Archive for Desember, 2008

h1

Apa Itu Filsafat ?

21 Desember 2008

Pengertian Semantik

Ketika seseorang menyanyakan tentang hakikat sesuatu, maka sesungguhnya ia telah menanyakan banyak perkara. Terkadang seseorang menanyakan pengertian konseptual suatu kata, maka sesungguhnya ia telah bertanya tentang pengertian kata itu sendiri. Dalam menanyakan tentang pengertian suatu perkara, maka kita berusaha untuk mengetahui pengertian yang bersifat leksikal dan idomatik dari kata tersebut. Sebagai contoh ketika kita menyanyakan tentang kata Kalimah dalam bahasa Arab, maka menurut terminologi ahli logika bahwa kata Kalimah sama dengan Fi’il, tetapi terminologi yang dikemukakan oleh ahli tata bahasa akan berbeda dengan terminologi yang telah di kemukakan oleh ahali logika, sehingga satu kata bisa saja memiliki pengertian yang beragam dalam dalam berbagai konteks. Jadi satu kata yang memiliki dua arti atau lebih dalam satu kumpulan disebut dengan pengertian-pengertian verbal.

Terkadang seseorang mencari pengertian suatu kata, maka yang dicari bukanlah arti idiomatik dari kata tersebut melainkan realitas yang dirujuk oleh kata tersebut. Sebagai contoh ketika kita mencari jawaban dari pertanyaan “apa itu manusia”, maka kita akn mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berkaki dua, berpostur dan dapat berbicara. Sebaliknya, kita berusaha untuk mengetahui identitas dan realitas makhluk manusia itu, maka jawaban yang benar dalam masalah ini disebut dengan defenisi nyata.

Pengertian yang bersifat verbal terlebih dahulu dikemukakan kemudian defenisi nayata, artinya bahwa ketika seseorang ingin mengetahui keapaan sesuatu, maka pertama-tama ia harus memastikan pengertian konseptual sesuatu tersebut kemudian menggambarkan pengertian nyata yang dirujuk oleh kata tersebut. Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan terjadi kekeliruan dan perselisihan tanpa batas. Sebab suatu kata dapat memiliki arti leksikal dan idiomatik yang berbeda.

Kegagalan dalam memastikan pengertian sebuah kata dari realitas rujukannya yang terkadang mengakibatkan perubahan dan evolusi menggantikan pengertian leksikal sebuah kata dengan sesuatu yang dianggap sebagai pengertian nyata. Sebagai contoh bahwa suatu kata memiliki makna keseluruhan yang kemudian terjadi perubahan dalam penggunaannya sehingga mengira bahwa makna keseluruhan itu telah terpecah padahal sesungguhnya keseluruhan itu tidak mengalami perubahan yang ada hanyalah perubahan arti karena digunakan untuk bagian dari keseluruhan makna tersebut.

Kesalahan semacam inilah yang terjadi dalam memberikan pengertian terhadap kata filsafat sehingga apa yang dipandang oleh suatu kelompok tentang filsafat berbeda dengan apa yang dipandang oleh kelompok lain yang pada akhirnya mengakibatkan defenisi yang berbeda dan kelompok yang berbeda menolak defenisi kelompok lain.

Defenisi “Filsafat”

Kata filsafat diambil dari bahasa Yunani yang merupakan penggabungan antara kata philos yang berarti cinta dan shopia yang berarti kebijaksanaan, dari kata yang kemudian Plato menyebut Socrates sebagai seorang philosophos. Kata philosophis kemudian terarabisasi dengan kata falsafah dalam bentuk mashdar yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof.

Sebelum masa Socrates terdapat satu kelompok yang menamakan diri dengan sophistes yang berarti cendekiawan atau sarjana. Akan tetapi kelompok ini menjadikan manusia sebagai ukuran realitas dan menggunakan hujah-hujah keliru, sehingga kata sophis kehilangan arti yang sesungguhnya. Dari sini kita memiliki kata shiphistri yang berarti cara berpikir yang menyesatkan atau dalam bahasa arab disebut dengan safashthah.

Sisebabkan karena hal itu, maka Socrates tidak rela disebut sebagai seorang sophistes melainkan ia lebih memilih untuk disebut sebagai philosophos. Sebutan ini tidak digunakan oleh orang-orang sebelum Socrates dan tidak juga kepada orang setelahnya, bahkan Aristoteles tidak menggunakan istilah ini untuk dirinya.

Pemakaian Kata”Filsafat” dikalangan Filosof Muslim

Kaum muslim kemudian mengadopsi kata filsafat kemudian memberinya kata Arab dan nuansa timur yang kemudian digunakan untuk ilmu-ilmu yang bersifat rasional murni, secara umum pemakaian filsafat dikalangan para filosof muslim tidak merujuk kepada suatu disiplin ilmu tertentu melainkan kepada seluruh cabang dan bidang ilmu dan sains-sains rasional, sehingga orang yang berhak untuk disebut sebagai seorang filosof apabila menguasai seluruh ilmu dan sains-sains rasional.

Ketika para filosof muslim ingin mengembangkan klasifikasi filsafat menurut Aristoteles dengan menggunakan istilah Arab falsafah atau hikmah, maka mereka mengatakan bahwa “filsafat dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu : Filsafat teori dan praktis.

Adapun filsafat teori dapat dibagi kedalam tiga bagian yaitu : filsafat tinggi atau teologi dengan dua bagian yaitu: fenomenologi umum dan teologi, filsafat menengah atau matetamitaka dibagi menjadi empat bagian yaitu: aritnatika, geometri, astronomi dan musik, dan filsafat rendah yang bebicara tentang kealaman. Adapun filsafat praktis terbagi atas etika, ekonomi domestik dan sivics.

Filsafat Yang Benar

Kata “filsafat” menurut para folosof kuno memiliki dua arti : Pertama, pengertian umum dari pengetahuan rasional apa adanya yang meliputi semua sains kecuali yang didaptkan melalui pewahyuan. Kedua, pengertian lain yang jarang dipakai yaitu teologi atau filsafat tinggi.

Dari defenisi para folosof masa lalu maka terdapat dua kemungkinan, Pertama, bahwa filasafat meliputi semua sains yang tidak diwahyukan atau dengan kata lain bahwa filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia baik dari sudut teoritis maupun praktis. Kedua, menetapkan defenisi khusus tentang filsafat yaitu: meliputi suatu sains tentang keadaan-keada wujud dipandang dari segi kewujudannya bukan dari segi individuasinya yang khusus.

Maka dari itu ketika kita mempelajari tentang organologi alam makhluk maka studi kita disebut dengan sains, sementara ketika kita melakukan studi tentang fisiologi alam semesta secara menyeluruh, maka studi itu disebut dengan filsafat.

Jadi ketika kita bertanya tentang apa itu filsafat? Maka jawabannya adalah bahwa kata filsafat memiliki pengertian tertentu dalam kelompok tertentu. Diantara para filosof muslim mendefenisikan bahwa filsafat adalah meliputi semua ilmu dan sains-sains rasional dan sangat sedikit yang mendefenisikannya sebagai suatu sains yang membahas tentang aspek wujud universal dimana pendefenisian kedua merupakan filsafat yang sesungguhnya.

Metafisika

Aristoteles adalah folosof pertama yang membedakan antara sains metafiska dengan sains-sains lain yang kemudian memperluas sains ini secara independen dengan memberikannya tempat khusus dari sains-sains yang lain. Pembedaan yang dilakukan oleh Aristoteles melihat bahwa seluruh persoaln beputar pada satu sumbu sebagai aksiden dan keadaan yang bersumber dari wujud qua wujud dalam artian bahwa metafisika merupakan pembicaraan tentang prinsip-prisip yang paling universal yang merupakan watak yang sangat mendasar dari suatu benda.

Metafisika yang dikembangkan oleh Aristoteles disalah artikan secara verbal yang berimplikasi pada kesalah pahaman tentang metafisika, maka akibat dari kesalah pahaman ini yang pada akhirnya terdapat kelompok yang mendefenisikan bahwa Metafisika adalah “Sains yang berkaitan semata-mata dengan tuhan dan fenomena yang terpisah dari alam”

Filsafat di Zaman Moderen

Yang membedakan antara filsafat kuno dan modern adalah digantikannya metode silogistik dan rasional dalam sain dengan metode empiris dan eksperimental, mereka melihat bahwa bagunan ilmu pengetahuan telah memishakan diri dari wilayah silogistik kepada wilayah eksperimental, adapun matematika mengambil karakter semi silogisti, semi ekperimental.

Setelah hal ini berlangsung lama kemudian beberapa filosof mulai menafikan metode silogistik dengan alasan bahwa sebuah sains yang tidak dapat dijangkau oleh metode eksperimental konkrit dengan hanya menggunakan metode silogistik maka sains tersebut dianggap tidak memililki landasan.

Kelompok lain tetap mempertahankan adanya metode silogistik yang harus digunakan dalam metafisika dan etika, untuk mempertahankan kebradaan metode silogistik dalam dunia filsafat kelompok ini kemudian mengemukakan terminologi baru yaitu : “Segala yang berbetuk riset dmelalui metode eksperimental disebut dengan sains, dan segala bidang ilmu yang harus didekati dengan silogistik seperti metafisika, etika, dan logika adalah filsafat”. Secara zhahir terminologi ini memiliki kesepahaman bahwa filsafat bersifat generik atau universal, akan tetapi pengertian tersebut memberikan ruang sempit damana filsafat dibatasi dengan ilmu metafisika, etika, logika, hukum dan bidang ilmu sejenisnya, namun matematika dan ilmu-ilmu alam berada diluar dari cakupannya.

Namun, perlu untuk kita ketahui bahwa filsafat di zaman modern mengacu pada semua bidang ilmu dan memiliki terminologi yang berbeda pada setiap bidangnya.

Perpisahan Sains dan Filsafat

Kekeliruan terbesar yang terjadi dimasa kita adalah mitos terpisahnya antara sains dan filsafat, padahal kata filsafat pada masa lalu meliki pengertian tentang pengetahuan rasional, bukan pengetahuan tentang wahyu. Dalam pemaknaan seperti ini berarti filsafat merupakan kata yang bersifat generik dan bukan sebuah nama.

Sementara itu pada zaman moderen kata filsafat menjadi terbatas terbatas pada metafisika, logika, etika dan sejenisnya, sementara sains berada diluar jangkauan filsafat. Semua tidak lebih diakbatkan oleh perubahan linguistik yang kemudian disalah artikan sebagai perubahan makna.

Iklan
h1

Neo-Sofis Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi Islam

21 Desember 2008

Resensi Buku

Penulis : Adian Husaini

Judul Buku : Hegemoni Kristen – Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi

Cetakan Pertama

Penerbit: Gema Insani Press, Jakarta

Tahun Terbit : Muharram 1427 H, Februari 2006 M

Buku ini merupakan salah satu bentuk kegelisahan intelektual seorang tokoh yang melihat bagaimana pemahaman sekulariseme-liberal telah merasuki dunia kampus yang bercorak Islam utamanya di Indonesia seperti UIN, IAIN, STAI, PTAI dan kemapus-kampus Islam di dunia secara umum dan berusaha untuk mengotori pemikiran para mahasiswa Islam dengan menggunakan metodologi dan berbagai macam bentuk pendekatan terhadap studi Islam dimana metode-metode tersebut merupakan copy-paste dari Barat-Kristen. Keresahan dan kegelisahan semacam ini sesungguhnya telah ada sejak masa Imam al-Gazali dimana perang salib terjadi dibawah kendali panglima Islam terkemuka Shalahuddin al-Ayyubi. Buku ini ditulis oleh seorang tokoh bernama Adian Husaini yang bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin di Indonesia utamanya para akademisi muslim yang mengabdikan dirinya dikampus-kampus Islam, bahwa terdapat permasalahan yang sangat besar yang harus dihadapi secara bersama yakni tentang kemunkaran ilmu yang bercokol di berbagai perguruan tinggi islam di Inonesia seperti UIN/IAIN/STAI/PTAI.

Tentang tingginya kualitas Ilmu Islam (Ulumuddin) sebenarnya telah diperlihatkan oleh para sarjana muslim terdahulu seperti At-Thabary dengan kitab tafsir al-Qur’an-nya yang sangat terkenal dan bahkan menjadi rujukan utama para mufassir Islam sejak dahulu hingga hari ini, Ibnu Shalah dengan ulum al-Hadits-nya, Al-Bukhary, Muslim dan lain-lain dengan kitab Hadits yang mereka tulis, Ibnu Katsir, Ibnu Hisyam dan yang lainnya dengan kitab Tarikh mereka yang berjilid-jilid, serta al-Ghazali, Ar-Razy dan Ibnu Taimiyyah dengan kekuatan daya nalar dan kritis mereka terhadap segala bentuk, macam dan nama heresy yang terbentuk dan muncul pada masanya, belajar dari mereka tentang ketinggian ilmu dan kearifan serta adab dalam mengambil ilmu adalah sangat penting sebab mereka adalah para pelopor-pelopor ilmu yang berdedikasi tinggi baik dari segi kedalaman maupun tanggung jawab ilmiyah. Namun sangat disayangkan kaum neo-sofis dari kalangan muslim saat ini berusaha untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah Saw, para sahabat beliau dan para ulama Shaleh terdahulu dengan menambil secara serampangan segala bentuk metodologi studi ulumuddin dari kaum orientalis Barat-Kristan dimana mereka memiliki trauma terhadap agama Yahudi dan Kristen, demikianlah buku ini mengungkapkan akan perlunya kita belajar dari Imam al-Ghazali dimana Imam al-Gahzali mengatakan bahwa kemungkaran ilmu jauh lebih berbahaya dari pada kemungkaran lainnya.

Buku ini mengajak kita untuk melakukan telaah kritis dan bertanggungjawab secara ilmiyah terhadap segala macam bentuk pendekatan dan metodologi dalam mengkaji Ulumuddin yang dirumuskan oleh kaum orientalis (Barat-Kristen).

Barat-Kristan secara historis pasca kekalahan mereka pada perang salib telah berusaha untuk mengkaji nilai-nilai Islam secara teratur diantara mereka ada yang bertujuan hanya sebatas kebutuhan ilmiyah dan lebih banyak lagi yang bertujuan untuk mencari kelemahan dalam tubuh kaum muslim utamanya al-Qur’an dan hadis.

Antara Ulama dan Sofisme Islam

Indonesia merupakan salah satu diantara negara yang bependuduk mayoritas muslim menjadi lahan yang sangat bagi kaum orientalis untuk mengaktualisasikan seluruh hasil penelitian yang telah mereka bangun. terdapat berbagai macam bentuk metode hegemonik Barat-Kristen dalam menanam pengaryhnya di dunia Islam utamnya kaum muslimin di Indonesia diantara teknik jitu yang maih langgeng hingga saat ini adalah pengiriman para akademisi muslim ke Barat untuk duduk pada fakultas Islamic Studies pada berbagai universitas yang bertujuan agar mereka (akdemisi muslim Indonesia) tersebut mempelajari Islam dari mereka yang kemudian sekembalinya mereka dari mempelajari Islam di Barat dapat mengajarkannya kepada mahasiswa muslim di Indonesia, demikianlah yang terjadi pada diri sang Harun Nasution dengan bukunya Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, sepak terjang sang Harun Nasution dalam menanamkan pengaruh pemikiran sekulernya pada perguruan tinggi Islam di Indonesia utamanya IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN) kita akan menemukan kejelasannya alam buku ini.

Penyebaran paham sekularisme Barat dalam Studi Islam diperguruan tinngi Islam yang di pelopori oleh seorang tokoh bernama Prof. Dr. Harun Nasution kemudian mendapat bantahan yang cukup tajam yang dilakukan oleh seorang tokoh intelektual muslim yang telah banyak mengambil ilmu dari perguruan tinggi di Barat dan bahkan pernah menjadi Assisten Professor pada McGill Universty di Australia dengan mata kuliah hukum Islam dan sejarah, beliau adalah Prof. Dr. Muh. Rasyidy dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar Beliau adalah sosok ulama Indonesia yang senantiasa dan berusaha agar pemahaman sekularisme tidak meraja lela dan berkelindan di dunia Islam utanya di Indonesia. Buku ini memaparkan tentang sejarah perjalanan dunia intelektual Prof. Rasyidy dan Prof. Harun serta bagaimana pertarungan mereka dalam dunia intelektual sekalipun keduanya adalah teman sejawat yang kedua-duanya berguru dibawah naungan Studi Islam yang didirikan oleh orientalis bernama Wilfred Cantwell Smith pada McGill University Australia.

Tidak hanya terbatas pada pembahasan tentang sepak terjang dua tokoh terkenal di Indonesia dan pertarungan intelektual keduanya, penulis juga secara kritis mempertanyakan tentang Quo Vaditas studi Islam di IAIN, dimana dalam sub judul bab ini secara kritis mengangkat dan menjelaskan tentang asal-usul isltilah “Islam Inklusif” dan hubungannya dengan pehaman inklusifisme dan eksklusifisme dalam dunia Kristen serta ketidak adilan para akademisi Islam yang secara institusi sebagai dosen atau staff pengajar pada perguruan tinggi Islam di Indonesia utamanya di UIN/IAIN/STAI/PTAI menggunakan Istilah “Islam Inklusif” dan menjelaskan kepada para mahasiswanya secara serampangan dan tidak kritis.

Pada bagian lain dari buku ini menjelaskan bahwa “Islam Inklusif” kemudian akan melahirkan sebuah rumusan pemkiran tentang keseragaman agama atau dengan istilah lain “Pluralisme” bahwa agama itu semua sama dengan kerancuan pemahaman terminologis yang berakibat pada pendangkalan Akidah Islam dan perubahan keyakinan kaum muslimin secara beasar-besaran.

Jika dahulu kita mengenal Prof. Dr. Harun Nasution dengan bukunya yang sangat terkenal Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang penuh dengan pemujaan terhadap orientalis dan pemahaman mu’tazilah yang secara tajam dan kritis mendapat bantahan dari rekan sejawatnya Prof. Dr. Muh. Rasyidy, maka pada masa sekarang kita kemudian diperhadapkan oleh seorang tokoh yang berkebangsaan mesir dan kini bermukim di Belanda sebagai seorang Prefossor dalam Studi Islam yang secara khusus telah merumuskan sebuah pemikiran baru dalam dunia tafsir yang disebut dengan Hermenutika dia adalah Prof. Dr. Nashr Hamid Abu Zayd, dia mengaku sebagai seorang muslim Sekuler-Liberal dengan pendapatnya yang sangat populer dia mengatakan bahwa “Al-Qur’an adalah Produk Budaya (Intaj Tsaqafy)” dimana latar belakang intelektualnya sebagaimana yang dikutip dalam buku ini yang disadur dari artikel Dr. Syamsuddin Arif membuat gempar para pengikut NH Abu Zayd di Indonesia sebab sang penulis artikel secara terang-terangan mengungkap tentang bagaimana sikap pemerintah Mesir terhadap pemikiran Abu Zayd dalam setiap tulisannya baik itu artikel maupun buku-buku yang telah diterbitkan.

Teologi Hermeneutika Abu Zayd dan Arkoun kini diajarkan diperguruan tinggi Islam bahkan secara kurikulum di UIN Syarif Hidayatullah mendapat porsi sebanyak 3 SKS dengan tujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis dan mata kuliah (MK) ini merupakan MK wajib pada program studi Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Jika hasil pemekiran seorang tokoh intelektual muslim seperti Fazhlurrahman, Abu Zayd, Arqoun, Harun Nasution, Nurkholis Madjid, Amin Abdullah, Komaruddin Hidayat, Jalaluddin Rakhmat, Taufik Adnan Amal dan yang menyetujui pemikiran mereka dapat hanyut dalam arus pemikiran orientalisme tanpa sikap adil dan kritis apatah lagi mahasisiwa seperti Ulil Abshar Abdallah, Fuad Fanani dan yang lainnya, mereka yang kami sebutkan namanya adalah orang-orang yang dibantah secara ilmiyah akan pendapat-pendapat mereka dalam buku ini.

Selain teologi “Islam Inklusif”, Hermeneutika Abu Zayd dan Arkoun penulis juga membantah secara ilmiyah tentang kerancuan “Hermeneutika Tauhid Wadud” ala Aminah Wadud yang mengembangkan teologi “Hermenutika Feminis” yang kemudian di Indonesia dikembangkan oleh ibu Musdah Mulia seorang aktivis perempuan dari Nahdhatul Ulama dengan jargonnya yang terkenal “Gender Uquality” yaitu kesamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, kemudian ibu Musada pada akhir tahun 2006 mengkampanyekan bolehnya pernkahan silang antar umat beragama bahwa seorang muslimah boleh menikah dengan lelaki non muslim, demikianlah kerancuan berfikr kaum sekular-liberal yang kemudian kerancuan ini diajarkan dalam dunia akademisi Islam (UIN/IAIN/STAI/PTAI) di Indonesia dimana kampus-kampus ini yang seharusnya mengeluarkan para sarjana-sarjana yang menjunung tinggi kemuliaan al-Qur’an dan Hadis malah menginjak-injak dan merendahkannya bahkan menyamakan kedudukannya dengan teks-teks buatan manusia seperti Al-Kitab milik orang Nashrani sebagaiman yang akan kita temukan dalam buku ini.

Para kaum sofis tidak menghendaki adanya ilmu yang baik dan benar sebab menurut mereka kebenaran mutlak tidak akan pernah dimiliki oleh manusia sebab kebenaran mutlak itu hanya terletak pada yang mutlak dan kebenaran yang diperoleh manusia hanyalah kebenaran nisbi yang dapat dihapus oleh kebenaran yang akan datang setelahnya, kalau demikian dimanakah fungsi hati, akal, dan keyakinan? temukan jawabannya dalam buku ini.

Wal hasil kami dapat katakan bahwa dimana Fir’aun bertengger dan bermukim disana ada Musa yang siap mematahkan argumennya, dimana ada Masih ad-Dajjal disana Isa al-Masih yang siap membunuhnya, dimana ada Fazhlurrahman disana ada Nuqaib al-Attas yang siap mematahkan pemikirannya, dimana Nashr Hamid Abu Zaid disana ada Wan Mohd Nor Wan Daud yang siap melawan seluruh rumusannya, dimana ada Harun Nasuton dan Nurkholis Madjid disana ada Prof. Rasjidy yang siap meluruskan, mematahkan dan mementalkan seluruh argumen pemikiran kopian dari orientalis tentang Islam yang nyeleneh dari mereka.

Buku yang ditulis oleh seorang kandididat Doktor di bidang pemikiran dan peradaban Islam pada International Institute of Islamic Though and Civilzation-Islamic Universuty Malaysia (ISTAC-IIUM) ini sangat bermanfaat bagi para dosen dan mahasiswa muslim di UIN/IAIN/STAI/PTAI utamanya bagi mereka yang mengambil bidang studi program Tafsir dan hadis sebagai bahan perbandingan secara kritis dan adil, sebab didalamnya kita akan menemukan begitu banyak literatur menyangkut tentang metodologi studi Islam kontemporer disamping itu manfaat yang kita dapatkan tidak hanya terbatas pada inti permaslahan yang terdapat dalam setiap bab dan sub judulnya saja bahkan kita tidak akan merasa puas jika melewatkan catatan kaki pada setiap halamannya karena kekayaan informasi dan manfaat yang terkandung didalamnya.

Penulis buku adalah seorang intelektual muda yang sangat aktif dan produktif dalam mencermati perkembangan pemikiran Islam di dunia utamanya di Indonesia, beliau yang lahir pada tahun 1965 ini merupakan salah seorang ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), beliau juga aktiv sebagai wakil ketua Komisis Kerukunan Umat Beragama MUI, sebagai pengurus majlis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, beliau juga adalah anggota Dewan Direktur pada Institut for Study of Islamic Though Civilization (INSIST). Beliau sangat produktif dalam melawan seluruh bentuk ketidak adilan ilmiyah dalam bentuk tulisan diantara karya-karya beliau yang telah diterbitkan adalah : Penyesatan Opini (Jakarta : GIP,2002), Islam Liberal : Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta : GIP, 2002), Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam (Jakarta : GIP, 2004), dan Wajah Peradaban Barat : dari Hegemoni Kriten ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : GIP, 2005).

h1

Islam Dan Pluralisme

21 Desember 2008

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fenomena keragaman agama merupakan salah satu persoalan yang dihadapi oleh pemikiran keagamaan hingga saat ini. eksistensi komuninitas yang di dalamnya orang-orang dari berbagai tradisi agama hidup bersama dan ekspansi hubungan sosial berikut komunkasi di abad ke 21 merupakan alasan-alasan untuk memperhatikan isu penting ini.

Persoalan utamanya adalah bagaiaman cara memahami dan menjelaskan secara baik dan lebih arif ihwal keragaman agama tersebut? Apakah salah satu dari agama merupakan satu-satunya agama yang autentik? Atau mungkin kita melihat bahwa cahaya kebenaran berada pada semua agama di dunia sehingga merega bagaikan cermin-cermin yang berbeda bentuk tetama memantulkan cahaya kebenaran dan keselamatan yang sama? Atau mereka bagaikan trali-trali ban yang berbeda tempat tetapi menuju kepada satu bundaran inti yang disebut dengan keselamatan?.

Jika keselamatan hanya diraih oleh salah satu agama tertentu saja, lalu bagaimana dengan konsep rahmat, cinta, dan hidayah Tuhan dapat dipahami? Disisi lain jika seandainya keselamatan itu diraih oleh semua penganut agama yang beragam tersebut, lalu bagaiman mungkin orang yang berbeda keyakinan agama secara radikal dapat meraih kesalamatan secara bersamaan?.

Pertanyaan-pertanyaan penting dan problematis tersebut di atas merupakan problematika utama pluralitas agama, para pemikir muslim telah mencoba membedah pertanyaan-pertanyaan tersebut menurut kecenderungan dan latar belakang intelektualitas masig-masing. Namun hingga saat ini tidak satu pun diantara mereka daoat memeberikan jawaban yang betul-betul sempurna, failid, dan final, sehingga pintu diskusi tentang promlematika ini masih tetap terbuka untuk didiskusikan lebih jauh dan mendalam.

Makalah ini merupakan salah satu diantara sekian upaya dalam melakukan analisais secara kritis ( meski sangat jauh dari kesempurnaan) tentang problematika pluralitas keagamaan, khususnya pluralisme religius sebagaimana yang diusung dan dipopulerkan oleh Jhon Hick dari kalangan Kristen dan al-Hallaj dari kalangan Muslim serta pemikir-pemikir dunia lainnya.

B. Batasan Masalah

1. Bagaiman sejarah munculnya pluralisme religius ?

2. Al-Qur’an dan pluralisme bagaimanakah ?

3. Bagaimana bentuk pluralisme religius dalam konteks ke-Indonesian?

PEMBAHASAN

A. Sejarah Munculnya Pluralisme Religius

1. Sejarah Pluralisme Religius Kristen

Sejarah agama-agama di dunia penuh dengan kisah-kisah konflik yang sangat tragis tentang penganiayaan, penyiksaan dan intoleransi. Perbedaan-perbedaan yang terjadi antar keyakinan satu kelompok terhadap keyakinan kelompok lain sering kali dimanfaat untuk kepentingan penjajah. Hal tersebut pernah terjadi dikalangan kaum Kristen Eropa terhadap penduduk asli Amerika. Oleh karena itu bukanlah menjadi suatu hal yang mengejutkan ketika para pemluk Kristen meyadari dan menyesali akan kekelaman sejarah masa lampau kemudian berusaha untuk mencegahnya agar tidak terulang kembali. Itulah alasan utama yang melandasi munculnya pluralisme dalam agama Kristen.

Pluralisme religius adalah sebuah produk yang dilahirkan dari rahim liberalisme religius yang pada awalnya merupakan gerakan liberalisme politik yang berkembang pada abad XVIII di Eropa, perkembangan liberalisme politik pada masa itu diakibatkan oleh penolakan terhadap intoleransi beragama yang ditunjukkan memalalui peperangan sektarian pada era reformasi.

Kemunculan liberalisme merupakan bentuk respon politis terhadap keberagaman kepercayaan dalam tubuh Kristen, meskipun demikian produk doktrin liberalisme yang melahirkan produk pluiralisme –yang juga persifat politis- ini memiliki batasan tertentu, karenanya doktrin ini cakupannya diperluas dan mencapai komunitas agama non-Kristen yang ada diseluruh dunia pada abad XX. [1]

Meskipun hembusan angin liberalisme yang kemudian memunculkan wabah pluralisme dikalangan kaum Kristen telah berusaha dikulturkan oleh Kristen Eropa akan tetapi pada akhir abad XIX masih terdapat sekte Kristen yang masih didiskreditkan oleh pihak Gereja mereka adalah sekte Mormon yang tidak dianggap sebagai sekte yang melakukan penyimpangan doktrin dan keyakinan sebab mereka masih melegalkan dan masih menjadi poligami sebagai bagian dari ajaran Kristen. Hal ini mengundang reaksi keras dari sang Presiden Amerika terpilih Garfield yang menyatakan bahwa organisasi keagamaan mana pun tidak berhak untuk mengambil alih dan merampas fungsi dan kekuasan Pemerintah Nasional.[2]

Ketika para pembesar-pembesar Gereja Katalok masih memgeang teguh keyakinan bahwa “tidak ada keselamatan di luar Gereja” dan meyakini bahwa “Yahudi adalah kaum pengkhianat Kristus yang membunuh Yesus Kristus pada saat perjamuan akhir” hingga digelarnya Konsili Vatikan II (Vatikan Council II) pada era tahun 1960-an yang kemudian menghapus rujukan tentang “Yahudi Kaum Pengkhianat” dan mendeklarasikan doktrin keselamatan umum bahkan bagi agama-agama non-Kristen.[3]

Munculnya gagasan plurisme religius juga sebagai bagian dari gerakan reformasi pemikiran keagamaan atau liberalisasi religius dalam tubuh Kristen dalam sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Liberal Protestantisem” yang dipelopori oleh Fredrich Schleiermacher pada abada XIX.[4]

Dari uaraian di atas menunjukkan bahwa latar belakang kemunculan doktrin pluralisme religius diawali dengan kemunculan liberalisme poitik, yang kemudian melahirkan pluralisme politik, lalu kemudian melahirkan doktrin liberalisme religius dan berujung pada doktrin pluralisme religius. Hal ini menjelaskan pula bahwa gagasan doktrin pluralisme religius merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen sehingga dapat lebih luas melakukan interaksi secara toleran terhadap sekte-sekte internal Kristen dan terhadap komunitas-komuniatas agama non-Kristen diseluruh dunia. Dan diantara tokoh-tokoh penggas dan penyebar pluralisme religius adalah : Fredrich Schleiermacher (1768-1834) pendiri gerkan “Liberal Protestantisem”, Rudolf Otto (1869-1937), Herge (1770-1831) yang berpendapat bahwa agama adalah suatu ide transendental yang di teruari dalam berbagai macam ekspresi, Erent Troelstsch (1865-1923) ia berkeyakinan bahwa semua agama mengandung kebenaran relatif, bentuk-bentuk kebenaran yang bersifat khusus ditentukan oleh budaya, masing-masing agam bersifat normatif bagi para pengikutnya saja,[5] kemudian pemikiran ini dikembangkan oleh Arnold Toynbee (1889-1975), Wilfred Cantwell Smith yang berpendapat tentang perlunya konsep teologi universal yang bisa dijadikan pijakan bersama bagi seluruh agama di dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat secara damai dan harmonis, dan Jhon Hick karena kepaiawaiannya dan kejeniausan serta pemusatan konsetrasinya secara mendalam terhadap pluralisme religius, maka dia mempu merekonstruksi landasan-landasan toritis pluralisme religius sedemikian rupa , sehingga menjadi sebuah tori baku dan populer hingga gagasan ini lebih disandarkan atas namanya dibandingkan dengan para pendahulunya.[6]

2. Sejarah Pluralisme Religius Islam

Adapaun awal dari kemunculan pluralisme religius di dunia Islam dimulai dari pemahaman al-Hallaj seorang sufi yang menghembuskan faham Wihdat al-Adyan (kesatuan Agama), ajaran ini merupkan bentuk manivestasi dari ajaran-ajaran al-Hallaj yang lain yaitu teori hulul dan Nur Muhammad, akan tetapi dari kedua ajaran tersebut teori Nur Muhammad-lah yang memiliki kaitan erat dengan kemunculan ajaran Wihadt al-Adyan dimana al-Hallaj berpendapat bahwa merupakan jalan hidayah dari semua Nabi. Oleh karenanya seluruh agama yang dibawa oleh para nabi pada perinsipnya adalah sama. Al-Hallaj berkeyakinan bahwa semua Nabi merupakan “emanasi wujud” sebagaimana yang terumuskan dalam teori hululnya, maka dari itu al-Hallaj berpendapat bahwa pada dasarnya semua agama berasal dari satu dan akan kembali kepaa satu, karena semuanya memancar dari cahaya yang satu. Adapun perbedan-perbedaan yang ada dalam agama-agama hanya merupakan perbedaan bentuk nama saja, sedangkan hakikatnya adalah sama, tujuannya sama, dan mengabdi kepada satu tuhan yang sama.[7]

Diantara para tokoh yang mengikuti jejak pemikiran al-Hallaj adalah seorang sufi India bernama Hazart Inayat Khan yang diantara salah satu karyanya telah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kesatuan Ideal Agama-agam, dalam karyanya tersebut Hazarat berpendapat bahwa agama-agama bagaikan not-not dalam musik dimana ada not A, B, C, D dan lainnya jika masing-masing not tersebut dimainkan secara terpisah, maka akan menghasilkan nada yang tidak harmonis, akan tetapi jika dimainkan secara bersamaan, maka akan menghasil nada yang indah demikianlah kesatuan ideal agama-agama jika disatukan dan terjadi sikap toleransi antar agama-agama, maka akan menghasil kehidupan yang lebih indah dan harmonis.[8]

Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik suatu teori umum bahwa sesungguhnya munculnya sikap dan pemahaman pluralisme agama merupakan manivestasi dari keresahan akan sejarah agama-agama yang di penuhi dengan kisah-kisah pembantaian, penganiayaan, pendiskreditan, perpecahan, kebencian dan intoleransi, sehingga memicu timbulnya gerakan liberalisme agama dalam dunia Kristen dan Sufisme dalam dunia Islam.

B. Al-Qur’an dan Pluralisme

Al-Qur’an dan “Pluralisme Agama” Abdul Aziz Sachedina sendiri sangat keliru ketika mengklaim adanya paham pluralisme agama dalam Al-Qur’an. Dalam sub-judul “Pluralisme Agama dalam Al-Qur’an” menulis:

“Saya sepenuhnya bergantung pada Al-Qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif. Bagi kaum Muslim, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Al-Qur’an. Maka, Al-Qur’an merupakan kuncu untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam Islam.”[9]

Namun dengan sangat tidak kritis, Sachedina tidak memunculkan satu fakta pun tentang pluralisme agama dalam Al-Qur’an. Dia malah menyebutkan bahwa gagasan “manusia adalah satu umat” merupakan dasar pluralisme teologis yang menuntut adanya kesetaraan hak yang diberikan Tuhan untuk manusia.[10]
Seorang pluralis ‘anyar’ asal Indonesia, Kang Jalaluddin Rakhmat dalam sub-judul bukunya “Ayat-ayat Pluralisme” menulis:

“Apakah orang-orang kafir (non-muslim) menerima pahala amal salehnya? Benar, menurut Al-Baqarah: 62, yang diulang dengan redaksi yang agak berbeda pada Al-Mâ’idah: 69 dan al-Hajj: 17. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan amal saleh, mereka menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”[11]

Secara tidak fair, kemudian Kang Jalal menggunakan dua kitab tafsir. Pertama, tafsir yang ditulis oleh Sayyid Husseyn Fadhlullah, tokoh Hizbullah Lebanon, mewakili mazhab Ahlul Bait, kedua, tafsir al-Manâr, yang ditulis oleh Sayyid Rasyîd Ridhâ, tokoh pembaru Islam yang dikenal sebagai fundamentalis, mewakili mazhab Ahlussunnah.[12]

Alasan Kang Jalal menggunakan dua tafsir itu pun tidak jelas. Ketika Kang Jalal mengatakan bahwa Yahudi, Nasrani, Shabi’in dalam Qs. Al-Baqarah: 62, al-Mâ’idah: 69 dan al-Hajj: 17 sebagai kaum “kafir” (non-Muslim) adalah menyelewengkan ayat Al-Qur’an. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah tidak mengatakan mereka sebagai orang “kafir” (non-Muslim) . Ini juga kontradiktif dengan pendapat Kang Jalal sendiri, ketika menjelaskan makna “Islam” dalam Qs. Ali ‘Imrân [3]: 85. Kang Jalal mengikuti pendapat Fadhlullah bahwa ayat-ayat itu tidak dihapus (mansûkh). Menurut Fadhlullah, ayat 85 dari surat Ali ‘Imrân adalah menjelaskan “Islam umum” yang meliputi semua risalah langit, bukan Islam dalam artian istilah, yaitu bukan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.[13] Kesimpulan Fadhlullah, menurut Kang Jalal, diambil dari Qs. Ali ‘Imrân 19. Karena menurut Al-Qur’an, agama itu semuanya Islam.[14]

Fadhlullah dan Ridhâ memang memberikan syarat bahwa agar selamat, seluruh agama: orang beriman, Yahudi, Nasrani, Sabea, harus memiliki tiga syarat: iman kepada Allah, iman kepada hari akhir dan amal saleh. Benar, tapi konsep keimanan kepada Allah, Hari Akhir dan amal saleh tidak ada sebaik dan se-valid Islam. Tuhan (Allah) dalam agama Yahudi adalah Allah “ekslusif”. Keimanan kepada hari akhir pun dirusak oleh kaum Yahudi. Begitu juga dalam Kristen. Kristen mengakui bahwa jalan menuju Allah hanya lewat “Kristus”. Konsep Allah pun berubah menjadi Trinitas (Tritunggal) . Hari Akhir pun berbeda konsepnya. Amal saleh pun tidak diketahui bagaimana bentuknya. Ketiga hal tersebut sangat rinci dijelaskan dalam Islam.

Kang Jalal juga menolak penafsiran –yang menurutnya—kaum ekslusivis. Dalam sub-judul “Bantahan kaum eksklusivis” Kang Jalal menulis, khususnya pada poin kedua dan ketiga. Poin kedua, Kang Jalal menolak pendapat yang menyatakan bahwa Yahudi, Nasrani dan Shabi’in dalam ayat di atas adalah mereka yang ada sebelum zaman Nabi s.a.w. Karena itu, semua agama kehilangan validitasnya. Sebagaimana kedatangan uang Republik menyebabkan uang Belanda tidak berlaku. Argumentasi berdasarkan analogi ini, menurut Kang Jalal, tidak punya dalil yang memperkuatnya dalam Al-Qur’an dan sunah. Sebuah ayat yang bermakna umum tidak boleh diartikan khusus kecuali dengan keterangan yang kuat.[15]

Apa yang diklaim oleh Kang Jalal adalah keliru. Al-Qur’an memang mengakui bahwa kitab suci umat terdahulu: Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. dan ‘Isa a.s. adalah benar, bahkan mengandung cahaya (kebenaran). Tapi itu sebelum kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Tentang Taurat (Torah) Allah s.w.t. mengakui di dalamnya ada “petunjuk” (hudan) dan “cahaya” (nûr). Tetapi Allah mewakilkan penjagaan Taurat tersebut kepada para rabi dan pendeta mereka, dan mereka menjadi saksi akan hal itu. Hukum-hukum qishâsh pun dijelaskan di dalamnya.[16]

Tentang Injil, Allah s.w.t. mengakui bahwa di dalamnya juga terdapat “petunjuk” (hudan) dan “cahaya” (nûr). Dan Injil (Gospel) ini menjadi “pembenar”/penguat (Al-Qur’an: mushaddiq) bagi Taurat (Torah). Bahkan Injil memiliki satu kelebihan, yakni maw‘izhah (berisi nasehat dan petuah bijak di dalamnya).[17] Tapi ketika berbicara tentang Al-Qur’an, Allah s.w.t. tidak hanya menyatakan bahwa Al-Qur’an sebagai “penguat” atau pembenar (mushaddiq) Taurat dan Injil, melainkan juga sebagai “batu ujian” (mushaddiqan lima bayna yadayhi min al-Kitâb wa muhayminan ‘alahyi). Ini lah ayat yang menyatakan bahwa ajaran Rasul hadir sebagai nâsikh (pengahapus) risalah sebelumnya. Dengan demikian, risalah Judaisme dan Kristianitas dengan sendirinya “gugur”. Keduanya telah sempurna menjadi “Islam” final, di tangan Rasulillah s.a.w.

Dalam sunnah Rasululillah s.a.w. juga disebutkan dengan sangat detil. Beliau bersabda: “Demi zat yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, tidak seorangpun yang mendengar dari umat ini: baik Yahudi maupun Nasrani, lalu ia mati dan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, kecuali dia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim).[18] Seandainya agama Yahudi dan Nasrani masih benar, maka Allah tidak perlu menurunkan “Islam”. Dan jika Islam tidak datang untuk menghapuskan agama sebelumnya, tidak mungkin Rasul s.a.w. menyatakan haditsnya yang sangat ‘tegas’ dan ‘pedas’ di atas.

Pada poin ketiga, Kang Jalal menolak penafsiran kaum ekslusivis yang menyatakan bahwa konsep beriman kepada Allah adalah: Allah dalam agama Islam.[19] Tentu saja, karena, seperti yang telah dijelaskan, konsep Allah dalam agama-agama lain “sangat tidak jelas” dan tidak rasional. Misalnya, konsep “Allah” dalam Kristen dikritik habis-habisan oleh Al-Qur’an.[20]

Ketika berbicara tentang konsep agama, Al-Qur’an tidak pernah menggunakan kata agama dalam bentuk yang “plural” (jamak). Kata agama selalu hadir dalam bentuk tunggal, singular. Najaf-Ali Mirzae menyatakan bahwa secara realitas, ketika kita melihat beberapa ayat Al-Qur’an dalam membincang masalah agama-agama (al-adyân), kita menemukan dengan jelas bahwa ayat-ayat tersebut menolak adanya banyak agama (ta‘addud al-adyân). Ayat-ayat tersebut malah mengajak untuk mengimani seluruh nabi-nabi dalam satu waktu, tanpa membedakan antara satu dengan lainnya. Karena para nabi seluruhnya hadir untuk menanamkan satu risalah ilahi yang batas-batasnya meluas sejalan dengan roda zaman dan perubahan kesiapan manusia dan masyarakat. Hingga akhirnya, risalah yang menyatu dan jalan yang lurus (al-shirâth al-mustaqîm) –yang diseru oleh seluruh nabi tersebut—sampai kepada titik kulminasinya dan titik akhir nilainya setelah diutusnya Nabi Muhammad dan diturunkannya Kitab yang mulia.[21] Oleh karena itu, kita menemukan bahwa kata “agama-agama” (al-adyân) tidak diakui dan tidak dipakai sama sekali di dalam Al-Qur’an yang mulia. Justru kata “Islam” lah yang banyak diulang terhadap risalah para nabi yang terdahulu. Yang membuktikan secara tegas kepada kita bahwa agama itu “satu” dan “jalan” (shirâth) itu satu: yaitu iman kepada Allah dan kufur terhadap “thâghut” dan menanamkan Tawhid dan aqidah Islam bagi seluruh nabi dan rasul.[22]

Dan jalan Allah yang lurus itu adalah yang memerankan agama Islam. Sedangkan beriman kepada sebagian, dan kufur kepada sebagian lain selamanya tidak dapat diterima. Artinya, tidak akan pernah melahirkan kebaikan (al-shalâh) dan kebenaran (al-shawâb) secara pasti. Kiranya ayat yang berbunyi: “wa man yabtaghi ghayral Islâmi dînan falan yuqbala minhu”[23] menunjuk kepada makna ini. Dan ayat ini tidak muncul untuk mengingkari risalah-risalah yang lain. Ia hanya untuk menolak pernyataan yang mengklaim adanya pluralisme agama (al-ta‘addud wa al-takattsur al-dîniy) dalam satu waktu. Hal itu tidak berarti bahwa agama Kristen, misalnya, satu agama yang ditolak. Bagaimana mungkin dia ditolak, karena Kristen juga adalah “Islam” dalam satu fase kehidupan manusia. Ia merupakan risalah ilahi yang benar dan dibenarkan di dalam Al-Qur’an yang mulia. Tujuannya adalah: mengakui agama Kristen dan yang lainnya sebagai “naskah-naskah kuno” (nusakh qadîmah) yang tidak sempurna menurut terminologi modern. Pada akhirnya, risalah ini juga menjadi sempurna dan disebut sebagai “Islam”.[24]

Meskipun tampak rasional, tetapi tidak mudah bagi kaum pluralis untuk menerima Islam sebagai agama yang satu-satunya “benar”. Menurut mereka semua agama itu benar, tidak ada yang salah. Maka, setiap pemeluk agama harus mengedepankan toleransi. Hans Kung, seorang teolog Katolik pernah memberikan seminar di Texas, yang juga dihadiri oleh Muhammad Legenhausen. Dalam ceramahnya dia mengakui bahwa Muhammad s.a.w. adalah nabi yang diutus dari sisi Allah. Sebagian besar umat Islam ketika itu mengucapkan takbir dan tahlil serta memuji Allah. Karena mereka yakin ‘sang pembicara’ telah masuk Islam. Setelah itu, Hans Kung berkomentar: “Tetapi saya tidak mememul Islam.” Kaum Muslim ketika itu merasa aneh dan bertanya: “Bukankah Anda beriman kepada kenabian Muhammad?” Dia kemudian menjawab: “Ya, saya memang mempercayainya, hanya saja saya juga percaya bahwa Kristus adalah Allah itu sendiri.”[25]

Dari sini tampak jelas, bahwa sangat berat bagi kaum pluralis untuk bersikap “inklusif”. Sangat mudah mewacanakan kebenaran yang inklusif, tapi berat ketika harus bersinggungan dengan keyakinan, doktrin atau dogma. Benar bahwa manusia adalah “satu umat”. Tapi manusia ini tidak berada dalam “satu rel kebenaran”. Kebenaran itu sifatnya mutlak, karena dia lahir dari Allah yang kebenaran-Nya Mahamutlak (al-Haqq). Islam tidak mengingkari manusia lain sebagai mitra-interaksi. Tapi dalam aqidah, dalam Islam tidak ada ruang untuk melakukan bergaining position. Imbas Paham Pluralisme Agama

Kaum pluralis berjuang habis-habisan untuk meluluskan keinginan mereka dalam mengasongkan paham pluralisme agama. Bahkan tidak jarang mereka harus “memelintir” ayat-ayat Al-Qur’an untuk meluluskan tujuannya.

Berikut ini, penulis mencatat dua isu penting berkaitan tentang imbas pluralisme agama: pertama, dekonstruksi konsep Ahlul Kitab dan kedua, konsep kawin campur (beda agama).

Pertama, konsep Ahli Kitab. Menurut kaum pluralis, Ahli Kitab tidak hanya terbatas pada umat Yahudi dan Kristen. Umat-umat lain juga bisa dikategorikan sebagai “Ahli Kitab”. Klaim ini jelas tak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (unwell-documented). Allah di dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa Ahli Kitab hanya Yahudi dan Kristen. Maka pendapat yang menyatakan bahwa agama-agama kultural (al-adyân al-wadh‘iyyah- al-ijtimâ‘iyyah) juga masuk ke dalam Ahli Kitab adalah tidak dapat dibenarkan.[26] Imam Syafi‘i sendiri menolak kelompok lain, selain Yahudi dan Nasrani sebagai “Ahli Kitab”. Sehingga Majusi tetapi dianggap Majusi. Seorang budak Majusi, jika tertawan, maka dia tidak boleh ‘digauli’, karena agamanya adalah agama kedua orangtuanya (Majusi).[27] Dan sembelihan seorang Majusi tidak halal dimakan, meskipun dia menyebut asma Allah s.w.t.[28]

Kedua, kawin campur. Karena menurut kaum pluralis agama itu sama, maka seorang wanita Muslimah “sah-sah” saja untuk kawin dengan laki-laki non-Muslim. Ini merupakan ‘ijtihâd’ yang salah kaprah dan tak berdasar sama sekali. Dalam Fiqih Lintas Agama, misalnya, kaum pluralis mencatat:

“Namun, bila pernikahan laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslim (Kristen dan Yahudi) diperbolehkan, bagaimana dengan yang sebaliknya, yaitu pernikahan wanita Muslim dengan laki-laki non-Muslim, baik Kristen, Yahudi atau agama-agama non-semitik lainnya? Memang, dalam masalah ini terdapat persoalan serius, karena tidak ada teks suci, baik Al-Qur’an, hadis atau kitab fiqih sekalipun yang memperbolehkan pernikahan seperti itu. Tapi menarik juga untuk dicermati, karena tidak ada larangan yang sharîh. Yang ada justru hadis yang tidak begitu jelas kedudukannya, Rasulullah s.a.w. bersabda, “kami menikahi wanita-wanita Ahli Kitab dan laki-laki Ahli Kitab tidak boleh menikahi wanita-wanit kami (Muslimah). Khalifah Umar ibn Khatthab dalam sebuah pesannya, “Seorang Muslim menikahi wanita Nasrani, akan tetapi laki-laki Nasrani tidak boleh menikahi wanita Muslimah.”[29]

Menurut Imam al-Syirazî, seorang Muslim diharamkan untuk menikahi seorang wanita kaum kafir yang tidak memiliki “kitab”, seperti kaum pagan, juga orang-orang murtad dari Islam, beradasarkan firman Allah s.w.t. ‘wa laa tankihul musyrikât hattâ yu’minna’.[30] Selain Yahudi dan Nasrani, yakni Ahli Kitab, seperti yang beriman kepada kitab Zabur nabi Dawud a.s. dan Shuhuf nabi Syîts, maka hukumnya “tidak halal” bagi seorang Muslim untuk menikahi wanita-wanita merdekanya juga budak-budaknya. ..[31] Mazhab Imam Syafi‘i dalam hal ini saja sangat keras. Karena seorang Muslim yang menikahi wanita-wanita Ahli Kitab –apa lagi non-Ahli Kitab—memiliki dampak negatif, terutama dalam keluarga dan masyarakat.[32]

Lebih lanjut, tentang pernikahan seorang wanita Muslim dengan laki-laki non-Muslim, penulis buku Fiqih Lintas Agama ‘berijtihad’:

“Jadi, soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.[33]

Penulis Katolik pluralis juga ada yang mendukung konsep perkawinan beda agama ini. Ignatius Haryanto dan Pax Benedanto, misalnya, menulis:

“…ada juga beberapa isu yang selalu dirisaukan umat, misalnya masalah kawin campur. Mengacu pada istilah yang disebutkan oleh Gereja, yang dimaksud dengan kawin campur adalah pasangan perkawinan yang berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Keprihatinan lebih besar lagi muncul ketika kawin campur itu menyangkut agama Katolik dengan umat beragama lain di luar Kristen.”[34]

Setelah itu mereka mencantumkan cerita dua orang yang berbeda agama, menikah menjadi suami-istri, namanya Bimo Nugroho (Katolik) dan Taty Aprilliana (Muslimah). Akhirnya mereka berdua bahagia, meskipun awalnya Bimo ditolak oleh orangtua Taty. Mereka menikah di sebuah Gereja di Semarang. Kedua penulis itu ingin menyatakan bahwa inklusif tidak harus mengorbankan keyakinan masing-masing. Kawin tetap jalan, meskipun tidak harus pindah agama. Ini juga adalah trik, bagaimana kaum pluralis mencoga meng-gol-kan tujuannya.

Ini adalah “ijtihad” yang salah kaprah. Menurut al-Qaradhawi, itu masuk ke dalam bentuk mazâliq al-ijtihâd al-mu‘âshir (‘ketergelinciran ijtihad kontemporer’) . Pernikahan seorang Muslim dengan wanita Ahli Kitab (al-kitâbiyyah) tidak bisa disamakan dengan seorang Muslimah menikah dengan seorang laki-laki Ahli Kitab (al-kitâbî). Padahal perbedannya sangat mencolok. Seorang Muslim mengakui dasar agama seorang kitâbiyyah. Sehingga, dia menghormatinya, memelihara haknya dan tidak ‘menyita’ aqidahnya. Sedangkan seorang kitâbî tidak mengakui agama sang Muslimah, tidak mengimani kitabnya (baca: Al-Qur’an) dan tidak mengakui nabinya (Muhammad s.a.w.). Bagimana mungkin seorang Muslim dapat hidup di bawah ‘payung’ seorang laki-laki yang tidak memandang hak apapun dari istrinya, yang notabene sebagai Muslimah? Pernyataan mereka bahwa Al-Qur’an hanya mengharamkan kaum wanita musyrik (al-musyrikât) dan kitâbiyyât yang tidak musyrikat, dibatalkan oleh ayat Al-Qur’an yang berbunyi: “Jika kalian mengetahui mereka (para wanita itu) beriman, maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada orang-orang (suami-suami mereka) yang kafir. Mereka (para wanit itu) tidak halal baginya, dan dia tidak halal bagi mereka.”(Q.S al-Mumtahanah : 10)

Di sini, hukum itu disusun berdasarkan “kekafiran” (al-kufr), bukan atas “kemusyrikan” (al-syirk), dimana Allah s.w.t. menyatakan, “…jangan kembalikan mereka kepada orang-orang kafir. Jika pengambilan hukum (al-‘ibrah) lewat kemuman lafaz, maka lafaz “al-kuffâr” (orang-orang, suami-suami kafir), di sini mencakup seorang kitâbî dan seorang pagan (al-watsanî: penyembah berhala). Maka, siapa yang tidak beriman kepada risalah Muhammad s.a.w. maka –menurut hukum-hukum dunia—adalah kafir, tanpa diperdebatkan.[35]

Dalam Islam, seorang Muslim dibolehkan mengawini wanita Ahli Kitab (kitâbiyyah). Tetapi “haram” hukumnya seorang wanita Muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim. Dalam hal ini tidak ada “ijtihâd” lagi. Ijmak ulama sudah menyatakan hal demikian.[36]

Tidak hanya itu. Sampai hari ini agama Katolik belum bisa menerima kawin campur secara jujur. Mereka masih menolak adanya kawin campur. Masalah kawin campur menjadi masalah serius dalam tubuh Gereja. Menurut BR. Agung Prihartana, MSF dalam bukunya Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Kawin Campur Beda Agama masalah pendidikan iman anak dalam keluarga kawin campur memang merupakan persoalan yang sangat rumit dan dilematis. Karena itulah Gereja Katolik pernah mengangkat permasalahan ini dalam pertemuan para Uskup sedunia, yang membahas doktrin tentang perkawinan, selama masa persiapan Konsili Vatikan II (1959-1960). Ternyata persoalan ini menjadi topik hangat dalam pertemuan para Uskup tersebut. Beberapa Uskup dari Afrika memohon kepada Takhta Suci, hak untuk menyatakan tidak sahnya sebuah perkawinan campur dan hal menolak memberikan dispensasi bagi pasangan kawin campur beda agama, jika pihak non-baptis menolak memenuhi kewajiannya mendidik anak-anak mereka dalam iman Katolik. Sementara para Uskup Amerika meminta Takhta Suci untuk tidak mudah memberikan dispensasi bagi pasangan kawin campur beda agama, karena perkawinan ini akan sangat merugikan pihak katolik.[37]

Jadi, Gereja melihat bahwa kawin campur adalah masalah serius dalam tubuh Gereja. Maka sangat aneh jika ada intelektual Muslim yang mencoba untuk mengusung dan “mengasong” budaya kawin campur ini. Bukan saja tidak mendapat legitimasi hukum fiqh, juga tidak mendapat legitimasi dari kaum Kristen (baik Katolik maupun Protestan) yang menjadi sasaran ide ini.Lebih detil Agung mencatat:

“Kitab Hukum Kanonik (KHK) tahun 1917 mulai membedakan secara yuridis istilah kawin campur beda Gereja (mixta religiosa) dan kawin campur beda agama (disparitas cultus). Namun demikian kitag hukum gerejawi ini tidak membedakan secara khusus bentuk pelayanan pastoral terhadap kedua perkawinan campur tersebut, khususnya berkenaan dengan persyaratan untuk mendapatkan izin bagi perkawinan mixta religiosa dan dispensasi bagi perkawinan disparitas cultus dari ordinasi wilayah. Tentang kawin campur disparitas cultus, KHK tahun 1917 menyatakan secara tegas bahwa perkawinan antara orang yang telah dibaptis di dalam Gereja Katolik atau yang sudah bertobat dari bidaah atau skisma dengan non-baptis dianggap tidak ada (null).[38]

Dalam masalah pendidikan iman anak dalam kasus kawin campur, Gereja Katolik memiliki dua dokumen penting. Pertama, instruksi tentang perkawinan campur, Matrimonii Sacramentum dari kongregasi untuk urusan iman dan kedua, surat apostolik Matrimonia Mixta dari Paulus VI, yang mana keduanya menjabarkan keadilan dan ketetapan dalam mengajukan persyarat untuk memperoleh dispensasi dari halangan perkawinan beda agama. Kedua dokumen tersebut menegaskan bahwa hanya pihak Katoliklah  yang mempunyai kewajiban dan tanggungjawab berat untuk mempertahankan kesetiaan dalam iman Katolik dan membaptis serta mendidik anak-anaknya dalam iman Katolik.[39]

Paus Paulus VI mengingatkan bahwa pihak Katolik sebisa mungkin membaptis dan mendidik anak-anak dalam iman Katolik. Pernyataan Paus Paulus VI inilah yang kemudian dirumuskan dalam KHK yang baru dengan kalimat “memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik”.[40]

Jadi tidak bena istilah “anak-anak” dari perkawinan disparitas cultus bebas memilih agamanya masing-masing. Dalam ‘keluarga pecal’ seperti ini mustahil tidak terdapat gesekan-gesekan aqidah. Agar secara naluri, setiap orang punya keinginan menarik orang lain ke dalam aqidahnya. Gereja bagaimanapun memiliki toleransi setengah hati. Sebagai contoh, yang dicatat oleh Agung, bahwa Gereja menghormati dan menghargai agama-agama lain, yang di dalamnya ada kebenaran dan kesucian. Namun demikian, Gereja tetap mengingatkan pihak Katolik untuk tetap mewartakan Kristus, yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14: 6), dimana tiap manusia akan menemukan kepenuhan dan kesempurnaan hidup rohani, dan dimana Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya.[41]

Paus Paulus VI sendiri mengakui bahwa bentuk dua perkawinan campur (mixta religiosa dan disparitas cultus) menimbulkan banyak persoalan dan kesulitan, karena perbedaan iman dan agama. Pelaksanaan ajaran Injil, pemenuhan pelaksanaan doa dan ibadat serta pendidikan iman anak akan mengalami kesulitan karena adanya perbedaan agama dan iman pasangan suami istri.[42] Perkawinan seorang penganut Katolik dengan penganut Protestan (mixta religiosa) saja dianggap “problem” oleh Gereja, konon lagi seorang Katolik menikah dengan seorang Muslim (Muslimah). Tentu problemnya akan lebih besar dan rumit. Oleh karena itu, Paus Paulus VI tidak mendukung dan juga menganjurkan umat Katolik untuk sebisa mungkin menghindari perkawinan campur. Paus Paulus VI melihat bahwa perbedaan agama ini menghalangi pihak Katolik mencapai persatuan batin yang sempurna, dan kepenuhan persatuan hidup perkawinan.[43] Maka sangat aneh, jika ada kalangan Muslim yang begitu getol berkampanye dalam masalah kawin campur ini.

C. Pluralisme Religius Dalam Konteks Ke-Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah populasi masyarakat terbesar di Asia yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, keberagaman ini merupakan salah satu anugrah terindah yang dimiliki oleh Negara Republik ini. kemajemukan bangsa yang dibarengi dengan kekayaan alamnya sering kali disabotase oleh pihak-pihak yang tidak bertanggingjawab sebab di sadari atau tidak pasca kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah Belanda, Jepang dan Portugis persatuandan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama mulai digoyahkan oleh kepantingan-kepentingan sesaat berbagai oknum yang tidak bertanggungjawab.

Terhitung sejak masa pemerintahan orde lama isu peperangan antar suku, ras dan agama sangat besar bahkan tidak sedikit menelan korban, akibatnya melahirkan pergerakan yang dikenal dengan nama NASAKOM.

Pasca keruntuhan masa kekuasaan Orla kemudian digantikan dengan pemerintahan orde baru dibawah pimpinan alm. Jend. Soeharto, peperangan antara agama dan pemerintah terkuak, hal tersebut dibuktikan dengan berjatuhannya korban Tanjung Periuk yang menewaskan ratusan rakyat dari kalangan kaum Muslimin.

Namun meski pun demikian pemerintahan orde baru melakukan pembatasan terhadap agama-agama resmi di indonesia ke dalam lima agama yaitu ; Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Katolik, hal ini di dasarkan pada Penetapan Presiden No.1 tahun 1966, yang kemudian disahkan menjadi Undang-undang No. 5 tahun 1989 tentang pembatasan agama, padahal agama yang ada di Negara ini ada ;Hindu, Budha, Kristen Katolik, Protestan, Yahudi, Kong Hu Chu, dan agama-agam suku serta aliran kepercayaan lainnya, hal ini –pembatasan agama- dilakukan pemerintah Orba dengan dalih pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Meskipun demikian persatuan dan kesatuan yang di usung pada masa tersebut masih dinodai oleh berbagai pertikaian-pertikaian terselubung.[44]

Menanggapi kindisi ini sejumlah aktivis dari berbagai elemen masyarakat mulai gerah dan bosan terhadap kinerja pemerintahan orde baru yang berkuasa selama 32 tahun, hingga melahirkan demonstrasi besar-besar disejumlah daerah yang kemudian melahirkan Reformasi di segala bidang yang menghasurkan lengsernya Pemerintahan Orba, sekalipun harus mengorbankan nyawa seprti kasus Trisakti, Semanggi 1 dan 2, serta penjarahan dimana-mana.

Semangat reformasi ini bertujuan untuk membentuk negara yang bebas dan berdaulat, dimana kebebasan individu, kebeasan hak, kebebasan pers, kebebasan berpolitik dan kebebasan beragama menjadi sebuah konsekuensi reformasi dengan merujuk kepada teori HAM (Hak Asasi Manusia).

Sejalan dengan bergulirnya era reformasi pertikaian antar agama tidak terelakkan dimana perang antara Acang dan Obet (Islam dan Kristen) di Ambon Maluku meledak dan mengorbankan ratusan orang hingga memakasa Pemrintahan Habibi untuk melakukan perdamaian antar agama di Malino Sulsel yang di pimpin oleh Menkokesra Jusuf Kalla yang kemudian dikenal dengan nama Malino 1 dan 2, Peperang rakyat Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Perang Poso yang melibatkan isu agama, dan perang antar suku di Papua, serta lepasnya Timor-Timur dari pangkuan NKRI.

Hingga pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gusdur) Undang-undang No. 5 tahun 1989 di hapus dengan dikeluarkannya Keppres No. 6 tahun 2000 yang menyatakan pembebasan terhadap warga etnis Tionghoa untuk mengembangklan ritual agama, kepercayaan dan adat istiadatnya yang semula dilarang oleh instruksi Presiden No. 14 tahun 1967. hal ini dilakukan oleh Gusdur pada masa pemerintahannya dengan alasan bahwa keran kebebasan dan penghargaan terhadapa HAM harus dialirkan di bumi pertiwi ini.[45]

Sejumlah fakta sejarah sebagaimana yang telah kami uraikan menunjukkan bahwa perkembangan plurelisme religius di Indonesia diawali dengan lahirnya Reformasi yang kemudian melahirkan proses liberalisasi di segala bidang. Perjalanan pluralisme religius di Indonesia memiliki kesamaan sejarah dengan munculnya pluralisme religius Kristen yang berhembus di Eropa pada Abad XVIII dan berkembang pesat hingga saat ini, jadi faham pluralisme religius yang berkembang di Indonesia hingga saat ini merupakan plagiat dari Eropa.

Istilah pluralisme religius merupakan istilah yang tidak tepat jika di fahami sebagai kedamaian hidup di atas satu tanah meski berbeda keyakinan, sebab muara istilah pluralisme religius adalah pemahaman relatifisme kebenaran dan bahwa semua agama sama dan memiliki tujuan yang sama. karena penyatuan keyakinan adalah merupakan suatu hal yang mustahil, sebab tidak mungkin dapat dipertemukan antara pemahaman Tauhid dalam Islam dengan pemahaman Trinitas dalam Kristen dan pemahaman Tri Dharma Satya dalam Budha.

Istilah yang paling tepat untuk Negara Republik Indonesia yang majemuk adalah pluralitas keagamaan, yaitu pengertian bahwa hidup berdampingan secara damai tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan.

Allah berfirman yang Artinya:

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat : 13)

Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya:

Dari Abu Nadhrah aku telah diberitahukan dari salah seorang sahabat yang mendengarkan khutbah Rasulullah Saw pada pertengahan hari tasyriq beliau bersabda: “Wahai manusia ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan sesungguhnya bapak kalian satu, tidak ada orang Arab tidak lebih utama dari non-Arab, non-Arab tidak lebih utama Arab, orang yang berkulit putih tidak lebih utama dari orang yang yang berkulit hitam, dan orang yang berkulit hitam tidak lebih utama dari yang berkulit putih kecuali karena ketakwaan (H.R Ahmad)[46]

KESIMPULAN

1. Sejarah kemunculan pluralisme religius dalam tubuh kaum Kristen Eropa diawali dari kesadaran akan kekelaman sejarah masa lalu dimana akibat dari intoleransi keagamaan mengakipatkan timbulnya peperangan antar sekte di kalangan Kristen, sementra di dunia Islam pluralisme religius muncul dari hasil konsep Hulul dan Nur Muhammad memalui pemahaman al-Hallaj al-Shufi.

2. Pluralisme agama tidak dapat diterima oleh Islam. Bukan saja tidak memiliki dasar yang jelas, tetapi juga dapat merusak tatanan konsep Tawhid. Konsep Tawhid dalam Islam merupakan konsep genuine dalam melihat Allah, manusia dan alam. Mencari legitimasi pluralisme agama dalam Islam (Al-Qur’an, sunnah dan syariat Islam) sama artinya meruntuhkan konstruksi Islam yang sudah mapan. Selain itu, pluralisme agama akan membongkar konsep yang sudah al-ma‘lûm min al-dîn bi al-dharûrah, seperti konsep Ahli Kitab dan kawin beda agama. Dengan begitu, pluralisme agama adalah paham yang “merusak” agama, khususnya Islam. Maka dia adalah makhluk “haram” dalam Islam (mengutip fatwa MUI).

3. Keragaman suku, ras, dan agama di Indonesia ditambah lagi dengan bergejolaknya pertikaian anak bangsa atas nama suku, ras, dan agama membutuhkan kesadaran akan pentingnya pemahaman akan pentingnya pluralitas dan penghormatan antar sesama yang dapat menciptakan kedamaian hidup secara berdampingan antar suku, ras dan agama tanpa harus mempersoalkan perbedaan keyakinan masing-masing, karena semua manusia adalah sama hanya ketakwaanlah yang dapat membedakannya.

KEPUSTAKAAN

Al-Qur’an al-Kariem

A. Sirry, Mun’im (ed.), Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. cet. III ; Jakarta: Paramadina bekerjasama dengan Asia Foundation, 2004.

Haryanto, Ignatius dan Pax Benedanto, Terbuka terhadap Sesama Umat Beragama: Aktualisasi Ajaran Sosial Gereja tentang Agama yang Inklusif, Cet. I; Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Hassan, Abdul Hakim, al-Tasawwuf fi al-Syi’ri al-‘Arabi, Cet. I; Kairo: al-Anjalu al-Mishriyah, 1954.

Al-Humaidhi, Humaidhi ibn Abdul Aziz ibn Muhammad. Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?: Kupas Tuntas Polemik Seputar Pernikahan dan Rumah Tangga Beda Agama Menurut 4 Mazhab, terj. Mutsanna Abdul Qahhar dan Wahyuddin. cet. I ;Solo: al-Tibyan, 2007.

Ibin Hanbal, Ahmad, al-Musnad. Cet. I; Beurt: Muassasah al-Risalah, 1998. Jld. V.

Jurnal al-Hayât al-Thayyibah, al-Ta‘addudiyyah bayna al-Islâm wa al-Librâliyyah: Hiwâr fî al-Bunyi wa al-Munthaliqât. Lebanon-Beirut: al-Hayât al-Thayyibah, edisi ke-11, thn. ke-4, 2003/1423.

Khan, Hazrat Inayat, Kesatuan Ideal Agam-agam. Cet. II; Bandung: Penerbit Mizan, 2004.

Legenhausen, Muhammad, Islam And Religion Pluralism, (Cet. I; London: Islamic Studies Departemen, 1999). Diterjemahkan oleh: Arif Mulyadi dengan judul, Satu Agama Atau Banyak Agama: Kajian Tentang Liberalisme dan Pluralisme. Cet. I; Jakarta: PT Lentera Basritama, 2002.

al-Nisaibury, Muslim ibn al-Hajjâj bin Muslim, Shahîh Muslim, Kairo: Dâr ibn al-Haytsam, 2003.

Prihartanan, BR. Agung, MSF. Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Kawin Campur Beda Agama, Cet. I;Yogyakarta: Kanisius, 2007.

al-Qaradhawi, Dr. Yusuf, al-Ijtihâd al-Mu‘âshir; bayna al-Indhibâth wa al-Infirâth, Cet. I; Kairo: Dar al-Tawzi‘ wa al-Nasyr al-Islâmiyyah, 1994.

Rakhmat, Jalaluddin, Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan. cet. I ; Jakarta: Serambi, 2006.

Sachedina, Abdul Aziz, Kesetaraan Kaum Beriman: Akar Pluralisme Demokratis dalam Islam. terj. Satrio Wahono, cet. I ; Jakarta: Serambi, 2002.

Syamsuddin, Dien Dkk, Pemikiran Muhammadiyah: Respon Terhadap Liberalisasi Islam. Cet. I; Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2005.

al-Syafi‘î, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Idris (150 H-204 H), al-Umm. Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1990. Jld. III.

al-Syîrâzî, Abu Ishâq Ibrahim ibn ‘Ali ibn Yusuf al-Fayrûz Abâdî. al-Muhadzdzab fî Fiqh al-Imâm al-Syâfi‘î, Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, ttp. II.

Usman, Fatimah, Wahdat Al-Adyan; Dialog Pluralisme Agama. Cet. I; Yogyakarta: LKIS, 2002.


[1] Muhammad Legenhausen, Islam And Religion Pluralism, (Cet. I; London: Islamic Studies Departemen, 1999). Diterjemahkan oleh: Arif Mulyadi dengan judul Satu Agama Atau Banyak Agama: Kajian Tentang Liberalisme dan Pluralisme, (Cet. I; Jakarta: PT Lentera Basritama, 2002), h. 18

[2] Ibid,. Lihat juga, Ansi Malik Toha, Wacana Kebenaran Agama Dalam Prespektif Islam, dalam Dien Syamsuddin Dkk, Pemikiran Muhammadiyah: Respon Terhadap Liberalisasi Islam, (Cet. I; Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2005). H. 312

[3] Ibid.

[4] Lagenhausen, op.cit.,

[5] Ibid. h. 32

[6] Anis Malik Toha, op.cit., h. 314

[7] Abdul Hakim Hassan, al-Tasawwuf fi al-Syi’ri al-‘Arabi, (Cet. I; Kairo: al-Anjalu al-Mishriyah, 1954), h. 375

[8] Hazrat Inayat Khan, Kesatuan Ideal Agam-agam, (Cet. II; Bandung: Penerbit Mizan, 2004), h. 5

[9] Abdul Aziz Sachedina, Kesetaraan Kaum Beriman: Akar Pluralisme Demokratis dalam Islam, terj. Satrio Wahono, (Jakarta: Serambi, cet. I, 2002), hlm. 54-55.

[10] Ibid., hlm. 59

[11]Jalaluddin Rakhmat, Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan, (Jakarta: Serambi, cet. I, 2006), hlm. 22-23.

[12] Ibid., hlm. 22

[13] Kang Jalal juga, mengutip Murtadha Muthahhari menyatakan, bahwa makna “Islam” dalam Qs. Ali ‘Imrân [3]: 85 adalah kepasrahan kepada al-Haqq, Kebenaran atau Allah dan bukan agama terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. ibid., hlm. 36. Di sini Kang Jalal ingin merusak makna “Islam” dalam konsep Al-Qur’an. Menurut Muhammad Legenhausen, tidak diragukan bahwa “Islam” memiliki makna umum yang sesuai dengan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Musa a.s. yang sesuai dengan kaum Muslim. Sebagian masalah yang tampaknya termonopoli di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan konsep Islam Umum (al-Islâm al-‘Amm), yang dieksprsikan dengan sikap penyerahan diri (al-taslîm) kepada Allah secara umum. Hanya saja, Al-Qur’an ketika berbicara tentang “Islam”, maksudnya adalah: bahwa setiap selain agama Muhammad s.a.w. sekarang ini “tidak diterima” dari seorangpun. Artinya, “Islam” dalam maknanya yang umum saat ini terbatas dalam “Islam” dalam maknanya yang “khusus” (anna al-Islâm fî ma‘nâhu al-‘amm inhashara hâliyan fî al-Islâm bimafhûmihi al-khâsh). Lihat wawancara Dr. Muhammad Longhausen dalam jurnal al-Hayât al-Thayyibah, al-Ta‘addudiyyah bayna al-Islâm wa al-Librâliyyah: Hiwâr fî al-Bunyi wa al-Munthaliqâ t, (Lebanon-Beirut: al-Hayât al-Thayyibah, edisi ke-11, thn. ke-4, 2003/1423), hlm. 38.

[14] Ibid., hlm. 23-24.

[15] Ibid., hlm. 30.

[16] Qs. Al-Mâ’idah [5]: 43-45.

[17] Qs. Al-Mâ’idah [5]: 46-47.

[18] Imam Muslim ibn al-Hajjâj, Shahîh Muslim, (Kairo: Dâr ibn al-Haytsam, 2003), 4: 243.

[19] Ibid.

[20] Misalnya, Qs. Al-Mâ’idah [5]: 72, “Telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu “Kristus” putera Maryam…” Konsep “Trinitas” (Arab: Tatslîts, Tsâlûts) pun dikritik dalam Qs. Al-Mâ’idah [5]: 73, “Telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu ‘satu’ dari yang ‘tiga’ (Trinitas). Padahal Allah itu “Esa”. Bahkan, jika mereka –yang mengatakan demikian itu—tidak berhenti dari klaim mereka yang batil ini, niscaya mereka akan disentuh oleh azab yang pedih. Kemudian, Allah s.w.t. mengajak mereka untuk bertobat dan mohon ampun kepada-Nya (Qs. Al-Mâ’idah [5]: 74).

[21] Najaf-Ali Mirzae, I‘âdah al-Shiyâghah limafhûm al-Dîn, bayna al-Wahdah wa al-Ta‘addud, dalam al-Hayât al-Thayyibah, op.cit., hlm. 8.

[22] Ibid.

[23] Qs. Ali ‘Imrân [3]: 58. Artinya: “Barangsiapa yang mencari agama selain “Islam”, maka dia tidak akan pernah diterima.”

[24] Al-Hayât al-Thayyubah, op.cit., hlm. 8.

[25] Muhammad Longhausen, al-Hayât al-Thayyibah, ibid., hlm. 35.

[26] Nurcholis Madjid, Pijakan Keimanan bagi Fiqih Lintas Agama, dalam Mun’im A. Sirry (ed.), Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, , (Jakarta: Paramadina bekerjasama dengan Asia Foundation, cet. III, 2004), hlm. 50-53. Dalam hal ini, Nurcholish mengadopsi pendapat Rasyid Ridha yang menyatakan bahwa pengertian “Ahli Kitab” sebenarnya tidak boleh dibatasi hanya pada kaum Yahudi dan Nasrani, tetapi juga harus meliputi kaum Sabi’in dan Majusi, sertai kaum Hindu, Budha dan Konghucu.

[27] Imam Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Idris al-Syafi‘î (150 H-204 H), al-Umm, (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1990), III: 289.

[28] Ibid.

[29] Ibid., hlm. 163.

[30] Qs. Al-Baqarah [2]: 221. Lihat: Syeikh Imam Abu Ishâq Ibrahim ibn ‘Ali ibn Yusuf al-Fayrûz Abâdî al-Syîrâzî, al-Muhadzdzab fî Fiqh al-Imâm al-Syâfi‘î, (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, ttp.), II: 44.

[31] Ibid.

[32] Lihat lebih detil: Humaidhi ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Humaidhi, Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?: Kupas Tuntas Polemik Seputar Pernikahan dan Rumah Tangga Beda Agama Menurut 4 Mazhab, terj. Mutsanna Abdul Qahhar dan Wahyuddin, (Solo: al-Tibyan, cet. I, 2007), hlm. 48-50.

[33] Mun’im A. Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama, op. cit., hlm. 164.

[34] Ignatius Haryanto dan Pax Benedanto, Terbuka terhadap Sesama Umat Beragama: Aktualisasi Ajaran Sosial Gereja tentang Agama yang Inklusif, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), h. 80

[35] Dr. Yusuf al-Qaradhawi, al-Ijtihâd al-Mu‘âshir, bayna al-Indhibâth wa al-Infirâth, (Kairo: Dar al-Tawzi‘ wa al-Nasyr al-Islâmiyyah, 1994), hlm. 58-59.

[36] Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi, Bolehkan Rumah Tangga Beda Agama?: Kupas Tuntas Polemik Seputar Pernikahan dan Rumah Tangga Beda Agama Menurut 4 Madzhab, terj. Mutsanna Abdul Qahhar dan Wahyuddin, (Pustaka At-Tibyan: Solo, cet. I, 2007), hlm. 38-59.

[37] BR. Agung Prihartanan, MSF, Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Kawin Campur Beda Agama, (Yogyakarta: Kanisius, cet. I, 2007), hlm. 6-7. Agung mengutip pernyataan Gereja tersebut dari Acta et Documenta Concilio Oecumenico Vaticano II, 1960-1969, vol. II, bab V, hlm. 40.

[38] Ibid., hlm. 11

[39] Ibid., hlm. 22-23.

[40] Ibid., hlm. 23.

[41] Ibid., hlm. 36

[42] Ibid., hlm. 37.

[43] Ibid., hlm. 37-38.

[44] Fatimah Usman, Wahdat Al-Adyan; Dialog Pluralisme Agama. (Cet. I; Yogyakarta: LKIS, 2002), h. 86

[45] Ibid.

[46] Ahmad bin Hanbal, al-Musnad. (Cet. I; Beurt: Muassasah al-Risalah, 1998), Jld. 5 h. 2391

h1

Dasar-Dasar Tasawuf dalam Islam

16 Desember 2008

Pendahuluan

Persoalan mengenai Tasawwuf sering menjadi tajuk perbincangan golongan yang prihatin terhadap pengamalan agama dalam kehidupan. Ada pihak yang menyokong dan memperjuangkannya bahkan meletakkan ia sebagai salah satu bagian sendi agama ini. Ada juga pihak yang mempertikaikan kebenaran ajarannya adakah benar-benar Islami? Atau ia hanya hasil serapan budaya dan kelompok ciptaan barat yang masuk dalam umat Islam?

Kajian ringkas ini mencoba menjelaskan tentang makna Tasawwuf dan asal-usulnya juga sejauh mana hubunganya dengan syariat Islam. yang bertujuan untuk menerangkan kebaikan-kebaikan yang mungkin diperoleh dari latihan kerohanian golongan Tasawwuf

PEMBAHASAN

A. Definisi Tasawwuf

Para sarjana Islam dan barat sejak dahulu hingga kini masih berbeda pendapat tentang kata dasar Tasawwuf dan Sufi. Malahan mereka juga sebenarnya mempersoalkan asal usul ajaran ini, apakah ia berasal dari ajaran Islam? Atau ia mungkin import budaya dan kepercayaan umat lain dari luar Islam. Mungkin juga ia merupakan hasil penggabungan antara ajaran Islam dengan pengalaman-pengalaman kerohanian tertentu sekaligus membentuk satu ajaran yang dianggap asing oleh beberapa pihak.

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[rujukan?]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

B. Asal-usul Tasawuf

Banyak pendapat pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakam paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut PAHAM SUFI, SUFISME atau PAHAM TASAWUF, dan orangnya disebut ORANG SUFI.

Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad. Berasal dari kata “beranda” (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan di atas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad

C. Dasar-dasar Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis

Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudan sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar dari kalangan sahabat dan tabi’in. Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan berusaha untuk menjuhkan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri, bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap ancaman-Nya, mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain-lain.

1. Dasar-dasar dari Al-Qur’an

Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata shufy akan tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat Allah yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman Allah dalam al-Qur’an yang berbunyi:

Artinya:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Q.S Asy-Syuura [42] : 20)

Diantara nash-nash al-Qur’an yang mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20

Artinya:

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan manusia melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus mulai dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah dan segala hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan nasab dan banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua hal tesebut bersifat sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya seseorang kedalam azab yang sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di sisi Allah, karena semua hal tersebut hanyalah kesenangan yang melalaikan, sementara rahmat Allah hanya terarah kepada mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal yang melallaikan tersebut.

Ayat al-Qur’an lainnya yang dijadikan sebagai landasan kesufian adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah swt semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan, ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut cukup variatif tetapi penulis mmencukupkan pada satu diantara ayat –ayat tersebut yaitu firman Allah dalam Q.S ath-Thalaq [65] ayat : 3

Artinya:

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dianatra ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan hanya berharap kepada-Nya diantaranya adalah firman Allah dalam Q.S as-Sajadah [ ] ayat : 16 yang berbunyi :

Artinya:

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap

Maksud dari perkataan Allah Swt : “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” adalah bahwa mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.

Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang urgensi rasa takut dan pengharapan hanya kepada Allah semata akan tetapi penulis cukupkan pada kedua ayat terdahulu.

Diantara ayat-ayat yang menjadi landasan tasawuf adalah nash-nash Qura’ny yang menganjurkan untuk beribadah pada malam hari baik dalam bentuk bertasbih ataupun quyamullail diantaranya adalah firman Allah :

Artinya:

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.(Q.S al-Isra’ [17] ayat : 79

Artinya:

Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. (Q.S al-Insan [76] ayat : 25-26)

Artinya:

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka

Tiga ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang senantiasa menjauhi tempat tidur di malam hari dengan menyibukkan diri dalam bertasbih dan menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hanya semata-mata untuk mengharapkan rahmat, ampunan, ridha, dan cinta Tuhannya kepadanya akan mendapatkan maqam tertinggi di sisi Allah.

Selain daripada hal-hal yang telah penulis uraikan sbelumnya, diantara pokok-pokok ajaran tasawuf adalah mencintai Allah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hal ini berlandaskan kepada firman Allah swt dalam Q.S at-Taubah [] ayat : 24 yang berbunyi

Artinya:

Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya harus menjadi prioritas utama di atas segala hal, bahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus melebihi di atas kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri, keluarga, harta, perniagaan dan segala hal yang bersifat duniawi, atau dengan kata lain bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan mendambakan tempat terbaik diakhirat hendaknya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai kecintaan tertinggi dalam dirinya.

2. Dasar-dasar Dari Hadis

Jika kita melihat dengan seksama akan sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad Saw beserta para sahabat beliau yang telah mendapatkan keridhaan Allah, maka akan ditemukan sikap kezuhudan dan ketawadhu’an yang terpadu dengan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah bahkan secara individu Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat lail hingga lutut beliau memar akibat kebanyakan berdiri, ruku’ dan sujud di setiap malam dan beliau Saw tidak pernah meninggalkan amalan tersebut hingga akhir hayat beliau Saw, hal ini dilakukan oleh beliau Saw karena kecintaan beliau kepada sang penggenggam jiwa dan alam semesta yang mencintainya Dia-lah Allah yang cinta-Nya tidak pernah terputus kepada orang-orang yang mencintai-Nya.

Uaraian tentang hadis fi’liyah di atas merupakan salah satu bentuk kesufian yang dijadikan landasan oleh kaum sufi dalam menjalankan pahamnya.

Selain itu terdapat pula hadis-hadis qauliyah yang menjadi bagian dari dasar-dasar ajaran tasawuf dalam Islam, diantara hadis-hadis tersebut adalah:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ

Artinya:

Dari sahabat Sahal bin Saad as-Sa’idy beliau berkata: datang seseorang kepada Rasulullah Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah ! tunjukkanlah kepadaku sutu amalan, jika aku mengerjakannya maka Allah akan mencintaiku dan juga manusia’, Rasulullah Saw bersabda: “berlaku zuhudalah kamu di dunia, maka Allah akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah kamu atas segala apa yang dimiliki oleh manusia, maka mereka (manusia) akan mencintaimu”.[1]

عَن زَيْدُ بْنُ ثَابِت قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Artinya:

Dari Zaid bin Tsabit beliau berkata : Aku mendengarkan Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan berlepas diri dari segala urusannya dan tidaklah ia mendapatkan dari dunia sesuatu apapun keculi apa yang telah di tetapkan baginya. Dan barang siapa yang sangat menjadikan akhirat sebaga tujuannya, maka Allah akan mengumpulkan seluruh harta kekayaan baginya, dan menjadikan kekayaan itu dalam hatinya, serta mendapatkan dunia sedang ia dalam keadaan tertindas”.[2]

Hadis pertama menunjukkan perintah untuk senantiasa berlaku zuhud di dunia, sementara hadis kedua menjelaskan akan tercelanya kehidupan yang bertujuan berorientasi keduniaan belaka, dan mulianya kehidupan yang berorientasi akhirat. Kedua hadis tersebut menjelaskan kemuliaan orang-orang yang hanya menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam hidupnya dan merasa cukup atas segala yang Allah telah karunianakan kepadanya.

Selain dari kedua hadis di atas terdapat pula banyak hadis yang memberikan wasiat kepada orang-orang mu’min agar tidak bertumpu pada kehidupan dunia semata, dan hendaklah ia senantiasa memangkas segala angan-angan keduniaan, serta tidak mematrikan dalam dirinya untuk hidup kekal di dunia dan tidak pula berusaha untuk memperkaya diri di dalamnya kecuali sesuai dengan apa yang ia butuhkan, oleh karena itu Rasulullah Saw berwasiat kepada Abdullah bin Umar sambil menepuk pundaknya dan bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيل

Artinya:

“Hiduplah kamu di dunia seolah-seolah kamu adalh orang asing atau seorang musafir”[3]

Selain tiga hadis di atas masih terdapat banyak hadis lainnya yang menjadi landasan munculnya tasawuf atau sufisme.

Dari keterangan-keterangan yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis di atas menunjukkan bahwa ajaran tasawuf yang menjadi landasan utamanya adalah kezuhudan terhadap dunia demi mencapai tingkatan atau maqam tertinggi di sisi Allah yaitu ketika seseorang menjadikan dunia sebagai persinggahan sementara dan menjadikan rahmat, ridha, dan kecintaan Allah sebagai tujuan akhir.

Kesimpulan

Dari uraian singkat di atas tentang pengertian, asal-usul, dan dasar-dasar dari al-Qur’an maupun hadis yang berhubungan dengan tasawuf, maka dapat disimpulkan bahwa tasawwuf adalah usaha seseorang untuk mensucikan diri dari hal-hal yang dapat mengotori hati dan merusak ibadah, adapun tasawuf jika dilihat dari dasar-dasar qur’ani maupun sunnah, maka dapat di pahami bahwa tasawuf dan sufi memiliki posisi tertentu dalam lingkungan Islam atau dengan kata lain bahwa tasawuf atau kehidupan sufi dapat ditemukan dalam Islam baik itu dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadis, maupun implementasi Nabi Saw dalam kehidupan sehari-hari demikian juga dengan para sahabat beliau dan tabi’in.

Adapun ajaran utama dari tasawuf jika dilihat dari segi dasar-dasarnya baik dari al-Qur’an maupun hadis, maka dapat ditemukan bahwa tasawuf mengajarkan kezuhudan terhadap dunia dan penyerahan diri sepnuhnya hanya kepada Allah semata dan menjadikan-Nya kecintaan tertinggi di atas segala cinta.

Wallahu a’lam.


[1]Lihat Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab; Zuhud, Bab; Zuhud di Dunia, No Hadis; 4102. (Cet. I; Bandung: Maktabah Dakhlan, T.Th), Jld. II, h. 1373

[2] Ibid., Bab; Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan, No Hadis: 4105., h. 1375

[3] Lihat Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, Kitab: Riqaq, Bab: Jadilah kamu manusi asing di dunia atau seorang pejalan jauh. (Cet. I; Beirut: al-Makatabah al-Ilmiyah, 1417 H), Jld. III, h. 3347

h1

Abu Hurairah

4 Desember 2008

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.

Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain, karena banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.

Syu’bah bin al-Hajjaj memperhatikan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Ka’ab al-Akhbar dan meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara dua riwayatnya tersebut. Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis, tetapi Bisyr bin Sa’id menolak ucapan Syu’bah tentang Abu Hurairah. Dan dengan tegas berkata: Bertakwalah kepada allah dan berhati hati terhadap hadist. Demi Allah, aku telah melihat kita sering duduk di majelis Abu Hurairah. Ia menceritakan hadist Rasulullah dan menceritakan pula kepada kita riwayat dari Ka’ab al-Akhbar. Kemudian dia berdiri, lalu aku mendengan dari sebagian orang yang ada bersama kita mempertukarkan hadist Rasulullah dengan riwayat dari Ka’ab. Dan yang dari Ka’ab menjadi dari Rasulullah.”. Jadi tadlis itu tidak bersumber dari Abu Hurairah sendiri, melainkan dari orang yang meriwayatkan darinya.

Cukupkanlah kiranya kita mendengar kan dari Imam Syafi’I :” Abu Hurairah adalah orang yang paling hapal diantara periwayat hadist dimasanya”.

Marwan bin al-Hakam pernah mengundang Abu Hurairah untuk menulis riwayat darinya, lalu ia bertanya tentang apa yang ditulisnya, lalu Abu Hurairah menjawab :” Tidak lebih dan tidak kurang dan susunannya urut”.

Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari /abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Ka’ab, Utsman bin Za’id, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para sahabat dan tabi’in. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Sa’id bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi.

Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhr, dari Sa’id bin al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah).

Adapun yang paling Dlaif adalah as-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.

Ia wafat pada tahun 57 H di Aqiq.

Disalin dari Biografi Abu Hurairah dalam Al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani No. 1179, Tahdzib al ‘asma: An-Nawawi 2/270

kunjungi : http://www.ahlulhadis.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: