h1

KEISTIMEWAAN IEDUL FITHRI

5 Oktober 2009

Kehidupan di dunia ini bagaikan roda beribu tahun terus berputar, ketika roda zaman menggilas bumi kehidupan terus berjalan menuju alam kekekalan segala apa yang terdapat dialam ini akan musnah dan hancur tanpa sisa dan hanya satu yang kekal yaitu pancaran sinar wajah ilahi yang akan tetap bersinar nan abadi hingga hari perhitungan dan pemabalasan ditegakkan.

Ketika alunan takbir, tahmid dan tahlil  menggema yang dilantunkan oleh setiap lisan seluruh kaum muslimin yang membahana di atas bumi Allah, itu bertanda bahwa ramadhan yang mulia nan agung yang penuh dengan keberkahan dimana didalamnya pintu-pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup serapat-rapatnya dan setan-setan dibelenggu dengan belenggu yang kuat lagi erat. Bulan dimana didalamnya terdapat satu malam yang memilki kemuliaan yang sangat tinggi, jika seorang hamba melaksanakan ibadah pada malam tersebut dengan penuh kekhusyu’an dan ketawadh’an penuh harap atas ridha Allah dan penuh rasa takut akan azab Allah, maka dia akan mendapatkan kemuliaan melebihi kemuliaan yang didapatkan selama seribu bulan perjalanan, kini telah meninggalkan kita semua , rembulannya telah tenggelam dan mataharinya kini tak terbit lagi kecuali satelah melewati masa satu tahun, maka barang siap yang menghabiskan seluruh siang dan malamnya di bulan yang mulia tersebut dengan berpuasa karena Allah, menghidupkan malam-malamya dengan tarawih dan lail, meramaikan hari-harinya dengan membaca al-qur’an sambil mentadabburi ayat-ayatnya dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan beribadah dengan penuh ketundukan, kepasrahan diri, kepatuhan, dan keikhlasan kepada Allah, maka Allah akan menerimanya pada hari Iedul Fithri ini dan memakaikan kepadanya pakaian taubat serta mahkota keridhaan dengan gelar Muttaqien kemudian memasukkannya ke dalam surga Insya Allah.

Adapun orang-orang yang menghabiskan masanya pada bulan ramadhan dengan pekerjaan sia-sia, melakukan kemaksiatan, menodai kesucian ramadhan, mencemari kesucian al-Qur’an, melanggar batasan-batasan Allah, menghina kehoramatan Allah, maka tiada arti bagi Allah atas pakaian baru yang mereka kenakan hari ini, bahkan ia datang pada hari ini dengan tangan yang hampa dari kebaikan dan keutamaan, jauh dari kemulian dan penuh dengan kerugian yang tak terukur.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa :

ليس العيد بلباس جديد ولكن العيد بتوبة جديدة

“Bukanlah Hari Ied Itu ditandai dengan pakaian baru akan tetapai Ied itu ditandai dengan taubat yang baru.”

Hari iedul fitri merupakan keistimewaan dan kemulian yang diberikan oleh Allah kepada ummat ini, dimana pada hari ini seluruh umat Islam dari seluruh penjuru keluar dan meninggalkan rumah-rumah mereka menuju ke tempat shalat sambil melantunkan satu nada dengan satu bahasa dan kalimat yang kekal yaitu :   الله أكبر 3× لاإله إلا الله هو الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

ketika mereka melantunkan kalimat ini seolah mereka berkata kepada seluruh penghuni jagat raya bahwa Allah maha besar dari segala yang besar, Allah maha kuat dari segala kekuatan, Allah maha sempurna dari segala bentuk dan keadaan, Allah maha terpuji dari semua yang terpuji, Allah maha Mulia dari semua yang mulia, Allah maha besar dari seluruh Alam, Allah maha kekal lagi maha tinggi Dia-lah pemilik seluruh pujaan, pujian, dan kebaikan. Dia-lah yang maha kekal untuk selama-lamanya dan hanya Dia-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Selain itu ketika kita bertakbir, bertahmid dan bertahlil seolah kita berkata kepada seluruh manusia : “Wahai orang-orang yang sombong sesungguhnya Allah maha besar dari kalian. Wahai orang-orang yang senang dengan kemaksiatan dan kecongkakan sesungguhnya Allah lebih besar lagi lebih mulia dari kalian. Wahai orang-orang yang lalai, lupa lagi lengah sesungguhnya Allah lebih besar lagi maha penjaga dan maha waspada dari kalian”

Mengumandangkan takbir pada setiap hari Ied merupakan perintah dari Allah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah berfirman :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185)

Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur.

Pada hari yang mulia ini kita memakai pakaian yang baru atau pakaian yang bersih, indah lagi penuh dengan wangi-wangian, jiwa yang sehat segar lagi bugar, itu berarti bahwa kita telah melihat nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita, maka sepantasnyalah bagi kita untuk berkata pada hari ini:

“Wahai Tuhan kami inilah nikmat yang Engkau telah karuniakan kepada kami, pakain yang kami pakai ini adalah nikmat dan karunia dari-Mu, jiwa yang sehat segar lagi bugar ini adalah nikmat dan karunia yang sangat besar dari-Mu ya Allah”.

Dalam kedaan demikian seolah kita berkata kepada seluruh manusia :

–          “Lihatlah nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kami !”

–          “Lihatalah keutamaan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kami!”

–          “Lihatlah kemuliaan yang Allah berikan kepada kami hari ini!”

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11(

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده (البيهقي)

“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat yang telah dikaruniakan kepada hamba-Nya.”

Pada hari iedul fitri Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita untuk mengeluarkan zakat fitrah yang bertujuan agar dapat mensucikan jiwa dan harta kita dari segala hal yang bersifat sia-sia dan dapat menyantuni orang-orang yang fakir dan miskin diantara kita, sebagaiman yang sampaikan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma :

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو الرفث وطعمة للمساكين، فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات (رواه أبو داود وابن ماجة وصححه الحاكم)

“Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari al-Lagwu (perkataan dan perbuatan sia-sia) dan ar-Rafats (perkataan dan perbuatan yang menimbulkan birahi). Dan memjadi makanan bagi orang-orang miskin, maka barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat (Iedul Fitri) ditegakkan, maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa yang mengeluarkannya atau menunaikannya setelah shalat (iedil fitri) ditegakkan, maka ia adalah sedekah yang kedudukannya sama dengan sedekah-sedekah lainnya.”

Maka dari itu tidaklah sepantasnya bagi kita untuk bergembira dengan pakaian-pakain baru kita atau pakaian-pakaian indah kita, berbangga dengan kendaran-kendaraan kita yang mewah, sombong dengan rumah-rumah kita yang megah, senang dengan makanan dan minuman kita yang lezat sementara disekitar kita masih terdapat orang-orang fakir, miskin, dan anak yatim yang berusaha untuk menahan dinginya malam dengan kulit badan mereka, berusaha bangkit dari duduknya sambil memegang perut mereka karena kelaparan dan menahan kerongkongan mereka dari haus yang mencekiknya. Dengan keadaan mereka yang demikian parah kita yang berkecukupan masih enggan untuk menyantuni mereka, ingatlah firman Allah yang berbunyi :

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أغنوهم عن سؤالهم في هذا اليوم (البيهقي)

“Perkayalah dan berikanlah kepada mereka hari ini tentang apa yang mereka butuhkan”

Diantara makna terbesar dari iedul fitri adalah kembalinya seorang hamba ke pangkuan Allah yang maha hidup lagi kekal dengan penuh kepasrahan dan ketundukan dengan taubat yang sebenar-benarnya dengan penuh keikhlashan, maka barang siapa yang tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan tidak mengumandangkan dirinya untuk kembali kepada Allah dengan cara menyembah-Nya dan menjalankan aturan-aturan-Nya dalam kehidupan, maka tiada Ied dan tiada kemenangan baginya untuk hari ini, karena makna ied yang sesungguhnya adalah kembali kepada Allah dan kemenangan yang sesungghnya adalah kemenangan dari memerangi iblis dan bala tentaranya.

Jadi bagaimana mungkin seseorang diantara kita bersenang-senang hari ini sementara dia telah memutuskan tali yang menghubungkan antara dia dengan Allah?, bagaimana mungkin dia bergembira hari ini sementara dia telah menolak pintu taubat yang telah dibukakan oleh Allah untuknya? Dan bagaimana mungkin dia merasa menang hari ini sementara dia belum menganggap setan sebagai musuh utama yang wajib untuk diperangi dan dikalahkan?

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77)

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.

Diantara rahasia dan keistimewaan Iedul Fitri adalah ketika Allah menganugrahkan kepada kita untuk saling menziarahi, saling mengunjungi, saling memaafkan antara satu dengan yang lainnya yang bertujuan agar dapat menyambung kembali tali persaudaraan antar sesama muslim.

Adapun orang-orang yang memutuskan tali silaturrahim dan tali persaudaraan antar sesama muslim, maka dia telah berhak mendapat laknat Allah sebagaimana yang di firmankan oleh-Nya dalam Q.S Muhammad : 22-23 yang berbunyi :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (22) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (23)

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?  Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

Dan di dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 25 Allah berfirman :

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (25)

Dan Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang Itulah yang memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يدخل الجنة قاطع

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan atau silaturrahim”

Jika kita tergolong diantara mereka yang pernah memutuskan tali persaudaraan dan tali shilaturrahim, maka kita termasuk orang yang terlaknat dan menjadi ahli Neraka sebagaimana yang disebutkan dalam ayat dan hadis di atas. Namun jika kita ingin terlepas dan terbebas dari laknat tersebut, maka pada hari yang fitrah dan penuh maaf ini hendaklah kita bersegera menyambung kembali tali persaudaraan dan tali shilaturrahim yang pernah kita putuskan dahulu dengan saling menziarahi, berjabatan tangan, berpelukan dan saling bermaafan.

Saudara-saudaraku seiman ketahuilah bahwa sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara dan tiada rasa dendam, benci, dan hasad diantara mereka.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (47)

Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Demikianlah Allah menggambarkan bagaimana bentuk persaudaraan sesama muslim yang akan mereka bawa hingga masuk kedalam surga.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya orang yang beriman adalah orang yang sangat senang dengan persaudaraan, kekeluargaan, kasih sayang dan persatuan, serta membenci pertikaian dan perpecahan.

Maka bersegeralah kembali kepada Allah pada hari Iedul Fithri dan untuk selamanya, sebab celakalah orang yang hanya mengenal Allah pada bulan ramadhan lalu melupakan-Nya setelah ramadhan berlalu Na’udzu billahi min dzalik. Bukankah Tuhannya ramadhan juga merupakan Tuhan-Nya Syawal dan bulan-bulan lainnya?, maka barang siapa yang mengenal Allah dan takut kepada-Nya pada bulan ramadhan hendaklah mengenali Allah dan takut kepada-Nya kapanpun dan dimanapun. Dan barang sipa yang bertaubat kepada Allah pada bulan ramadhan, maka hendaklah melanjutkan taubatnya dan senantiasa memperbaharuinya kapanpun dan dimanapun.

اتقوا الله حيثما كنت واتبع السيئة الحنة تمحوها

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kalian berada, dan ikutkanlah setiap amalan jelek dengan amalan yang baik (dengan begitu) amalan yang jelek akan terhapus.”

%d blogger menyukai ini: