h1

MUTIARA HADIS I

16 Februari 2009

Makelar Dalam Jual Beli

عَنْ طَاوُسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:« لاَتَلَقُُّوْا الرُّكْبَانَ, وَلاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ ». قُلْتُ لِإِبْنِ عَبَّاسٍ: مَا قَوْلُهُ « وَلاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ؟ » قَالَ: لاَ يَكُوْنُ لَهُ سِمْسَارًا. (متفق عليه)

Artinya : “Dari Thawus dari Ibnu Abbas r. a. berkata : Rasulullah Saw bersabda : Kalian tidak boleh menyambut pedagang yang baru datang, juga seorang penduduk tidak boleh menjualkan barangnya kepada orang yang baru datang dari luar. Saya bertanya (Perawi) kepada Ibnu Abbas : Apakah arti tidak boleh menjualkan? Ibnu Abbas menjawab : Jangan menjadi makelar (Perantara). (H. R. Muttafaqun ‘Alaihi)

Penjelasan hadis :

Dalam hadits ini tercakup dua gambaran jual beli yang teralarang, yang pertama adalah penyambutan pedagang yang baru datang. Apakah mereka dalam keadaan berkendaraan, berjalan kaki, rombongan, atau sendirian. Untuk memulai penyambutan seharusnya dilakukan diluar pasar. Para Ulama berbeda pendapat apakah transaksi jual beli yang dilakukan terhadap pedagang baru datang sahih atau fasik, kelompok Ulama yang pertama berpendapat bahwa jual beli tetap sah karena pelarangan yang dimaksud dalam hadis ini tidak ada kaitannya dengan akad jual beli dan tidak juga pada sifat-sifat yang berkaiatan dengan jual beli. Kelompok Ulama yang lain brpendapat bahwa jual beli menjadi tidak sah karna sebuah larangan menunjukkan ketidak sahannya secara mutlak dan ini merupakan pendapat yang lebih dekat kebenarannya. Terdapat beberapa dampak negatif dalam penyambut pedagang yang baru datang diantaranya adalah mereka dapat berbuat kebohongan terhadap orang yang menyambutnya akan harga barang yang dia bawa dan membelinya dengan harga yang lebih rendah dari harga yang dikenal di wilayah tersebut.

Gambaran yang kedua adalah tidak bolehnya penduduk setempat menjualkan barang terhadap orang yang baru datang dari luar. Para Ulama menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini mencakup seluruh barang yang dijual terhadap orang yang baru datang dari luar, apakah didalamnya terdapat laba ataupun tidak. Sebagian ulama mentafsirkan bahwa yang dimaksud dengan penduduk menjualkan barang terhadap orang yang baru datang dari luar adalah mendatangkan barang yang unik dan ia ingin menjualnya dengan harga yang berlaku pada saat itu maka datanglah penduduk setempat kepadanya dan mengatakan berikan barang itu kepadaku dan aku akan menjualnya untukmu secara kredit dengan harga yang lebih tinggi. Adapun penduduk yang mengetahui harga yang sesungguhnya maka mereka tidak tergolong dalam hadis ini.

MONOPOLI

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ الله ُعَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ الله ِصَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِأٌ » (رواه مسلم)

Artinya : “Dari Ma’mar bin Abdullah r. a. dari Rasulullah Saw beliau bersabda : Tidaklah akan memonopoli kecuali orang yang jahat. (H. R. Muslim)

Penjelasan hadis :

Hadis ini menjelaskan tentang keharaman memonopoli. Para Ulama berbeda pendapat tentang jenis monopoli yang di haramkan, Abu Yususf berpendapat akan keumumannya ia berkata bahwa segala apa yang dapat mendatangkan bahaya kepada manusia jika barang tersebut di endapkan apakah dalam bentuk emas ataupun selainya. Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwasanya monopoli hanya terjadi pada bahan pangan manusia dan makanan ternak dan tidak dapat dipungkiri bahwasanya hadis ini berbicara akan pelarangan monopoli secara mutlak dan kemudian dikhususkan kepada bahan makanan. Adapun Jumhur mereka memandang bahwasanya pengharaman monopoli hanya dikhususkan kepada bahan pokok, mereka memandang akan keserasian pengharaman tersebut yaitu mencegah bahaya yang akan menimpa bagi seluruh manusia. Secara umum pencegahan bahaya yang dapat menimpa seluruh manusia hanya terjadi pada pengendapan bahan pokok dan inilah pendapat yang paling benar. Wallahu A’lam

PRASANGKA

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ, أَنَّ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ, فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ. وَلاَ تَحَسَّسُوْا, وَلاَ تَجَسَّسُوْا, وَلاَ تَنَاجَشُوْا, وَلاَ تَحَاسَدُوْا, وَلاَ تَبَاغَضُوْا, وَلاَ تَدَابَرُوْا, وَكُوْنُوْا عِبَادَ الله ِإِخْوَانَا » ( أخرجه البخاري)

Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a berkata : bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Awaslah kalian dari sangka-sangka, karena sesungguhnya sangka itu adalah sedusta-dusta cerita (berita). Dan janganlah menyelidiki, dan jangan memata-matai (mengamati) hal orang, dan jangan menawar untuk menjerumuskan orang lain, dan jangan hasud menghasud, dan jangan benci-membenci, dan jangan belakang-membelakangi, dan jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara. (H. R. Bukhari)

Penjelasan hadis :

Hadis ini menjelaskan akan larangan berprasangka terhadap sesama muslim karena sebahagian dari prasangka itu adalah dosa sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya : “Wahai Orang-Orang Yang beriman hendaklah kalian menjauhi segala pentuk prasangka, karena sebahagian dari prasangka tersebut adalah dosa” (QS. Al-Hujurat : 12). Prasangka yang termasuk dosa dalam ayat ini adalah prasangka yang dimaksud oleh hadis di atas yaitu prasangka buruk.

Kalimat “Janganlah saling menyelidiki dan memata-matai” mengandung makna akan pelarangnya menyelidiki dan memata-matai aib sesama muslim, karena menyelidiki aib sesama muslim adalah merupakan dosa besar, sementara Rasulullah Saw telah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang menyembunyikan aib seorang muslim, Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa yang menyembunyikan aib seorang muslim, maka Allah akan menyembunyikan aibnya di dunia dan di akhirat.

Kalimat “Janganlah kalian saling menawar untuk menjerumuskan orang lain (mengicuh)” maksudnya yaitu larangan meperdaya. Seorang pemburu disebut pengicuh, karena dia meperdayakan mangsanya.

Kalimat ” Jangan hasud menghasud (mendengki)” maksudnya adalah jangan mengarapkan hilangnya nikmat dari orang lain, karna hal ini adalah haram. Pada hadis lain disebutkan : “Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan segala kebaikan seperti api memakan kayu”. Adapaun iri hati ialah tidak ingin orang lain mendapatkan nikmat, tetapi tidak ada maksud untuk menghilangkannya. Terkadang kata dengki dipakai dengan arti iri hati, karena kedua kata ini memang pengertiannya hampir sama, seperti sabda Nabi Saw dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud : “Tidak boleh ada dengki kecuali dalam dua perkara”.

Kalimat “Jangan benci-membenci” maksudnya ialah jangan saling melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kebencian. Cinta dan benci adalah hal adalah hal yang bereknaan dengan hati, dan manusia tidak sanggup untuk mengendalikannya sendiri.

Kalimat “Jangan belakang-membelakangi” maksudnya yaitu jangan saling bermusuhan atau saling memutus persaudaraan. Antara satu dengan yang lain saling membelakangi atau menjauhi.

Kalimat “Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara” maksudnya hendaklah kalian saling bergaul dan memperlakukan orang lain sebagai saudara dalam kecintaan, kasih sayang, keramahan, kelembutan, dan tolong menolong dalam kebaikan dengan hati ikhlas dan jujur dalam segala hal. Wallahu A’lam

 

SURGA DI BAWAH NAUNGAN PEDANG

 

عن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ النبيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسألُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ (رواه الشيخاني)

Terjemahannya:

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia janganlah kalian berharap berjumpa dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah dan jika kalaian bertemu dengan mereka (musuh) maka hendaklah kalian bersabar dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Surga itu berada dibawah naungan pedang”, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah yang mewahyukan Kitab, menjalankan awan, menghancurkan pasukan, hancurkanlah mereka (para musuh) dan menangkanlah kami atas mereka” (H.R Bukhari dan Muslim)

  • Riwayat-riwayat Hadis

Hadis ini diriwayatkan oelh al-Bukhari dalam Shahihnya dari dua jalur: Pertama; dari jalur Abdullah bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin ‘Amr, dari Abu Ishaq, dari Musa bin Uqbah, dari Salim Abu an-Nadhr Maula Umar bin Abdullah, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa dari Rasulullah Saw. Kedua; dari jalur Yusuf bin Musa, dari Ashim bin Yusuf al-Yarbu’, dari Abu Ishaq, dari Salim, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa.

Dan diriwayatkan pula oleh Muslim dalm Shahihnya dari dua jalur: yang pertama : dari jalur Muhammad bin Rafi’, dari Abdurrarazzaq, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Abu an-Nadhr, dari Tulisan Abdullah bin Abi Aufa dari Rasulullah Saw. Kedua; dari jalur Yahya bin Yahya al-Tamimi dan Qutaibah bin Said, keduanya mengambil dari Ja’far bin Sualiman, dari Abu Imran al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abdullah bin Qais, dari ayahnya ia berkata “aku mendengarkan Ayahku berkata ketika bertemu dengan musuh Rasulullah Saw bersabda : (hadis).

Selain itu hadis senada diriwaytkan pula oleh al-Tirmidzy dalam Sunan atau al-Jami’-nya dari jalur Qutraibah, dari Ja’far bin Sualiman al-Dhuba’i, dari Abu Imran al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abu Musa al-Asy’ary, dari ayahnya Abu Musa al-Asy’ary, dari Rasulullah Saw.

Jadi hadis ini diriwayatkan oleh tiga Imam yaitu; al-Bukhary, Muslim, dan at-Tirmidzy.

  • Biografi Sahabat Periwayat Hadis

Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya bahwa sanya hadis ini diriwatkan oleh tiga perawi dari dua sahabat yang berbeda yaitu Abdullah bin Abi Aufa, dan Abu Musa al-Asy’ari. Namun pada bagian ini kami hanya akan menejlaskan secara ringkas tentang biografi Abdullah bi Abi Aufa.

Abdullah bin Abi Aufa al-Aslamy dan kuniyahnya dalah Abu Ibrahim, Abu Aufa bernama Alqamah bin Khalid berasal dari kota Hawazin, beliau merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang menyaksikan perjanjian Hudibiyah dan tergolong diantara ahlu Baiat Ridwan, Beliau tinggal di kufah sepeninggalan Rasulullah Saw dan beliau termasuk diantara shabat yang meninggal paling terakhir di Kufah tepatnya pada tahun 87 H, beliau juga menjadi bagian dari pasukan Muslim pada perang Hunain, telah diriwatkan darinya bahwasanya beliau berkata: “aku telah meyaksikan enam peperangan bersama Rasulullah Saw dan selama itu kami makan belalang“. Beliau wafat dalam keadaan buta, dan terdapat bekas sayatan pedang orang musyrik pada lengannya sebagaimana diriwayatkan dari Ismail bin Abi Khalid bahwasanya beliau berkata: “Aku telah melihat pada lengan Abdullah bin Abi Aufa bekas sayatan, lalu aku berkata: ‘bekas apa ini?’ beliau menjawab : (ini adalah bekas sayatan pedang pada perang Hunain)”.

  • Kosa Kata Hadis
  • لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ : artinya Janganlah kamu meminta untuk bertemu dengan musuh dan janganlah kalian terlalu berjiwa tinggi untuk hal tersebut, adapun makna asal dari kata
    التمني
    (at-Tamanni) adalah meminta sesuatu yang sangat dicintai sebagaimana firman Allah :


    {ولاتتمنوا مافضل الله به بعضكم على بعض} الأية “dan Janganlah kalian
    mengharapkan (meminta sesuatuyang sangat dicintai) keutamaan yang telah diberikan kepada sebahagian diantara kalian”
    demikian juga dalam Hadis

    [ليس الإيمان بالتمني ولكن ما وقر في القلب وصدقه العمل]

    “Iman Itu bukanlah dengan angan-angan akan tetapi [iman] adalah apa yang tertanam dalam hati dan ditampakkan oleh amal”

  • وَسألُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ : artinya dan mintalah pertolongan dari Allah, makna asal dari kata
    العافية
    (al-’Afiyah) adalah keselamatan dari segala bentuk yang dapat menyiksa dan menjelekkan dunia dan akhirat. Rasulullah Saw telah mewasiatn dan menasahti peman beliau al-Abbas agar memohon keselamatan sebagaimana perkataan beliau Saw “Mohonlah keselamatan kepada Allah, jika kamu diberikan –keselamatan tersebut-, maka kamu mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat”.
  • مُجْرِيَ السَّحَابِ
    : perjalanan awan dari satu arah ke arah yang lain dan dari satu daerah ke daerah yang lain Allah berfirman :

{ألم تر أن الله يزجي سحابا ثم يؤلف بينه ثم يجعله ركاما فترى الودق يخرج من خلاله}

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya” (Q.S An-Nur : 43)

  • هَازِمَ الْأَحْزَابِ : yang dimaksud dengan
    الأحزاب (al-Ahdzab) para pemimpin kesesatan yang berkumpul dan bersekutu untuk membunuh Nabi Saw, peperangan terangan tersebut kemudian dikenal dengan nama perang Ahzab, Allah berfirman :

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (al-Ahdzab), mereka Berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Q.S Al-Ahzab : 22)

  • Kaidah Balagah Hadis
  • الجنة تحت ظلال السيوف
    “Surga itu dibawah naungan pedang”: al-Qurthuby berkata; “ini merupakan kalimat yang sangat mengesankan didalamnya terkumpul segala bentuk perumpamaan dalam balagah baik dari segi keteraturan lafadhnya, kedalamanya, kebaikan cara peminjaman kata, dan mengandung makna yang sangat luas dengan menggunakan lafadh yang singkat diman para ahli bahasa dan ahli balagah tidak mempu untuk membentuk susunan kalimat yang sebanding dengannya, seabab dari singkatnya (kalimat) dapat diambil faidah tentang anjuran untuk berjihad kemudian menerangkan akan pahala yang akan diterima (jika ditegakkan). Hingga pada perkataannya –al-Qurthuby- : hal ini senanada dengan sabda Rasulullah Saw :

الجنة تحت أقدام الأمهات

“Surga Itu berada di bawah telapak kaki Ibu”

Dalam kalimat tersebut tyerdapat bentuk isti’arah (peminjaman kata) yang yang jelas, maka seorang yang berjihad dijalan Allah (Mujahid) masuk surga karena jihadnya (kesungguhannya) dan kesabarannya dalam menghadapi musuh dan menyayat mereka dengan pedang, hingga seolah-olah sayatan-sayatan (pedang) tersebut –karena sangat banyak- menjadi pelindung yang akan melindungi orang yang mengayunkannya (pedang).

* Di bawah naungan pedang terdapat surga Tuhanku

* dan angan-anganku di atas kepala para pendurhaka

  • مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ
    : pada kalimat ini terkandung ilmu Badi’ (dalm Balagah) yang disebut dengan al-Saja’u al-Murshi’ yaitu terjadi keseimbangan antar kalimat yang banyak dalam bentuk timbangan (sharaf) dan jumlah, dan al-Saja’ tidak akan terjadi kecuali dalam bentuk yang banyak.
  • Penjelasan Hadis

Berjihad di jalan Allah merupakan Syiar Agama ini (Islam), kemulian dan benteng terkokoh umat ini, jadi tidak umat ini meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan terhina dan terbelakang, maka dari itu Jihad di dalam Islam merupakan kewajiban yang lazim yang harus ada demi kemuliaan, dan bahkan merupakan punjak amalan dalam Islam, di dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:

من مات ولم يغز ولم يحدث نفسه بغزو مات ميتة جاهلية

“Barang siapa yang mati dan tidak berperang serta tidak meniatkan diri untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”

Tujuan jihad adalah untuk meninggikan kalimat Allah, menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia dimana seluruh syariat yang datang dari langit bertujuan untuk hal tersebut, dan mencegah tipu daya para musuh, maka dari itu Allah Swt memerintahakan untuk berjihad, menganjurkannya bahkan mewajibkannya Allah berfirman :

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (Q.S An-Nisa’ : 76)

Karena jihad merupakan kewajiban suci untuk memuliakan agama dan mengangkan tiangnya, maka dari itu sunnah Rasulullah Saw yang suci menjelaakan larangan untuk berharap bertemu dengn musuh, dan memerintahkan untuk bersabar ketika dalam peperangan, maka seorang muslim hendaknya memohon keselamatan dan pertolongan, dan tidak mencari bahaya dan fitnah (dosa), akan tetapi ketika tidak ada jalan untuk menghidari peperangan, maka ia harus bersabar dan tidak lari dari medan peperangan sebagaimana petrunjuk dari al-Qur’an yaitu firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Q.S al-Anfal: 45)

Allah juga berfiman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya. (Q.S Al-Anfal : 15-16)

Maka kesabaran sangatlah dibutuhkan ketika pedang berbenturan dan shaf percerai berai, dan ketenangan jiwa dalam menghadapi hal-hal yang dibenci, karena surga tidak akan didaptkan kecuali dengan kesabaran ketika dalam kesusahan dan ketabahan dalam menghadapi siksaan di jalan Allah, hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Q.S Ali Imran 142)

Dan Rasulullah Saw pernah berdo’a agar Allah memenangkanya atas musuh-musuh agama beliau berkata : “Ya Allah yang mewahyukan Kitab, menjalankan awan, menghancurkan pasukan, hancurkanlah mereka (para musuh) dan menangkanlah kami atas mereka”, maka dari itu diharuskan untuk bersiap kemudian kembali kepada Allah seraya memohon kemenangan dari-Nya

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Q.S Al-Hajj : 40)

  • Faidah Hadis

Terdapat beberapa faidah yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah Saw yang mulia ini daiataranya adalah :

  • Jihad di jalan Allah merupakan punjak amalan tertinggi dalam Islam.
  • Jihad yang di fahami dalam Islam adalah jihad yang tidak mengharapkan bertemu dengan musuh, tetapi jika telah bertemu, maka tidak dibenarkan untuk menghindar apalagi lari dalam medan perang (pengecut).
  • Allah dan Rasul-Nya Saw menjenjikan kepada para Mujahid di jalan Allah Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
  • Senantiasa memohon keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan kepada Allah Swt.
  • Berjihad di jalan Allah bertujuan untuk menegakkan kalimat Allah (tauhid) di muka bumi, bukan untuk menguntungkan diri sendiri dan menyengsarakan manusia dan makhluk lainnya.
  • Berjihad di jalan Allah dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang disertai dengan kesabaran dalam menghadaip segala bentuk kesukaran, akan mendapatkan janji surga dari Allah.
  • Surga hanya akan di dapat dengan kesabaran dan ketabahan di jalan Allah.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: