h1

BACK TO BASIC

7 Oktober 2009

Sebuah bentuk awal dari maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah bertanggungjawab dalam memakmurkan dunia, kemudian Allah Swt mengutus para Rasul kepada manusia yang bertanggungjawab dalam menyempaikan dan menyebarkan Risalah Allah hingga diutusnya Muhammad Shallallahu ’Alaihi wa Sallam yang merupakan penutup dan penyempurna para Rasul dimana awal wahyu yang beliau terima adalah wahyu yang mengandung makna back to basic, maksudnya kembali kepada tanggungjawab utama penciptaan manusia yang dibebankan oleh Allah yaitu kewajiban manusia dalam menjalankan fungsi memakmurkan bumi yang telah di perintahkan oleh Allah baik secara material maupun nonmaterial dengan membentuk sebuah peradaban yang berbasis Ilahiyah sebagaimana yang diwahyukan kepada sang penympurna risalah Allah dimuka bumi. Berdsarkan hal ini, maka Allah Swt mewahyukan pertama kali 5 ayat kepada Rasulullah Muhammad Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam yaitu;

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Terjemahannya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5).

Kelima ayat pertama di atas adalah ayat yang menunjukkan bahwa manusia harus Back To Basic (kembali memfungsikan tujuan penciptaan manusia yaitu memakmurkan dunia dan membangun perdaban) serta pemberitahuan akan pentingnya ilmu dalam memakmurkan dunia. Hal ini menunjukkan keberlanjutan tanggungjawab ilahiyah dan pendalaman terhadap ilmu secara continue.

Berdasarkan hal ini maka dapat kita katakan bahwa sesungguhnya  wahyu pertama sebagaimana yang tergambar dalam lima ayat tersebut di atas tidak memiliki keabstrakan makna, serta tidak memiliki keterputusan perintah sebagaimana yang terdapat pada risalah-risalah terdahulu, akan tetapi memiliki kesinambungan atas risalah para rasul-rasul terahulu yang secara teratur berhubungan erat dengan Risalah yang dibebabnkan kepada Muhammad al-Mushthafa Shallallahu ‘Alaihi wa sallam yang meyakinkan kita bahwa sesungguhnya Risalah ad-Din adalah memakmurkan dan membangun dalam bentuk beraktifitas (beramal) untuk kebaikan, kebenaran dan keamanan. Dan dari sisi lain dapat pula memberikan keyakinan bahwa ad-Din ini bertujuan agar dapat memberikan kemaslahatan kepada manusia untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu A’lam

^_^ Zulkarnain Mubhar^_^ (Selanjutnya. . . Human Being)

%d blogger menyukai ini: