h1

Siapakah Ahli Hadis?

24 November 2008

Ahlu al-Hadis : adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap hadis-hadis Rasulullah Saw baik secara riwayat maupun dirayat, lalu mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya kemudian menyampaikannya dan quran_1024_768mengamalkannya. Mereka adalah orang-orang yang komitmen terhadap sunnah, menjauhi kebid’ahan dan ahlinya, mereka sangat jauh berbeda dengan dengan ahlu al-Ahwa’ (pengikut dan penyembah hawa nafsu) yang mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Rasulullah Saw yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-Hadis).

Allah ‘Azza wa jalla berfirman tentang bahayanya mendahulukan perkataan kebanyakan manusia ddi atas perkataan Allah dan Rasul-Nya Saw :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Q.S. Al-An’am : 116)

Yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah : menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-NyaI, dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah dan Rasul-NyaI, atau menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan sebagainya.

Tentang keutamaan ahlu al-hadis, para ulama shaleh terdahulu berkomentar, diantara mereka yang berkomentar adalah sebagai berikut :

ü Imam Khatib al-Bagdady pernah berkata kepada manusia yang hidup pada zamannya, yaitu pada tahun V masehi : “Mempelajari hadis pada zaman ini lebih afdhal dari seluruh ibadah-ibadah sunnah disebabkan karena telah hilangnya sunnah dan orang-orang tidak lagi bergairah untuk mempelajari dan megamalkannya, serta munculnya bid’ah dan ahli bid’ah serta menjadi penguasai zaman ini”.

ü Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Jika mereka (Ahlu Al-Hadis) bukan golongan yang selamat, maka siapa mereka?” kata serupa pernah diungkapkan oleh Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Ali bin Al-Madiny, dan Al-Bukhary.

ü Yazid bin Harun berkata : “Seandainya wali Allah bukan ahlu al-Hadis, maka saya tidak tahu siapa hamba dan wali-wali Allah itu ?”

ü Semakna dengan perkataan Yazid di atas, Sofyan Ats-Tsaury berkata : “Para Malaikat adalah penjaga langit dan ahlu al-hadis penjaga bumi”

ü Imam Syafi’i berkata : “Jika aku melihat salah seorang diantara ahlu al-Hadis, maka seolah-olah aku melihat salah seorang di antara sahabat-sahabat Rasulullah Saw” dan di dalam perkataan beliau yang lain : “maka seolah-olah aku melihat Rasulullah Saw hidup”.

ü Imam Ahmad pernah berkata di tempat lain : “Tidak satu kaum pun menurut saya lebih baik dari ahlu al-Hadis, mereka tidak mengetahui kecuali hadis dan mereka yang paling afdhal berbicara tentang agama ini (Islam)”

ü Imam Abu Daud berkata : “Seandainya bukan karena kelompok ini (ahlu al-Hadis), maka sungguh Islam telah hilang”

ü Harun Ar-Rasyid seorang khalifah yang berkedudukan di Bagdad pernah berkata : “Saya mencari 4 hal dan saya menemukannya pada 4 kelompok : (1). Saya mencari kekufuran, maka saya mendapatkannya pada Jahmiyyah. (2). Saya mencari Ilmu Kalam dan perdebatan, maka saya mendapatkannya pada Mu’tazilah. (3). Saya mencari kebohongan, maka saya mendapatkannya pada Rafidhah (Syi’ah). Dan (4). Saya mencari kebenaran (Al-Haq), maka saya menemukannya pada Ahlu Al-Hadis.

Terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari ayat dan petikan-petikan perkataan para ulama shaleh terdahulu di atas, diantaranya adalah :

ü Bahwa jika pada masa Imam Khatib al-Bagdady kebid’ahan telah muncul dan menguasai kehidupan manusia, kemudian mempelajari hadis pada masa itu merupakan sesuatu yang lebih afdhal dari ibadah-ibadah sunnah, maka mempelajari hadis pada zaman kita sekarang sangat lebih afdhal lagi, karena zaman kita adalah zaman edan, materialis, hedonis, konsumtif, fitnah dan zina terdapat pada hampir disetiap pijakan kaki kita, kekufuran, kebid’ahan, dan kedustaan dapat kita temukan di setiap sudut masjid-masjid, pasar-pasar, bahkan di emperan-emperan kelas kampus, bahkan menjadi penguasa yang seolah tak terbantahkan.

ü Ketika seorang penuntut ilmu syar’i ingin berdakwah baik dalam bentuk nasehat atau fatwa, maka hendaknya menjauhkan diri dari perkataan dan ungkapan-ungkapan ahlu al-Ahwa’ dan ahlu al-Bid’ah, sebab dibalik semua perkataan mereka adalah kesesatan yang sangat nyata, karena sarat dengan prasangka belaka.

ü Sebaik-baik ungkapan dan perkataan adalah perkataan bijak yang dilandasi dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

ü Jika anda adalah seorang pencari kebenaran, maka janganlah mencari kebenaran kepada kaum filosofi dan sufi, sebab dibalik ajaran mereka terkubur fatamorgana yang tak dapat ditemukan hakikat keberadaannya, seorang ulama terkemuka yang pernah mendalami kedua ilmu tersebut bahkan pernah menjadi ulama dialah Imam Al-Ghazaly, pernah berkata : “Aku telah meminum seluruh lautan filsafat dan tasawwuf, tetapi akau tidak menemukan kebenaran sedikit pun di dalam kedua ilmu tersebut kecuali hanya fatamorgana belaka, dan ternyata kebenaran itu terdapat di dalam Al-Qur’an dan di dalam kitab yang ada di dadaku saat ini (pada saat itu kitab yang di letakkan di atas dada beliau adalah Shahih al-Bukhary)”. Maknanya bahwa al-Haq hanya dapat ditimba dari bejana-bejana ahlu al-Qur’an dan al-Hadis. Wallahu A’lam.


%d blogger menyukai ini: