h1

METODE MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN

25 Desember 2010

METODE MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN

(Sebuah Tinjauan Filosofis)*

Oleh:Muh. Zulkarnain Mubhar, S.Th.I*

Pendahuluan

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna lagi paripurna, kesempurnaannya tampak pada kecakapan dalam menghadapi pelbagai bentuk permasalahan hidup yang merupakan manifestasi dari kesucian fit}rah insa>niyah yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya, dan keparipurnaannya tampak pada kemampuannya menganalisa setiap permasalahan guna mendapatkan jalan keluar yang akurat tanpa menimbulkan problematika yang lebih parah dari sebelumnya, keparipurnaan ini merupkan bentuk manifestasi h}ikmah ‘aqliyyah yang menjadi bagian utama terbentuknya makhluk Tuhan yang teristimewa diantara seluruh makhluk yang tercipta di bumi.

Diantara masa terputusnya ke-Rasul-an Musa A.s dan diutusnya Isa A.s sebagai Rasul Allah, manusia berada pada kebimbangan ilmiah dan terombang-abing akibat kehilangan bimbingan ditambah dengan kesewenang-wenangan sebahagian ahli Kitab dalam melakukan perubahan dan perombakan Torah serta kesewenang-wenangan para penguasa dalam melakukan pendoktirinan sesat kepada umat manusia yang hidup pada masa transisi ke-Rasul-an tersebut, maka sekolompok manusia yang mayoritasnya berkebangsaan Yunani melakukan penentangan terhadap indoktrinisasi para penguasa yang dianggap sesat lagi menyesatkan dengan menggunakan daya nalar-kritis mereka terhadap doktrin-doktrin penguasa yang merupakan hasil penalaran akal terhadap kebenaran yang terdapat dibalik fisik alamiyah dan metafisis. Kelompok manusia ini kemudian dikenal dengan istilah Filusuf yang diartikan sebagai para pencari atau pecinta hikmah. Penggunaan istilah ini merupakan bentuk perlawanan terhadap para retorik-retorik sesat yang dikenal dengan istilah Shophis yang menggunakan cara berfikir sesat (shophistry) atau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah s}afast}ah.[1]

Pernayataan di atas memebrikan ketegasan konseptual-faktual bahwasanya filsafat pertama kali dirumuskan dan diperkenalkan dalam Bahasa Yunani kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Suryani lalu ke dalam Bahasa Arab. Al-Ahwa>ni>y mengungkap penuturan al-Fara>bi>y tentang asal muasal filsafat sejak bangsa-bangsa kuno sampai pada orang Arab sebagai berikut:

Konon ilmu tersebut pada zaman dahulu milik orang-orang Kaldan, penduduk Iraq. Lantas berpindah pada orang Mesir lalu berpindah lagi pada orang Yunani, beberapa kurun waktu kemudian, ilmu tersebut berpindah lagi pada orang-orang Arab. Semua yang tercakup dalam ilmu itu dirumuskan dalam bahasa Yunani, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Suryani lalu kedalam bahasa Arab. Ilmu yang mereka peroleh dari orang-orang Yunani itu pada umumnya mereka beri nama Hikmah dan Hikmah Terbesar.[2]

Jika kita memperhatikan dan memahami dengan baik tentang perjalanan filsafat sebagaimana yang tampak dalam ungkapan al-Fara>biy, maka kita akan berkesimpulan bahwa Filsafat (hikmah atau hikmah terbesar) adalah milik orang-orang Persia yang pada akhirnya masuk kedunia Islam pada zaman Abbasiyah. Hal ini sejalan dengan sebuah h}adi>th sebagaimana yang direkam dan didokumentasikan dengan baik oleh At-Tirmidzy dalam Sunan-nya.

الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا

Kalimat penuh hikmah adalah permata mu’min yang hilang, maka dimanapun hikmah itu ditemukan, maka hendaklah mengambilnya” [3]

Penegasan h}adi>th di atas menunjukkan bahwa Islam mengakomodasi proses pencarian ilmu yang mengantarkan seorang muslim dapat menjadi ahli ilmu yang jujur secara ilmiah baik dalam bentuk konseputal maupun kontekstual dimana proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat.[4] Penegasan ini secara implisit menjelaskan bahwa metode dalam memperoleh pengetahuan yang bersifat ilmiah dibutuhkan sebuah pengkajian metodologis sebagai sebuah gambaran umum tentang proses atau metode untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang kemudian akan dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini.

Berdasar pada uraian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini dibatasi pada “Metode Memperoleh Ilmu Pengetahuan; sebuah tinjauan filosofis” dalam usaha untuk menjawab dua perkara yaitu; Bagaimana konsepsi teori Ilmu pengetehuan dan Bagaimana metode memperoleh Ilmu pengetahuan?

Tulisan ini bermaksud untuk mengetahui metode perolehan ilmu pengetahuan secara filosofis yang bertujuan untuk mendapatkan pencerahan ilmiah. Pada sisi lain konsep teori Ilmu dan metode memperoleh Ilmu pengetahuan dapat dijadikan sebagai landasan dalam melakukan proses pencarian ilmu pengetahuan guna menemukan kebenaran ilmu pengetahuan secara ilmiah.

Adapun Hirarki pembahasan dalam tulisan ini adalah dengan mendahulukan pembahasan tentang keterangan-keterangan epistemik-filosofis akan konsepsi teori ilmu pengetahuan berdasarkan perdebatan-perdebatan filosofis para filusuf ditinjau dari aspek epistemologinya yang bertujuan untuk menampakkan perbedaan dan pertentangan teori –untuk tidak mengatakan kekacauan epistemik- tentang metode atau cara memperoleh ilmu pengetahuan untuk mencapai sebua “kebenaran” ilmiah. Selanjutnya pembahasan difokuskan pada uaraian tentang metode-metode memperoleh ilmu pengetahuan secara epistemic-folosofis.

Pembahasan

  1. A. Konsepsi Teori Ilmu Pengetahuan

Berbicara tentangan metode atau cara memperoleh ilmu pengetahuan, maka kita berbicara tentang epistemology dalam filsafat ilmu yang disebut juga dengan istilah teori pengetahuan. Epistemology memiliki obyek telaah yang bersifat penjelas atas proses terbentuknya ilmu pengetahuan yang memunculkan pertanyaa-pertanyaan utama seperti; bagaimana sesuatu itu datang?, bagaimana kita mengetahuinya?, bagaimana membedakannya dengan yang lain? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah bentuk penegasan tentang hubungan sesuatu dengan situasi dan kondisi ruang serta watu,[5] ketika berbicara tentang epistemology ilmu, maka harus dikaitkan dengan ontology ilmu dan aksiologinya misalnya; ketika hendak membicarakan tentang ilmu alam yang apa adanya yang terbatas pada lingkup pengalaman kita dimana pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu untuk menjawab permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari oleh manusia, dan untuk digunakan dalam menawarkan pelbagai kemudahan kepadanya. Pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan  mengasumsikan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Berdasaran landasan ontology dan aksiologi seperti itu, maka dibutuhkan bangunan landasan epistemology yang sesuai, sebab pada dasarnya persoalan utama yang sering dihadapi oleh setiap epistemology pengetahuan adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing.[6] Jadi dalam pandangan ini kekokohan epistemic dalam bangunan ilmu pengetahuan terletak pada kebenaran metode tanpa memishkannya dengan ontology dan aksiologi dari sautu bangunan ilmu, sebagaimana yang dapat diilustrasikan secara hirarki sebagai berikut;

 

 

 

 

 

 

Hirarki illustrasi bangunan ilmu pengetahuan di atas menunjukkan bahwa ontology ilmu ditempatkan sebelum epistemology dengan cara mengasumsikan “ada” realitas kemudian ditambahkan epistemology untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Hirarki dari bangunan ilmu pengetahuan tersebut – yang dalam istilah Keith Lethrer – adalah teori dogmatic epistemology.[7] Konsepsi dari teori ini adalah dengan menempatkan ontology sebelum epistemology.

Selain dari teori dogmatic epistemology terdapat pula teori critical epistemology dimana teori ini merupakan bentuk revolusi dari teori dogmatic epistemology yang dalam prosesnya adalah menanyakan apa yang telah diketahui sebelum menjelaskannya, artinya bahwa teori ini berada pada wilayah mempertanyakan suatu pengetahuan awal secara kritis kemudian diyakini, meragukan sesutu yang  telah “ada” terlebih dahulu sebelum kemudian menjelaskannya setelah terbukti keber”ada”annya, dan berpikir dahulu sebelum meyakini dan atau tidak meyakini kebenarannya.[8] Konsepsi dari teori ini menempatkan wilayah epistemic sebelum ontal atau ontology sebagaimana yang dapat dillustrasikan secara hirarki sebagai berikut:

 

 

 

Subyektifitas dan obyetifitas kebenaran ilmu merupakan hasil dari suatu bangunan ilmu yang memiliki ketergantungan pada kebenaran teori, metode dan cara memperolehnya. teori ilmu yang diterapkan oleh Para filusuf kuno tergolong masih sangat premature dimana mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda dengan menggunakan pertimbagan-pertimbangan empiris atau hasil-hasil pengamatan yang mendalam terhadap entitas-entitas tersebut yang dapat mendukung penjelasan yang satu atau yang lainnya. Mereka mendasaran jawaban mereka sedapat mungkin pada landasan-landasan epistemic dengan mempertimbangkan jenis-jenis apa yang dapat dimengerti secara sungguh-sungguh, sebagaimana halnya yang berdasar pada empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis entitas abadi yang mungkin dapat diperoleh dari dan atau dalam pengalaman.[9]

Secara umum dapat dinyatakan bahwa prematurisme konsep teori ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para filusuf klasik kuno didasarkan pada lima kemampuan yaitu; (1) Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, (2) pengetahuan dari hasil pengalaman tersebut diterima sebagai suatu fakta dengan sikap receptive mind, dan jika terdapat keterangan-keterang epistemic tentang fakta-fakta tersebut, maka keterangan-keterangan tersebut adalah mitologi (mistis, magis dan religious), (3) kemampuan menemukan abjad dan bilangan alam yang menunjukkan terjadinya tingkat abstraksi pemikiran, (4) kemampuan menulis, menghitung dan menyusun kalender merupakan bentuk sintesis dari hasil abstraksi, (5) kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar a priori seperti hujan, gerhana dan sebagainya.[10]

Perbedaan-perbedaan para filusuf  klasik Yunani pra-Sokratik tentang konsepsi teori ilmu pengetahuan terletak pada pendalam pengamatan empirisme mereka terhadap entitas-entitas dari benda-benda yang ada tidak dapat diilekkan, dalam pandangan Parmenidas misalanya bahwa “segala bentuk perubahan merupakan penampakan sementara yang berada dibalik hubungan timbal-balik dari realitas-realitas yang lebih dalam dan tidak berubah”, semantara Hiraklitus berada pada kutub yang lebih ekstrim yang menyatakan bahwa “sejauh pengetahuan manusia semua bersifat mitologi sebab secara empiris pengetahuan itu berubah terus menerus,[11] dan apa pun yang berada dalam waktu selalu fana dan keabadian bukanlah sesuatu yang tidak berubah disepanjang waktu yang terbatas, akan tetapi dia adalah  eksistensi yang berada diluar seluruh proses temporal”.[12]

Para filususf pra-Sokratik memfokuskan diri pada pencarian secara empiric tentang arche (unsure induk)[13] yang dianggap sebagai asal kejadian segala sesuatu dengan melakukan pengamatan empiris secara medalam terhadap fenomena-fenomena alam sehingga menghasilkan beberapa konsep tentang asal-usul alam dalam segala bentuk jenis, entitas dan geraknya. Konsep-konsep yang mereka hasilkan dari hasil pengamatan empiris tersebut pun berbeda anatara satu dengan lainnya dimana dalam pandangan Thales sebagaimana yang diungkapan oleh Aristotales bahwa “air adalah substansi dasar yang membetuk segala sesuatu dan ia mengatakan bahwa bumi terapung di atas air, dan bahwa magnet memiliki nyawa karena dapat menggerakan besi”.[14] Russell memandang bahwa pendapat ini – tentang  air sebagai asal dari segala sesuatu – dapat   dianggap sebagai bentuk hipotesis ilmiah yang tidak dapat dianggap sebagai pendapat tolol sebab dua pulu tahun yang lalu[15] telah ditemuan bahwa segala sesuatu terbuta dari hydrogen dimana dua pertiganya adalah air.[16] Pada bagian lain Anaximanders berpendapat bahwa “arch itu adalah Substansi yang tidak terbatas, abadi, dan tak mengenal usia, substansi asali itu dibentuk menjadi pelbagai subtansi yang kita kenal dan kemudian substansi-substansi tersebut ditransformasikan antara satu dengan lainnya menjadi substansi lain”, sehingga dalam kesimpulannya bahwa “dunia kita ini adalah salah satu diantara dunia-dunia yang ada dan dunia tidak diciptakan namun lahir dari evolusi yang merupakan bentuk transformasi dari pelbagai substansi dari substansi tak terbatas tersebut”.[17] Sementara itu Phytagoras memandang bahwa “substansi asal dari segala sesuatu adalah bilangan”, pandangan Phytagora ini disandarkan pada music dan hubungan yang dibangun anatara music dan matematika.[18]

Secara umum dapat dinyatakan bahwa konsep teori ilmu pengetahuan pada periode ini dapat dibagi kedalam empat tahapan yaitu; (1) Pengamatan atas pengalaman dan benda-benda yang mengitari ruang dan waktu dimana sang filusuf tersebut berada, (2) memanfatkan kemampuan penalaran terhadap hubungan-hubungan antar substansi secara abstraktif, (3) melakukan hipotesis atas dasar hubungan-hubungan abstrak antar substansi, (4) memberikan kesimpulan spekulatif berdasarkan tiga tahapan sebelumnya secara deduktif.

Teori ilmu pengetahuan dan metode memperolehnya dalam perkembangan berikutnya tidak begitu signifikan dari periode sebelumnya dimana pertimbangan-pertimbangan ontologis, epistemologis dan empiris masih sangat mendominasi. Sekalipun konstruksi mengenai teori-tori fundamental ilmu di seputar konsep, dan pola yang dilakukan oleh Plato dengan meminjam teori geometri begitu tampak pada periode ini dan bahkan memberikan pengaruh pada teori ilmu pengetahuan modern, pada logika dan metematik jerman dan sesudahnya,[19] artinya bahwa tori ilmu pengetahuan dari masa filusuf klasik hingga modern memiliki bangunan kesinambungan yang saling memeberi pengaruh antara satu dengan yang lain, dan atau saling menghapus antara satu dengan yang lain, dan atau saling menyempurnakan anatara satu dengan yang lain, sekalipun dalam kesempurnaannya masih terdapat pertentangan-pertentangan yang sangat mencolok antara kelompok empirisme, rasionalisme, skeptisisme, kritisisme, analitisme, strukturalisme dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang ingin menemukan pengetahuan, maka sebagai langka awal dia terlebih dahulu harus mempelajari teori-teori pengetahuan dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali  adalah  menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami. Karena pada prinsipnya ilmu  adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian,[20] artinya fenomena ini baik berupa pengamatan empiric maupun penalaran rasio memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.

  1. B. Metode Memperoleh Ilmu Pengetahuan

Pada pembahasan terdahulu telah ditegaskan bahwa untuk menemukan sesuatu yang bernama ilmu pengetahuan, maka tujuan dari ilmu pengetahuan tersebut harus ditentukan terlebih dahulu dengan menggunakan berbagai metode dalam memperolehnya. Adapun metode untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan menentukan kebenaran ilmu pengetahuan secara filosofis terdiri dari:

  1. Metode Empirik

Yang dimaksud dengan metode empirik yaitu pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman inderawi dan akal mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman dengan cara induksi.[21]

Dalam metode ini terdapat beberapa unusur yaitu subyek, obyek dan hubungan antara subyek dan obyek.[22] Subyek adalah yang menegatahui atau manusi itu sendiri sebab manusia sejatinya adalah knower dimana dalam diri setiap manusia terdapat kampuan untuk dapat mengetahui (dalam arti luas), kemampuan-kemampuan tersebut adalah; (a) Kemampuan kognitif, yaitu; kemampuan untuk menegtahu –dalam artinya secara luas dan lebih mendalam seperti; mengerti, memahami dan menghayati – dan mengingat apa yang diketahui. Landasan kognitifitas manusia adalah rasio atau akal. Kemampuan kognitif manusia bersifat netral. (b) kemampuan afektif yaitu kemampuan untuk merasakan tentang apa yang diketahuinya seperti rasa cinta, indah dan sebagainya. kemampuan afektif berlandas pada rasa tau qalbu dan disebut pula dengan hati nurani, kemampuan ini bersifat tidak netral. (c) kemampuan konatif yaitu kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan, kemampuan ini menjadi daya dorong untuk mencapai (atau menjauhi) segala apa yang diditekan oleh rasa.[23] Adapun obyek adalah yang diketahui baik bersifat a priori maupun a posteriori dan terakhir adalah proses terjadinya hubungan anatara subyek dan obyek.[24]

Metode ini memberikan arti bahwa seluruh konsep dan idea yang kita anggap benar sesungguhnya bersumber dari pengalaman dengan obyek yang ditangkap oleh panca indera khususnya yang bersifat spontan dan langsung, sehingga dengan metode ini panca indera memiliki peranan penting dalam tiga hal; (a) bahwa seluruh preposisi yang kita ucapkan merupakan bentu manifestasi laporan dari pengalaman atau yang disimpulan pengalaman. (b) bahwa konsep atau idea tentang sesuatu tidak dapat diperoleh kecuali didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. (c) akal budi atau rasio hanya dapat berfungsi jika memiliki acuan realitas.[25] Artinya dengan metode ini dapat dinyatakan bahwa credential (keterpercayaan) konsep ilmiah atau teori apapun bergantung pada suatu tingkat substansi berbasis empiris.[26]

  1. Metode Rasional

Metode Rasional adalah metode yang menjelaskan hubungan-hubungan rasional yang memberi penjelasan ilmiah ciri-khas keterpahaman (intelegibility) yang khas,[27] penggunaan rasio dalam menperoleh pengetahuan menjadi sandaran metode ini dimana akal atau rasio yang memenuhi sayarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang digunakan dalam seluruh metode ilmiah.[28]

Metode ini menjadikan matematika dan ilmu ukur sebagai model bagi pengetahuan manusia, metode ini menunjukkan sebuah penjelasan bahwa dalam diri manusia terdapat idea-idea bawaan tertentu yang telah ada sejak awal yang diperoleh bukan dari pengalaman, artinya bahwa manusia berpikir dalam rangka prinsip-prinsip pertama yang terbukti dengan sendirinya,[29] sebab panca indera dan pengalaman hanya dapat memberi informasi tentang obyek khusus yang terbatas dan tidak tetap sehingga tidak dapat memberi pengetahuan yang bersifat universal.[30]

Jadi, pengetahuan hanya dapat ditemukan dalam dan dengan bantuan akal budi (rasio). Dengan cara ini, maka proses pengetahuan manusia adalah dengan mendeduksikan, menurunkan, pengetahuan-pengetahuan particular dari prinsip-prinsip umum, atau dengan kata lain bahwa pengetahuan manusia harus mulai dari aksioma-aksioma yang telah terbukti dengan sendirinya, dan dari situ ditarik teorema-teorema sedemikian rupa sehingga kebenaran aksioma menjadi kebenaran teorma.[31]

Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa kemampuan akal budi (rasio) manusialah yang dapat digunakan untuk dapat menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum tertentu dalam benaknya. Oleh karenanya logika silogisme menjadi sangat penting dalam menggunakan metode ini.

Fungsi dari kemampuan rasio manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu; higher reason (rasio tertinggi) dan lower reason (rasio terendah), hasil ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dari keduanya berbeda dimana higher reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang berkaitan dengan kekalan yang disebut juga dengan sapientia atau wisdom sementara lower reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang bersifat temporal yang disebut juga dengan scientia atau knowledge.[32]

  1. Metode Kontemplatif

Metode ini memandang bahwa metode empiris dan rasional memiliki keterbatasan, sehingga pengetahuan yang dihasilkan pun berbeda dan masing-masing bersifat temporal, maka untuk menajamkan hasil dari kedua metode tersebut dibutuhkan penajaman kemampuan akal yang disebut intuisi, pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi dapat diperoleh secara kontemplatif.[33]

Metode kontemplatif dalam memperoleh pengetahuan bersifat sangat indivdualistik sebab pengetahuan yang dihasilkannya tersebut adalah pengetahuan yang tercerahkan dari percikan sinar pengetahuan Tuhan (al-h}ikmah al-Ila>hiyyah).[34] Hariri Shrazi menerangkan bahwa intusi (fitrah) bukan semata-mata kolam atau waduk yang menerima penegtahuan, akan tetapi pengetahuan ini murni muncul dari dalam diri manusia itu sendiri dan bukan dari luar, maka mata fitrahlah yang melihat pengetahuan itu dan kemudian lidahnya mengucapkan atau menjelaskan pengetahuan tersebut.[35]

Metode ini tidak hanya dipahami bahwa ilmu pengetahuan yang dihasilkannya bersifat mitologi-spekulatif , tetapi dalam arti yang lebih luas dimana metode kontemplatif menuju kebenaran pengetahuan secara epistemic dapat melalui beberapa tahapan yang didalmnya menjadikan kesadaran empiric-rality dan cognitive-reasion sebagai tahapan awal dengan cara kerjanya yang khas yaitu; (a) empiris inderawi adalah sebagai jalan masuknya sensation dengan merasakan setiap bentuk realitas yang dirasakan dan diamatinya, selanjutnya (b) sensation yang masuk melalui pengamatan dan pengalaman tersebut dikumpulkan, digabungkan, dipilah, dinalar dengan menggunakan kemampuan rasio melalui proses penilaian terhadap obyek fisis yng diketahui melalui penginderaan dan atau pengalaman, tahapan ini selanjutnya disebut dengan tahapan cognition, selanjutnya (c) tahapan yang diberlakukan atas realitas yang telah dikognisikan dalam rasio tersebut kemudian dikontemplasikan dengan eternal truth pada tahapan ini kemudian apa yang dilihat, dirasa dan dipikirkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang disebut dengan intellection.[36] Pada tahapan yang terakhir ini the truth information (al-Khabar al-S}a>diq) dan otoritative information (informasi otoritas) memiliki peranan penting untuk kemudian dilakukan dialektika baik itu persifat tekstual, intertekstual, kontektual maupun interkontekstual yang dapat membatu menghasilkan kesimpulan pada ranah truth knowledge.

  1. Metode Ilmiah

Metode ilmiah merupakan salah satu acara atau prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, dimana ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi tentang cara bekerja pikiran yang diharapkan mempunyai karakteristik tertentu berupa sifat rasional dan teruji sehingga ilmu yang dihasilkan bisa diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun pengetahuan. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesuaian dengan objek yang dijelaskannya, dengan didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Metode rasional yang digabungkan dengan metode empiris dalam langkah menuju dan dapat menghasilkan pengetahuan inilah yang disebut metode ilmiah. Jadi, metode ilmiah dianggap sebagai metode terbaik untuk mendapatkan pengetahuan karena metode ini menggunakan pendekatan yang sistematis, obyetif, terkontrol, dan dapat diuji, yang dilakukan melalui metode empiris maupun rasional atau dengan kata lain dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip induktif dan dedutif.

Penggabungan anatara metode rasional dan empiris dilakukan dengan menggunkan langkah-langkah oprasional yang disebut metode ilmiah dimana dalam metode ini rasionalitas menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sementara empiris memisahkan anatara fakta yang sesuai dengan yang tidak. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa seluruh bentuk teori yang dapat diterima secara ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yaitu; (a) memiliki konsistensi a prioriative yang memungkinkan tidak terjadinya kontaradiksi dalam teori keilmuan secara umum, (b) harus sesuai dan sejalan dengan fakta-fakta empiris,[37] artinya bahwa teori dalam scientific knowledge (ilmu pengetahuan ilmiah) merupakan sekumpulan preposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan penjelasan tentang sejumlah fakta dan fenomena[38]dimana hubungan-hubungan antar preposisi tersebut dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena agar dapat diberlakukan secara universal pada fenomena lain yang sejenis dengan proses yang demikian dapat menghasilkan sebuah prinsip ilmiah dimana sebuah preposisi yang mengandung kebenaran umum didasarkan pada fakta dan fenomena yang telah diamati.[39]

Dalam pandangan Ahmad Tafsir bahwa metode ilmiah tidak datang dengan sesuatu yang baru, tetapi hanya mengulangi ajaran positivisme secara lebih oprasional, dimana dalam ajaran positivisme menyatakan bahwa kebenaran sesuatu harus bersifat logis, terbukti secara empiris, dan terukur secara oprasional, kuantitatif dan tidak mengundang perbedaan pendapat. Dengan demikian metode ilmiah harus melalui langkah yang disebut logico-hypothetico-verivicartive dengan mula-mula membuktikan bahwa hal tersebut logis, kemudian mengajukan hipotesis terhadap logika tersebut, kemudian melakukan pembuktian hipotesis tersebut secara empiris.[40]

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan secara ilmiah harus melalui prosedur-prosedur khusus. Adapun kata kunci dari prosedur-prosedur tersebut adalah; (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan teori atau epistemik, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematis, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, (l) kontemplatif.

Kesimpulan

Dari seluruh uraian terdahulu merupakan hasil pembacaan dari berbagai literature untuk menemukan titik temu atas pelbagai konsep dan teori tentang metode memperoleh ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh berbagai penulis dan penyusun yang berasal dari pelbagai latar belakang keilmuan  yang dijalani secara empiric, rasional, kontemplatif untuk mendapatkan sebuah hasil pembahasan yang bersifat ilmiah melalui pelbagai diskusi yang bersifat verivikatif.

Konsepsi tentang tori ilmu pengetahuan dari masa filusuf klasik hingga modern memiliki bangunan kesinambungan yang saling memeberi pengaruh anatara satu dengan yang lain dan atau saling menghapus antara satu dengan yang dan atau saling menyempurnakan anatra satu dengan yang lain, sekalipun dalam kesempurnaannya masih terdapat pertentangan-pertentangan yang sangat mencolok antara kelompok dan mazhab filsafat. Dengan demikian, Maka seseorang yang ingin menemukan pengetahuan terlebih dahulu ia harus mempelajari teori-teri pengetahuan sebagai langka awal dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali  adalah  menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami, karena pada prinsipnya ilmu  adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian baik secara pengamatan empiric maupun rasional yang memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.

Diantara metode-metode yang dapat digunakan dalam memperoleh pengetahuan adalah; (a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, (d) Metode Ilmiah. Dari keempat metode ini, maka metode ilmiah dianggap sebagai metode yang paling komprehensif sebab dapat menyatukan keseluruhan metode dalam bingkai oprasional sistematik dengan menggunakan kata kunci; (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan teori, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematis, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, (l) kontemplatif.

Bibliografi

Adib, Muhammad.  Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010.

al-Ahwa>niy, Ah}mad Fua>d. al-Falsafah al-Isla>miyyah.  Kairo: al-Maktabah al-Thaqa>fiyyah, 1962.

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press, 2010.

Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberti, 2010.

Al-Gazali. al-Munqiz} min al-D{ala>l. Diterj. Masyhur Abadi, Setitik Cahaya dalam Kegelapan. Surabaya: Progressif, 2002.

Hanafi, Soetriono dan Rita. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: ANDI, 2007.

Ihsan, A. Fuad, Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Keraf, A. Soni dan Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan  Filosofis. Yogyakarta : Kanisus, 2001.

Marhaendy, Eko. Pengetahuan Manusia Secara Umum. Makalah, dipersentasekan pada Mata Kuliah Pendekatan dalam Pengkajian Islam (PDPI) Program Pasca Sarjana IAIN Sumut, Naskah tersebut diakses di www.ekomarhaendy.wordpress.com dikunjungi pada 15-Oktober-2010.

Mut}ahhari>y, Murt}ad}a>. Fundamentals of Islamic Thoght. Diterj. A. Rifa’i  Hasan dan Yuliani, Tema-Tema Penting Filsafat Islam.  Bandung: Yayasan Muthahhary, 1993.

Ravertz, Jerome R. The Philosophy of Science (Oxford University Press, 1982). Diterj. Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingup Bahasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Russell, Bernard. History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances From the Earliest Time to Present Day (London: George Allen and UNWIN, 1946). Diterj. Sigit Jatmiko dkk., Sejarah Filsafat Barat; dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Shirazi, Muhyiddin Hairi. Mans Dual Inclination; An Islamic Approach. Diterj. Eti Triana dan Ali Yahya, Tikai Ego dan Fitrah. Jakarata: Al-Huda, 2010.

Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.

Surajiyo. Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan, 2001.

Syafiie, Inu Kencana. Pengantar Filsafat. Bandung : Rafika Aditama, 2007.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

al-Tirmi>dhi>y, Muh}ammad bin ‘I<sa. Al-Ja>mi’ al-Tirmidhi>y. Semarang: Toha Putra, T.Th, Jld. IV.

Winoto, Andre. Augistine’s Theory of  Knowledge. www.buletinpillar.org, 03-04-2010.


* Makalah ini dipresentasikan pada seminar kelas khusus beasiswa Magister S2 Konsentrasi Studi Hadis Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya untuk mata kuliah Filsafat Ilmu dibawah bimbingan dosen mata kuliah ibu Dr. Hj. Muzayyanah Mu’tashim H, MA., pada Hari Kamis, 25 November 2010.

* Alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Program Khusus Tafsir Hadis UIN Alauddin Makassar 2009, dan sekarang sedang menempuh Program Magister (S2) pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan konsentrasi Studi Hadis, angkatan 2010.

[1] Murt}ad}a> Mut}ahhari>y, Tema-Tema Penting Filsafat Islam, diterj. A. Rifa’i  Hasan dan Yuliani, (Bandung: Yayasan Muthahhary, 1993), 11-12.

[2] Ah}mad Fua>d al-Ahwa>niy, al-Falsafah al-Isla>miyyah, (Kairo: al-Maktabah al-Thaqa>fiyyah, 1962), 4.

[3] H{adi>th ini D{a’i>f (lemah), menurut at-Tirmidzy h}adi>th ini merupakan h}adi>th ghari>b (aneh) dari  sisi sanad dan matannya sebab tidak ditemukan kecuali dari sisi ini, dan didalmnya terdapat seorang perawi bernama  Ibra>hi>m bin al-Fad}l al-Madi>niy al-Makhzu>mi>y yang di d}a’ifkan akibat kelemahan hafalnya. Lihat: Sunan at-Tirmidzy, Kitab: Ilmu, Bab: Keutaman Fiqih dari Ibadah-ibadah Lainnya (Semarang: Toha Putra, T.Th), Jld. IV, 155.

[4] Eko Marhaendy, Pengetahuan Manusia Secara Umum (Makalah, dipersentasekan pada Mata Kuliah Pendekatan dalam Pengkajian Islam (PDPI) Program Pasca Sarjana IAIN Sumut, Naskah tersebut diakses di www.ekomarhaendy.wordpress.com dikunjungi pada 15-Oktober-2010), 3.

[5] Inu Kencana Syafiie, Pengantar Filsafat (Bandung : Rafika Aditama, 2007), 10.

[6] Jujun S Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 2001), 105-106. Yang selanjutnya ditulis Jujun, Filsafat Ilmu…

[7] Muhammad Adib, Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), 76. Selanjutnya ditulis Adib, Filsafat Ilmu…

[8] Ibid., 77.

[9] Jerome R Ravertz, The Philosophy of Science (Oxford University Press, 1982) diterj. Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingup Bahasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 92-93. Yang selanjutnya ditulis Jerome, The Philosophy of Science…

[10] A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 194. Yang selanjutnya ditulis A.Fuad, Filsafat Ilmu…

[11] Jerome, The Philosophy of Science…94.

[12] Bernard Russell, History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances From the Earliest Time to Present Day (London: George Allen and UNWIN, 1946). Diterj. Sigit Jatmiko dkk., Sejarah Filsafat Barat; dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 61. Yang selanjutnya ditulis Bernard, History of Western Philosophy…

[13] A. Fuad, Filsafat Ilmu, 195.

[14] Bernard, History of Western Philosophy…, 33.

[15] Yaitu dua puluh tahun dari tahun dimana Bernarnd Russell hidup dan menyusun karyanya yang berjudul History of Western Philosophy…

[16] Bernard, History of Western Philosophy…,33.

[17] Ibid., 34-35.

[18] Ibid., 46.

[19] Jerome, The Philosophy of Science…94.

[20] Jujun, Filsafat Ilmu…113

[21] Surajiyo, Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 66. Induksi atau induktif adalah cara kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan atau eksperimen untuk sampai kepada pengetahuan yang umum tak terbantahkan, pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan a posteriori. Lihat. A. Soni Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta : Kanisus, 2001), 55. Selanjutnay ditulis Keraf, Ilmu Pengetahuan…

[22] Adib, Filsafat Ilmu…, 75.

[23] Soetriono dan Rita Hanafi, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: ANDI, 2007), 101-102.

[24] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 61. Metode ini dapat berubah menjadi lebih  ekstrim apabila dipahami bahwa satu-satunya yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan jika kebenarannya dapat dilacak dan diklarifikasi secara empiric. Pemahaman semacam ini dapat mengarah kepada bentuk “Empirisme Radikal”.

[25] Keraf, Ilmu Pengetahuan…, 49-50.

[26] Jerome, The Philosophy of Science…135.

[27] Ibid., 136.

[28] Surajiyo, Ilmu Filsafat…, 66.

[29] Keraf, Ilmu Pengetahuan …, 47.

[30] Ibid.

[31] Ibid., 48

[32] Andre Winoto, Augistine’s Theory of  Knowledge (www.buletinpillar.org, 03-04-2010), 1.

[33] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta : Rajawali Press, 2010), 155.

[34] Al-Gazali, al-Munqiz} min al-D{ala>l, diterj. Masyhur Abadi, Setitik Cahaya dalam Kegelapan (Surabaya: Progressif, 2002), 32.

[35] Muhyiddin Hairi Shirazi, Mans Dual Inclination; An Islamic Approach. Diterj. Eti Triana dan Ali Yahya, Tikai Ego dan Fitrah (Jakarata: Al-Huda, 2010), 71.

[36] Andre Winoto, Augistine’s Theory of  Knowledge (www.buletinpillar.org, 03-04-2010), 2.

[37] Jujun, Filsafat Ilmu …, 124.

[38] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2010), 145.

[39] Ibid., 144.

[40] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 32-33.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: