h1

PEMBAGIAN HADIS

19 Januari 2010

A. Hadis ditinjau dari kuantitas sanad

1. Hadis mutawatir

Hadis al-mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan sekelompok orang[1] dari awal sanad hingga sampai ke matan hadis yang mustahul sepakat melakukan kebohongan.[2] Menurut Ibn al-S}ala>h{, hadis mutawatir adalah ungkapan tentang hadis yang diriwayatkan oleh orang yang sudah dipastikan kejujurannya dari awal hingga akhir sanad.[3]

Jika melihat definisi tersebut, maka hampir dipastikan sangat sulit menemukan hadis yang berstatus hadis mutawatir. Oleh sebab itu, istilah al-mutawatir bukan muncul dari ahli hadis akan tetapi muncul dari ulama fiqhi dan us}u>l al-fiqh.[4]

Hadis mutawatir dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu:

1)      Al-Mutawatir al-lafz}i> (hadis yang mutawatir lafaznya) yakni hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi pada setiap t}abaqah dengan lafaz yang sama, seperti hadis:

….قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Terjemahannya: Rasulullah saw. bersabda “Barang siapa yang berdusta atas nama saya dengan sengaja, hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka”.[5]

Lafaz hadis di atas termasuk mutawatir karena diriwayatkan dalam beberapa sanad yang berbeda. Pada tingkat sahabat misalnyanya, hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Zubair ibn al’Awwa>m, al-Mugi>rah, Abi> Hurairah, Abdullah ibn Mas’u>d, Anas ibn Malik, Ali ibn Abi T{a>lib, Jabir dan sahabat yang lain. Bahkan Ibn al-S}ala>h{ berkata bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 62 sahabat.[6]

2)      Al-Mutawatir al-Ma’nawi> (Hadis mutawitir maknanya) yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok perawi dengan menggunakan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama seperti hadis mengangkat tangan ketika berdoa.[7] Seperti hadis yang diriwayatkan Abu> Mu>sa> al-Asy’ari>:

دعا النبي صلى الله عليه و سلم بماء فتوضأ به ثم رفع يديه فقال ( اللهم اغفر لعبيد أبي عامر) رواه البخارى.

Begitu juga hadis yang diriwayatkan Abu> Humaid al-Sa>’idi> tentang seorang laki-laki yang diberi tugas memungut zakat, namun disalahgunakan kemudian Nabi saw. naik mimbar dengan mengangkat tangannya seraya berdoa: ألا هل بلغت sebanyak tiga kali.[8]

Begitu juga hadis yang diriwayatkan ‘A<isyah bint Abi> Bakr tentang qunut nazilah.[9]

Singkatnya terdapat beberapa hadis tentang mengangkat tangan pada saat berdoa dengan lafaz yang berbeda akan tetapi maknanya sama yaitu sama-sama mengangkat tangan pada saat berdoa.

2. Hadis al-aha>d

Hadis ahad adalah hadis yang jumlah perawinya tidak sampai pada tingkat mutawatir, baik perawinya satu, dua, tiga, empat hingga jumlah yang tidak ditentukan. Singkatnya hadis yang perawinya tidak sampai pada tingkat mutawatir.[10]

Hadis al-aha>d terbagi tiga yaitu:

a. Hadis masyhur

Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan pada setiap level tiga orang atau lebih akan tetapi tidak sampai pada mutawatir. Sebagian ulama berpendapat jika perawi pada level sahabat dalam sebuah hadis kurang dari tiga orang maka tergolong hadis masyhur.[11]

Diantara contoh hadis masyhur adalah:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Hadis tersebut diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi, antara lain: Abdullah ibn ‘Amr, Ja>bir ibn Abdillah, Abdullah ibn ‘Umar, Abu> Mu>sa> dan Abu> Hurairah. Sedangkan pada tingkat tabi’in, periwayatnya antara lain: al-Syi’bi>, Abu> al-Zubair, ‘A<mir, Abu> Burdah dan Abu> S}a>lih dan seterusnya.[12]

b. Hadis ‘azi>z

Hadis ‘azi>z adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang perawi setiap t}abaqah dalam sanadnya.[13] Kata al-‘azi>z memiliki dua makna yaitu kuat dan jarang. Disebut kuat karena hadis tersebut diperkuat sanad yang lain. Disebut jarang karena hadis yang demikian jarang ditemukan dalam kitab-kitab hadis.[14]

Salah satu contoh hadis masyhur adalah:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Hadis tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat, yaitu Anas ibn Malik dan Abu Hurairah dan dua orang tabi’in, yaitu Qata>dah dan Abd Rahma>n ibn Hurmuz yang menerima dari Syu’bah dan Abu> al-Zina>d dan seterusnya.[15]

c. Hadis gari>b

Hadis gari>b adalah hadi>s yang diriwayatkan oleh satu orang saja mulai dari awal hingga akhir.[16]

Salah contoh hadis gari>b adalah:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

Hadis tersebut hanya diriwayatkan dari Umar ibn al-Khat}t}a>b dari ‘Alqamah ibn Waqqa>s} dari Muhammad ibn Ibra>hi>m al-Taimi> dari Yah}ya> ibn Sa’i>d.[17]

B. Hadis ditinjau dari kualitas sanad

  1. Hadis s}ahi>h

Al-s}ah{i>h{ secara etimologi berarti bebas atau lepas dari segala cacat dan luka. Al-S}ah{i>h{ lawan dari kata al-saqi>m yaitu sakit.[18] Sedangkan secara terminologi, ulama berbeda pendapat:

  1. Menurut Ibn al-S}ala>h{

الحديث الصحيح هو الحديث المسند الذى يتصل إسناده بنقل العدل الضابط عن العدل الضابط إلى منتهاه ولا يكون شاذا أو معللا.

Hadis s{ah{i>h{ adalah hadis yang disandarkan (kepada Rasulullah) yang sanadnya bersambung melalui periwayatan orang adil lagi d}a>bit} (kafasitas intelektualnya diakui) dari orang yang sama hingga akhir sanad tanpa ada syaz| atau ‘illat.[19]

  1. Menurut Imam al-Nawawi>

هو ما اتصل سنده بالعدول الضابطين من غير شذوذ ولا علة.

Yaitu hadis yang bersambung sanadnya melalui perawi-perawi yang adil lagi d}a>bit} tanpa ada syaz dan ‘illat.[20]

Dengan demikian, hadis s}ah{i>h harus memenuhi lima kriteria sebagai berikut:

-          Ittis{a>l al-sanad (Persambungan sanad dari awal hingga Rasulullah saw.

-          Setiap perawinya adil yakni jauh dari kefasikan dan menjaga muru’ah.[21]

-          Setiap perawinya d{a>bit{, yaitu kuat hafalan dan tulisannya.

-          Tidak terjadi syaz| (kejanggalan) yaitu tidak bertentang dengan perawi yang lebih s|i>qah (dipercaya).

-          Tidak terjadi ‘illat yaitu sesuatu yang dapat menyebabkan keabasahan hadis cacat atau diragukan.[22]

Hadis s}ah{i>h{ dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu:

a. S{ah{i>h{ li z|a>tih

Hadis yang memenuhi syarat diterima paling tinggi seperti pada defenisi hadis s{ah{i>h{ sebelumnya. Contohnya:

إِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْزِنَهُ.[23]

b. S{ah{i>h{ li gairih

Hadis yang tidak terpenuhi syarat-syarat diterima paling tinggi, akan tetapi diidukung oleh hadis lain yang sama derajatnya atau lebih tinggi, seperti perawinya adil akan tetapi kapasitas intelektualnya tidak sempurna.[24] Contoh:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ – وَفِى حَدِيثِ زُهَيْرٍ عَلَى أُمَّتِى – لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muhammad ibn ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu> Hurairah, padahal Muhammad ibn ‘Amr terkenal jujur namun ked}abit{annya tidak sempurna, akan tetapi hadis tersebut mempunyai sanad lain Abu> al-Zana>d dari al-A’raj dari Abu> Hurairah.[25]

2. Hadis hasan

Hadis hasan secara etimologi bermakna indah atau baik. Sedangkan secara termenologi, ulama memberikan definisi yang beragam, antara lain:

-     Menurut al-Khatta>bi>, hadis hasan adalah hadis yang diketahui asalnya dan para perawinya terkenal.

-     Menurut al-Turmuz|i>, hadis hasan adalah hadis yang di dalam sanadnya tidak terdapat perawi yang diduga dusta dan hadisnya bukan syaz\ serta ada sanad lain yang sama.

-     Menurut Sebagian ulama muta’akhkhirin, hadis hasan adalah hadis yang terdapat perawi yang d}aif (lemah) akan tetapi tidak parah.

-     Menurut Ibn al-S}ala>h, hadis hasan dibagi dalam dua bagian, yaitu hadis hasan seperti definisi al-Khatta>bi dan hadis hasan seperti definisi al-Turmuz|i>.[26]

Hadis hasan juga terbagi dua, yaitu:

a. Hasan li z|a>tih

Hasan li z||atih adalah hadis yang memenuhi syarat-syarat hadis s}ah{i>h{, akan tetapi para perawinya atau salah satunya kurang ked{abit}annya dibanding hadis s}ah{i>h{. Contohnya:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أعمار أمتي ما بين ستين إلى سبعين وأقلهم من يجوز ذلك.[27]

Jika hadis hasan li z|a>tih memiliki sanad lain yang selevel atau lebih kuat, maka hadis tersebut naik ke tingkat s}ah{i>h{ li gairih.[28]

b. Hasan li gairih

Hasan li gairih hadis yang dalam sanadnya ada perawi yang mastu>r (keahliannya tidak jelas) dan tidak termasuk pelupa, tidak banyak salah, tidak diduga melakukan kebohongan, dan tidak dicurigai fasik, akan tetapi hadis tersebut didukung oleh sanad yang selevel atau lebih kuat.[29] Contoh:

حق على المسلمين أن يغتسلوا يوم الجمعة وليمس أحدهم من طيب أهله فإن لم يجد فالماء له طيب

Hadis tersebut pada dasarnya d}a’if karena Husyaim lemah, akan tetapi ketika hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu> Yah{ya> al-Taimi>, maka statusnya naik ke tingkat hasan li gairih.[30]

3. Hadis D{a’i>f

D}a’i>f secara etimologi lawan kata kuat yakni lemah. Secara terminologi, hadis d{a’i>f adalah hadis yang tidak terpenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah hadis.[31] Contoh:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

Jika ditinjau dari derajat kelemahannya, Hadis d{a’i>f dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu:

  1. Hadis d{a’i>f yang kelemahannya tidak parah, artinya hadis d{a’i>f yang dapat naik status hasan li gairih jika didukung oleh hadis lain yang sama derajatnya atau lebih kuat. Semisal hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang boleh ditulis hadisnya akan tetapi tidak bisa dijadikan hujjah secara mandiri, atau hadis munqat}i’ atau mursal.[32]
  2. Hadis d{a’i>f yang kelemahannya parah sehingga berubah statusnya meskipun ada hadis lain yang mendukungnya, seperti perawinya pendusta, matruk karena hafalannya jelek atau banyak salah atau perawinya tidak dikenal. [33]

[1]Ulama berbeda pendapat tentang jumlah perawi pada setiap t}abaqah (tingkatan) sanadnya, sebagian ulama mengatakan 4 perawi, sebagian lagi membatasi pada 5 perawi, sebagian yang lain membatasi pada 10 perawi, bahkan ada ulama yang mengharuskan berjumlah 40 atau 70. Akan tetapi mayoritas ulama tidak menentukan jumlah perawi setiap t}abaqahnya, yang penting dapat meyakinkan bahwa mereka tidak berdusta. Lihat: Abu> Abdillah Mus}t}fa> ibn al-‘Adawi>, Syarh} ‘Ilal al-Hadi>s (T}anta> Mesir: Maktabah Makkah, 2004), h. 10.

[2]Abd Haq ibn Saifuddin al-Dahlawi>, Muqaddimah fi> Us}u>l al-Hadi>s| (Bairut: Da>r al-Basya>ir al-Isla>miyah, 1406 H/1986 M), h.75.

[3]Abu> ‘Amr ‘Us|ma>n Ibn Abd Rahma>n al-Syaharzu>ri> (Ibn al-S}ala>h{), ‘Ulu>m al-H{adi>s| (Cet. I; al-Maktabah al-Fara>bi>, 1984) h. 155.

[4]Istilah tersebut pertama digunakan oleh Muhammad ‘Ajja<al-Khati>b. lihat: Ibid. h. 155.

[5]Lihat: Abu> al-Husain Muslim ibn al-Hajja>j al-Qusyairi>, S}ahi>h Muslim (Bairut: Da>r al-Jail, t.th.), vol. 1 h. 7.

[6]Ibn al-S}ala>h{, ‘Ulu>m al-Hadi>s|, Op.Cit., h. 155.

[7]Abu> Abdillah Mus}t}fa> ibn al-‘Adawi>, Op.Cit., h.11.

[8]Lihat: al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol. 6 h. 2624.

[9]Lihat: Abu> Da>ud Sulaima>n ibn al-Asy’as|al-Azdi>, Sunan Abi> Da>ud (Bairut; Da>r al-Fikr, t.th.), vol. 1 h. 374.

[10]T}a>hir al-Jaza>iri>, Tauji>h al-Naz}r ila> Us}u>l al-As|ar (Cet. I; Halb: Maktabah al-Mat}bu>’ah al-Isla>miyah, 1416 H/1995 M), vol.1 h. 108.

[11]Abu> Abdillah Mus}t}afa> ibn al-‘Adawi>, Op.Cit., h.12.

[12]Untuk mengetahui sanad hadis di atas secara lengkap, lihat: al-Bukha>ri, S}ah}i>h{ al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol. 1 h. 13., Muslim ibn al-Hajja>j, S{ahi>h{ Muslim, Op.Cit., vol. 1 h. 48., Abu> Abd Rahma>n Ah{mad ibn Syu’aib al-Nasa>i>, Sunan al-Nasa>i> (Cet. II; Halb: Maktab al-Mat}bu>’a>t al-Isla>miyah, 1406 H/1986 M), vol. 8 h. 105 dan Abu> I>sa> al-Turmuz|i>, Sunan al-Turmuz|i> (Bairut: Da>r Ih}ya’ al-Tura>s| al-‘Arabi>, t.th..), vol. 5 h. 17.

[13]Hasan Muhammad al-Masysya>t{, al-Taqri>ra>t al-Saniyah (Cet. IV; bairut: Da>r al-Kita>b al-‘Arabi>, 1417 H/1996 M), h. 33.

[14]Ibid. h. 31.

[15]Muslim ibn al-Hajja>j, S{ahi>h Muslim, Op.Cit., vol. 1 h. 49 dan al-Nasa>i>, Sunan al-Nasa>i>, Op.Cit., vol.8 h. 115.

[16]Muhammad ibn S}a>lih{ al-‘Us|aimin, Mus}t}alah} al-Hadi>s| (Cet. I; al-Mamlakah al-Sa’u>diyah al-‘Arabiyah, Da>r Ibn al-Jauzi>, 1424 H), h. 12.

[17]Al-Bukha>ri>, S}ah{i>h{ al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol. 1 h. 3, Muslim ibn al-Hajja>j, S}ah{i>h{ Muslim, Op.Cit., vol. 6 h. 48, Abu> Da>ud al-Azdi>, Sunan Abi> Da>ud, Op.Cit., vol. 1 h. 670. Al-Nasa>i>, Sunan al-Nasa>i>, Op.Cit., vol. 6 h. 158. Dan lain-lain.

[18]Ibnu Fa>ris, Op.Cit., vol. 3 h. 257.

[19]Ibn al-S}ala>h{, Op.Cit., 10.

[20]Al-Suyu>t{i>, Op.Cit., vol.1 h. 63.

[21]Ada banyak term yang mendapat ulama kriteria syarat-syarat perawi yang adil. Untuk lebih jelasnya, lihat: M. Syuhudi Isma>i>l, Kaedah-kaedah Kesahihan Sanad Hadis (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 1998 M), 115.

[22]Ajja>j al-Khati>b, Op.Cit., h. 304-305.

[23]Al-Bukha>ri, S{ah{i>h{ al-Bukha>ri>, Op.Cit., vol. 5 h. 2319 dan Muslim ibn al-Hajja>j, S{ah{i>h{ Muslim, Op.Cit., vol.7 h. 12.

[24]‘Ajja>j al-Khat{i>b, Op.Cit., h. 306.

[25]Ibid. h.333.

[26]Ibn al-S}ala>h, Op.Cit., h. 26-28.

[27]Abu> I<sa> al-Turmuz|i>, Op.Cit., vol. 5 h. 553.

[28]Mah{mu>d al-T}ah{h{a>n, Taisi>r Mus}t}alah{ al-Hadi>s| (Cet. VIII; al-Riya>d}: Maktabah al-Ma’a>rif, 1407 H/1987 M), h. 51.

[29]Muhammad Jamaluddin al-Qa>simi>, Qawa>’id al-Tah{di>s| min Funun Mus}t}alah{ al-Hadi>s|, t.d. h. 102.

[30]Ibra>hi<m Dasu>qi al-Syaha>wi>, Op.Cit., h. 19.

[31]Syarat diterimanya sebuah hadis dapat dilihat pada syarat-syarat hadis s{ah{i>h{. lihat: ‘Amr ‘Abd al-Mun’im Sulaim, Taisi>r ‘Ulu>m al-Hadi>s| li al-Mubtadii>n (Cet. III; T{ant}a>: Da>r al-D{iya>’, 2000 M), h. 34.

[32]‘Ajja>j al-Khat{i>b, Op.Cit., h. 333.

[33]‘Amr Abd Mun’im Sulaim, Op.Cit., h. 36.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: