h1

MEMBUDAYAKAN SIKAP TABAYYUN

16 Februari 2009

Allah Swt berfirman :


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S Al-Hujurat: 6)

Suatu ketika Rasulullah Saw memerintahkan kepada al-Walid bin Uqbah untuk menjemput dan mengambil zakat yang telah dikumpulkan oleh al-Harits. Dalam perjalanan al-Walid merasa gentar karena sebelumnya ia pernah bermasalah dengan kaum al-Harits, maka ia pun kembali sebelum sampai kepada tempat yang dituju kemudian mebuat laporan palsu kepada Rasulullah bahwasanya al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya bahkan ia mengancam untuk membunuhnya.

Mendengar laporan al-Walid kaum muslimin bereaksi dan bersiap untuk memerangi al-Harits dan kaumnya. Namun timbul keraguan dalam hati Rasulullah Saw atas laporan al-Walid bin Uqbah. Akhirnya Rasulullah Saw mengutus Khalid bin al-Walid untuk mencari tahu kebenaran atas laporan al-Walid. Ketika rombongan Khalid bin al-Walid hendak menemui al-Harits dalam perjalanan ia berpapasan dengan al-Harits yang hendak menuju kepada Rasulullah Saw. Al-Harits bertanya: “kepada siapa engkau di utus? Khalid menjawab: Kepada engkau. “Mengapa?” tanya al-Harits. Khalid menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengutus al-Walid bin Uqbah, namun ia melaporkan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan engkau hendak membunuhnya,” al-Harits menjawab: “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya, dan tidak seorangpun yang datang kepadaku”.

Setelah mendengar jawaban al-Harits dan melihat sesuatu yang mengesankan, maka Khalid pun berpamitan dan kembali kepada Rasulullah Saw seraya menyampaikan berita yang sesungguhnya, lalu turunlah ayat 6 dari surat al-Hujurat yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S Al-Hujurat : 6)

Dari kisah sebab turunnya ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya konfirmasi dengan memastikan kebenaran suatu berita yang sampai kepada kita sebelum kita menyikapinya. Mari kita lihat bagaman sikap Rasulullah sebagai pemimpin yang tidak gegabah dalam menyikapi suatu berita yang kebenarannya masih dalam keadaan samar, jikalau pada saat itu Rasulullah tidak mengirim utusannya untuk melakukan rechek tentang suatu kebenaran atas laporan al-Walid, maka pada saat itu pula akan terjadi pertumpahan darah antar sesama muslim.

Tujuan melakukan rechek atau konfirmasi atas kebenaran suatu berita akan dapat mengantarkan kita pada perkataan dan sikap yang adil dan benar. Sebab jangan sampai kita terburu-buru dalam menyikapi suatu berita tanpa melakukan konfirmasi atas kebenaran berita tersebut kemudian akan mengantarkan kita kepada penyesalan, perpecahan antar sesama, permusuhan dan saling membeci antara satu dengan yang lainnya, bukankah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersatu dan melarang untuk berpecah sebagaiman perpecahan yang terjadi dikalangan ahli kitab, Allah berfirman: “Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlahakan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hati-hati kalian sehingga kalian menjadi saudara antara satu sama lain” (Q.S Ali Imran: 103). kemudian Allah menjelaskan tentang keadaan ahli kitab yang terdahulu dimana mereka berpecah belah dan bercerai berai setelah datangnya keterangan yang sangat jelas kepada mereka : “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Q.S Ali Imran : 105)

Tahukah kita bahwa pekerjaan memecah belah persatuan dan kesatuan ummat adalah pekerjaan orang-orang munafik dimana mereka merupakan kelompok oposisi yang berdiri sendiri dengan ideologinya yang sangat oposan? cobalah kita menelaah kembali al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 14 dimana Allah berbicara tentang mereka : “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman mereka mengatakan: ‘Kami telah beriman’, dan bila mereka kembali kepada syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan: ‘sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah mengolok-olok”.

Pada masa Rasulullah Saw kaum munafik mendirikan satu masjid yang bertujuan untuk melakukan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin dengan melancarkan berbagai macam isu-isu provokatif sehingga persatuan dan persaudaraan antara kaum Muhajirin dengan Anshar pada waktu itu terjalin dengan penuh permusuhan dengan dalih “demi kebaikan”, hal ini Allah rekam dalam firman-Nya : “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (kapada orang-orang mu’min), kekafiran dan untuk memecah belah (persaudaraan) antara orang-orang mu’min dan menunggu kedatangan orang-orang yang telah memusuhi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu (orang Nasrani), mereka sesungguhnya bersumpah: ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan’, dan sesungguhnya Allah menyaksikan akan kedustaan sumpah mereka” (Q.S At-Taubah:107

Dalam menyambut dan menyongsong Pemilihan Umum (PEMILU LEGESLATIF DAN PILPRES 2009), hendaknya para elite politik, para calon kandidat serta mereka yang mendukung para kandidat-kandidat tersebut untuk tidak berusaha menyulut api di atas drum berisi bensin, menghindari segala bentuk provokasi dari orang-orang munafik yang oposan dan tidak bertanggung jawab, konfrontasi dan penyebaran isu yang dapat mengakibatkan kehancuran, sebab jangan sampai satu isu provokatif yang penuh dengan fitnah dapat menghancurkan dengan rata struktur bangunan persaudaran yang telah kita bangun selama bertahun-tahun sekejap mata.

Adapun mereka yang mendengarkan atau membaca isu provokatif hendaknya selektif serta men-chek dan me-rechek kebenaran suatu isu atau berita lainnya. Sebab hanya dengan rechek kita dapat bersikap dengan benar, adil dan penuh kearifan dalam menilai dan mengkritik suatu isu.

Pada PEMILU LEGESLATIF DAN PILPRES 2009 nanti begitu banyak kandidat yang akan muncul atau dimunculkan, akan tetapi hendaknya seluruh kandidat tidak menjadikan isu sebagai senjata ampuh untuk meloloskan diri sebagai Calon Pemimpin, sebab isu merupakan pisau tajam yang dapat membunuh dan mengorbankan mereka yang tak berdosa, cukuplah sabda Rasulullah yang artinya : “Barang siap yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat” sebagai pengingat agar kita tidak sewenang-wenang dalam memojokkan seorang calon kandidat pun hanya dengan tujuan menang dalam PEMILU LEGESLATIF DAN PILPRES 2009.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat terburu-buru dalam menyikapi berita, dan menjadikan kita masyarakat yang berbudaya Tabayyun (konfirmasi) atas segala macam bentuk berita yang masih samar. Wallahu A’lam

%d blogger menyukai ini: