h1

ANTARA YANG BERAKAL DAN TIDAK

28 Oktober 2009

Kehidupan manusia berada diantara ada dan tiada, maksudnya adalah bahwa manusia berawal dari ketiadaan kemudian ada lalu pergi untuk tiada, sehingga alam dunia hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan bekal menuju kepada alam ketiadaan dari atasnya.

Ketiadaan yang menjadi asal manusia yang kemudian ada terkadang melenakan mereka dari berbagai macam yang juga berasal dari ketiadaan, seperti kemewahan, ketenaran, dan kejahatan demikian juga dengan kebaikan, ketawadhu’an dan kecukupan hidup.

Keterlenaan manusia dengan kemewahan, ketenaran, dan kejahatan disebabkan karena hawa nafsu yang bersifat abstrak yang di kendalikan oleh Syahwat dengan setan ‘alaihi la’natullah sebagai nahkodanya lebih banyak mendominasi manusia ketimbang kebaikan, ketwadhu’an dan kecukupan hidup dimana akal sebegai nahkodaya dan Wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai pegendalinya.

Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunia wa ad-Diin menyatakan bahwa orang-orang yang berakal adalah mereka yang dapat membedakan anatara yang benar (al-Haq) dan yang salah (al-Bathil) sementara orang yang tidak berakal adalah mereka yang memandang hal yang bathil (salah) itu sebagai suatu kebenaran dan melihat al-Haq (kebenaran) itu sebagai suatu ke-Bathil-an (kesalahan).

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa manusia yang lebih mengedepankan kemewahan, ketenaran, dan kejahatan mereka adalah manusia yang tidak berakal sehingga mudah dikendalikan oleh syahwatnya. Adapun mereka yang menjadikan kebaikan, ketawadhu’an dan kecukupan hidup sebagai jalan menuju ketiadaan adalah orang-orang yang berakal sehingga tiada satupun nasehat yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah keculai mereka ikuti dan tiada setitik bibit kejahatan, kemewahan dan ketenaran kecuali mereka berusaha untuk menjauhinya.

Para ulama shaleh terdahulu (salaf al-shaleh) adalah manusia yang berakal dimana mereka adalah manusia yang jauh dari kesan kemewahan padahal tidak sedikit diantara mereka adalah orang kaya dari segi harta, mereka jauh dari kejahatan sebab mereka senantiasa menimbang setiap perkataan dan perbuatan dengan wahyu dan akal, dan juga mereka jauh dari kesan ketenaran sebab mereka adalah manusia yang apabila ada mereka tak dikenali dan bila tiada mereka dicari dan dibutuhkan.

Salah satu contohnya adalah ulama dari kalangan ahli hadits dan fiqhi beliau adalah Sufyan al-Tsaury; dikisahkan bahwa suatu ketika beliau meminta agar dipekerjakan dalam suatu kafilah (rombongan musafir) yang hendak menuju Mekkah, kemudian kafilah tersebut memintanya utuk menjadi pembuat roti. Namun ketika beliau membuat roti, roti yang beliau buat adalah roti yang jelek dan tidak enak, akhirnya sang pemimpin kafilah memrintahkan pengawalnya untuk memukuli beliau, setibanya kafilah tersebut di Mekkah kemudian para peduduk berkerumun disekitar imam al-Tsaury, sang pemimpin kafilah pun heran melihat keadaan tersebut lalu bertanya kepada salah seorang penduduk; “Siapakah orang itu?” orang itu pun menjawab: “Dia adalah Sufyan al-Tasury”. Setelah imam al-Tsaury mengadakan pegajian kemudian sang pemimpin kafilah mendekati beliau dan berkata: “Wahai Abu Abdullah, maafkan kami, kami tidak mengenali siapa anda” imam al-Tsury berkata: “Barang siapa yang merusak makanan orang-orang, maka dia akan mendapatkan lebih banyak lagi”.

Subahanallah! Begitu mulianya sikap manusia yang berakal dimana siksaan yang mereka dapat dari orang lain tidak mereka balas dengan seksiaan yang sama dan atau yang lebih parah dari yang dia rasakan, bahkan imam al-Tsury masih tetap ingin melanjutkan perjalanan dengan kafilah yang telah memukulinya tersebut dengan tugas sebagai pembuat roti.

Imam al-Mawardy menukil perkataan sahabat Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu: “Orisinilitas seorang lelaki adalah akalnya, kemuliaannya adalah agamanya dan harga dirinya adaalah akhlaqnya”. Perkataan Amirul Mukminin ini sungguh telah berada dalam diri Imam al-Muhaddits al-Faqih al-‘Allamah Abu Abdullah Sufyan al-Tsaury sebagaimana tergambar dalam kisah perjalanan beliau ke Mekkah bersama sebuah kafilah.

Bagi para laki-laki mukmin adakah kita telah memaksimalkan fungsi akal? Sudahkah kita bangga akan Islam sebagai agama kita? Sudahkah kita berakhlaq sebagaimana akhlaq yang Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam kerjakan dan ajarkan? Pernahkah kita menanamkan pada diri kita sebagai manusia yang bila hadir ditengah masyarakat tidak dikenali dan jika tiada dicari dan dibutuhkan?

Jadilah manusia yang jika ada tidak dikenali dan jika tiada dicari, hanya dengan akal yang baik, agama yang lurus dan akhlaq yang mulia yang dapat mengantarkan kita kepada sikap ini. Wallau a’lam.

(Terinspirasi dari perkataan Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu)

%d blogger menyukai ini: