h1

Filsaafat Ibnu Thufail

7 Februari 2009

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna lagi paripurna, kesempurnaannya tampak pada kecakapan dalam menghadapi pelbagai bentuk permasalahan hidup yang merupakan manifestasi dari kesucian fitrah insaniyah yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya, dan keparipurnaannya tampak pada kemampuannya menganalisa setiap permasalahan guna mendapatkan jalan keluar yang akurat tanpa menimbulkan sebuah permasalahan yang lebih parah dari sebelumnya, keparipurnaan ini merupkan bentuk manifestasi akal yang menjadi bagian utama terbentuknya makhluk Tuhan dibumi yang teristimewa diantara seluruh makhluk yang tercipta.
Diantara masa terputusnya ke-Rasul-an Isa A.s dan diutusnya Muhammad Saw sebagai Rasul Allah yang terakhir sebagai penutup dan penyempurna seluruh risalah samawiyah, manusia berada pada kebimbangan dan terombang-abing akibat kehilangan bimbingan ditambah dengan kesewenang-wenangan sebahagian ahli Kitab dalam melakukan perubahan Injil dan perombakan Torah serta kesewenang-wenangan para penginjil dalam melakukan pendoktirinan sesat kepada umat manusia yang hidup pada masa transisi ke-Rasul-an tersebut, maka sekolompok manusia yang mayoritasnya berkebangsaan Yunani melakukan penentangan terhadap indoktrinisasi Gereja yang dianggap sesat lagi menyesatkan dengan menggunakan nalara-kritis terhadap doktrin-doktrin Gereja yang merupakan hasil penalaran akal terhadap kebenaran yang terdapat dibalik fisik almiyah dan metafisik. Kelompok manusia ini kemudian dikenal dengan istilah Filosof yang diartikan sebagai para pencari hikmah. Penggunaan istilah ini merupakan bentuk perlawanan terhadap para retorik-retorik sesat yang dikenal dengan istilah Shophis yang mengginakan cara berfikir sesat (shophistry) atau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah shafasthah.
Pernayataan di atas menunjukkan bahwasanya filsafat pertama kali dirimuskan diperkenalkan dalam Bahasa Yunani kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Suryani lalu ke dalam Bahasa Arab. Al-Ahani dalam Filsafat Islam mengungkap penuturan al-Faarabi tentang kisah perjalanan filsafat sejak bangsa-bangsa kuno sampai pada orang Arab sebagai berikut:
Konon ilmu tersebut pada zaman dahulu milik orang-orang Kaldan, penduduk Iraq. Lantas berpindah pada orang Mesir lalu berpindah lagi pada orang Yunani, beberapa kurun waktu kemudian, ilmu tersebut berpindah lagi pada orang-orang Arab. Semua yang tercakup dalam ilmu itu dirumuskan dalam bahasa Yunani, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Suryani lalu kedalam bahasa Arab. Ilmu yang mereka peroleh dari orang-orang Yunani itu pada umumnya mereka beri nama Hikmah dan Hikmah Terbesar.
Jika kita memperhatikan dan dapat memahami dengan baik tentang perjalanan filsafat yang dikemukakan al-Farabi, maka kita akan berkesimpulan bahwa Filsafat (Hikmah) adalah milik orang-orang Arab yang hilang. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan Ibnu Majah
الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا
“Kalimat penuh hikmah adalah permata mu’min yang hilang, maka dimanapun hikmah itu ditemukan, maka hendaklah mengambilnya”
Dengan berdasar pada hadis di atas, maka lahirlah al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina yang ketiganya merupakan presentsi filosof Islam dari Masyriqi, kemudian Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd yang ketiganya merupakan presentasi filosof muslim Magribi.
Dalam makalah ini, penyusun akan berusaha mengulas sekelumit tentang peran Ibnu Thufail dalam mengmbangkan filsafat dan memperkenalkan pada dunia.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah Ibnu Thufail dan bagaimana latar belakang hidup dan pendidikannya?
2. Bagaimana bentuk pemikiran filsafat Ibnu Thufail?

PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Ibnu Thufail
1. Nama, Keturunan, Kelahiran dan Wafatnya
Ibnu Thufail bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Muhammad bin Thufail. Beliau adalah seorang yang berketurunan Arab yang nasabnya disandarkan kepada Qabilah Qais, sehingga beliau disebut dengan Ibnu Thufail al-Qaisi al-Andalusi al-Isybili, al-Qurthubi.
Beliau lahir di desa Asy salah satu kota yang berada diwilayah Gharnatha Andalusia, sementara itu tidak ada satupun sejarah yang menjelaskan akan tanggal dan tahun kelairannya namun ada yang menyebutkan bahwa beliau lahir sebelun tahun 506 H, atau dengan kata lain beliau lahir pada abad ke-6 Hijriyah (awal Abad ke 12 M).
Beliau wafat di kota Marakisy pada tahun 1185 M, dan al-Manshur mengantarkan jenazah beliau ketempat peristirahatan terakhirnya.
2. Kehidupan Ibnu Thufail
Tidak terdapat dalam sejarah yang menjelaskan tentang masa kanak-kanak ibnu Thufail dan bagimana beliau perjalanan intelektual beliau, ada yang mengatakan bahwa beliau menjadi murid bagi Ibnu Rusyd akan tetapi tidak terdapat pernyataan dari beliu tentang hal itu, diantara para muarrikh ada yang menyatakan behwa beliau adalah murid dari Ibnu bajjah, nmun Ibnu Thufail membantah hal tersebut dalam karyanya “Hayy Ibnu Yaqzhan” dimana beliau menyebutkan bahwa beliau mendengarkan tentang pemikiran Ibnu Bajjah dan mempelajarinya akan tetapi beliau tidak pernah bertemu dengan Ibnu Bajjah meskipun hanya sekali.
Meskipun sejarah tidak merekam tentang perjalanan hidup Ibnu Thufail kecil akn tetapi para sejarawan merekam begitu banyak tentang kedudukan beliau yang sangat tinggi dalam filsafat dan kedokteran serta keluasan ilmu.
Disebutkan bahwasanya Ibnu Thufail adalah seorang dokter yang masyhur dan ahlimatematika dan syair di kota Garnathah, dan beliau merupakan dokter khusus Gubernur dan juga beliau menjabat sebagai skretaris khusus Gubernur pada dua kota yaitu Sabtah dan Tanjah dan yang menjabat sebagai gubernur pada masa itu adalah putra abdul Mu’min.
Kemudian karir beliau meningkat ketika beliau berhubungan dengan khalifah Abu Ya’qub Yusuf kahlifah ke-2 dari keturunan Penguasa Muwahhidin. Pada masa itu beliau diangkat sebagai dokter utama dan kemudian menjadi kolega terdekat Abu Ya’kub Yusuf dan menjadi dokter khusus sang penguasa bahkan beliau diangkat menjadi mentri kerajaan yang membidangi kedokteran dan kehakiman.
Berpijak pada jabatan terakhir inilah Ibnu Thufail mendapat kesempatan yang sangat luas untuk mengembangkan filsafatnya.
3. Karya-Karya dan Kedudukan Ibnu Thufail
Ibnu al-Khathib menyebutkan bahwa di kota tempat kelahirannya Ibnu Thufail mengajarkan kedokteran dan selama beliau mengajar beliau menulis dua judul buku yang berhubungan dengan kedokteran. Abdul Wahid al-Marakisyi meriwayatkan dari salah seorang ank Ibnu Thufail bahwasanya kedekatan antara Ibnu Thufail dengan penguasa sangat dekat kemudian beliau beriniseatif untuk menulis buku tentang filsafat dan ilmu jiwa serta berbagai buku yang memuat syair-syair filsafat.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa diantara karya-karya Ibnu Thufail adalah Asarar al-Hikamh al-Masyriqiyah, yang kemudian dikenal dengan nama Hayy Ibnu Yaqdzan, tulisan-tulisan tentang ilmu jiwa, buku tentang kedokteran, tulisan-tulan yang beliu tulis ketika melakukan diskusi dengan Ibnu Rusyd yang didalmnya mencakup seluruh permasalahan ilmiyah dan filsafat, bahkan al-Marakisyi telah menemukan seluruh kitab dan risalah-risalah karya Ibnu Thufail tersebut utamanya kitab yang ditulis oleh Ibnu Thufail yang berbicara tentang ilmu jiwa.
Ibnu Abi Ushaibi’ah ketika membahas tentang latar belakang Ibnu Rusyd benyebutkan bahwa Ibnu Rusyd menyebut nama kitab karya Ibnu Thufail dengan nama Fii al-Buqa’i al-Maskunah wa al-Ghiru al-Maskunah, Ibnu Rusyd juga berkata dalam bukunya Ilahiyyat (Theologi) buku ke-12 bahwasanya Ibnu Thufail memiliki pemikiran yang sangat cemerlang tentang kejadian-kejadian baik internal maupun eksternal. Abu Ishak al-Batruji dalam salah satu risalahnya tentang ilmu falak menyebutkan bahwa Ibnu Thufail memiliki pandangan tentang ilmu falak yang sangat cocok untuk mengatasi permasalahan dan memahami pandangan-pandangan Batlimus tentang falak.
Meskipun Ibnu Thufail memiliki begitu banyak karya namun sangat sedkit yang sampai di tangan kita hingga saat ini bahkan boleh dikatakan bahwa diantara karya-karya monumental Ibnu Thufail yang sampai dan di pelajari oleh para pecinta filsafat hanya kitab beliau yang berjudul Hayy Ibnu Yaqdzan yang didalamnya tercermin tentang kedalaman pemahaman filsafat Ibnu Thufail yang menggambarkan tentang interaksi akal dengan wahyu dan interaksi akal dengan alam.
B. Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail
Karangan ibnu thufail menyebutkan beberapa karangan yang menyangkut tentang filsafat fisika, filsafat metafisika kejiawaan dan sebagainya. Disamping risalah-risalah kiriman kepada ibnu rusd. Akan tetapi karangan-karagan tersebut tidak samapai kepada kita , kecuali satu saja yaitu isalah Hay bin Yaqadhan yang merupakan inti sari pikiran-pikiran filsafat ibnu thufail, dan yang telah diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa. Sebenarnya judul buku ni sangat panjang yaitu hayyu bin yaqdzan fi asrarril hikmah alMasyriqiyyah, istakhlasha-ha min durari jawahiri al-fadhilur-ra’is Abi’ ali ibn Sina . al imam alfailasuf al-kamil al-‘arif abi ja’far Muhammad bin thufail .Suatu manuskrip di perpustakaan eskurial yang berjudul Asrar al hikmat al masyrikiah (rahasia filsafat timur) tidak lain adalah bagian dari risalah Hay bin Yaqadhan.
Risalah ini ditulis atas permintaan salah seorang kawannya untuk mengitisarikan filsafat timur , seperti yang kita dapati pada kata pengantarnya sebagai berikut:
“Wahai saudara yang mulia engkau minta agar sedapatnya mungkin aku membuka rahasia-rahasia filsafat timur yang sudah disebutkan oleh abu ‘ali ibn sina. Ketahuilah bahwa orang-orang yang mengingkari kebenaran yang tidak berisi kesamaran lagi, maka ia harus mencari filsafat itu dan berusaha memelikinya”
Risalah Hay Bin Yaqadhan yang ditulis oleh ibn thufail sesungguhnya berisi berbagai rumus filsafat yang disampaikan dengan lambang Hay bin yaqadhan yang merupakan lambang akal fikiran, sedangkan teman-temannya melambangkan selera, syahwat, perasaan marah dan tabi’at-tabi’at lazim yang ada pada manusia.
Diskusi antara hay bin yaqadhan dengan teman-temannya melambangkan pertentangan dengan akal fikiran dan selera syahwat, selain itu berat dugaan bahwa tulisan ibnu thufail ini erat kaitannya dengan serangan Al-Gazali terhadap dunia filsafat yang dimana pada saat itu orang-orang takut berfilsafat dan usaha-usaha para filosof muslim untuk mendamaikan filsafat dengan agama telah sirna sama sekali. Juga buku-buku filsafat yang selama ini hanya untuk orang-orang tertentu, sekarang telah dapat pula dipahami oleh orang-orang awam. Karena itu amat logis buku ibnu thufail ini ingin menetralisir keadaan dan ingin mengembalikan ketempat yang semula yakni filsafat bukanlah “barang” yang haram. Pada sisi lain agar filsafat dapat dimengerti oleh orang-orang awam, filsafat dikomunikasikan lewat kisah yang amat menarik. Biasanya komunikasi melalui kisah,diminati dan dapat diterima. Dengan demikian bila hal ini dapat diterima tujuan yang hendak dicapai ibnu thufail melebihi akibat serangan Al-Gazali yakni ingin memesyarakatkan filsafat.
Sesudah itu dia mengatakan bahwa tujuan filsafat tersebut ialah memperoleh kebahagiaan dengan jalan dapat dapat berhubungan dengan akal fa’al melalui akal pemikiran. Persoalan tersebut merupakn perkara yang paling pelik pada masanya. Ada dua memperoleh kebahagiaan tersebut, pertama jalan tasawuf batini yang dibela oleh Al Gazali tetap tidak memuaskan ibnu thufail, kedua, jalan pemikiran dan perenungan yang ditempuh oleh Al farabi beserta murid-muridnya, dan yang hendak diperjelas oleh ibnu thufail. Dalam hal ini Munk mengatakan sebagai berikut:
“Ibnu thufail berusaha menurut caranya sendiri dalam memecahkan persoalan yang sangat menyibukkan filosof-filosof islam, yaitu persoalan “hubungan” atau dengan kata lain hubungan manusia dengan akal faal dan dengan allah. Cara Al gazali yang didasarkan atas rasa sufi tidak membuat ia tertarik, dan ia lebih mengutamakan cara ibnu Bajjah, ia mengikuti cara ini dan ikut serta dalam perkembangan pekerjaan pikiran si penyendiri (almutawahhid) yang dapat terbebas dari kesibukan-kesibukan masyararakat dan pengaruhnya. Selain dari itu, ia menjadikan penyendiri tersbut yang jauh sama sekali dari pengaruh masyarakat, telah terbuka pikirannya dan dirinya sendiri terhadap semua wujud, dan usahanya sendiri serta dorongan dari akal faaal ia dapat memahami rahasia-rahasia islam dan dengan persoalan metafisika yang paling tinggi”
Diantara pemikiran filsafat ibnu thufail seperti yang dikutip dari buku Kompilasi Filsafat Islamadalah sebagai berikut:
“Dunia ini pasi mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda. Dan karena ia bersifat immaterial maka kita tidak dapat mengenalinya lewat indera kita maupun imajinasi sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indra”
“kekalahan dunia berarti kekalahan geraknya dan gerak membutuhkan penggerak atau penbyebab efisien dara gerak itu. Jika penyebab efisien tidak berupa benda maka kekuatannnya tentu terbatas dan kerenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tidak terbatas. Oleh sebab itu penyebab efisien dai gerak kekal haruslah bersifat immaterial. Ia tidak boleh dihubungkan dengan materi ataupun dipisahkan darinya, ada didalam materi itu ataupun tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efisien itu sesungguhnya lepas sama sekali dari itu semua.”
“Dunia ini adalah pengejawantahan dari esensi tuhan dan bayangan cahayanyayang tidak berawal ataupun berakhir. Dunia tidak akan hancur sebagaiman yang ada pada kepercayaan akan hari penentuan. Kehancuran berupa keberalihannya menjadi bentuk lain dan bukannya merupakan kehancuran sepenuhnya. Dunia mesti terus berlangssung dalam satu atau bentuk lain, sebab kehancurannya tidak sesuai dengan kebenaran mistis yang tinggi, yaitu bahwa sifat esensi tuhan merupakan penerangan dan pengejawantahan yang kekal

Dari seluruh pembahasan tentang filsafat Ibnu Thufail di atas, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat Ibnu Thufail yang tertuangkan kedalam sebuah judul buku Hayy Ibnu Yaqdzhan meliputi :
1. Urutan-urutan pengetahuan yang ditempuh oleh akal, yang dimulai dari obyek inderawi yang khusus hingga kepada pemikiran Universal.
2. Manusia dapat mengetahui wujud Tuhan lewat akal tanpa pengajaran dan petunjuk, yaitu pengetahuan lewat perantaraan tanda-tanda-Nya pada makhluk-Nya.
3. Akal manusia tidak mampu menmengungkapkan dalil-dali pemikiran yang berhubungan dengan ke-Azali-an Mutlak, qadim, huduts, ke-akhir-an zamanm dan segala yang behubungan dengan hal tersebut.
4. Meskipun akal mampu menembus qadim dan hududstnya alam, namun kelanjutan dari pemikiran tersebut adalah keyakinan atas wujudnya Tuhan.
5. Manusia dengan akalnya dapat mengetahui dasar-dasar akhlak yang bersifat amaliyah dan sosial.
6. Pengetahuan Akal yang sehat terhadap kebenaran, kebaikan dan keindahan dan Perintah Syariat Islam keduanya dapat dipertemukan tanpa harus diperselisihkan lagi.
7. Pokok dari semua hikmah adalah apa yang telah ditetapkan oleh Syara’, yaitu dengan mengarahkan manusia berdasarkan kesanggupan akal masyarakat. Dan pangkal dari segala kebaikan adalah menepati batasan syariat dan meninggalkan pendalaman sesuatu yang tidak dapat diraba oleh akal.

KESIMPULAN
Dari seluruh pembahasan kami di atas, maka kami dapat menyimpulkan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Ibnu Thufail adalah seorang filososf muslim yang dikenal sangat akrab dan dekat dengan penguasa, bahkan beliau menjadi kolega terdekat salah seorang penguasa Spanyo ke-2 yaitu Abu Ya’kub Yusuf, yang kemudian mengangkatnya sebagai dokter utama kerajaan, dan menjdi menteri yang membidangi kedokteran dan kehakiman.
2. Ibnu Thufail terkenal dengan kitabnya yang berjudul Hayy Ibnu Yaqdzan dimana kitab beliau ini menggambarkan tentang kedalaman filsafat dan hikamah yang beliau miliki, dimana beliau berutur dalam kitabnya tentang pertemuan antara akal dan wahyu dalam satu titik pengetahuan yaitu pengetahuan akan wujud-Nya Tuhan dan kebenaran, disisi lain kitab ini juga mencurahkan tentang ilmu Jiwa.

%d blogger menyukai ini: