h1

KETIKA NAFSU MEMBELENGGU

16 Februari 2009

Kondisi akhlak dan trend manusia pada zaman ini sudah begitu sangat maju hingga kita tidak dapat lagi membedakan mana yang benar-benar muslim dan mana yang hanya sekedar di KTP saja, namun jika kita memperhatikan semua yang ada pada era modern ini maka, tentu kita akan menemukan bahwa mayoritas diantara mereka adalah hamba-hamba dan budak hawa nafsu, menolak ajaran agamanya, menjauhkan penalaran terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka dan mendurhakai Allah ‘Azza wa Jalla, Na’udzu billah.

Mereka yang mengikuti hawa nafsunya termasuk orang yang sangat terebenam dalam kegelapan yang sangat hitam, karena ia telah dibutakan oleh hawa nafsunya untuk mengetahui jalan kebenaran meskipun kedua matanya terbuka lebar, ditulikan oleh hawa nafsunya sekalipun kedua telinganya terkuak, dan dibisukan oleh hawa nafsunya untuk berkata benar dan lurus meskipun ia adalah orang yang fasih dalam berbicara. Allah berfirman :“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami tutup hatinya dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaan mereka telah melampaui batas” [QS. Al Kahfi : 28]. Artinya bahwa tertutupnya hati seorang hamba dari mengingat Allah, maka secara tidak langsung seluruh panca indra yang ada akan menjadi tertutup dari segala kebenaran, maka mereka yang menjadi hamba hawa nafsunya akan menjadi orang yang paling keras dalam menentang kebenaran dan susah untuk menerima Al Haq (kebenaran) yang datang dari Allah sehingga mereka menjadi sesat bahkan lebih sesat dari binatang, Allah berfirman : “Terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami, mereka tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalanya (dari binatang ternak itu) [QS. Al Furqan : 43-44].

Orang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah orang yang disetiap perkataan dan perbuatannya dilakukan berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsu lebih ia cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, jadi hawa nafsu adalah keimanannya, syahwat pemimpinnya, kebodohan adalah sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraannya.

Jika kita telah memasuki rumah hawa nafsu, maka kita akan mempertaruhkan umur kita, sebab pencuri ini akan datang menghampiri kita sedang kita dalam keadaan beribadah, jika kita tidak mampu mengusirnya, maka kita akan tetap dikendalikan olehnya sehingga ia mampu mengeluarkan kita dari ibadah kita.

Tercelanya Mengikuti Hawa Nafsu

Sendi segala urusan adalah kecintaan kepada Allah dengan mengharap ridhaNya, mendekatkan diri kepadaNya, dengan berbagai sarana untuk bersua denganNya, maka jika seorang hamba tidak lagi memiliki hasrat untuk mendapatkan surga dan kenikmatannya serta apa yang telah dijanjikan Allah kepada para Al-Anbiya’, Shiddiqin, dan para syuhada, dan tidak lagi merasa takut akan neraka dan siksa yang ada didalamnya serta apa yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mendurhakai Nya, lalu ia tidak tersentuh dengan hal-hal yang demikian ini maka, hendeklah ia mengetahui bahwa ia diciptakan untuk neraka Allah dan bukan untuk surgaNya, sebab Allah tidak menciptakan jalan menuju surga kecuali dengan menentang hawa nafsu, dan tidaklah Ia menciptakan Neraka kecuali dengan mengikuti hawa nafsu, sebagaimana dalam firmanNya :”Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya, dan adapun orang – orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” [QS. An.Nazi’at : 37-41]

Allah memberitahukan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsunya akan tersesat dari jalanNya. Sebagaimana dalam firmanNya :“Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berikanlah keputusan diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena sesungguhnya ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang sangat berat, karena mereka melupakan hari perhitungan [QS. Shaad : 26]

Pada ayat lain Allah menegaskan bahwa orang yang senantiasa memperturutkan apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya, maka Allah akan mengunci hatinya kemudian dijadikannya lalai dari berdzikir dan mengingatNya, Allah berfirman :“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka dan mengikuti hawa nafsu mereka [QS. Muhammad : 16]

Rasulullah Saw meperingatkan kepada umatnya tentang sesatnya mengikuti hawa nafsu sebagaimana dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Rasyid bin Saad dari Sahabat Abu Umamah Al Bahily Rhadiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam berabda : “Sesuatau yang paling aku takutkan atas kamu sekalian adalah syahwat0syahwat godaan perut an kemaluan serta berbagai kesesatan hawa nafsu lainnya” [HR. Ahmad, Al Bazzar, dan At Thabary]

Maka, ketahuilah bahwa saling bernasehat agar meninggalkan dan menjauhi hawa nafsu adalah sesuatu yang sangat penting, sebagaimana para Ulama Rabbany terdahulu telah menasehati para penguasa di zaman mereka, sebagai contoh ketika Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada Al Hasan al-Bashry melalui surat beliau membalasnya dengan sebuah kalimat : “Jauihilah hawa nafsumu”

Hasan bin Malik At Thay berkata : “Aku pernah mendengar an-Nu’man bin Basyir berkata : “Sesungguhnya syaithan itu memiliki banyak jebakan dan perangkap, diantaranya adalah menyalahgunakan ni’mat Allah, menyombongkan pemberian Allah, congkak dan angkuh dihadapan hamba-hamba Allah dan mengikuti nafsu selain karena Allah”

Rasulullah Shallalhu ‘Alaihi wa Sallam telah bersumpah bahwa barang siapa yang nafsunya tidak mengikuti risalah Rasulullah maka, ia dianggap tidak memiliki kesempurnaan iman sebagaiman sabda Beliau Shallalhu ‘alaihi wa Sallam : “Dan demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya, bahawa tidak beriman seseorag hingga nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” [HR. Bukhary, Muslim, Daud dan Nasa’i]. hal ini disampaikan oleh Rasulullah, agar nafsu seorang hamba menjadi pengikut dan bukan yang diikuti, jadi barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya, maka hawa nafsunya akan menjadi ikutannya, dan barang siapa yang mengikut sertakan nafsunya kepada risalah Rasulullah, maka nafsunya akan mengikutinya, jadi yang disebut sebagai mukmin adalah ketika nafsunya mengikutinya, sedang orang munafiq dan fasiq adalah jika nafsunya menjadi ikutannya. Allah Subuhanahu wa Ta’ala berfirman : “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Q.S Al-Qashashash : 28 : 50)

Maka, ketahuilah bahwa orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya akan terbenam ke dalam 10 jenis kegelapan yaitu :1) Kagelapan Tabi’at, 2) Kegelapan Kebodohan, 3) Kegelapan Nafsu, 4) Kegelapan Perkataan, 5) Kegelapaan Amal, 6) Kegelapan jalan masuk, 7) Kegelapan jalan keluar, 8) Kegelapan alam barzah (kubur), 9) Kegelapan hari Qiyamat karena telah menzhalimi diri sendiri dan 10) Kegelapan tempat kembali (neraka)

Nabi Yususf berkata sebagaimana yang telah dikisahkan oleh Allah di dalam Al Qur’an yang artinya:“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati oleh Tuhanku sesunguhnya Tuhanku maha pengampun” [Q.S. Yusuf : 53]

Oleh karena itu wahai saudaraku se-Iman dan se-Aqidah bila kita menginginkan nafsu kita sebagai nafsu yang dirahmati oleh Allah maka, marilah kita memalingkan nafsu kita dari nafsu yang jahat lagi bejat kepada nafsu yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, sehingga nafsu kita menjadi penumpang bagi kita dan bukan kita yang menjadi penumpang hawa nafsu, Wallahu A’lam.

%d blogger menyukai ini: