h1

Indonesia Butuh Kepemimpinan Model Deng Xiaoping

7 Maret 2009

Republika, 7 Maret 2009

buya-syafiiBANDAR LAMPUNG — Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif, menegaskan untuk memajukan bangsa dan negara, sudah saatnya Indonesia membutuhkan pola kepemimpinan model Deng Xiaoping yang berkuasa pada 1976-1997. Menurut dia, di bawah kepemimpinan Deng, negeri Cina berkembang menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi yang tercepat di dunia.

“Untuk bangkit secara serentak, Indonesia memerlukan tampilnya kepemimpinan model Deng Xiaoping,” kata Syafii Maarif pada Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bandar Lampung, Sabtu (7/3). Untuk itu, kata dia, peran Muhammadiyah dalam menentukan kepemimpinan ke depan, ada dua langkah strategis yang harus dilakukan untuk menolong bangsa ini dari keterpurukan.

Pertama, kata dia, untuk jangka pendek, Muhammadiyah harus secara aktif bersama kekuatan lain tidak partisan untuk memperbaiki kualitas kepeminpinan bangsa yakni nasional dan daerah. Keberanian dengan visi kepemimpinan yang sangat jelas, merupakan syarat mutlak untuk melangkah pasti. “Indonesia punya kekurangan dalam masalah keberanian dan visi yang tegas,” ungkapnya.

Lantas, ia bertanya apakah Muhammadiyah mampu menggalang seluruh kekuatan nonpartisan dalam beberapa bulan ke depan mencari sosok kepemimpinan visioner. Ia berharap peserta Tanwir mau berpikir ke arah persoalan besar yang menantang ini. “Jika sukar menyebut nama, rumuskan kreteria tentang kepemimpinan yang diperlukan lima tahun yang akan datang,” ujarnya.

Kedua, untuk jangka panjang, Syafei mengatakan Muhammadiyah harus menata kembali visi internalnya dalam proses pembentukkan kader. Selama ini, lanjutnya, selalu dimulai dari kader persyarikatan, baru kemudian kader umat, dan kader bangsa. “Paradigma semacam ini harus dibalik secara radikal, dengan urutan; kader kemanusiaan, kader bangsa, kader umat, dan kader persyarikatan,” jelasnya.

Menurutnya, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai pintu masuk utama, visi Muhammadiyah akan menjadikan umat manusia secara keseluruhan sebagai mitra kerja bagi tegaknya keadilan dan persaudaraan universal. Ia mengakui memang sulit, namun Islam mengajarkan rahmatan lil alamin, sebagai wujud mimpi ideal itu.

Selain itu, dengan menyiapkan diri sebagai kader bangsa, yang membawa visi keislamannya, Muhammadiyah akan tampil sebagai kekuatan dhsyat yang piawai, sebagai tenda besar nasional. Ini adalah sebagai modal Muhammadiyah untuk memperkuat proses integrasi nasional yang sekarang masih rapuh.

Sebagai kader mayoritas umat Islam, ia mengharapkan Muhammadiyah tidak gamang lagi masuk ke “rumah-rumah” umat Islam yang bertebaran. “Langkah itulah yang paling tepat dengan cita-cita Alquran,” tambahnya.

Pada bagian lain, Yudi Latif, kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, mengatakan Muhammadiyah memiliki modal sejarah yang cukup bagus untuk memainkan peran penting , dalam usaha pembangunan karakter bangsa. Sejak awal, kata dia, pertumbuhan Muhammadiyah berbasis pada jaringan “kaum dagang mardhika”, dengan etos kerja dagang yang kuat, yang tidak bergantung pada ekonomi kolonial dan birokrasi.

Selain itu, lanjut dia, Muhammadiyah konsisten degnan jalur kebudayaan, untuk mengimbangi perkembangan politik dengan pertumbuhan kapasitas belajar sosila. “Integritas moral Muhammadiyah dibuktikan dengan menjaga independensi dalam dunia politik praktis, dan tidak mengobralkan moral organisasi,” ujarnya.

Yang diperlukan Muhammadiyah, Yudi mengatakan persoalan bagaimana merevitalisasi modal kultural dan sosialnya, sebagai sumber pengisian bagi pemulihan moralitas dan kepercayaan dalam berbangsa dan bernegara.

Tanwir Ditutup

Sementara itu, menurut jadwal petang hari ini (Ahad, 8/3), Wakil Presiden Jusuf Kalla, akan menutup Sidang Tanwir di Bandar Lampung, yang sudah berlangsung sejak Kamis (5/3). Sebelumnya, Tanwir Muhammadiyah dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam Tanwir ini, PP Muhammadiyah akan mengeluarkan keputusan-keputusan yang strategis untuk menghadapi Muktamar tahun 2010, termasuk keputusan politik menjelang Pemilu dan Pemilu Presiden.

%d blogger menyukai ini: