h1

METODE TAFSIR MAUDHU’Y SEBAGAI METODE PENELITIAN ILMIAH

4 Januari 2011

Pendahuluan

Perhatian umat Islam pada abad XV H terhadap al-Qur’an tampak semakin besar. Hal itu tampak dari berbagai gagasan yang dilontarkan oleh para ulama, baik dalam bentuk seruan untuk kembali melakukan telaah ulang terhadap kitab-kitab klasik termasuk diantaranya kitab-kitab tafsir peninggalan para ulama terdahulu yang bertujuan untuk menggali konsep-konsep Qur’aniyyah bahkan upaya merumuskan metodologi penggalian kandungan al-Qur’an dalam rangka mewujudkan sebuah metodologi tafsir.[1]

Dalam memahami al-Qur’an dibutuhkan pengetahuan terhadap metodologi dan keragaman tipologi penafsiran al-Qur’an, sebab ia merupakan sebuah keniscayaan dalam membumikan maksud-maksud wahyu Ilahi kepada manusia.

Metode tafsir lebih merupakan sebuah kerangka atau kaidah-kaidah yang digunakan dalam melakukan penafsiran dan penggalian terhadap makna dan kandungan ayat-ayat al-Qur’an.[2]

Melakukan rekonstruksi rumusan metodologi tafsir al-Qur’an untuk dapat memenuhi kebutuhan umat baik secara ilmiyah maupun amaliyah menjadi sebuah keniscayaan dimana rumasan-rumasan tafsir terdahulu secara metodologis dalam pandangan sementara pakar masih kurang relevan. Misalnya Syaikh Muhammad Al-Ghazaly mengeluhkan sikap kebanyakan mufassir yang memfokuskan perhatian mereka dalam menafsirkan al-Qur’an hanya pada ranah fiqih semata dengan mengabaikan dimensi lain dari kandungan al-Qur’an seperti masalah-masalah kehidupan sosial-politik, budaya, pendidikan dan aspek-aspek lainnya yang sudah barang tentu baik secara eksplisit maupun inplisit terkandung dalam teks-teks suci al-Qur’an.[3] Al-Farmawy sendiri mengeluhkan bahwa karya-karya tafsir para ulama terdahulu lebih banyak memfokuskan pembahsannya pada rincian-rincian diskursus ilmu kalam, mazhab-mazhabnya,dan pendapat aliran-alirannya. Sebahagian lain memfokuskan pembahasan pada wilayah fiqhi, balagah dan bahasa, sementara apa yang kita cari dan kita butuhkan dari al-Qur’an sendiri tidak banyak dijelaskan sehingga karya-karya mereka tidak banyak membantu kita untuk sampai pada tujuan diturunkannya yaitu sebagai hudan li al-Nasi wa Syifaun lima fi al-Sudur wa Bayinatin min al-Huda wa al-Furqan (petunjuk bagi manusia dan penawar bagi hati yang lara, serta penjelas atas petunjuk dan pembeda antara yang haq dan bathil).[4]

Terlepas  dari sepakat atau tidaknya kita dari keluhan para pakar di atas terhadap metodologi penafsiran masa lalu, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa karya-karya tafsir para ulama terdahulu lebih banyak menampilkan detil-detil sastra dan tata bahasa, diskursus kalam, diskursus fiqhi, diskursus tasawwuf yang dikemas secara analitik, sementara problematika kehidupan masyarakat kian hari kian meningkat dan semakin kompleks, dan kemampuan analisis bahasa dan sastra, diskursus kalam, diskursus fiqhi, dan diskursus tasawwuf dan ketajamannya semakin terbatas dan tumpul.

Kenyataan ini menuntut adanya metodologi baru dalam memahami kandungan al-Qur’an untuk dapat menjawab segala bentuk problematika dan kebutuhan hidup manusia saat ini, sehingga para pakar memandang pentingnya penafsiran al-Qur’an secara tematik guna mengungkap berbagai sisi-sisi kandungan al-Qur’an untuk dapat memberikan jawaban atas segala problematika kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya.

Penafsiran al-Qur’an secara tematik ini kemudian disebut dengan istilah metode maudhu’y yang memiliki acuan dan teknik penerapannya sendiri. Metode ini tidak bersifat parsial namun merupakan pelengkap dari seluruh bentuk metode penafsiran terdahulu dengan menggunakan seluruh bentuk pisau analisis guna menemukan jawaban dari berbagai aspek persoalan kehidupan manusia di alam raya ini dari sumber terpecaya yaitu al-Qur’an.

Jika demikian, lalu apa yang dimaksud dengan metode Maudhu’y atau tematik dalam penafsiran al-Qur’an?, Apakah metode ini telah melampau lintasan sejarah dalam metode penafsiran?, Bagaimanakah metode ini dapat diterapkan dalam menafsirkan dan menguak isi kandungan al-Qur’an yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia?, Apakah penafsiran Al-Qur’an dengan metode ini memiliki bentuknya tersendiri?, dan Apa keistimewaan yang dimiliki oleh metode ini?

Defenisi Metode Taafsir Maudhu’y

Kalimat “Metode Tafsir Maudu’y” terdiri dari tiga rangkaian kata yaitu “Metode”, “Tafsir” dan “Maudu’y”, ketiga kata ini akan didefinisikan secara terpisah dari dua sudut pendefenisian yaitu etimologi dan terminology.

Kata “Metode” secara etimologi berasal dari kata Yunani methodos, merupakan sambungan kata meta yang berarti menuju, melalui, atau mengikuti dan kata hodos yang berarti jalan, cara, atau arah. Dengan demikian maka kata methodos berarti: pengkajian, metode ilmiah, uraian ilmiah, yaitu cara bertindak menurut sistem aturan tertentu atau suatu cara dalam mengerjakan sesuatu obyek.[5]

Kata Tafsir secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang seacara morfologis berakar kata dengan huruf-huruf ف, س, dan ر yang bermakna dasar “(بان) keadaan nyata dan jelas”. Dengan penambahan huruf س maka bentuk kata kerjanya adalah فَسَّرَ – يُفَسِّرُ yang bermakna memberikan penjelasan.[6] Al-Zubaydy menyatakan bahwa kata الفَسْرُ artinya الإِباَنة وَكَشْفِ الْمُغَطَّى menyatakan kejelasan sesuatu dan membuka (untuk menjelaskan) sesuatu yang tertutup.[7] Kata tafsir merupakan bentuk masdar dari kata kerja tersebut yang secara leksikal bermakna “mengungkapkan masud lafdh yang musykil”[8]. Dari sudut terminologisnya para ulama tidak memiliki kesepadanan pendapat dalam memberika pengertian istilah Tafsir disebabkan karena perbedaan pendekatan yang mereka gunakan.[9] Namun dengan demikian dapat dirumuskan bahwa Tafsir secara terminologis adalah “Ilmu yang didalamnya membahas tentang Al-Qur’an dari sudut dalalahnya yang sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah Swt berdasarkan kemampuan manusia dalam memahaminya”.[10]

Berdasarkan defenisi ini dapat diturunkan beberapa hal; 1) Tafsir adalah suatu ilmu yang menjadikan al-Qur’an sebagai obyek dan sumber kajian; 2) Kajian yang menjadi obyek utama dalam tafsir adalah menguak tabir dala>lah (petunjuk) yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an; 3) Tafsir merupakan pengkajian yang dilakukan oleh manusia berdasarkan kemampuannya yang terbatas; 4) Tafsir bertujuan untuk menguak tabir dari maksud, tujuan, dan petunjuk dari perkataan Allah swt yang terdapat di dalam al-Qur’an.

Berdasarkan turunan defenisi terminologis tafsir di atas, maka untuk keperluan oprasional dapat ditarik sebuah istilah bahwa tafsir adalah “Upaya manusia dalam mengkaji atau meneliti kandungan Al-Qur’an”. Dengan defenisi ini, maka tafsir dapat dipandang sebagai metode ilmu, yaitu suatu cara manusia dalam menemukan pengetahuan yang diperlukannya untuk menghadapi lingkungan hidup dan masalahnya.[11]

Kata Maudu’y secara etimologi berasal dari kata وَضَعَ yang secara morfologisnya berakar kata dengan huruf-huruf و, ض, dan ع yang bermakna dasar “(الخفض للشيئ وحطه) menurunkan sesuatu dan meletakkannya”.[12] al-Jurja>ny menyatakan bahwa kata وَضَعَ secara leksikal berarti “menjadikan suatu lafadh sesuai dengan pemaknaannya” dan secara terminologis bermakna “Mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu yang lain ketika disebutkan secara mutlak atau diperhatikan”.[13] Kata Maudhu’y merupakan bentuk isim maf’ul dari kata kerja وَضَعَ yang bermakan: “Judul, tema, topik buatan”.[14]

Berdasarkan defenisi-defenisi leksikal dia atas baik  secara etimologi maupun terminologis dari seluruh kata, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “Metode Tafsir Maud}u’y” adalah: “Upaya manusia dalam meneliti dan menelusuri seluruh aspek makna, tujuan dan petunjuk al-Qur’an[15] dalam satu tema[16] guna menjawab berbagai persoalan dengan menjadikan prosedur metode penelitian ilmiah sebagai acuan”[17]

Dalam sejarah perjalan tafsir, ditemukan bahwa jauh sebelum dirumuskannya metode-metode penafsiran, Rasulullah Saw telah terlebih dahulu memberikan contoh aplikatif tentang penafsiran al-Qur’an dengan metode maudu’y sekalipun istilah ini belum dikenal pada masa tersebut. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa rumusan metode tafsir ini menjadikan metode Rasulullah Saw sebagai landasannya dengan menjadikan metode pengkajian ilmiah sebagai acuan penelitiannya. [h. 15]

Cara Kerja Tafsir Maudhu’y

Diantara cara kerja atau langkah-langkah prosedural yang ditawarkan oleh para pakar, penulis memandang bahwa rumusan Abd Muin Salim memiliki kesesuaian dengan metode penelitian ilmiah. Adapun rumusan langkah-langah  prosedural penerapan tafsir dengan metode maudhu’y yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan masalah yang akan dikaji.
  2. Mengadakan penelitian pendahuluan untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep dan kerangka teori yang akan dijadikan sebagai acuan pembahasan yang akan dikaji.
  3. Menyusun hipotesis (jika diperlukan)[18]
  4. Menghimpun data yang relevan dengan masalah yang akan dikaji, baik berupa ayat-ayat al-Qur’an ataupun hadis-hadis Nabi saw, serta data lain yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang akan dikaji.[19]
  5. Menyusun ayat-ayat menurut tertib turunya surat, diaman surat-surat makkiyah kemusian madaniyyah, yang betujuan untuk mendapatkan gambaran perkembangan gagasan Qur’a>ny yang diteliti.[20]
  6. Menafsirkan kosa-kata, frase, kalusa dan ayat-ayat dengan menggunakan teknik-teknik interpretasi (tafsir).[21]
  7. Membahas seluruh konsep yang telah diperoleh dan mengaitkannya dengan kerangka acuan yang dipergunakan.
  8. Menyusun hasil penelitian menurut kerangka yang telah dipersiapkan dalam bentuk laporan hasil penelitian (karya tafsir).[22]

Bentuk-bentuk Tafsir Maudhu’y

Terdapat tiga bentuk tafsir dengan menggunakan metode maudu’y yaitu; pertama, menafsirkan al-Qur’an dalam satu tema tertentu berdasarkan tema-tema pokok dalam al-Qur’an dengan menghimpun seluruh ayat dari berbagai surat; kedua, menafsirkan salah satu surat al-Qur’an dengan cara mengungkapkan tema sentral dari surat tersebut dan menghubungkannya dengan ayat-ayat yang terdapat didalamnya sehingga bagian awal surah sebagai pendahuluan, bagian tengah surah sebagai penjelas dan bagian akhir dari suraht tersebut sebagai pengukuh (tasdiq); ketiga, menafsirkan al-Qur’an berdasarkan lafaz (tafsir al-Qur’an bi dalalah al-Lafzi) dengan cara mengumpulkan seluruh lafaz} yang memiliki kesamaan semantik morfologis, kemudian menafsirkannya berdasarkan makna yang digunakan oleh al-Qur’an itu sendiri.

Keistimewaan Metode Tafsir Maudhu’y

Terdapat beberapa keistimewaan dari metode tafsir maudhu’y diantaranya:

  1. Metode maud}u>’y merupakan terobosan yang efektif dan inovatif untuk menggali pesan-pesan al-Qur’an secara utuh.[23]
  2. Metode ini membuka peluang bagi para spesialis dari seluruh bidang ilmu untuk mengkaji al-Qur’an berdasarkan spesialisasi mereka secara mendalam.[24]
  3. Metode ini dapat menangkap makna, petunjuk, keindahan (kemu’jizatan), dan kefasihan al-Qur’an.[25]
  4. Metode ini dapat menghilangkan kesan kontradiktif atar ayat dalam al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut dapat dikompromikan dalam satu kesatuan yang harmonis.[26]
  5. Metode ini disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan berbagai persoalan yang timbul. Kondisi semacam ini sangat sesuai dengan kehidupan umat hari ini yang semakin modern dengan mobilitas tinggi.
  6. Metode ini menjadikan al-Qur’an senantiasa dinamis sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga menimbulkan image bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan strata sosial.[27]
  7. Metode ini dapat memenuhi apa yang tidak dapat dipenuhi oleh metode-metode tafsir yang lain dalam menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan al-Qur’an.
  8. Kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami, karena ia  membawa para pembaca kepada petunjuk al-Qur’an tanpa harus mengemukakan pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu.[28]
  9. Metode ini membantu memahami ayat-ayat al-Qur’an secara utuh.

10.  Metode ini menjadikan prinsip-prinsip metode penelitian ilmiah modern sebagai acauan penerapannya yang tidak berseberangan dengan prinsip-prinsip Qur’aniyyah dan al-Risalah al-Nabawiyyah.

Penutup

Metodologi penelitian tafsir sebagaiamana metodologi penelitian disiplin ilmu lainnya akan terus berkembang seiring perkembangan zaman dan kebutuhan umat manusia dalam menemukan berbagai jawaban-jawaban Qur’any atas berbagai persoalan kehidupan.

Untuk saat ini metode maudhu’y dipandang sangat relevan dari metode-metode tafsir lainnya dalam menemukan petunjuk-petunjuk Ilahiyyah (al-Hidayah al-Ilahiyyah) diantara teks-teks al-Qur’an tentang berbagai problematika kontemporer, apalagi metode maudhu’y ditopang dan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penelitian ilmiah modern yang tidak berseberangan dengan prinsip-prinsip Qur’aniyyah dan Risalah al-Nabawiyyah.

Wa-l-Hasil, siapapun yang hendak menemukan berbagai jawaban atas problematika yang dihadapinya dari teks-teks al-Qur’an seyogyanya dapat memahami dan menjalankan secara amanah dan ilmiah metode maudhu’y sebab metode ini tidak hanya dapat dijalankan oleh para peneliti tafsir yang mendedikasikan dirinya pada studi al-Qur’an secara akademis, tetapi juga dapat dijalankan dengan mudah oleh para peneliti muslim yang berkecimpung dalam bidang studi lainnya.


[1] Abd. Muin Salim, Metodologi Tafsir; Sebuah Rekonstruksi Epistemologis; Memantapkan Keberadaan Ilmu Tafsir Sebagai Disiplin Ilmu. (Orasi Pengukuhan Guru Besar dihadapan Rapat Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Ujungpandang, pada tanggal 28 April 1999), 2.

[2] Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 2.

[3] Muhammad al-Ghazaly, Kaifa Nata’amalu Ma’a al-Qur’an (Kairo: Dar al-Ma’arif, T.Th), 2.

[4] Abd Hayy al-Farmawy, Metode Tafsir Maudhu’i dan Cara Penerapannya, diterj. Rosihon Anwar. (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 6.

[5] Taliziduhu, Reseach (Jakarta: Bina Aksara, 1985), Jld. 1, 33.

[6] Abd. Muin, Metodologi..…, 7.

[7] Muhammad Murtada al-Husainy al-Zubaidy, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus. (Kuwait: Matba’ah Hukumah, 1394 H/1973 M), Jld. XIII, 323.

[8] Al-Dhahabu, al-Tafsir wa al-Mufassirun…….I; 5.

[9] Abd. Muin, Metodologi……, 6.

[10] Jam’ah ‘Aly ‘Abd al-Qadir, Zad al-Raghibina fi Manahij al-Mufassirin. (Kairo: Jami’ah al-Azhar, 1407 H / 1986 M), 1. Lihat juga: Hasan Ayyub, al-Hadith fi ‘Ulum al-Qur’an wa al-H{adith. (Kairo: Dar al-Salam, 1425 H / 2004 M ), 132. Bandingkan dengan: Zahir bin ‘Awad al-Alma’y, Dirasat fi al-Tafsir al-Maudhu’y. (Riyadh: Ttp, Tth), 7. Bandingkan pula dengan: Muhammad H{usain al-Dhahaby, ‘Ilm al-Tafsir. (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1119 M), 6. Lihat pula. Mus}t}afa Muslim, Mabahith fi al-Tafsir al-Maudu’y. (Damaskus: Dar al-Qalam, 1421 H / 2000 M), 15.

[11] Abd. Muin, Metodologi……, 8. Masudnya adalah bahwa tafsir merupakan bentuk dan cara dalam upaya manusia mendapatkan pengetahuan yang bersumber dari pengkajian ayat qauliyyah berhadapan dengan metode pengkajian lainnya yang mengaji fenomena-fenomena kauniyyah. Dalam hal ini seseorang yang menemukan masalah dalam kehidupannya dapan mencari solusinya dari al-Qur’an dengan menempuh prosedur pengkajian yaitu; a) Adanya Masalah; b) Berfikir; c) mengajukan hipotesis; d) mengemukakan data; e) melakukan konfirmasi data; f) menyimpulkan hasil. Lihat: Ibid., 17.

[12] Ahmad bin Faris bin Zakariya, Abu al-Husain, Mu’jam Maqayis al-Lughah. (Beirut: Dar al-Fikr, T.Th), Jld. VI, 117.

[13] ‘Aly bin Muhammad al-Syarif al-Jurjany, Kitab al-Ta’rifat. (Beirut: Maktabah al-Bannan, 1985 M), 273.

[14] Lois Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam. (Beirut; Dar al-Masyriq, 1973), 1004.

[15] Maksdunya adalah seluruh aspek kesamaan makna dan tujuan dari ayat-ayat al-Qur’an baik yang terdapat dalam satu surah maupun yang terdapat dalam berbagai surah yang terpisah.

[16] Tema yang dimaksudkan dalam pernyataan ini bersifat fleksibel, artinya bahwa tema tersebut bisa dalam bentuk tema dalam satu surat tertentu dari surat-surat dalam al-Qur’an, atau tema dalam permasalahan tertentu.

[17] Metode Ilmiah yang dimaksdukan adalah metode penelitain dan pengkajian dengan menggunakan kuncinya: (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan teori, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematis, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, dan (l) kontemplatif. Lihat: Muhammad Zulkarnain Mubhar, Metode Memperoleh Pengetahuan Ilmiah; Sebuah Tinjauan Filosofis (Surabaya: Makalah S2, IAIN Sunan Ampel, 2010.), 15. Dengan demikian bahwa metode ilmiah harus melalui langkah yang disebut logico-hypothetico-verivicartive. Lihat. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 32-33.

[18] Hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh dari penyusunan kerangka pikiran, berupa preposisi deduksi, yaitu membentu preposisi yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya. Lihat. Soetriono dan Rita Hanafi, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2007), 159.

[19] Tafsir dalam pandangan Abd Muin Salim termasuk penelitian kualitatif, karenanya data yang dibutuhkan pun adalah data kualitatif yang dapat berbentuk Nas} al-Qur’an, Nas} al-Sunnah dan Hadith, Athar sahabat, data sejarah semasa turunnya al-Qur’an, pengertian-pengertian bahasa dan lafaz} al-Qur’an, kaidah-kaidah bahasa, kaidah-kaidah istimba>t}, kaidah-kaidah berfikir dan teori-teori ilmu yang relevan. Sebelum menggunakan data-data yang berhubungan dengan sejarah, maka diperlukan proses pemeriksaan terlebih dahulu dengan menggunakan metode kritik sejarah. Lihat. Abd Muin, Metodologi….(Footnote 72), 32.

[20] Menurutnya, pendekatan ini adalah pendekatan kornologis. Adapun untuk pendekatan sistematis, maka urutan yang digunakan adalah berdasarkan urutan surat-surat dalam mus}h}af al-Qur’an untuk dipelajari agar mengahsilkan pengetahuan sistematis rasional terhadap gagasan qur’a>ny. Lihat. Ibid.

[21] Teknik-teknik interpretasi yang dirumuskan oleh Abd Muin Salim ada delapan teknik yaitu; 1) Tekstual, yaitu obyek yang diteliti ditafsirkan dengan menggunakan teks-teks al-Qur’an atau dengan teks-teks hadis Nabi Saw; 2) Linguistik, yaitu ayat al-Qur’an ditafsirkan dengan menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan yang meliputi: semantik etimologis, semantik morfologis, semantik leksikal, semantik gramatikal, dan semantik retorikal; 3) Sistematik, pengambilan  makna kandungan ayat (termasuk klausa dan frase) berdasarkan kedudukan dalam ayat, diantara ayat-ayat, atau pun di dalam surah; 4) Sosio-Historis, yaitu ayat ditafsirkan dengan menggunkan sebab turunnya ayat; 5) Teologis, menafsrikan ayat dengan menggunakan kaidah-kaidah fiqhi; 6) Kultural, yaitu data yang dihadapi ditafsirkan dengan pengetahuan yang mapan yang mengacu pada sebuah asumsi bahwa pengetahuan yang benar tidak bertentangan dengan Al-Qur’an; 7) Logis, yaitu penggunaan prinsip-prinsip logika dalam memahami kandungan al-Qur’an; dan 8) Interpretasi Ganda, yaitu menggunakan dua atau lebih teknik interpretasi terhadap sebuah obyek dengan tujuan untuk pengayaan, dan sebagai kontrol dan verifikasi hasil interpretasi, sehingga metode ini memiliki ciri koreksi internal. Lihat. Ibid., 33-36.

[22] Ibid., 31-32.

[23] Roem Rawi, Ragam Penafsiran Al-Qur’an. (Surabaya: Lembaga Pendidikan Ilmu Al-Qur’an, 2001), 50

[24] Al-Alma>’y, Dira>sa>t….., 16.

[25] Al-Farma>wy, Metode….., 55.

[26] Ibid,. Bandingkan: Quraish, Membumikan…., 117., Roem, Ragam…., 50.

[27] Nashiruddin, Metodologi……, 166-167.

[28] Quraish, Membumikan…., 117.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: