h1

STUDI HADIST MENGENAI PERNIKAHAN ULANG ISTERI YANG DITHALAQ TIGA (Kasus isteri Rifa’ah al-Qurazy)

10 Januari 2009

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Di antara cela dan cacat yang dilontarkan oleh Islam dalam lingkungan keluarga adalah terjadinya perceraian antara suami dan isteri. Perceraian dalam lingkungan keluarga tentunya tidak perlu terjadi, tetapi jika segala cara dan solusi telah ditempuh dan dijalankan dengan baik, maka mungkin saja tindakan akhir untuk mengambil keputusan cerai bisa saja dibenarkan dalam agama Islam. Walaupun sebenarnya keputusan untuk bercerai dengan isteri merupakan suatu cela karena aib keluarga didengar orang dan pihak lain yang semestinya harus ditutup-tutupi.
Meskipun merupakan cela yang tetap diperbolehkan oleh Allah SWT namun terkadang ada hal yang mendesak untuk melakukannya. Maka hal itu dinamakan oleh Nabi SAW sebagai perbuatan halal yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Menurut kesepakatan ulama, perceraian dilarang bila hubungan pasangan suami isteri dalam keadaan harmonis. Pada asalnya perceraian dilarang dan hukumnya haram, sedang diperbolehkan karena adanya hajat mencari keselamatan. Tetapi bila tidak ada sebab, merupakan kufur nikmat, kebodohan dan tindakan menyakitkan kepada pihak wanita, keluarga dan anak-anaknya.
Dalam Islam, keputusan cerai hanya dua kali, dan selama itu boleh dirujuk selama masa iddah. Sedang untuk talak ketiga, maka suami tidak boleh kembali kepadanya kecuali telah dinikahi dan dimadu oleh orang lain. Untuk itu, mengambil tindakan bercerai harus dengan dilakukan dengan hati-hati. Ada kemungkinan talak pertama dan kedua disebabkan oleh dorongan amarah sehingga tidak dapat menahannya. Islam berharap agar suami bisa berpikir kembali secara benar, sehingga dapat menyesali perbuatannya yang terlanjur.
Dalam ayat al-Qur’an lainnya :
أمسك عليك زوجك (الأحزاب : 37)
Artinya : Tahanlah terus isterimu (Al-Ahzab : 37)

Sebenarnya maksud dari ayat ini, supaya senantiasa menahan diri dan mengontrol amarah serta senantiasa mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan menjaga hubungan pasutri yang sesuai dengan pesan ajaran Islam. Inilah bukti yang menunjukkan akan perhatian agama pada kehidupan muslim secara pribadi.
B.Pokok Pembahasan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas, maka penulis berupaya untuk merumuskan pokok masalah sebagai berikut :
1. Penjelasan sanad hadist tentang perkawinan ulang bekas isteri yang sudah dithalaq tiga.بينونة كبري
2. Pemahaman matan hadist seputar kasus Rifa’ah Al-Qurazy

PEMBAHASAN

A. Matan Hadist
حدثنا عمرو بن علي حدثنا يحيى حدثنا هشام قال حدثني أبي عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم حدثنا عثمان بن أبي شيبة حدثنا عبدة عن هشام عن أبيه عن عائشة رضي الله عنها ثم أن رفاعة القرضي تزوج امرأة ثم طلقها فتزوجت آخر فأتت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت له أنه لا يأتيها وأنه ليس معه إلا مثل هدبة فقال لا حتى تذوقي عسيلته ويذوق عسيلتك
Terjemahannya :
“Kami telah diceritakan oleh Amr bin Ali, kami telah diceritakan Hisyam, berkata, saya telah diceritakan bapak saya dari Aisyah r.a dari Rasulullah SAW, bahwasanya Rifa’ah al-Quradzy telah menikahi seorang perempuan kemudian menthalaqnya, kemudian menikah lagi dengan laki-laki lain (Abdurrahman) kemudian perempuan tersebut datang kepada Rasulullah SAW, kemudian menceritakan kepada beliau tentang kejadian tersebut, bahwasanya Abdurrahman tidak menggaulinya karena dia tidak memiliki alat vital kecuali seperti sejumbai kain, (kecil) lalu Rasulullah menjawab, tidak boleh anda kembali sebelum kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu (Riwayat Bukhari)
B. Kualitas hadist
Hadist sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an terdiri dari dua unsure yaitu ; sanad (trans-matter) yang merupakan pembawa berita itu sendiri dan matan (subject –matter) sebagai materi berita mengenai hal-ihwal Rasulullah SAW yang menjadi basis ajaran Islam. Keduanya sangat penting dalam menentukan kesahihan suatu hadist, sebab kecacatan dari salah satu unsur tersebut menyebabkan keabsahan suatu hadist menjadi diragukan.
Adapun untuk menguji kualitas atau validitas suatu hadist ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan, yaitu kontinuitas sanad, kredibilitas periwayat, syuzuz dan illat.
Untuk menentukan kualitas hadist tersebut, maka ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1. Takhrij Hadist
Dengan merujuk pada hadist di atas, ditemukan informasi-informasi tentang hadist tersebut pada kitab-kitab hadist ;
# Kitab Shahih Ibnu Hibban, Penerbit Muassasatu al-Risalah, cet.2, 1993/1414 oleh Muhammad Ibnu Hibban bin Ahmad bin Abu Hatim Tamimi al-Basti, juz 9 h. 428 dan Juz 9 h. 431
# Kitab Sunan Kubra, oleh Ahmad bin Syuaib Abu Abdurrahman an-Nasai, 215-303, Beirut:Darul Kutub Ilmiyyah, 1991 cet. 1, Juz 3 h. 351
# Kitab Sunan an-Nasai, oleh Ahmad bin Syuaib Abu Abdurrahman an-Nasai, 215-303, Halb:Maktab Mathbuat al-Islamiyyah, 1986/1407, cet. II
# Kitab Sunan at-Tirmidzi, oleh Muhammad bin Isa Abu Isa at-Tirmizi as-Salami, 209-279, Beirut:Dar al-Ihya at-Tturast al-Arabi, Juz 3 h. 426
# Kitab Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid bin Abdullah al-Qazwini, 207-275, Beirut:Dar al-Fikri, Juz I, h. 261
# Kitab Shahih Muslim, oleh Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairi an-Nisaburi, Dar al-Ihya Turast Arabi, Juz II, h. 1055
# Kitab Shahih Bukhari, oleh Muhammd bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari al-Ja’fi 194-256, Cet. III, Beirut:Dar Ibnu Katsir al-Yamamah, 1987, Juz V, h. 2037
2. I’tibar Isnad
Berdasarkan takhrij yang ada di atas, terlihat bahwa hadist ini tidak memiliki musyahid ataupun mutabi’. Termasuk dalam kategori hadist shahih dimana pada periwayatan tingkat shahabat dan tabi’in hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat saja, masing-masing Aisyah r.a pada tingkat shahabat, dan Abu Hisyam yaitu Urwah pada thabaqat tabi’in. Kehujjahan hadist ini dalam pandangan ulama tetap dipegangi selama periwayat-periwayat tersebut adalah orang-orang tsiqah. Apalagi didukung dengan shigat isnadnya yang kuat dan adanya kontinuitas isnad yang tidak terputus.
3. Penjelasan kosa kata
Adapun makna mufradat yang perlu dijelaskan adalah: هدبة sejumbai kain, berasal dari kata هدب يهدب yang dimaksud disini adalah anunya kecil. Sedang untuk kata عسيلة berarti madu. Menurut pendapat jumhur ulama adalah kinayah dari hubungan intim atau hubungan sebadan yang dilakukan pasangan suami isteri. Dalam pendapat Imam Azhari, bahwa maksud dari madu dalam hadist di atas adalah menikmati hubungan badan sebagaimana layaknya pasutri.

C. Kandungan matan hadist
Dilihat dari redaksi matan hadist riwayat Urwah dapat dipastikan bahwa hadist tersebut merupakan hadist qauliyyah yang bersifat dialogis dan disaksikan oleh Aisyah r.a isteri Rasulullah SAW. Sehingga ada kemungkinan terjadinya periwayatan dengan makna. Ini disebabkan munculnya keberagaman versi matan hadist yang merupakan bahasa sahabat itu sendiri untuk menggambarkan suatu peristiwa. Tetapi perbedaan yang ada hanya pada makna sinonim untuk memperjelas maksud hadist tanpa ada indikasi makna dan hukum yang berbeda.
وعن عائشة رضي الله عنها قالت : طلق رجل امرأته ثلاثا فتزوجها رجل ثم طلقها قبل أن يدخل بها , فأراد زوجها الأول أن يتزوجها فسأل رسول الله صلي الله عليه وسلم عن ذالك فقال : لا حتي يذوق الآخر من عسيلتها (ما ذاق الأول . متفق عليه . واللفظ لمسلم)
Dari Aisyah R.A berkata : Seseorang menthalaq isterinya hingga tiga kali, kemudian diperisteri oleh orang lain kemudian ditahalaqnya sebelum memasukinya. Suami yang pertamanya berkeinginan untuk memperisterinya kembali, kemudian ditanyakanlah kepada Rasulullah SAW mengenai hal ini dan Rasulullah SAW bersabda :Tidak, sampai suaminya merasakan madu dari wanita tersebut. Seperti dirasakan suami pertamanya. (Muttafaq Alaihi, ungkapan dari Muslim).

Diriwayatkan Aisyah r.a isteri Rasulullah SAW setelah Siti Khadijah r.a dan merupakan anak dari shahabat beliau Abu Bakar Shiddiq R.A, dikenal dengan Ummul Mu’minin. Ikut terlibat dalam politik praktis menentang Ali bin Abi Thalib atas terbunuhnya khalifah Usman bin Affan R.A. dalam peristiwa perang Jamal.
Dalam al-Qur’an al-kariem pada surah al-Baqarah ayat 229-230 memberi penegasan serta memperkuat kandungan hadist diatas. Ayat ini sebenarnya menghapus kebiasaan sebelum Islam, dimana suami tetap berhak merujuk pada isterinya dalam keadaan iddah meskipun telah ditalak seratus kali. Hal ini tentunya merugikan pihak wanita dan menyusahkannya, maka oleh karena itu Allah SWT membatasi suami yang akan rujuk kepada isterinya hanya dalam dua kali talak, sehingga jika talak yang ketiga jatuh maka suami tidak berhak merujuk isterinya kecuali setelah dinikahi oleh orang lain.
Ibnu Abbas r.a berkata : Dahulu seorang suami tetap berhak ruju’ kepada isterinya yang ditalak meskipun telah ditalak menurut izin pada ayat 228 tetapi kemudian dimansukhkan hukum itu oleh ayat 229 sehingga thalak yang dapat dirujuk hanya dua kali.
Hasyim bin Urwah r.a dari ayahnya berkata : Ada orang yang berkata pada isterinya “Aku tidak akan menceraikan anda selamanya dan tidak pula akan mengumpulimu selamanya”. Isterinya bertanya : Bagaimanakah itu ? Jawabnya : Aku talak anda kemudian bila hampir habis iddahmu aku rujuk kembali kepadamu. Maka wanita itu datang kepada Nabi SAW untuk menyampaikan keadaannya itu. Maka Allah SWT menurunkan ayat 229 (H.R An-Nasai)
Aisyah r.a berkata : Dahulu talak itu tidak ada batasnya, seorang suami boleh rujuk kembali pada isterinya yang ditalak selama ia masih dalam keadaan iddah, maka terjadilah bentrok antara sahabat Anshar dengan isterinya, lalu berkata suami : “Demi Allah aku tidak akan membiarkan anda menjadi janda & tidak juga bersuami, lalu diceraikannya kemudian jika hampir habis masa iddahnya dirujuk kembali dan dilakukan hal itu beberapa kali sehingga Allah SWT menurunkan ayat 229 ini yang membatasi talak yang dapat dirujuk kembali hanya dua kali dan jika ditalak tiga kali, maka tidak boleh rujuk kembali sehingga isteri itu dikawini oleh orang lain. (R. Ibnu Mardawaih & Al-Hakim)
Aisyah r.a berkata : “Isteri Rifa’ah ketika masuk ke tempat Nabi SAW bertepatan aku dan Abu Bakar ada disana, lalu ia berkata : Rifa’ah telah menceraikan aku al-battah (seperti talak tiga) dan Abdurrhman bin az-Zubair telah mengawiniku sedang yang dia punya bagaikan benang di ujung baju sambil menyontohkan benang bajunya. Sedang Khalid bin Said bin al-Ash di muka pintu minta izin masuk dan sebelum diizinkan, maka ia berkata : Hai Abu Bakar, tidakkah anda melarang wanita itu bicara di depan Nabi SAW sedemikian dan Nabi SAW tersenyum, lalu berkata kepada isteri Rifa’ah : Seakan-akan anda ingin kembali pada Rifa’ah bin Sama’ual al-Quradhi sedang isterinya bernama Tamimah binti Wahab. Aisyah r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : ألا ان عسيلتها الجما ع (ingatlah bahwa istilah yang disabdakan oleh Nabi SAW adalah jima’ persetubuhan. (H.R Ahmad, An-Nasa’i)
Adapun maksud dari madu yang ada dalam kandungan hadist di atas, dalam pendapat Imam Hasan adalah turunnya mani atau sperma laki-laki. Sedang pendapat Jumhur Ulama, yang dimaksud merasakan madu dalam kandungan hadist diatas adalah kinayah dari hubungan intim atau hubungan sebadan yang dilakukan pasangan suami isteri. Dalam pendapat Imam Azhari, bahwa maksud dari madu dalam hadist di atas adalah merasakan hubungan badan sebagaimana layaknya hubungan pasutri.
Hal ini secara jelas dipertegas dan diperkuat oleh firman Allah SWT dalam al-Qur’anul Kariem.
فان طلقها فلا تحل له من بعد حتي تنكح زوجاغيره فان طلقها فلا جناح عليهما أن يتراجعا ان ظنا أن يقيما حدود الله وتلك حدود الله يبينها لقوم يعلون (البقرة 230)

Artinya : Allah SWT berfirman : Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS. 2:230)

Adapun jika ada maksud tertentu dengan melakukan rencana atau strategi yang dilakukan oleh pihak wanita ataupun laki-laki supaya bisa berkumpul kembali, maka tentu saja perlu pertimbangan yang matang. Supaya tidak menimbulkan kesan mempermainkan pesan dasar dari tujuan pernikahan yang berlandaskan syari’at Islam.
Seperti yang telah disebutkan dalam hadist Nabi SAW :
لعن رسول الله صل الله عليه وسلم الواشمة والمستوشمة والواصلة زالمستوصلة والمحلل والمحلل له وآكل الربا ومو كله ( النساءي)
Uqbah bin Amir r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
ألا أخبركم التيس المستعا ر ؟ قالوا بلي يا رسول الله قا ل هو المحلل لعن الله المحلل والمحلل له ( ابن ماجه)
Maksud dari hadist di atas tidak lain bahwa Allah SWT mencela dan melaknat perbuatan al-muhalli dan al-muhallil lahu. Diperingatkan kepada suami setelah perceraian pertama terjadi supaya mengambil kembali isterinya atau menceraikannya dengan cara baik. Dianjurkan pula bagi pihak isteri supaya bertindak bijaksana untuk menghindari perceraian umpamanya dengan cara meringankan tanggung jawab suami mengenai perbelanjaan dan lain sebagainya.
Karena tujuan dari pernikahan tidak lain untuk mencapai keluarga sakinah yang penuh mawaddah dan rahmah. Pihak suami supaya tidak gampang melakukan perbuatan dan tindakan tanpa memikirkan kondisi ke depan walaupun keputusan cerai menjadi hak prioritas suami untuk menceraikan isterinya. Namun tidak berarti ada kelonggaran ataupun kesulitan hanya saja memang perlu pertimbangan sehingga keputusan yang diambil tidak membawa pengaruh buruk di kemudian hari yang hanya akan merugikan salah satunya atau keduanya.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan makalah diatas, maka pemakalah berupaya merumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Isteri yang sudah dithalaq tiga kali tidak boleh kembali kepada bekas suaminya hingga dia menikah dengan laki-laki lain.
2. Thalaq yang dapat dirujuk hanya pada thalaq pertama dan kedua, selama itu isteri berada dalam masa iddah dan suaminya boleh merujuknya kembali sebelum masa iddahnya habis, maka isteri harus kembali kepada suaminya.
3. Jika masa iddahnya sudah habis dan suami ingin kembali pada isterinya maka menurut jumhur ulama harus melakukan nikah baru sebagaimana mestinya.
4. Untuk thalaq yang ketiga, maka isteri tidak boleh kembali kepada bekas suaminya sampai dia menikah dengan orang lain. Kemudian jika suami keduanya meninggal atau menceraikannya maka boleh isteri kembali pada mantan suaminya.
5. Dalam Islam, perceraian dalam rumah tangga akan berakibat buruk pada pasangan suami isteri dan keluarga. Mempertahankan keutuhan rumah tangga dan tetap mengambil langkah dan solusi yang terbaik dalam menangani masalah sehingga keputusan cerai tidak diambil kecuali dalam keadaan darurat.

Lampiran :
# حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وعمروالنا قد واللفظ لعمرو قالا حدثنا سفيان عن الزهري عن عروة عن عا ئشة قالت جا ئت امرة رفا عة الي النبي صل الله عليه وسلم فقالت ثم كنت ثم رفا عة فطلقني فبت طلاقي فتزوجت عبد الحمن الزبير وان مامعه مثل هدبة الثوب فتبسم رسول الله صلي الله عليه وسلم فقال أتريدين أن ترجعي الي رفاعة لا حتي تذوقي عسيلته ويذوق عسيلتك فقالت أبو بكر عنده وخالد بالباب ينتظر أن يؤذن له فنادي يا ابي بكر ألا تسمع هذه ما تجهر به ثم رسول الله صلي الله عليه وسلم

# أخبرنا إسحاق بن إبراهيم قال أنبأنا سفيان عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت جاءت امرأة رفاعة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن رفاعة طلقني فأبت طلاقي وإني تزوجت بعده عبد الرحمن بن الزبير وما معه إلا مثل هدبة الثوب فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال لعلك تريدين أن ترجعي إلى رفاعة لا حتى يذوق عسيلتك وتذوقي عسيلته

# حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا سفيان بن عيينة عن الزهري أخبرني عروة عن عائشة أن امرأة رفاعة القرظي جاءت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إني كنت ثم رفاعة فطلقني فبت طلاقي فتزوجت عبد الرحمن بن الزبير وإن ما معه مثل هدبة الثوب فتبسم النبي صلى الله عليه وسلم فقال أتريدين أن ترجعي إلى رفاعة لا حتى تذوقي عسيلته ويذوق عسيلتك
DAFTAR PUSTAKA
ابو زكريا يحي بن شرف شن مري النووي631-676 ,شرح النووي علي صحيح مسلم, الطبعة الثا نية, دار احياء التراث العربي,بيروت, 1392,الجزء 10ص 2
محمد بن اسماعيل أبو عبد الله البخاري الجعفي 194-256, صحيح البخاري ,الطعة الثالثة, دار ابن كثير اليمامة :بيروت,1407\1987 الجء الخامس ص.2037
مسلم بن الحجاج أبو الحسين القشيري النيسا بوري صحيح مسلم الجز 2 اسم المحقق محمد فؤاد عبد البا قي دار احياء التراث العربي بيرو ت صفحة 1055
al-Qazwini, Muhammad bin Yazid bin Abdullah, 207-275H. Sunan Ibnu Majah, Juz I, Darul-Fikri:Beirut
An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib Abu Abdurrahman (215-303). Sunan an-Nasa’i (Al-Mujtaba’), Juz VI, Cet. II, Halb:Maktab Mathbu’at Islamiyyah, 1406H
Syawis, Abdul Azis. Islam Agama Fitrah, (terj.) Al-Islaam Dinul Fitrah, Abdurrahman, (Cet. I, Jakarta:Bumi Aksara, Januari 1996)
as-Shan’aniy, Imam Muhammad bin Ismail al-Kahlani سبل السلام Subulussalaam, Juz III, Bandung:Maktabah Dahlan:, Indonesia, t.th.
al-Bustani, Karam. Kamus Munjid fi lughah wal a’laam, Darul Masyiq:Beirut, Libnan, cetakan 33, 1992,
Bahreisy, Salim & Said. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Cet. I. Kuala Lumpur:Victing Agencie, 1988
Fachruddin Hs, Ensiklopedia al-Qur’an, Jilid I. Cet.I, Jakarta:Rineka Cipta, Februari 1992
Noor, Muhibbin. Kritik Kesahihan Hadist Imam Bukhari : Telaah Kritis atas Kitab al-Jami al-Shahih, cet. I. Yogyakarta:Waqtu, 2003
Ismail, Syuhudi. Pengantar Ilmu Hadist, Cet. XI,Bandung:Angkasa, 1991

%d blogger menyukai ini: