h1

CEMBURU TERHADAP MANHAJ AL-HAQ [Bag. 1]

17 Desember 2009

CEMBURU TERHADAP MANHAJ AL-HAQ

Catatan untuk Sofyan Chalid Ruray

Oleh: Ibnu Al-Mubhar As-Sanjayi*

Catatan ini adalah kajian berkala terhadap “risalah” Sofyan Chalid Ruray

MUQADDIMAH

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah alladzi hadana ilaa sabili almuhtadiin, wa Arsyadanaa ilaa sabili al-Rasyaad, wa Akhrajana min Dhulumaati al-Jahli ilaa Nuuri al-‘Ilmi, wa Atsbatanaa bi al-ittiba’I wa al-intimaai ilaa risaalati khatamil Anbiyaai wa al-Mursaliin Muhammadin Abdullahi wa Rasuluhi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa Ashahabih ath-Thahiriin wa man tabi’ahum biihsanin ilaa yaumi nalqaa birabbi al-‘ibaadi wa sallam, wa Ab’adanaa min khadzalati wa dhalalati al-Bida’I wa al-mubatdi’in.  wa ba’du,

Catatan ini kami buat bertujuan untuk meluruskan –min babi al-ishlahi baina ikwati al-mu’minin – terhadap berbagai perkara yang selama ini kerap dijadikan sebagai pemicu munculnya kedengkian, permusuhan dan pertikaian antara para da’I pengusung dakwah ahlussunnah di atas manhaj al-Haq yang tiada henti utamanaya di kota Makassar Sulawesi Selatan. Diantara perkara-perkara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hukum berifadah dan beristifadah (meminjam istilah Ust. Ikhwan Abdul Jalil, Lc pada dialog tentang Terorisme di UNHAS) dengan ahli bid’ah
  2. Al-Muwazanah atau Al-Inshof (bersikap pertengahan)
  3. Berpolitik
  4. Hizbiyyah (Berorganisasi)

Keempat perkara di atas yang juga merupakan perkara yang sangat masyhur dikalangan Salafiyyiin Makassar sebagaimana yang ditumpahkan oleh Sofyan Khalid Ruray (selanjutnya baca: Sofya) dalam karyanya : “Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyyah” yang di publikasikan melalui situs resmi Salafy Makassar : www.makassari.com,  tertanggal : 28 Oktober 2009 M. menjadi bulan-bulanan ibarat samudra tak bertepi (ka al-bahri laa saahila lahu) dimana kaum Salafy Makassar (selanjutnya baca : MANIS meskipun Dzulqarnain tidak ridha) senantiasa menjadikan keeampat perkara di atas bahkan masih terdapat tiga perkara lainnya sebagai senjata ampuh untuk “menyesatkan” Wahdah Islamiyyah (selanjutnya baca: WI) sejak berdirinya mulai dari bentuk yayasan hingga hari ini.

Selain min bab al-Ishlah baina Ikhwati al-Mu’minin catatan ini juga merupakan bentuk keresahan seorang pencari manhaj al-Haq yang bingung melihat perseteruan dua kelompok yang mengaku mengusung manjah salaf al-Shalih dalam menuntut ilmu dan berdakwah, sebagaimana[1] keresahan (atau kegerahan dan kekesalan???) Sofyan terhadap manhaj WI tempat dimana pertama kali ia berkenalan dengan manhaj Salaf dalam segala hal kemudian keluar untuk menghina, menghujat dan menyerang para guru yang telah mengajarkannya Bahasa Arab, dan dasar-dasar manhaj salaf dengan dalih Min Babi an-Nashihah.[2]

Tujuan lain dari catatan ini untuk menghindarkan kaum muslimin dari kebingungan yang tak pasti tentang manhaj salaf yang sesungguhnya sebab baik MANIS maupun WI masing-masing menggunakan rujukan kitab yang sama, ulama yang sama, mufty yang sama dengan teknik interpretasi yang berbeda.

Ikhwatii al-Mu’minuun… dari keempat perkara yang dijadikan oleh Sofyan sebagai bukti penyimpangan WI akan dikaji secara ilmiyah dan berkala insya Allah Ta’ala yang sesuai dengan urutan-urutannya dalam “risalah: mengapa saya keluar dari Wahdah Islamiyah?”.

Sebelum penulis lebih jauh membahas empat perkara tersebut terlebih dahulu akan di paparkan judul “risalah”[3] Sofyan dimana dia memberi judul pada tulisannya tersebut “Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyyah?” jika kita melihat sepintas lalu kalimat yang digunakan oleh Sofyan dalam menyusun judul “risalah”nya, maka masyarakat awam yang kurang terpelajar akan memandangnya biasa-biasa saja tidak ada sesuatu makna apapun tersirat di dalamnya, padahal bagi kaum terpelajar kalimat tersebut mengandung makna yang cukup dalam dan penuh dengan kebencian terhadap obyek yang dimaksudnya (dalam hal ini WI). Beberapa analisis dari kalimat yang digunakan oleh Sofyan dalam judul “risalah”nya adalah sebagai berikut:

  1. Sofyan ingin menunjukkan pengingkarannya terhadap WI yang telah membesarkannya dan mengajarkannya berbagai macam ilmu Islam dan memperkenalkan kepadanya manhaj salaf. Ini terbukti dari bentuk kalimat pertanyaan yang dia gunakan dimana dalam bahasa Arab kalimat seperti ini disebut dengan istilah Istifham Inkary yaitu kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Ini mengindikasikan bahwa Sofyan dalam pernyataannya tentang penyimpangan WI tidak membutuhkan jawaban dari pihak manapun bahkan dari WI sendiri, indikasi ini memperjelas akan karakteristik pribadinya yang tidak memiliki adab Munadzharah wa al-Mujadalah (diskusi dan dialog) serta bert’ashshub kepada Asatidzah MANIS yang baik secara individu maupun kelompok tidak menghendaki adanya dialog dengan WI dalam mendudukan dan meluruskan perkara Manhaj Salaf al-Shalih as-Shahih padahal Allah – ‘Azza wa Jalla – telah memerintahkan kita sebagaimana telah diperintahkan kepada Rasul-Nya –Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdakwah, bernasehat dan berdiskusi dengan adab-adab yang baik sebagaimana firman Allah –‘Azza wa Jalla– dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahannya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Jika Sofyan dan para Asatidzah MANIS yang bersamanya saat ini tidak ingin duduk satu meja dengan WI untuk meluruskan mana pemahaman yang menyimpang dari manhaj salaf dengan alasan bahwa seorang Salafy tidak duduk satu meja dengan Ahli Bid’ah dan atau alasan-lasan syar’i sebagaimana yang mereka pahami, maka menurut pandangan penulis perlu untuk menghadirkan salah seorang ulama kibar dari tanah haram untuk menjadi mediator (penengah) dan qadhi antara Asatidzah MANIS dan Asatidzah WI terhadap perkara ini dengan mendengarkan pendapat dan hujjah masing-masing pihak dengan konsekuensi bahwa siapapun yang diputuskan bahwa dia telah menyimpang dari manhaj salaf wajib bertaubat, dengan syarat ulama yang dihadirkan tersebut adalah merupakan ulama rujukan bersama dan dikanal oleh masing-masing pihak sebagai ulama ahlussunnah.

Jika pun Sofyan dan para asztidzah MANIS tidak ingin melakukan dialog dengan menggunakan perantara ulama ahlusunnah yang dikenal bersama dan dihormati, maka dapat dibuktikan bahwa Sofyan bersama dengan asatidzah MANIS tidak pernah ingin melihat kebaikan, mereka lebih senang men-tahdzir dengan menggunakan media mereka sendiri dan memaparkannya di hadapan para pengikutnya sendiri agar kaum muslimin lainnya baik yang ber-intisab kepada WI maupun di luarnya masuk ke dalam golongan mereka untuk melakukan tahdzir sebagaimana yang mereka lakukan. Wallahi Ini merupakan bentuk Ta’ashshub Hizby dimana berdakwah bukan lagi kepada Islam yang bermanhaj Shahih tetapi sudah berdakwah kepada kelompok dengan manhaj tertentu.

  1. Sofyan ingin menunjukkan kepada para pembacanya tentang kesesatan yang nyata akan obyek yang dia paparkan dalam hal ini WI, seolah obyek tersbut tidak memiliki kebaikan sedikitpun layaknya Iblis yang pernah menjadi polisi dunia kemudian karena pengingkarannya terhadap perintah Allah – ‘Azza wa Jalla -, maka seluruh kebaikannya terhapus dan menjadi ahli Negara untuk selamanya dan tidak berhak menikmati indahnya Surga Allah yang dipersiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.
  2. Sofyan memilih kalimat untuk judul “risalah”nya seolah dia talah berhasil memurtadkan diri dari golongan kafir yang berwajah Islam, sehingga secara tidak langsung dia mengkafirkan umat Islam yang dengan ikhlash mengucapkan Asy-Syahadatain baik secara Zhahir maupun bathin. Bukti yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Sofyan menciplak judul buku yang ditulis oleh seorang mantan ajudan ayatollah Ali Khumaini yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul; “Mengapa Saya Keluar Dari Syi’ah” dimana beliau bertobat dari Aqidah Syi’ah yang menyimpang lagi sesat dan kembali ke pangkuan Ahlussunnah wa al-Jama’ah yang lurus. Sehingga Sofyan dalam hal ini memposisikan diri seperti penulis buku tersebut bahkan dia menulis dibawah namanya sebagai mantan santri dan da’i dari pihak yang dia anggap sebagai kelompok yang sesat lagi menyesatkan. Wal ‘iyadzu billah.

Ahli Bid’ah adalah kelompok yang sesat lagi menyesatkan demikian ijma’ ulama Ahlussunnah wal Jama’ah , namun ketika dia mengungkapkan pertanyaan yang dia arahkan untuk dirinya “Apakah itu berarti bahwa WI Ahli bid’ah? Kemudia dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengatakan: “Bukan hak saya mengatakan itu, tetapi hak para ulama dan Asatidzah yang benar-benar mendalam ilmunya.” Menunjukkan behwa Jawaban ini sangat kontradiktif dengan isi “risalah”nya dengan melihat beberapa sisi dianataranya adalah:

  1. Didalam isi “risalah”nya dia menyatakan seterang-terangnya (bagaikan terangnya matahari disiang hari) akan kesesatan dan penyimpangan WI yang sadar atau pun tidak dia telah menghukumi WI sebagai ahli bid’ah karena terbiasa duduk satu majlis dengan ahli bid’ah, bermuwazanah, berpolitik dan bersikap Hizbiy dalam berdakwah.
  2. Dia menisbahkan hak penghakiman terhadap WI kepada para ulama. pertanyaannya adalah Ulama siapa yang dimaksud oleh Sofyan ?? sebab sepengetahuan penulis belum terdapat satu tulisan dan rekaman pun dari para ulama kibar utamanya yang ada di Mamlakah al-‘Arabiyyah yang menyebutkan bahwa WI tergolongan kelompok Ahli Bid’ah dalam Islam. Adapun kalimatnya “dan Asatidzah” jika yang dimaksud dengan asatidzah disini adalah Dzulqarnain As-Sanusy dan kawan-kawan atau mungkin Sofyan menggolongkan mereka dalam tataran ulama yang patut untuk di taati (bentuk ta’ashshub), maka hal itu benar sebab mereka adalah orang-orang yang tidak pernah kering tenggorokannya dalam melemahkan fondasi WI yang dibangun di atas manhaj shahih.
  3. Sofyan dalam Tanya-jawab untuk dirinya sendiri pada bagian muqaddimah “risalah”nya menggunakan azas lempar batu sembunyi tangan dimana dia berusaha untuk menyembunyikan hawa nafsunya dibalik kefasihan kata-katanya agar terlepas dari sikap menghakimi lalu menisbahkan penghakiman kepada para ulama wal-‘Iyadzu billah… pertanyaannya kemudian adalah apakah tugas para ulama hanya untuk menghakimi manusia bahwa sifulan itu sesat, si fulan itu Ahlu bid’ah??

Banyak karya ulama yang mebahas tentang penyimpangan JI, IM, HT, dan kelompok-kelompok lainnya tetapi belum terdapat satupun karya ulama yang membahas penyimpangan yang dilakukan oleh individu kaum muslimin yang dapat menjatuhkan kehormatan mereka [kecuali mereka yang secara zahir melakukan penyimpangan dan mendakwahkannya seperti Tokoh-tokoh Filsafat dan Tasawuf, Syi’ah, Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Qadariyah dll] sebab para ulama sunnah pasti berusaha untuk tidak lalai dalam mengamalkan Hadis Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- yang berbunyi :

أُمِرْت أَنْ أُقَاتِل النَّاس حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَه إِلَّا اللَّه فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالهمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ (متفق عليه)

Terjemahannya: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” tiada sesembahan yang haq selain Allah –‘Azza wa Jalla -, jika mereka mengucapkan hal tersebut, maka darah dan ahrta mereka terjaga dariku (untuk memeranginya) kecuali apa yang merupakan hak-hak Islam, dan perkara mereka di kembalikan kepada Allah –‘Azza wa Jalla-“ (Muttafaqun ‘Alaihi)

Ikhwatii al-Mu’minun … Catatan ini tidak hanya sekedar merespon “risalah” Sofyan untuk WI tetapi juga untuk memberikan pemahaman kepada pribadi penulis khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya tentang perkara Bid’ah, Muwazanah, Bepolitik, dan Berorganisasi menurut tinajuan Syari’at yang sesuai dengan pemahaman Salaf al-Shalih agar tidak salah dalam mengkalim sesuatu.

Selanjutnya akan dibahas poin perpoin secara berkala dalam bentuk pasal yang merupakan sub judul dari CEMBURU TERHADAP MANHAJ AL-HAQ.


* Penulis adalah seorang Tuhlaib Ilmu Syar’i pada berbagai perguruan islam yang ada di Sulawesi Selata dengan bidang konsentrasi Fiqhi Muqaran dan Hadits. Peneliti aliran-aliran sesat di Indonesia yang melakukan penelitian secara bebas tanpa terikat dengan salah satu organisasi Islam manapun.

[1] Ini merupakan bentuk kiyasan yang jauh api dari panggangnya sebab penulis masih berstatus Thulaib yang masih berusaha sekuat tenaganya untuk memahami Islam yang sesuai dengan Manhaj Salaf Shalih ash-Shaih sementara Sofyan Chalid Ruray adalah seorang Syaikh yang derajatnya telah sama dengan Syaikh al-Tahdzir as-Salafy al-Ustadz Dzulqarnain as-Sanusy, Syaikh al-Tadhlil al-Ustadz Abu Karimah Askari dan Syaikh al-Mu’alliq Abu Faizah Abdul Qadir dan lebih tinggi dari derajat Ust. Zaitun Rasmin, Ust. Ikhwan Abdul Jalil, Ust. Yusron Anshar, Ust. Ihsan Zainuddin, Ust. Jahada Mangka, Ust. Rahmat Abdurrahman dan Asatidzah WI lainnya.

[2] Penulis menyatakan hal ini sebab Sofyan sama sekali menganggap bahwa semua ilmu yang telah diajarkan kepadanya oleh para Asatdzah WI merupakan ilmu bathil yang wajib untuk ditnggalkan karena ilmu tersebut diajarkan oleh “ahli bid’ah” . dalam kurun waktu 7 tahun anatara tahun 200-2005 sebagai Thalib di STIBA WI, dan antara tahun 2005-2007 sebagai Ustadz WI. Setelah itu ia pun hijrah dan bergabung kedalam kelompok Salafy Makassar sebagai Syaiku al-Tahdzir  wa Al-Tadhlil sempai sekarang mengikuti jejak pendahulunya Syaikh Tashrif  Di Ambon dan Syaikh Sutamin di Sultra yang  kesemuanya hijrah dari “manhaj WI” kata mereka yang bersifat muthawassith ke manhaj “salafy” yang  bermanhaj Tahdzir yang menurut pengakuannya dia telah pelajari tetapi apakah mungkin sebuah manhaj dipelajari dalam kurun waktu yang sangat singkat (tidak cukup 1 tahun) kemudian seseorang dapat menjadi syaikh???

[3] Kata “Risalah” merupakan bahasa Indonesia yang di serap dari bahasa arab yang merupakan bentuk mashdar dari akar kata Rasalah wa Irsal yang memiliki berbagai bentuk makna diantaranya adalah: Surat, tetapi jika tulisan Sofyan ini dimaknai sebagai surat yang ditujukan kepada Asatidzah WI lalu kenapa dia tidak mengiimkannya ke WI melalui kurir jika tidak ingin bertemu dengan mereka untuk mendapatkan jawaban??,  dengan beriqtida kepada Imam Ahlussunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’y –Rahimahullah – dimana salah satu diantara karya beliau deberi judul “Kitab Ar-Risalah” yang merupakan jawaban dari pertanyaan-tanyaan Abdurrahman bin Mahdy seputar Manhaj al-Istidlal li Ahlissunnah wa al-Jama’ah. (Lihat Muqaddimah Muhaqqiq Kitab Ar-Risalah), karena Salafy adalah kaum yang menjadikan para ulama-ulama shaleh terdahulu sebagai ikutan dalam segala hal.

One comment

  1. اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه



Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: