Archive for November, 2008

h1

Benntuk Penafsiran Rasulullah Saw

27 November 2008

PENDAHULAUN

A. Latar Belakang

Segala puji bagi Allah yag telah mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai rasul-Nya dengan membawa risalah tauhid, bersamanya Allah menurunkan kitab yaitu al-Qur’an sebagaiman Allah menurunkan kitab dan susuhuf kepada para utusan-Nya yang telah mendahului Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sang Nabi dan Rasul terakhir dan penutup para Rasul (Khatam al-Anbiya’).

Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam sebagai penmyampai, penjelas dan penerang atas segala bentuk syari’at Allah yang harus di fahami, ditaati dan diamalkan, adapun fungsi Rasulullah di utus bersamaan dengan diturunkannya al-Qur’an (wahyu) kepada beliau adalah bertujuan agar menjelaskan segala hal yang masih bersifat abstrak dan membutuhkan penjelasan secara rinci agar tidak terjadi kesalahan interpretasi setelah turunnya ayat-ayat al-Qur’an tersebut dan tidak terjadi kesalahan pengamalan akibat dari kesalahan interpretasi terhadap makna al-Qur’an, hal ini dijelaskan oleh Allah swt di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 89

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Artinya:

“Dan Kami telah menurunkan Alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan sebagai petunjuk dan rahmat serta berita gembira bagi orang yang menyerahkan diri ” (QS. 16 : 89)

Ayat di atas menunjukkan bahwa al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu kepada manusia, hal inilah yang menjadi tugas utama Rasulullah yaitu menjelaskan maksud setiap ayat dari ayat-ayat al-Qur’an utamnay ayat-ayat yang bersifat syubhat.

Perlu untuk kita ketahui bahwa ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dapat dibagi kedalam tiga bagian yaitu ; 1) Ayat-ayat yang bersifat muhkam (menjadi ketetapan hukum dan dapat dipahami maksud dan tujuannya secara tekstual), 2). Ayat-ayat yang bersifat Mutasyabih (samar-samar baik dari segi arti lafadziyah maupun maknanya), 3). ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah. bagian yang ketiga ini dapat digolongkan dalam bagian kedua. pembagian ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Q.S Ali Imran : 07)

Terdapat perbedaan penafsiran tentang kalimat

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Artinya:

“Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.

Diantara para penafsir al-Qur’an ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut bahwa ; ayat-ayat yang sifatnya syubhat (samar-samar) penafsirannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan orang yang beriman cukup mengimaninya saja. Alasan mereka bahwa huruf wawu setelah kalimatوما يعلم تأويله إلاالله. merupakan wawu mubtada’ (permulaan kata), maka ketika membacanya harus berhenti (wakaf) pada kata الله. dan khabarnya adalah kata يقولون آمنا به…الخ . Pendapat kedua menngatakan bahwa yang dimaksu dengan kata ,ومايعلم تأويله إلا الله والراسخون فى العلم yaitu bahwasanya ayat-ayat mutasyabihat hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya (dan Rasulullah adalah salah satu dari mereka) yang dapat menafsirkannya, dengan alasan bahwa huruf wawu setelah kata وما يعلم تأويله إلاالله adalah wawu al-Ma’iyyah yaitu wawu yang menguhubungkan bentuk persamaan dengan sesuatu sebelumnya. Maka, mereka mengatakan bahwa ketika membaca ayat ini hendaklah berhenti (wakaf) pada kata العلم. Demikianlah salah satu bentuk perbedaan penafsiran dikalangan ulama terhadapa al-Qur’an.

Penafsiran para ulama yang berbeda terhadap ayat 07 dari surat Ali Imran sebagaiman yang telah kami uraikan sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran disebabkan karena perbedaan dalam memahami satu huruf dari rentetan kalimat yang terdapat dalam ayat teresebut.

Terlepas dari perbedaan bentuk penafsiran tersebut yang paling utama bagi kita untuk diketahui adalah bagimana bentuk penafsiran Rasulullah terhadap al-Qur’an, dalam pembahasan ini kami akan mencoba untuk menguraikan secara ringkas hal tersebut dengan berdasar pada latar belakang di atas dengan menggunakan batasan rusmusan masalah di bawah ini.

  1. Bagaimana bentuk turunnya al-Qur’an ?
  2. Bagaiman bentuk penafsiran Rasulullah terhadap al-Qur’an?


PEMBAHASAN

A. Turunnya Al-Qur’an dengan Sab’ah Ahruf (Huruf Tujuh).

Sebelum penulis menguraikan tentang bagaimana bentuk penafsiran Rasulullah Shallallhu ‘alaih wa Sallam terhadap Alqur’an terlebih dahulu penulis menguraikan tentang tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an di turunkan. dengan alasan : 1). Bahwa al-Qur’an tentunya ditafsirkan dan dipahami oleh para sahabat tentang makna, maksud dan tujuan diturunkan tidak terlepas dari susunan huruf yang terdapat di dalam al-Qur’an apalagi al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka Arab. 2). Bahwa terjadinya silang pemahaman antar para sahabat dan para ulama rabbani setelahnya disebabkan karena terjadinya silang pemahaman terhadap susunan huruf yang terdapat dalam satu atau dua kalimat dalam satu ayat atau bahkan silang pemahaman terhadap huruf-huruf yang menjadi perantara antara satu kalimat dengan kalmat berikutnya.

  1. Defenisi Huruf

Kata “Huruf” berasal dari dasar kata harafa-yahrufu-harfan yang berarti pengalihan dan kata al-Harfu yang dalam bentuk jamaknya al-Hirafu berarti ujung atau batasan segala sesuatu. Adapun al-Harfu menurut para ahli nahwu adalah sesuatu yang menunjukkan suatu makna yang berbeda dari makna yang sesungguhnya, dan kata huruf juga dapat diartikan sebagai bahasa atau kalimat.[1]

Dari definisi tentang kata huruf di atas kami dapat menarik sebuah benag merah bahwa huruf adalah satuan bentuk dari satu susunan kata yang terbentuk dari paduan huruf sehingga menghasilkan suatu struktur kalimat dan dapat dihadikan sebagai bahan dalam berkomunikasi, berinteraksi dan menulis yang kemudian menjadi sebuah bahasa yang dapat dipahami baik oleh orang yang mengelurkan kalimat tersebut atau pun bagi orang yang mendengarkannya, jadi ketika kita bertanya tentang apa itu huruf, maka kita akan menemukan jawabn bahwa huruf terbagi kedalam dua bagian yaitu huruf hijaiyyah yang berwalan dali alif dan berujung pada yaa’ yang kedua adalah huruf latin yang berawal dari A dan berakhir pada Z.

Demikianlah kata huruf bila disandarkan kepada hal yang bersifat umum, adapun ketika kata huruf disandarkan kepada al-Qur’an maka, kita akan menuai berbagai makna dan interpretasi (Ikhtilaafun fii at-Tafisiir) dari kalangan para ulama. Karena huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan ditafsirkan secara berbeda sebab disekitar huruf tersebut terdapat banyak persilangan pendapat yang melibatkan para sahabat dan puluhan ulama mulai dari ulama tafsir sampai kepada ulama Fiqhi, bahkan para cendikiawan barat (orientalis) pun turut mengambil posisi dalam wacana tentang huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan.

  1. Ikhtilaf Ulama Tentang Makna Huruf Tujuh al-Qur’an

Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan tentang turunnya al-Qur’an dengan tujuh huruf, diantara riwayat-riwayat tersebut adalah Riwayat al-Bukhari dar hadis Umar bin al-Khaththab, R.A

عن عبد الرحمن بن عبد القارىء أنه قال سمعت عمر بن الخطاب يقول :سمعت هشام بن حكيم بن حزام يقرأ سورة الفرقان على غير ما أقرؤها وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم أقرأنيها فكدت أن أعجل عليه ثم أمهلته حتى انصرف ثم لببته بردائه فجئت به رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يا رسول الله إني سمعت هذا يقرأ سورة الفرقان على غير ما أقرأتنيها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أرسله ثم قال اقرأ يا هشام فقرأ القراءة التي سمعته يقرأ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هكذا أنزلت ثم قال لي اقرأ فقرأتها فقال هكذا أنزلت إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرؤوا ما تيسر منه

Artinya :

Dari Abdurrahman bin abdu al-Qariy ia berkata : ” aku mendengarkan Umar bin al-Khaththab berkata : “Suatu ketika aku mendengarkan Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat al-Furqan berbeda dengan bacaan yang biasa aku baca sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mebacakannya kepada kami (surat al-Furqan tersebut) aku hampir saja mengkritik bacaannya kemudian aku mendiamkannya dan pergi, kemudian aku memperhatikan pakaian yang dipakainya (Hisyam) saat itu, kemudian akau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata : ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah mendengarkan seseorang membaca surat al-Furqan berbeda dengan bacaan yang pernah engkau ajarkan kepada kami’, maka, Rasulullah berkata : “Bawakan kepadaku orang tersebut?” kemudian berkata : Bacalah wahai Hisyam!” lalu kemudian –Hisyam- membacanya sebagaiman yang aku dengarkan, kemudian Rasulullah bersabda : “Dengan bacaan inilah al-Qur’an diturunkan”. Kemudian belaiu berkata kepadaku : “Bacalah wahai Umar!” lalu akau membacanya kemudian beliau bersabda : “Demikinlah al-Qur’an diturunkan, sesungguhnya al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah sesuia dengan bacaan yang mudah bagimu” (H.R Bukhari)

Itulah salah satu riwayat yang menyebutkan bahwasanya al-Qur’an ini di turunkan dalam tujuh huruf.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang salah satunya telah kami sebutkan dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang semakna dengannya, maka, para ulama berbeda pendapat tentang makna dari tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Menurut Imam Abu Hatim ibnu Hibban sebagaimana yang dikutip oleh az-Zarkasyi dalam al-Burhan bahwa : “Para ulama berbeda pendapat tentang tujuh huruf di dalam al-Qur’an sebanyak 53 pendapat”[2]. Sementara itu Imam As-Suyuthi menyebutkan bahwa terdapat kurang lebih 40 pendapat tentang maksud tujuh huruf di dalam al-Qur’an.[3] dari sekian banyak silang pendapat tentang tujuh huruf kami akan menyebutkan beberapa diantaranya :

a. Kebanyakan Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh jenis bahasa Arab yang memiliki kesatuan makna. Kemudian mereka berbeda pendapat dalam membatasi ke tujuh jenis bahasa arab diantara mereka ada yang mengatakan bahwa ke tujuh jenis bahasa yang dimaksud adalah : Quraisy, Hudzil, Tsaqif, Hawadzin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. diantara mereka yang membatasinya pada tjuh bahasa berikut : Quraisy, Hudzail, Tamim, Al-Azdy, Rabi’ah, Hawazin, dan bahasa bani Sa’ad.

b. Pendapat kedua menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa yang kepadanya al-Qur’an diturunkan, dengan artian bahwa secara umum kalimat-kalimat yang terdapat di dalam al-Qur’an tidak terlepas dari ketujuh jenis bahasa Arab yang merupakan bahsa terfasih yang ada di tanah Arab. maka lebih banyak bahasa yang digunakan di dalam al-Qur’an dalam bahasa Quraisy, diantaranya pula terdapat bahasa Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamimim dan Yaman yang kesemuanya itu tergolong dalam tujuh bahasa bahasa. Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya dimana mereka memaksudkan bahwa ketujuh huruf atau jenis bahasa tersebut keberadaannya terpisah antara satu surat dengan surat lainnya dan bukan berada pada jenis bahasa dalam satu kalimat.

c. Diantara mereka ada yang berbendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bentuk seperti bentuk perinta (al-Amru), larangan, janji, ancaman, perdebatan, kisah-kisah, permisalan. atau dalam bentuk perinta (al-Amru), larangan, halal, haram, mutasyabih dan permisalan.

d. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bentuk perubahan kata dari segi nahwu dan sharaf.[4]

dari sekian macam pendapat tentang maksud dari tujuh huruf yang dengan al-Qur’an diturunkan, maka kami dapat mengambil pendapat pertama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh jenis bahasa yang digunakan dalam beberapa kalimat di dalam al-Qur’an, hal ini disebabkan karena keserasian antara pendapat in dengan riwayat-riwayat yang shahih tentang tujuh huruf tersebut.[5]

B. Bentuk Penafsiran Rasulullah Terhadap Al-Qur’an

Setelah kita menjelaskan tentang tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan, maka berdasarkan pada hal ini kita dapat mengetahui berebagai macam bentuk penafsiran Rasulullah shallah ‘alaihi wasallam.

Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas dan mereka –para sahabat Rasul- memahami teks-teks ayat-ayat Alqur’an beserta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, adapun pemahaman mereka –para sahabat Nabi- tentang kedalaman kandungan makna al-Qur’an, maka hal tersebut nanti akan tampak bagi mereka setelah mereka melakukan penelitian, pencarian dan menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam dalam beberapa kesempatan.[6]

Dari pertanyaan-pertanyan para sahabat beliau Shallallhu ‘alaihi wa Sallam kita dapat menemukan bebagai bentuk penafsiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap al-Qur’an dan tentunya hal ini hanya dapat kita temukan melalui penelitan terhadap riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana Rasulullah menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang turun kepada beliau. berikut ini akan kami rinci bentuk-bentuk penafsiran Beliau Shallalhu ‘alaihi wa sallam terhadap al-Qur’an.

1. Penjelasan beliau Shallallahu ‘alai wa sallam tentang ayat-ayat yang bersifat mujaml (global) seperti ayat-ayat tentang shalat dimana di dalam al-Qur’an kita akan mendapatkan kata Shalat dalam banyak ayat yang semuanya itu bersifat global (mujmal), maka kemudian Rasulullah menjelaskan tentang waktu-waktunya, jumlah rakaat pada setiap waktu shalat dan tata cara shalat. selain itu Rasulullah juga menjelaskan ayat-ayat yang umum dan yang mutlak seperti ayat tentang zakat kemudian Rasulullah menafsirkannya dan menjelaskan batasan harta yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya serta waktu melaksanakan zakat baik fitrah maupun harta, begitu pula dengan ayat tentang haji dimana Rasulullah, menjelaskan waktu haji dan tata caranya (Kaifiyyatuhu). bentuk yang pertama ini Rasulullah tidak hanya sebatas menerangkan dan menjelaskannya secara lisan akan tetapi dibuktikan lewat perbuatan yang kemudian ditutup dengan perkataan dari beliau sebagaimana perkataan beliau setelah mengajarkan waktu, jumlah rakaat dan kaifiyyah shalat beliau kemudian bersabda : “Shalat kalian sebagaimana kalian melaihat akau shalat” begitu pula ketika beliau telah melaksanakan haji lalu beliau bersabda: “Kerjakanlah oleh kalian manasik (haji) sebagaiman yang aku lakukan”. Adapun contoh penafsiran beliau Shallallahu ‘alaihi terhadap ayat yang bersaifat umum adalah pertanyaan shabat tentang maksud dari khaith al-abyadh dengan khaith al-aswad, kemudian Rasulullah menjawab bahwa yang dimaksud dengan al-Abyadh adalah pagi hari dan al-Aswad adalah malam hari.

2. Penjelasan Rsalullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna lafadz-lafadz al-Qur’an yang kurang dimengerti dan difahami oleh sahabat atau lafadz-lafadz yang tidak terdapat dalam bahasa mereka[7], seperti lafadz al-Magdhub yang kemudian beluai mengatakannya yang dimaksud adalah Yahudi, dan lafadz adh-Dhallin dengan makna Nashara.

3. Penjelasan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa Sallam tentang hukum-hukum tambahan yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti hukum menikahi wanita dan menikahi tantenya, hukum hak waris bagi nenek dan sebagainya.

4. Penjelasan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa salllam tentang ayat-ayat yang mansukh (terhapus baik secara lafadz, hukum tanpa lafadz atau hukum dengan lafadz) dengan menyebutkan ayat yang me-nasakh-nya.

5. Menjelaskan ayat-ayat yang mebutuhkan penguatan baik dari segi hukum maupun lafadz (ta’kid).[8]

6. Penjelasan Rasulullah terhadap ayat-ayat yang mutasyabih dengan menggunakan ayat-ayat yang menjelaskan baik ayat penjelas itu berada setelah ayat yang dimaksud atau ayat penjelas tersebut disebutkan pada ayat atau surat yang terpisah dengannya.

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalhu ‘alahi wa Sallam menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan dua pendekatan yaitu :

  1. Penafsiran ayat dengan ayat yang lain, seperti ketika Rasulullah menafsirkan firman Allah yang terdapat dalam surat al-An’am ayat 82 yang berbunyi:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Artinya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kata : بظلم yang terdapat dalam ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah dengan makna Syirik, penafsiran ini mengacu pada surat Luqman ayat 13. Demikian juga ketika beliau menjelaskan ayat-ayat mansukh.

  1. Penafsiran ayat dengan as-Sunnah, seperti penjelasan Rasulullah tentang shalat, zakat dan haji, dimana beliau menjelaskannya dengan wahyu kedua yaitu as-Sunnah sebagaimana yang dijelaskan oleh Jibril kepada beliau tentang waktu-waktu shalat, tata cara dan jumlah rakaatnya. Demikian juga dengan zakat dan haji.

Terdapat satu permasalahan yang dapat timbul tentang bentuk penafsiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu bahwa apakah Rasulullah menafsirkan al-Qur,an dengan menggunakan ijtihad beliau atau tidak?. Dalam hal ini kami hanya dapat mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menafsirkan al-Qur’an dengan menggunkan ijtihad beliau, akan tetapi beliau menafsirkan al-Qur’an berdasarkan apa yang difahamkan oleh Allah kepada beliau melalui perantaraan Jibril Alaihssalam. Hal ini berdasarkan firman Allah di dalam Surat an-Najm ayat 3-5 yang berbunyi :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5)

Artinya:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa Rasulullah menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada para sahabat dengan mengarahkannya penjelasan ayat-ayat yang terkait dengan hukum-hukum tertentu, atau menjelaskan lafzd-lafadz yang jarang ditemukan (garib al-alfadz), Nasikh dan mansukhnya ayat, ayat-ayat yang bersifat global (mujmal), umum, mutlak dan ayat-ayat yang mebutuhkan penuat (ta’kid). wallahu a’lam.

Kesimpulan

Setelah kami menguraikan secara ringkas tentang berbagai macam problrmatika tentang bentuk-bentuk penafsiran Rasulullah terhada al-Qur’an, maka tibalah kita pada suatu kesimpulan yaitu :

  1. Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf yaitu tujuh jenis bahasa Arab yang tidak merubah keabsahan makna suatu kalimat.
  2. Rasulullah menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada para sahabat dengan mengarahkannya penjelasan ayat-ayat yang terkait dengan hukum-hukum tertentu, atau menjelaskan lafzd-lafadz yang jarang ditemukan (garib al-alfadz), Nasikh dan mansukhnya ayat, ayat-ayat yang bersifat global (mujmal), umum, mutlak dan ayat-ayat yang mebutuhkan penuat (ta’kid)
  3. Bahawasanya Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam tidak menafsirkan al-Qur’an dengan cara berijtihad akan tetapi beliau menafsirkannya berdasarkan penafsiran yang di ajarkan oleh Allah kepada beliau tentang makna suatu ayat melalui perantaraan Jibril.


[1] Al-Ma’lu, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, (Cet. XXXIV; Lebano : Beirut: Dar al-Masyriq, 1994), hal. 126. Lihat juga Dr. Yusuf Sykri Farhat, Mu’jam at-Thullab, (Cet. I; Beirut: Libanon: Dar al-utub al-Ilmiyyah, 1420 H/ 2000 M), hal. 123

[2] Az-Zarkasyi, al-Burhan fii ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. II; Beirut: Libanon: Dar al-Ma’rifah, 1391 H/ 1927 M), Jilid. 1, hal. 212

[3] As-Suyuthi, al-Itqaan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. Beirut : Dar al-Fikr, T.Thn), Jilid. 1, hal. 47

[4] As-Suyuty, Ibid. Lihat pula Manna’ al-Qaththan. Mabahis fii ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. III; Mansyuraat al-‘Ashru al-Hadis, 1973), hal. 158-168

[5] Manna’ al-Qaththan, Ibid.

[6] As-Syuty, Op.Cit, Jilid. 2, hal. 174

[7] Dr. Musaid Muslim Abdullah Alu Ja’far, Atsr at-Tathawwur al-Fikry fii at-Tafsiir fii al-‘Ashri al-‘Abbasy, (Cet. I; Beirut: Muassah ar-Risalah, 1984). hal. 57

[8] Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahaby, At-Tafsi wa al-Mufassirun, (Cet. II; Beirut: Dar al-Fikr, 1976), Jilid. 1, hal. 55-57

h1

Metode Penafsiran Rasulullah Saw

25 November 2008

PENDAHULAUN

A. Latar Belakang

Segala puji bagi Allah yag telah mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai rasul-Nya dengan membawa risalah tauhid, bersamanya Allah menurunkan kitab yaitu al-Qur’an sebagaiman Allah menurunkan kitab dan susuhuf kepada para utusan-Nya yang telah mendahului Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sang Nabi dan Rasul terakhir dan penutup para Rasul (Khatam al-Anbiya’).

Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam sebagai penmyampai, penjelas dan penerang atas segala bentuk syari’at Allah yang harus di fahami, ditaati dan diamalkan, adapun fungsi Rasulullah di utus bersamaan dengan diturunkannya al-Qur’an (wahyu) kepada beliau adalah bertujuan agar menjelaskan segala hal yang masih bersifat abstrak dan membutuhkan penjelasan secara rinci agar tidak terjadi kesalahan interpretasi setelah turunnya ayat-ayat al-Qur’an tersebut dan tidak terjadi kesalahan pengamalan akibat dari kesalahan interpretasi terhadap makna al-Qur’an, hal ini dijelaskan oleh Allah swt di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 89

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Artinya:

“Dan Kami telah menurunkan Alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan sebagai petunjuk dan rahmat serta berita gembira bagi orang yang menyerahkan diri ” (QS. 16 : 89)

Ayat di atas menunjukkan bahwa al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu kepada manusia, hal inilah yang menjadi tugas utama Rasulullah yaitu menjelaskan maksud setiap ayat dari ayat-ayat al-Qur’an utamnay ayat-ayat yang bersifat syubhat.

Perlu untuk kita ketahui bahwa ayat-ayat yang terdapat di dalam al-Qur’an dapat dibagi kedalam tiga bagian yaitu ; 1) Ayat-ayat yang bersifat muhkam (menjadi ketetapan hukum dan dapat dipahami maksud dan tujuannya secara tekstual), 2). Ayat-ayat yang bersifat Mutasyabih (samar-samar baik dari segi arti lafadziyah maupun maknanya), 3). ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah. bagian yang ketiga ini dapat digolongkan dalam bagian kedua. pembagian ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Q.S Ali Imran : 07)

Terdapat perbedaan penafsiran tentang kalimat

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Artinya:

“Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.

Diantara para penafsir al-Qur’an ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut bahwa ; ayat-ayat yang sifatnya syubhat (samar-samar) penafsirannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan orang yang beriman cukup mengimaninya saja. Alasan mereka bahwa huruf wawu setelah kalimatوما يعلم تأويله إلاالله. merupakan wawu mubtada’ (permulaan kata), maka ketika membacanya harus berhenti (wakaf) pada kata الله. dan khabarnya adalah kata يقولون آمنا به…الخ . Pendapat kedua menngatakan bahwa yang dimaksu dengan kata ,ومايعلم تأويله إلا الله والراسخون فى العلم yaitu bahwasanya ayat-ayat mutasyabihat hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya (dan Rasulullah adalah salah satu dari mereka) yang dapat menafsirkannya, dengan alasan bahwa huruf wawu setelah kata وما يعلم تأويله إلاالله adalah wawu al-Ma’iyyah yaitu wawu yang menguhubungkan bentuk persamaan dengan sesuatu sebelumnya. Maka, mereka mengatakan bahwa ketika membaca ayat ini hendaklah berhenti (wakaf) pada kata العلم. Demikianlah salah satu bentuk perbedaan penafsiran dikalangan ulama terhadapa al-Qur’an.

Penafsiran para ulama yang berbeda terhadap ayat 07 dari surat Ali Imran sebagaiman yang telah kami uraikan sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran disebabkan karena perbedaan dalam memahami satu huruf dari rentetan kalimat yang terdapat dalam ayat teresebut.

Terlepas dari perbedaan bentuk penafsiran tersebut yang paling utama bagi kita untuk diketahui adalah bagimana bentuk penafsiran Rasulullah terhadap al-Qur’an, dalam pembahasan ini kami akan mencoba untuk menguraikan secara ringkas hal tersebut dengan berdasar pada latar belakang di atas dengan menggunakan batasan rusmusan masalah di bawah ini.

  1. Bagaimana bentuk turunnya al-Qur’an ?
  2. Bagaiman bentuk penafsiran Rasulullah terhadap al-Qur’an?


PEMBAHASAN

A. Turunnya Al-Qur’an dengan Sab’ah Ahruf (Huruf Tujuh).

Sebelum penulis menguraikan tentang bagaimana bentuk penafsiran Rasulullah Shallallhu ‘alaih wa Sallam terhadap Alqur’an terlebih dahulu penulis menguraikan tentang tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an di turunkan. dengan alasan : 1). Bahwa al-Qur’an tentunya ditafsirkan dan dipahami oleh para sahabat tentang makna, maksud dan tujuan diturunkan tidak terlepas dari susunan huruf yang terdapat di dalam al-Qur’an apalagi al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka Arab. 2). Bahwa terjadinya silang pemahaman antar para sahabat dan para ulama rabbani setelahnya disebabkan karena terjadinya silang pemahaman terhadap susunan huruf yang terdapat dalam satu atau dua kalimat dalam satu ayat atau bahkan silang pemahaman terhadap huruf-huruf yang menjadi perantara antara satu kalimat dengan kalmat berikutnya.

  1. Defenisi Huruf

Kata “Huruf” berasal dari dasar kata harafa-yahrufu-harfan yang berarti pengalihan dan kata al-Harfu yang dalam bentuk jamaknya al-Hirafu berarti ujung atau batasan segala sesuatu. Adapun al-Harfu menurut para ahli nahwu adalah sesuatu yang menunjukkan suatu makna yang berbeda dari makna yang sesungguhnya, dan kata huruf juga dapat diartikan sebagai bahasa atau kalimat.[1]

Dari definisi tentang kata huruf di atas kami dapat menarik sebuah benag merah bahwa huruf adalah satuan bentuk dari satu susunan kata yang terbentuk dari paduan huruf sehingga menghasilkan suatu struktur kalimat dan dapat dihadikan sebagai bahan dalam berkomunikasi, berinteraksi dan menulis yang kemudian menjadi sebuah bahasa yang dapat dipahami baik oleh orang yang mengelurkan kalimat tersebut atau pun bagi orang yang mendengarkannya, jadi ketika kita bertanya tentang apa itu huruf, maka kita akan menemukan jawabn bahwa huruf terbagi kedalam dua bagian yaitu huruf hijaiyyah yang berwalan dali alif dan berujung pada yaa’ yang kedua adalah huruf latin yang berawal dari A dan berakhir pada Z.

Demikianlah kata huruf bila disandarkan kepada hal yang bersifat umum, adapun ketika kata huruf disandarkan kepada al-Qur’an maka, kita akan menuai berbagai makna dan interpretasi (Ikhtilaafun fii at-Tafisiir) dari kalangan para ulama. Karena huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan ditafsirkan secara berbeda sebab disekitar huruf tersebut terdapat banyak persilangan pendapat yang melibatkan para sahabat dan puluhan ulama mulai dari ulama tafsir sampai kepada ulama Fiqhi, bahkan para cendikiawan barat (orientalis) pun turut mengambil posisi dalam wacana tentang huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan.

  1. Ikhtilaf Ulama Tentang Makna Huruf Tujuh al-Qur’an

Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan tentang turunnya al-Qur’an dengan tujuh huruf, diantara riwayat-riwayat tersebut adalah Riwayat al-Bukhari dar hadis Umar bin al-Khaththab, R.A

عن عبد الرحمن بن عبد القارىء أنه قال سمعت عمر بن الخطاب يقول :سمعت هشام بن حكيم بن حزام يقرأ سورة الفرقان على غير ما أقرؤها وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم أقرأنيها فكدت أن أعجل عليه ثم أمهلته حتى انصرف ثم لببته بردائه فجئت به رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يا رسول الله إني سمعت هذا يقرأ سورة الفرقان على غير ما أقرأتنيها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أرسله ثم قال اقرأ يا هشام فقرأ القراءة التي سمعته يقرأ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هكذا أنزلت ثم قال لي اقرأ فقرأتها فقال هكذا أنزلت إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرؤوا ما تيسر منه

Artinya :

Dari Abdurrahman bin abdu al-Qariy ia berkata : ” aku mendengarkan Umar bin al-Khaththab berkata : “Suatu ketika aku mendengarkan Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat al-Furqan berbeda dengan bacaan yang biasa aku baca sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mebacakannya kepada kami (surat al-Furqan tersebut) aku hampir saja mengkritik bacaannya kemudian aku mendiamkannya dan pergi, kemudian aku memperhatikan pakaian yang dipakainya (Hisyam) saat itu, kemudian akau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata : ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah mendengarkan seseorang membaca surat al-Furqan berbeda dengan bacaan yang pernah engkau ajarkan kepada kami’, maka, Rasulullah berkata : “Bawakan kepadaku orang tersebut?” kemudian berkata : Bacalah wahai Hisyam!” lalu kemudian –Hisyam- membacanya sebagaiman yang aku dengarkan, kemudian Rasulullah bersabda : “Dengan bacaan inilah al-Qur’an diturunkan”. Kemudian belaiu berkata kepadaku : “Bacalah wahai Umar!” lalu akau membacanya kemudian beliau bersabda : “Demikinlah al-Qur’an diturunkan, sesungguhnya al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah sesuia dengan bacaan yang mudah bagimu” (H.R Bukhari)

Itulah salah satu riwayat yang menyebutkan bahwasanya al-Qur’an ini di turunkan dalam tujuh huruf.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang salah satunya telah kami sebutkan dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang semakna dengannya, maka, para ulama berbeda pendapat tentang makna dari tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Menurut Imam Abu Hatim ibnu Hibban sebagaimana yang dikutip oleh az-Zarkasyi dalam al-Burhan bahwa : “Para ulama berbeda pendapat tentang tujuh huruf di dalam al-Qur’an sebanyak 53 pendapat”[2]. Sementara itu Imam As-Suyuthi menyebutkan bahwa terdapat kurang lebih 40 pendapat tentang maksud tujuh huruf di dalam al-Qur’an.[3] dari sekian banyak silang pendapat tentang tujuh huruf kami akan menyebutkan beberapa diantaranya :

a. Kebanyakan Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh jenis bahasa Arab yang memiliki kesatuan makna. Kemudian mereka berbeda pendapat dalam membatasi ke tujuh jenis bahasa arab diantara mereka ada yang mengatakan bahwa ke tujuh jenis bahasa yang dimaksud adalah : Quraisy, Hudzil, Tsaqif, Hawadzin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. diantara mereka yang membatasinya pada tjuh bahasa berikut : Quraisy, Hudzail, Tamim, Al-Azdy, Rabi’ah, Hawazin, dan bahasa bani Sa’ad.

b. Pendapat kedua menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa yang kepadanya al-Qur’an diturunkan, dengan artian bahwa secara umum kalimat-kalimat yang terdapat di dalam al-Qur’an tidak terlepas dari ketujuh jenis bahasa Arab yang merupakan bahsa terfasih yang ada di tanah Arab. maka lebih banyak bahasa yang digunakan di dalam al-Qur’an dalam bahasa Quraisy, diantaranya pula terdapat bahasa Hudzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamimim dan Yaman yang kesemuanya itu tergolong dalam tujuh bahasa bahasa. Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya dimana mereka memaksudkan bahwa ketujuh huruf atau jenis bahasa tersebut keberadaannya terpisah antara satu surat dengan surat lainnya dan bukan berada pada jenis bahasa dalam satu kalimat.

c. Diantara mereka ada yang berbendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bentuk seperti bentuk perinta (al-Amru), larangan, janji, ancaman, perdebatan, kisah-kisah, permisalan. atau dalam bentuk perinta (al-Amru), larangan, halal, haram, mutasyabih dan permisalan.

d. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bentuk perubahan kata dari segi nahwu dan sharaf.[4]

dari sekian macam pendapat tentang maksud dari tujuh huruf yang dengan al-Qur’an diturunkan, maka kami dapat mengambil pendapat pertama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh jenis bahasa yang digunakan dalam beberapa kalimat di dalam al-Qur’an, hal ini disebabkan karena keserasian antara pendapat in dengan riwayat-riwayat yang shahih tentang tujuh huruf tersebut.[5]

B. Bentuk Penafsiran Rasulullah Terhadap Al-Qur’an

Setelah kita menjelaskan tentang tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan, maka berdasarkan pada hal ini kita dapat mengetahui berebagai macam bentuk penafsiran Rasulullah shallah ‘alaihi wasallam.

Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas dan mereka –para sahabat Rasul- memahami teks-teks ayat-ayat Alqur’an beserta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, adapun pemahaman mereka –para sahabat Nabi- tentang kedalaman kandungan makna al-Qur’an, maka hal tersebut nanti akan tampak bagi mereka setelah mereka melakukan penelitian, pencarian dan menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam dalam beberapa kesempatan.[6]

Dari pertanyaan-pertanyan para sahabat beliau Shallallhu ‘alaihi wa Sallam kita dapat menemukan bebagai bentuk penafsiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap al-Qur’an dan tentunya hal ini hanya dapat kita temukan melalui penelitan terhadap riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana Rasulullah menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang turun kepada beliau. berikut ini akan kami rinci bentuk-bentuk penafsiran Beliau Shallalhu ‘alaihi wa sallam terhadap al-Qur’an.

1. Penjelasan beliau Shallallahu ‘alai wa sallam tentang ayat-ayat yang bersifat mujaml (global) seperti ayat-ayat tentang shalat dimana di dalam al-Qur’an kita akan mendapatkan kata Shalat dalam banyak ayat yang semuanya itu bersifat global (mujmal), maka kemudian Rasulullah menjelaskan tentang waktu-waktunya, jumlah rakaat pada setiap waktu shalat dan tata cara shalat. selain itu Rasulullah juga menjelaskan ayat-ayat yang umum dan yang mutlak seperti ayat tentang zakat kemudian Rasulullah menafsirkannya dan menjelaskan batasan harta yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya serta waktu melaksanakan zakat baik fitrah maupun harta, begitu pula dengan ayat tentang haji dimana Rasulullah, menjelaskan waktu haji dan tata caranya (Kaifiyyatuhu). bentuk yang pertama ini Rasulullah tidak hanya sebatas menerangkan dan menjelaskannya secara lisan akan tetapi dibuktikan lewat perbuatan yang kemudian ditutup dengan perkataan dari beliau sebagaimana perkataan beliau setelah mengajarkan waktu, jumlah rakaat dan kaifiyyah shalat beliau kemudian bersabda : “Shalat kalian sebagaimana kalian melaihat akau shalat” begitu pula ketika beliau telah melaksanakan haji lalu beliau bersabda: “Kerjakanlah oleh kalian manasik (haji) sebagaiman yang aku lakukan”. Adapun contoh penafsiran beliau Shallallahu ‘alaihi terhadap ayat yang bersaifat umum adalah pertanyaan shabat tentang maksud dari khaith al-abyadh dengan khaith al-aswad, kemudian Rasulullah menjawab bahwa yang dimaksud dengan al-Abyadh adalah pagi hari dan al-Aswad adalah malam hari.

2. Penjelasan Rsalullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna lafadz-lafadz al-Qur’an yang kurang dimengerti dan difahami oleh sahabat atau lafadz-lafadz yang tidak terdapat dalam bahasa mereka[7], seperti lafadz al-Magdhub yang kemudian beluai mengatakannya yang dimaksud adalah Yahudi, dan lafadz adh-Dhallin dengan makna Nashara.

3. Penjelasan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa Sallam tentang hukum-hukum tambahan yang terdapat di dalam al-Qur’an seperti hukum menikahi wanita dan menikahi tantenya, hukum hak waris bagi nenek dan sebagainya.

4. Penjelasan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa salllam tentang ayat-ayat yang mansukh (terhapus baik secara lafadz, hukum tanpa lafadz atau hukum dengan lafadz) dengan menyebutkan ayat yang me-nasakh-nya.

5. Menjelaskan ayat-ayat yang mebutuhkan penguatan baik dari segi hukum maupun lafadz (ta’kid).[8]

6. Penjelasan Rasulullah terhadap ayat-ayat yang mutasyabih dengan menggunakan ayat-ayat yang menjelaskan baik ayat penjelas itu berada setelah ayat yang dimaksud atau ayat penjelas tersebut disebutkan pada ayat atau surat yang terpisah dengannya.

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalhu ‘alahi wa Sallam menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan dua pendekatan yaitu :

  1. Penafsiran ayat dengan ayat yang lain, seperti ketika Rasulullah menafsirkan firman Allah yang terdapat dalam surat al-An’am ayat 82 yang berbunyi:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Artinya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kata : بظلم yang terdapat dalam ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah dengan makna Syirik, penafsiran ini mengacu pada surat Luqman ayat 13. Demikian juga ketika beliau menjelaskan ayat-ayat mansukh.

  1. Penafsiran ayat dengan as-Sunnah, seperti penjelasan Rasulullah tentang shalat, zakat dan haji, dimana beliau menjelaskannya dengan wahyu kedua yaitu as-Sunnah sebagaimana yang dijelaskan oleh Jibril kepada beliau tentang waktu-waktu shalat, tata cara dan jumlah rakaatnya. Demikian juga dengan zakat dan haji.

Terdapat satu permasalahan yang dapat timbul tentang bentuk penafsiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu bahwa apakah Rasulullah menafsirkan al-Qur,an dengan menggunakan ijtihad beliau atau tidak?. Dalam hal ini kami hanya dapat mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menafsirkan al-Qur’an dengan menggunkan ijtihad beliau, akan tetapi beliau menafsirkan al-Qur’an berdasarkan apa yang difahamkan oleh Allah kepada beliau melalui perantaraan Jibril Alaihssalam. Hal ini berdasarkan firman Allah di dalam Surat an-Najm ayat 3-5 yang berbunyi :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5)

Artinya:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa Rasulullah menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada para sahabat dengan mengarahkannya penjelasan ayat-ayat yang terkait dengan hukum-hukum tertentu, atau menjelaskan lafzd-lafadz yang jarang ditemukan (garib al-alfadz), Nasikh dan mansukhnya ayat, ayat-ayat yang bersifat global (mujmal), umum, mutlak dan ayat-ayat yang mebutuhkan penuat (ta’kid). wallahu a’lam.

Kesimpulan

Setelah kami menguraikan secara ringkas tentang berbagai macam problrmatika tentang bentuk-bentuk penafsiran Rasulullah terhada al-Qur’an, maka tibalah kita pada suatu kesimpulan yaitu :

  1. Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf yaitu tujuh jenis bahasa Arab yang tidak merubah keabsahan makna suatu kalimat.
  2. Rasulullah menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada para sahabat dengan mengarahkannya penjelasan ayat-ayat yang terkait dengan hukum-hukum tertentu, atau menjelaskan lafzd-lafadz yang jarang ditemukan (garib al-alfadz), Nasikh dan mansukhnya ayat, ayat-ayat yang bersifat global (mujmal), umum, mutlak dan ayat-ayat yang mebutuhkan penuat (ta’kid)
  3. Bahawasanya Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam tidak menafsirkan al-Qur’an dengan cara berijtihad akan tetapi beliau menafsirkannya berdasarkan penafsiran yang di ajarkan oleh Allah kepada beliau tentang makna suatu ayat melalui perantaraan Jibril.


[1] Al-Ma’lu, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, (Cet. XXXIV; Lebano : Beirut: Dar al-Masyriq, 1994), hal. 126. Lihat juga Dr. Yusuf Sykri Farhat, Mu’jam at-Thullab, (Cet. I; Beirut: Libanon: Dar al-utub al-Ilmiyyah, 1420 H/ 2000 M), hal. 123

[2] Az-Zarkasyi, al-Burhan fii ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. II; Beirut: Libanon: Dar al-Ma’rifah, 1391 H/ 1927 M), Jilid. 1, hal. 212

[3] As-Suyuthi, al-Itqaan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. Beirut : Dar al-Fikr, T.Thn), Jilid. 1, hal. 47

[4] As-Suyuty, Ibid. Lihat pula Manna’ al-Qaththan. Mabahis fii ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. III; Mansyuraat al-‘Ashru al-Hadis, 1973), hal. 158-168

[5] Manna’ al-Qaththan, Ibid.

[6] As-Syuty, Op.Cit, Jilid. 2, hal. 174

[7] Dr. Musaid Muslim Abdullah Alu Ja’far, Atsr at-Tathawwur al-Fikry fii at-Tafsiir fii al-‘Ashri al-‘Abbasy, (Cet. I; Beirut: Muassah ar-Risalah, 1984). hal. 57

[8] Dr. Muhammad Husain Adz-Dzahaby, At-Tafsi wa al-Mufassirun, (Cet. II; Beirut: Dar al-Fikr, 1976), Jilid. 1, hal. 55-57

h1

Surga Dibawah Naungan Pedang

25 November 2008

عن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ النبيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا000813 لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسألُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ (رواه الشيخاني)

Terjemahannya:

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia janganlah kalian berharap berjumpa dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah dan jika kalaian bertemu dengan mereka (musuh) maka hendaklah kalian bersabar dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Surga itu berada dibawah naungan pedang”, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah yang mewahyukan Kitab, menjalankan awan, menghancurkan pasukan, hancurkanlah mereka (para musuh) dan menangkanlah kami atas mereka” (H.R Bukhari dan Muslim)

A. Riwayat-riwayat Hadis

Hadis ini diriwayatkan oelh al-Bukhari dalam Shahihnya dari dua jalur: Pertama; dari jalur Abdullah bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin ‘Amr, dari Abu Ishaq, dari Musa bin Uqbah, dari Salim Abu an-Nadhr Maula Umar bin Abdullah, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa dari Rasulullah Saw. Kedua; dari jalur Yusuf bin Musa, dari Ashim bin Yusuf al-Yarbu’, dari Abu Ishaq, dari Salim, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa.

Dan diriwayatkan pula oleh Muslim dalm Shahihnya dari dua jalur: yang pertama : dari jalur Muhammad bin Rafi’, dari Abdurrarazzaq, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Abu an-Nadhr, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa dari Rasulullah Saw. Kedua; dari jalur Yahya bin Yahya al-Tamimi dan Qutaibah bin Said, keduanya mengambil dari Ja’far bin Sualiman, dari Abu Imran al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abdullah bin Qais, dari ayahnya ia berkata “aku mendengarkan Ayahku berkata ketika bertemu dengan musuh Rasulullah Saw bersabda : (hadis).

Selain itu hadis senada diriwaytkan pula oleh al-Tirmidzy dalam Sunan atau al-Jami’­-nya dari jalur Qutraibah, dari Ja’far bin Sualiman al-Dhuba’i, dari Abu Imran al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ary, dari ayahnya Abu Musa al-Asy’ary, dari Rasulullah Saw.

Jadi hadis ini diriwayatkan oleh tiga Imam yaitu; al-Bukhary, Muslim, dan at-Tirmidzy.

B. Biografi Sahabat Periwayat Hadis

Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya bahwa sanya hadis ini diriwatkan oleh tiga perawi dari dua sahabat yang berbeda yaitu Abdullah bin Abi Aufa, dan Abu Musa al-Asy’ari. Namun pada bagian ini kami hanya akan menejlaskan secara ringkas tentang biografi Abdullah bi Abi Aufa.

Abdullah bin Abi Aufa al-Aslamy dan kuniyahnya dalah Abu Ibrahim, Abu Aufa bernama Alqamah bin Khalid berasal dari kota Hawazin, beliau merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang menyaksikan perjanjian Hudibiyah dan tergolong diantara ahlu Baiat Ridwan, Beliau tinggal di kufah sepeninggalan Rasulullah Saw dan beliau termasuk diantara shabat yang meninggal paling terakhir di Kufah tepatnya pada tahun 87 H, beliau juga menjadi bagian dari pasukan Muslim pada perang Hunain, telah diriwatkan darinya bahwasanya beliau berkata: “aku telah meyaksikan enam peperangan bersama Rasulullah Saw dan selama itu kami makan belalang“. Beliau wafat dalam keadaan buta, dan terdapat bekas sayatan pedang orang musyrik pada lengannya sebagaimana diriwayatkan dari Ismail bin Abi Khalid bahwasanya beliau berkata: “Aku telah melihat pada lengan Abdullah bin Abi Aufa bekas sayatan, lalu aku berkata: ‘bekas apa ini?’ beliau menjawab : (ini adalah bekas sayatan pedang pada perang Hunain)”.

C. Kosa Kata Hadis

· لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ : artinya Janganlah kamu meminta untuk bertemu dengan musuh dan janganlah kalian terlalu berjiwa tinggi untuk hal tersebut, adapun makna asal dari kata التمني (at-Tamanni) adalah meminta sesuatu yang sangat dicintai sebagaimana firman Allah :

{ولاتتمنوا مافضل الله به بعضكم على بعض} الأية “dan Janganlah kalian mengharapkan (meminta sesuatuyang sangat dicintai) keutamaan yang telah diberikan kepada sebahagian diantara kalian” demikian juga dalam Hadis

[ليس الإيمان بالتمني ولكن ما وقر في القلب وصدقه العمل]

“Iman Itu bukanlah dengan angan-angan akan tetapi [iman] adalah apa yang tertanam dalam hati dan ditampakkan oleh amal”

· وَسألُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ : artinya dan mintalah pertolongan dari Allah, makna asal dari kata العافية (al-‘Afiyah) adalah keselamatan dari segala bentuk yang dapat menyiksa dan menjelekkan dunia dan akhirat. Rasulullah Saw telah mewasiatn dan menasahti peman beliau al-Abbas agar memohon keselamatan sebagaimana perkataan beliau Saw “Mohonlah keselamatan kepada Allah, jika kamu diberikan –keselamatan tersebut-, maka kamu mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat”.

· مُجْرِيَ السَّحَابِ : perjalanan awan dari satu arah ke arah yang lain dan dari satu daerah ke daerah yang lain Allah berfirman :

{ألم تر أن الله يزجي سحابا ثم يؤلف بينه ثم يجعله ركاما فترى الودق يخرج من خلاله}

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya” (Q.S An-Nur : 43)

· هَازِمَ الْأَحْزَابِ : yang dimaksud dengan الأحزاب (al-Ahdzab) para pemimpin kesesatan yang berkumpul dan bersekutu untuk membunuh Nabi Saw, peperangan terangan tersebut kemudian dikenal dengan nama perang Ahzab, Allah berfirman :

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (al-Ahdzab), mereka Berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Q.S Al-Ahzab : 22)

D. Kaidah Balagah Hadis

· الجنة تحت ظلال السيوف “Surga itu dibawah naungan pedang”: al-Qurthuby berkata; “ini merupakan kalimat yang sangat mengesankan didalamnya terkumpul segala bentuk perumpamaan dalam balagah baik dari segi keteraturan lafadhnya, kedalamanya, kebaikan cara peminjaman kata, dan mengandung makna yang sangat luas dengan menggunakan lafadh yang singkat diman para ahli bahasa dan ahli balagah tidak mempu untuk membentuk susunan kalimat yang sebanding dengannya, seabab dari singkatnya (kalimat) dapat diambil faidah tentang anjuran untuk berjihad kemudian menerangkan akan pahala yang akan diterima (jika ditegakkan). Hingga pada perkataannya –al-Qurthuby- : hal ini senanada dengan sabda Rasulullah Saw :

الجنة تحت أقدام الأمهات

“Surga Itu berada di bawah telapak kaki Ibu”

Dalam kalimat tersebut tyerdapat bentuk isti’arah (peminjaman kata) yang yang jelas, maka seorang yang berjihad dijalan Allah (Mujahid) masuk surga karena jihadnya (kesungguhannya) dan kesabarannya dalam menghadapi musuh dan menyayat mereka dengan pedang, hingga seolah-olah sayatan-sayatan (pedang) tersebut –karena sangat banyak- menjadi pelindung yang akan melindungi orang yang mengayunkannya (pedang).

* Di bawah naungan pedang terdapat surga Tuhanku

* dan angan-anganku di atas kepala para pendurhaka

· مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ : pada kalimat ini terkandung ilmu Badi’ (dalm Balagah) yang disebut dengan al-Saja’u al-Murshi’ yaitu terjadi keseimbangan antar kalimat yang banyak dalam bentuk timbangan (sharaf) dan jumlah, dan al-Saja’ tidak akan terjadi kecuali dalam bentuk yang banyak.

E. Penjelasan Hadis

Berjihad di jalan Allah merupakan Syiar Agama ini (Islam), kemulian dan benteng terkokoh umat ini, jadi tidak umat ini meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan terhina dan terbelakang, maka dari itu Jihad di dalam Islam merupakan kewajiban yang lazim yang harus ada demi kemuliaan, dan bahkan merupakan punjak amalan dalam Islam, di dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

من مات ولم يغز ولم يحدث نفسه بغزو مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang mati dan tidak berperang serta tidak meniatkan diri untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”

Tujuan jihad adalah untuk meninggikan kalimat Allah, menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia dimana seluruh syariat yang datang dari langit bertujuan untuk hal tersebut, dan mencegah tipu daya para musuh, maka dari itu Allah Swt memerintahakan untuk berjihad, menganjurkannya bahkan mewajibkannya Allah berfirman :

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (Q.S An-Nisa’ : 76)

Karena jihad merupakan kewajiban suci untuk memuliakan agama dan mengangkan tiangnya, maka dari itu sunnah Rasulullah Saw yang suci menjelaakan larangan untuk berharap bertemu dengn musuh, dan memerintahkan untuk bersabar ketika dalam peperangan, maka seorang muslim hendaknya memohon keselamatan dan pertolongan, dan tidak mencari bahaya dan fitnah (dosa), akan tetapi ketika tidak ada jalan untuk menghidari peperangan, maka ia harus bersabar dan tidak lari dari medan peperangan sebagaimana petrunjuk dari al-Qur’an yaitu firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Q.S al-Anfal: 45)

Allah juga berfiman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya. (Q.S Al-Anfal : 15-16)

Maka kesabaran sangatlah dibutuhkan ketika pedang berbenturan dan shaf percerai berai, dan ketenangan jiwa dalam menghadapi hal-hal yang dibenci, karena surga tidak akan didaptkan kecuali dengan kesabaran ketika dalam kesusahan dan ketabahan dalam menghadapi siksaan di jalan Allah, hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Q.S Ali Imran 142)

Dan Rasulullah Saw pernah berdo’a agar Allah memenangkanya atas musuh-musuh agama beliau berkata : “Ya Allah yang mewahyukan Kitab, menjalankan awan, menghancurkan pasukan, hancurkanlah mereka (para musuh) dan menangkanlah kami atas mereka”, maka dari itu diharuskan untuk bersiap kemudian kembali kepada Allah seraya memohon kemenangan dari-Nya

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Q.S Al-Hajj : 40)

F. Faidah Hadis

Terdapat beberapa faidah yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah Saw yang mulia ini daiataranya adalah :

  • · Jihad di jalan Allah merupakan punjak amalan tertinggi dalam Islam.
  • · Jihad yang di fahami dalam Islam adalah jihad yang tidak mengharapkan bertemu dengan musuh, tetapi jika telah bertemu, maka tidak dibenarkan untuk menghindar apalagi lari dalam medan perang (pengecut).
  • · Allah dan Rasul-Nya Saw menjenjikan kepada para Mujahid di jalan Allah Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
  • · Senantiasa memohon keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan kepada Allah Swt.
  • · Berjihad di jalan Allah bertujuan untuk menegakkan kalimat Allah (tauhid) di muka bumi, bukan untuk menguntungkan diri sendiri dan menyengsarakan manusia dan makhluk lainnya.
  • · Berjihad di jalan Allah dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang disertai dengan kesabaran dalam menghadaip segala bentuk kesukaran, akan mendapatkan janji surga dari Allah.
  • Surga hanya akan di dapat dengan kesabaran dan ketabahan di jalan Allah.
h1

Siapakah Ahli Hadis?

24 November 2008

Ahlu al-Hadis : adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap hadis-hadis Rasulullah Saw baik secara riwayat maupun dirayat, lalu mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya kemudian menyampaikannya dan quran_1024_768mengamalkannya. Mereka adalah orang-orang yang komitmen terhadap sunnah, menjauhi kebid’ahan dan ahlinya, mereka sangat jauh berbeda dengan dengan ahlu al-Ahwa’ (pengikut dan penyembah hawa nafsu) yang mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Rasulullah Saw yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-Hadis).

Allah ‘Azza wa jalla berfirman tentang bahayanya mendahulukan perkataan kebanyakan manusia ddi atas perkataan Allah dan Rasul-Nya Saw :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Q.S. Al-An’am : 116)

Yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah : menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-NyaI, dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah dan Rasul-NyaI, atau menyatakan bahwa Allah mempunyai anak dan sebagainya.

Tentang keutamaan ahlu al-hadis, para ulama shaleh terdahulu berkomentar, diantara mereka yang berkomentar adalah sebagai berikut :

ü Imam Khatib al-Bagdady pernah berkata kepada manusia yang hidup pada zamannya, yaitu pada tahun V masehi : “Mempelajari hadis pada zaman ini lebih afdhal dari seluruh ibadah-ibadah sunnah disebabkan karena telah hilangnya sunnah dan orang-orang tidak lagi bergairah untuk mempelajari dan megamalkannya, serta munculnya bid’ah dan ahli bid’ah serta menjadi penguasai zaman ini”.

ü Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Jika mereka (Ahlu Al-Hadis) bukan golongan yang selamat, maka siapa mereka?” kata serupa pernah diungkapkan oleh Yazid bin Harun, Abdullah bin Al-Mubarak, Ali bin Al-Madiny, dan Al-Bukhary.

ü Yazid bin Harun berkata : “Seandainya wali Allah bukan ahlu al-Hadis, maka saya tidak tahu siapa hamba dan wali-wali Allah itu ?”

ü Semakna dengan perkataan Yazid di atas, Sofyan Ats-Tsaury berkata : “Para Malaikat adalah penjaga langit dan ahlu al-hadis penjaga bumi”

ü Imam Syafi’i berkata : “Jika aku melihat salah seorang diantara ahlu al-Hadis, maka seolah-olah aku melihat salah seorang di antara sahabat-sahabat Rasulullah Saw” dan di dalam perkataan beliau yang lain : “maka seolah-olah aku melihat Rasulullah Saw hidup”.

ü Imam Ahmad pernah berkata di tempat lain : “Tidak satu kaum pun menurut saya lebih baik dari ahlu al-Hadis, mereka tidak mengetahui kecuali hadis dan mereka yang paling afdhal berbicara tentang agama ini (Islam)”

ü Imam Abu Daud berkata : “Seandainya bukan karena kelompok ini (ahlu al-Hadis), maka sungguh Islam telah hilang”

ü Harun Ar-Rasyid seorang khalifah yang berkedudukan di Bagdad pernah berkata : “Saya mencari 4 hal dan saya menemukannya pada 4 kelompok : (1). Saya mencari kekufuran, maka saya mendapatkannya pada Jahmiyyah. (2). Saya mencari Ilmu Kalam dan perdebatan, maka saya mendapatkannya pada Mu’tazilah. (3). Saya mencari kebohongan, maka saya mendapatkannya pada Rafidhah (Syi’ah). Dan (4). Saya mencari kebenaran (Al-Haq), maka saya menemukannya pada Ahlu Al-Hadis.

Terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari ayat dan petikan-petikan perkataan para ulama shaleh terdahulu di atas, diantaranya adalah :

ü Bahwa jika pada masa Imam Khatib al-Bagdady kebid’ahan telah muncul dan menguasai kehidupan manusia, kemudian mempelajari hadis pada masa itu merupakan sesuatu yang lebih afdhal dari ibadah-ibadah sunnah, maka mempelajari hadis pada zaman kita sekarang sangat lebih afdhal lagi, karena zaman kita adalah zaman edan, materialis, hedonis, konsumtif, fitnah dan zina terdapat pada hampir disetiap pijakan kaki kita, kekufuran, kebid’ahan, dan kedustaan dapat kita temukan di setiap sudut masjid-masjid, pasar-pasar, bahkan di emperan-emperan kelas kampus, bahkan menjadi penguasa yang seolah tak terbantahkan.

ü Ketika seorang penuntut ilmu syar’i ingin berdakwah baik dalam bentuk nasehat atau fatwa, maka hendaknya menjauhkan diri dari perkataan dan ungkapan-ungkapan ahlu al-Ahwa’ dan ahlu al-Bid’ah, sebab dibalik semua perkataan mereka adalah kesesatan yang sangat nyata, karena sarat dengan prasangka belaka.

ü Sebaik-baik ungkapan dan perkataan adalah perkataan bijak yang dilandasi dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

ü Jika anda adalah seorang pencari kebenaran, maka janganlah mencari kebenaran kepada kaum filosofi dan sufi, sebab dibalik ajaran mereka terkubur fatamorgana yang tak dapat ditemukan hakikat keberadaannya, seorang ulama terkemuka yang pernah mendalami kedua ilmu tersebut bahkan pernah menjadi ulama dialah Imam Al-Ghazaly, pernah berkata : “Aku telah meminum seluruh lautan filsafat dan tasawwuf, tetapi akau tidak menemukan kebenaran sedikit pun di dalam kedua ilmu tersebut kecuali hanya fatamorgana belaka, dan ternyata kebenaran itu terdapat di dalam Al-Qur’an dan di dalam kitab yang ada di dadaku saat ini (pada saat itu kitab yang di letakkan di atas dada beliau adalah Shahih al-Bukhary)”. Maknanya bahwa al-Haq hanya dapat ditimba dari bejana-bejana ahlu al-Qur’an dan al-Hadis. Wallahu A’lam.


h1

HUKUM ISLAM

24 November 2008

PENDAHULUAN

Islam merupakam sumber hukum dan pemikiran dimana Rasulullah hidup selama tiga belas tahun di Mekkah untuk menyiarkan dan mengingatkan kepada pemduduk Mekkah pada masa itu untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan segala macam bentuk sesembahan kepada selain-Nya, kemudian datang fase madinah dimana Rasulullah menegakkan pilar-pilar hukum Islam yang berdiri dan tegak di atas fondasi utama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, pada masa inilah hukum Islam terlembagakan dibawah pimpinan seorang rasul yang mulia penutup para nabi Muhammad Saw.

Setelah meninggalnya sang nabi akhir zaman dan penyempurna seluruh risalah Allah di muka bumi kemudian Allah memilih empat diantara para sahabat beliau untuk meneruskan risalah yang mulia ini dan menegakkan seluruh hukum-hukum yang terkandung di dalamnya mereka adalah Abu Bakar, Umara bin al-Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi thalib –semoga ridha Allah senantiasa terlimpahkan kepada mereka- yang pada masa mereka terbentuklah beberapa kaidah-kaidah hukum dan perundang-undangan Islam yang bernaung dibawah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Pasca runtuhnya sistem kekhalifahan yang ditandai dengan runtuhnya khilafah Ustmaniyah di Turki bukan berarti pilar-pilar hukum Islam runtuh bersamanya, akan tetapi ia terus maju siring dengan kemajuan zaman, pemikiran dan teknologi hal ini dapat dirasakan dengan hadirnya berbagai kitab-kitab hukum dan perundang-undangan sekalipun berbentuk pemahaman mazhab.

Menurut Prof.Dr. Muhammad Yusuf Musa perkembangan pemikiran hukum dalam Islam dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu:

I. Fase Pertumbuhan: masa pertumbuhan sepanjang hidup Rasulullah mulai dari pengangkatannya dan berakhir pada wafatnya, ahun 11 Hijriyah dan berlangsung 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.

II. Fase Muda Remaja: masa sahabat dan senior tabi’in yang berlangsung sampai awal abad II Hijriyah

III. Fase Kematangan dan Kesempurnaan: disebut dengan fase tadwin (kegiatan karya ilmiah) dan munculnya imam mujtahidin yang senior dan berakhir pada pertengahan abad IV Hijriyah

IV. Merupakan masa tua sekali: masa taqlid yang sangat memprihatinkan hingga kini meskipun masa ini tidak pernah kosong daripada mujtahid mutlak atau khusus pada suatu mazhab yang telah populer hingga kini.[1]

Berdasarkan penuturan Prof. Dr. Muhammad Yusuf Musa di atas, kita dapat mengemukkan beberapa hal yang kemudian akan menjadi konsentrasi pembahasan dalam urutan unataian-untaian kaliamat pada makalah ini yaitu; bagaiamanakah bentuk pelembagaan hukum syariat pada masa Rasulullah, sahabat, tabi’in dan Atba’ at-Tabi’in?

Read the rest of this entry ?

h1

Keutamaan Mempelajari Hadis Nabi Saw

24 November 2008

Diantara keutamaan-keutamaan mempelajari ilmu hadis Rasulullah I adalah :

  • Bahwa wajah para penuntut ilmu hadis beseri-seri, sebahagian ulama mengatakan di dunia dan sebahagian lagi mengatakan di akhirat.

Rasulullah I bersabda :

نَضَّرَ اللهُ امْرِإٍ سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَاعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا. (رواه الترمذي، ابن ماجه ، وأحمد فى المسند)

Artinya : Allah akan membuat wajah mereka yang mendengarkan perkataanku, kemudian memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya (H.R Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Sufyan Ats-Tsury berkata : “Tidaklah seseorang yang menuntut ilmu hadis kecuali wajahnya berseri-seri disebabkan do’a dari Rasulullah I

  • Orang yang paling banyak bershalawat kepada Rasulullah I adalah orang yang menuntut ilmu hadis.

Khathib al-Bagdady dari Abu Nu’aim ia berkata : ” Keutamaan yang mulia ini dikhususkan bagi perawi dan penukil hadis karena tidak diketahui sati dari golongan ini yang lebih banyak bershalawat dari mereka itu baik dari ucapan maupun tulisan”

  • Mempelajari hadis memberikan manfaat di dunia dan akhirat.

Sufyan ats-Tsaury berkata : “Mendengarkan hadis adalah kemuliaan bagi mereka yang menginginkan dengannya dunia, dan merupakan petunjuk lurus bagi yang menginginkan dengannya akhirat.”

4. Mempelajari hadits termasuk ibadah yang paling afdhal.

Sofyan ats-Tsaury berkata : “Saya tidak mengetahui amalan yang afdhal di muka bumi ini dari mempelajari hadis yang menginginkan wajah Allah (Ikhlas)”.

  • Mempelajari dan meriwayatkan hadis lebih afdhal dari berbagai macam ibadah-ibadah sunnah.
  • Waqi’ berkata : “Seandainya meriayatkan hadis tidak lebih afdhal dari tasbih, maka saya tidak meriwayatkna hadis”
h1

WAHYU (Sumber Ilmu dan Pemikiran)

24 November 2008

Mengapa wahyu dijadikan sebagai sumber ilmu dan pemikiran dalam Islam? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pedoman hidup seorang muslim adalah Alquran dan Sunnah, yang keduanya merupakan wahyu Allah Azza Wa Jalla yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Secara tegas Allah Swt menyatakan bahwa Alquran diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa sesuai dengan firman Allah Swt :

“Itulah Al-Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan di dalamnya yang menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.” ( QS. 2 : 2 )

Alquran juga diturunkan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, ia juga merupakan penjelas atas segala sesuatu, menjadi pembeda antara yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kesesatan) dan juga menjadi petunjuk yang lurus.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan bagi petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” ( QS. 2 : 185)

Wahyu datang untuk memberikan gambaran yang benar tentang alam, kehidupan dan manusia. Kedatangan wahyu untuk membangun Aqidah atau keyakinan yang benar dan untuk mewujudkan insan yang shaleh baik secara individu maupun sosial, karena itu, wahyu banyak membicarakan tentang alam ghaib. Wahyu dapat menjawab permasalahan manusia yang tidak dapat diselesaikan oleh indera, akal, filsafat dan tasawuf. Wahyu dapat menyelesaikan persoalan tertentu yang jika diserahkan sepenuhnya kepada manusia tanpa wahyu akan menjadi ajang pertarungan sesama manusia sehingga timbul kekacauan, yang berakibat pada timbulnya penderitaan, kehancuran dan kenestapaan.

Selain itu Islam dengan Alquran dan Sunnah, merupakan Diin (Agama) yang memiliki karakteristik tertentu, yang tidak dimiliki oleh agama lain atau ideologi apapun di muka bumi ini, sehingga wajar jika seorang guru besar filsafat pada University of Franch, Prancis. Setelah melalui pengembaraan panjang dalam berbagai ideologi dan agama yang akhirnya masuk Islam mengatakan :

“Saya menjadi seorang Muslim yang mendapatkan suatu kemuliaan istimewa dalam agama ini, yang dibutuhkan bagi kemanusiaan. Islam tidak memisahkan antara Iman, Ilmu dan Tekhnologi, tetapi menghimpun ketiganya dalam kesatuan yang tak terpisahkan.” Setelah itu Ia tegaskan kembali “Tidak perlu lagi melakukan pengulangan pemutusan.” (Prof. Dr. Roger Garaudy)

Syaikh Yusuf Hathy berkata :

“Nikmat dan rahmat yang paling besar dan paling mulia yang diberikan Allah kepada kita adalah bahwasanya Allah tidak pernah meninggalkan sesuatu yang kita inginkan sedikitpun kecuali telah Allah sebutkan di dalam Alquran, maka bagiNya segala pujian dan syukur.”

Karakteristik di atas sekaligus menggambarkan keistimewaan Islam yang dijelaskan oleh wahyu itu sendiri, menurut para ulama diantara keistimewaan Islam itu adalah :

1. Rabbaniyyah (Bernilai ketuhanan)

Islam adalah satu-satunya agama Allah Swt yang datang dari Rabbul-Izzati, satu-satunya agama yang benar yang diakui disisi-Nya. Ia merupakan pedoman hidup manusia, bukan buatan dan bualan manusia. Firman Allah :

“Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah, hanyalah islam.” (QS. 3:19)

Pada ayatNya yang lain Dia (Allah) berfirman:

“Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam menjadi agamamu.” (QS. 5 : 3)

2. Syumuliyyah (Komprehensif)

Islam adalah diin (agama) yang mencakup segala aspek kehidupan, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan alam fisik, baik yang ada di bumi maupun di angkasa. Tidak ada satu aspek pun dari kehidupan ini terlewatkan. Aspek tersebut ada yang diselesaikan secara global, secara rinci, ada juga berupa isyarat (implisit) dan ada yang eksplisit (jelas), serta ada yang berupa kisah atau tamsil yang sarat dengan ibrah (pelajaran) dan hikmah. Sebagaimana firman Allah :

“Dan Kami telah menurunkan Alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu. Dan sebagai petunjuk dan rahmat serta berita gembira bagi orang yang menyerahkan diri ” (QS. 16 : 89)

3. Insaniyyah (Manusiawi)

Islam diberlakukan oleh Allah untuk seluruh manusia, bukan hanya kepada kaum atau bangsa tertentu meskipun sebagian manusia ada yang tidak menggunakannya sebagai petunjuk. Ini merupakan persoalan lain dan menjadi kesalahan sendiri. Allah SWT berfirman :

“Tidaklah Kami mengutusmu kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. 21 : 107)

4. Ashalah (Orasinalitas)

Islam dengan kitabnya Alquran, senantiasa akan terjaga keasliannya, Allah yang akan menjaga keasliannya. Ini terbukti dalam sejarah selama 14 abad lebih, Alquran tidak berubah sama sekali, bila ada kekeliruan atau pemalsuan, maka akan segera diketahui.

Allah telah banyak menghadirkan para Huffadz (orang-orang yang hafal Alquran). Mereka ahli dalam memahami, menghayati, memperjuangkannya dan senantiasa mengamalkannya sehingga berperan besar dalam menjaga orisinalitas Alquran. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. 15 : 9)

5. Whudhuh (Jelas)

Ajaran Islam sangat tegas dan jelas dalam menerangkan segala sesuatu, perihal yang prinsip dan penting atau hal-hal yang rawan bagi kehidupan, Islam telah menjelaskannya dengan gamblang dan sistematis. Allah berfirman :

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.” (QS. 5 : 15)

6. Tawazun (Keseimbangan)

Ketika melihat dan meletakkan suatu persoalan, Islam selalu melakukannya secara jelas, proporsional, adil, dan tidak ekstrim. Yakni berada antara realitas dan idealisme, antara hal yang tetap dan berubah. Allah SWT berfirman :

“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang maha pemurah itu, sesuatu yang tidak seimbang, maka lihatlah berulang-ulang adakah sesuatu yang tidak seimbang ?.” (QS. 67 : 3)

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwasanya bila seorang muslim ingin mengetahui seluk beluk dari pada langit dan bumi dan seluruh apa yang terdapat di dalam keduanya serta ingin mendalami orisinalitas Islam dengan benar serta mengamalkan seluruh apa yang telah diatur oleh pemilik agama yang mulia ini, maka tiada jalan baginya kecuali kembali untuk mengkaji dan memahami wahyu yang telah diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Saw yaitu Alquran dan Sunnah Shahihah (Sunnah atau Hadis yang benar) yang didalamnya tidak terdapat kekurangan dan kekeliruan sedikitpun sampai masalah yang paling terkecil yang tidak pernah dirambah oleh otak manusia sekalipun, telah dijelaskan secara lugas, tegas, jelas, berimbang dan sistematis oleh kedua wahyu tersebut. Wallahu A’lam

%d blogger menyukai ini: