h1

Neo-Sofis Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi Islam

21 Desember 2008

Resensi Buku

Penulis : Adian Husaini

Judul Buku : Hegemoni Kristen – Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan Tinggi

Cetakan Pertama

Penerbit: Gema Insani Press, Jakarta

Tahun Terbit : Muharram 1427 H, Februari 2006 M

Buku ini merupakan salah satu bentuk kegelisahan intelektual seorang tokoh yang melihat bagaimana pemahaman sekulariseme-liberal telah merasuki dunia kampus yang bercorak Islam utamanya di Indonesia seperti UIN, IAIN, STAI, PTAI dan kemapus-kampus Islam di dunia secara umum dan berusaha untuk mengotori pemikiran para mahasiswa Islam dengan menggunakan metodologi dan berbagai macam bentuk pendekatan terhadap studi Islam dimana metode-metode tersebut merupakan copy-paste dari Barat-Kristen. Keresahan dan kegelisahan semacam ini sesungguhnya telah ada sejak masa Imam al-Gazali dimana perang salib terjadi dibawah kendali panglima Islam terkemuka Shalahuddin al-Ayyubi. Buku ini ditulis oleh seorang tokoh bernama Adian Husaini yang bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin di Indonesia utamanya para akademisi muslim yang mengabdikan dirinya dikampus-kampus Islam, bahwa terdapat permasalahan yang sangat besar yang harus dihadapi secara bersama yakni tentang kemunkaran ilmu yang bercokol di berbagai perguruan tinggi islam di Inonesia seperti UIN/IAIN/STAI/PTAI.

Tentang tingginya kualitas Ilmu Islam (Ulumuddin) sebenarnya telah diperlihatkan oleh para sarjana muslim terdahulu seperti At-Thabary dengan kitab tafsir al-Qur’an-nya yang sangat terkenal dan bahkan menjadi rujukan utama para mufassir Islam sejak dahulu hingga hari ini, Ibnu Shalah dengan ulum al-Hadits-nya, Al-Bukhary, Muslim dan lain-lain dengan kitab Hadits yang mereka tulis, Ibnu Katsir, Ibnu Hisyam dan yang lainnya dengan kitab Tarikh mereka yang berjilid-jilid, serta al-Ghazali, Ar-Razy dan Ibnu Taimiyyah dengan kekuatan daya nalar dan kritis mereka terhadap segala bentuk, macam dan nama heresy yang terbentuk dan muncul pada masanya, belajar dari mereka tentang ketinggian ilmu dan kearifan serta adab dalam mengambil ilmu adalah sangat penting sebab mereka adalah para pelopor-pelopor ilmu yang berdedikasi tinggi baik dari segi kedalaman maupun tanggung jawab ilmiyah. Namun sangat disayangkan kaum neo-sofis dari kalangan muslim saat ini berusaha untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah Saw, para sahabat beliau dan para ulama Shaleh terdahulu dengan menambil secara serampangan segala bentuk metodologi studi ulumuddin dari kaum orientalis Barat-Kristan dimana mereka memiliki trauma terhadap agama Yahudi dan Kristen, demikianlah buku ini mengungkapkan akan perlunya kita belajar dari Imam al-Ghazali dimana Imam al-Gahzali mengatakan bahwa kemungkaran ilmu jauh lebih berbahaya dari pada kemungkaran lainnya.

Buku ini mengajak kita untuk melakukan telaah kritis dan bertanggungjawab secara ilmiyah terhadap segala macam bentuk pendekatan dan metodologi dalam mengkaji Ulumuddin yang dirumuskan oleh kaum orientalis (Barat-Kristen).

Barat-Kristan secara historis pasca kekalahan mereka pada perang salib telah berusaha untuk mengkaji nilai-nilai Islam secara teratur diantara mereka ada yang bertujuan hanya sebatas kebutuhan ilmiyah dan lebih banyak lagi yang bertujuan untuk mencari kelemahan dalam tubuh kaum muslim utamanya al-Qur’an dan hadis.

Antara Ulama dan Sofisme Islam

Indonesia merupakan salah satu diantara negara yang bependuduk mayoritas muslim menjadi lahan yang sangat bagi kaum orientalis untuk mengaktualisasikan seluruh hasil penelitian yang telah mereka bangun. terdapat berbagai macam bentuk metode hegemonik Barat-Kristen dalam menanam pengaryhnya di dunia Islam utamnya kaum muslimin di Indonesia diantara teknik jitu yang maih langgeng hingga saat ini adalah pengiriman para akademisi muslim ke Barat untuk duduk pada fakultas Islamic Studies pada berbagai universitas yang bertujuan agar mereka (akdemisi muslim Indonesia) tersebut mempelajari Islam dari mereka yang kemudian sekembalinya mereka dari mempelajari Islam di Barat dapat mengajarkannya kepada mahasiswa muslim di Indonesia, demikianlah yang terjadi pada diri sang Harun Nasution dengan bukunya Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, sepak terjang sang Harun Nasution dalam menanamkan pengaruh pemikiran sekulernya pada perguruan tinggi Islam di Indonesia utamanya IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN) kita akan menemukan kejelasannya alam buku ini.

Penyebaran paham sekularisme Barat dalam Studi Islam diperguruan tinngi Islam yang di pelopori oleh seorang tokoh bernama Prof. Dr. Harun Nasution kemudian mendapat bantahan yang cukup tajam yang dilakukan oleh seorang tokoh intelektual muslim yang telah banyak mengambil ilmu dari perguruan tinggi di Barat dan bahkan pernah menjadi Assisten Professor pada McGill Universty di Australia dengan mata kuliah hukum Islam dan sejarah, beliau adalah Prof. Dr. Muh. Rasyidy dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar Beliau adalah sosok ulama Indonesia yang senantiasa dan berusaha agar pemahaman sekularisme tidak meraja lela dan berkelindan di dunia Islam utanya di Indonesia. Buku ini memaparkan tentang sejarah perjalanan dunia intelektual Prof. Rasyidy dan Prof. Harun serta bagaimana pertarungan mereka dalam dunia intelektual sekalipun keduanya adalah teman sejawat yang kedua-duanya berguru dibawah naungan Studi Islam yang didirikan oleh orientalis bernama Wilfred Cantwell Smith pada McGill University Australia.

Tidak hanya terbatas pada pembahasan tentang sepak terjang dua tokoh terkenal di Indonesia dan pertarungan intelektual keduanya, penulis juga secara kritis mempertanyakan tentang Quo Vaditas studi Islam di IAIN, dimana dalam sub judul bab ini secara kritis mengangkat dan menjelaskan tentang asal-usul isltilah “Islam Inklusif” dan hubungannya dengan pehaman inklusifisme dan eksklusifisme dalam dunia Kristen serta ketidak adilan para akademisi Islam yang secara institusi sebagai dosen atau staff pengajar pada perguruan tinggi Islam di Indonesia utamanya di UIN/IAIN/STAI/PTAI menggunakan Istilah “Islam Inklusif” dan menjelaskan kepada para mahasiswanya secara serampangan dan tidak kritis.

Pada bagian lain dari buku ini menjelaskan bahwa “Islam Inklusif” kemudian akan melahirkan sebuah rumusan pemkiran tentang keseragaman agama atau dengan istilah lain “Pluralisme” bahwa agama itu semua sama dengan kerancuan pemahaman terminologis yang berakibat pada pendangkalan Akidah Islam dan perubahan keyakinan kaum muslimin secara beasar-besaran.

Jika dahulu kita mengenal Prof. Dr. Harun Nasution dengan bukunya yang sangat terkenal Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang penuh dengan pemujaan terhadap orientalis dan pemahaman mu’tazilah yang secara tajam dan kritis mendapat bantahan dari rekan sejawatnya Prof. Dr. Muh. Rasyidy, maka pada masa sekarang kita kemudian diperhadapkan oleh seorang tokoh yang berkebangsaan mesir dan kini bermukim di Belanda sebagai seorang Prefossor dalam Studi Islam yang secara khusus telah merumuskan sebuah pemikiran baru dalam dunia tafsir yang disebut dengan Hermenutika dia adalah Prof. Dr. Nashr Hamid Abu Zayd, dia mengaku sebagai seorang muslim Sekuler-Liberal dengan pendapatnya yang sangat populer dia mengatakan bahwa “Al-Qur’an adalah Produk Budaya (Intaj Tsaqafy)” dimana latar belakang intelektualnya sebagaimana yang dikutip dalam buku ini yang disadur dari artikel Dr. Syamsuddin Arif membuat gempar para pengikut NH Abu Zayd di Indonesia sebab sang penulis artikel secara terang-terangan mengungkap tentang bagaimana sikap pemerintah Mesir terhadap pemikiran Abu Zayd dalam setiap tulisannya baik itu artikel maupun buku-buku yang telah diterbitkan.

Teologi Hermeneutika Abu Zayd dan Arkoun kini diajarkan diperguruan tinggi Islam bahkan secara kurikulum di UIN Syarif Hidayatullah mendapat porsi sebanyak 3 SKS dengan tujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan kajian orientalis terhadap al-Qur’an dan Hadis dan mata kuliah (MK) ini merupakan MK wajib pada program studi Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Jika hasil pemekiran seorang tokoh intelektual muslim seperti Fazhlurrahman, Abu Zayd, Arqoun, Harun Nasution, Nurkholis Madjid, Amin Abdullah, Komaruddin Hidayat, Jalaluddin Rakhmat, Taufik Adnan Amal dan yang menyetujui pemikiran mereka dapat hanyut dalam arus pemikiran orientalisme tanpa sikap adil dan kritis apatah lagi mahasisiwa seperti Ulil Abshar Abdallah, Fuad Fanani dan yang lainnya, mereka yang kami sebutkan namanya adalah orang-orang yang dibantah secara ilmiyah akan pendapat-pendapat mereka dalam buku ini.

Selain teologi “Islam Inklusif”, Hermeneutika Abu Zayd dan Arkoun penulis juga membantah secara ilmiyah tentang kerancuan “Hermeneutika Tauhid Wadud” ala Aminah Wadud yang mengembangkan teologi “Hermenutika Feminis” yang kemudian di Indonesia dikembangkan oleh ibu Musdah Mulia seorang aktivis perempuan dari Nahdhatul Ulama dengan jargonnya yang terkenal “Gender Uquality” yaitu kesamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, kemudian ibu Musada pada akhir tahun 2006 mengkampanyekan bolehnya pernkahan silang antar umat beragama bahwa seorang muslimah boleh menikah dengan lelaki non muslim, demikianlah kerancuan berfikr kaum sekular-liberal yang kemudian kerancuan ini diajarkan dalam dunia akademisi Islam (UIN/IAIN/STAI/PTAI) di Indonesia dimana kampus-kampus ini yang seharusnya mengeluarkan para sarjana-sarjana yang menjunung tinggi kemuliaan al-Qur’an dan Hadis malah menginjak-injak dan merendahkannya bahkan menyamakan kedudukannya dengan teks-teks buatan manusia seperti Al-Kitab milik orang Nashrani sebagaiman yang akan kita temukan dalam buku ini.

Para kaum sofis tidak menghendaki adanya ilmu yang baik dan benar sebab menurut mereka kebenaran mutlak tidak akan pernah dimiliki oleh manusia sebab kebenaran mutlak itu hanya terletak pada yang mutlak dan kebenaran yang diperoleh manusia hanyalah kebenaran nisbi yang dapat dihapus oleh kebenaran yang akan datang setelahnya, kalau demikian dimanakah fungsi hati, akal, dan keyakinan? temukan jawabannya dalam buku ini.

Wal hasil kami dapat katakan bahwa dimana Fir’aun bertengger dan bermukim disana ada Musa yang siap mematahkan argumennya, dimana ada Masih ad-Dajjal disana Isa al-Masih yang siap membunuhnya, dimana ada Fazhlurrahman disana ada Nuqaib al-Attas yang siap mematahkan pemikirannya, dimana Nashr Hamid Abu Zaid disana ada Wan Mohd Nor Wan Daud yang siap melawan seluruh rumusannya, dimana ada Harun Nasuton dan Nurkholis Madjid disana ada Prof. Rasjidy yang siap meluruskan, mematahkan dan mementalkan seluruh argumen pemikiran kopian dari orientalis tentang Islam yang nyeleneh dari mereka.

Buku yang ditulis oleh seorang kandididat Doktor di bidang pemikiran dan peradaban Islam pada International Institute of Islamic Though and Civilzation-Islamic Universuty Malaysia (ISTAC-IIUM) ini sangat bermanfaat bagi para dosen dan mahasiswa muslim di UIN/IAIN/STAI/PTAI utamanya bagi mereka yang mengambil bidang studi program Tafsir dan hadis sebagai bahan perbandingan secara kritis dan adil, sebab didalamnya kita akan menemukan begitu banyak literatur menyangkut tentang metodologi studi Islam kontemporer disamping itu manfaat yang kita dapatkan tidak hanya terbatas pada inti permaslahan yang terdapat dalam setiap bab dan sub judulnya saja bahkan kita tidak akan merasa puas jika melewatkan catatan kaki pada setiap halamannya karena kekayaan informasi dan manfaat yang terkandung didalamnya.

Penulis buku adalah seorang intelektual muda yang sangat aktif dan produktif dalam mencermati perkembangan pemikiran Islam di dunia utamanya di Indonesia, beliau yang lahir pada tahun 1965 ini merupakan salah seorang ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), beliau juga aktiv sebagai wakil ketua Komisis Kerukunan Umat Beragama MUI, sebagai pengurus majlis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, beliau juga adalah anggota Dewan Direktur pada Institut for Study of Islamic Though Civilization (INSIST). Beliau sangat produktif dalam melawan seluruh bentuk ketidak adilan ilmiyah dalam bentuk tulisan diantara karya-karya beliau yang telah diterbitkan adalah : Penyesatan Opini (Jakarta : GIP,2002), Islam Liberal : Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta : GIP, 2002), Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam (Jakarta : GIP, 2004), dan Wajah Peradaban Barat : dari Hegemoni Kriten ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta : GIP, 2005).

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: