h1

HUKUM ISLAM

24 November 2008

PENDAHULUAN

Islam merupakam sumber hukum dan pemikiran dimana Rasulullah hidup selama tiga belas tahun di Mekkah untuk menyiarkan dan mengingatkan kepada pemduduk Mekkah pada masa itu untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan segala macam bentuk sesembahan kepada selain-Nya, kemudian datang fase madinah dimana Rasulullah menegakkan pilar-pilar hukum Islam yang berdiri dan tegak di atas fondasi utama yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, pada masa inilah hukum Islam terlembagakan dibawah pimpinan seorang rasul yang mulia penutup para nabi Muhammad Saw.

Setelah meninggalnya sang nabi akhir zaman dan penyempurna seluruh risalah Allah di muka bumi kemudian Allah memilih empat diantara para sahabat beliau untuk meneruskan risalah yang mulia ini dan menegakkan seluruh hukum-hukum yang terkandung di dalamnya mereka adalah Abu Bakar, Umara bin al-Khaththab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi thalib –semoga ridha Allah senantiasa terlimpahkan kepada mereka- yang pada masa mereka terbentuklah beberapa kaidah-kaidah hukum dan perundang-undangan Islam yang bernaung dibawah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Pasca runtuhnya sistem kekhalifahan yang ditandai dengan runtuhnya khilafah Ustmaniyah di Turki bukan berarti pilar-pilar hukum Islam runtuh bersamanya, akan tetapi ia terus maju siring dengan kemajuan zaman, pemikiran dan teknologi hal ini dapat dirasakan dengan hadirnya berbagai kitab-kitab hukum dan perundang-undangan sekalipun berbentuk pemahaman mazhab.

Menurut Prof.Dr. Muhammad Yusuf Musa perkembangan pemikiran hukum dalam Islam dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu:

I. Fase Pertumbuhan: masa pertumbuhan sepanjang hidup Rasulullah mulai dari pengangkatannya dan berakhir pada wafatnya, ahun 11 Hijriyah dan berlangsung 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.

II. Fase Muda Remaja: masa sahabat dan senior tabi’in yang berlangsung sampai awal abad II Hijriyah

III. Fase Kematangan dan Kesempurnaan: disebut dengan fase tadwin (kegiatan karya ilmiah) dan munculnya imam mujtahidin yang senior dan berakhir pada pertengahan abad IV Hijriyah

IV. Merupakan masa tua sekali: masa taqlid yang sangat memprihatinkan hingga kini meskipun masa ini tidak pernah kosong daripada mujtahid mutlak atau khusus pada suatu mazhab yang telah populer hingga kini.[1]

Berdasarkan penuturan Prof. Dr. Muhammad Yusuf Musa di atas, kita dapat mengemukkan beberapa hal yang kemudian akan menjadi konsentrasi pembahasan dalam urutan unataian-untaian kaliamat pada makalah ini yaitu; bagaiamanakah bentuk pelembagaan hukum syariat pada masa Rasulullah, sahabat, tabi’in dan Atba’ at-Tabi’in?

PEMBAHASAN

A. Masa Rasulullah SAW

Beliau tinggal di Mekkah selama 13 tahun atau 12 tahun 5 bulan dan 13 hari. Sedang setelah hijrahnya ke Madinah adalah masa tasyri’ yang sebenarnya karena pada masa inilah turunlah beberapa ayat-ayat al-Qur’an dengan berbagai hal tentang hukum. Setelah al-Qur’an datanglah hadis dalam berbagai situasi dan kondisi yang bersifat perkataan, perbuatan ataupun pengakuan serta penetapan untuk menjelaskan berbagai macam peristiwa yang terjadi.[2]

Tasyri’ Islam atau perintisan hukum-hukum dan pelembagaannya hanya ada pada masa Rasulullah SAW karena Allah SWT tidak akan memberikan wewenang untuk tasyri’ bagi seseorang selain daripada Rasul-Nya dan tasyri’ selalu bersandar pada wahyu yang nyata yaitu pada al-Qur’an dan wahyu yang tidak nyata yaitu Suunah. Adapun ijtihad Rasulullah SAW rujukannya juga pada wahyu karena Allah SWT tidak akan membiarkan Rasul-Nya dalam kekeliruan (Q.S An-Najm : 3-5). Maka penetapannya adalah pembetulan baginya yang setingkat dengan wahyu. Oleh sebab itu pada masa hidupnya, tercipta dasar-dasar hukum yang bersifat menyeluruh, dirinci mujma’nya, dibatasi mutlaknya, ditakhsiskan umumnya dan dihapus yang dikehendaki Allah menghapusnya. Kesemuanya telah dikokohkan dasar-dasarnya dan telah ditetapkan asas-asasnya, semuanya telah sempurna di masa risalah sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah al-Maidah ayat 3 dan pada riwayat al-Hakim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya : “Saya tinggalkan di tengah-tengah kamu sekalian yang apabila kamu memegang teguh padanya kamu tidak akan tersesat sesudah aku (tinggalkan kamu) yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. Hakim).

Kalau kita membaca al-Qur’an dan mengamatinya secara seksama akan kita dapatkan penetapan hukum yang sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat. Hukum-hukum fiqhiyyah kebanyakan berupa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kaum muslimin terhadap Rasulullah SAW ketika menghadapi masalah-masalah tertentu. Dengan kata “Yasaluunaka”atau “Yastaftunaka” terdapat 15 tempat dalam al-Qur’an yang semuanya ada pada surah-surah yang diturunkan di Madinah dan 8 diantaranya erat sekali degan ilmu fiqh dari berbagai masalah.[3]

Dengan demikian Rasulullah SAW tidak akan meninggalkan ummatnya kecuali setelah pokok fiqhi yang menyeluruh dan kaedah-kaedah umum telah lengkap dan sempurnanya pembinaan syari’ah Islam. Dimana pada akhir periode Rasulullah SAW, Allah SWT menurunkan ayat 3 dari surah al-Maidah sebagai penutup tasyri’. Jadi tiada sumber selain al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.[4]

B. Masa Sahabat

Adapun ijtihad pada masa sahabat dan tabi’in atau sesudah wafatnya Rasulullah SAW bukanlah tasyri’ pada hakikatnya akan tetapi suatu pengembangan dalam dasar-dasar yang universal dan menetapkannya dalam berbagai peristiwa yang sering terjadi atau istinbat dari pengertian hukum serta melakukan qiyas padanya dalam hal-hal yang tiada nasnya.[5]

Pada masa Sahabat merupakan masa perkembangan fiqh yang diistilahkan sebagai masa muda remaja yang dimulai dari periode Khulafaur Rasyidin dan sahabat-sahabat senior hingga lahirnya imam mazhab dari tahun 11-132 H. Meliputi periode Khulafaur Rasyidin (11-40 H = 632-661 M) dan periode Umayyah (40-132 H = 661-750 M)

Pada masa Khulafaur Rasyidin, kekuasaan Islam berkembang diberbagai daerah jazirah Arab yang meliputi Irak, Syiria, Mesir, daerah-daerah di Afrika Utara dan lain-lainnya. Walaupun sebagai pasukan militer yang menaklukkan suatu daerah namun mereka lebih menonjolkan misi dakwah lalu menghadapi masyarakat dengan hikmah dan ramah tamah. Sehingga mudah berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat penduduk daerah baru yang mendorong adanya pemikiran-pemikiran baru seperti halnya :

1. Munculnya berbagai peristiwa dan kasus yang menuntut penyelesaian hukum dan pemecahan suatu problem yang berdampak positif dalam perkembangan fiqh dan tasyri’

2. Situasi dan kondisi masyarakat secara alami memberikan motivasi besar terhadap fiqh dan munculnya mujtahidin dan ijtihadnya. Dengan dibekali kemampuan ilmiah, potensi pemehaman serta pendalaman dirasah al-Qur’an serta Sunnah sehingga mereka dapat mengistinbat hukum-hukum untuk memenuhi hajat masyarakat.

Pada masa tersebut proses terbentuknya hukum Islam dengan dasar yang jelas dan kuat dilengkapi dengan qiyas dan ijma serta diperkaya dengan adat istiadat dan peraturan-peraturan dari berbagai daerah yang bernaung dibawah bendera Islam.

Ijma pada waktu itu diartikan sebagai kunci perkembangan dalam syari’at Islam karena dapat menjamin kehidupan yang baru yang sejalan dengan tuntunan perubahan masa.[6] Dapat ditegaskan pada masa Khulafaur Rasyidin dalil-dalil tasyri’ Islam menjadi 4 yaitu: al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, Ijma dan Qiyas.

Sepanjang sejarah Khulafaur Rasyidin hingga penyerahan pemerintahan dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan terjadi perpecahan kaum muslimin dalam berbagai golongan yang berpengaruh dalam perkembangan fiqh. Diantara firqah yang paling penting adalah Khawarij dan Syi’ah, masing-masing punya pandangan prinsipil dalam agama dan metode tertentu dalam menetapkan hukum fiqih dan tasyri’mereka.[7]

Adapun ijtihad pada masa Khulafaur Rasyidin terbatas pada fatwa yang diberikan seseorang yang menanyakan hukum sesuatu peristiwa. Fatwa ini tidak keluar dari lingkaran al-Qur’an dan Sunnah karena didasarkan pada kenyataan dalil dan pemahamannya. Sehingga menjadi ra’yu, ijtihad atau qiyas, suatu kegiatan yang punya peranan penting dalam perkembangan pokok-pokok syari’ah pada masa berikutnya.[8] Ada 3 keistimewaan yang menonjol pada masa Khulafaur Rasyidin, yaitu:

a. Kodifikasi ayat-ayat al-Qur’an serta menyebarkannya yang dimaksudkan untuk mempersatukan umat Islam dalam satu wajah tentang bacaan al-Qur’an agar tidak ada perbedaan yang berakibat perpecahan.

b. Pertumbuhan tasyri’ dengan ra’yu sebagai motivasi besar terhadap para fuqaha untuk menggunakan rasio sebagai sumber ketiga yaitu qiyas.[9]

c. Pengaturan peradilan.[10]

Setelah masa Khulafaur Rasyidin kemudian diganti dengan masa Dinasti Umayyah, berkembanglah Ahlul Hadist disamping Ahlu Ra’yi. Bahkan perbedaan pendapat antara 2 kelompok ini semakin tajam pada dinasti Abbasiyah (132-656 H) dan kian bertambah subur dan berkembang dengan baik serta menjadi gerakan ilmiah yang berpengaruh luas yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab fiqhi dalam Islam.[11]

C. Masa Tabi’in

Dalam data sejarah Islam, pada masa Umayyah inilah, para sahabat mulai meninggalkan Madinah menuju kota-kota baru yang dibangun seperti Syam, Kufah, Mesir, Bashrah dan lain-lainnya. Di tempat-tempat inilah mereka mengajarkan fiqih, mengembangkan agama dan meriwayatkan hadist. Sehingga banyak yang menerima fiqh dan ilmu dari para sahabat-sahabat. Murid-murid para sahabat inilah yang dinamakan tabi’in. Berkat pelajaran-pelajaran itulah terdapat banyak tabi’in yang pandai, cakap, menyamai bahkan melebihi gurunya dalam fiqh dan hukum Islam.[12]

Pada periode ini fiqh mulai dipandang suatu ilmu yang berdiri sendiri dan secara tegasnya perselisihan paham menjadi sangat jelas sampai pada derajatnya saling menyalahkan. Kebanyakan ulama Hijz masuk dalam golongan Ahli Hadist sedang ulama Iraq masuk dalam golongan Ahli Qiyas.[13]

Tabi’in yang memberikan fatwa dalam periode ini, ialah:

  1. Abul Khair Al-Jazimi (wafat 90 H)
  2. Said bin Musayyab (13-94 H)
  3. Ibrahim bin An-Nakha’i (46-96 H)
  4. Amir bin Syurahbil (19-103 H)
  5. Thaus bin Kaisan Al-Yamani (wafat 106 H)
  6. Atha bin Abi Rabah (27-115 H)[14]

Fatwa-fatwa para mufti dan keputusan-keutusan para qadhi (hakim) pada masa ini belum dibukukan dan berlangsung hingga akhir abad pertama hijriyah dan tidak ada suatu buku pegangan sebagai sumber hukum Islam bagi kaum muslimin selain al-Qur’an kecuali buku catatan milik pribadi beberapa orang sahabat.[15]

Pada masa Tabi’in (generasi yang belajar pada sahabat Nabi SAW) dikenal dengan sebutan “Fuqaha at-Tabi’in” meskipun sebutan “Faqih” pada waktu itu belum dikenal dan mereka hanya disebut “Mufti” (orang yang memberi fatwa atas amsalah yang terjadi di masyarakat) dan tentunya orang yang dimintai fatwa adalah orang yang telah diakui ilmunya dalam bidang syari’at.[16]

D. Masa Tabi’tabi’in

Pada masa dinasti Abbasiyah (1332-656 H) nampak sekali pengaruh kebudayaan Persia dan terutama pada masa Al-Ma’mun (170-218 H) karena jabatan kementerian kebanyakan dari orang-oang Persia dan pemindahan ibukota dari Syam (Damaskus) ke Baghdad. Serta kemajuan yang pesat di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah dengan perpaduan 3 peradaban, yaitu peradaban Arab, Yunani dan Persia serta adanya pendekatan antara umara dengan ulama. Pada masa Al-Ma’mun pernah berdiri suatu lembaga ilmu pengetahuan atau perpustakaan yang dinamakan Baitul Hikmah yang menghimpun berbagai macam kitab dari berbagai bahasa.[17]

Pada periode Bani Abbasiyah ini lahirlah imam-imam mujtahidin dari golongan Ahli Hadist dan Ahli Qiyas yang masing-masing punya pengikut dan fatwa-fatwa mereka dibukukan. Diantara yang timbul dalam periode ini adalah Imam yang empat, yang terus menerus hingga masa kini mazhab-mazhabnya mendapat sambutan ramai dan dianut orang dengan kokoh.

Pada periode inilah dibuat aturan-aturan ijtihad, disusunnya Ushul Fiqh dan barulah hasil ijtihad itu menjadi sangat nyata karena dalam periode ini fiqh itu dibukukan. Dalam periode ini pula para mujtahidin mulai memperluas hukum dan membuat macam-macam masalah yang direka-reka dan muncul berbagai mazhab dan berjangkitnya perselisihan yang hebat dan luas. Terdapat pula munculnya golongan yang dinamai Ahli Dzahir, yakni “golongan yang berpegang pada lahir nash semata-mata tidak mau memakai takwil dan tidak suka memakai qiyas selain dari qiyas yang jali”. Golongan ini diketuai oleh Daud bin Ali serta puteranya.[18] Sedang Imam Ibnu Hazm al-Andalusi salah satu ahli Dzahir yang disegani.

Tentu dengan adanya inisiatif secara formal untuk membukukan pengetahuan yang berupa hadist-hadist dari Nabi SAW maupun penerapannya yang berupa fatwa dan keputusan-keputusan hakim menambah khazanah hukum Islam.[19]

Hanya saja kebanyakan mazhab pada masaitu tinggal dalam lembaran kitab karena telah punah pengikutnya sedang mazhab lainnya masih berkembag hingga kini. Ada 8 mazhab, masing-masing dari Ahlus Sunnah, Syi’ah dan Khawarij yang lunak dan masih ada pengikutnya hingga kini kecuali Dzahir yang telah punah para pengikutnya.[20]

Pemuka-pemuka mujtahidin yang membangun mazhab dalam periode ini adalah :

  1. Abu Hanifah An-Nu’man ibn Tsabit (80-150 H)
  2. Malik bin Anas (93-175 H)
  3. Al-Laist ibn Sa’ad di Mesir (94-175 H)
  4. Abdurrahman al-Auza’i di Syam (88-157 H)
  5. Muhammd bin Idris Asy-Syafi’i (10-204 H)
  6. Ahmad bin Hambal (164-241 H)
  7. Ibnu Jarir At-Thabari (244-310 H)
  8. Imam Daud bin Ali digelari sebagai Ad-Dzahir yang lama juga usianya hingga abad 8 H.
  9. Ibnu Hazm al-Andalusi, penyokong mazhab ini yang sangat disegani

Adapula beberapa mazhab Syi’ah yang terkenal diantaranya, adalah :

a). Mazhab Syi’ah Zaidiyyah, pengikut Zaid bin Ali, sampai sekarang menjadi anutan sebagian penduduk Yaman[21] bahkan mazhab resmi di yaman sejak 88 H hingga kini dan lebih dekat dengan Ahlussunnah dalam bidang fiqih sedang dalam bidang akidah adalah aliran Mu’tazilah.[22]

b). Mazhab Syi’ah Imamiyyah, yang menetapkan bahwa khalifah adalah hak Ali dan keturunannya. Mazhab ini hingga sekarang dipeluk oleh penduduk Persia (Iran)[23] Ibnu Farrukh dianggap sebagai pembangun hakiki mazhab ini di Iran. Adapun fiqihnya leih dekat kepada mazhab Syafi’i dan tidak berbeda dengan fiqh yang populer diantara kalangan ahli sunnah kecuali sekitar 17 masalah. Pada hakikatnya, perbedaan mereka dengan ahlussunnah bukan pada akidah dan fiqih akan tetapi berkisar pada pemerintahan dan imamahsebagaimana yang tercantum pada proklamasi revolusi Khomaeni di Iran pada tahun 1979 yang mentolerir perbedaan pendapat dengan ahlussunnah, mengakui kaum muslimin seluruhnya sebagai satu ummah dan satu ideologi yang sama-sama kita wujudkan.[24]

Sedang mazhab Ibadiyah dari kalangan Khawarij, pendirinya adalah Imam Jabir bin Zaid At Tabi’i (wafat 93 H=711 M) dan dinisbahkan kepada Abdullah bin Ibad At-Tamimi yang wafat pada tahun 80 hijriyah.

Imam Jabir bin Zaid At Tabi’i salah seorang ulama tabi’in dan salah satu murid Abdullah bin Abbas r.a. Mazhab ini pada mulanya sekelompok dengan Khawarij namun mereka membersihkan diri dan mereka enggan disebut dengan Khawarij dan lebih populer dengan sebutan Ahlul Da’wah, Ahlul Istiqamah, dan Jama’ah Muslimin. Sedang dasar-dasar mazhabnya sama saja dengan mazhab-mazhab lainnya.[25] Mazhab ini berkembang di Afrika Timur, Aljazair, Libya, Tunisia dan merupakan mazhab resmi di Kesultanan Oman.[26]

Masa ini bisa dikatakan sebagai masa pembinaan, pengembangan dan pembukuan (abad VII-X Masehi).[27] Namun setelah imam empat dan lain-lainnya meninggal, mulailah derajat ijtihad berangsur-angsur turun dan tidak ada perkembangan lagi. Maka mulailah abad yang ke IV Hijriyah atau masa kelesuan pemikiran (abad X-XIX Masehi), ruh taqlidpun berangsur-angsur mempengaruhi jiwa-jiwa ulama Islam.[28]

Kelesuan pemikiran yang terjadi karena adanya gejala taqlid & ittiba serta tidak ada lagi penggalian hukum Islam dari sumber aslinya dan hanya sekedar mengikuti pendapat dari mazhabnya masing-masing. Dengan kata lain masyarakat terus berkembang sedang pemikiran hukumnya berhenti.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kelesuan pemikiran, diantaranya:

1). Kesatuan wilayah Islam yang luas telah retak dan munculnya negara-negara baru yang membawa ketidak-stabilan politik serta berpengaruh pada kegiatan pemikiran hukum.

2). Rusaknya kesatuan pemerintahan yang menyebebkan merosotnya pula kewibawaan pengendalian perkembangan hukum.

3). Timbulnya gejala kelesuan berpikir dimana-mana.[29]

Namun masa kelesuan pemikiranpun mulai redup dan timbulnya kembali masa kebangkitan sebagai reaksi dari sikap taqlid sehingga muncullah gerakan-gerakan baru untuk tetap melakukan ijtihad untuk menampung dan mengatasi persoalan dan perkembangan sosial.

Pada abad ke 14 sudah muncul mujtahid besar yaitu, Ibnu Taymiyah (1263-1328) dan Ibnu Qayyim (1292-1356) dilanjutkan pada abad 17 oleh Muhammad Abdul Wahab yang punya pengaruh pada gerakan Padri di Minangkabau. Dilanjutkan kembali Jamaluddin al-Afghani(1839-1897) yang bergerak dalam bidang politik dengan Pan Islamisme dan ikut berpengaruh pada muridnya Muhammad Abduh yang bergerak dalam bidang pendidikan dan Rasyid Ridha, dimana pikiran-pikiran Muhammad Abduh diikuti oleh gerakan pendidikan dan sosial Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1912 kemudian dilanjutkan dengan sistem baru dalam mempelajari dan menulis Hukum Islam.[30]

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Hukum-hukum fiqhiyyah yang ada pada masa Rasulullah kebanyakan berupa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kaum muslimin terhadap Rasulullah SAW ketika menghadapi masalah-masalah tertentu

2. Pada masa sahabat proses terbentuknya hukum Islam dengan dasar yang jelas dan kuat dilengkapi dengan qiyas dan ijma serta diperkaya dengan adat istiadat dan peraturan-peraturan dari berbagai daerah yang bernaung dibawah bendera Islam.

3. Pada periode Tabi’in fiqh mulai dipandang suatu ilmu yang berdiri sendiri dan secara tegasnya perselisihan paham menjadi sangat jelas sampai pada derajatnya saling menyalahkan.

4. Pada periode Atba’ at-Tabi’in dibuat aturan-aturan ijtihad, disusunnya Ushul Fiqh dan barulah hasil ijtihad itu menjadi sangat nyata karena dalam periode ini fiqh itu dibukukan. Dalam periode ini pula para mujtahidin mulai memperluas hukum dan membuat macam-macam masalah yang direka-reka dan muncul berbagai mazhab dan golongan-golongan serta timpulnya perselisihan yang hebat dan luas.

Dari beberapa kesimpulan di atas kami menyarankan kepada seluruh elemen masyarakat utamanya mereka yang bergerak dalam dunia akademik terlebih kepada mereka yang bergelut dalam studi Islam untuk senantiasa berusaha melakukan perubahan-perubahan yang bersifat signifikan dan kontektualitas dengan melakukan penterjemahan dan interpretasi terhadap sekian banyak tekas-teks keagamaan utamanya yang berhubungan dengan hukum dan perundang-undangan Islam, sebab manusia di zaman kita adalah manusia-manusia yang membutuhkan penyelesaian yang kongkrit atas setiap problematiaka hidup yang mereka hadapi, bentuk-bentuk penterjemahan dan penafsiran teks-teks tersebut tentunya harus berjalan dan sejalan dengan spirirt al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih.


[1] Prof. Dr. Muhammad Yusuf Musa, Al-Madkhal Li Dirasatil Fiqhil Islami, Cet. I, Cairo: Darul Fiqhil Arabi, tahun 1380 H-1961 M, h. 22

[2] Muhammad Dja’far, Pengantar Ilmu Fiqhi, Suatu Pengantar tentang Ilmu Hukum Islam dalam Berbagai Mazhab, Cet. I, Jakarta: Penerbit Kalam Mulia, September 1993, h. 53-54

[3] Ibid., h. 57-58

[4] Ibid. , h. 56

[5] Muhammad Ali Assais, Nasy’atul Fiqhi wa atwaruh, Mesir: Al-Buhutsul Islamiyyah, 1970, h. 13

[6] Athiyyah Musyrifah, Al-Qadha fil Islam, Cet. II, Syarqul Ausath, h. 24

[7] Muhammad Yusuf Musa, Op. Cit, h. 32

[8] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 74

[9] Ahmad Amin, Fajrul Islam, Cairo: Lajnah Ta’lif, Tarjemah dan Nasyer, tahun 1945, h. 235

[10] Athiyyah Musyrifah, Op. Cit, h. 40

[11] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 75

[12] Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Hukum Islam, Cet. I, Edisi II, Semarang: Pustaka Rizki Putra, Oktober 1997, h. 59

[13] Ibid., h. 60

[14] Ibid., h. 61

[15] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 83

[16] Ibid, h. 82-83

[17] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 75-76

[18] Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit, h. 62-63

[19] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 84

[20] Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu I, Cet. III, Damaskus: Darul Fikri, tahun 1989, h. 28

[21] Wahbah Zuhaili, Loc.Cit.

[22] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 96

[23] Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit, h. 64-65

[24] Wahbah Zuhaili, Op. Cit, h. 44

[25] Muhammad Dja’far, Op. Cit, h. 98

[26] Wahbah Zuhaili, Op. Cit, h. 46

[27] Lihat, Said Ramadhan, Hukum Islam, Ruang Lingkup dan Kandungannya, alih bahasa oleh Suadi Sa’ad, Cet. I, Jakarta: Gaya Media Pratama, April 1986, h. 4

[28] Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Op. Cit, h. 64-65 dan Lihat, Said Ramadhan, Op. Cit., h. 8

[29] Muhammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum Islam dan Tata Cara Hukum Islam di Indonesia, Cet. V, Jakarta: Raja Grafido Persada, April 1996, h. 137

[30] Lihat, Muhammad Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum Islam dan Tata Cara Hukum Islam di Indonesia, Cet. V, Jakarta: Raja Grafnido Persada, April 1996, h. 176-185

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: