h1

CEMBURU TERHADAP MANHAJ AL-HAQ [Bag.2)

17 Desember 2009

CEMBURU TERHADAP MANHAJ AL-HAQ [Bag.2)

Catatan untuk Sofyan Chalid Ruray

Oleh: Ibnu Al-Mubhar As-Sinjayi

Pasal 1

HUKUM BERIFADAH DAN BERISTIFADAH DENGAN AHLI BID’AH

Catatan ini merupakan lanjutan dari catatan terdahulu terhadap “risalah” Sofyan yang berjudul “Kurangnya Kecemburuan Terhadap Manhaj Yang Haq” (lihat “Mengapa saya keluar dari Wahdah Islamiyyah? Bag. 1,  poin 1). Pada bagian ini penulis akan mengurai tentang BID’AH, kewajiban menjauhinya, bentuk-bentuknya, syubhat-syubhatnya, akibat yang ditimbulkannya dan hukum berta’awun atau berifadah dan beristifadah dengan ahli bid’ah. Pembahasan ini dikutip dan disari langsung dari beberapa kitab sebagai berikut:

  1. ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Fii Dhaui al-Kitabi wa as-Sunnah, karya: DR. Said al-Qahthany. (Cet. II; Makkah al-Mukarramah: Dar Thayyibah al-Khadhra’, 1426 H / 2005 M)
  2. Syarh al-‘Aqidah al-Washithiyyah, karya: Samahatu al-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Ustaimin. (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Haitsam, 1423 H / 2002 M)
  3. Syarh al-Thahawiyyah Fii al-‘Aqidah al-Salafiyyah, karya: al-‘Allamah Shadruddin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz al-Hanafy. (Cet. Kairo: Dar al-Hadits, 1421 H / 2000 M)
  4. Al-Fawaid, karya: al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim al-Jauziyyah [w. 751 H]. (Cet. Kota Nashr: al-Maktabah al-Qayyimah, T.Th)
  5. Syarh Hilyatu Thalib al-‘Ilm, karya: Samahatu al-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Ustaimin. (Cet. I; Kairo: Maktabah al-‘Ilm, 1424 H / 2004 M)

  1. A. Pengertian Bid’ah

Kata Bid’ah bila ditinjau dari segi pengertian bahasanya menunjukkan makna; membuat suatu tambahan yang tidak ada contoh sebelumnya, yaitu perkara yang baru dibuat, dan orang yang datang dengan suatu perkara yang tidak dilakukan oleh seorang pun selain dirinya disebut dengan orang yang melakukan kebid’ahan.

Adapun Bid’ah menurut istilah sebagaimana ungkapan Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah dalam karyanya Jami’ al-Ulum wa al-Hikam beliau menyebutkan:

“Segala sesutu yang baru yang tidak terdapat asal-muassalnya dalam syari’at yang menunjukkan akan adanya hal tersebut”[1]

Sementara itu Imam al-Syathiby dalam karyanya al-I’tisham (1/50) memberikan pengertian Bid’ah secara komprehensif, beliau mengatakan:

“Metode tambahan dalam ad-Din yang memodifikasi syari’at dalam menjalankannya bertujuan untuk meningkatkan bentuk Ta’abbud (penyembahan) kepada Allah Ta’ala

Ni’mat Allah Ta’ala yang paling besar kepada para hamba-Nya adalah ketika disempurnakannya Din ini beserta syari’atnya sehingga Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam – tidak meninggalkan duni ini kecuali beliau – ‘Alihi as-Shalat wa al-Taslim – telah menyampaikan seluruh Risalah secara utuh dan telah menunaikan amanah Allah Ta’ala yang di bebankan kepada beliau – ‘Alahi al-Shalat wa al-Taslim – secara sempurna berdasarkan berita Allah Ta’ala yang turun ketika beliau – ‘Alaihi al-Shalat wa al-Taslim – berwukuf di ‘Arafah pada masa Hajji Wada’ dimana Allah Ta’ala berfirma:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Terjemahannya: Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S al-Maidah : 3)

Ketika ayat ini turun kaum Yahudi memotivasi kaum Muslimin dimana salah seorang diantara mereka mendatangi Khalifah Umar bin al-Khaththab – Rhadiyallahu ‘Anhu – dan berkata: “terdapat salah satu ayat diantara ayat-ayat yang terdapat dalam Kitab yang kalian baca (Al-Qur’an), dan jika seandainya ayat ini turun kepada kami kaum Yahudi, maka kami akan menajdikan hari diaman ayat tersebut turun sebagai hari raya (ied)” kemudian umar bin al-Khaththab bertanya: “Ayat yang mana yang kamu maksud?” Yahudi tersebut menyebutkan ayat di atas.

Abdullah bin ‘Abbas – Radhiyallahu ‘Anhuma – ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata: “Allah Ta’ala memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum mu’min bahwasanya Dia telah menyempurnakan din (Islam) ini untuk mereka sehingga mereka tidak membutuhkan tambahan apapun dan telah mencukupkannya sehingga mereka tidak perlu sama sekali untuk menguranginya dan Dia telah meridhainya, maka hendaklah mereka tidak membencinya untuk selamanya”. [2]

  1. B. Kewjiban Menjauhi Perkara Bid’ah

Tiga generasi terbaik pendahulu kita sangat berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memerangi segala bentuk kebid’ahan dan kesesatan serta menolak segala betuk penambahan dalam din Allah Ta’ala, adapun para ulama Ahlussunnah wa al-Jama’ah senantiasa menjelaskan secara terang dan jelas akan bahaya perkara Bid’ah dalam din dan pentingnya beramal sesuai Al-Qur’an dan Sunnah berikut petikan beberapa perkataan mereka;

  1. Perkataan beberapa sahabat
    1. Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata : “Berhemat dalam mengaamalkan Sunnah lebih baik daripada berijtihad dalam kebid’ahan”
    2. Berkata ‘Ustman al-Azdy: Suatu ketika aku mendatangi Ibnu ‘Abbas lalu berkata: “Nasehatilah aku”. Beliau berkata: “Baik, Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan beristiqamah, berittiba’lah dan jangan melakukan kebid’ahan”
    3. Khudzaifah al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beittiba’lah kalian dan jangan melakukan kebid’ahan dan itu cukup bagi kalian, ikutilah jejak kami karena kami jauh lebih dahulu dari kalian (dalam mengamalkan Sunnah –pent) dan jika kalian melakukan kesalah (dalam mengikuti jejak kami –pent), maka kalian telah tersesat sesesat sesatnya”.
    4. Dalam Suanan Abu Daud dari riwayat dari Khudzaifah Radhiyallahu ‘anhu belaiu berkata: “Segala bentuk ibadah yang tidak dilakukan oleh sahabat-sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka janganlah kalian melakukannya, karena para pendahulu tidak menyisakan sesuatu apapun untuk dipertanyakan, maka hendaklah kalian bertqwa kepada Allah wahai para qurra’ (pembaca al-Qur’an dan Hadis) dan ambillah jalannya para pendahulu kaian (salaf al-Shalih).
  1. Perkataan beberapa Tabi’in
    1. Khalifah Umar bin ‘Abd al-‘Aziz berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para pemimpin setelah beliau telah meletakkan banyak Sunnah, mengamalkannya merupakan bentuk kejujuran dan keimanan kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan penyempurna terhadap ketaatan kepada-Nya serta kekauatan bagai Agama Allah, tidak seorang pun dapat merubahnya dan menggantingannya, dan tidak pula dapat memalingkannya dari pendapat orang yang menyalahinya (Al-Qur’an dan Sunnah), barangsiapa yang mengikuti apa yang telah menjadi sunnah mereka (Rasulullah Shalllahu ‘alaihi wa Salllam dan para pemimpin Islam setelah beliau), maka dia telah mendapatkan hidayah, dan barangsiapa yang mempelajari mendalaminya, maka dia akan mengetahuinya (dengan baik) dan barangsiapa yang menyalahinya daan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang beriman, maka Allah akan memalingkannya dari apa yang telah ia berpaling darinya kemudian memasukkannya ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk temapat kemabali”
    2. Al-Hasan al-Bashry berkata : “hendaklah kalian mengenali kaum muhajirin akan keutamaan mereka dan ikutilah jejak merekaa, dan hendaklah kalian menjauhi perkara baru yang dibuat oleh manusia dalam agama karena sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diselewengkan”
  1. Perkataan beberapa Imam Ahlussunnah
    1. Imam Malik bin Anas berkata : “Barangsiapa yang melakukan kebid’ahan dalam Islam kemudian ia melihat kebid’ahan itu sebagai sesuatu yang baik, maka dia telah menuduh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berkhianat terhadap Risalah yang diembannya karena Allah berfirman : Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” jika seandainya pada hari itu tidak ada din , maka pada hari ini din itupun tidak akan ada”
    2. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Dasar-dasar Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh terhadapa apa yang telah dijalani oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengikutinya, dan meninggalkan kebid’ahan krena semua bentuk kebid’ahan adalah kesesatan”

Dalil-dalil yang dugunakan oleh para ulama Ahlussunnah dalam mencela dan memerangi kebid’ahan sanagatlah banyak dianataranaya adalah:

  1. Dalil dari Al-Qur’an
    1. Firman Allah :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Terjemahannya: Hari dimana terdapat wajah yang berseri-seri dan wajah yang hitam legam (Q.S Ali ‘Imran : 106)

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu ketika menafsirkan ayat ini belaiu berkata: “adapun yang berseri-seri wajahnya adalah Ahlussunnah wa al-Jama’ah serta para ulama dan yang berwajah hitam legam adalah Ahli bid’ah dan kesesatan”

  1. Firman Allah:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahannya : Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Q.S An-Nur: 63)

Dalam penafsian ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata: “maksud dari kalimat ‘An Amrihi adalah dari jalan Raslullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Mahajnya, metodenya, sunnahnya, dan syari’atnya sehingga sebuah perkataan dan perbuatan hanya dapat ditimbang berdasarkan perkataan dan perbuatn beliau –‘Alahi al-Shalatu wa Al-Salam – , maka yang sejalan dengan itu maka dapat diterima dan yang tidak sejalan tertolak bagaimanapun bentuk perkataan dan perbuatan tersebut.

  1. Dalil dari Sunnah Muthahharah
    1. Hadis al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata : “Suatu keetika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehatkan kepada kami sebuah nasehat yang menggetarkan hati dan melelehkan air mata kemudian kami berkata; “Wahai Rasul Allah tampaknya ini merumakan nasehat terakhir, maka berwasiatlah kepada kami” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh ‘azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Alloh). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”)
    2. Dari Ibunda kaum mu’minin, Ummu Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak.”

Adapun bentuk istidlal (Wajhu al-Istidlal) dari ayat-ayat dan hadis-hadis di atas tidak perlu dijelaskan krena telah sangat jelas dan terang bendeerang bagaikan terangnya matahari disiang hari.

  1. C. Bentuk-bentuk Bid’ah

Pada bagian ini penulis tidak perlu berpanjang lebar dalam menjelaskan bentuk Bid’ah yang berlaku dalam dunia Islam hari ini, sehingga cukup dengan menyebutkan beberapa poin saja. Diantara betuk-bentuk bid’ah yang tampak pada masyarakat Muslim hingga hari ini adalah sebagai berikut:

  1. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi  wa Sallam
  2. Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
  3. Bid’ah-Bid’ah yang dilakukan terhadap kuburan, bentuk-bentuknya;
    1. Berdo’a menghadap kekuburan
    2. Memohon kepada Allah Ta’ala dengan perantaraan simayyit dalam kubur
    3. Berkeyakinan bahwa berdo’a di atas kuburan lebih terkabul daripada berso’a di dalam masjid.
  4. Mengkhususkan bulan rajab sebagai waktu untuk mengamalkan beberapa bentuk ibadah-ibadah tertentu
  5. Mengkhususukan pengamalan ibadah-ibadah tetentu pada setiap tanggal 10 Muharram selain puasa yang disyari’atkan
  6. Mengkhususkan ibadah-ibah tertentu pada setiap malam petengahan bulan Sya’ban
  7. Menjaharkan lafadh niat setiap kali hendak melakukan shalat, berpuasa, berwudhu, mandi junub dan atau bertayammum.
  8. Membaca dzikir secara berjama’ah setiap selesai shalat fadhu
  9. Menyewa seorang imam untuk menshalati jenazah

10. Mengamalkan dzikir-dzkir sufi (kaum tasawwuf)

Catatan untuk Sofyan: Sejauh pengamatan penulis terhadap WI belum tampak sama sekali mereka melakukan salah satu dari sepuluh betuk-bentuk kebid’ahan yang telah kami sebutkan di atas, bahkan penulis menemukan bahwa mereka sangat memerangi kebid’ahan-kebid’ahan tersebut bahkan mengajak kaum muslimin dengan Bashirah untuk menjauhinya dan meninggalkannya agar tidak tersesat dari jalan yang lurus (yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat Iman dan Islam), sehingga keputusan MANIS yang mengatakan bahwa WI adalah AHLI BID’AH yang melakukan penyimpangan merupakan bentuk Tuhmah dan Ramyu terhadap jiwa-jiwa manusia yang merdeka dari perbudakan Thagut dan Syaithan La’natullahi ‘alaihim. Sebab seseorang dan atau satu kelompok nanti dapat di vonis sebagai AHLI BID’AH apabila telah melakukan dan atau mendakwahkan salah satu diantara sepuluh perkara di atas dengan menggunakan dalil-dalil baik al-Qur’an maupun as-Sunnah untuk mendukung kebid’ahan yang dia lakukan dan atau dia dakwahkan sehingga kemudian kebid’ahannya tersebut adalah KEBID’AHAN yang DHALAL (sesat) secara nyata [bukan berarti ada KEBID’AHAN yang HASANAH/baik], sebab penulis hanya menghukumi sesuatu itu sesuai dengan apa yang tampak dan hanya Allah Ta’ala yang lebih mengetahui apa yang terselubung atau tersembunyi.


[1] Al-Imam al-Hafidh al-Faqih Zainuddin Abu al-Farj Abdurrahman bin Syihabuddin al-Bagdady kemudian al-Dimasqy yang dikenal dengan Ibnu Rajab, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam fii Syarhi Khamsiina Haditsan min Jawami’ al-Kalim (Cet. I; Kairo: Dar al-‘Aqidah, 1422 H / 2002 M). h. 358. Setelah beliau mengatakan hal di atas beliau melanjutkan dengan mengatakan : “adapun perkara baru yang memiliki landasan syari’at yang  menunjukkan adanya hal tersebut, maka tidak disebut sebagai Bid’ah secara Syari’at, meskipun tampak seperti Bid’ah secara bahasa”.

[2] Abu al-Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqy, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim (Cet. II; Makkah al-Mukarramah: Dar Thayyibah, 1429 H / 1999 M), jld. III, h. 26. Lihat : Maktabah Syamilah V. 2,8.

%d blogger menyukai ini: