h1

KAIDAH KESHAHIHAN HADIS

19 Januari 2010

A. Kaidah Mayor sanad dan matan hadis

Kaidah mayor (al-Qawa>’id al-Kubra>) sanad dan matan dapat diketahui melalui syarat-syarat kesahihan suatu hadis. Adupun rumusan tentang syarat-sayarat kesahihan hadis sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu ‘Amr Usman bin ‘Abd al-Rahman bin al-S{ala>h{ al-Syahrzu>ri>, yang dikenal dengan Ibnu al-S{ala>h} (w.577 H / 1245 M) dan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi>, yang dikenal denga al-Nawawi> (w. 676 H/1277 M). Rumusan yang dikemukakan oleh Ibnu al-S{ala>h sebagai berikut:

أَمَّا الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ: فَهُوَ اَلْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ، الَّذِيْ يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ اْلعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَلاَ يَكُوْنُ شَاذًّا، وَلاَ مُعَلَّلاً.

Adapun hadis s}ahi>h adalah hadis yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi saw), diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan d{a>bit{ dari (periwayat) yang adil dan d{a>bit sampai akhir sanad, tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[1]

Sedangkan rumusan kesahihan hadis yaSng dirumuskan oleh al-Nawawi> adalah :

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِالْعُدُوْلِ الضَّابِطِيْنَ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

“(Hadis s}ah}i>h} ialah) hadis yang bersambung sanadnya, (diriwayatkan oleh orang-orang yang) adil dan d{a>bit}, serta tidak mengandung kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[2]

Berdasarkan kedua defenisi di atas, maka unsur-unsur kaidah kesahihan hadis ada tiga yaitu:

  1. Sanad hadis yang bersangkutan harus bersambung dari mukharrij sampai kepada Nabi saw.
  2. Seluruh periwayat dalam hadis tersebut harus bersifat ‘adil dan d{a>bit{.
  3. Sanad dan matan hadis tersbut harus terhindar dari kejanggalan (syuz|u>z|) dan cacat (‘illat).[3]

Dari ketiga butir tersebut dapat diurai menjadi tujuh butir, yakni lima butir berhubungan dengan sanad dan dua butir berhubungan dengan matan, butir-butir yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Yang berhubungan dengan sanad adalah : a) sanad bersambun; b) periwayat bersifat ‘adil; c) periwayat bersifat d}a>bit}; d) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan e) Terhindar dari ‘illat (cacat).
  2. Yang berhubungan dengan matan adalah: a) terhindar dari syuz|u>z| (kejanggalan); dan b) terhindar dari ‘illat (cacat).[4]

B. Kaidah minor sanad dan matan hadis

Yang dimaksud dengan kaidah minor (al-Qawa>’id al-Sugra>) adalah unsur-unsur kaidah yang merupakan turunan dan penjelasan terperinci dari kaidah mayor (al-Qawa>’id al-Kubra>) terdahulu. Adapun kaidah-kaidah minor sanad dan matan adalah sebagai berikut:

Kaidah minor sanad hadis

1. Sanad tersambung (ittis}a>lu al-sanad)

Unsur pertama dari kaidah mayor kesahihan hadis sebagaimana uraian terdahulu adalah sanad bersambung. Yang dimaksud dengan sanad bersambung ialah tiapa-tiap periwayat hadis menerima riwayat hadis dari periwayat yang ada di atasnya (gurunya/syaikhnya), hal ini berlangsung sampai padaa peneriamaan dari yang mengatakannya (Rasulullah saw).[8]

Para ulama berbeda dalam memberikan peristilahan terhadap hadis yang sanadnya bersambung, al-Khat}i>b al-Bagda>di> (w.463 H/1072 M) memberikan istilah terhadap sanad muttas}il dengan istilah hadis musnad. Akan tetapi Ibnu ‘Abdi al-Barr (w. 463 H/ 1071 M) mengkritisi peristilahan al-Bagda>di> dimana menurutnya hadis musnad adalah hadis marfu’ dan sanad hadis musnad ada yang sanadnya bersambung dan adpula yang terputus.[9] Sementara itu al-Sakaha>wi> (w. 902 H/1497 M) berdasarkan hasil penelitiannya berpendapat sebagaimana pendapat al-Bagda>di> di atas.[10] Dengan demikian para ulama hadis pada umumnya berpendapat bahwa semua hadis musnad pasti marfu’ dan bersambung sanadnya, dan tidak semua hadis marfu’ tersambung sanadnya.[11]

Selain istilah hadis musnad untuk hadis yang sanadnya bersambung, dikenal pula dikalangan para ulama istilah hadis muttas}il atau hadis maus}u>l. Menurut Ibnu al-S}ala>h dan al-Nawawi> bahwa yang dimaksud dengan hadis muttas}il atau hadis maus}u>l adalah hadis yang sanadnya bersambung baik kepada Nabi saw maupun kepada Sahabat saja.[12] Dengan demikian hadis muttas}il atau maus}u>l, ada yang marfu’ (yaitu hadis yang disandarkan  kepada Nabi saw) dan adapula yang mauqu>f (hadis yang disandarkan kepada Sahabat Nabi saw). Jika muttas}il atau maus}u>l dibandingkan dengan musnad, maka dapat dikatakan bahwa semua hadis musnad pasti muttas}il atau maus}u>l dan tidak semua hadis muttas}il atau maus}u>l adalah musnad.

Berdasarkan keterangan singkat di atas, maka kaidah minor (al-Qawa>’id al-Sugra>) untuk kaidah ittis}a>l al-sanad ada dua yaitu; (a) Muttas}il; dan (b) Marfu’,[13] jadi sanad yang marfu’ lagi muttas}il adalah sanad yang sahih dan hadis tersebut adalah hadis musnad.

Contoh hadis musnad, marfu’, muttas}il :

عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ”

Terjemahannya: Dari Ma>lik (ibnu Anas) dari Ibnu Syiha>b (al-Zuhri>) dari Sa>lim bin ‘Abdullah (bin ‘Umar) dari Abdullah bin ‘Umar (bin al-Khat}t}ab): bahwasanya Rasulullah saw. suatu ketika melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya untuk bersifat malu, kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Biarkan dia karena siafat malu (itu) bagian dari iman”.[14]

2. Periwayat bersifat ‘adil

‘Adil secara etimologi adalah sikapa lurus dalam jiwa yang merupaka lawan dari sikap ju>r (sewenang-wenang)[15]. Para ulama meliki pendapat tentang kata ‘adil secara terminology diantaranya al-Khat}i>b al-Bagda>di> (w. 463H) sebagaimana yang dia nuqil dari al-Qa>d}i> Abu Bakar al-T{ayyib (w. 403 H) mengatakan: “keadilan yang harus dimiliki oleh seorang saksi dan pembawa berita adalah keadilan yang berhubungan dengan sikap lurus dalam agama, selamat dari kefasiqan, dan segala hal yang dapat menghapuskna sikap ke’adilan baik jasad maupun hati”.[16]

Adapun menurut Ibnu Hazm (w.456 H): “ke’adilan adalah melakasanakan segala bentuk kewajiban, meninggalkan seluruh bentuk larangan, d{a>bit dalam meriwayat apa yang dia khabarkan (beritakan).[17]

Menurut Al-H{a>zimi> (w. 594 M) : “Sifat-sifat ke’dilan adalah mengikuti segala perintah Allah swt dan menjauhi pelanggaran terhadap segala larangan-Nya, menjauhi kemaksiatan, berpegangteguh pada kebenaran, menjaga lisan dari perkataan-perkatan yang dapat menjatuhkan Islam dan kehormatan diri (muru>’ah), dan sifat ‘adil tidak sebatas meninggalkan dosa-dosa besar tetapi juga menajuhi dosa-dosa kecil, ketika sikap-sikap ini terdapat pada diri seseorang, maka ia adalah seorang yang ‘adil dan persaksiannya dapat diterima”.[18]

Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqala>ni> dan al-Sakha>wi> : “Pribadi yang senantiasa bertaqwa dan menjaga muru>ah”>.[19]

Sementara itu Ibnu al-S}ala>h berpendapat bahwa para ulama hadis dan fiqhi telah bersepakat (ijma’) bahwa yang dapat diterima periwayatannya adalah perawi yang ‘adil dengan perincian bahwa dia Muslim, Balig, ‘Aqil, selamat dari sebab-sebab kefasikan dan penjatuhan harga diri (khawarim al-Muru>ah), sadar dan tidak lalai, hafid} jika ia meriwayatkan dari hafalannya, d}a>bit dalam tulisan apabila ia meriwayatkan dari tulisannya.[20]

Memperhatikan pernyataan para ulama di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kaidah minor (al-Qawa>’id al-Sugra>) dari kaidah mayor periwayat bersifat ‘adil adalah:

  1. Beragama Islam
  2. Balig
  3. ‘Aqil
  4. Taqwa
  5. Memelihara Muru>’ah
  6. Teguh dalam Agama
  7. Menjauhi dosa besar
  8. Menajuhi dosa kecil
  9. Tidak berbuat fasik
  10. Tidak bermaksiat
  11. Tidak berbuat bid’ah
  12. Tidak lalai (dalam hafalan dan tulisan)
  13. Tidak berdusta
  14. Berakhlak baik
  15. Dapat dipercaya

Dari 15 butir di atas dapat di simpulkan bahwa kaidah-kaidah minor yang dapat ditetapkan untuk kaidah mayor kedua ini ada empat yaitu;

  1. Beragama Islam
  2. Mukallaf
  3. Melaksanakan ketentuan agama
  4. Menjaga dan memelihara muru>ah.[21]

Apabila keempan poin di atas telah terkumpul dalam diri seorang perwi, maka riwayatnnya diterima sebaba dia telah berlakau ‘adil bagi dirinya dan hadis Nabi saw.

3. Periwayat persifat d}a>bit}

D}abt} secara etimologi adalah melazimi sesutu dan tidak meninggalkannya.[22] Adapun secara terminologi, maka menurut para muh}ddis}i>n bahwa d}abt} terbagi kedalam dua bagian yaitu; pertama : d}abt} al-S{adr yaitu seorang perawi yang kuat hafalannya akan apa yang dia dengarkan dan mampu menyampaikan kapan saja dia kehendaki, dan yang kedua adalah d}abt} al-Kita>bah yaitu seorang perawi yang senantiasa menjaga kebenaran dan kelurusan serta memahami tulisan sebagaimana yang dia dengarkan dan memahaminya serta mengetahui dengan baik kesalahan-kesalahan akan tulisan dalam kitab yang ada padanya dan mampu menyampaikannya kapanpun dia kehendaki.[23]

Masalah tentang d}abt} s}adr para ulama tidak hanya sekedar menpersyaratkan kekuatan hafalan dari apa yang didengarkannya tetapi juga dipersyaratkan adanya pemahaman terhadap apa yang dihafalkannya tersebut.[24]

Adapun tentang d}abt} al-kitabah sangat diperlukan utamanya bagi mereka yang meriwayatkan dari gurunya melalui salah satu dari dua metode periwayatan yaitu al-qira>atu ‘ala> al-syaikh (membacakan karya guru dihadapan guru) atau al-ija>zah (mendapatkan izin untuk meriwayatkan dari karya syaikh).

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kaidah minor dari kaidah mayor ke-d}abit}-an perawi adalah: (a) Kekuatan hafalan dan pemahaman; (b) Kekuatan dalam memahami tulisan. Dengan demikian apabila seorang perawi telah menghafalakan dan memahami dengan baik apa yang dia dengarkan dan mampu menyampaikannya kapan saja, maka dia tergolong s}iqat demikian pula perwi yang mampu mengetahi kesalahan-kesalahan tulisan dalam kitab gurunya yang kemudian dia luruskan dan menyampaikannya.

4. Periwayat terhindar dari syuz|u>z|

Kata Syuz|u>z| merupakan bentuk plural dari kata Sya>z| yang secara etimologi berarti sesuatu yang berbeda atau minoritas, dapat pula bermakna sesuatu yang menyendiri, al-Lais} berkata: “Seseorang dikatakan sya>z| apabila ia menjauh dan berbeda dari kawan-kawannya yang lain”, dan juga sega sesuatu yang berdiri sendiri adalah sya>z|.[25] Adapun Sya>z| secara terminologi, maka para muh}addis}i>n berbeda pendapat dalam menjelaskannya, terdapat tiga ulama yang memiliki perbedaan yang menonjol dalam memberikan pengertian terminology sya>z| mereka adalah;

Imam al-Sya>fi’i> dimana beliau berpendapat bahwa hadis yang diriwaytkan oleh seorang perawi s}iqat tetapi tidak diriwayatkan oleh perawi s}iqat lainnya tidak dapat dikatakan sebagai hadis yang mengandung sya>z|, akan tetapi hadis yang menagndung sya>z| adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi s}iqat dan bertentangan dengan riwayat yang diriwayatkan oleh banyak periwayat.[26] Demikian pula pendapat ulama H{ija>z.

Sementara al-H{a>kim al-Naisa>bu>ri> berpendapata bahwa sya>z| adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang s}iqah tetapi tidak diriwayatkan oleh perawi s}iqat lainnya.[27]

Adapun al-Khali>li> al-Qazwi>ni> sebagaimana yang di sebutkan oleh al-Qa>simi> memandang bahwa sya>z| adalah hadis yang hanya memiliki satu sanad yang diriwaytkan baik oleh seorang perawi s}iqat maupun tidak, apabila diriwayatkan dari rawi s}iqat, maka riwayat tersebut dibiarkan (mutawaqqif) dan apabila diriwayatkan dari seorang rawi yang tidak s}iqat, maka riwayat tersebut tertolak (mardu>d).[28]

Dari ketiga pandangan ulama tentang sanad yang mengandung sya>z| (kejanggalan), maka dapat dikemukakan bahwa Imam al-Sya>fi’i> memandang bahwa hadis sya>z| adalah hadis yang apabila terkumpul di dalamnya tiga unsure kaidah:

a)      Sanad hadis tersebut lebih dari satu

b)      Periwat dalam sanad tersebut s}iqat

c)      Sanad dan atau matan hadis tersebut bertentangan dengan riwayat dari s}iqat yang lain.[29]

Adapun dalam pandangan al-H{a>kim bahwa sebuah hadis dapat dikatakan sya>z| apabila terkumpul tiga perkara yaitu:

a)      Hadis tersebut diriwaytkan oleh perawi tidak s}iqat

b)      Terjadinya pertentangan riwayat antar perawi s}iqat

c)      Hadis tidak memiliki muta>bi’ atau sya>hidi[30]

Adapun dalam pandangan al-Khali>li> bahwa sebuah hadis hadis dapat dikatakan sebagai sya>z| apabila dalam hadis terkumpul dua hal yaitu;

a)      Memiliki sanad lebih dari satu

b)      Diriwayatkan oleh perawi yang s}iqat ataupun tidak.

Para ulama hadis seperti Ibnu al-S{ala>h dan al-Nawawi> lebih cenderung menggunakan pengertian Ima>m al-Sya>fi’i> karena kemudahan dalam praktek penelitian ke-sya>z|-an sanad dan atau matan suatu hadis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kaidah minor dari kaidah mayor periwayat terhindar dari syuz|u>z adalah :

a)      Riwayat memiliki lebih dari satu sanad

b)      Para rawi dalam sanad bersifat s}iqat

c)      Terjadi pertentangan anatar riwayat

d)      Hadis tidak memiliki muta>bi’ atau sya>hidi.

  1. Periwayat terhindar dari ‘illat

Kata ‘Illat secara etimologi adalah perubahan suatu keadaan kepada keadaan yang lain (lebih buruk), oleh karena itu penyakit disebut ‘illat karena terjadinya perubahan keadaan dari kuat menjadi lemah.[31] Adapun secara terminology ilmu hadis adalah sebuah hadis yang cacat disebabkan karena sesuatu yang terselubung yang dapat merusak kwalitas kesahihan hadis[32] seperti; wahmu al-Ra>wi> (kesalahan rawi karena kurangnya ke-d}abit}-an) apakah perawi tersebut bersifat s}iqat ataupun tidak, kesalahan ini biasa terjadi dalam sanad ataupun matan.[33] Dan ‘illat suatu hadis dapat diketahui dengan melihat apabila terjadi tafarrud (kemandirian) perawi dalam meriwayatkan suatu hadis, atau riwayat perawi bertentangan dengan riwayat yang lain, atau karena kesalahan penyebutan nama perawi, atau terjadinya percampuran nama perawi dalam sanad dan atau lafaz} dalam matan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kaidah minor yang berhubungan dengan kaidah mayor perawi terthindar dari ‘illat adalah:

(a)      Tafarrud al-Ra>wi> (kemandirian perawi) dalam meriwayatkan hadis

(b)     Terjadinya pertentangan dalam periwayatan

(c)      Kesalahan penyebutan nama perawi dalam sanad

(d)     Percampuran perawi dari sanad yang lain dalam satu sanad

(e)      Terjadinya irs>al dalam sanad

(f)       Terjadinya inqitha’

(g)     Terjadinya tadli>s al-Syuyu>kh (menjatuhkan nama perawi yang ada diatasnya)

Kesimpulan dari seluruh pembahasan terdahulu bahwa kaidah mayor yang berhubungan dengan sanad ada empat yaitu; (a) Sanad tersambung; (b) periwayat harus bersifat ‘adil; (c) periwayat harus bersifat d}abt} dan atau d}abt} ta>mm. adapun kaidah minor dari masing-masing kaidah mayor adalah:

  1. Untuk sanad tersambung : (i) muttas}il atau maus}u>l; (ii)marfu’; (iii) mah}fu>z}; (iv) bukan sanad mu’all (sanad tidak menagndung ‘illat)
  2. Untuk periwayat persifat ‘adil: (i) beragama Islam; (ii)mukallaf; (iii) melaksanakan ketentuan agama dengan baik; (iv) menjaga dan memelihara muru>ah
  3. Untuk periwayat yang bersifat ‘adil dan d}a>bit} : (i) haafal dengan baik hadis yang diriwayatkannya; (ii) mampu menyampaikan hadis yang dihafalkannya kepada orang lain dengan baik; (iii) terhindar dari kejanggalan (syz|u>z|); dan (iv) terhindar dari cacat (‘illat).[34]

Kaidah minor matan hadis

Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan bahwa kaidah yang harus dipenuhi sehingga suatu matan hadis dapat dikatakan sebagai matan yang sahih adalah: 1) terhindar dari syuz|u>z; 2) terhindar dari ‘illat. Kedua kaidah ini kemudian disebt dengan al-Qawa>’id al-Kubra> li S}ih}h}ati al-Matani (kaidah mayor kesahihan matan). Adapun kaidah minor (al-Qawa>’id al-Sugra>) bagi masing-masing kaidah mayor adalah:

  1. Matan hadis terhindar dari syuz|u>z|

Jika dalam kaidah kesahihan sanad hadis kaidah terhindar dari syuz|u>z| dimasukkan seabagai kaidah minor untuk kaidah mayor periwayat harus bersifat ‘adil dan d}a>bit}, maka dalam matan kaidah ini masuk dalam kategori kaidah mayor.

Pengertian tentang kata sya>z| telah dijelaskan terdahulu, adapun pada bagian ini hanya akan di jelaskan beberapa kaidah minor yang menjadi turunan dari kaidah mayor matan.

Jika dalam sanad yang menagndung syuz|u>z| dilihat dari periwayatnya yang s}iqat yang menayalahi riwayat para rawi yang s}iqat lainnya, maka dalam matan yang menagndung syuz|u>z| dilihat dari segi lafaz} hadis yang diriwayatkan oleh orang s}iqat dan menyalahi atau bertentangan dengan lafaz} yang diriwayatkan oleh perawi s}iqat lainnya. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa kaidah minor berdasarkan pendapat al-Sya>fi’i> dan al-Khali>li> dalam masalah hadis syuz|u>z adalah:

  1. Sanad dari matan yang bersangkutan harus mah}fu>z} dan tidakk gari>b
  2. Matan hadis bersangkutan tidak bertentangan atau menyalahi riwayat yang lebih kuat.[35]

Konsekuensi dari kaidah minor di atas dalam melakukan penelitian terhadap matan hadis yang mengandung sya>z| adalah bahwa penelitian tidak dapat terlepaskan dari penelitian atas kualitas sanad hadis yang bersangkutan.[36]

  1. Matan hadis terhindar dari ‘illat

Sebagaimana yang telah diuraikan pada pembahasan kaidah minor sanad diamana kaidah tentang terhidar dari ‘illat merupkan bagian dari kaidah minornya adapun pada matan, maka kaidah tersebut adalah kaidah mayor.

Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan tentang pengertian etimologi dan terminologi ‘illat dan karakteristik hadis mu’all ditinjau dari segi sanad. Adapun pada bagian ini lebih di tekankan akan kaidah minor dari kaidah terhindarnya matan hadis dari ‘illat.

Adapun kaidah minor dari matan hadis yang terhindar dari ‘illat adalah:

  1. Tidak terdapat ziya>dah (tambahan) dalam lafaz}
  2. Tidak terdapat idra>j (sisipan) dalam lafz{ matan
  3. Tidak terjadi id{t}ira>b (pertentangan yang tidak dapat dikompromikan) dalam lafaz{
  4. Jika ziya>dah, idra>j dan id{t{ra>b bertentangan dengan riwayat yang s}iqat lainnya, maka matan hadis tersebut sekaligus mengandung sya>z|.[37]

Secara umum, bahwa suatu matan hadis dapat dikatakan sahih apabila:

  1. Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an
  2. Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat
  3. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, dan sejarah.
  4. Susunan bahasanya menunjukkan cirri-ciri lafaz{ kenabian [38] yaitu; tidak rancu, sesuai dengan kaidah bahasa arab, fasih.[39]

[1]Abu ‘Amr Usman bin ‘Abd al-Rahman bin al-S{ala>h{ al-Syahrzu>ri>, yang dikenal dengan Ibnu al-S{ala>h} (w.577 H / 1245 M), ‘Ulu>m al-H{adi>s{ (Cet. II; al-Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1872 M), h. 10

[2]Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi>, yang dikenal denga al-Nawawi> (w. 676 H/1277 M), al-Taqri>b wa al-Taysi>r li Ma’rifati Sunan al-Basyi>r al-Naz|i>r fi> Us{u>li al-H{adi>s} (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabi>, 1405 H / 1985 M), h. 25

[3]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 1424 H / 2007 M), h. 61

[4]Ibid.,

[5]Arifuddin Ahmad, Paradigma baru Memahami Hadis Nabi (Cet. I; Jakarta: Renaisan, 2005), h. 78

[6]M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis; Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1426H / 2005 M), h. 130

[7]Ariffuddin Ahmad, Loc.Cit.

[8]Nu>ruddin ‘Itr, Manhaj al-Naqdi fi> ‘Ulu>m al-H{adi>s} (Cet. III; Damaskus: Da>r al-Fikr, 1401 H/ 1991 M), h. 242

[9]Ibnu al-S}ala>h}, Op. Cit., h. 39

[10]Muhammad ibnu ‘Abdirrahman al-Sakha>wi>, Fath al-Mugus} Syarh} Alfiyatu al-H{adi>s} (Cet. I; al-Madinah al-Munawwarah: al-Makatabah al-Salafiyyah, 1388 H / 1968 M), Jld. I, h. 99

[11]M. Syuhudi Ismail, Kaidah, Op.Cit., h. 131

[12]Ibnu al-S}ala>h, Op.Cit., h. 40. Lihat juga; al-Nawawi>, Op.Cit., h. 32

[13]M. Syuhudi Ismail, Op.Cit., h. 133

[14]Ma>lik bin Anas, Op.Cit., Kita>b al-Jami’ Ba>b fi al-Haya’, Jld. II, h. 243

[15]Ibn Manz|u>r, Op.Cit., Jld. XIII, h. 430

[16]Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin S{a>bit  Al-Khth{i>b al-Bagda>di>, al-Kifa>yah fi> ‘ilmi al-Riwa>yah (Cet. II; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1406 H / 1989 M) h. 102

[17]Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm, al-Ihka>m fi> Us}u>l al-Ahka>m (Cet. I; Beirut: Da>r al-‘A<fa>q al-Jadi>dah,  1403 H / 1983 M), Jld. 11, h. 144

[18]Abu Bakar Mu>sa> al-H{azimi>, Syru>t} al-Aimmah al-Khamsah (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H / 1984 M), h. 55

[19]Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Nuzhatu al-Naz}ar Syarh} Nukhbah al-Fikr (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth), h. 38. Lihat pula: al-Shka>wi>. Op.Cit., Jld. I, h. 27

[20]Ibnu al-S}ala>h}, Op.Cit., h. 95

[21]M. Syhudi Ismail, Kaidah, Op.Cit., h. 139

[22]Ibnu Manz}u>r, Op.Cit., jld. 7, h. 340

[23]Al-‘Asqala>ni>, Nuzhat, Op.Cit., h. 38

[24]M. Syuhudi Ismail, Op.Cit., h. 140-141

[25]Ibnu Manz}u>r, Op.Cit., Jld. I, h. 2400

[26]Al-Nawawi>, Op.Cit., h. 40

[27]Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah al-H{a>kim al-Naisabu>ri>, Ma’rifat ‘Ulu>m al-H{adis} (Cet. II; al-Madinah al-Munawwarah: al-Makatabah al-‘Ilmiyyah, 1397 H / 1977 M), h. 119

[28]Muhammad Jama>luddin al-Qa>simi>, Qawa>’id al-Tadi>s} min Funu>ni Mus}t}alah} al-H}adi>s} (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabiyyah, tth), h. 131

[29]M.Syuhudi Ismail, Op.Cit., h. 144

[30]Ibid., h. 145

[31]Ibnu Manz}u>r, Op.Cit., Jld. I, h. 7353

[32]Ibnu al-S{ala>h, Op. Cit., h. 81

[33]H{amzah ‘Abdullah al-Malyaba>ri>, al-H{adi>s} al-Ma’lu>l; Qawa>’id wa D{awa>bit} (Cet. I; Makkah al-Mukarramah: al-Maktabah al-Makkiyyah, 1416 H / 1996 M), h. 10

[34]M. Syhudi Ismail, Op.Cit., h. 156

[35]Arifuddin Ahmad, Op. Cit., h. 110

[36]Ibid.,

[37]Ibid., h.114

[38]S{ala>h}uddin bin Ahmad al-Adlabi>, Manhaj Naqd al-Matan (Cet. I; Beirut: Da>r al-A<fa>q al-Jadi>dah, 1403 H / 1983 M), h. 238

[39]Muhammad al-Sabba>g, al-H{adi>s} al-Nabawi>y (Cet. I; Beirut: al-Makatabah al-Isla>mi>y, 1392 H / 1972 M), h. 132-135

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: