h1

PERKEMBANGAN ILMU HADIS

19 Januari 2010

A. Pengertian dan Cabang Ilmu Hadis

  1. Pengertian Ilmu Hadis

Dari segi bahasa Ilmu Hadis terdiri dari dua kata yakni kata “ilmu” dan “hadis” secara sederhana kata “ilmu” artinya pengetahuan, dan “hadis” adalah segala yang disandarkan kepada Nabi Saw baik dari segi perkataan, perbuatan, dan persetujuan. Para ulama membagi ilmu hadis kepada dua bagian utama yaitu: Ilmu Hadis Riwa>yah dan Ilmu Hadis Dira>yah.

Ibnu al-Akfa>ni> berkata: Ilmu hadis Riwa>yah adalah: ilmu yang membahas tentang periwayatan hadis-hadis Nabi saw secara baik dan benar. Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Dira>yah > adalah : Ilmu yang yang bertujuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, jenis-jenisnya, hukum-hukumnya, keadaan pribadi perawi dann sayart-syarat mereka.[1] Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan ilmu hadis dira>yah adalah : kumpulan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan pera>wi dan yang diriwaytkannya ditinjau dari segi penerimaan dan penolakannya.[2]

Kedua bentuk ilmu hadis ini memiliki perbedaan dari segi obyek pembahasan, tujuan dan faedah. Adapun obyek pembahasan ilmu hadis riwa>yah adalah: “Segala bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat-sifat Nabi saw” sementara obyek pembahasan Ilmu hadis dira>yah adalah; “Hakikat, sifat-sifat, dan kaidah-kaidah dalam periwayatn”.

Jika dilihat dari segi tujuan masi-masing ilmu, maka ilmu hadis riwa>yah bertujuan untuk: “memelihara syari’at Islam dan otentitas Sunnah Nabi saw” sementara ilmu hadis dira>yah bertujuan untu: “meneliti hadis berdasarkan kaidah-kaidahatau persyaratan-persyaratan dalam periwayatan”.

Adapun jika kedua ilmu tersebut dilihat dari segi faedahnya, maka faedah mempelajari ilmu hadis riwa>yah adalah: “menjauhkan kasalahan dalam periwayatan”, sementara faedah mempelajari ilmu hadis dira>yah adalah untuk mengetahui mana  hadis yang maqbu>l (diterima) dan mana yang mardu>d (tertolak).

Meskipun tampak secara z{a>hir bahwa anatara Ilmu Hadis Riwa>yah dan Ilmu Hadis Dira>yah berbeda dari tiga sisi –yakni; obyek, tujuan, dan faedah- akan tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan karena hubungan keduanya merupakan satu ssistem yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain (syaiaini mutala>zimaini) atau dengan kata lain ilmu hadis dira>yah sebagai in put dan Ilmu Hadis Riwa>yah sebagai out put

  1. Cabang Ilmu Hadis

Setelah ilmu hadis berdiri sendiri sebagai suatu bidang ilmu, maka lahirlah cabang-cabang ilmu hadis yang membahas secara khusus, masalah-masalah tertentu, dan memiliki nama tersendiri sesuai dengan masalahnya.

Cabang-cabang ilmu hadis tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa poin berikut ini:

  1. Ilmu Rija>l al-Hadi>s}, yaitu ilmu yang membahas tentangkapasitas pera>wi dari segi periwayatan.[3]
  2. Ilmu al-Jarh wa al-Ta’di>l : yaitu ilmu yang membahas tentang kecacatan dan keadilan seorang perawi dengan menggunakan lafaz}-lafaz} tertentu.[4]
  3. Ilmu Ta>ri>kh al-Ruwa>h : ilmu yang membehas tentang sejarah pribadi perawi, mulai dari kelahirannya, proses penerimaannya terhadap hadis dan segal hal yang berhubungan dengan pribadi sang perawi hadis.[5]
  4. Ilmu ‘Ilal al-Hadi>s} : Ilmu yang menerangkan tentang sebab-sebab tersembunyi dan tidak nayata yang dapat merusak kesahihan hadis.[6]
  5. Ilmu Gari>b al-Hadi>s} :  ilmu yang bertujuan untuk menjelaskan satu hadis matan yang di dalam matannya terdapat lafaz} yang pelik dan susuuah untuk difahami, karena jangan digunangan dalam bahasa lisan.[7]
  6. Ilmu Mukhtalaf  al-Hadis} : ilmu yang menggabungkan antara hadis yang z}ahirnya bertentangan.
  7. Ilmu Musykil al-hadis} : ilmu yang menerangkan ta’wil hadis musykil (yang pelik dan susah) meskipun tidak bertentangan dengan hadis lain.[8]
  8. Ilmu Na>sikh wa al-Mansu>kh : ilmu yang membahas tentang hadis-hadis yang bertentnagn yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadis dukumi sebagai na>sikh (yang terhapus) dan yang lain sebagaai mansu>kh (pengganti).[9]
  9. Ilmu Asba>b al-Wuru>d ; ilmu yang membahas tentang pembatasan arti suatu hadis yang dimaksud oleh hadis saat kemunculannya.[10]

B. Sejarah Perkembangan, Pengaruh, dan Tokoh-tokoh Ilmu Hadis

Sesuai dengan perkembangan hadis, ilmu hadis selalu mengiringinya sejak masa Rasulullah saw sekalipun belum dinyatakan sebagai ilmu yang secara mandiri, meskipun demikian tetapi para peneliti hadis memperhatikan adanya dasar-dasar ilmu hadis baik dalam al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi saw utamanya yang berhubungan dengan anjuran memeriksa berita yang datang dan persaksian dari seorang yang adil, firman Allah sswt yang mengancurkan memeriksa berita yang dating adalah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujura>t: 06)

Demikian pula firman Allah swt tentang pentingnya saksi yang adil :

وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ…

Terjemahannya: “Periksakanlah denga dua orang saksi yang adil diantara kamu…” (QS. Al-T{ala>q : 2)

Ayat-ayat di atas memberikan anjuran untuk memeriksa, meneliti dan mengkaji berita yang datang, sebab tidak semua berita dapat diterima, jika yang membawa berita tersebut adalah orang yang adil, jujur, dan dapat dipercaya, maka berita yang dibawanya dapat diterima. Tetapi jika berita tersebut datang dari orang yang fasiq, pendusta, tidak obyektif, dan lain-lain, maka berita yang dibawanya tertolak karena dapat menimpakan musibah bagi kaum muslimin secara umum.

Setelah meninggalnya Rasulullah Saw, para sahabat kemudian melanjutkan risalah yang tinggalkan oleh Rasulullah saw yang telah disempurnakan oleh Allah sawt untuk disebarkan ke seluruh penjuru bumi. Namun dalam penyebawarannya, para sahabat kemudian berusaha untuk membatasi periwayatan, kecuali periwayatan itu mendapat kekuatan dukungan dengan persaksian orang yang jujur sebagaimana yang telah diuraikan pada bab terdahulu.

Pada masa awal Islam sanad atau isna>d belum menjadi pusat perhatian para sahabat dan tabi’in awal, karena manusia  yang ada pada masa itu, adalah manusia-manusia yang jujur dan berdedikasi tinggi serta saling mempercayai antara satu dengan lainnya. Namun setelah meletusnya konflik antara Ali bin Abi T{a>lib dan Mu’a>wiyah radhiyallahu ‘anhuma dan terjadinya perpecahan internal umat Islam kedalam tiga golongan yaitu Syi’ah (pendukung Ali), Khawa>rij (keluar dari pemerintahan Alai karena tidak sepakat dengan peristiwa Tah}ki>m), dan jumhu>r al-Muslimu>n, maka pemalsuan hadis pun mulai muncul dari setiap kelompok guna memperguat argumentasi masing-masing.

Kondisi ini kemudian membangkit semangat para pecinta hadis dari kalangan tabi’in pertengahan dan akhir untuk membendung tersebarnya pemalsuan terhadap hadis-hadis Nabi saw sehingga kemudia mereka melakukan checking out terhadap kebenaran hadis-hadis Nabi saw dan mempersyaratkan kepada siapa saja yang mengaku mendapatkan hadis haris disertai dengan sanad sebagaimana pernyataan para ulama :

سَمُّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ

Terjemahannya: “sebutkan kepada kami para pembawa beritamu”.[11] Maksudnya adalah sanad yang kau miliki.

Abdullah bin al-Muba>rak pernah berkata:

الإِسْناَدُ مِنَ الدِّيْنِ، لَوْلاَ الإِسْناَدُ لَقَالَ مَنْ شاَءَ ماَ شاَءَ

Terjemahannya: “Isna>d bagian dari agama, jikalau tidak ada isna>d, maka sembarang orang akan berkata apa yang dia kehendaki”.[12]

Kenyataan ini kemudian Muhammad bin Syiha>b al-Zuhri> (51-124 H) atas permintaan khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Azi>z menghimpun hadis-hadis dalam bentuk riwayat (bersanad) dari berbagai penjuru dunia Islam dalam satu kitab.

Dalaam perkembangan berikutnya para ulama mulai membicarakan tentang ke-d}abit}-an, metode tah}ammul wa al-ada>’ (penerimaan hadis dan periwayatannya), kalimat-kalimat hadis yang sulit untuk di fahami (gari>b al-Hadi>s{), dan lain-lain. Akan tetapi kegiatan ini masih bersifat syafawi> (dari lisan ke lisan) dan tidak tertulis

Pada pertengahan abad II hingga abad III mulailah ilmu hadis dikodifakasi hanya saja masih terintegrasi dengan ilmu-ilmu yang lain seperti ushu>l al-fiqh dan ushu>l al-Tafsi>r sebagaimana karya Muhammad bin Idris al-Sya>fi’i> yang berjudul al-Risa>lah, sehingga para ulama menyatakan bahwa kitab pertama yang menjelaskan tentang “ulum al-Hadi>s adalah kita>b al-Risa>lah karaya al-Sya>fi’i>.

Pada abad III H kemudian disebut dengan abad keemasan hadis, mulailah Ilmu hadis bersiri sendiri hanya saja para ulama mengumpulkan Ilmu hadis masih bersifat mandiri (tidak menyatu) dalam segi pembahasan, dianatara karya-kaarya yang berhubungan dengan ilmu hadis pada masa ini adalah:

a)      Ikhtila>f al-H{adi>s} karya Ali bin al-Madi>ni>

b)      Ta’wi>l Mukhtalaf al-H{adi>s} karya Ibnu Qutaibah

Kedua karya tersebut di atas bertujuan untuk menjawab serangan kelompok teologi seperti Mu’tazilah dan ahli bid’ah.

c)      Karya-karya Imam al-Bukhary dalam ilmu Hadis: Al-Ta>ri>kh al-Kabi>r, al-Awsat}, al-S|agi>r, dan al-D{u’afa>’

d)      Karya Imam Muslim : T{abaqa>t al-Ta>bi’i>n dan al-‘Ilal

e)      Karya Imam al-Tirimiz}i> : al-Asama’ wa al-Kuna>, al-‘Ilal (yang dicantumkan pada bagian akhir kitabnya al-Ja>mi’), dan al-Tawa>ri>kh.

f)       Karya Imam Muhammad bin Sa’ad, al-Tabaqa>t

g)      Karya al-Nasa>’i> <, al-D{u’afa>’ wa al-Matru>ki>n

Dan banyak lagi, karya-karaya dalam ilmu hadis pada yang lahir pada abad III namun semuanya hanya berbicara pada bab-bab tertentu dalam ilmu hadis dan atau salah satu diantara cabang-cabang ilmu hadis sebagaimana yang telah diklasifikasikan pada poin terdahulu.

Kemandirian ilmu hadis menjadi satu ilmu yang mandiri mulai tanpak pada abad IV H yang terhimpun dalam satu kitab dengan judul al-Muhaddis} al-Fa>s}il baina al-Ra>wi> wa al-Wa>’i> yang disusun oleh al-Qa>d{i> Abu Muhammad al-Hasan bin Abdurrahman al-Ra>mahurmuzi> (w. 360)[13]

Tokoh-tokoh ilmu hadis pada abad ini dan setelahnya adalah: a) Al-Khat}i>b al-Bagda>di> (w. 364 H); b) Al-H{a>kim al-Naisa>bu>ri> (w. 405); c) Al-As|baha>ni> (w. 430 H).


[1]Abdurrahman bin Abu Bakar al-Suyu>t}i> (w. 911 h), Tadri>bu al-Ra>wi> fi> Syarh}i taqri>b al-Nawawi> (Cet. I; Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1417 H / 1996 M), Jld. I, h. 8-9

[2]Ajja>j al-Khat}i>b, Op.Cit., h. 8

[3]M.Noor Sulaiman, Op.Cit., h. 78

[4]Abu Luba>bah Husain, al-Jarh{ wa al-Ta’di>l (Cet.I; Riya>d{: Da>r al-Liwa>’, 1399 H / 1979 M), h. 21

[5]‘Ajja>j al-Khat}ib, Op.Cit., h. 205

[6]Manna’ al-Qat}t}a>n, Op.Cit., h. 98

[7]Ibid., h. 95

[8]Ibid., h. 103

[9]Ibid., h. 129

[10]Al-Suyu>t}i>, Op.Cit., jld. II, h. 224

[11]Ahmad Umar Hasyim,  Al-Sunnah al-Nabawiyyah wa ‘Ulu>muha> (Cet.I; Kairo: Makatabah Gari>b, tth), h. 363-364

[12]Al-Nawawi>, al-Minha>j Syarh} Shahi>h Muslim bin Hajja>j (Cet. I; Kairo: Da>r al-Fikr, 1999 M), Jld. I, h. 103

[13]Abdul Majid Khon, ‘Ulumul Hadis (Cet. I; Jakarta: Amzah, 2008 M), 80-82

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: