h1

Rabi’ah Al-Adawiyyah (Sufy Wanita)

7 Februari 2009

B AB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan beragama ada segolongan ummat Islam yang belum merasa puas dengan mendekatkan diri kepada Tuhan hanya dengan melalui ibadah shalat, puasa dan haji. Mereka menginginkan suasana yang lebih dekat lagi dengan sang Khalik SWT. Adapun jalan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah melalui tasawwuf. Sedang tasawuf atau sufisme adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan mistisme dalam Islam.
Tujuan mistisme, baik dalam Islam maupun dari luar Islam adalah memperoleh kontak langsung dengan Tuhan sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Allah SWT. Intisari dari mistisme dan termasuk didalamnya tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan. Hal tersebut bisa diwujudkan dengan mengasingkan diri dan melakukan kontemplasi. Kesadaran itulah yang selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tujan dalam arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istilah Arabnya disebut dengan Ittihad dan istilah Inggris adalah mystical union.
Mistisme termasuk didalamnya tasawuf erat hubungannya dengan keadaan menjauhi hidup duniawi dan kesenangan material. Dalam istilah tasawuf disebut zuhud. Mempunyai sifat zuhud merupakan langkah pertama dalam usaha mendekati Tuhan. Sedang orang yang mempunyai sifat ini disebut zahid. Setelah ini barulah orang meningkat menjadi sufi (mystic).
Dalam perkembangan zuhud terdapat dua golongan zahid. Satu golongan zahid meninggalkan kehidupan dunia serta kesenangan material dan memusatkan perhatian pada ibadah karena didorong oleh perasaan takut akan masuk neraka di akhirat. Tuhan dipandang sebagai suatu zat yang ditakutidan perasaan takutlah yang menjadi pendorong mereka. Satu golongan lain didorong bukan oleh perasaan takut tetapi sebaliknya adalah perasaan cinta kepada Tuhan. Tuhan bagi mereka bukanlah suatu zat yang harus dijauhi dan ditakuti tetapi suatu zat yang harus dicintai dan didekati. Maka mereka meninggalkan kehidupan duniawi dan banyak beribadah karena ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Diantara kalangan sufi yang termasuk dalam kategori ini adalah Rabi’ah Al-Adawiyyah dengan konsep pemikiran tasawufnya yaitu mahabbah ilahiyyah (kecintaan kepada Tuhan). Seorang wanita sufi dari Bashrah yang terkenal dengan ibadah dan kedekatannya dengan Allah SWT dengan memasukkan dalam dunia tasawwuf konsep pemikiran kecintaan terhadap tuhan محبة الآهية sebagai ganti dari rasa takut dan kekhawatiran. Merupakan tingkat kelanjutan dari tingkat kehidupan zuhud oleh Hasan Bashri, yaitu takut dan pengharapan yang dinaikkan oleh Rabi’ah menjadi kehidupan zuhud yang didasari karena cinta suci murni kepada Allah SWT.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada diatas maka penulis berupaya merumuskan pokok-pokok pembahasan sebagai berikut :
1. Riwayat hidup Rabi’ah al-Adawiyyah
2. Konsep tasawuf dan kehidupan zuhud yang ditempuh

B A B II
PEMBAHASAN
I. Riwayat hidup Rabi’ah al-Adawiyyah
Nama lengkapnya adalah Ummul Khair Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyyah al-Qisiyyah lahir di Bashrah diperkirakan tahun 95 H/717 M. Keluarganya dari suku Atiq dan ayahnya bernama Ismail. Merupakan anak yang keempat, maka itulah dia disebut dengan Rabi’ah. Berasal dari keluarga miskin, bahkan sewaktu ingin dilahirkan tidak ada lampu yang menerangi rumahnya dan setetes minyak untuk menoles pusar putrinya dan tidak terdapat sehelai kainpun untuk digunakan menyelimuti bayi yang baru lahir.
Maka disuruhlah ayahnya oleh ibunya untuk meminta minyak untuk bahan bakar lampu ke tetangganya. Tetapi ayahnya Rabi’ah hanya menyentuh pintu rumah tetangganya karena telah bersumpah untuk tidak meminta sesuatu apapun sebagai belas kasihan. Maka pulanglah dia ke rumah dan menyampaikan kepada isterinya bahwa tetangganya tidak membuka pintu rumahnya.
Melihat kondisi isterinya yang memprihatinkan, ayah Rabi’ah terpekur dan termenung sampai kemudian tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW seraya berkata : “Janganlah kau bersedih hati, karena putrimu yang baru lahir itu kelak akan menjadi orang yang terhormat dan mulia dan tujuh puluh ribu dari umatku membutuhkan syafa’atnya.” Dalam mimpi itu nabi juga memberi perintah agar menemui Isa Zaidan, seorang Amir dengan menyampaikan sepucuk surat yang berisi pesan Rasulullah SAW. Pada pagi harinya, ayah Rabi’ah menulis sepucuk surat seperti yang dipesankan Rasulullah SAW dan pergi menemui Amir. Sebagai penghormatan, maka Amir itu sendiri yang menyerahkan uang itu.
Pada masa hidupnya telah ditinggal oleh kedua orang tuanya ketika masih dalam keadaan remaja dan kelihatannya Rabi’ah dijual sebagai budak dan hidup sebagai hamba sahaya. Rabi’ah sebagai budak mempunyai keahlian dalam bidang musik dan pandai membawakan syair-syair untuk menghibur. Hidupnya senantiasa dalam penderitaan dan kesengsaraan serta dijadikan budak perasan oleh majikannya dan selalu ditindas.
Namun dalam perjalanan hidupnya, Rabi’ah akhirnya dimerdekakan. Menurut cerita orang yang memilikinya dan Rabi’ah pada waktu masih menjadi budak dan belum dimerdekakan, orang yang memilikinya melihat cahaya diatas kepala Rabi’ah dan sewaktu beribadah cahaya itu menerangi seluruh ruangan rumahnya. Setelah dibebaskan, memohon izin kepada majikannya dan pergi menyendiri di padang pasir serta memilih hidup zuhud. Menurut riwayatnya bahwa suatu ketika ada orang yang menyebut-nyebut siksa neraka dihadapan Rabi’ah. Ketika mendengar ucapan itu, Rabi’ah jatuh pingsan. Sedang pingsan yang dimaksud dalam hal ini adalah pingsan istighfar, memohon ampunan dan setelah siuman dari pingsannya, ia berkata : Saya mesti minta ampun lagi dengan cara mohon ampun yang pertama. Rabi’ah al-Adawiyyah dikenal sebagai wanita sufi dalam lembaran sejarah sufi-sufi lainnya yang hidup pada periode tabi’in yang sezaman dengan Sufyan Tsauri, Hasan Bashri. Masa hidupnya dihabiskan untuk mengabdi kepada Tuhan Bahkan sajadahnya penuh dengan linangan air mata yang membasahi tempat sembahyangnya. Rabi’ah al-Adawiyyah merupakan wanita sufi yang tidak pernah lengah dalam melakukan aktifitas ibadah.
Dalam riwayatnya, ketika melaksanakan shalat di gubuknya ada seorang pencuri masuk ke tempatnya dan mengambil cadarnya. Ketika pencuri tersebut ingin keluar dari tempatnya, dia tidak menemui pintu keluar. Maka dikembalikanlah cadar tersebut dan nampaklah kembali pintu keluar. Setelah nampak pintu keluar maka diambillah kembali cadar tersebut tetapi pencuri tersebut tidak menemukan pintu keluar kembali. Maka dikembalikanlah cadar Rabi’ah dan hal tersebut dilakukan hingga tujuh kali. Sehingga pencuri itu minta maaf dan menjadi orang yang sering menghadiri pengajiannya Rabi’ah.
Rabi’ah betul-betul hidup zuhud dan dekat dengan Tuhan. Banyak beribadah, bertaubat, menjauhi hidup duniawi dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Hal ini pernah terjadi ketika Rabi’ah menolak hadiah dari orang kaya dermawan yang bermaksud ingin menyantuninya karena baginya, Allah SWT jauh memiliki segalanya dan tidak ingin terikat dengan hal-hal yang bersifat material. Bahkan ada do’a-do’a dari beliau yang isinya tidak pernah meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.
Juga hal ini dilihat dari ketika teman-temannya yang ingin memberi rumah kepadanya, ia mengatakan :”Aku takut kalau rumah ini akan mengikat hatiku sehingga aku terganggu dalam amalku untuk akhirat”. Kepada seorang pengunjung ia memberi nasehat : “Memandang dunia sebagai sesuatu yang hina dan tidak berharga, adalah lebih baik bagimu”. Bahkan segala lamaran cinta ditolaknya, karena kesenangan dunia itu akan memalingkan perhatian daripada akhirat dan Rabi’ah tidak pernah menikah bukan karena semata-mata zuhud terhadap pernikahan itu sendiri tetapi karena ia zuhud terhadap kehidupan itu sendiri. Seumur hidupnya tidak pernah menikah dan sebagai wanita zahidah selalu menampik setiap lamaran beberapa pria dengan mengatakan :
“Akad nikah adalah hak Pemilik Alam Semesta. Sedangkan bagi diriku hal itu tidak ada karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas diri ! Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akad nikah mesti diminta dari-Nya dan bukan dariku.

Memasuki usia kurang lebih dari 90 tahun, bukan semata-mata usia yang panjang tapi merupakan waktu yang penuh berkah hidup yang menyebar disekelilingnya atau kehidupan yang menyebarkan semerbak ke daerah sekitarnya.
Rabi’ah adalah wanita sufi dari Bashrah yang terkenal dengan ibadah dan kedekatannya dengan Allah SWT. Memasukkan konsep kecintaan terhadap tuhan محبة الآهية dalam dunia tasawwuf sebagai ganti dari rasa takut dan kekhawatiran. Menurut riwayat, beliau wafat tahun 185 H/801 M dan orang-orang mengatakan dia dikuburkan dekat kota Yerussalem. Terdapat silang pendapat di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Rabi’ah, baik itu mengenai tahun maupun tempat penguburannya. Mayoritas meyakini tahun 185 H sebagai tahun wafatnya Rabi’ah sedang tempat penguburannya mayoritas ahli sejarah mengatakan bahwa kota kelahirannya sebagai tempat menguburkannya.

II. Konsep kehidupan zuhud dengan mahabbah ilahiyyah (kecintaan terhadap Tuhan )
Kehidupan zuhud yang ditempuh Rabi’ah al-Adawiyyah tidak jauh berbeda dengan kehidupan zuhud pada periode awal atau pada periode sahabat lainnya. Ajaran tasawufnya dikenal dengan konsep mahabbah ilahiyyah yang merupakan kelanjutan dari tingkat kehidupan zuhud yang oleh Hasan Bashri merupakan takut dan pengharapan. Isi pokok ajaran tasawufnya adalah cinta dan bukannya takut dan kepada neraka dan mengharapkan surga-Nya tetapi betul-betul adalah landasan cinta kepada Allah SWT. Bagi Rabi’ah, Allah SWT yang pantas dicintai dan bukan merupakan zat yang harus ditakuti. Rabi’ah menjadi zahid dan sufi karena perasaan cintanya yang suci murni. Sedang cinta suci murni itu adalah lebih tinggi daripada takut dan pengharapan.
Rabi’ah pada abad III H telah merintis konsep zuhud dalam Islam berdasarkan cinta kepada Allah SWT. Tetapi dia tidak hanya berbicara tentang cinta Ilahi namun juga menguraikan ajaran-ajaran tasawuf lainnya seperti konsep zuhud dengan rasa sedih, takut, tobat, ridha dan lain-lainnya.
Mengenai taubat, Rabi’ah memberikan penjelasan bahwa taubat seseorang yang melakukan maksiat adalah berdasar pada kehendak Allah SWT. Adapun untuk tingkat ridha’ adalah keluhuran jiwa, menerima apa yang ditentukan oleh Allah SWT, ridha dengan qadla dan qadar-Nya, berbaik sangka pada tindakan dan keputusan-Nya, serta meyakini firman-Nya. Usaha ini yang dilakukannya tanpa henti-hentinya sehingga meningkatkan martabatnya dari tingkat ibadah ke tingkat zuhud, hingga mencapai tingkat ridha. Dari tingkatan ridha, Rabi’ah menuju pada tingkatan ihsan.Ia menyembah Allah SWT dengan seluruh hatinya, seolah-olah ia berada dihadapan Allah SWT, memandang kepada-Nya dan Allah melihatnya. Setelah tingkatan-tingkatan itu terlalui, maka sampailah ia pada tingkat mahabbah yang biasa disebut dengan hubb al-ilahi. Mampu membebaskan dirinya dari penghambaan dunia dan telah mengangkat martabatnya dengan ketaqwaan, tulus, dan ikhlas ke ma’rifah yang amat tinggi.
Rasa rindu Rabi’ah kepada kekasihnya selalu terungkap dalam sya’ir-sya’ir sehingga banyak sya’ir yang tercipta. Sebab kerinduan yang memberi jiwa kemampuan untuk menyanyi, memberinya ilham untuk menciptakan lagu-lagu yang indah. Merupakan keadaan yang paling tinggi yang dapat dicapai jiwa, oleh karena hasilnya adalah kreativitas. Kecintaan Rabi’ah al-Adawiyyah kepada Tuhan antara lain terlihat dalam syair-syair sebagai berikut :
يا الهي انارت النجوم ونا مت العيون وغلقت الملوك أبوابها وخلا كل حبيب بحبيبه وهذا مقامي بين يديك
Ya, Tuhan bintang di langit telah gemerlapan, mata telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintainya dan inilah aku berada di hadhirat-Mu.

يا حبيب القلب مالي سواك # فارحم اليوم مذنبا قد أتاكا
يا رجاي وراحتي وسروري # قد أبي القلب ان يحب سواك
“Buah hatiku, hanya engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah pemberi dosa syang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau.

Itulah beberapa ucapan yang mengantarkan rasa cintanya kepada Allah SWT yaitu cinta yang memenuhi seluruh jiwanya, sehingga ia menolak lamaran nikah dengan alasan bahwa dirinya hanya milik Tuhan yang dicintainya dan siapapun yang ingin kawin dengan dia harus minta izin kepada Tuhan. Rabi’ah berusaha mewujudkan ide tasawuf dan mengajarkan kepada generasi Muslim sesudahnya sehingga mereka mampu mengangkat derajat mereka dari nafsu rendah. Sebab kondisi masyarakat Bashrah pada waktu itu terlena dalam kehidupan duniawi, berpaling dari Allah SWT dan menjauhi orang-orang yang yang mencintai Allah serta menjauhi segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada Allah SWT. Mengajarkan pada manusia arti cinta ilahi dengan mendidik manusia dengan akhlaq yang mulia sehingga mendapatkan kedudukan tinggi.
Dalam fase selanjutnya, hidup Rabi’ah hanya diisi dengan dzikir, tilawah dan wirid. Duduknya hanya menerima kedatangan muridnya yang terdiri dari kaum sufi yang memohon pangestu dan fatwanya, hidupnya yang penuh untuk beribadah kepada Tuhan hingga akhir hayatnya.
B A B III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas maka disimpulkanlah sebagai berikut :
1. Rabi’ah al-Adawiyah adalah sufi wanita yang memberi nuansa tersendiri dalam kehidupan asketik yang ditandai dengan kedalaman membuat analisa berupa mahabbah.
2. Kehidupan zuhud yang ditampilkan bercorak praktis dan para pendirinya tidak menaruh perhatian buat menyusun prinsip-prinsip teoritis atas kezuhudannya itu. Sarana praktisnya adalah ketenangan hidup, kesederhanaan secara penuh, sedikit makan maupun minum, berlebih-lebihan dalam merasa dosa, tunduk mutlak kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya. Dengan demikian, asketisme mengarah pada tujuan moral.
3. Jalan sufi yang ditempuh oleh Rabi’ah menjadikannya dikenal sebagai perintis maqam al-Hubb al-Ilahi. Berusaha mewujudkan ide tasawufnya dan mengajarkan pada generasi muslim sesudahnya agar mampu mengangkat derajatnya dari nafsu rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun Ensiklopedi Islam Departemen Agama. Ensiklopedi Islam. Jakarta:Anda Utama. 1993
Al-Attar, Faridudin. Tadzkirah al-Auliya, diedit oleh A.J. Arberry, alih bahasa Anas Mahyuddin. Warisan Para Auliya. Cet I. Bandung:Pustaka. 1983
Sururin, Rabi’ah al-Adawiyyah, Evolusi Jiwa Manusia Menuju Mahabbah dan Ma’rifah, Cet. II, Jakarta:Grafindo Persada, Februari, 2002
Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid II Jakarta:UI Press, 1979
_______, Harun. Falsafah & Mistisisme dalam Islam, Cet. III, Jakarta:Bulan Bintang, 1983
Al-Bustani, Karam. Kamus al-Munjid fi lughati wal-a’laam, Dar al-Masyriq:Beirut, Libnan, Cetakan ke 33, 1992, H
Hamka. Tasawuf, Perlembagaan & Pemurniannya, Cet. XI, Jakarta:Pustaka Panjimas, 1984
AS, Asmaran. Pengantar Studi Tasawuf, Cet. I, Jakarta:Raja Grafindo Persada, Maret 1994
Isa, Ahmadi. Tokoh-tokoh Sufi, Teladan Kehidupan Yang Saleh, Cet. II, Jakarta:Raja Grafindo Persada, Juli, 2001
Mansur, Laily. Ajaran dan Teladan Para Sufi, Cet. III, Jakarta:Raja Grafindo Persada, Januari 2002.

%d blogger menyukai ini: