi janabah. ‘Amr menjawab bahwa untuk mengangkat hadas janabah, dia bertayammum saja. Dia tidak mandi karena udara sangat dingin. Kemudia ‘Amr membaca Q.s. Al-Nisa/4:29.

Mendengar penjelasan ‘Amr tersebut, Nabi hanya terawa tanpa menyatakan sabdanya. Tertawa atau diamnya Nabi itu merupakan persetujuan atau taqrir Nabi atas apa yang telah diperbuat oleh ‘Amr bin al-ash tersebut.

  1. Hadis dalam bentuk keadaan

Seorang sahabat Nabi yang bernama Al-Bara’ bin ‘Azib bin al-Haris (Abu ‘Amr) pernah menerangkan keadaan Nabi Muhammad dengan menyatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ (رواه البخاري عن البرّاء)

“ Rasulullah saw. Adalah seorang yang paling elok wajahnya dan merupakan ciptaan (Tuhan) yang paling bagus; (postur tubuhnya) tidak terlalu jangkung dan juga tidak pendek.”

Qatadah pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang keadaan rambut Rasulullah saw., Anas menjawab:

كَانَ شَعَرًا رَجِلًا لَيْسَ بِالْجَعْدِ وَلَا السَّبْطِ بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ

“Adalah rambut (Rasulullah saw.) tidaklah terlalu keriting dan tidaklah terlalu lurus; (panjangnya) antara telinga dan bahu beliau.”

Penjelasan para sahabat Nabi itu termasuk salah satu bentuk hadis juga karena yang dijelaskan adalah diri Nabi.

Sinonim Hadis

Terdapat istilah-itilah lain yang merupakan bentuk sinonim dari kata hadis di antaranya adalah alsunnah, al-khabar dan al-atsar. Para ulama berbeda dalam mendefenisikan antara satu istilah dengan lainnya, Di antara mereka ada yang menyamakan antara ketiga istilah tersebut dimana as-Sunnah, al-Hadis, al-Khabar dan al-Atsar dan di antara mereka ada yang memberikan perbedaan.[12] Untuk lebih jelasnya, penulis akan menguraikan sebagai berikut:

  1. Sunnah

Al-sunnah berasal dari bahasa Arab yang akar katanya terdiri dari sin dan nun memiliki arti sesuatu yang mengalir atau sesuatu yang berurutan.[13] Dari makna tersebut, kata al-sunnah diartikan sebagai perilaku seseorang, baik itu positif maupun negatif.[14] Oleh sebab itu, penekanan al-sunnah lebih kepada perilaku seseorang sejak dia lahir hingga dia meninggal, tanpa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, sementara hadis penekanannya pada sesautu yang baru yang terkait dengan kisah atau berita.

Sedangkan terminologinya sunnah adalah segala yang diriwayatkan dari Nabi saw., baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat/moral. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara hadis dan sunnah sebagaimana pendapat mayoritas ulama.[15]

  1. Khabar

Secara etimologi, kata khabar bermakna pengetahuan, lunak dan melimpah.[16] Sehinngga yang dimaksud dengan khabar adalah sesuatu yang diketahui kemudian diberitakan atau disampaikan, baik berupa perkataan atau perbuatan dan pada akhirnya pengetahuan yang disampaikan disebut berita. Namun secara terminologi, ulama berbeda pendapat tentang definisinya antara lain sebagai berikut:

  1. Definisi khabar sama dengan hadis yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi saw., baik perkataan, perbuatan atau ketetapan.
  2. Khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi Muhammad saw., karena yang datang dari Nabi saw. disebut Hadis.
  3. Khabar lebih umum dari pada hadis, karena khabar dapat digunakan untuk apa yang datang dari Nabi dan selain Nabi saw., sedangkan hadis khusus digunakan untuk apa yang datang dari Nabi saw. Menurut pendapat ini, semua hadis bisa disebut khabar, tetapi tidak semua khabar bisa disebut hadis.[17]
  4. Atsar

Kata atsar secara etimologi bermakna sisa dari sesuatu.[18] Sedangkan secara terminologi adalah ada tiga pendapat, yaitu:

  1. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. berupa perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat/moral.
  2. Apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in.
  3. Para pakar Fiqhi dari Khurasan menamakan semua hadis mauquf dengan nama atsar, sedangkan hadis marfu’ dinamakan khabar.[19]

Namun yang menjadi pegangan mayoritas ahli hadis adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., sahabat dan tabi’in.[20]


[1]Abu al-Husain, Ahmad Ibn Fa>ris Ibn Zaka>riya>, Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah, (Bairut: Da>r al-Fikr, 1423 H./2002 M.) vol. 2 h. 28.

[2]Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manz}u>r al-Afrīqī, Lisān al-‘Arab, (Bairut: Dār S}ādir, Cet. I, t. thn) Jilid 2 h. 131.

[3]M. Musthafa Azami, Studies in Hadith methodology in the Literature, (Kualalumpur: Islamic Books Truth, 1977 M.) h. 1.

[4]Ibn Faris, Op.Cit. Jilid 2 h. 28.

[5]Muhammad ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Us}u>l al-Hadi>s|; ‘Ulu>muh wa Mus}t}alah}uh. (Cet. I; Bairut: Da>r al-Fikr, 1409 H/1989 M), h. 19

[6]Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>hi>s| fi> Ulu>m al-Hadi>s|. (Cet. IV: Kairo; Maktabah Wahbah, 1425 H / 2004 M), h. 15.

[7]Muhammad ‘Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit. h. 19

[8]Ibid., h. 19

[9]Muhammad Ibn ‘Alwi> al-Maliki> al-Hasani>, al-Manhal al-Lat}i>f fi> Us}u>l al-Hadi>s| al-Syari>f, (Cet. V; Makkah: Wiza>rat al-Ta’līm, 1410 H./1990 M.), h. 9.

[10]Muhammad ‘Ajja>j al-Khat}i>b, h. 18

[11]Muhammad Alwi al-Maliki, Op.Cit. h. 9

[12]Manna’ al-Qaththan, Op.Cit. h. 7

[13]Ibid, Jilid 3 h. 44.

[14]Muhammad Alwi al-Maliki, h. 7.

[15]Abdul Mannan al-Rasikh, Kamus Istilah-istilah Hadis, (Jakarta: Dar al-Falah, Cet. I, 2006 M.) h. 105.

[16]Ibnu Fa>ris, Op.Cit. Jilid 2 h. 194.

[17]H. Mudasir, Ilmu Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, Cet. III, 2007 M.) h.32.

[18]Ibnu Manzu>r, Op.Cit. Jilid 1 h. 69.

[19]Mahmud Ali Fayyad, Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis, (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1419 H./1998 M.) h. 17. Dan Muhammad Jama>luddi>n al-Qa>simi>, Qawa>’id al-Tah}di>s|, (Bairut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.th.), h. 61.

[20]H. Mudasir, Op.Cit. h. 32.

%d blogger menyukai ini: